Atap GelreDome

October 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Puluhan penerbangan dari Schiphol dibatalkan karena cuaca buruk. Hujan dan angin kencang mengguyur rata seluruh Belanda dari Jumat sore sampai Sabtu pagi akhir pekan ini. Agenda nonton bola yang kami rencanakan terancam runyam sebelum akun instagram Vitesse mengumumkan bahwa atap stadion akan ditutup.



Kami punya dua tiket gratis nonton pertandingan kandang Vitesse di GelreDome yang sudah saya redeem untuk match Vitesse lawan FC Emmen malam ini. Cuaca buruk agak membuat saya khawatir karena tentu nggak asik kena tampias sepanjang pertandingan dalam suhu mendekati satu digit celcius. Beruntung GelreDome adalah stadion canggih yang punya retractable roof jadi cuaca semestinya bukan masalah ketika sudah di dalam. Berbekal jaket dobel-dobel dan payung kami berbaur dengan orang-orang menuju stadion.

Secara kapasitas GelreDome tidak besar-besar amat, hanya sekitar 20-30 ribu penonton tergantung setingan. Tapi stadion ini dibangun dengan pikiran untuk bisa digunakan berbagai jenis event olahraga dan hiburan. Makanya selain atap yang bisa ditutup tadi rumput stadion juga bisa digeser ke luar untuk preservasi. Sebagai stadion sepak bola, GelreDome adalah salah satu venue Euro 2000 dan menjadi home klub Vitesse Arnhem. Sementara untuk konser, musisi dunia yang pernah tampil di sini antara lain Linkin Park, The Rolling Stones, Metallica, Celine Dion, U2, Bon Jovi, Shakira, Spice Girls, Coldplay, dan lain sebaginya. GelreDome melabeli dirinya the biggest theater in The Netherlands.
Nonton bola dalam stadion tertutup rasanya clean sekali. Tidak ada pengaruh angin, hujan, dan faktor eksternal lain dari alam. Segala ekspresi dan teriakkan penonton jadi terperangkap di dalam dan terdengar jauh lebih bergemuruh. Matchday event jadi bisa maksimal, saya ragu akan ada atraksi Elang dan kid mascot seperti kemarin andai pertandingan dalam posisi outdoor dan cuaca kurang bersahabat. Secara teknis sound dan lighting juga jadi bisa selalu on point karena kondisi yang lebih terkontrol. Overall pengalamannya seperti nonton di gedung olahraga hanya saja ini lebih besar dan lapangannya rumput yang mulus.

Vitesse sendiri sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaik. Beberapa tahun lalu mereka masih sempat main di UEFA Conference League tapi karena masalah finansial tim ini harus turun kasta. Sekarang Vitesse bermain di Eerste Divisie, satu level di bawah kasta tertinggi Eredivisie. Di pertandingan ini mereka memulai aksi dengan baik tapi kurangnya fire power menjadikan mereka susah mencetak gol. Setelah 0-0 saat paruh waktu, di babak kedua FC Emmen mendapat peluang terbuka yang berhasil digagalkan kiper Vitesse. Sayangnya penyelamatan ini involves bola kena ke muka sampai kiper butuh perawatan. Setelahnya kiper bisa main lagi tapi beberapa menit kemudian kebobolan mudah dan harus dilakukan pergantian kiper. Vitesse kemudian all-out menyerang tapi di menit terakhir serangan balik FC Emmen justru berbuah penalti dan berhasil dikonversi. Pertandingan berakhir 0-2 untuk tim tamu.

Saya melihat raut wajah kecewa opa-opa yang duduk sebaris dengan kami. Mereka mungkin sudah nonton Vitesse sejak 40-50 tahun yang lalu. Ekspresinya seperti Fergie ketika nonton MU kalah. Saya merasa kasihan melihat beliau-beliau ini yang mungkin dulu melihat Vitesse saat masih di masa jayanya.  Walaupun tidak sementereng Ajax dan PSV, Vitesse pernah beberapa kali angkat trofi dan main di Eropa. Tapi problem finansial tadi sangat serius sampai mereka hampir dicabut lisensi klub profesionalnya. Beruntung mereka bisa bertahan dan rebuild lagi dengan pemain-pemain muda. Padahal dulu beberapa nama yang pernah main di sini antara lain Phillip Cocu, Roy Makaay, sampai yang lebih kekinian Mason Mount dan Martin Odegaard.

Setelah pertandingan selesai kami keluar dalam kondisi hujan yang masih mengguyur deras. Rejekinya payung yang tadi ditaruh luar karena tidak boleh dibawa masuk kok ya ilang diambil orang. Akhirnya kami hujan-hujanan bersama ribuan orang lainnya. Avondje Vites (the night of Vitesse) kali ini ditutup dengan basah kuyup. Tapi saya tetap bisa bilang atap stadion saves the day.


Chandra

Marathon Tidak Untuk Semua Orang

October 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Iya marathon tidak untuk semua orang, makanya saya bersyukur Amsterdam Marathon menyediakan event 7,5k yang terjangkau buat saya yang half marathon saja belum pernah. Walaupun secara distance hanya kira-kira seperenamnya, event ini tidak dianaktirikan dari race utamanya. Di luar hal-hal yang race-related, nyaris semuanya sama bahkan di marathon expo nama peserta 7,5k dicetak setara dengan pelari full marathon di dinding (saya nggak tahu di kalangan pelari sebutannya apa, tapi ini dinding yang memuat nama semua peserta).





Amsterdam Marathon 2026 diikuti oleh lebih dari 65.000 pelari dari 100+ negara. Rangkaian acara sudah dimulai dari hari Kamis 15 Oktober kemarin dengan Marathon Expo di RAI Amsterdam. Selain pameran apparel dan aksesoris lari dari berbagai brand, di tempat ini pula pengambilan bib dilakukan. Pada Sabtu pagi antriannya puaanjang sekali karena kebanyakan orang mengambil nomor di hari ini. Tapi walaupun mengular sampai pinggir jalan, panitia profesional sekali seperti sudah sering mengurus ini. Beberapa ada yang antri sambil menggeret koper, mungkin mereka datang dari luar negeri dan berniat mengambil nomor sebelum cek in hotel.

Epicentrum event ini ada di Olympisch Stadion Amsterdam. Ini adalah stadion legendaris yang dibangun untuk Olimpiade Amsterdam 1928. Bentukannya tidak seperti stadion modern, stadion ini masih mempertahankan desain Yunani kunonya lengkap dengan tulisan citius altius fortius dan logo Olympics. Lokasinya agak minggir di sisi selatan kota. Ketika ada event besar dan ramai seperti ini cara terbaik untuk mencapai tempat ini adalah dengan transportasi umum + siap jalan kaki agak banyak. Di area ini lah start dan finish untuk seluruh cabang lari dilakukan. Event 7,5K dimulai pukul 14.15 start dari depan stadion, saya dapat start wave 3 dan mulai berlari 14.42. For the record, marathon dan half marathon diadakan besoknya (Minggu 18 Oktober).


Course 7,5K didesain melewati berbagai area yang berbeda, mulai dari jalan raya besar, neighborhood lawas dengan rumah khas Amsterdam di kanan kirinya, sampai taman Vondelpark. Di hari Sabtu yang kadang cerah kadang gerimis ini banyak warga berderet di sepanjang course dengan berbagai aksinya. Mulai dari anak-anak yang menjulurkan tangannya untuk high-five, penonton yang random menyebut nama pelari, kakak-kakak kreatif yang bikin sign run like the Belastingdienst is after you, sampai komunitas lansia yang main musik tradisional Belanda. Nyaris tidak ada area yang sepi sepanjang 7,5 kilometer ini.

Finish-nya adalah yang paling keren. Semakin dekat finish semakin banyak orang berjejer berlapis-lapis di pinggir jalan ke arah stadion. Setelah memasuki pintu stadion bertuliskan citius altius fortius tadi peserta lari 200 meter tarakhir di track lari stadion sambil disoraki penonton dari tribun. Berasa olahragawan beneran, padahal hanya pelari kalcer yang larinya nggak kencang-kencang amat. Sampai tulisan ini dibuat hasil resmi panitia belum keluar karena masih menunggu full dan half marathon, tapi aplikasi saya menunjukkan pace 6:27. And just like that, medali lari ketiga tahun ini dan keempat secara total.



Hari masih terang saat lari selesai, masih ada sedikit waktu untuk menikmati Amsterdam sebelum matahari terbenam. Saya paling senang Amsterdam saat sore dan awal malam, sangat nyaman untuk duduk santai memandangi kanal. Untuk makan malam kami beli fries yang kata istri saya sering dibeli public figure Indonesia yang traveling ke Amsterdam, sampai viral dan direkomendasikan Helmi Yahya katanya. Yeah let me call it kentang goreng artis.


Alhamdulillah, terimakasih Amsterdam.

Chandra




Kabar Duka

October 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kemarin saya mendapat dua kabar duka sekaligus. Yang bikin lebih menyesakkan adalah dua-duanya berpulang pada usia yang tidak beda jauh dengan saya. Kabar duka pertama datang dari adik kelas SMA yang hanya 1 tahun di bawah saya. Lalu yang kedua adalah ex-diaspora Indonesia di Belanda yang usianya juga baru 35 tahun. Sebelum itu baru beberapa minggu yang lalu teman satu angkatan kuliah juga ada yang tutup usia. Saya tidak sedekat itu kenal dengan mereka, tapi kepergiannya di usia 30an ini terasa menohok buat saya.

Walaupun katanya umur itu hanya angka, saya merasa periode 30s punya banyak perbedaan dengan 20s. Saya melihat orang-orang yang beranjak 30 sudah mulai punya pondasi yang firm dalam apa yang mereka lakukan. Orang sudah tahu profilnya apa dan sudah tidak mencari-cari lagi perannya. Seolah roket yang heading-nya sudah jelas, umur-umur segini adalah saatnya untuk mengeluarkan boost sebesar-besarnya. Fokusnya hanya keluarga, kerja, dan menekuni satu dua hobi. Hal-hal yang dirasa tidak lagi relevan mulai ditinggalkan. Let's be honest, bahkan teman dekat pun kini tidak sebanyak dulu.

Yes sebagian hal yang diusahakan pasti punya dimensi vertikal yang bisa jadi bekal sampai hereafter. Banyak grind dan hustle yang dilakukan generasi ini adalah hal-hal mulia. Bekerja, berbisnis, mencari nafkah, aksi sosial, kerja kebudayaan, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang manfaati banyak orang. Tapi di sisi lain, termasuk saya, kadang terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sebenarnya semu. 

Perbandingan-perbandingan yang ada sekarang banyak yang sebenarnya tidak terlalu penting. Siapa yang larinya paling kencang, siapa yang baca buku paling banyak, siapa yang traveling paling jauh, siapa yang paling populer, siapa yang fotonya paling estetis. Oke maybe it's all fun and games, tapi kalau tiba tiba oke, waktu habis, lalu apa? What was all that for? Kepergian teman-teman sepantaran tadi humbling buat saya karena kemudian ini yang saya pikirkan.

Manusia modern sangat senang mengumpulkan portfolio karena itu dibutuhkan untuk mendapat pengakuan. Tapi bagaimana ketika tiba hari di mana itu semua portfolio itu tidak berlaku lagi? Lalu apa? Jujur malu ketika sedang getol-getolnya mengejar dunia, saling melihat satu sama lain sudah sejauh apa perjalanannya, iri ketika merasa tertinggal tapi arogan ketika di depan, lalu whatsapp berbunyi membawa kabar teman seusia yang berpulang duluan.

Turut berduka cita, semoga beliau-beliau diampuni segala kesalahannya dan diterima segala amal baiknya. Semoga keliarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Aamiin.


Chandra

Masjid Toren Air

October 04, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada beberapa masjid megah di Belanda, masjid yang beneran bangunannya berbentuk masjid bukan convert-an gedung atau ruangan. Tapi kemarin saya ketemu masjid dengan salah satu bentuk paling unik.



Ini adalah Ulu Moskee Oss, lokasinya di kota Oss provinsi North Brabant. Dari jauh masjid ini sudah tampak karena bangunannya yang jauh lebih tinggi dari yang lain sekelilingnya. Setelah saya cari tahu ternyata ini dulunya tower air yang dibangun tahun 1930an. Bangunan ini lalu ditakeover oleh komunitas muslim Turki pada 1970an dan dijadikan masjid. Bentuk tower airnya masih dipertahankan walaupun bagian dalamnya sudah dipugar. 

Salat di situ terasa normal saja, hanya bentuk ruangannya yang seperti segi banyak. Masuknya lewat samping tower di mana juga ada tempat wudhu di situ. Di sebelahnya langsung masuk ke ruang salat pria. Saya lihat ada tempat salat wanita juga tapi saya tidak tahu pintunya lewat mana (saat ke sini saya datang sendiri). Di bagian luar masjid ada kafetaria, saya lihat setelah jamaah beberapa bapak-bapak minum teh Turki di sana. Tempat parkir sepeda dan mobil tersedia tepat di sampingnya.

Cerita masjid yang dulunya gereja sudah lumayan sering saya dengar. Tapi masjid yang dulunya tower air baru ini. Bahkan alamat masjid ini menunjukkan itu: Watertorenstraat no 1 (toren = tower dalam bahasa Belanda). Masjid ini berada di tengah-tengah area pemukiman, mungkin itu juga berhubungan dengan fungsi water toren ini di masa lampau. Lokasinya tidak begitu jauh dari stasiun dan centrum Oss serta dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau sepeda. 

Saya impressed ketemu masjid ini, semoga di waktu yang akan datang bisa mampir di masjid-masjid unik lainnya.

Chandra

Spiciest International Break Ever

September 27, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
International break kali ini datang di waktu yang kurang tepat, tim fantasy football saya sedang on fire dan mendominasi beberapa mini league. Tiga minggu dan dua weekend tanpa club football dan FPL rasanya lama sekali. Tapi tiba-tiba update soal 115 charges-nya City diumumkan dan ini jadi salah satu momen paling epic di jagat football twitter tahun ini.



Manchester City diputus bersalah atas 114 dari 115 tuntutan terkait financial regulation Premier League. Tuntutan ini berdasarkan penyelidikan dari laporan keuangan dekade lalu, tapi tidak sulit untuk penonton EPL menduga bahwa pelanggaran masih dilakukan sampai sekarang. How the heck mereka bisa beli Haaland cuma seharga €60? Owner dan sponsor sama-sama berbasis di Abu Dhabi? Can't be squeaky clean.

Putusan bersalah ini rame karena efek dominonya besar dan mungkin bisa mengubah jalan hidup City selama bertahun-tahun. Denda dan dicabut gelar mungkin least of their concern, paling hanya mereka tidak lagi bisa flexing Aguerooo moment. Hukuman yang akan lebih berat misalnya pengurangan poin besar-besaran (75+) yang kemungkinan bisa mendegradasi mereka. Dengan begitu mereka akan turun kasta musim ini, main di Championship musim depan, tidak ada kompetisi Eropa, dan revenue turun. Lalu kalau sudah begitu berapa banyak pemain yang mau stick around?

Transfer ban selama 5 tahun misalnya juga pasti ngefek. Ketika skuad menua dan hanya bisa regenerasi via akademi, apakah bisa tetap kompetitif? Ujungnya performa turun dan pemain bintang memilih pergi. Kondisi akan semakin spiraling down karena pemain yang pergi tidak bisa diganti dengan yang kualitasnya sana.


Jadi asal hakimnya nggak masuk angin ini win-win untuk para rival dan fansnya yang sudah bertahun-tahun memendam kesal pada tim ini. Alegasi cheating yang sebelumnya hanya dugaan kini sudah terkonfirmasi, selamanya gelar-gelar mereka akan punya asterisk di sampingnya. Sekarang tinggal menunggu hukumannya apa, semakin lama diputuskan semakin lama internal City limbung dan mungkin akan jadi toksik. Ketika akhirnya hukuman itu diumumkan pasti akan jadi ledakan besar berikutnya di kalangan fans bola.

Saya menulis draft ini sambil nonton pertandingan UEFA Nations League antara Inggris dan Spanyol. Inggris kalah 2-3 di kandang dengan Kane gagal penalti. Tapi Guehi dan O'Reilly juga tampak semrawut di pertandingan ini, gol pertama dan kedua Spanyol adalah buah kesalahan dua pemain ini. Mungkin berita soal putusan itu memengaruhi psikis mereka. Kalau hukumannya benar-benar sampai dilucuti gelar juara dan turun kasta maka para pemain mungkin harus segera mencari jalan lain. Saat ini hukuman belum ditentukan dan masih menunggu proses banding. 


Isu ini juga menghadirkan banyak spin-off. Fabrizio Romano dituduh sebagai PR bayarannya Citiy karena dia tidak sedikitpun memberitakan ini padalah Ornstein sudah rilis dua hari yang lalu. Rodri tentu membela City, tapi ini justru membuat fans rival marah dan menuntut gelar Ballon d'Or-nya dicabut. Laporan keuangan yang dimanipulasi berarti pajak tidak dilaporkan dengan benar dan berpotensi memunculkan pelanggaran tax evasion. Internal fans City juga kabarnya kecewa karena selama ini manajemen selalu bilang bahwa mereka baik-baik saja dan tidak akan kena hukuman.

Beberapa tim termasuk Liverpool bisa kelimpahan gelar andai diputuskan gelar City dicabut. Selain itu ada potensi pemain bintang City bisa direkrut dengan harga miring. Melihat kondisi Spurs yang beberapa tahun ini sibuk berjibaku di papan bawah, bisa jadi big six akan balik lagi jadi big four, sebuah fantasi fans-fans bola lama.


Chandra

Smarai: Band Baru Orang Lama

September 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Setelah berkolaborasi dengan Mukti & Yusril, Kukuh Kudamai, Tova Veno, dan Podcast Mojok, akhirnya Smarai lewat di timeline saya. Semoga metode marketingnya yang super kreatif bisa mengjangkau lebih banyak orang. Harapannya makin banyak yang terpapar dan bisa menilai apakah musik 2000-an masih berterima di 2026 ini.



Benar kata Patub bahwa ini adalah band baru dengan orang-orang lama. Drummernya Bagoes Kresnawan aka bagustikus, seorang filmmaker, produser, dan lama ada di timnya Soekamti. Gitarisnya produser musik yang sudah established dan punya studio rekaman di Sleman. Basisnya selain musisi juga seorang publisis dan jurnalis. Kibordisnya adalah personil paling muda tapi juga sudah banyak mengisi bagian kibor untuk musisi nasional. Terakhir vokalisnya, Dhedot, adalah drummer Letto dan masih aktif sampai sekarang, iya drummer.

Kesamaan dari para personilnya adalah mereka semua berbasis di Jogja. Maka mereka memang memperkenalkan dirinya sebagai band Jogja yang ingin menaikkan kembali musik pop era 2000an, menapaki jejak Sheila on 7, Jikustik, The Rain, dan Letto. Masing-masing personil Smarai sudah punya massa di Jogja, ini menjadikan lebih mudah bagi mereka untuk take-off. Selain itu kematangan mereka dalam musik, bisnis, dan bidangnya masing-masing membentuk cara branding dan marketing band ini. Program Main Bareng yang dinaikkan di media sosialnya fresh, menarik, dan rapi banget. Nggak mungkin ini dibuat oleh anak baru yang semata-mata jago main musik.


Saya bukan pendengar dan penikmat musik garis keras, tapi mungkin saya gampang connect dengan Smarai karena bias latar belakang Jogja. Saya yakin Jakarta, Bandung, atau Surabaya punya skena dan massanya sendiri dalam bidang musik, komedi, dan lainnya. Jadi strategi cerdas dari Smarai di awal pembentukan mereka untuk menggandeng tokoh-tokoh sekitar Jogja. Festival lokal seperti FKY (Festival Kebudayaan Yogyakarta) juga jadi ajang andalan perkenalan mereka. 


Smarai sudah mengeluarkan satu album berjudul Semai. Ini sesuai prinsip mereka mau seperti band lama yang harus punya album bukan hanya single saja. Agak berbeda dengan SO7 dan Letto yang tema lagunya akhir-akhir ini mengikuti umur yang sudah lebih dewasa (i.e. Memori Baik, Sebening Senja), Smarai mengangkat drama-drama anak muda. Jadi secara tema sebenarnya saya tidak merasa relate, hanya saja musik khas band-nya saya suka. Model seperti ini lebih masuk selera saya daripada musik 'buatan' yang marak di era sekarang. Track andalan mereka adalah Ajari Aku dan Optimis. Selain itu menurut saya Hidupkan Hidup juga bagus.


Viewer dan listener Smarai belum banyak. Kalau diketik di search engine juga masih sering dikira typo Samurai. Maka coba cek di kanal digital favorit Anda karena masih ada kesempatan untuk tampak kalcer dengan menjadikannya backsound story instagram.

Chandra

Terlalu Galileo untuk Clash of Champions

September 13, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Selama beberapa minggu istri saya mencanangkan do not disturb selama satu-dua jam di akhir pekan karena dia mau nonton Clash of Champions (CoC)-nya Ruang Guru di YouTube. Walaupun bisa playback, dia sebisa mungkin nonton live/premiere karena takut spoilernya keburu muncul di timeline media sosial. CoC is her EPL jadi saya bisa memaklumi itu. Selama beberapa waktu kami mengatur agenda weekend centered on her schedule nonton CoC. Tidak masalah karena nantinya datang Agustus gantian jadwalnya ngikut waktu tanding Liverpool.

Saya sering ada di ruangan yang sama saat dia nonton. Walaupun sambil main game di komputer, saya mendengar tayangan yang ada di TV. Tantangan yang diberikan pada peserta bukan soal-soal cemen memang, tapi tidak mustahil juga untuk dikerjakan. Apalagi oleh alumni OSN, IMO, IPhO, dan sejenisnya. Hanya saja gamesnya bukan sepenuhnya selera saya. Terlalu gimmick untuk sebuah event cerdas cermat dan terlalu lepas untuk sebuah acara kuis. Sebagai generasi 90an yang dibesarkan bersama kuis Galileo di SCTV, standar saya nyangkut di sana haha.


Tapi saya akui strategi RG untuk membuat cara ini mengundang mahasiswa-mahasiswa pinter dari berbagai kampus dalam dan luar negeri ini brilian. Ini seperti Nike yang mengumpulkan atlet-atlet besar sebagai brand ambassador mereka. Nike tidak menjual komoditi sepatu tapi movement, trend, dan victory. Sama halnya Ruang Guru tidak menjual ruang kursus tapi mimpi dan masa depan. Saya bisa membayangkan banyaknya ibu-ibu dengan anak usia sekolah yang sold karena acara ini. Kami belum ada anak tapi istri saya sudah berpikir mendaftarkan anak ke RG.

Lebih penting dari itu menurut saya adalah anak-anak pinter ini dapat panggung dan diframing keren. Pinter akademik dan pandai mengingat saja bukan jaminan memang, life is too complicated dengan hanya mengandalkan satu dua jenis palu. Tapi at least CoC adalah konten di sudut positif media sosial, lebih baik daripada content creator yang hanya mementingkan engagement tanpa peduli efek negatif bagi pengikutnya (termasuk anak-anak). 

Beberapa talent CoC kemudian jadi selebritis tampaknya. Saya tahu karena istri saya nonton beberapa podcast di mana mereka jadi tamunya. Di sini kadang saya merasa gatel wkwk. Saya tahu mereka pinternya di atas rata-rata dan bukan representasi skor PISA Indonesia yang rendah, beberapa bahasa Inggrisnya juga sangat bagus karena lahir atau besar di luar negeri. Mereka bisa menjawab soal is totally fine, tapi ketika mulai memberi life advice hehehe. OSN medalist itu banyak, ratusan tiap tahunnya (per bidang 5 emas, 10 perak, 15 perunggu = 30, dikalikan sekian bidang). Setiap tahun Indonesia juga dapat medali di kompetisi internasional. Belum lagi lomba-lomba yang dijadikan portfolio di CoC tapi pipeline-nya tidak seketat OSN. Jadi mereka bukan super rare human. Hanya saja tidak semua juara kelihatan di dunia nyata, good looking di kamera, atau punya akses kuliah di luar negeri straight outta highschool.

Chandra

Turnamen

September 06, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sebagai bocah laki-laki yang tumbuh di desa, sudah tentu masa kecil saya banyak diisi permainan di luar ruangan: sepak bola, petak umpet, kelereng, badminton, layangan, sepeda, dan lain sebagainya. Aktivitas saya jaman itu dibuktikan dengan bekas-bekas luka yang beberapa masih ada sampai sekarang. Sayangnya playstation dan tuntutan pelajaran yang makin serius di kelas atas membuat waktu bermain saya kian berkurang. 

Akhirnya saat SMP-SMA physical prowess bukanlah treat terkuat saya. Saya sempat ikut ekstrakurikuler bola saat SMP dan badminton di SMA tapi itu formalitas saja untuk memenuhi kewajiban. Saya tidak pernah masuk tim sekolah atau ikut lomba apapun. Perlombaan paling physical yang pernah saya ikuti cuma tonti, itu juga ikut awalnya terpaksa karena dari 60an siswa laki-laki harus dipilih 31, chance kepilihnya 50 persen. Baru paham esensi aktivitas ini di akhir-akhir dan alhamdulillah sempat dapat juara 3 seprovinsi. Selain itu lomba yang saya ikuti ya lomba matematika, cerdas cermat, sampai tryout-tryout SBMPTN saat kelas tiga.

Saat kuliah saya sempat secara nggak sengaja jadi kiper tim futsal himpunan. Saya seneng futsal tapi tidak cukup fit untuk jadi outfield player secara kompetitif. Jadilah saya mengajukan diri jadi kiper, malah diajak terus, diminta bikin jersey, dan didaftarkan resmi. Endingnya lumayan jadi juara 2 Kampung Bola ITB. Mainnya di Lembang dan berangkatnya konvoi naik motor, what a time. Tapi di luar itu, dengan segitu banyaknya pilihan unit kegiatan mahasiswa alam bawah sadar saya memilih robotika dan catur, dua aktivitas yang tidak mengandalkan otot-otot gerak. 



Saya tidak sama sekali menyesali genre lomba-lomba yang saya ikuti sejak SD sampai kuliah. Di sana penuh momen-momen seru, banyak orang-orang baik yang saya temui dan masih berhubungan sampai sekarang, serta sudah membuka pintu-pintu yang dulu saya tidak tahu adanya. Dari sana saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke Jakarta, terbang ke Hong Kong, nginep di hotel berminggu-minggu untuk pelatihan olim, tampil di TVRI, masuk ke fakultas-fakultas di UGM dari Teknik, Kedokteran, MIPA, sampai Pertanian, dan ikut lomba robot dari Bandung, Jogja, sampai Surabaya. 

Tapi seintens-intensnya lomba akademik, masih lebih intens kompetisi-kompetisi aliran Porseni. Kalau dalam kondisi menang dan jadi unggulan sih nggak masalah. Tapi tekanan ketika ketinggalan atau membuat kesalahan jauuuh berbeda. Apalagi ajang-ajang olahraga dan seni biasanya disaksikan banyak orang, sementara lomba matematika di ruangan tertutup. Mungkin hanya lomba robot yang ada di dua alam, persiapannya berbulan-bulan di belakang layar tapi tampilnya ditonton orang. Dalam berkompetisi saya bisa menerima kekalahan bahkan menertawakannya (thanks to jadi fans bola bertahun-tahun), tapi saya masih sangat tidak nyaman dilihat orang dalam kondisi vulnerable.

Saya yakin kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi tertekan adalah skill yang akan berguna dalam hidup. Saya ingin men-develop itu dan sepertinya cara termudah adalah lewat olahraga. Olahraga juga membantu dalam berinteraksi dengan komunitas lokal dan menjaga kebugaran mengingat usia sudah masuk kepala tiga.

Sejauh ini saya sudah ikut tiga event lari, di Varsseveld, Utrecht, dan Wageningen. Tentu saya tidak berambisi cepet-cepetan karena pasti kalah dengan orang-orang sini yang tumbuh dengan rutin berolahraga. Saya dapat personal best 5K di Varsseveld, tapi itupun saat saya baru selesai satu putaran (2,5 km) ada pelari yang sudah finish 2 putaran. Meski begitu ini tidak begitu humiliating karena dalam lari pasti ada yang pace-nya mirip-mirip sekalipun itu bapak-bapak 50+. 

Berikutnya saya coba mendaftar turnamen padel, olahraga yang kalau kalah kelihatan banget. Saya sering baca cerita orang di Reddit soal turnamen padel, tapi ini pertama kalinya saya mau daftar jadi saya cari tahu apa yang diperlukan. 

Ternyata bukan hanya fasilitas olahraga yang proper di Belanda, sistemnya juga. Siapapun yang berminat bisa mendaftar menjadi anggota KNLTB, federasi resmi tenis seluruh Belanda yang menaungi olahraga tenis, padel, dan pickleball. Setelah punya nomor anggota, kita bisa ikut berbagai kegiatan, kompetisi, dan turnamen yang diselenggarakan oleh klub atau komunitas. 

Nantinya catatan menang kalah, gelar, dan rangking akan terdokumentasi dengan lengkap dan up-to-date. Secara teori jika seseorang sering menang turnamen amatir, rangkingnya akan naik dan mungkin akan qualified untuk ikut dalam event profesional. Turnamen tersedia dari usia sangat belia sampai dewasa. Cara mereka menemukan talenta sungguh rapi dan efisien. 

Kemudian di samping rangking resmi yang dikelola oleh KNLTB, ada sistem 'swasta' lewat aplikasi Playtomic. Playtomic adalah aplikasi match making untuk padel, tenis, dan pickleball yang sekaligus berfungsi jadi platform booking lapangan dan payment service. ELO rating di Playtomic akan naik jika menang dan turun jika kalah. 


Pekan turnamen akhirnya tiba, saya tidak berharap hasil apa-apa dari sini karena ini turnamen pertama dan saya belum pernah main di tempat ini sama sekali. Targetnya hanya jangan sampai kebantai karena akan tercatat di permanent record. Kami main dua kali, Minggu 30 Agustus siang dan Jumat 4 September sore. Hasilnya kalah dua-duanya haha. Tapi selain set pertama di mana kami masih adaptasi pertandingan berjalan lumayan berimbang.

Play-wise could be better, saya akan cari match di Playtomic lagi buat nambah jam terbang dan konsistensi. Tapi turnamen ini berhasil menghadirkan excitement yang saya cari. Apalagi lawannya para Dutchies, membuat rasanya bukan hanya olahraga tapi juga bela negara.

Chandra




Our Favorite Korean

August 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada dua restoran Indonesia yang cukup besar di Arnhem. Sayangnya dua-duanya adalah tipe yang menyasar pelanggan bule sehingga menjual sate babi, setingannya fine dining jadi relatif mahal, dan kalau dilihat dari foto tampilannya too nice untuk makanan Asia. Oleh karenanya kami belum pernah ke sana, tongkrongan favorit kami untuk makan di luar justru sebuah warung Korean food, Mama Bowls.



Mama Bowls adalah sebuah restoran Korea di jantung kota Arnhem. Lokasinya di centrum dan dapat dengan mudah dijangkau lima menit berjalan kaki dari stasiun Arnhem Centraal. Restorannya tidak terlalu besar tapi sangat bisa untuk makan di tempat. Meskipun Korean, warung ini didirikan dan dimanage bersama oleh dua orang mbak-mbak, salah satunya orang Indonesia. Jadi alasan lain kami-kami sering makan di sini ya karena ini warung kepunyaan teman. Selain support bisnis kenalan, kadang juga dikasih bonus dan bisa sambil ngobrol kalau makan di sana.

Mereka menjual berbagai macam makanan Korea dan Asia mulai dari Kimbab, Bibimbab, Tteokbokki, Korean Fried Chicken, Japchae, Chibap, Japanese Curry, Gyoza, Corndog, Fried Rice, dan lain sebagainya. Saya belum pernah ke Korea jadi tidak tahu seberapa otentik rasanya, tapi saya bisa bilang rasanya enak. Favorit saya fried chicked dan topokki-nya, japchae-nya juga oke. Selain dine-in, beberapa kali kami juga order delivery ayam gorengnya karena cocok buat lauk di rumah. Delivery bisa dilayani via Uber Eats dan Thuisbezorgd.


Mama Bowls juga punya cabang di Wageningen, saya pernah satu kali makan di sana. Selain itu, mereka juga sering mengadakan event pop-up berkolaborasi dengan brand-brand makanan Indonesia atau Asia lainnya. Informasi tentang itu bisa dilihat di instagram mereka @mamabowls_nl. Di sana juga ada kontaknya yang bisa dihubungi untuk tanya-tanya atau reservasi. Walaupun bisa walk-in, kalau mau datang ramean atau di jam-jam peak lebih baik reservasi dulu agar dapat meja. 

Restoran ini well-run, karyawannya banyak, tempatnya nyaman, menunya lengkap, jam bukanya panjang,  mejanya sering ramai, dan pengalaman makannya menyenangkan. Lebih penting lagi rasanya masih sangat Asia, halal, dan vegan friendly. Apalagi saat musim dingin nanti, tempat dan makanannya sangat cocok untuk menghangatkan badan. Buat saya no-brainer untuk mampir ke sini ketika ingin yang pasti-pasti aja. Proudly recommend this!

Chandra




Sponsor Utama (No More Betting)

August 23, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Premier League bergulir kembali. Di musim yang baru ini PL menerapkan beberapa perubahan aturan yang mayoritas bertujuan menjadikan permainan lebih efektif, fair, dan cepat. Tapi ada gebrakan menarik lain dari PL yang tidak ada hubungan langsungnya dengan permainan.



Saya kemarin nonton beberapa pertandingan Premier League dan menyadari ada yang berbeda di jersey beberapa tim. Tim-tim seperti Brentford, Forest, dan Sunderland tidak lagi menggunakan sponsor judi seperti musim lalu. Indeed yang sebelumnya hanya sponsor di training kit Brentford sekarang naik jadi sponsor utama. Forest kini punya sponsor baru Marex, sebuah penyedia layanan keuangan. Sementara Sunderland spot sponsor utamanya masih kosong.

Saya jadi ingat soal aturan yang melarang brand judi jadi sponsor utama di jersey tim-tim Inggris. Aturan ini sudah disepakati beberapa tahun yang lalu dan tampaknya mulai berlaku musim ini. Ini memaksa tim-tim yang sebelumnya bersponsor judi mencari partner lain. Rata-rata yang terpengaruh adalah tim menengah karena tim besar biasanya sudah punya kesepakaran jangka panjang dengan brand ternama misalnya Etihad, Emirates, atau Standard Chartered. 

Tanpa perlu mengambil fatwa agama dan norma sosial, sebagai fans bola saya jauh lebih senang klub bola disponsori real company. Ada ikatan antara nama klub, jersey, dan sponsor. Orang kalau bicara jersey ikonik pasti teringatnya Juventus Sony, Milan Opel, Inter Pirelli, MU Vodavone, Arsenal O2, Valencia Toyota, atau Ajak ABN Amro. Semua itu real brand, beberapa bahkan mungkin kita pernah bersinggungan langsung. 

Lagipula menurut saya aneh ketika platform judi menyeponsori klub olahraga. Kita tahu bahwa judi adalah akar dari match fixing, kankernya dunia olahraga. Gimana logikanya klub-klub malah menerima uang dan mempromosikan mereka? Belum lagi visual sponsor di jersey bisa dilihat anak-anak. Ini sama saja seperti rumah sakit mengiklankan rokok.

Cek grafis dari BBC ini, tampak betapa dua musim yang lalu lebih dari setengah klub Premier League disponsori oleh brand judi. Ini sudah bukan anomali lagi, ini sudah jadi tren. Mungkin sulit bagi klub-klub ini untuk mendapat sponsor organik, di sisi lain platform judi berani membayar cukup tinggi.

Sementara ini adalah distribusi sponsor musim ini. Dari gambar ini saja tampak lebih exciting karena variasinya lebih banyak, apalagi kalau melihat jersey yang sebenarnya. Satu catatan, Forest belum terupdate (masih No Sponsor) karena deal yang baru saja mereka dapatkan.

Ketika dipakai turun ke lapangan beberapa jersey jadi tampak segar. Bahkan menurut saya Fulham (Clickhouse) dan Palace (Temporal) keren banget dengan sponsor barunya. Apakah saya tahu brand-brand itu? Tidak, yang pernah saya dengar hanya Indeed dan Rwanda. Tapi ini masih jauh lebih baik daripada Bet something.


Ini pergerakan yang sangat bagus dari Premier League. Lagipula melihat betapa makmurnya tim-tim Inggris sekarang, harusnya mereka tidak butuh uang dari bandar judi. Real brand semestinya juga bisa melihat bahwa kini Liga Inggris adalah liga paling populer dan ditayangkan di banyak sekali negara. Saya berharap brand-brand yang familiar dengan kita akan masuk di masa depan. Toyota, Samsung, atau Garuda sekalian boleh lah.

Sebagai penutup soal jersey dan sponsor baru, pemenangnya musim ini menurut saya adalah Newcastle. Walaupun tim ini sering dibully di transfer window, tapi soal kit mereka nyampe.


***

Beranjak dari perbincangan soal jersey dan sponsornya, ini adalah beberapa di antara aturan baru yang diterapkan musim ini:
1. Hitung mundur 5 detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang jika wasit menilai pemain sudah mengulur waktu terlalu lama. Jika lewat 5 detik bola diberikan pada lawan (tendangan gawang jadi sepak pojok)
2. Waktu maksimal pergantian pemain 10 detik, jika lewat dari itu pemain yang masuk harus menunggu bola mati berikutnya setelah 1 menit.
3. Pemain cedera harus keluar lapangan 1 menit.
4. Jika kiper cedera dan perlu perawatan, pelatih harus memilih satu pemain depan untuk kemudian keluar selama 1 menit. Ini untuk meminimalisir kiper pura-pura cedera demi mendapatkan tactical time-out.
5. Pemain dilarang mengelap bola menggunakan handuk sebelum lemparan ke dalam.

Bagaimana menurutmu?

Chandra


Yatai Jepang

August 16, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya lagi hobi nonton video YouTube soal Yatai. Yatai adalah salah satu model kuliner tradisional Jepang yang konsepnya seperti angkringan kalau di Indonesia. Dijual menggunakan gerobak, sajiannya bermacam-macam, dan pelanggannya duduk melingkar. Tapi walau ini soal makanan, bagian terbaik dari video-video Yatai bukanlah makanan atau proses memasaknya.


Dalam video-video yang saya lihat, menu yang dijual di Yatai antara lain ramen, gyoza, omelet, oden, nasi goreng, dan bakaran dengan versi dan variasi masing-masing. Beberapa Yatai punya specialty menu yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya Yatai biasanya B2-heavy jadi untuk sobat muslim ini bukan jenis kuliner yang aman dicoba. Ini alasan lain bagian terbaik video Yatai bukanlah makanannya.

Proses memasak dalam Yatai juga bukan daya tarik utama buat saya. Sebagai bagian dari budaya kuliner Jepang, koki Yatai memasak dengan delicate, clean, minimalis, dan rapi. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka menata kondimen ramen, memasak pakai sumpit, membuat omelet into perfection, dan mengiris daging dengan simetris. Hal-hal ini bagus untuk konsep fine dining, tapi ketika bicara street food menurut saya cara masak Chinese yang berapi-api, penuh asap, mie sampai kelempar-lempar keluar wok, dan saos kemana-mana tampak lebih appetizing.

Maka bagian terbaik dari video Yatai menurut saya justru proses penjualnya menggelar gerobak dagangannya. Video dari channel Food Tourism Japan misalnya mengcapture dengan baik proses ini. Kalau dilihat dari komentar-komentar yang muncul sepertinya banyak orang juga berfokus pada bagian ini. Part di mana vendornya mensetup dagangan menunjukkan betapa hard working dan tekunnya mereka.


Yatai pada umumnya buka di malam hari di pinggir jalan dan trotoar. Karena tempat berjualan mereka adalah tempat umum sepertinya mereka tidak diijinkan untuk meninggalkan apapun di titiknya berjualan, semua harus disimpan di tempat lain, dipasang ketika mau buka, lalu dibereskan lagi sampai bersih ketika selesai. Proses ini tidak ringan mengingat banyaknya dan beratnya peralatan yang dibutuhkan.

Gerobak kayu tradisional Yatai sendiri sudah berat, belum di dalamnya ada piring gelas, alat masak besar, papan-papan, kursi, water heater, kompor, sampai sink. Kompornya saja bisa 4 sampai 6 tungku. Sobloknya minimal 2 besar-besar satu untuk rebusan air dan satu untuk kuah ramen. Kemudian selain segala perkakas itu, pedagangnya masih mengambil setumpuk bahan makanan, tabung gas, dan beberapa cooling box berisi minuman pakai pickup.

Semua proses dari menarik gerobak ke lokasi berjualan, mengeluarkan barang-barang dan menatanya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci piring kotor, beberes setelah tutup, menata gerobak kembali, kemudian mendorong gerobak baik ke parkiran dilakukan setiap hari. Melihat prosesnya dalam satu hari berjualan saja sudah membuat capek, sementara penjual Yatai melakukan semua itu lagi keesokan harinya. Itu belum termasuk proses-proses yang tidak kelihatan: belanja barang, menata bahan, dan memasak di rumah. Mad respect!



Beberapa Yatai dijalankan oleh beberapa orang, sebagian gerobak juga sudah dimodernkan dengan bahan aluminium dan bisa dibawa pakai pickup. Model Yatai yang begitu mungkin sedikit lebih ringan dijalankan, tapi tetap saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan sepele. Apalagi jika take into account cuaca yang bisa sangat panas atau sangat dingin dan kondisi badan yang belum tentu selalu sehat.

Menonton video Yatai membuka mata saya bahwa membuka usaha kuliner tidak sesederhana itu. Saya yakin ini tidak sesempit Yatai dan Jepang. Andai ada dokumentasi memadai yang memperlihatkan bagaimana pedagang bubur atau angkringan di Indonesia menyiapkan dagangannya pasti juga akan membuat dunia tersentuh. Kita sebagai pembeli hanya menemui mereka dalam 'bentuk terbaiknya' yaitu ketika sudah buka. Tapi untuk sampai pada titik buka itu ada proses panjang yang harus dilewati. 


Chandra

Berkalimat ala Agus Magelangan

August 09, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ternyata di balik celelekan-nya tulisan Agus Mulyadi, banyak teori-teori serius yang strict dan matematis menyusunnya. Itu adalah temuan saya setelah mengikuti kelas menulisnya Agus Mulyadi yang diselenggarakan bersama Belajar Literasi.



Saya follow Belajar Literasi di Instagram sejak tahun lalu saat mereka mengadakan kelas bersama Agus juga, tapi saat itu kelasnya offline jadi saya tidak bisa ikut. Minggu lalu saya melihat postingan mereka soal Webinar Menulis Esai ala Agus Mulyadi. Acaranya diadakan Sabtu 8 Agustus dan tanpa pikir panjang saya langsung daftar. Sembilan puluh sembilan ribu paling worth it bulan ini.

Saya mengikuti Agus Mulyadi aka Agus Magelangan sudah lama, sejak jaman-jaman tulisan sempak indomaret di blognya. Saya punya beberapa bukunya dan mendengarkan podcastnya baik dia sebagai tamu ataupun pengisi utama (podcast Mojok). Tulisan-tulisan Agus ringan, lucu, dan renyah itu sudah jelas. Tapi persona dan logat cah ndeso-nya yang kental itu buat saya jadi nilai plus lain karena semacam jadi pengingat masa-masa bermain. Some of my friends back then sounds just like him ketika bicara.

Dalam webinar kemarin Agus menjelaskan teknik-tekniknya dalam membuat tulisan yang bikin orang betah membaca. Dia menjelaskan di antaranya bagaimana membuat kalimat/paragraf pembuka yang memikat, membuat penutup yang berkesan, menggambarkan situasi secara indah, memilih vocab yang menggugah, menggunakan prinsip rule of three, dan menerapkan perumpamaan yang pas. Ternyata tulisan-tulisan lucu dan luwes itu dibangun dengan struktur yang sudah tertentu.


Saya tahu mau ikut webinar Agus Mulyadi 100 kali pun saya tidak akan bisa menulis lucu seperti dia. Menurut saya lucu itu bakat, sama seperti tidak semua orang bisa stand up comedy. Agus bisa dengan jenaka memasukkan dalam tulisannya frase "keblondrok bakule slondokkk", tapi kalau saya yang melakukan itu jelas malah jadi cringe dan terlalu trying to be funny.

Maka saya secara sadar ikut webinar ini bukan untuk jadi penulis, misi saya hanyalah untuk mendapatkan ilmu bagaimana membuat tulisan tidak terlalu dingin dan kaku. Webinar ini juga semakin meyakinkan saya bahwa kemampuan menulis itu penting bahkan jika pekerjaan kita bukan penulis ataupun sosok digital.


Ah, weekend well spent. 
Chandra


How to Not Know: Navigating Uncertainty

August 01, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika pertama kali membaca judul buku ini saya agak kurang yakin karena How To Not Know terdengar seperti versi lain dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck, yang mana tidak terlalu menarik buat saya. Tapi saya tetap checkout How To Not Know dari Bol.com karena penulisnya Simone Stolzoff, penulis buku The Good Enough Job, salah satu buku all-time favorite saya. Saya bersyukur mendapatkan buku ke-dua-nya ini karena walaupun judulnya begitu tapi isinya 10/10.

Baca juga: The Good Enough Job

Tadinya saya kira buku ini bicara soal bagaimana caranya supaya tidak terlalu ingin tahu hal-hal yang tidak perlu kita tahu alias tidak kepo, tapi ternyata bukan itu yang dimaksud 'Not Know'. Not Know di sini maksudnya adalah uncertainty (ketidakpastian) yang sering mendatangkan problem psikologis bagi manusia. Terlebih sekarang virus ketidakpastian looming more than ever dengan adanya krisis global di hampir segala lini kehidupan: politik, keamanan, ekonomi, hukum, sosial, dan lingkungan.

Ketidakpastian adalah perkara serius yang dihadapi semua orang tapi kadang tidak dipahami secara penuh. Ada cerita dalam buku ini tentang penelitian melibatkan orang yang disetrum. Responden yang tidak tahu apakah dia akan disetrum ternyata punya kecemasan dan stres lebih tinggi daripada yang sudah tahu dari awal bahwa dia akan disetrum. Menunggu hasil ujian keluar lebih menegangkan daripada ketika tahu hasilnya. Mendukung klub bola yang nyanan di peringkat 3 lebih mentally easy daripada mendukung yang bersaing di peringkat 1-2 sampai akhir musim tapi akhirnya kalah.

Secara bawaan setiap manusia punya uncertainty tolerance, kemampuan untuk menampung ketidakpastian. Tapi derasnya arus informasi dan kemudahan untuk ngecek dan memastikan segala sesuatu pada gilirannya bisa mengerdilkan uncertainty tolerance ini. Orang harus ngecek daftar menu dulu sebelum masuk restoran, orang harus baca review sebelum nonton film, dan orang harus tahu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Ada sebuah paragraf yang bagus sekali di buku ini dan rasanya harus saya kutip:

Rather than engage with someone with different political views from ours, we retreat into our silo. Rather than face the uncertainty of inviting a potential new friend out to coffee, we cling to our solitude. And rather than walk a few blocks to the local corner stone, we order through an app. The ramifications of these choices extend beyond polarization and loneliness. When we continuosly choose to surround ourselves with the familiar, our ability to tackle the unknown begins to atrophy.

Paragraf itu merangkum keresahan utama yang dibawa buku ini. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang sering menjebak orang sehingga menyikapi ketidakpastian dengan kurang tepat. Pertama comfort, kecenderungan untuk tidak beranjak dari zona nyaman. Kedua hubris, menutup diri dari pengetahuan baru karena merasa sudah jadi yang paling tahu. Ketiga control, merasa bisa mengendalikan semua hal padahal tidak. Tiga hal itu menjadi bagian penyusun buku ini, tiap bagian terdiri dari beberapa bab yang masing-masingnya berkisah tentang satu atau beberapa kontributor. 

Di antara kontributornya adalah seorang Menteri dari Tuvalu yang meng-address PBB soal climate change lewat pidato di pinggir pantai dalam kondisi kakinya terendam air laut yang naik mengikis wilayah negaranya sedikit demi sedikit (keyword youtube: Simon Kofe speech COP26). Lalu ada seorang software engineer di Google yang meninggalkan rutinitas, rumah, dan kehidupannya untuk hidup nomaden secara random. Dia membuat aplikasi yang memutuskan untuknya di mana dia harus tinggal, apa yang harus dia makan, dan apa aktivitas yang harus dia datangi. Selama beberapa tahun dia manut total pada aplikasi itu dan menemukan sisi-sisi dunia yang sebelumnya tidak dia tahu. Dalam penulisannya Stolzoff total, misalnya ketika mendalami Tuvalu dia benar-benar terbang ke negara itu.


Simone Stolzoff punya karir yang panjang di berbagai bidang (jurnalis, penulis, speaker, ex-design lead IDEO) dan he knows what he's doing. Selain story telling yang bagus, tulisannya sarat dengan informasi-informasi yang berbasis data yang banyak orang belum tahu sebelumnya. Banyak titik di buku ini yang hit close to home karena saya merasa relate dengan apa yang dialami kontributornya. Buku ini memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini saya tidak tahu apakah ada jawabannya. Aftertaste setelah menyelesaikan buku ini adalah: "orang harus baca ini bukan hanya karena bagusnya, tapi karena manfaatnya.

Buku ini menyadarkan saya untuk tidak overthink atas sesuatu. Beri ruang untuk ketidaktahuan karena lawan dari faith bukanlah doubt tapi certainty. Saya coba terapkan itu kemarin ketika terakhir kami ke Den Haag dengan sengaja tidak membuat rencana yang matang, tapi justru hari itu kami ketemu kapsul Soyuz* asli, makan pempek, ke pasar kermis (pasar malam), dan makan nasi rames di masjid. Persiapan yang terbatas posses some risks, tapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk kejutan-kejutan baik.

Ada konsep menarik lain yang saya temukan di buku ini yaitu soal exploit + explore. Exploit adalah melakukan sesuatu yang sudah familiar dan mendalaminya, sementara explore adalah melebarkan sayap mencoba hal-hal baru. Kita perlu punya dua pendekatan ini secara seimbang agar bisa tahu banyak sekaligus banyak tahu. Kita bisa datang berulang-ulang ke restoran langganan yang sudah jelas disuka tapi juga sebaiknya sesekali mencoba restoran lain karena siapa tahu ketemu yang enak juga.

Stolzoff menutup bukunya dengan memberikan empat ajakan yang perlu dilakukan agar manusia bukan hanya bisa me-manage uncertainty tapi juga meng-embrace uncertainty. Empat ajakan itu adalah: find your anchors, choose curiosity over comfort, trust your future self to handle future problems, dan let go of the ghost ships that did not carry you. Empat ajakan itu menjadi kesimpulan yang membungkus dengan apik segala bahasan di buku ini.

How To Not Know tidak memberi pembacanya cara untuk menjadi excelent communicator, effective negotiator, atau impactful leader. Buku ini sesederhana mengajak pembaca untuk menerima bahwa uncertainty adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tapi dengan faith dan keberanian untuk tetap melangkah dalam gelap, di sana lah manusia bisa membuka ruang-ruang yang bahkan sebelumnya belum diketahui adanya.

Chandra


*Soyuz adalah wahana antariksa milik Rusia. Salah satu kapsul asli Soyuz disimpan di Space Expo Museum di Noordwijk, Belanda. Wahana ini sentimental buat saya karena nama 'Soyuz' kami ambil jadi nama angkatan waktu osjur kuliah dulu.




Sensus Ekonomi

July 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sebuah surat mendarat di kotak pos kami dari CBS (Centraal Bureau voor de Statistiek) berisi voucher belanja senilai €30. Ini adalah ucapan terimakasih pemerintah karena sebelumnya kami berpartisipasi dalam sensus ekonomi. Haha.



Beberapa minggu sebelumnya kami menerima surat dari CBS tentang menanyakan kesediaan kami untuk ikut serta dalam sensus ekonomi. Dalam sensus seperti ini tidak ada petugas yang datang untuk menanyai, kuesioner diisi secara online. Pertanyaannya lumayan komprehensif seperti pekerjaan, penghasilan, status tempat tinggal, dan lain sebagainya. Sebenarnya one way or another pemerintah sudah tahu data-data ini andaikan mau dikumpulkan dari berapa instansi.

Tapi yang menarik adalah selain mengisi kuesioner kami juga diminta untuk menginput pengeluaran harian selama 2 minggu sejak enroll. Pada website CBS sudah disiapkan templatenya. Jadi setiap belanja kebutuhan, makan di luar, biaya transportasi, sampai leisure dan main padel diinput disitu habis berapa dan untuk apa. Dari data ini mungkin CBS akan melihat pola dan mrngekstrapolasi ke interval yang lebih panjang.

Karena menggunakan effort dan waktu warga, keluarga yang berkenan menyelesaikan survey ini sampai 2 minggu mendapat reward voucher belanja. Saya nggak tahu apakah semuanya dapat atau ada kriteria tertentu, tapi happy lah dapat satu. Selain itu saya bersedia mengikuti sensus ini karena saya punya concern dengan harga-harga yang lumayan naik terutama setelah perang Iran-Amerika. Semoga data-data yang terkumpul menunjukkan bahwa inflasi cukup tinggi sehingga pemerintah tergerak untuk melakukan sesuatu guna memitigasi hal ini.

Chandra

Melayat

July 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Dalam episode #PertamaKalinya lagi tapi kali ini suasananya berduka, ini lah pertama kalinya saya datang melayat di Belanda.

Kami punya kenalan seorang Indonesian lady yang menikah dengan orang Belanda. Beliau aktif di pengajian dan dari sana kami (muda-mudi Indonesia) akrab dengannya. Beliau sering sedekah makanan-makanan enak sebagai konsumsi pengajian karena memang punya katering profesional baik di Jakarta dulu sampai di Belanda sekarang. Kateringnya adalah andalan untuk kami-kami pesan ketika ada acara atau pun sekedar untuk stok lauk di rumah. 

Tapi bukan hanya urusan jajanan, secara personal kami juga akrab dengan beliau. Setiap lebaran kami diundang ke rumahnya. Baik sekali ibu ini, keluarganya juga sudah terbiasa dan sangat welcome dengan orang-orang Indonesia muslim. Suaminya mualaf, beberapa kali ikut pengajian, tidak ada anjing dan alkohol di rumahnya, dan salat di sana sudah ada tempatnya. Jadi main ke sana sudah seperti ke tempat saudara.

Qadarullah beberapa waktu yang lalu kami mendapat kabar duka dari beliau, adik iparnya meninggal dunia. Kami kenal dengan iparnya ini juga karena beberapa kali ikut ngantar ke pengajian walaupun tidak ikut masuk. Berita duka ini awalnya hanya informasi via whatsapp, tapi ternyata beliau juga mengirimkan surat duka ini ke rumah. Maka tidak enak kalau kami tidak menyempatkan untuk datang. Saya datang bersama seorang teman untuk mewakili angkatan muda ini, tidak ajak istri karena undangannya di jam kerja.

Ini adalah pertama kalinya saya datang ke rumah duka 'umum', sebelumnya hanya dengar-dengar saja di Jakarta. Acara diselenggarakan sekitar satu minggu setelah hari wafatnya. Foto di atas adalah sebuah krematorium tempat prosesi diadakan yang setelah ngobrol-ngobrol saya baru tahu bahwa tempat ini baru. Dari luarnya tampak sangat bersih dan rapi, tapi sekaligus sepi. Sejak masuk ke sini saya tahu ini akan jadi pengalaman melayat yang berbeda.

Begitu masuk, tamu dipersilakan duduk di ruang tunggu. Ketika semua sudah datang mungkin ada 40-50 orang di sana. Tentu ini jumlah yang sangat sedikit kalau dibandingkan takziah di Indonesia. Kalau dibilang nyaman tempatnya nyaman sekali memang, seperti ruang tunggu rumah sakit kelas atas. Ada beberapa sofa dan meja kursi, hiasan dinding, lampu gantung, dispenser air minum, dan di ujung ruangan ada TV yang menampilkan foto orang yang berpulang.

Tepat ketika acara akan dimulai ada semacam protokoler yang masuk, dia mempersilakan tamu untuk masuk ke ruang ceremony. Tapi sebelum itu bagi tamu yang ingin melihat peti atau memberikan penghormatan terakhir bisa masuk melalui pintu samping. Ruang ceremony-nya berbentuk seperti gereja dengan kursi-kursi panjangnya. Tapi tidak ada simbol agama apapun, sepertinya krematorium seperti ini bisa melayani agama apapun termasuk yang tidak beragama. 

Tembok depan ruangan ini transparan sehingga taman dan rerumputan di belakang bangunan jadi background yang sangat cantik. Di dalam musik yang mendayu-dayu di putar, musik popular btw seperti Coldplay sampai Van Halen hanya saja dengan aransemen sendu. Di depan ruangan ada mimbar, bunga,  beberapa lilin, dan TV yang nantinya akan dipakai memutar slide show foto-foto. Bagian belakang ada kamera yang bisa digunakan untuk live streaming. Acara ini dibroadcast ke Indonesia karena memang keluarga ini dekat dengan saudara-saudaranya di Indonesia.


Ketika semua tamu sudah di dalam, keluarga masuk berjalan menyusuri aisle sambil membawa peti jenazah, para tamu berdiri. Acara kemudian terdiri dari beberapa speech dari keluarga dan kolega. Isinya menceritakan riwayat hidup mendiang, kenangan-kenangan dengannya, dan sifat-sifat baiknya. Di antara speech itu diputar foto-foto sejak mendiang masih kecil sampai tua. Ceremony berlangsung selama sekitar 45 menit. Prosesinya seperti scene pemakaman yang di film-film, tapi dengan ada di situ saya sekarang merasakan atmosfernya untuk pertama kalinya.

Kalau ada satu kata yang menggambarkan suasana di sana itu adalah kosong. Ya kosong, sunyi, diam, sepi, sendu. Orang seperti bergulat dengan pikirannya masing-masing berusaha memunculkan kembali kenangan dengan orang yang meninggal. Tidak ada yang berbisik-bisik apalagi berbicara, musik masih mengalun pelan. Ini mengheningkan cipta tapi panjang.

Selesai prosesi, para tamu berdiri memberikan penghormatan terakhir dan menyalami keluarga. Kemudian tamu diarahkan ke ruangan di sebelah di mana sudah disiapkan sajian kopi, teh, dan makanan ringan. Di sini lah kemudian tamu bisa berbicara sekaligus ngobrol dengan anggota keluarga. 

Template acara penghormatan seperti ini tidak bisa diterapkan untuk muslim karena keharusan untuk memproses pemulasaran jenazah sesegera mungkin. Sementara butuh waktu dan pikiran (serta dana cukup besar) untuk merancang acara seperti ini. Kemudian juga untuk muslim dianjurkan menghadiri takziah bahkan jika tidak ada hubungan apapun, tanpa perlu menunggu undangan. 

Ketika menemui unsur budaya yang berbeda seperti ini saya selalu coba menarik ke belakang dan menelisik 'apa ya alasannya?'. Pasti ada sebabnya acara funeral dibuat seperti ini. Yang muncul di pikiran saya adalah mereka ingin menciptakan momen untuk mengenang. Ini berbeda dengan di Indonesia yang ketika datang takziah tujuan utamanya adalah untuk mendoakan. 

Saya jadi merasa ada yang perlu diperbaiki dari cara saya datang takziah. Selama ini seperti sudah cukup hanya dengan datang. Di rumah duka malah lebih banyak ngobrolnya daripada mendoakan atau minimal mengingat yang berpulang. Mungkin ada baiknya setelah menyalatkan kemudian mencari sudut sepi untuk minutes of silence.

Selamat jalan, Eugenio.



Chandra