How to Not Know: Navigating Uncertainty

August 01, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika pertama kali membaca judul buku ini saya agak kurang yakin karena How To Not Know terdengar seperti versi lain dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck, yang mana tidak terlalu menarik buat saya. Tapi saya tetap checkout How To Not Know dari Bol.com karena penulisnya Simone Stolzoff, penulis buku The Good Enough Job, salah satu buku all-time favorite saya. Saya bersyukur mendapatkan buku ke-dua-nya ini karena walaupun judulnya begitu tapi isinya 10/10.

Baca juga: The Good Enough Job

Tadinya saya kira buku ini bicara soal bagaimana caranya supaya tidak terlalu ingin tahu hal-hal yang tidak perlu kita tahu alias tidak kepo, tapi ternyata bukan itu yang dimaksud 'Not Know'. Not Know di sini maksudnya adalah uncertainty (ketidakpastian) yang sering mendatangkan problem psikologis bagi manusia. Terlebih sekarang virus ketidakpastian looming more than ever dengan adanya krisis global di hampir segala lini kehidupan: politik, keamanan, ekonomi, hukum, sosial, dan lingkungan.

Ketidakpastian adalah perkara serius yang dihadapi semua orang tapi kadang tidak dipahami secara penuh. Ada cerita dalam buku ini tentang penelitian melibatkan orang yang disetrum. Responden yang tidak tahu apakah dia akan disetrum ternyata punya kecemasan dan stres lebih tinggi daripada yang sudah tahu dari awal bahwa dia akan disetrum. Menunggu hasil ujian keluar lebih menegangkan daripada ketika tahu hasilnya. Mendukung klub bola yang nyanan di peringkat 3 lebih mentally easy daripada mendukung yang bersaing di peringkat 1-2 sampai akhir musim tapi akhirnya kalah.

Secara bawaan setiap manusia punya uncertainty tolerance, kemampuan untuk menampung ketidakpastian. Tapi derasnya arus informasi dan kemudahan untuk ngecek dan memastikan segala sesuatu pada gilirannya bisa mengerdilkan uncertainty tolerance ini. Orang harus ngecek daftar menu dulu sebelum masuk restoran, orang harus baca review sebelum nonton film, dan orang harus tahu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Ada sebuah paragraf yang bagus sekali di buku ini dan rasanya harus saya kutip:

Rather than engage with someone with different political views from ours, we retreat into our silo. Rather than face the uncertainty of inviting a potential new friend out to coffee, we cling to our solitude. And rather than walk a few blocks to the local corner stone, we order through an app. The ramifications of these choices extend beyond polarization and loneliness. When we continuosly choose to surround ourselves with the familiar, our ability to tackle the unknown begins to atrophy.

Paragraf itu merangkum keresahan utama yang dibawa buku ini. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang sering menjebak orang sehingga menyikapi ketidakpastian dengan kurang tepat. Pertama comfort, kecenderungan untuk tidak beranjak dari zona nyaman. Kedua hubris, menutup diri dari pengetahuan baru karena merasa sudah jadi yang paling tahu. Ketiga control, merasa bisa mengendalikan semua hal padahal tidak. Tiga hal itu menjadi bagian penyusun buku ini, tiap bagian terdiri dari beberapa bab yang masing-masingnya berkisah tentang satu atau beberapa kontributor. 

Di antara kontributornya adalah seorang Menteri dari Tuvalu yang meng-address PBB soal climate change lewat pidato di pinggir pantai dalam kondisi kakinya terendam air laut yang naik mengikis wilayah negaranya sedikit demi sedikit (keyword youtube: Simon Kofe speech COP26). Lalu ada seorang software engineer di Google yang meninggalkan rutinitas, rumah, dan kehidupannya untuk hidup nomaden secara random. Dia membuat aplikasi yang memutuskan untuknya di mana dia harus tinggal, apa yang harus dia makan, dan apa aktivitas yang harus dia datangi. Selama beberapa tahun dia manut total pada aplikasi itu dan menemukan sisi-sisi dunia yang sebelumnya tidak dia tahu. Dalam penulisannya Stolzoff total, misalnya ketika mendalami Tuvalu dia benar-benar terbang ke negara itu.


Simone Stolzoff punya karir yang panjang di berbagai bidang (jurnalis, penulis, speaker, ex-design lead IDEO) dan he knows what he's doing. Selain story telling yang bagus, tulisannya sarat dengan informasi-informasi yang berbasis data yang banyak orang belum tahu sebelumnya. Banyak titik di buku ini yang hit close to home karena saya merasa relate dengan apa yang dialami kontributornya. Buku ini memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini saya tidak tahu apakah ada jawabannya. Aftertaste setelah menyelesaikan buku ini adalah: "orang harus baca ini bukan hanya karena bagusnya, tapi karena manfaatnya.

Buku ini menyadarkan saya untuk tidak overthink atas sesuatu. Beri ruang untuk ketidaktahuan karena lawan dari faith bukanlah doubt tapi certainty. Saya coba terapkan itu kemarin ketika terakhir kami ke Den Haag dengan sengaja tidak membuat rencana yang matang, tapi justru hari itu kami ketemu kapsul Soyuz* asli, makan pempek, ke pasar kermis (pasar malam), dan makan nasi rames di masjid. Persiapan yang terbatas posses some risks, tapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk kejutan-kejutan baik.

Ada konsep menarik lain yang saya temukan di buku ini yaitu soal exploit + explore. Exploit adalah melakukan sesuatu yang sudah familiar dan mendalaminya, sementara explore adalah melebarkan sayap mencoba hal-hal baru. Kita perlu punya dua pendekatan ini secara seimbang agar bisa tahu banyak sekaligus banyak tahu. Kita bisa datang berulang-ulang ke restoran langganan yang sudah jelas disuka tapi juga sebaiknya sesekali mencoba restoran lain karena siapa tahu ketemu yang enak juga.

Stolzoff menutup bukunya dengan memberikan empat ajakan yang perlu dilakukan agar manusia bukan hanya bisa me-manage uncertainty tapi juga meng-embrace uncertainty. Empat ajakan itu adalah: find your anchors, choose curiosity over comfort, trust your future self to handle future problems, dan let go of the ghost ships that did not carry you. Empat ajakan itu menjadi kesimpulan yang membungkus dengan apik segala bahasan di buku ini.

How To Not Know tidak memberi pembacanya cara untuk menjadi excelent communicator, effective negotiator, atau impactful leader. Buku ini sesederhana mengajak pembaca untuk menerima bahwa uncertainty adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tapi dengan faith dan keberanian untuk tetap melangkah dalam gelap, di sana lah manusia bisa membuka ruang-ruang yang bahkan sebelumnya belum diketahui adanya.

Chandra


*Soyuz adalah wahana antariksa milik Rusia. Salah satu kapsul asli Soyuz disimpan di Space Expo Museum di Noordwijk, Belanda. Wahana ini sentimental buat saya karena nama 'Soyuz' kami ambil jadi nama angkatan waktu osjur kuliah dulu.




Sensus Ekonomi

July 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sebuah surat mendarat di kotak pos kami dari CBS (Centraal Bureau voor de Statistiek) berisi voucher belanja senilai €30. Ini adalah ucapan terimakasih pemerintah karena sebelumnya kami berpartisipasi dalam sensus ekonomi. Haha.



Beberapa minggu sebelumnya kami menerima surat dari CBS tentang menanyakan kesediaan kami untuk ikut serta dalam sensus ekonomi. Dalam sensus seperti ini tidak ada petugas yang datang untuk menanyai, kuesioner diisi secara online. Pertanyaannya lumayan komprehensif seperti pekerjaan, penghasilan, status tempat tinggal, dan lain sebagainya. Sebenarnya one way or another pemerintah sudah tahu data-data ini andaikan mau dikumpulkan dari berapa instansi.

Tapi yang menarik adalah selain mengisi kuesioner kami juga diminta untuk menginput pengeluaran harian selama 2 minggu sejak enroll. Pada website CBS sudah disiapkan templatenya. Jadi setiap belanja kebutuhan, makan di luar, biaya transportasi, sampai leisure dan main padel diinput disitu habis berapa dan untuk apa. Dari data ini mungkin CBS akan melihat pola dan mrngekstrapolasi ke interval yang lebih panjang.

Karena menggunakan effort dan waktu warga, keluarga yang berkenan menyelesaikan survey ini sampai 2 minggu mendapat reward voucher belanja. Saya nggak tahu apakah semuanya dapat atau ada kriteria tertentu, tapi happy lah dapat satu. Selain itu saya bersedia mengikuti sensus ini karena saya punya concern dengan harga-harga yang lumayan naik terutama setelah perang Iran-Amerika. Semoga data-data yang terkumpul menunjukkan bahwa inflasi cukup tinggi sehingga pemerintah tergerak untuk melakukan sesuatu guna memitigasi hal ini.

Chandra

Melayat

July 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Dalam episode #PertamaKalinya lagi tapi kali ini suasananya berduka, ini lah pertama kalinya saya datang melayat di Belanda.

Kami punya kenalan seorang Indonesian lady yang menikah dengan orang Belanda. Beliau aktif di pengajian dan dari sana kami (muda-mudi Indonesia) akrab dengannya. Beliau sering sedekah makanan-makanan enak sebagai konsumsi pengajian karena memang punya katering profesional baik di Jakarta dulu sampai di Belanda sekarang. Kateringnya adalah andalan untuk kami-kami pesan ketika ada acara atau pun sekedar untuk stok lauk di rumah. 

Tapi bukan hanya urusan jajanan, secara personal kami juga akrab dengan beliau. Setiap lebaran kami diundang ke rumahnya. Baik sekali ibu ini, keluarganya juga sudah terbiasa dan sangat welcome dengan orang-orang Indonesia muslim. Suaminya mualaf, beberapa kali ikut pengajian, tidak ada anjing dan alkohol di rumahnya, dan salat di sana sudah ada tempatnya. Jadi main ke sana sudah seperti ke tempat saudara.

Qadarullah beberapa waktu yang lalu kami mendapat kabar duka dari beliau, adik iparnya meninggal dunia. Kami kenal dengan iparnya ini juga karena beberapa kali ikut ngantar ke pengajian walaupun tidak ikut masuk. Berita duka ini awalnya hanya informasi via whatsapp, tapi ternyata beliau juga mengirimkan surat duka ini ke rumah. Maka tidak enak kalau kami tidak menyempatkan untuk datang. Saya datang bersama seorang teman untuk mewakili angkatan muda ini, tidak ajak istri karena undangannya di jam kerja.

Ini adalah pertama kalinya saya datang ke rumah duka 'umum', sebelumnya hanya dengar-dengar saja di Jakarta. Acara diselenggarakan sekitar satu minggu setelah hari wafatnya. Foto di atas adalah sebuah krematorium tempat prosesi diadakan yang setelah ngobrol-ngobrol saya baru tahu bahwa tempat ini baru. Dari luarnya tampak sangat bersih dan rapi, tapi sekaligus sepi. Sejak masuk ke sini saya tahu ini akan jadi pengalaman melayat yang berbeda.

Begitu masuk, tamu dipersilakan duduk di ruang tunggu. Ketika semua sudah datang mungkin ada 40-50 orang di sana. Tentu ini jumlah yang sangat sedikit kalau dibandingkan takziah di Indonesia. Kalau dibilang nyaman tempatnya nyaman sekali memang, seperti ruang tunggu rumah sakit kelas atas. Ada beberapa sofa dan meja kursi, hiasan dinding, lampu gantung, dispenser air minum, dan di ujung ruangan ada TV yang menampilkan foto orang yang berpulang.

Tepat ketika acara akan dimulai ada semacam protokoler yang masuk, dia mempersilakan tamu untuk masuk ke ruang ceremony. Tapi sebelum itu bagi tamu yang ingin melihat peti atau memberikan penghormatan terakhir bisa masuk melalui pintu samping. Ruang ceremony-nya berbentuk seperti gereja dengan kursi-kursi panjangnya. Tapi tidak ada simbol agama apapun, sepertinya krematorium seperti ini bisa melayani agama apapun termasuk yang tidak beragama. 

Tembok depan ruangan ini transparan sehingga taman dan rerumputan di belakang bangunan jadi background yang sangat cantik. Di dalam musik yang mendayu-dayu di putar, musik popular btw seperti Coldplay sampai Van Halen hanya saja dengan aransemen sendu. Di depan ruangan ada mimbar, bunga,  beberapa lilin, dan TV yang nantinya akan dipakai memutar slide show foto-foto. Bagian belakang ada kamera yang bisa digunakan untuk live streaming. Acara ini dibroadcast ke Indonesia karena memang keluarga ini dekat dengan saudara-saudaranya di Indonesia.


Ketika semua tamu sudah di dalam, keluarga masuk berjalan menyusuri aisle sambil membawa peti jenazah, para tamu berdiri. Acara kemudian terdiri dari beberapa speech dari keluarga dan kolega. Isinya menceritakan riwayat hidup mendiang, kenangan-kenangan dengannya, dan sifat-sifat baiknya. Di antara speech itu diputar foto-foto sejak mendiang masih kecil sampai tua. Ceremony berlangsung selama sekitar 45 menit. Prosesinya seperti scene pemakaman yang di film-film, tapi dengan ada di situ saya sekarang merasakan atmosfernya untuk pertama kalinya.

Kalau ada satu kata yang menggambarkan suasana di sana itu adalah kosong. Ya kosong, sunyi, diam, sepi, sendu. Orang seperti bergulat dengan pikirannya masing-masing berusaha memunculkan kembali kenangan dengan orang yang meninggal. Tidak ada yang berbisik-bisik apalagi berbicara, musik masih mengalun pelan. Ini mengheningkan cipta tapi panjang.

Selesai prosesi, para tamu berdiri memberikan penghormatan terakhir dan menyalami keluarga. Kemudian tamu diarahkan ke ruangan di sebelah di mana sudah disiapkan sajian kopi, teh, dan makanan ringan. Di sini lah kemudian tamu bisa berbicara sekaligus ngobrol dengan anggota keluarga. 

Template acara penghormatan seperti ini tidak bisa diterapkan untuk muslim karena keharusan untuk memproses pemulasaran jenazah sesegera mungkin. Sementara butuh waktu dan pikiran (serta dana cukup besar) untuk merancang acara seperti ini. Kemudian juga untuk muslim dianjurkan menghadiri takziah bahkan jika tidak ada hubungan apapun, tanpa perlu menunggu undangan. 

Ketika menemui unsur budaya yang berbeda seperti ini saya selalu coba menarik ke belakang dan menelisik 'apa ya alasannya?'. Pasti ada sebabnya acara funeral dibuat seperti ini. Yang muncul di pikiran saya adalah mereka ingin menciptakan momen untuk mengenang. Ini berbeda dengan di Indonesia yang ketika datang takziah tujuan utamanya adalah untuk mendoakan

Saya jadi merasa ada yang perlu diperbaiki dari cara saya datang takziah. Selama ini seperti sudah cukup hanya dengan datang. Di rumah duka malah lebih banyak ngobrolnya daripada mendoakan atau minimal mengingat yang berpulang. Mungkin ada baiknya setelah menyalatkan kemudian mencari sudut sepi untuk minutes of silence.

Selamat jalan, Eugenio.



Chandra


Peak Aviation

July 12, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Space Shuttle mounted di atas Boeing 747, di belakangnya ada Concorde lagi take-off. Engineering abad 20.


Tulislah Walau Satu Kalimat

July 05, 2026 Posted by Chandra Nurohman 3 comments
Pepatah bilang motivasi adalah yang membuat kita memulai, tapi disiplin lah yang membuat kita terus berjalan. Waktu memulai blog ini dulu, motivasinya ada beberapa, tapi seiring berjalannya waktu sudah hilang satu per satu dan yang tersisa menjaga ini tetap berjalan tinggal disiplinnya.


Sejujurnya writing is not always fun. Menulis menyenangkan ketika memang sedang ada uneg-uneg yang ingin dikeluarkan, tapi itu tidak setiap waktu. Ada saat-saatnya pikiran buntu tapi ada target menulis tiap minggu. Di saat seperti itu saya coba paksa walaupun kadang-kadang hasilnya tidak maksimal. Maka di antara postingan di sini ada yang saya puas menulisnya tapi ada juga yang hanya for the sake of posting. Meski begitu saya merasa perlu menjaga streak karena kalau bolong tanpa alasan yang valid takutnya skip berkelanjutan dan berat untuk memulai lagi.

Alasan saya tetap memaksa diri untuk rutin menulis entah ada yang membaca atau tidak adalah karena saya mulai merasakan manfaatnya di beberapa tahun terakhir. Pertama, saya merasakan ini ketika menemukan kok menulis email jadi gampang. Dulu ketika mau mengirim email saya perlu googling dulu "contoh email untuk . . ." atau "template email . . .". Tapi karena terbiasa menulis from scratch, jadinya bisa menulis email cukup panjang dengan informasi awal yang terbatas. Selain kata-kata jadi lebih cepat meluncur, saya juga lebih pede dengan hasil akhirnya. Ketika perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris bertambah, menulis English juga jadi semakin effortless. 

Menulis bukan skill wajib dalam pekerjaan saya, tapi saya menemukan kebiasaan ini sangat berguna. Mendetailkan rencana kerja, membuat catatan, dan menulis dokumentasi adalah contoh bentuk menulis. Lalu sama halnya dengan bicara yang ada seninya bagaimana mempersuasi orang, bagaimana berargumen, bagaimana talk yourself out of trouble, menulis ada unsur "bersilat lidah"-nya juga. Tulisan tidak ada intonasinya, maka butuh konstruksi kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud secara jelas pada lawan bicara. 

Dalam kaitannya dengan AI, ada dua hal yang penting soal menulis. Pertama, kebiasaan menulis mempermudah ketika harus membuat prompt karena di situ ada proses mengubah maksud pikiran jadi tulisan. Kedua, walaupun AI semakin pintar tapi manusia tetap punya kelebihan dengan personal touch-nya. Misal dalam membuat bahan presentasi, AI bisa membuat slide beserta tulisannya, tapi manusia lah yang bisa menyesuaikan hasil akhirnya dengan audience yang akan dihadapi. Jadi kebiasaan menulis bisa menjadikan penggunaan AI lebih optimal dan di saat yang sama menjadikannya lebih "tidak kelihatan seperti hasil AI".

Saya setuju dengan Puthut EA yang bilang bahwa sebaiknya orang itu bisa menulis, tanpa harus jadi penulis. Dokter, politisi, engineer, artist, atau profesi apapun kalau bisa menulis itu baik. Sama seperti ada perbedaan level antara mendengar dan mendengarkan, menulis juga begitu. Semua orang bisa menulis kata, tapi alangkah lebih baiknya jika orang bisa menulis ide. 

Kalau bukan karena manfaatnya (untuk diri sendiri dan semoga orang lain), mungkin saya sudah berhenti menginvestasikan waktu untuk rutin menulis. Siapa juga yang masih blogging di tahun 2026 ini? Buat saya menulis itu seperti lari atau ngegym, just to keep me in shape.

Chandra

Hari Terpanas Eropa

June 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Jumat 26 Juni 2026, untuk pertama kalinya pemerintah Belanda mengeluarkan code red karena suhu panas. Diperkirakan suhu hari Jumat bisa mencapai 40 derajat celcius dengan feels like sampai 45 derajat. Orang disarankan untuk mengurangi keluar rumah dan sekolah sampai diliburkan.

Masalahnya bangunan di Belanda didesain untuk menghadapi suhu dingin bukan panas. Lupakan soal ventilasi, hampir semua hunian fully insulated agar menjaga penghuninya dari winter yang dingin. Semakin bagus insulasi semakin tinggi grade sebuah rumah. Ini bagus ketika dingin karena bisa menghemat penggunaan pemanas, tapi ketika suhu panas udara jadi terjebak dan lebih pengap daripada mayoritas rumah-rumah di Indonesia.


Sistem pemanas ada di setiap rumah dan jadi instalasi penting di samping listrik dan air, tapi sangat sangat sedikit rumah yang punya AC. Bahkan kipas angin pun tidak setiap keluarga punya. Sekarang orang-orang sedang ramai mencari cara menjaga bagian dalam rumah tetap sejuk, mulai dari membeli AC potable, membuka jendela sepanjang malam, sampai memasang alumunium foil.

Serupa dengan hunian, tempat-tempat umum seperti stasiun, bis, tempat olahraga, masjid, dan lain sebagainya juga banyak yang tidak punya fasilitas pendingin yang cukup. Mungkin hanya perkantoran yang menjaga ruangannya tetap dingin. Bekerja dalam kondisi sepanas dan segerah ini sangat tidak ideal. Tidak heran kalau Lee Kuan Yew bilang air conditioning is one of the most valuable inventions in history.

Menurut perkiraan setelah puncak di Jumat ini suhu akan berangsur turun dan minggu depan sudah kembali normal di sekitar 25 derajat pada siang hari. Tapi butuh waktu untuk menurunkan suhu di dalam rumah yang terlanjur panas. Puncaknya tempat kami sempat mencapai 30 derajat pada Sabtu siang kemarin.


Chandra

Haruskah Padel Jadi Hobi Mahal?

June 20, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya pernah nulis bagaimana cara badminton dan tenis dimainkan memengaruhi bentuk dua olahraga itu sebagai bisnis. Sekarang saya mau membahas olahraga yang sedang naik daun: Padel.




Padel biasanya dimainkan oleh 4 orang dalam lapangan berukuran 20 kali 10 meter. Secara permainan padel banyak mengadaptasi dari tenis, tapi selain lapangannya lebih kecil, di sekelilingnya ada kaca dan fence sebagai pembatas. Bola yang digunakan di padel sedikit berbeda dengan tenis. Sementara untuk raket, raket padel sangat mudah dikenali karena bentuknya yang khas dan tidak pakai senar.

Lalu kenapa padel bisa tenar sebagai olahraga maupun bisnis, ini adalah gabungan dari banyak faktor yang saling mendukung satu sama lain. Swiss Cheese Model.

1. Padel lebih dari tenis dalam hal tidak bisa dimainkan di sembarang tempat karena net, lantai, kaca, fence, bahkan atap adalah bagian dari permainan itu sendiri. Maka harus ada bisnis yang membangun dan mengeluarkan modal, bukan infrastruktur suka rela. Tapi ada pasar untuk ini dan orang bersedia bayar.

2. Walaupun bisa dimainkan outdoor, tapi kebanyakan lapangan padel indoor atau semi-indoor. Ini menyelesaikan dua hambatan orang untuk berolahraga: panas matahari dan polusi udara. Sama seperti gym, orang bersedia bayar (cukup mahal) untuk kenyamanan itu. Ini menarik banyak middle upper class, golongan yang juga jadi penggerak tren.

3. Dalam konsep indoor, pemilik lapangan bisa menambah coffee shop, dining area, dan vending machine di dalamnya. Ini sumber revenue tambahan yang jadi insentif untuk bisnis membangun infrastruktur padel.

4. Masih karena indoor, padel bisa dimainkan di setiap waktu termasuk siang hari di wilayah panas sekalipun. Musim hujan juga tidak jadi halangan. Lagi-lagi ini keuntungan bagi investor.


5. Raket padel padat tanpa senar, ini memberikan ruang lebih bagi brand untuk memasang brandingnya. Dalam tenis dan badminton paling mentok branding ada di frame, grip, atau dicap di senar yang tentu tidak semantap diprint di permukaan raket padel. Maka brand seperti Adidas invest dalam jumlah besar di padel. Lalu ada Babolat yang sampai berpartner dengan Lamborghini. 

6. Untuk pemain, padel adalah olahraga dengan entry barrier rendah apalagi untuk yang punya background racket sport dan fitness cukup. Padel mudah dimulai dan tidak terlalu capek karena tidak sekencang badminton dan tenis. Semakin mudah dicoba semakin banyak orang mau main. Note: mudah dimulai untuk rekreasional, tapi untuk jadi advanced perlu latihan, taktik, dan waktu. 

7. Padel dimainkan oleh 4 orang, cukup untuk menjadikan iuran biaya lapangan terjangkau sekaligus memberikan ruang untuk pemilik lapangan untuk matok harga lebih tinggi.


8. Karena indoor juga, kebersihan dan air conditioning yang bagus menjaga penampilan fisik pemain tetap on point. Ini penting untuk customer yang menganggap penting image karena bisa menghasilkan foto-foto yang instagramable sebagai media berkembangnya tren. 

9. Masih berkaitan dengan image, banyak pemain padel sangat concern dengan fashion. Attire padel banyak meniru tenis termasuk untuk wanita yang menurut saya sering unnecessarily revealing. Walaupun untuk level pemula outfit nyaris tidak ada hubungannya dengan performa, brand-brand punya pasar untuk merilis baju, celana, sampai sepatu.

10. Karena permainan dibatasi oleh kaca dan fence, penonton dan fotografer bisa berada pada posisi yang sangat dekat dengan pemain, ini bagus untuk branding diri maupun produk.

11. Mingle dan drink after padel sangat mungkin dilakukan dengan disediakannya cafe dan food corner. Olahraga yang memungkinkan networking seperti ini biasanya cenderung higher: golf, balap. 


Hal-hal di atas bersatu mengantarkan padel pada posisinya sekarang. Tapi ada faktor luar juga yang memengaruhi image olahraga ini: karakter masyarakatnya sendiri, media sosial, dan budaya influencer. Padel memberikan ruang signaling: aku bagian dari ini loh. Di masyarakat yang sangat person dan kesosokan oriented, padel sangat mungkin jadi olahraga yang elit dan malah dibenci oleh general population. 

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan menyarakat padel jika olahraga ini jadi tren karena memang desain dan cara olahraganya dimainkan mendukung untuk jadi begitu. Pickle ball dan squash lacking beberapa di antara faktor di atas yang menjadikannya tidak sebooming padel. Seperti pada umumnya tren olahraga baru akan ramai, nantinya waktu yang akan menguji apalah hanya akan menjadi ledakan sementara atau akan masuk ke fase organik.

Chandra

Third Space

June 14, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Saya mau men-challenge konsep "third space" yang selama ini dianggap sebagai sebab kota-kota di Eropa tampak nice dan livable. Sebelum third tentu ada first dan second. First space adalah rumah atau tempat tinggal sedangkan second space adalah tempat kerja. Third space adalah tempat-tempat yang bukan home atau work. 



Sering dikatakan third space ini adalah taman, city center, perpustakaan, river bank, stadion, museum, cafe, dan tempat-tempat semacamnya. Kota-kota di Eropa memang banyak yang punya itu semua dan biasanya terjaga dengan baik. Di sisi lain kota di negara-negara so called "berkembang" rata-rata kurang dalam hal ini. Jakarta misalnya, infrastrukturnya didominasi perkantoran dan pemukiman tanpa ada public space yang cukup di antaranya. 

Yah memang kalau definisi third space-nya ngikut orang barat memang nggak banyak. Kalau yang dibayangkan adalah city center dengan bangunan-bangunan kuno, jalannya berupa batu-batuan yang di susun rapi, di sekelilingnya berdiri cafe-cafe warna-warni, di pojokan ada musisi jalanan main biola, bersih tanpa kendaraan, sejuk, dan teratur, ya ndak ada di Jakarta. 

Tapi orang sering lupa bahwa definisi third space jauh lebih luas daripada itu. Third space adalah tempat yang selain rumah dan kantor, dan itu ada buanyak sekali di Jakarta. Third space-nya Jakarta adalah warung mie ayam, kedai kopi, serambi masjid, pos ronda, bakul nasi goreng, starling trotoar, rest area, pasar tradisional, pusat onderdil mobil, pemancingan, kios jus, kebun binatang, kursi indomaret, stasiun, Blok M, Jalan Sabang, ITC, PIM, GBK, mana lagi you name it lah.

Poinnya adalah third space tidak harus estetik dalam gambar, third space adalah tempat orang bisa ketemu orang lain, refreshing, dan melepas penat dengan mudah. Tempat-tempat itu tadi walaupun tidak estetik tapi gampang diakses publik dan berkontribusi menjadikan Jakarta lebih livable di tengah penat dan segala problemnya*. Di sisi lain pelepasan penat yang biasa saya lakukan di Jakarta dulu tidak bisa dilakukan di sini. Terakhir saya pengen mie ayam saya harus buat reservasi dulu.

Saya yakin kota-kota lain punya third space-nya dengan bentuk masing-masing, termasuk mungkin Amerika yang sering dianggap antitesisnya Eropa dalam hal tata kota. Iya memang third space di Eropa cakep-cakep, tapi menjadikan konsep Eropa sebagai standar livability tidaklah tepat, ini sama seperti sebutan Middle East untuk kawasan Asia Barat yang bersumber dari POV Eropa/Inggris.

Chandra

*walaupun tidak lama-lama banget, saya pernah tinggal, bekerja, dan commute di Jakarta selama kurang lebih 5 tahun.

Main Raja-Rajaan

June 06, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Selama ini ketika mendengar istilah 'kerajaan' yang terbayang di pikiran saya adalah tua, kuno, budaya, kraton, dan kirab. Itu adalah gambaran-gambaran yang terbentuk sebab tinggal berdekatan dengan Kraton Jogja. Dua kata pertama, tua dan kuno, tidaklah bermaksud menjelekkan tapi buat saya kraton sudah berada di ruang yang berbeda dengan kehidupan sebenarnya yang modern, cepat, dan minimalis.

Vibe kerajaan yang damai, mendayu-dayu, teduh, pelan, dan penuh simbol rasanya sudah berjarak dengan realita. Walaupun Kraton Jogja berterima dengan baik di masyarakat dan bahkan rajanya menjabat posisi gubernur di pemerintahan, orang-orang menempatkan kraton sebagai produk budaya saja. Kebanggaan iya, turisme tentu, tapi saya berpikir nowhere in the modern world should monarchy remains relevant, and that's oke.

Maksudnya oke saja kerajaan masih eksis dalam dimensi budaya tapi untuk memimpin masyarakat modern rasanya sistem monarki sudah usang. Mungkin sudah betul sebuah negara dipimpin presiden saja seperti Indonesia, tidak perlu ada raja. Buat apa masih 'main raja-rajaan' seperti banyak negara di Eropa.

Tapi melihat bagaimana Indonesia diurus akhir-akhir ini dan membandingkannya dengan peran serta posisi kerajaan Belanda di kehidupan masyarakat, saya memikirkan ulang hipotesis itu, jangan-jangan posisi presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan adalah ide yang buruk dan mungkinkah Indonesia akan lebih stabil jika juga punya raja di level negara? 

Menjadi negara yang stabil saja sudah cukup, tidak harus menjadi super prosper atau super power. Negara-negara barat bisa punya PDB tinggi dan maju secara ekonomi karena mereka punya headstart menjelajahi bumi dan mengeruk keuntungan dari negara-negara lain, bukan semata-mata karena mereka lebih pinter. Jadi tidak adil membandingkan dengan angka-angka dan harga-harga. Airbus A380 ya begitu itu, Cessna 172 ya begitu itu, ukuran nggak masalah yang penting terbangnya stabil.

Seberapa monarki sih Belanda? Kerajaan Belanda masih aktif sampai sekarang dan saat ini yang bertahta adalah His Majesty King Willem-Alexander. Beliau adalah buyut dari Ratu Wilhelmina yang bertahta di paruh pertama abad 20 ketika masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga namanya sering ada di buku sejarah.

PSSI-nya Belanda KNVB secara harfiah adalah Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (Asosiasi Sepakbola Kerajaan Belanda). Sementara KLM adalah singkatan dari Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (Maskapai Penerbangan Kerajaan). Warna oranye yang identik dengan Belanda sampai sekarang berasal dari royal family. Ulang tahun raja pada 27 April (Koningsdag) diperingati sebagai hari libur nasional dan mungkin adalah hari libur dengan peringatan paling meriah di Belanda. Bicara soal penghormatan pada raja, orang Belanda tidak kalah dengan orang Jawa.

Itu tadi dari sudut budaya, bagaimana dengan pemerintahan? Dua poin ini tertuang dalam konstitusi:

1. The government consists of the King and the ministers.
2. The King is inviolable; the ministers are responsible.

Raja dan para menteri (yang dipimpin perdana menteri) bersama-sama adalah yang disebut sebagai pemerintah. Kebijakan-kebijakan dirumuskan bersama dengan menteri-menteri sebagai eksekutor dan raja bisa ikut menyetujui proposal yang diajukan. Tapi meski posisi raja tidak bisa diganggu gugat, raja tidak punya jangkauan sampai level praktis. Simpelnya, raja adalah kepala negara sementara perdana menteri adalah kepala pemerintahan.

Apa keuntungan di balik pemisahan peran itu? Kepala pemerintahannya jadi tidak berlagak selayaknya seorang raja. Perdana menteri adalah pekerja, dia dipilih dan digaji untuk menjalankan perannya sebagai pegawai negeri. Dia tidak butuh panggung, tidak butuh wajahnya dikenal, tidak perlu sorak sorai, dan walaupun punya partai pengusung dan warga pemilih, dia tidak berharap 'disembah'.

Urusan penghormatan, tahta, dan pengkultusan itu domainnya raja, tapi di sisi lain raja:
(1) Tidak khawatir soal mempertahankan kekuasaan karena tahta akan diteruskan keturunannya.
(2) Tidak pegang APBN sehingga tidak menggunakan uang rakyat untuk kepentingan dirinya.
Dua hal itu (suksesi dan anggaran) adalah exactly yang jadi sumber masalah jika kepala negara dan kepala pemerintahan jadi satu, presiden bisa menghamburkan uang rakyat bukan untuk kebijakan produktif tapi untuk program populis demi pemilu berikutnya.

Konsep kerajaan juga mencegah munculnya raja-raja kecil di daerah dan di sektor tertentu. Lha kalau perdana menterinya saja cuma pegawai, mana mungkin pejabat-pejabat di daerah mau sok-sok-an seolah raja. Bidang populer seperti sepakbola juga tidak bisa dikooptasi segelintir orang karena sudah dipagari dengan Asosiasi Sepakbola "Kerajaan Belanda", milik kerajaan lho ini, jangan macam-macam. 

Menurut Claude, ada 43 negara di dunia masih punya monarki aktif. Jadi sebenarnya jumlah raja yang masih bertahta tidak langka-langka amat. Tentu tidak semua dari negara itu juga stabil dan progressing. Tapi saya cuma mau venting bahwa daripada punya presiden yang macak jadi raja, piye nek sekalian Indonesia jadi kerajaan aja?

Chandra

 

Idul Kurban

May 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Untuk pertama kalinya kemarin saya dan istri melaksanan salat ied bukan di lapangan, bukan di masjid, tapi di halaman rumah. Bahkan saat covid dulu tidak ada momen kami salat di rumah, antara ke masjid/lapangan atau nggak salat jamaah. 

Kami salat di Nijmegen, di rumah salah satu warga orang Indonesia. Beliau punya halaman belakang yang cukup luas karena kebetulan rumahnya di hoek. Halamannya besar sehingga bisa didirikan tenda dan muat dipakai untuk salat mungkin sekitar 50 orang. Ini adalah opsi tempat salat ied jamaah Indonesia terdekat dari tempat kami tinggal.


Walaupun tampak sederhana, setingan seperti ini justru hangat dan akrab. Setelah takbiran, salat, lalu khutbah seperti biasa, ada acara ramah tamah sambil makan-makan yang baru bubar menjelang siang. Regulasi yang tidak mengijinkan penyembelihan hewan di tempat masing-masing membuat tidak ada yang buru-buru berkegiatan. Bapak-bapak ngobrol cukup panjang sampai terjadi janjian untuk main padel hari minggu nanti.

Acara ini diselenggarakan oleh Kemuni alias Keluarga Muslim Nijmegen. Komunitas ini punya dua demografi utama yaitu student di Radboud University dan bapak ibu mukimin yang sudah lama di Belanda. Biasanya kalau di suatu komunitas banyak ibu-ibu mukiminnya, hampir bisa dipastikan ketika ada acara makanannya enak-enak haha.



Makanan itu satu hal, tapi yang paling penting buat saya adalah momen kumpul-kumpulnya. Salat di masjid Maroko atau Turki mungkin lebih nyaman, tapi kita tetap merasa sebagai tamu. Beda dengan salat bersama orang-orang Indonesia yang walaupun sederhana tapi berasa di rumah. Saya bersyukur ke sini dalam kondisi di banyak kota-kota besar sudah ada komunitas muslim Indonesia yang berkembang yang welcome.

Idul Adha tidak memungkinkan dirayakan secara maksimal di sini karena setelah salat tidak bisa melihat penyembelihan dan pengurusan daging kurban. Penyebelihan hanya boleh dilakukan di rumah pemotongan hewan. Walaupun RPH halal sudah cukup banyak, kebanyakan orang memilih untuk menitip saja ke masjid atau badan amil zakat baik di Belanda atau Indonesia.

Ketika hari kamisnya masuk kerja, saya lewat sebuah tempat pemotongan hewan halal. Di sana aktivitasnya memang lebih sibuk dari biasanya sampai dibuat tenda di belakangnya, banyak orang bekerja, dan bau hewan lebih tercium daripada biasanya. Ini adalah momen terdekat saya dengan penyembelihan hewan kurban di Belanda.

Selamat Hari Raya Idul Adha! Fijne Offerfeest!

Chandra



Koperasi

May 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya menunggu seperti apa jadinya program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)-nya Prabowo nanti. Jujur dari berita yang sekarang-sekarang ini muncul aroma bakal banyak gagalnya sudah kuat sekali. 

MBG bisa berjalan karena gratis dan sekolah-sekolah bisa dipaksa untuk menerima. Sekolah, guru, dan siswa dalam hal ini hanya sebagai obyek. Tapi untuk KDMP masyarakat adalah subyeknya, mereka yang (berhak) memutuskan mau beli atau tidak. Kalau orang tidak mau atau tidak bisa belanja kesana (karena tempatnya jauh, barang nggak lengkap, pelayanan kurang, dll) lalu pengurus mau apa?

Di sisi lain pemerintah memaksakan diri sesegera mungkin membangun ribuan bangunan koperasi dengan berbagai ukuran. Saya yakin ini dilakukan secara koboi tanpa studi yang cukup. Padahal pasarnya segitu-segitu aja, apalagi ketika harga-harga naik orang akan cenderung menahan spending. 

Selama ini juga sudah ada kesetimbangan antara supply dan demand, ketika jumlah penduduk di suatu wilayah naik otomatis akan muncul swalayan dan warung-warung baru, begitu juga sebaliknya. Tapi kini tiba-tiba bangunan KDMP muncul dimana-mana tanpa tahu yang akan ngelarisi siapa. KDMP nggak ada organik-organiknya sama sekali.

Bangunan KDMP banyak yang bagus tapi suasananya tampak menyedihkan. Di daerah, memindahkan pasar ke lokasi baru saja beresiko gagal karena secara sosial dan teknis belum tentu cocok. Orang yang pernah menginjakkan kaki di pasar pasti tahu pasar itu ada soul-nya, bukan hanya perkara bangunan.

Ini belum bicara soal hal-hal teknis: penataan barang yang tanpa perencanaan, strategi pricing dan diskon tanpa data, relasi dengan brand/supplier yang dimulai dari nol, lokasi yang jauh dari pemukiman, manajemen pegawai yang entah seperti apa, dan lain sebagainya. Indomaret dan Alfamart bisa besar karena ilmu dan iterasi bertahun-tahun, bukan modal fantasi pendirinya.

Not that I'm a fan of MBG, tapi dapur SPPG bisa jalan karena at least secara konsep (bukan pelaksanaan) nyaris semua unsurnya in-line: pemerintah terjalankan 'misinya', pemilik dapur untung besar, pegawai dapur bergaji layak, suplier dan produsen (petani, peternak) punya pembeli, anak-anak dapat makanan gratis, hanya guru saja yang terjepit di antara kepentingan-kepentingan itu. Tapi balik lagi, KDMP itu jualan dan mereka butuh pembeli yang memutuskan untuk mau belanja di mereka. Pembeli bagaimanapun akan menggunakan motif ekonomi: kualitas tertentu untuk harga termurah atau harga tertentu untuk kualitas terbaik. Apakah KDMP bisa memenuhi itu?

Mungkin KDMP akan bisa laku jika tidak ada saingan, dalam artian pedagang mulai dari warung kelontong kecil sampai swalayan besar harus 'ditangani'. Seminimal-minimalnya KDMP harus bisa menjual barang jauh lebih murah dari yang lain, yang mana pasti nggak masuk secara itung-itungan bisnis. Fakta bahwa manajer KDMP digaji dari APBN sudah menunjukkan bahwa koperasi ini nggak self sufficient. Skenario terburuknya adalah warung dan swalayan dipaksa tutup dan pegawai di-lay-off yang mana sudah kejadian. Pada akhirnya rakyat yang jadi korban.

Kita tahu lah untuk apa dan siapa program ini ada, tapi kita bisa apa? Konsep koperasi yang mestinya secara organik tumbuh dari dalam, dari anggota untuk anggota, dan buahnya adalah SHU (sisa hasil usaha), di-bypass demi kepentingan segelintir orang. Pokoknya top down, pokoknya komando, pokoknya senegara manut. 


Chandra



Indonesia for Newcomers

May 17, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
A Turkish friend asked me about places to visit in Indonesia as they are planning to go in July. They specifically ask for places that are not too touristy. So on my spare time I wrote this for them and I think it's also a good idea to repost it here. 

Mind you that this is a recommendation for foreigners that will come to Indonesia for the first time, not for Jakartans that plan to visit Jogja for lebaran holiday. So this will be more high level and mainstream like I will list Borobudur and Prambanan in which you might have visited some time during highschool. I would not recommend Wediombo for too far or Mangut Lele Mbah Marto for being too spicy.

1. (Some places in) BALI
Places like Kuta are very touristy, but there are still some calmer and more peaceful places: Ubud, Panglipuran Village, plus this good reddit post: reddit

2. LOMBOK (+GILI) & KOMODO
Both are island-ic area situated close to Bali, they have beautiful beaches with a lot of activities and more relax than Bali. Komodo Island is special for its Komodo dragon (big lizard). Tourist-infra is ready and local people are used to foreigners. Place to visit: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Komodo Island.

3. JAKARTA
Capital city with malls, shopping centers, tall buildings, city lights, etc you can imagine from a big city in Asia. Most tourist landed or go via Jakarta so many of them will spend some days here. This is easy place for tourist, quite many people speak English, you have everything just around the corner. Place to visit: Monumen Nasional (Monas); Kota Tua (Old City) - Dutch buildings; city walking; Malls: Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall 1-2-3, Senayan City, Plaza Senayan.


3. YOGYAKARTA (YOGYA/JOGJA)
The most cultural city in Indonesia, there is still literary an active kingdom here, there are 2 big temples Borobudur and Prambanan + many smaller ones. lt's combination of modern-traditional. City center is walkable for a city in Asia. Good food. Place to visit: Borobudur Temple, Prambanan Temple, Candi Sewu, Yogyakarta Royal Palace, Tamansari Water Castle, Malioboro Street, Vredeburg Fort, Batik (traditional clothing) shopping, Sate Ratu (internationally famous food), Tempo Gelato (ice cream shop)


4. EAST JAVA
There are serious nature here like big volcanoes, crater, and waterfalls. Places to visit are Bromo Tengger Semeru National Park, ljen Crater (blue fires), Tumpak Sewu Waterfall, Kajoetangan Heritage Village includes Cokelat Mojopahit. If you enjoy nature these areas are good to visit. There is also big city (2nd after Jakarta) here called Surabaya with big malls, etc.

5. BANDUNG
Temperature here is more chill and not so hot compared to other cities. The location is close to Jakarta and easily reachable by train (or high speed train). City center has many old Dutch style building. Place to visit: Kawah Putih (white crater), Tangkuban Perahu volcano, tea plantation, Ciater Hot Springs, Malabar Radio site (Dutch 1920s intercontinental radio station). Hotel to stay: Savoy Homann

6. RAJA AMPAT
Located in eastern Indonesia and very popular with beautiful sceneries. Many pics available on the internet to see. This place is quite far tho and long transport to reach (flying + local boat). Worth it if you are planning to stay at least 1 week.

7. PADANG
A city located in Sumatra island, known for food, culture, and good nature in the surrounding areas. Unique tourist experience expected.

Some other notes:
- Transport
Beside Jakarta, public transport is practically non existent. But to go around you can order online taxi via Gojek and Grab app (similar to Uber), they provide food deliveries too. Inter-city you can rent a car or between cities in Java you can use train which is I think the best option, buy ticket online via apps (Traveloka or KAI Access), English friendly, choose executive class for max comfort.

- Food
Tasty and spicy, for tourist please consider food safety and get food from clean places, some streetfoods are oke. McD, KFC, and similar are available. Coffee shops (real coffee, not Dutch style) are everywhere and pretty good scene. Most foods are halal dan pork free.

- Hotel
Book via Booking.com, Agoda, or Traveloka. The rest is as usual.

- Payment
QRIS is very popular option almost everywhere but you need at least 1 app installed (can be Gojek or Grab that you use for transport), credit/debit card usable at restaurant or hotel, the rest cash is still king.

Thanks,
Chandra


Review Buku: Time After Time

May 10, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya adalah orang yang memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Kalau sudah suka buku dari penulis A, saya akan cari dan baca buku lain yang dia terbitkan. Kali ini saya sedang menamatkan bukunya Chris Atkins, sebelumnya saya sudah baca A Bit of A Stretch, sekarang saya baca yang terbaru berjudul Time After Time.



Chris Atkins adalah British movie director, jurnalis, dan penulis. Dia sempat tersandung kasus pajak yang membuatnya divonis bersalah dan dipenjara selama beberapa tahun. Buku A Bit of A Stretch menceritakan kisah-kisah yang dipotretnya selama masa hidupnya di penjara. Setelah bebas dia menulis Time After Time ini berdasarkan investigasinya kenapa banyak kriminal yang begitu sulit keluar dari kasus dan masuk penjara berulang kali.

Chris Atkins adalah well educated-white-white collar criminal, ketika di penjara dia mendapat pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik daripada mayoritas narapidana karena perannya membantu beberapa urusan di dalam. Kemudian ketika keluar dia sudah punya karir yang terbangun dan keluarga serta sirkel yang suportif. Setelah bebas ia melanjutkan karirnya, menulis buku best seller, jadi pembicara dimana-mana, dan stay away from crime.

Tapi tidak semua seberuntung itu, banyak narapidana yang punya keluarga yang tidak fungsional, tinggal di kawasan Bronx, berasal dari status sosial lebih rendah, punya masalah mental health yang tidak ditangani, dan belum sembuh dari adiksi. Golongan kriminal yang seperti ini sangat rentan untuk melakukan reoffending. Inilah yang ditulis Chris Atkins dalam bukunya Time After Time, dia mewawancarai banyak narapidana yang melakukan reoffending termasuk diantaranya beberapa yang dia temui ketika masih di dalam penjara.

Setiap bab dalam buku ini membahas satu kasus atau person. Totalnya ada 14 dan commonality di dalamnya adalah bahwa banyak hal yang masih salah dengan penegakan hukum dan sistem penjara di Inggris. Dia menemukan bahwa program-program pemasyarakatan yang ada di sana alih-alih memperbaiki hidup orang justru memperbesar kemungkinan orang melakukan tindak kriminal berulang.

Kursus-kursus yang ada bukannya memberikan keterampilan untuk bekerja justru jadi ajang berjejaring kriminal yang belum reformed. Sistem parole dan probation yang tidak akurat memungkinkan high risk offender kembali ke masyarakat dan melakukan kejahatan yang lebih besar. Orang yang sudah mau hidup lurus justru ditempatkan di kawasan rawan sehingga terlibat altercation dan masuk penjara lagi. Uang saku ketika keluar penjara tidak naik sejak lama sekali hingga kini tidak cukup untuk satu malam airbnb. Tidak ketinggalan tentu isu rasisme dan cap kriminal yang terus menempel bahkan setelah belasan tahun hidup bersih dan lurus melengkapi lingkaran setan yang menjerumuskan orang ke jurang reoffending. Itu adalah beberapa temuan yang dia tuliskan dan masing-masingnya dibahas secara mendalam.

"This is caused by a criminal justice system that traps offenders into an endless cycle of crime and insidiously sucks them back to prison rathen than giving them the tools to escape it."

Penulisan jenaka khas Chris Atkins masih berlanjut di buku ini. Kritik yang sebenarnya keras terhadap pemerintah, justice system, dan penjara dikemas dengan rapi dan enak dibaca. Melalui buku ini Chris juga menjadi penyambung lidah orang-orang yang tidak punya jalur untuk mengutarakan casenya di luar persidangan. Saking sensitifnya beberapa bab dia harus menyensor sebagian nama dan detail. Dua buku yang ditulis Chris sangat bisa jadi buku yang impactful.

Bedanya Time After Time dengan A Bit of A Stretch adalah pada buku pertamnya penulis adalah pelaku langsung, dia ada di penjara dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk buku kedua ini dia mendasarkan tulisannya pada interview, witness statement, dokumen persidangan, dokumen lain, phone calls, dan semacamnya di mana ia tetap adalah orang ketiga. Ini membuat ada sedikit jarak antara dia dan yang ditulisnya, hal yang membuat buku ini sedikit di bawah A Bit of A Stretch sebagai sebuah memoir. Hal lainnya, entah kenapa menurut saya desain sampulnya kurang, bagusan buku pertamanya.

Nevertheless, buku ini sangat enak dibaca, di-backing data dan fakta yang cukup, serta didasari riset yang panjang (5 tahun+). Penulisnya adalah jurnalis profesional yang punya ID pers jadi dia bisa menjangkau informasi yang tidak diketahui masyarakat umum. Lebih dari itu dia adalah penulis yang capable. Dedikasinya untuk mendorong perbaikan justice system di Inggris sebagai orang yang pernah mengalami langsung problemnya adalah sesuatu yang juga patut diapresiasi.

"It's widely accepted that the only way to break this cycle is a mix of carrot and stick, but in recent times we've removed the carrot and weaponised the stick"


Time After Time: Why Criminals Can't Quit Crime.

Walaupun buku ini tentang kriminal, tapi Chris menutupnya dengan Epilog yang manis di mana ia fast forward menemui beberapa respondernya setelah bebas dan menemukan hidup barunya.





Chandra

Blog

April 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Semalam saya sulit tidur karena sudah sempat terlelap sebentar setelah maghrib. Ini bukan hal yang sehat memang, tapi jadwal salat yang mulai sedikit tricky kadang memerlukan sedikit adaptasi. Sekarang di sini maghribnya hampir jam 9 dan isya-nya lewat jam 11 malam. Selepas isya tengah malam saya masih sangat melek dan daripada menyalurkan energi untuk hal yang mungkin akan saya sesali besok pagi (sempat kepikiran main FM dan masak Mie Sedaap Spacy Laksa), saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi memperbaiki domain blog ini.

Ternyata saya kurang puas menggunakan domain generik blogspot karena nama yang idealnya saya inginkan (chandra.blogspot.com atau chandranurohman.blogspot.com) sudah dipakai orang. Saya jadi harus berkreasi dan memilih opsi lain yang kurang catchy. Selain itu tampaknya menggunakan domain generik hurts my traffic dan posisi di google search. Walaupun blog ini tidak dimonetize dan saya bukan orang yang mengejar engagement, tapi rasanya senang kalau ada orang yang tidak saya kenal menemukan dan membuka blog ini secara organik.

Karena itu saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Saya tidak berusaha merevive chandranurohamn.id karena tidak worth the effort untuk ngoprek lagi. Saya mau start fresh, kalau bisa dengan starting cost kecil jadi andai gagal tidak rugi-rugi banget, dan providernya yang bermain di pasar global. Kalau dulu saya langganan Qwords sesimpel karena outletnya di dekat kosan, sekarang saya baca-baca rekomendasi orang di internet dan mendaftarlah saya jadi customer Namecheap (www.namecheap.com).

Alhamdulillah langsung ada opsi di sana untuk chandranurohman.blog dengan harga yang sangat murah yaitu 2 euro-an (3 dollar) untuk satu tahun pertama. Beli aja dulu pikir saya, harganya sama dengan sekaleng minuman soda. Saya tidak aktifkan auto-renewal sehingga kalau setup-nya rumit mungkin akan saya tinggal begitu saja. Kalau nanti diperpanjang tahun kedua bayarnya jadi sekitar 20 euro, yang mana juga masih masuk akal karena mirip-mirip dengan harga di Indonesia jika dirupiahkan. 




Surprisingly mereka punya knowledge base yang up-to-date, menjelaskan dengan sederhana apa yang harus dilakukan untuk mengarahkan custom domain yang mereka provide dengan blogger yang sudah ada. Lebih-lebih, mereka juga punya panduan dalam bentuk video yang diupload di YouTube. Setelah 20 menitan mengatur konfigurasi di control panel-nya Namecheap, saya beranjak tidur sambil menunggu propagai yang katanya untuk domain baru butuh 30 menit sampai 2 jam. Pagi ini saya lanjutkan setup di sisi blogger-nya, tunggu 10 menit, and just like that we're live!

Sweet, domain clear, SSL done, redirect works, termasuk kalau diakses dari .blogspot otomatis diarahkan ke domain yang baru. 


Let's see how this goes. Semoga tidak ada gangguan teknis yang tidak perlu dan yang lebih penting semoga saya tidak bosan menulis. I'm not really audio-visual person jadi di era gempuran video pendek menulis adalah cara paling nyaman untuk saya membuat konten atau menyampaikan pikiran, dari belakang meja.

Chandra

Tim-Tim Barclays

April 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
What if Spurs gets relegated?

Saya menulis ini di depan TV yang sedang menyiarkan pertandingan Tottenham lawan Brighton. Kalau Tottenham kalah lagi di pertandingan ini maka ancaman degradasi semakin dekat menjadi kenyataan. Walaupun secara matematis masih sangat bisa selamat, potensi turun kastanya besar karena kontender degradasi lain sedang membaik mainnya sementara Spurs gitu-gitu saja meskipun sudah dua kali ganti pelatih.

Liverpool memang having a bad season karena angin-anginan setelah menggelontorkan ratusan juga pounds. Tapi degradasi is in another level, tim sebesar Spurs akan sangat terpukul secara reputasi dan finansial kalau sampai terjadi. Absen dari kompetisi Eropa saja sudah membuat keuangan tersendat, apalagi turun divisi. Spurs juga belum lama menempati stadion barunya yang sangat megah. Bayangkan main di divisi Championship dengan stadion sebesar punya mereka, apa gak terkagum-kagum itu tim yang bertandang.


Kalau ditanya, saya sebagai penonton berharap Spurs tidak terdegradasi. As much as I enjoy Klopp's Liverpool era, Liga Inggris tahun 2000an tetap membekas buat saya. Saya pikir angkatan saya dan sebelumnya sependapat soal 'Barclays Era' sebagai salah satu masa nonton bola paling seru. Tentu saja Spurs termasuk di dalamnya dan potensi kehilangan satu Barclays team tidak membuat saya happy. Saking inginnya saya melihat klasemen liga Inggris berisi tim-tim yang ada di tahun 2000an, saya sering ngecek klasemen Championship untuk tahu siapa yang akan promosi musim depan.

Saya ingat pertama kali dibelikan sepatu bola oleh orang tua merknya Speed. Di bagian belakang kardusnya for some reason desainernya menaruh logo 20 tim Liga Inggris di jaman itu. Selain traditional Big 4 (yes waktu itu masih 4), ada tim-tim macam Bolton, Blackburn, Portsmouth, Middlesbrough, dan Birmingham. Lagi-lagi sebagai Barclays fan saya kangen melihat logo tim-tim itu di media publikasi Premier League. 


Things are not looking good already in Championship karena cuma Middlesbrough yang ada di 10 besar, itupun kemungkinan harus main play-off. Maka saya berharap yang terdegradasi jangan tim 'tradisional', Wolves dan Burnley sih oke tapi Spurs kalau bisa jangan. Kalau survive musim ini, saya cukup yakin Spurs minimal bisa bersaing di papan tengah musim depan.

Babak pertama selesai dengan skor 1-1, gol Pedro Porro dibalas Mitoma. Not looking good, kalau cuma imbang mereka akan tetap di zona merah dengan memainkan satu pertandingan lebih banyak. Keren Liga Inggris musim ini, selain perebutan juara yang belum final, satu spot degradasi juga masih punya banyak kemungkinan. Setelah pertangan ini akan ada MU lawan Chelsea, besok Merseyside derby Liverpool lawan Everton lalu ditutup City ketemu Arsenal. What a weekend.

Chandra 

Bensin

April 05, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kalau ada efek perang yang sudah terasa di Belanda adalah naiknya harga bahan bakar minyak. Walaupun pemerintah memberikan subsidi BBM, tapi harga tidak dikunci sehingga kalau harga minyak dunia naik harga bensin di pom bensin juga langsung naik. Pada kondisi normal pun harga bisa berubah setiap harinya, sekarang dengan adanya eskalasi yang menyebabkan distribusi minyak dunia terhambat, harga bensin bukan lagi naik tapi ganti.

Belanda adalah salah satu negara dengan harga BBM paling tinggi di Eropa barat. Tahun lalu bensin Euro RON 95 (yang adalah varian paling basic) dijual di kisaran 1,8 sampai 1,95 euro per liter. Harga ini berterima di masyarakat karena relatif stabil sepanjang tahun dan diimbangi infrastruktur jalan yang baik. Sekitar pergantian tahun ke 2026 harga mulai naik menyentuh 2 euro. 

Tidak lama berselang US dan Israel bikin gaduh dan tiba-tiba harganya melonjak jadi 2,25-2,4 euro per liter. Kalau belinya di rest area tol bisa lebih dari 2,5 malah. Jadi harga bensin sekarang sekitar 20-25% lebih mahal dari 6 bulan yang lalu. Dampak lebih besar dirasakan pengguna diesel. Harga solar naiknya sampai 50% dari kisaran 1,6 ke 2,4-2,5. Solar yang tadinya lebih murah dari bensin kini berbalik jadi lebih mahal. Masyarakat umum juga merasakan harga-harga kebutuhan terkerek karena biaya distribusi dan logistik yang naik.

Kondisi ini bisa jadi belum yang puncak parahnya. Menurut JP Morgan, minyak yang sekarang kita pakai adalah kiriman dari sebelum eskalasi. Untuk diketahui bahwa kapal tanker yang berat itu hanya bisa jalan 10-15 knots alias sekitar 20 kilometer per jam, mirip-mirip dengan orang naik sepeda. Jadi stok sekarang adalah barang lama yang sudah lewat sebelum selat hormuz ditutup dan oil transport tercekik.


Masih menurut JP Morgan, eventually kiriman lama ini akan habis juga gelombangnya. Di US diperkirakan kiriman terakhir akan datang sekitar 15 April, Eropa 10 April, Australia 20 April, sementara Asia dan Afrika sudah lewat yaitu 1 April kemarin. Mungkin saja negara-negara punya channel lain atau cadangan minyak yang bisa dipakai, tapi hambatan distribusi ini pasti memunculkan shock wave. 

Menakjubkan kalau Indonesia benar-benar tidak menaikkan harga sampai krisis ini berakhir. Entah bagian mana lagi yang akan dipotong untuk nambal demi tidak melakukan kebijakan non-populis menaikkan harga pertalite. Statement yang sudah keluar adalah Pertamina yang akan membayar selisihnya. Tapi seberapa kuat BUMN menopang ini mengingat belum jelas kapan kondisi akan normal lagi.

Penyebab utama semua ini tentu Trump dan Netanyahu. Andaikata mereka diam-diam saja krisis ini tidak akan terjadi. Tapi nafsu Israel menjadi supernation dan mengungguli semua negara di Asia Barat memang biadab plus merugikan banyak pihak. The most hated country in the world and that's not even close.

Perang Amerika dan Iran ini asimetris, kalau gede-gedean badan jelas US menang, tapi Iran punya keuntungan strategis yaitu menguasai Selat Hormuz yang jadi jalur distribusi penting dunia. Ini ibaratnya David vs Goliath. America is a bully yang sekarang kelihatan mulai keringetan karena perang yang tadinya ditargetkan straight forward ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Popularitas Trump juga terus turun karena harga-harga naik, instabilitas, dan ketundukannya pada Israel. Bukan hal menguntungkan bagi dia dan partainya mengingat tahun ini akan ada pemilu sela.

Panjang kalau membicarakan politik perang ini, termasuk keikutsertaan Indonesia dalam BOP, piala dunia, dan lain sebagainya. Saya bukan ahli hubungan internasional jadi akan kembali ke harga bensin.


Di Belanda sendiri belum ada kebijakan khusus terkait energi misalnya peraturan WFA atau pemadaman bergilir. Kenaikan harga bensin dan bahan kebutuhan masih ditelan sebagai pengeluaran tambahan household. Pemerintah dan industri ada action sih in the background pasti, tapi di masyarakat masih terasa normal.

Prevalensi penggunaan energi terbarukan dan kendaraan listrik (termasuk angkutan barang dan orang) mungkin menjadi bantal yang melindungi dari krisis ini. Apalagi bulan-bulan ini ngunduri summer yang artinya hari sudah hangat jadi tidak perlu membakar energi untuk pemanas dan siang harinya makin panjang sehingga solar panel makin efektif. 

Saya bersepeda sore ini memotret beberapa pom bensin yang saya lewati. Semuanya menunjukkan harga Euro 95 di kisaran 2,3 euro-an.


Chandra

Peace, Love, and Gaul

March 29, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Salah satu 'buah' yang saya dapat dari Ramadhan kemarin adalah sebuah hadist yang disampakan Ustadz Deden di acara buka bersama Kajian Muslim Ede. Waktu itu beliau menjelaskan tentang pentingnya muamalah, hubungan baik antar sesama manusia. Salah satu yang disampaikan adalah beliau mengutip sebuah hadist yang buat saya hit close to home.

Rasulullah ï·º bersabda: “Jika seorang Muslim bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul (dalam masyarakat) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [HR: At-Tirmidzi 2507. Dinilai Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih At-Tirmidzi]

Seumur hidup saya belum pernah mendengar hadist ini padahal menurut saya ini sangat kontekstual. Adanya internet dan perangkat digital, while bisa mendekatkan yang jauh, tapi juga terbukti bisa menjauhkan yang dekat. Ini diperparah dengan gejala sosial yang saya lihat terutama di kalangan orang-orang muda di mana ada kecenderungan they don't want to bother each other karena takut salah satu menyakiti yang lain. Kecuali memang sudah sangat dekat dan tahu satu sama lain.

Kesadaran orang soal personal space dan barrier kini semakin tinggi. Saya yang mengidentifikasi diri sebagai peralihan antara gen milenial dan gen Z saja merasakan ini, asumsi saya gen Z murni dan yang lebih muda mengalami gejala ini secara lebih kentara (maafkan kalau asumsi saya salah). Saya mikir beberapa kali sebelum mengontak orang yang tidak terlalu dekat karena ada pertanyaan: berkenan nggak ya? masih nyambung nggak ya? lebih gede urgensinya atau resikonya ya?

Saya berpikir salah satu masalahnya adalah anak muda sekarang terbiasa mengonsumsi hal yang 'perfectly baked'. Jadi ketika dalam interaksi dengan orang ada hal yang awkward, boring, atau missing langsung berasa sebagai sebuah kesalahan. Padahal andaikata interaksi tidak berlangsung atau berakhir 100% mulus pun tidak perlu dijadikan sesuatu yang mengganjal. Generasi baby boomers enteng saja bertamu atau menerima tamu tanpa berkabar, sementara anak muda ingin tampil sempurna di depan counterparts-nya sehingga kalau mau ketemu harus atas kesepakatan bersama.

Maka orang prefer untuk connect dengan orang yang dia yakin sefrekuensi saja. Grup-grup pertemanan jadi lebih kecil tapi lebih erat. Sebenarnya ini tidak buruk-buruk amat, quality over quantity, bisa jadi model yang sekarang sudah memberikan supporting system yang cukup. Hanya saja ini jadi kurang oke kalau sampai mengebiri kemampuan untuk berkomunikasi dan connect dengan orang baru karena dalam banyak hal masih diperlukan. Lalu people blame this on 'introvert'.

Tentu ada faktor luar juga seperti safety. Dulu saat telepon masih mahal dan bersih orang biasanya punya alasan valid untuk menelepon. Sekarang scam di mana-mana jadi ketika ada dering telepon masuk tanpa tahu konteksnya survival mode kicks in. Orang tua saya dan segenerasinya mudah saja menelepon atau mengangkat telepon rumah tanpa tahu siapa di ujung yang lain. Sementara generasi kita punya anxiety dengan nada dering.

Kembali ke hadist di atas. Hadist itu terasa menohok karena selain mengalami konteksnya langsung, kita jadi tahu bahwa bahkan dari dulu ternyata Rasulullah sudah mengetahui ini. Beliau sudah tahu bahwa berinteraksi dengan orang membawa konsekuensi potensi tersakiti, tapi jika kita bersabar itu lebih baik daripada yang tidak pernah bergaul karena tidak mau diganggu atau khawatir mengganggu orang lain.

Mengetahui ini terasa answering karena ternyata sudah dari dulu pergaulan punya resiko. Tapi olahraga juga ada resiko kesleo tapi melakukannya tetap lebih baik daripada tidak pernah olahraga. Makan juga punya resiko tersedak tapi tentu lebih baik daripada terus tidak makan. Karena kalau dipikir-pikir olahraga memang ngos-ngosan tapi kesudahannya badan nyaman. Makan kadang kepedesan tapi hasilnya perut kenyang. Bergaul pun lebih banyak yang menyenangkan, bahkan bisa menjadi jalan masuknya solusi dan rejeki.

Chandra


*Peace, Love, and Gaul adalah tagline terkenal acara Planet Remaja yang mengudara di TV di tahun 2000an
**Gambar hanya pemanis, ketika punya keyword 'gaul' entah kenapa bayangan yang muncul di kepala saya adalah Blok M, foto diambil tahun 2023






Eid Mubarak

March 22, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Apakah ada perayaan Idul Fitri di Belanda?
Ya, umat muslim tentu merayakannya setelah satu bulan berpuasa. Tapi secara negara idul fitri atau di sini disebut suikerfeest (kalau ditranslasi jadi 'festival gula') bukan hari libur nasional. Orang yang ingin merayakannya bisa menggunakan hak cuti masing-masing. Rata-rata orang Belanda tahu soal ramadhan dan suikerfeest karena diajarkan di sekolah-sekolah jadi mereka mengucapkan selamat, tapi perayaan ini tidak diformalkan secara aturan.

Idul Fitri kapan?
Di sini sepertinya semua komunitas muslim besar merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026. Indonesia salah satunya, termasuk di dalamnya PCI NU Belanda yang sudah merilis sejak sebelum ramadhan bahwa 1 syawal jatuh pada 20 Maret. Meski begitu setahu saya ada sebagian kecil muslim di Eropa yang berlebaran pada hari Sabtu-nya.

Apakah ada takbir keliling?
Takbiran dilakukan di dalam masjid masing-masing dan tidak ada takbir keliling di jalan-jalan. Tapi masjid di sini biasanya bukan hanya ruangan area salat saja tapi sebuah cultural centrum yang di dalamnya ada ruang kelas, kantin, sampai aula yang bisa dipakai untuk ramai-ramai merayakan takbiran. 

Salat Ied di mana?
Kami alhamdulillah salat di Masjid Indonesia Al-Hikmah di Den Haag. Salat ied di sana dimulai agak siang jam 09:00 jadi lumayan ada waktu untuk menuju ke sana walaupun untuk kami perjalanannya lebih dari 1 jam. Selain untuk merasakan suasana lebaran bersama banyak masyarakat dari Indonesia, kami juga ada rencana untuk datang ke open house KBRI dan sowan ke beberapa sesepuh.


Seperti apa salat Ied di Al-Hikmah?
Ramai sekali oleh orang-orang datang dari berbagai penjuru negeri. Walaupun di setiap kota ada masjid dan hampir di semua kota besar ada salat ied komunitas Indonesia tapi masjid Al-Hikmah tetap jadi epicentrum muslim Indonesia di Belanda. Kami sampai di masjid jam 8:10an dan sudah tidak dapat tempat di dalam. Bagusnya masjid dapat ijin untuk menggelar salat sampai ke halaman bahkan jalan, sebuah pemandangan yang menarik sekaligus asing di sini. Salat di halaman justru menyenangkan karena rasanya seperti salat di lapangan, kabar baiknya cuaca sedang cerah dan suhunya bersahabat.

Salatnya tentu sama, 2 rakaat dengan rakaat pertama 7x takbir dan rakaat kedua 5x takbir. Khotbah-nya dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Belanda. Selesai salat masjid membagikan bakso gratis yang antriannya sampai panjang sekali. Beberapa jamaah juga membawa dan membagikan kue dan makanan kecil pada siapapun yang mau. Sampai menjelang siang orang masih salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto-foto. Hangat sekali.



Apakah ada budaya saling mengunjungi saat lebaran?
Walaupun tidak semasif di Indonesia tapi budaya ujung tetap ada. Biasanya keluarga-keluarga yang open house akan mengabarkan untuk datang. Agendanya standar: salam-salaman, ngobrol, makan, dan foto. Yang menarik karena kadang tamunya berbarengan dari sirkel yang berbeda, di satu ruang tamu bisa ada 3 bahasa sekaligus Indonesia, Belanda, dan Inggris. Kami sebagai new kids on the block alias termasuk generasi mukimin muda jadi yang keliling sowan dari satu rumah ke rumah lain seperti di Indonesia.


Suguhannya apa?
Somehow kue-kue lebaran seperti nastar, putri salju, lidah kucing, kastengel dan lain sebagainya sampai juga di meja-meja rumah Belanda. Ada yang bikin sendiri, ada yang memang jualan, dan ada yang bawa dari Indonesia. Selain itu ada coklat-coklatan yang memang mudah di dapat di sini. Favorit saya Ferrero Rocher alias Roka dalam kemasan premium..

Untuk sajian makannya, wah masyaAllah sekali. Rata-rata yang open house adalah keluarga yang sudah benar-benar mukim dan settle di sini jadi masak-masak besar bukan lagi hal yang rumit, termasuk sourcing bahan baku halal dan bumbu-bumbu spesifik untuk masak masakan nusantara. Jadi opor ada, rendang ada, bakso tetelan ada, gule tunjang ada, sampai seblak pun ada. Alhamdulillah wa syukurillah.




Rasa lebaran tahun ini?
Tentu lebaran tidak sama ketika berjauhan ribuan kilometer dari keluarga inti. Tapi kami berusaha the best we can do untuk tetap merayakan 'bersama' walaupun hanya via layar handphone. Sisanya kami mensyukuri apa yang ada di sini, termasuk teman-teman dan saudara baru yang membersamai dan pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

Kalau dibandingkan tahun lalu, Idul Fitri tahun ini terasa lebih 'lebaran'. Hari jumat, sabtu, sampai minggu alhamdulillah ada agenda yang dilakukan layaknya lebaran di tanah air. Sekarang minggu sore, kami baru pulang dan saya baru sempat menyelesaikan tulisan ini. Sekarang saya juga sudah sampai bosan makan santan.

Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Eid mubarak!

Chandra & keluarga