Masalahnya bangunan di Belanda didesain untuk menghadapi suhu dingin bukan panas. Lupakan soal ventilasi, hampir semua hunian fully insulated agar menjaga penghuninya dari winter yang dingin. Semakin bagus insulasi semakin tinggi grade sebuah rumah. Ini bagus ketika dingin karena bisa menghemat penggunaan pemanas, tapi ketika suhu panas udara jadi terjebak dan lebih pengap daripada mayoritas rumah-rumah di Indonesia.
Sistem pemanas ada di setiap rumah dan jadi instalasi penting di samping listrik dan air, tapi sangat sangat sedikit rumah yang punya AC. Bahkan kipas angin pun tidak setiap keluarga punya. Sekarang orang-orang sedang ramai mencari cara menjaga bagian dalam rumah tetap sejuk, mulai dari membeli AC potable, membuka jendela sepanjang malam, sampai memasang alumunium foil.
Serupa dengan hunian, tempat-tempat umum seperti stasiun, bis, tempat olahraga, masjid, dan lain sebagainya juga banyak yang tidak punya fasilitas pendingin yang cukup. Mungkin hanya perkantoran yang menjaga ruangannya tetap dingin. Bekerja dalam kondisi sepanas dan segerah ini sangat tidak ideal. Tidak heran kalau Lee Kuan Yew bilang air conditioning is one of the most valuable inventions in history.
Menurut perkiraan setelah puncak di Jumat ini suhu akan berangsur turun dan minggu depan sudah kembali normal di sekitar 25 derajat pada siang hari. Tapi butuh waktu untuk menurunkan suhu di dalam rumah yang terlanjur panas. Puncaknya tempat kami sempat mencapai 30 derajat pada Sabtu siang kemarin.
Chandra
0 comments:
Post a Comment