Puluhan penerbangan dari Schiphol dibatalkan karena cuaca buruk. Hujan dan angin kencang mengguyur rata seluruh Belanda dari Jumat sore sampai Sabtu pagi akhir pekan ini. Agenda nonton bola yang kami rencanakan terancam runyam sebelum akun instagram Vitesse mengumumkan bahwa atap stadion akan ditutup.
Kami punya dua tiket gratis nonton pertandingan kandang Vitesse di GelreDome yang sudah saya redeem untuk match Vitesse lawan FC Emmen malam ini. Cuaca buruk agak membuat saya khawatir karena tentu nggak asik kena tampias sepanjang pertandingan dalam suhu mendekati satu digit celcius. Beruntung GelreDome adalah stadion canggih yang punya retractable roof jadi cuaca semestinya bukan masalah ketika sudah di dalam. Berbekal jaket dobel-dobel dan payung kami berbaur dengan orang-orang menuju stadion.
Secara kapasitas GelreDome tidak besar-besar amat, hanya sekitar 20-30 ribu penonton tergantung setingan. Tapi stadion ini dibangun dengan pikiran untuk bisa digunakan berbagai jenis event olahraga dan hiburan. Makanya selain atap yang bisa ditutup tadi rumput stadion juga bisa digeser ke luar untuk preservasi. Sebagai stadion sepak bola, GelreDome adalah salah satu venue Euro 2000 dan menjadi home klub Vitesse Arnhem. Sementara untuk konser, musisi dunia yang pernah tampil di sini antara lain Linkin Park, The Rolling Stones, Metallica, Celine Dion, U2, Bon Jovi, Shakira, Spice Girls, Coldplay, dan lain sebaginya. GelreDome melabeli dirinya the biggest theater in The Netherlands.
Nonton bola dalam stadion tertutup rasanya clean sekali. Tidak ada pengaruh angin, hujan, dan faktor eksternal lain dari alam. Segala ekspresi dan teriakkan penonton jadi terperangkap di dalam dan terdengar jauh lebih bergemuruh. Matchday event jadi bisa maksimal, saya ragu akan ada atraksi Elang dan kid mascot seperti kemarin andai pertandingan dalam posisi outdoor dan cuaca kurang bersahabat. Secara teknis sound dan lighting juga jadi bisa selalu on point karena kondisi yang lebih terkontrol. Overall pengalamannya seperti nonton di gedung olahraga hanya saja ini lebih besar dan lapangannya rumput yang mulus.
Vitesse sendiri sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaik. Beberapa tahun lalu mereka masih sempat main di UEFA Conference League tapi karena masalah finansial tim ini harus turun kasta. Sekarang Vitesse bermain di Eerste Divisie, satu level di bawah kasta tertinggi Eredivisie. Di pertandingan ini mereka memulai aksi dengan baik tapi kurangnya fire power menjadikan mereka susah mencetak gol. Setelah 0-0 saat paruh waktu, di babak kedua FC Emmen mendapat peluang terbuka yang berhasil digagalkan kiper Vitesse. Sayangnya penyelamatan ini involves bola kena ke muka sampai kiper butuh perawatan. Setelahnya kiper bisa main lagi tapi beberapa menit kemudian kebobolan mudah dan harus dilakukan pergantian kiper. Vitesse kemudian all-out menyerang tapi di menit terakhir serangan balik FC Emmen justru berbuah penalti dan berhasil dikonversi. Pertandingan berakhir 0-2 untuk tim tamu.
Saya melihat raut wajah kecewa opa-opa yang duduk sebaris dengan kami. Mereka mungkin sudah nonton Vitesse sejak 40-50 tahun yang lalu. Ekspresinya seperti Fergie ketika nonton MU kalah. Saya merasa kasihan melihat beliau-beliau ini yang mungkin dulu melihat Vitesse saat masih di masa jayanya. Walaupun tidak sementereng Ajax dan PSV, Vitesse pernah beberapa kali angkat trofi dan main di Eropa. Tapi problem finansial tadi sangat serius sampai mereka hampir dicabut lisensi klub profesionalnya. Beruntung mereka bisa bertahan dan rebuild lagi dengan pemain-pemain muda. Padahal dulu beberapa nama yang pernah main di sini antara lain Phillip Cocu, Roy Makaay, sampai yang lebih kekinian Mason Mount dan Martin Odegaard.
Setelah pertandingan selesai kami keluar dalam kondisi hujan yang masih mengguyur deras. Rejekinya payung yang tadi ditaruh luar karena tidak boleh dibawa masuk kok ya ilang diambil orang. Akhirnya kami hujan-hujanan bersama ribuan orang lainnya. Avondje Vites (the night of Vitesse) kali ini ditutup dengan basah kuyup. Tapi saya tetap bisa bilang atap stadion saves the day.
Chandra