Showing posts with label itb. Show all posts
Showing posts with label itb. Show all posts

Belajar Hukum

February 08, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Hari Sabtu (7/2) kemarin Ikatan Alumni ITB di Belanda (IAITB NL) mengadakan sebuah seminar berjudul Technology x Law. Ide diadakannya acara ini adalah karena akhir-akhir ini ada beberapa kasus hukum yang menjerat kalangan teknokrat. Acara ini mencoba memberikan wawasan hukum dasar bagi para anggota dan membahas beberapa kasus yang sudah terjadi atau sedang berjalan. Ali Abdillah, dosen UI sekaligus lawyer yang saat ini sedang menempuh S3 di Universitas Utrecht diminta untuk jadi pembicara. Acara diadakan di meeting hall Stichting Generasi Baru (SGB) di Utrecht.

                         foto oleh IAITB NL

Menurut seminar ini, hal yang membuat teknokrat rawan kena masalah hukum adalah:
1. Terlalu fokus pada aspek teknologi tanpa mau memahami hukum dan prosedur. Due diligence jadi kurang karena pengetahuan hukum yang terbatas.
2. Ingin memindahkan budaya privat/korporat yang cepat dan satset ke sektor publik yang birokratis dan prosedural. Menurut Ali namanya birokrasi publik itu dibuat supaya ribet karena ada uang masyarakat yang dikelola di sana.

Ada dua kasus yang jadi case study di seminar ini, dua-duanya oleh alumni ITB. Kasus pertama adalah Dasep Ahmadi, beliau divonis 7 tahun penjara dalam kasus kendaraan listrik. Kasus ini sempat ramai dan ada keberpihakan publik di Pak Dasep waktu itu karena dianggap negara menangkap periset. Riset kan nggak harus berhasil, gimana negara bisa maju kalau ilmuwan ditangkap karena risetnya tidak sesuai ekspektasi, dan lain sebagainya.

Ali yang sudah membaca ratusan halaman putusan Dasep Ahmadi dari tingkat PN, Banding, Kasasi, sampai PK mengatakan bahwa fakta hukumnya tidak demikian. Fakta atau berita yang bereder di masyarakat dan fakta hukum di persidangan adalah dua hal yang berbeda. Ini yang sering gagal dipahami orang plus diperparah dengan media yang membuat judul click bait.

Fakta persidangannya adalah bahwa perjanjian antara perusahaan Pak Dasep dengan negara/BUMN saat itu adalah pengadaan biasa bukan riset. Dengan uang yang diberikan Pak Dasep berkomitmen untuk mendeliver 16 kendaraan listrik yang akan digunakan untuk mengangkut delegasi APEC. Pada akhirnya hanya 3 kendaraan yang jadi, itupun tidak memenuhi standar kelayakan dan tidak bisa dioperasikan sebagai kendaraan umum. Kerugian negara milyaran rupiah menurut BPKP terjadi karena negara sudah membayar 85-95% pada PT yang dimiliki Pak Dasep.

Hukum tidak peduli jika yang terjadi di bengkel adalah riset, trial and error, dan semacamnya. Hukum tahunya PT berkomitmen memberikan 16 kendaraan yang ternyata tidak bisa dipenuhi. Kalau memang tujuannya riset, perjanjian dan deliverables-nya berbeda. Bendera yang dipakai untuk riset juga mestinya lembaga riset bukan PT yang berbisnis dengan orientasi profit. 

Kasus kedua yang dibahas adalah Karen Agustiawan, Dirut Pertamina yang terjerat kasus investasi pada blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Investasi Pertamina di BMG saat itu boncos karena hasil eksplorasi yang diperoleh jauh di bawah harapan. Akhirnya Pertamina cutloss dengan melakukan divestasi tapi kerugian sudah terjadi karena valuasi yang turun. Bu Karen dianggap menyalahgunakan wewenang dan sudah sempat divonis bersalah di tingkat PN dan dikuatkan di tingkat Banding karena dianggap merugikan keuangan negara lebih dari 200 milyar. 

Ali bilang bahwa ada dua aliran dalam menilai apakah uang BUMN itu uang negara. Menurut UI, uang BUMN bukan uang negara walaupun itu penyertaan modal negara, alasannya ketika sudah masuk pembukuan BUMN ada pertimbangan bisnis di sana yang kadang butuh fleksibilitas dalam penggunaan dana. Sementara menurut UGM, uang BUMN adalah uang negara, paham ini yang saat ini dianut dalam penulisan hukum sehingga kerugian Pertamina = kerugian uang negara.

Tapi Karen menang di tingkat Kasasi dan divonis bebas. Dalam putusannya ada beberapa hal yang meringankan: (Ali meringkas dari putusan, saya rephrase lagi)
1. Investasi di BMG adalah keputusan bisnis yang gagal bukan tindak pidana.
2. Sudah jadi rahasia umum bahwa bisnis migas adalah bisnis resiko tinggi, no risk no business.
3. Karen tidak menerima aliran dana.
4. Dewan Komisaris sudah meng-approve keputusan bisnis itu namun sehari setelah penandatanganan kesepakatan DK menarik aprovalnya alias mendua.

Ada beberapa kasus lain yang dimention tapi tidak dibahas jauh karena persidangan masih berjalan seperti Ibrahim Arief dan Nadiem. Tapi Ali memberikan contoh bahwa keputusan Nadiem untuk membuat shadow team di kementeriannya adalah contoh budaya korporat yang dibawa ke sektor publik secara tidak ideal. Ya mungkin itu akan mempercepat beberapa proses, tapi itu bukan cara birokrasi bekerja. Meski begitu karena persidangan masih berjalan segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Chandra.





00:30

November 17, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Perbedaan yang saya rasakan antara kuliah dan bekerja adalah intensitas versus durasinya. Satu long duration medium intensity, satunya medium duration high intensity. Ketika kuliah dulu saya masih bisa rileks dan pasif mendengarkan saat dosen mengajar. Hadir setor muka sudah cukup asal tidak bikin gaduh atau tidur di kelas. Santai memang, tapi di sisi lain nanti ketika pulang masih ada tumpukan tugas yang menanti dan menuntut untuk dikerjakan sampai begadang. Menurut kampus, 1 SKS ekuivalen dengan 3 jam aktivitas per minggu: 1 jam di kelas, 1 jam tugas, 1 jam belajar mandiri. Jadi jika sebuah mata kuliah berbobot 3 sks, dosen mendesain bebannya sedemikian sehingga kira-kira mahasiswa akan menghabiskan 9 jam di mata kuliah itu dalam seminggu. Maka untuk jumlah SKS standar yang biasa diambil mahasiswa, anggap 20 SKS, teorinya dalam seminggu dia harus belajar selama 60 jam. Ini belum termasuk kegiatan ekstrakurikuler seperti himpunan, unit kegiatan, dan lomba. 

Sementara itu rata-rata orang bekerja 40 jam per minggu. Lebih pendek, tapi stress dan intensitasnya lebih tinggi karena apa yang dikerjakan adalah kasus di dunia nyata bukan simulasi dan soal ujian lagi, plus kita dibayar untuk melakukan itu. Kalau orang dipaksa bekerja dalam intensitas tinggi selama 60 jam+ seminggu seperti orang kuliah maka sangat mungkin dia akan burnout. 

Tapi kalau lembur sekali-sekali saja boleh lah. Se-worklife balance-worklife balance-nya sini kadang masih perlu bedagang untuk membereskan beberapa hal. Butuh push untuk menjalani lembur setelah hari yang panjang dan melelahkan, apalagi di budaya kerja yang tidak didesain untuk mengakomodir lembur,  saat itulah saya berusaha channeling my mahasiswa energy: membayangkan apa yang biasa saya lakukan dulu, dari mana motivasi dan energi saya dapat, what kept me going ketika lelah, dan berpikir kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak.

Saya punya kebiasaan beranjak tidur jam 00:30 waktu di Bandung dulu. Ini sweetspot buat saya, jam segitu biasanya kegiatan sudah rampungan atau bisa dianggap cukup, tapi tidak terlalu pagi juga sehingga menyebabkan kurang tidur. Saya tandai kalau tidur jam 01.30, hanya mundur 1 jam dari kebiasaan, paginya badan nggak karuan banget dan recovery-nya butuh setengah hari sendiri. Kebiasaan saya adalah tutup laptop dan buku jam 00:30, gosok gigi dll, nyetel ESPNFC di NET sambil mengaktifkan timer biar TV mati sendiri, lalu mapan tidur. Biasanya saya bisa terlelap dalam 30 menit ditemani analisis para pandit ESPN Indonesia, tapi kalau mblandang ya sampai ke acara Breakout yang dibawakan Boy William dan Sheryl Sheinafia di jam 01:00. Saya nggak terlalu suka acaranya, tapi terlalu tanggung kalau harus bangun lagi karena TV saya tidak ada remote-nya. Paginya salat subuh, cek-cek HP, dan menyiapkan segala yang dibutuhkan hari itu, lalu jalan keluar sarapan nasi kuning.

Malam ini saya lalukan itu, setelah istri tidur saya buka laptop lagi dan bekerja sampai 00:30. Tidak ada yang nyuruh, ini inisiatif sendiri untuk nyicil kerjaan minggu depan. Sangat-sangat tabu bagi orang sini untuk bekerja di malam minggu. Kalau kata buku The Good Enough Job (Simone Stolzoff), ada istilah integrator dan separator. Budaya Indonesia itu integrator, jadi di tengah-tengah jam kerja bisa disusupi aktivitas pribadi seperti ambil rapot anak, perpanjang SIM, dan beberes rumah tapi tidak keberatan untuk mulai kerja lebih awal atau selesai kerja lebih akhir. Sementara Belanda sangat separator, mereka secara tegas memisahkan jam kerja dan jam pribadi. Saya bahkan punya teman yang di jam kerja handphone-nya dimatikan karena tidak ingin terganggu urusan selain kerjaan. Orang sini kalau makan siang jam 1 teng sudah balik meja, nggak molor sampai setengah 2 karena keasyikan ngobrol. Di sisi lain jam 5 waktunya pulang ya pulang. Tenggo adalah budaya, kalau kerja lebih dari itu malah dipandang aneh. Kami-kami anak baru dari Asia dan Amerika Latin culture shock dengan ini.


Saya batasi sampai 00:30 karena saya ingin functioning properly esok hari. Pada akhirnya saya tidur jam 1 lewat sedikit, mirip-mirip dulu. Bedanya sekarang tidak ada ESPNFC dan Breakout, diganti dengan YouTube dan Noice kalau mau ada backsound pengantar tidur. Pagi harinya tidak ada lagi nasi kuning, harus terima roti tawar dikasih blue band dan meses. Tapi Alhamdulillah pagi ini saya punya cukup kesadaran dan waktu untuk menulis ini. Balik lagi karena budaya yang sangat separator, di hari senin sampai jumat sulit buat saya menemukan bandwidth untuk membuat tulisan, maka postingan saya dua bulan terakhir rata-rata di akhir pekan.

Menulis ini mengingatkan pada tempat kami biasa sarapan di Bandung dulu, nasi kuning dan sambalnya enak banget, semoga bapak ibu sehat dan bahagia selalu.



Thanks,
Chandra

Supaya Jadi Tempat Bertanya

August 30, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Pada 1982, perusahaan farmasi dari Amerika Johnson & Johnson didera skandal. Salah satu produknya yang bernama Tylenol tercemar sianida hingga mengakibatkan jatuhnya beberapa korban jiwa di Chicago. Mereka tidak tahu apa penyebabnya dan seberapa jauh kontaminasi ini terjadi. FBI dan FDA (badan POM-nya Amerika) menyarankan untuk melakukan recall terbatas pada Tylenol yang ada di Chicago saja, mereka tidak merekomendasikan untuk melakukan recall nasional karena tidak ada laporan korban di daerah lain, selain itu recall besar-besaran bisa mengakibatkan kepanikan publik.

Di luar dugaan Johnson & Johnson mengabaikan saran itu, mereka memutuskan untuk merecall semua Tylenol yang ada di seluruh Amerika walaupun itu berarti mereka harus merogoh kocek tambahan hingga 100 juta dollar. Seluruh sumber daya perusahaan bergerak menangani krisis ini, banyak pegawai mengerjakan pekerjaan yang biasanya bukan tanggung jawab mereka. Pada akhirnya krisis berlalu dan secara mengejutkan brand Tylenol masih bisa comeback dan laku di pasaran dengan kemasan baru yang lebih aman. Respon krisis Tylenol ini menjadi golden standard penanganan krisis di seluruh dunia.

Respon atas kasus Tylenol bukan semata-mata karena tim PR yang brilian, sesungguhnyalah mereka malah tidak punya PR yang proper saat itu. Tapi Johnson & Johnson adalah perusahaan matang yang bertahun-tahun memegang teguh visi dari founding fathers-nya yang dituangkan dalam sebuah Credo. Visi yang mengakar itu menjadi dasar para top management mengambil keputusan penanganan krisis yang brilian. Berikut penggalan Credo Johnson & Johnson yang jadi dasar dalam mereka berbuat: 

We believe our first responsibility is to doctors, nurses, and patiens; to mothers and fathers and all others who use our products and service.

Credo itu ditulis pada tahun 1943 oleh Robert Wood Johnson. Secara keseluruhan Credo-nya berparagraf-paragraf. Tapi intinya menekankan prioritas Johnson & Johnson secara berurutan adalah: (1) Customers, (2) Employees, (3) Community, (4) Company Stockholders. Yang spesial adalah kalimat-kalimat ini dibicarakan berulang-ulang, ditempel di mana-mana, dan sering diucapkan hingga orang-orang di perusahaan itu menyadari bahwa Credo ini sesuatu, lalu memengaruhi mereka dalam berperilaku dan mengambil keputusan. Credo ini tidak dianggap sebagai corporate buzzword dan tempelan dinding belaka.

Kisah di atas adalah salah satu kisah yang dibahas dalam buku The Culture Code karya Daniel Coyle. Buku ini ditulis berdasarkan penelitian penulis selama 4 tahun di banyak perusahaan dan kelompok yang berhasil di bidangnya. Ada tiga resep menghasilkan kelompok yang sukses yaitu build safety, share vulnerability, dan establish purpose. 

Penjelasan dari dua poin yang pertama, build safety dan share vulnerability, membuat saya ngeh kenapa ada pertemanan yang seru tapi ada juga yang layu. Itu bukan masalah orangnya kurang baik hati, tapi dalam pertemanan itu ada barrier, ada koneksi yang nggak nyambung, ada sinyal dan cue yang hilang, dan ada jaim-jaiman. Lalu juga kenapa ada tim yang sukses dan yang tidak padahal secara kemampuan teknis hampir sama. Tim yang sering ngobrol, evaluasi, bertukar feedback, dan saling terbuka cenderung lebih berhasil daripada yang saling diam karena menghindari konflik dan awkwardness dalam tim. Saling terbuka -> tahu kekurangannya dimana -> cepat diperbaiki. 

Namun poin ketiga agak berbeda, semua orang juga tahu kalau sebuah kelompok perlu tujuan bersama, establish purpose. Yang saya tidak sangka adalah bagaimana caranya kelompok-kelompok yang sukses itu menghadirkan tujuan yang sama pada seluruh anggotanya. Ternyata cara menanamkan tujuan dan nilai adalah sesederhana dengan mengulanginya terus menerus. Catchprase, motto perusahaan, visi misi, dan jargon ternyata benar-benar ada gunanya. Sungguh dulu saya pikir motto perusahaan itu sekedar omon-omon dan kata mutiara dari CEO dan Direksi saja. 



Membaca buku ini membuat saya ingat pernah bekerja di sebuah perusahaan yang saya tidak yakin perusahaan itu punya motto atau tidak. Kalaupun ada sepertinya hanya 1 kalimat yang kurang catchy. Business as usual sih jalan dengan normal, perusahaan tetap mencetak laba, dan tidak ada krisis seperti Johnson & Johnson tadi. Tapi saat resign dari sana jadi ada kegamangan apakah selama disitu saya sudah melakukan sesuatu yang benar dan meaningful karena saya tidak tahu tujuan dan arah besarnya mau kemana selain performance review tahunan.

Saya ingat di sekolah dulu ada papan bertuliskan 'Wawasan Wiyatamandala', sekolah kalian mungkin juga ada. Terus terang saya tidak ingat satu pun isinya karena tidak pernah dibahas dan dibicarakan. Agak berbeda ketika kuliah, ada kalimat yang mungkin diingat banyak mahasiswa:

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya. 

Kalimat yang terpatri di Plaza Widya Nusantara (PlaWid) ini ditulis oleh Prof Wiranto Arismunandar, mantan rektor ITB. Sebenarnya secara lengkap ada beberapa kalimat, tapi hanya satu itu yang paling saya ingat. Tentu diingat bersama tulisan di tugu sebelahnya: 'Sekali teman tetap teman', yang ini mungkin maksudnya solidaritas tapi malah sering dibercandai mahasiswa sebagai friendzone.

sumber: aryansah.wordpress.com


Walaupun mengingatnya, saya pribadi merasa kalimat itu terlalu berat untuk mahasiswa dan baru merasakan manfaatnya beberapa tahun setelahnya. Saya merasa dalam dunia profesional orang boleh tidak tahu tapi tidak boleh diam tanpa jawaban sama sekali. Yang diharapkan dari seseorang ketika mendapat pertanyaan atau tantangan adalah, ya jawaban. Entah itu bentuknya inquiry, target, request, atau apapun mesti ada jawabnya. Jika harus menjawab tidak tahu atau belum mampu memenuhi target yang ditetapkan, sebisa mungkin dapat menjelaskan kenapa, apa yang salah, dan apa yang bisa dilakukan supaya lebih baik lain waktu. 

Lagipula semakin menua semakin sadar bahwa yang dicari bukan kesempurnaan. Ini mungkin salah satu prinsip penting yang saya pelajari selama kuliah. Reasoning dan limit adalah hal yang banyak ditekankan terutama di semester-semester akhir. Beda dengan TPB yang banyak tugasnya mengejar nilai 100, di semester akhir-akhir justru ditunjukkan dunia nyata tidak bekerja seperti itu. Ada limit atas sesuatu: material akan patah pada batas tertentu, bahan bakar akan habis setelah jarak atau waktu tertentu, beberapa unsur tidak bisa disatukan, menambah fitur sama dengan menambah kerumitan dan biaya, etc etc. Pemahaman seperti ini di-drill terus menerus sampai terbiasa. Menurut saya inilah fungsinya universitas, membentuk cara berpikir dan menjawab. Saya yakin ini juga diajarkan di kampus-kampus lain, nggak ekslusif di tempat saya belajar. Yang saya syukuri adalah di ITB gagasan ini tertuang sampai level 'ideologi' berupa Plaza Widya Nusantara tadi.


Kembali ke bahasan buku The Culture Code dan isinya. Bagi kalian yang suka dengan karya Malcolm Gladwell seperti Blink, Outliers, dan Tipping Point, saya jamin cocok membaca buku ini. Risetnya sama mendalam, cara penyampaiannya serupa, hipotesisnya menarik, penarikan kesimpulannya bold, dan melibatkan riset di perusahaan dan tim ternama seperti Navy SEALs, San Antonio Spurs, sampai IDEO.

Tapi ada hal yang menurut saya kurang dibahas dalam buku The Culture Code ini. Jadi buku ini berbicara tentang faktor tak terlihat yang mendasari hubungan antar manusia dalam sebuah kelompok, faktor tersebut dinamai cue. Cue ini yang sehari-hari sering kita bilang sebagai kesan, chemistry, frekuensi, atau (se)kufu'. Penulis menjelaskan dengan baik apa itu cue tapi tidak cukup menjabarkan darimana datangnya cue ini. Apakah kesamaan suku dan bahasa? Apakah faktor pernah sekolah di tempat yang sama? Apakah karena kesamaan generasi/usia? Atau apa? Lalu saya juga tidak menemukan jawaban apakah 'warna' cue ini bawaan atau bisa kita ubah sesuai keadaan.

Terakhir tentang jargon dan motto. Kalau di Indonesia, corporate motto yang kena di saya adalah "Benar Sejak Awal". Sederhana banget kalimatnya tapi kalau dipikir baik-baik dan dilakukan semua orang efeknya bisa sangat besar bagi sebuah institusi: menghindari perulangan kerja, mengurangi koreksi yang tidak perlu, memastikan on-time delivery, menjaga kondisi mood team, dan pada akhirnya semestinya bisa meningkatkan performa.

Mari senantiasa belajar, semoga dimudahkan.
Sekian dan terimakasih..

Salam,
Chandra

Skripsi Nembak

July 24, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya sudah pikirkan dari kemarin tapi belum menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang tepat menggambarkan situasi ini, maka saya namai saja momen X. Momen X adalah saat dimana kita, dalam profesi apapun, mempertanggungjawabkan hasil kerja, atau hasil kerja kita dinilai oleh orang yang punya hak/kuasa untuk itu. Dalam momen X ini kita tidak punya tempat berlindung apapun sehingga baik-buruknya atau sukses-gagalnya hasil pekerjaan itu langsung kena ke kita. Momen X seorang dokter barangkali saat ia harus melakukan tindakan yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Momen X seorang arsitek atau desainer mungkin saat dia mempresentasikan hasil desainnya pada klien. Momen X pekerja bidang administrasi dan keuangan bisa jadi saat auditor datang. Poinnya adalah setiap profesi ada momen X-nya, dengan kadar tekanan dan pertaruhan yang berbeda-beda. Tolong bantu saya kalau menemukan istilah yang tepat untuk momen seperti itu.


Dalam video penerbangan perdana pesawat N250 di atas, lihatlah bagaimana para engineer bersorak ketika pesawat itu lepas landas. Kerja keras bertahun-tahun bisa jadi berbuah kesuksesan yang layak dirayakan atau sebaliknya jadi sia-sia ditentukan hasil terbang perdana hari itu. Itu adalah momen X bagi mereka. Ada presiden, tokoh internasional, media, dan jutaan mata jadi hakim keberhasilan atau kegagalan mereka. Tidak mau sampai mengumpamakan insiden, tapi bayangkan saja pesawat itu gagal terbang hari itu karena belum siap, atau terpaksa mendarat lebih cepat karena masalah teknis, itu bisa jadi tiket pensiun dini bagi banyak orang. Salah satu dosen saya pernah bilang, momen paling menyeramkan untuk seorang pekerja teknik adalah ketika ia diminta melihat barang yang dia buat digunakan pertama kali.

Saya menulis ini karena gemas dengan fenomena joki skripsi yang saat ini sedang ramai di media sosial. Berdebat dengan penyedia jasa joki tidak akan ada habisnya, mereka akan selalu mencari argumen pembenaran. Bagi saya itu unethical business, titik, nggak peduli apa kata mereka. Saya mau lebih menyoroti dari sisi demand-nya, yaitu mahasiswa yang menggunakan jasa mereka. Alasan yang banyak terlontar adalah nggak punya waktu, nggak bisa nulis, dan mau gampangnya aja. Saya terbayang alasan lain yang belum banyak disebut di internet, yaitu oknum mahasiswa ini tidak siap untuk membuat sesuatu lalu bertanggung jawab atas itu.

Kalau masalahnya waktu, semua mahasiswa punya waktu yang sama. Skripsi atau tugas akhir didesain sedemikian rupa supaya bisa dikerjakan, sesimpel itu. Tugas besar ini diletakkan di semester akhir saat mata kuliah lain sudah selesai dan lulus. Secara kultur mahasiswa tingkat akhir juga sudah lengser dari aktivitas ekstrakurikuler. Alasan waktu ini nggak masuk menurut saya. Kalau jasanya untuk transkrip interview, membantu mencari responden/probandus, atau semacamnya masih oke (S&K berlaku), tapi bukan untuk nulis skripsi. 

Kalau masalah kemampuan, saya nggak memungkiri bahwa membuat karya dari nol dengan guidance minim bisa jadi sulit, apalagi kalau terbiasa hanya mengerjakan soal. Tapi orang-orang yang pakai joki ini minta dibikinkan dari bab 1 yang literally tinggal nulis. Padahal dengan sedikit effort saja bisa cari referensi karya dengan topik yang mirip, lalu tiru kalimatnya dengan parafrase, ini bare minimum banget. Saya yakin bab 1 ini bukan masalah skill, lagipula siapa bilang skripsi harus bagus? Jika di mata kuliah lain oke saja untuk dapat B atau bahkan C, kenapa untuk skripsi dari awal sudah merasa nggak bisa?


Jika skripsi dibuatkan orang lain, ketika nanti tulisannya dikritik atau disalahkan dia akan biasa saja karena itu bukan salahnya sebab orang lain yang bikin. Lebih jeleknya lagi dia bisa komplain pada penyedia jasa joki karena merasa sudah bayar (mahal). Ketika mahasiswa lain syok tulisannya dicoret, dia tidak begitu karena merasa bisa melempar tanggung jawab. Dia tinggal sampaikan ke joki untuk revisi, lalu dia sendiri bisa pergi-pergi.

Mahasiswa ini pada akhirnya akan dilatih juga oleh joki supaya bisa menjawab pertanyaan saat sidang. Kalau dia bisa nangkap dan dosen pengujinya kurang peka bisa saja lulus. Tapi mahasiswa ini melewatkan kesempatan berharga untuk membuat sesuatu dan mempertanggungjawabkannya di hadapan orang lain. Skripsi adalah kesempatan terbaik untuk itu karena sifatnya yang long term 3-6 bulan, sudah seperti siklus di pekerjaan yang pakai quarter, semester, dll. Pengguna joki tidak mengalamu itu, lalu mau mengharapkan yang begini siap kerja sebagai fresh graduate?

Ketika bekerja tekanannya lebih berat karena kita dibayar. Kalau dari skripsi saja sudah terbiasa njagakke orang lain ya gimana bisa diharapkan performanya baik ketika dihadapkan problem nyata. Orang yang 100% jujur mengerjakan skripsi saja mobat-mabit di pekerjaan, apalagi ini. Nggak heran kalau perusahaan mensyaratkan pengalaman kerja untuk entry level sekalipun. 

Ini out of topic tapi coraknya sama dan lucu juga kalau diingat-ingat. Kenapa banyak perusahaan atau instansi pemerintah pakai jasa konsultan? Kenapa mereka mau bayar mahal untuk itu? Sementara konsultan belum tentu lebih ahli daripada mereka. itu karena if something goes south mereka mau decision-nya bukan milik mereka :)

Balik lagi ke skripsi, menurut saya kalau memang sulit mencegah mahasiswa mengerjakan dibantu joki atau AI (sama aja?) mending skripsi dan tugas akhir diterapkan untuk yang butuh-butuh saja: kesehatan, saintek, seni & desain, vokasi, dan semacamnya yang dalam profesinya jelas butuh keahlian, otherwise efek buruknya besar. Untuk yang lainnya bisa diganti tugas lain yang sifatnya pengabdian atau tugas sosial, kerja praktek wajib misalnya. Selain itu kasih juga batas waktu tercepat lulus 4 tahun, tidak bisa lebih cepat, supaya mahasiswa tidak bersaing cepet-cepetan lulus dan skripsi bisa dikerjakan secara proper tanpa kekurangan waktu. 

Kalau demand bisa dihilangkan atau setidaknya dikurangi, perusahaan penyedia joki lama-lama akan kehilangan pasar. Saya bilang perusahaan karena mereka sudah ada yang sampai bikin PT. Nge-cancel di media sosial hanya solusi sementara, nanti kalau masyarakat sudah lupa ya mereka bisa berdiri lagi dengan nama yang berbeda. 

Terkahir, buat saya sendiri masa-masa tugas akhir adalah salah satu yang paling berkesan selama kuliah (selain masa TPB). Saya dan dua rekan lab punya jadwal rutin mingguan untuk konsul dengan dosen pembimbing, kalau nggak salah ingat hari rabu. Sebelum itu selalu badan nggak enak karena khawatir progres di minggu itu tidak sesuai dengan ekspektasi dosbing. Tapi ketika bimbingan selesai dan beliau cukup puas rasa leganya luar biasa, biasanya saya rayakan dengan makan apa yang pengen saat itu. Menjelang sidang saya sempat sakit tapi ternyata itu karena tegang saja, selesai sidang langsung sembuh padahal nggak minum obat apa-apa. Rough, tapi memorable.

Kami bertiga satu lab dan tahu apa yang dikerjakan masing-masing orang. Kami tahu pasti tidak ada yang pakai joki karena melihat progres masing-masing hampir setiap harinya. Itu natural saja terjadi, tidak ada aturan yang mengharuskan saling sharing dengan lab-mate agar akuntabilitas terjaga atau progres terverifikasi. Saya sempat dengar kabar burung bahwa di jurusan lain ada yang tidak bisa menjawab saat sidang karena diduga pakai joki, ybs kena hukuman berat. Kami biasa aja mendengar itu karena tidak pernah terpikir untuk pakai joki. 


Di sisi lain prodi juga percaya pada para mahasiswa TA. Kami dianggap sudah setengah bekerja dengan diberi desk masing-masing. Kami diberi akses juga untuk menggunakan alat-alat lab yang diperlukan. Hubungan timbal balik ini sangat produktif dan menghasilkan iklim akademik yang sehat. Endingnya kami dikasih 'liburan' dengan diberangkatkan conference untuk mempresentasikan apa yang kami kerjakan di tugas akhir. Tugas akhir pada akhirnya tidak hanya jadi buku yang dipajang di perpustakaan tapi juga paper yang diterbitkan. Sampai beberapa tahun setelah lulus saya masih dapat email korespondensi yang merespon pekerjaan saya itu, walaupun saya yakin karya saya tidak sempurna karena bagaimanapun itu 'hanya' tugas akhir S1. 


Salam,
Chandra

Biaya Kuliah di ITB: UKT yang Tak Lagi Tunggal

May 26, 2024 Posted by Chandra Nurohman , , , No comments

Karena ramainya pembahasan dan komplain seputar biaya kuliah dan UKT PTN, saya coba untuk eksplor berapa angka pastinya supaya lebih obyektif kalau berpendapat. Saya coba cari informasi biaya kuliah di ITB karena itu yang saya paling kenal dan tahu dimana harus mencari infonya. Kesimpulan awal yang saya dapat adalah tidak seperti satu dekade lalu dimana UKT adalah satu-satunya biaya yang harus dibayar, sesuai namanya Uang Kuliah Tunggal, kini di ITB ada komponen atau kategori biaya lain seperti UKT IUP, Iuran Pengembangan Institusi (IPI) SM, dan IPI IUP. Sepertinya ini yang membuat biaya kuliah tampak semakin tinggi. 

Sebenarnya tidak semua mahasiswa membayar semua komponen biaya di atas. Saya coba buat matriks untuk menggambarkan siapa membayar apa. 


Saya mulai dengan UKT Reguler yang akan dibayarkan mayoritas mahasiswa. Berikut adalah besaran UKT Reguler berdasarkan fakultas/sekolah di ITB tahun 2024



Sayangnya saya belum menemukan detail per masing-masing golongan UKT untuk tahun ini. Saya hanya menemukan informasi tahun 2023 dimana untuk golongan 1 Rp0, golongan 2 Rp1.000.000, golongan 3 RP5.000.000, golongan 4 Rp8.750.000, dan golongan 5 Rp12.500.000. Saya pikir penggolongan tahun ini tidak akan banyak berbeda dengan tahun lalu, terutama untuk FMIPA dan kampus Cirebon yang batas atasnya sama. Hanya saja UKT golongan 1 secara aturan di tahun ini menjadi Rp500.000. Sebagai catatan, SBM akan punya UKT yang sama dengan mayoritas, berbeda dengan sebelumnya yang dua kali lipat dari lainnya. UKT Reguler ini dibayarkan per semester.

Kalau dilihat dari tabel di atas, selain FMIPA nilai UKT ITB merata untuk semua program studi. Sehingga variabel biaya kuliah tidak jadi pertimbangan ketika memilih fakultas dan jurusan. Mahasiswa bisa memilih fakultas berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki, karena biayanya sama besar. Nilai untuk masing-masing golongan juga relatif terdistribusi dengan spacing yang merata dan tidak banyak berubah dari jaman saya dulu (dulu golongan 3 Rp4.000.000, golongan 4 Rp8.000.000, dan golongan 5 Ro10.000.000). Kemarin saya lihat di tempat lain ada yang golongan 3-nya di atas 10 juta, jauh sekali lompatannya dari golongan 2.

Itu tadi sisi baiknya, tapi di sisi yang lain proses dan kriteria penggolongan UKT ini masih sulit untuk kita ketahui. Apakah universitas bisa menilai secara akurat prosperity masing-masing keluarga mahasiswa? Jika tidak, maka sangat mungkin ada mahasiswa yang mendapat UKT lebih besar dari kesanggupannya. Lalu setelah itu seberapa mudah untuk melakukan advokasi guna meminta golongan UKT yang lebih rendah. Undang-undang hanya mengatur bahwa UKT golongan 1 dan 2 diterima oleh minimal 20% mahasiswa, sedangkan untuk golongan 3, 4, 5 agak susah dipegang.

Selanjutnya untuk kelas internasional (IUP) UKT yang ditetapkan adalah 30 juta per semester merata untuk seluruh mahasiswa IUP di seluruh program studi. Oh ya, semua info biaya yang saya kutip di sini adalah untuk program sarjana. Program magister dan doktoral punya biaya yang berbeda. Saya pikir biaya S2 S3 tidak terlalu urgen dibahas karena masih bisa diterima kalau magister dan doktoral dikatakan 'tersier' atau tidak semua orang harus ambil, tapi kalau tingkat sarjana mestinya negara mau berkontribusi lebih.

Selanjutnya ada Iuran Pengembangan Institusi (IPI), untuk mahasiswa reguler yang masuk melalui SNBP dan SNBT sesuai matriks di atas tidak perlu membayar, namun mahasiswa yang masuk lewat Seleksi Mandiri harus membayar dengan jumlah berikut

  • Semester 1: 25 juta 
  • Semester 2: 25 juta
  • Semester 3: 12.5 juta
  • Semester 4: 12.5 juta
  • Semester 5: 12.5 juta
  • Semester 6: 12.5 juta
  • Semester 7: 12.5 juta
  • Semester 8: 12.5 juta
*Ini simplifikasi, beberapa fakultas punya ketentuan IPI semester 1 dan 2 sebesar 27 juta lalu berikutnya 14 juta. Untuk mendapatkan info paling akurat silakan meluncur ke website Admission ITB langsung.

IPI ini dibayarkan tiap semester on top of UKT yang telah ditetapkan. Yes, ini mahal, 37.5 juta di dua semester pertama lalu 25 juta per semester hingga lulus bukan untuk semua kalangan. Sementara itu untuk mahasiswa IUP, IPI dibayarkan satu kali di depan saat daftar ulang sebesar 35 juta. Selanjutnya mahasiswa IUP membayar 30 juta UKT tiap semesternya, tidak ditambah dengan IPI.

Jadi kalau diresume, uang kuliah yang harus dibayarkan mahasiswa baru ITB adalah sebagai berikut:
  • Untuk mahasiswa reguler jalur SNBP dan SNBT, membayar UKT dengan range 500 ribu - 14.5 juta per semester, tidak ada uang pangkal, tidak ada IPI.
  • Untuk mahasiswa reguler jalur Seleksi Mandiri, membayar UKT dengan range 500 ribu - 14.5 juta per semester, plus membayar IPI tiap semester (25 juta di semester 1 dan 2, lalu 12.5 juta di semester-semester berikutnya). Tidak ada subsidi untuk mahasiswa jalur SM.
  • Untuk mahasiswa kelas internasional (IUP), membayar IPI saat daftar ulang sebesar 35 juta, lalu tiap semesternya membayar UKT sebesar 30 juta.
  • Mahasiswa reguler (SNBP, SNBT, dan SM) eligible untuk KIP-K, namun ITB akan melakukan verifikasi data sesuai aturan yang berlaku.

Kalau saya lihat skema baru ini tidak serta merta menghilangkan jatah kursi calon mahasiswa yang masuk berbekal kompetensi (SNBP dan SNBT). Hanya saja karena adanya komponen biaya lain di luar UKT maka average dan median biaya kuliah secara keseluruhan akan terkerek naik. Karena biaya kuliah ini adalah isu skala nasional maka naiknya average dan median ini efeknya besar. Tidak heran jika muncul protes dimana-mana. Apalagi secara terang-terangan pemerintah malah mengeluarkan banyak sekali uang untuk membangun ibukota baru. Padahal para mahasiswa ini adalah investasi, nantinya setelah lulus mereka akan mengembalikan pada negara dalam bentuk pajak. 

Lebih jauh saya melihat isu lain yang muncul dengan adanya skema baru ini. Dulu di jaman saya penerimaan mahasiswa hanya ada 2 jalur: SNMPTN dan SBMPTN. Sebenarnya dua jalur ini bisa dianggap satu, karena setelah masuk sama sekali tidak ada yang berbeda, perbedaan hanya teknis seleksinya saja. Kalau mau masuk ITB pipeline-nya hanya itu, tidak ada opsi lain.

Sementara sekarang ada opsi SM dan terutama kelas internasional yang masuknya lebih mudah tapi bayarnya lebih mahal. Dari POV orang tua calon mahasiswa, pasti ada keinginan untuk menyekolahkan anaknya secara proper, atau ingin memfasilitasi anaknya sebaik mungkin untuk masuk ke kampus idamannya. Ini tidak jadi masalah jika memang punya komitmen dan mampu untuk memenuhi segala kewajiban utamanya pembayaran. Sayangnya ada yang memanfaatkan ini dengan yang penting masuk dulu, bayarnya dipikir kemudian. Efeknya semua pihak jadi mendapat kesulitan dan serba salah. Bayar lebih untuk dapat jalur yang lebih mudah kadang works, masalahnya dalam konteks kuliah ini bukan sekali bayar, tapi setidaknya 8 kali dalam jangka waktu 4 tahun ke depan. 

Jadi kesimpulannya keresahan soal biaya kuliah yang muncul di media sosial adalah valid. Walaupun ada beberapa cuitan yang mengunggah bukti transfer ratusan juta tanpa penjelasan apa yang dibayar. Uang pangkal? UKT kelas internasional? IPI yang dibayar sekaligus di depan? atau apa. Alangkah baiknya kalau mau mengkritisi secara obyektif mesti menjelaskan detailnya, misal dengan mengunggah informasi UKT beserta prodi/fakultas dan golongan yang didapat. Dari situ advokasi bisa dilakukan dengan benar dan efektif.

Utamanya yang perlu kita advokasi dan perbesar suaranya adalah golongan menengah mayoritas yang tidak punya kuasa untuk menentukan masuk UKT golongan berapa. Jangan sampai pendidikan tinggi jadi pay to win. Apalagi yang harus disiapkan bukan hanya biaya kuliah, ada biaya hidup dan tempat tinggal juga terutama bagi mahasiswa perantau. Sungguh kalau ada saya ingin lihat data persebaran kota/kabupaten asal mahasiswa ITB dari tahun ke tahun, I want to see something.


Thanks,

Chandra




ITB dan UKT-nya

February 04, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sabuga, Juni 2013

Proses daftar ulang calon mahasiswa baru ITB angkatan 2013 jalur SNMPTN telah selesai. Tapi bagi camaba yang sebelumnya mengajukan permohonan UKT Subsidi perlu tetap tinggal untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Saya adalah salah satunya.

Sebelumnya telah keluar di profil PMB saya bahwa saya mendapat UKT tertinggi, 10 juta. Tapi saat pengumuman itu juga ITB menginformasikan bahwa ada kesempatan untuk mengajukan UKT Subsidi yang dengan itu mahasiswa bisa mendapat ketetapan UKT lebih ringan, bahkan bisa sampai nol (dimasukkan ke dalam kuota bidik misi yang masih tersedia). Kabar baiknya dokumen yang disyaratkan tidaklah rumit, masyarakat kelas menengah biasa yang sering kesulitan mengakses beasiswa punya kesempatan yang terbuka untuk ini.


Hasil pengajuan ini kemudian keluar di website PMB, UKT saya menjadi 8 juta.


Agustus - Oktober 2013

Agustus 2013 adalah bulan yang padat karena tanggal 8-9 Agustus adalah Hari Raya Idul Fitri, sementara saya harus sudah ada di Bandung pada tanggal 12-nya. Awal bulan itu saya bersama orang tua ke bank untuk membayar UKT karena khawatir bank tutup atau sibuk jika terlalu mendekati lebaran. Waktu itu metode bayar UKT paling reliable masih lewat Teller. 

Sebenarnya ada mekanisme untuk minta penangguhan pembayaran UKT, terutama untuk mahasiswa yang masih mau appeal besaran UKT-nya, istilahnya Peninjauan Ulang UKT Subsidi. Saya juga termasuk yang mau appeal, tapi karena beberapa pertimbangan UKT semester 1 dibayar dulu sesuai yang sebelumnya ditetapkan, 8 juta. Prioritasnya saat itu adalah jangan sampai ada masalah dengan proses FRS dan akademik semester 1.Toh jika nanti turun lagi setidaknya akan take effect di semester-semester berikutnya. Tapi kalau tetap di 8 yawis udah sesuai bayarnya.




Bedanya dengan pengajuan sebelumnya, pada PU UKT Subsidi ini ada sesi wawancara, 1 on 1. Saya sudah lupa detail yang ditanyakan karena sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi alhamdulillah pengajuan saya diterima dan keputusan UKT saya turun lagi jadi 4 juta. For context, sebelum daftar ITB kami sempat dapat gosip agak seram bahwa biaya kuliah di ITB 20 juta per semester. Tidak sepenuhnya salah karena UKT untuk SBM ITB memang segitu, tapi tentu melegakan ketika akhirnya dapat keputusan UKT 4 juta.

Selanjutnya saya mendapat info bahwa kelebihan bayar UKT bisa dikembalikan. Saya coba ke Annex untuk cari tahu prosedurnya. Ternyata memang ada form untuk ini, syaratnya juga tidak sulit. Tidak banyak berharap karena terus terang saya tidak yakin uang yang sudah dibayarkan bisa ditarik kembali. Selang beberapa waktu, sebulan kalau tidak salah, ternyata kelebihan bayarnya ditransfer balik dengan hanya dipotong biaya admin sedikit. Saya bilang orang tua dan ijin uangnya saya pakai untuk beli tablet hehe.

Selanjutnya sampai lulus saya membayar 4 juta tiap semester (8 semester = 32 juta). Tidak ada biaya tambahan apapun lagi. Beberapa kali saya malah dapat beasiswa secara sporadis di semester tertentu walau tidak besar. Biaya UKT ini terasa fair dan acceptable, bahkan murah kalau dibandingkan dengan apa yang saya dapat dari ITB. UKT itu saya dapat dengan background begini deh kira-kira: warga Bantul DIY, motor saya waktu SMA Vixion.

Saya sangat berterimakasih pada Lembaga Kemahasiswaan ITB yang sangat baik dalam memfasilitasi kebutuhan mahasiswa. Semua proses pengajuan di atas dilakukan dengan cepat, fleksibel, profesional, dan tanpa syarat yang mengada-ada. Kalau saya masuk kampus lain yang strict masalah UKT, bisa jadi saya dipatok lebih tinggi dari ini dan belum tentu bisa turun. Terimakasih juga untuk Kesma KM ITB yang sangat suportif untuk mengadvokasi kebutuhan mahasiswa. 

For context, total mahasiswa yang melakukan wawancara PU UKT Subsidi ada 373 orang (> 10% mahasiswa baru), tentu yang mengajukan subsidi pertama di awal lebih banyak dari ini, sebagiannya sudah merasa puas dengan keputusan subsidi pertama, tidak mau/sempat mengurus peninjauan ulang, atau sudah langsung masuk bidikmisi. Jadi proses ini bukanlah proses yang langka dan niche, partisipannya banyak.



Awal 2024, ribut-ribut UKT

Kini saya justru merasa jangan-jangan dulu saya membayar terlalu murah. Karena setelah saya lulus, ITB membuka program-program yang bertujuan untuk raise fund. ITB membuka kelas internasional dan jalur Seleksi Mandiri yang lebih mudah masuknya tapi lebih mahal bayarnya. Ada compromise soal intake quality untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. Kampus juga tidak denial soal ini, mengakui adanya kebijakan subsidi silang. 

Saya pernah hampir 1 tahun 'bekerja' di FTMD ITB dan dari sana saya tahu bahwa untuk running sebuah perguruan tinggi butuh biaya yang tidak kecil. Ini yang jarang disebut di diskusi-diskusi di media sosial.

UKT 'Reguler' sudah naik dari 10 ke 12,5 juta. Saya pikir ini wajar karena setiap tahun terjadi inflasi. Yang saya penasaran apakah prosedur appeal UKT masih semudah dulu. Semoga masih, karena itu sangat membantu anak-anak daerah seperti saya. Standar penghasilan di Bantul, Tegal, Ngawi, Klaten, Wonsobo, dll tentu beda dengan Jakarta, Bekasi, dan Bandung. Semoga anak-anak SMA yang beneran 'bisa' tetap punya akses pada pendidikan tinggi yang baik dan berkualitas. 

Saya setuju dengan tulisan di atas bahwa ITB kurang komprehensif dalam screening calon maba jalur seleksi mandiri dan IUP. Ini jadi loophole yang dimanfaatkan sebagian orang untuk "yang penting masuk ITB dulu, bayar UKT dipikir nanti". Teman saya angkatan 2013 ada yang cerita, dia yang biasanya ugal-ugalan jadi rajin salat dhuha waktu mau ujian SBMPTN dan menunggu pengumumannya. Dulu se-intens itu untuk masuk karena jalur yang tersedia hanya SNMPTN dan SBMPTN. Tidak ada jalur mandiri, tidak ada kelas internasional, semua setara.

Masalah screening bisa diimprove supaya ke depan tidak kecolongan, tapi yang jelas salah dari ITB saat ini adalah keputusannya menggandeng lembaga pembiayaan swasta (kalau tidak mau disebut pinjol). Karena mahasiswa bukan customer, ini perguruan tinggi negeri bukan tempat kursus bootcamp. Mestinya ITB mengutamakan jalur lain seperti sponsorship dan jaringan alumni. Faktanya setelah berita tentang ITB dan UKT-nya ini viral secara nasional para ikatan alumni bergerak untuk menghimpun dana.

Saat saya masuk dulu Rektor ITB adalah Prof Akhmaloka dan Presiden KM-nya Nyoman Anjani. Saya lihat keduanya mendapat support yang cukup saat itu dan situasi kampus kondusif. Kini rektor sudah berganti dua kali, dan tampaknya karena kasus UKT ini kepercayaan terhadap rektor agak berkurang. KM ITB sudah melakukan aksi dan audiensi, tapi terakhir saya baca resolusinya belum memuaskan. Semoga masalah ini segera bisa diluruskan, supaya energi yang mestinya dipakai untuk bergerak maju tidak habis di sini.


Bagaimanapun, saya merasa berhutang budi pada ITB. Saya tidak akan menjelek-jelekkan tempat saya belajar. Bagi saya itu salah satu bentuk penghormatan terhadap 'guru'. ITB sudah memberikan lebih banyak daripada yang pernah saya bayarkan. Saya tidak setuju dengan alumni yang mengatakan almamaternya jelek, dalam konteks candaan sekalipun. Kalau kamu merasa tidak mendapat apa-apa selama kuliah, itu masalahmu. Saya mengritik kebijakan yang tidak sesuai, tapi ITB-nya sendiri tidak pernah saya benci. Adab dulu baru ilmu.

Salam,
Chandra

Nutrisi Untuk Manggung

January 06, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya seneng sama jawaban Jimi Multazam waktu ditanya soal IKJ, dia bilang "ibaratnya nutrisi gue untuk manggung lah, dapetnya di IKJ". Di jawaban itu ada rasa grateful sekaligus pride yang tidak berlebihan. Kampus ibarat media tanam yang menyediakan nutrisi untuk apa yang tumbuh di atasnya. Mahasiswa adalah tumbuhannya, dan apa yang tumbuh bisa macam-macam, makanya disebut universitas. Pun jenis tanah juga bisa beragam jenisnya dan menurut saya itu nggak perlu dibanding-bandingkan. 


Di Twitter kemarin ramai jadi perbincangan bahwa alumni ITB merasa eksklusif dan segala macamnya, sulit kerja sama dengan alumni kampus lain, dan sering bawa-bawa almamater dalam berbagai obrolan. Nah begini, menurut saya kalau ada yang overproud pada ITB seperti itu, either dia masih kuliah atau baru saja lulus. Beberapa tahun setelahnya pasti luruh dan menjadi lebih rasional.

Tapi saya nggak memungkiri bahwa kerja bareng alumni kampus yang sama ada enaknya, saya masih rasakan sampai sekarang. Seperti sudah ada saling pengertian, kaya pemain bola yang tahu kawannya ada dimana jadi tanpa melihat pun tahu kemana harus mengoper bola. Cara bicara, gestur dalam diskusi, keseriusan memandang masalah, logika ketika berargumen, cara memperlakukan deadline, ketidakbercandaan dalam forum, jalan pikiran ketika problem solving, timing kapan harus push kapan harus slow, kapan harus eskalasi kapan harus dibereskan sendiri, dll ada kekhasannya. Misalkan saya nonton sebuah webinar, kadang saya bisa nebak pembicaranya alumni ITB hanya dari slide presentasi dan cara delivery-nya.

Ini bukan berarti saya tidak suka kerja dengan alumni kampus lain ya. Faktanya 70% coworker yang pernah kerja sekantor bukan satu almamater. Kerja bareng lulusan kampus manapun is great. Kerja bareng lulusan ITB is a blessing. Atasan langsung saya UI, MOR saya ITB Teknik Fisika. Dua-duanya good leader dan technically capable, tapi waktu 1-on-1 tetep koneksi-nya beda.

Jadi saya pikir kita nggak perlu meng-undermine media tanam itu sebagai sebuah faktor. Saya ragu Xavi, Iniesta, Busquet, Messi (+ Guardiola) bisa se-tiki-taka dan se-unplayable itu kalau mereka seluruhnya tidak punya DNA La Masia. Vindes belum tentu se-bonding itu kalau Vincent dan Desta tidak kuliah di IKJ dan membentuk Club80s. Grup Warkop dengan sepak terjang di bidang hiburan sekaligus aktivisme lahir dari alumni UI yang tergabung di Prambors, sebelum berubah jadi Warkop DKI ketika personelnya Dono Kasino Indro. 

Batasannya adalah jangan melakukan hal yang nggak perlu dan tahu tempat aja. Di tempat umum ya nggak penting kamu lulusan kampus mana, akhlak tu lebih perlu. Tapi kalau dalam sebuah project atau pekerjaan dimana disana ada amanah dari stakeholder, apalagi kalau stakeholdernya masyarakat luas, anything yang bisa meningkatkan performa dan kualitas output layak diusahakan. Jika kesamaan almamater menghadirkan trust dan menunjang produktivitas, go for it. Personally ketika kerja bareng lulusan ITB, saya punya trust bahwa dia akan memperlakukan kawajibannya dengan level keseriusan yang sama dengan saya, dan itu menyenangkan.

Salam,
Chandra


pic: jalan cisitu indah VI