Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Setahun Corona

March 02, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kasus pertama covid di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020. Itu artinya per hari ini sudah satu tahun penuh kita berada dalam situasi pandemi. Tapi ya 2 Maret itu pengumuman resmi, siapa tahu sebenarnya sebelum itu sudah ada?

Sudah setahun artinya kita sudah melewati satu siklus dalam kondisi yang tidak biasa. Kita sudah mengalami satu kali puasa dan lebaran, satu kali libur natal-tahun baru, satu kali 17 agustus, satu kali penerimaan siswa/mahasiswa baru, satu kali final liga champions, dan satu kali-satu kali lainnya.

Selama setahun saya tidak nonton di bioskop, tidak naik busway, tidak ngadem ke kebun binatang ragunan, dan tidak-tidak yang lainnya. Kemarin siang saya juga untuk pertama kalinya masuk McD di era pandemi, sampai asing cara masuk dan pesannya saking lamanya nggak kesana.

Periode Maret-Juni 2020 adalah masa takut-takutnya orang. Budaya mudik yang sudah setiap tahun dijalani mendadak sepi. Ada sih yang tetap pulang, tapi nowhere near biasanya. Jalanan Jakarta luar biasa lengang, saya manfaatkan untuk motoran keliling kota mengenal tempat-tempat di Jakarta. Mulai dari ujung selatan mepet Depok sampai eksplor pelabuhan tradisional di Jakarta Utara. Kerja full dari rumah. Kalau tidak salah akhir Mei saya baru berani makan di luar, di bubur Palapa.

Periode Juli-Oktober 2020 masyarakat sudah mulai agak berani dan bodoamat, restriksi dari pemerintah juga dikurangi. Akhir Juli saya akhirnya berani pulang ke Jogja, agak keluar modal  karena pakai PCR, alhamdulillah akhirnya diganti sama kantor. Periode ini saya beberapa kali pulang karena perlu menyiapkan pernikahan. Minggu ke minggu kasus positif covid cenderung naik tapi gimana lagi ekonomi juga harus bergulir kembali. Jalanan mulai kembali ramai, kegiatan saya eksplor Jakarta tidak sesering sebelumnya.

Periode November 2020-Maret 2021, saya mulai berumah tangga dan pindah ke pinggiran Jakarta. Aktivitas kerja masih lebih banyak dilakukan di rumah. Kalau keluar rumah masih berusaha disiplin pakai masker, tapi sering lupa bawa hand sanitizer. Saya pribadi mulai jenuh dengan pandemi dan berusaha cari tempat untuk refreshing tapi yang buka tidak banyak, diantaranya hanya Ancol, Kebun Raya Bogor, dan sebagian Kota Tua. Saya dan istri sudah naik KRL dan MRT tapi dengan lebih hati-hati. Masalahnya di periode ini beberapa kali ada kabar tetangga rumah di Bantul ada yang positif.

Tidak ada yang tahu kapan pandemi covid akan berakhir. Bahkan mungkin covid tidak akan hilang dan manusia harus hidup berdampingan dengannya. Semoga rate kasus positif segera turun, vaksin lebih cepat dibagikan, dan mortality rate menuju nol. Kalaupun tidak bisa hilang, semoga covid menjadi lebih tidak menakutkan.

Kerja Apa Sebelum Online?

July 05, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Transportasi berbasis jaringan yang beberapa tahun terakhir booming secara tiba-tiba membuka lapangan kerja baru dalam jumlah yang masif. Skill mengendarai kendaraan bermotor hampir setiap orang punya. Karenanya, banyak orang berbondong-bondong mendaftar untuk menjadi mitra perusahaan penyedia jasa transportasi online. Baik mereka yang sudah memiliki pekerjaan sebelumnya maupun yang masih sendiri mencari.

Banyak alasan mengapa orang ingin menjadi mitra transportasi online. Kalau ditekuni, profesi ini bisa memberikan penghasilkan yang lumayan. Meskipun harus fokus karena sistem bonus diberikan setelah jumlah trip tertentu. Dengan bermodal kemampuan mengendarai motor, kegigihan, dan kopi, driver bisa mendapat penghasilan setara lulusan perguruan tinggi.

Banyak juga alasan untuk mencari pekerjaan lain saja. Tidak semua orang cukup sehat dan aman untuk bekerja di jalan, misal karena sudah terlalu sepuh. Namun, alasan utama sepertinya karena profesi sebagai penarik ojek masih dilihat kurang prestis oleh masyarakat umum. Sedangkan untuk beralih ke roda empat butuh modal yang lumayan.

Meski demikian, saya banyak menemui driver ojek online maupun taksi online yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebelumnya demi fokus narik. Salah satunya driver ojol yang saya tumpangi hari ini yang merupakan mantan kurir pos.

Banyak alasan orang meninggalkan pekerjaannya demi menjadi ojek online. Yang cukup gampang ditemui adalah karena penghasilan dari ojol lebih tinggi dari pekerjaan sebelumnya. Mengingat penghasilan dari ojol bisa sampai 2x UMR, tentu banyak orang yang tertarik. Mohon maaf sebelumnya harus bilang, tapi kebanyakan buruh pabrik, penjaga toko, dan pekerja kasar mendapat kurang dari ini. 

Alasan lain adalah keinginan untuk pulang kampung atau bekerja dekat keluarga. Saat ini Grab dan Gojek ada di hampir semua kota besar di Indonesia. Ini memberikan pilihan pada orang yang selama ini bekerja merantau ke daerah lain untuk kembali ke kampung halamannya dan mendaftar menjadi mitra. Sekali lagi mudahnya syarat (tanpa keahlian spesifik) membuat peluang mereka lebih terbuka daripada sebelum era transportasi online. Dulu mereka tidak bisa bekerja dekat rumah karena tidak ada lowongan yang sesuai.

Alasan ketiga adalah fleksibilitas kerja. Meskipun agar optimum harus dikerjakan sampai memenuhi target (kadang sampai malam), namun sebenarnya tidak ada ikatan untuk bekerja berapa jam dalam sehari dan berapa hari dalam sebulan. Orang-orang yang karena suatu alasan butuh fleksibilitas, atau karena sekedar ingin begitu, melihat online sebagai kesempatan yang menggiurkan.

Kalau nanti-nanti ketemu driver ojek online atau taxi online dan bisa diajak ngobrol, coba tanyakan sebelumnya beliau kerja dimana. Supaya aman, mulai dengan probing "sudah berapa lama di Gojek/Grab Pak?". Kalau jawabannya enak, lanjutkan dengan, "Oh sebelumnya dimana?". Tanya dengan dimana ya bukan apa, karena tidak semua orang suka ditanya pernah kerja apa. Kalau jawabannya enak lagi baru tanya apa.

Kalau beruntung, kita akan dapat cerita-cerita menarik dari pengalaman-pengalaman beliau sebelum jadi driver online. Apalagi kalau yang cerita bapak-bapak, beliau-nya juga senang kalau kita mau mendengarkan. Kalau sudah mengalir beliau bisa cerita kemana-mana tanpa ditanya. Tidak perlu ditanyakan, tapi kalau kita tampak akrab beliau bisa jadi akan sampai ngomong gaji, begitulah saya tadi pagi.

Obrolan seperti ini tentu lebih seru daripada diam-diam tahu-tahu sampai tujuan. Eh tapi ini saya cuma rekomendasikan untuk dilakukan pada driver yang sama-sama laki atau sama-sama perempuan ya. Kalau ke lawan jenis nanti dikira kepo. E tapi ya monggo ding, paling akhirnya begini:

sumber gambar brilio

Semoga perjalananmu menyenangkan.

@chandranrhmn

Kepo

June 17, 2019 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Sekarang kata kepo sudah masuk ke KBBI loh. Menurut KBBI kepo artinya rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain. Ada beberapa dalil, tapi yang paling kuat mengatakan kepo awalnya adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object.

Hampir setiap kata punya nuansa, termasuk kepo. Sayangnya, konotasi yang disematkan padanya cenderung negatif. Seolah orang yang kepo selalu telah melanggar hak privasi orang lain. Padahal belum tentu, bisa jadi kitanya sendiri yang menaruh informasi itu untuk publik. Orang yang kepo hanya butuh sedikit usaha untuk tahu tentang kita, dengan scroling media sosial misalnya.

Saya akui saya juga orang yang sering kepo. Bukan karena ingin tahu privasi orang lain, tapi saya merasa ada beberapa keuntungan ketika kita tahu banyak tentang orang. Bukankah badan intelejen dibentuk dan dibayar untuk itu?

Dengan tahu apa yang seseorang suka atau benci misalnya, kita bisa membuatnya lebih positif hanya dengan mengajaknya berbicara tentang yang disukainya dan menghindari menyebut hal yang membuatnya tersinggung. Bayangkan bencana yang ditimbulkan dari pertanyaan sederhana "Bapak apa kabar?" kepada orang yang ternyata yatim.

Selanjutnya, dengan tahu seseorang itu berasal dari mana atau pernah sekolah dimana kita bisa memperbanyak bahan obrolan yang berbobot. Apalagi jika kita dan lawan bicara memiliki kesamaan dalam hal alumni sekolah atau kuliah di kampus yang sama, obrolan sederhana bisa jadi ajang nostalgia.

Sisi positif lain dari kepo adalah jika kita baru akan pertama kali ketemu dengan seseorang, kita bisa cek dulu wajah dan penampilannya seperti apa jadi mudah untuk mengidentifikasi. Operasi intelejen yang ini gampang dilakukan di jaman media sosial seperti sekarang.

Masih ada beberapa sisi positif dari kepo, tapi tiga alasan di atas adalah yang paling signifikan. Dengan melakukan itu, saya jamin kita akan lebih mudah masuk ke lingkungan baru atau mengenal orang baru. Apalagi untuk orang introvert macam saya.

First impression means more sekarang ini. Beberapa menit awal berkenalan atau bertemu kita sudah bisa menilai apakah orang/grup ini asik atau tidak, nyambung atau tidak, jodoh atau tidak, eh. Dengan kepo lebih dulu, kita bisa punya kendali lebih terhadap first impression diri kita di mata dia/mereka.

Jangan sampai kita salah ngomong hal-hal yang membuat mereka ilfeel. Mending kalau itu sekedar orang yang ketemu satu dua kali saja, tapi kalau itu klien bernilai ratusan juta gimana?

Agar tidak menimbulkan masalah tentu kepo harus dikasih batasan. Janganlah kita sampai ingin tahu segala urusan dan kepentingan orang. Kita cukup mengeksplor informasi-informasi yang sifatnya publik dan yang paling mudah adalah dengan memanfaatkan media sosial.

Kalau kita memang benar-benar ingin tahu tentang orang, kita bisa cek medsos orang tersebut mulai dari facebook, twitter, instagram, askfm, blog, linkedin, youtube, dan lain sebagainya. Memang tidak semua orang punya akun disana, tapi kita berharap saja bisa menemukan namanya di kolom pencarian.

Instagram memberi tahu kita tentang aktivitasnya sekarang, siapa teman-temannya, dan dimana dia beraktivitas. Facebook lebih ke melihat sejarah orang tersebut, dimana dia pernah bersekolah, siapa mutual friend kita, bahkan kita bisa lihat foto-foto masa lalunya kalau belum dihapus.

Twitter dan blog berguna untuk tahu seperti apa personal orang tersebut karena dua sosmed ini berbasis tulisan dan kata-kata. Di twitter lihat apa yang dia tweet, retweet, dan terutama like. Blog memberi informasi lebih dalam tentang orang tersebut karena lebih personal dan biasanya banyak curhatan

LinkedIn jika dikelola tentu menjadi sumber informasi komplit tentang karier profesionalnya, sangat sesuai untuk kepo urusan bisnis dan pekerjaan. Di youtube kita bisa cari akunnya, lihat liked video jika dipublish, dan terutama lihat video apa yang pernah diupload. Generasi milenial ini sering upload video untuk kepentingan lomba atau seleksi, sumber bagus untuk kita tahu lebih banyak tentang orang itu.

Sosial media lain punya metode kepo dan jenis informasi yang beragam sesuai dengan karakter sosmed masing-masing. Jangan lupakan juga cara paling mudah untuk kepo yaitu dengan search namanya di pencarian google, kalau banyak sepak terjangnya pasti keluar beritanya.

Selain kepo orang yang bersangkutan, kita juga bisa memanfaatkan sosial media milik teman atau keluarganya, ini juga bisa memberikan informasi lebih dalam jika dibutuhkan. Tentu seberapa dalam kita mencari tahu tergantung seberapa besar keperluan kita untuk tahu. Tetap jaga kesopanan, hanya lihat informasi yang memang dia ijinkan untuk diakses oleh publik.

Disini kita juga harus ingat bahwa kita juga bisa menjadi obyek kepo. Jika kita tidak ingin banyak diketahui orang lain pastikan kita membedakan mana informasi untuk publik dan mana yang untuk lingkaran dekat saja. Jika merasa terganggu dengan orang yang tahu banyak tentang kita jangan langsung menyalahkan dia kepo, cek juga apakah kita dengan mudahnya memberikan data.

Kita juga harus waspada di media sosial, jangan asal posting nomor hp pribadi atau orang lain tanpa ijin, jangan dengan mudah memberitahukan nama orang tua, kakak, adik, atau saudara lainnya, dan jangan melakukan diskusi sensitif atau rahasia di timeline media sosial.

Kepo dengan penuh tanggung jawab dan sopan santun ya!


Accelerate

February 15, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Obyek yang diam akan tetap diam dan obyek yang bergerak akan bergerak dengan kecepatan konstan sampai ada gaya yang mengenainya
Flowing nicely dari hari ke hari bagus untuk jangka pendek tapi tidak untuk jangka panjang. Kita perlu tetap sehat, ceria, dan kalau bisa awet muda dengan hari-hari yang minim tekanan serta malam yang damai. Tapi kalau begitu terus, kapan akselerasinya ? Karena percepatan bisa lebih penting dari kecepatan.

Saya menemukan manfaat baru dari punya blog pribadi dan rutin mengisinya seperti ini. Membuka-buka tulisan lama memang kadang bikin malu sendiri. "Wew dulu kok bisa nulis begini yak, so alay". Tapi di sisi lain blog ini mencatat fluktuasi kecepatan dan percepatanku. Kalau kamu punya banyak waktu luang (dan kepo), jelajahilah blog ini dan kamu akan menemukan naik turunnya excitement saya layaknya lingkaran tahun pada batang pohon.

Blog ini di-istiqomah-i sejak 2 tahun yang lalu. Belum lama-lama amat memang, tapi itulah masa dimana saya menemukan inspirasi untuk menseriusi ini. Itu peak yang pertama tercatat. Seperti hal-hal lainnya, seiring berjalannya waktu interest berkurang dan melandai sampai muncul inspirasi berikutnya.

Naik, turun, naik, turun lagi. Flashback membuatku sadar bahwa ada beberapa momen yang sangat pantas disyukuri karena itulah momen-momen booster yang membuatku belajar. Jadi ingin berterima kasih pada orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Tapi kini kok kayaknya udah lama kering inspirasi. Mungkin aku kurang bergaul atau terjebak rutinitas. Let's accelerate

The more forces, the more accelerations


gambar : SBS

Keburukan yang (Harus) Terjadi

October 14, 2017 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Saya termasuk orang yang setuju bahwa terkadang kita perlu merelakan terjadinya mudarat kecil untuk mencegah mudarat yang lebih besar.

Suatu ketika kita berada dalam sebuah perjalanan darat dari Jogja menuju Jakarta yang memakan waktu semalam suntuk. Kita berangkat dari Jogja bermobil, berangkat ba'da Ashar karena besok ada meeting di Jakarta jam 8 pagi. Di sisi lain kita tidak bisa berangkat lebih awal karena beberapa anggota rombongan baru ready sore hari itu. Di tengah perjalanan muncul masalah bahwa di mobil itu hanya ada 1 orang yang capable untuk nyetir mobil. Satu jam sebelum masuk Bandung dia tampak sangat lelah karena memang sejak hari sebelumnya sudah banyak acara. Rombongan itu dirundung dilema. Mereka galau antara meneruskan perjalanan dengan sopir mengantuk atau memberikan kesempatan beristirahat dulu dengan resiko akan telat sampai di Jakarta dan merugikan rekanan yang akan ditemui.

Dalam hal seperti ini, tampaknya tidak ada pilihan yang sepenuhnya baik. Kita harus memilih antara was-was disopirin sopir nggliyer sepanjang tol Bandung-Jakarta 150 km atau was-was kehilangan klien karena kita mengecewakannya.

Mau tidak mau kita harus memilih salah satu dari 2 opsi itu. Sekarang kita harus menimbang-nimbang. Kalau saya, yang akan saya lakukan adalah memberikan kesempatan driver beristirahat dulu lalu menghubungi klien untuk minta reschedule dari jam 8 pagi jadi jam 11 siang. Menghubungi orang jam 3 dini hari untuk mengatakan bahwa kita akan telat menghadiri pertemuan bukanlah ide yang bagus. Tapi itu masih lebih baik daripada terjadi apa-apa di jalan yang mungkin menyebabkan kita tidak bisa menghadiri pertemuan itu sama sekali.

Itulah yang saya maksud dengan mudarat kecil dan mudarat besar. Menjadwalkan ulang pertemuan adalah mudarat kecil. Terjadi musibah di jalan adalah mudarat besar. Tentu di sini dengan catatan bahwa kita tahu bahwa si sopir benar-benar ngantuk berat, mata melek sudah susah, apalagi untuk konsentrasi.

Pengambilan keputusan memilih yang mana dalam kasus seperti ini dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya ini adalah fungsi dari kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak pengalaman dan oleh karena itu semakin banyak pula sudut pandang yang dia miliki. Pengambilan keputusan akan menjadi lebih bijaksana, atau setidaknya lebih cepat.

Kasus lain, misalnya kita berada di antrian toilet mall yang sedang ramai. Kita berada di antrian pertama, di belakang kita ada seorang pemuda, dan di belakangnya lagi baru datang kakek-kakek yang sudah tua, untuk berdiri lama sudah tidak kuat. Bagaimana ?

Kalau saya, saya lebih memilih memenangkan penghormatan saya kepada orang tua itu daripada norma tentang ketertiban antrian. Itu di mall, lingkungan yang "beradab", tertib antri adalah nilai yang dijunjung, bukan stadion sepakbola yang loketnya memprihatinkan dan harus bersaing dengan calo kalau mau dapat tiket. Tapi saya dan pasti banyak dari Anda, memilih menyalahi aturan itu demi memudahkan orang yang sudah sepuh.

Coba ingat lagi klien dan pemuda yang ikut antri di toilet tadi. Dari sana kita tahu bahwa dalam keputusan memilih mudarat besar-kecil itu bisa saja ada unsur "merugikan orang lain". Mungkin itulah salah satu komponen "tidak ada manusia yang sempurna". Karena bahkan pilihan yang tampak lebih baik pun bisa berimbas buruk bagi orang lain.

Kita itu lebih sering bingung memilih mudarat daripada memilih manfaat. Ketika terjebak diantara 2 pilihan manfaat, kita masih mudah mengambil keputusan karena manapun yang diambil masih ada kebaikan yang diraih. Tapi kalau memilih mudarat ? Apapun yang diambil bisa saja merugikan orang lain. Kita punya beban harus mampu memilih mudarat yang lebih kecil.

Jadi maafkan saya jika kadang merugikan, menyakiti, bersikap tidak dewasa, dll. Itu adalah output dari utak-utik timbangan mudarat di balik layar pikiran saya. Lebih dari itu, kita semua harus saling menerima dan memaafkan bahwa keputusan buruk yang diambil orang lain pasti didasari pertimbangan akan sesuatu yang kita tidak tahu.

Everyone you meet is battling with something you'll never understand about, be kind.

Oh ya tentang perjalanan ke Jakarta tadi kelanjutannya bagaimana ?

Jadilah keputusannya beristirahat, mlipir mampir ke sebuah mesjid lalu si driver tidur. Tidak terjadi apa-apa sampai adzan subuh berkumandang. Ketika adzan si driver terbangun, minta kopi, turun dari mobil, dan ambil wudhu. Ternyata setelah itu dia sudah segar kembali, siap meneruskan sisa perjalanan. Selepas salat subuh mobil kembali melaju. Di luar dugaan ternyata sepanjang tol traffic-nya lancar, hijau semua. Draft chat meminta reschedule yang tadi sudah disiapkan tidak jadi di kirim karena menurut perhitungan dengan traffic lancar jarak Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam waktu cukup 2 jam. Benar saja, jam 7 rombongan sudah sampai di tujuan. Masih ada waktu untuk mandi dan menyiapkan diri demi pertemuan yang penting itu.

.....

Lalu apa hubungannya dengan gambar Zidane ?
Final Piala Dunia 2006, Berlin, 9 Juli 2006, Zidane dikartu merah setelah menanduk Materazzi.
Bagi Zidane, martabat ibunya lebih besar daripada trofi Piala Dunia.

Terkadang keburukan kecil harus dibiarkan terjadi


Chandra




Hey Kawan!

September 22, 2017 Posted by Chandra Nurohman , 2 comments


Hey Kawan!

Percayalah, dulu saya juga idealis. Lulus kuliah 4 tahun terus langsung dapat beasiswa dan diterima kuliah di kampus-kampus Eropa dan Amerika. Rasanya itulah life path paling cool yang bisa dilalui seorang lulusan kampus yang katanya salah satu terbaik di Indonesia. Seolah seperti itu definisi calon menantu idaman, punya ijazah kampus top 50 dunia. Life goals banget.

Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata itu lebih karena urusan gengsi. Saya merasa tidak pantas bagi seorang fresh graduate dari kampus Ganesha wira-wiri keluar masuk kantor membawa map mengajukan lamaran untuk sebuah pekerjaan yang belum tentu diterima. Lebih karena itu saja. Sombong sekali ya, tapi itu dulu kok.

Beberapa bulan terakhir saya mulai banyak bergaul dengan para profesional. Itu mengikis idealisme yang saya tulis di paragraf pertama di atas. Saya mulai masuk ke lingkungan baru dengan individu-individu yang makin bermacam-macam. Mereka berasal dari berbagai latar belakang (pendidikan), usia, dan visi hidup.

Ada lulusan beberapa kampus di Eropa dan Jepang. Sebaliknya, ada juga anak-anak muda lulusan kampus-yang-dipandang-sebelah-mata-oleh-mahasiswa-kampus-gajah yang sangat skillful berkat pengalaman, bukan oleh so-called pendidikan. Banyak bapak-bapak dengan segudang pengalaman industri karena belasan bahkan puluhan tahun mengabdi di IPTN/PTDI. Ada pula yang terpaksa berada di sana karena hanya itu yang paling mereka bisa.

Bertemu dan berinteraksi dengan mereka, memberikan banyak insight baru bagi saya. Cukup untuk membuka wawasan dan melihat banyak hal baru tanpa terbatas pagar melingkar kampus ITB. Dari sana saya mengambil kesimpulan : saya mau menjajal dunia profesional, segera.

Hey Kawan!

Waktu umur 6 tahun kita dimasukkan ke dalam lubang yang namanya SD oleh orang tua kita. Enam tahun kemudian kita sudah cukup besar untuk mentas dari lubang itu kemudian masuk ke lubang berikutnya yang namanya SMP. Setelah 3 tahun kita bisa keluar dan masuk ke lubang SMA untuk menghabiskan waktu 3 tahun berikutnya. Sampai tahap ini mungkin belum terlalu banyak drama. Tapi setelah keluar dari jenjang SMA, pilihan lubang semakin banyak. Ada lubang kuliah, kerja, nikah, dan lain sebagainya. Kuliah juga masih banyak kemungkinan, dimana. Bekerja juga begitu, dimana. Nikah, dengan siapa.

Saya lebih membahas soal lubang kuliah, karena lubang inilah yang saya pilih 4 tahun yang lalu, dan saya bersyukur memilih lubang ini. Setelah 4 tahun (rata-rata) akhirnya seseorang siap untuk keluar dari lubang ini. Sekarang dia harus memilih lagi salah satu dari lubang-lubang yang tersedia di depan matanya. Masalahnya adalah, dia sudah semakin paham hidup, punya gengsi, dan idealisme yang kadang sebagiannya berasal dari nafsu.

Pertimbangan untuk memilih lubang mana yang akan dimasuki menjadi semakin rumit. Tapi yang penting adalah, jangan lama-lama.

Ada sebuah kata mutiara, "penghormatan terhadap kepemimpinan akan berkurang seiring dengan banyaknya penundaan". Kita adalah pemimpin minimal untuk diri sendiri. Semakin lama galau, semakin berkurang penghormatan terhadap diri, semakin sulit untuk recover. Naik turun itu biasa, tapi jangan lama-lama recover-nya. Boleh jatuh (n) kali, tapi bangunlah (n+1) kali.

Hey Kawan!

Jangan lupa bahagia. Lubang-lubang itu menyimpang jenis kebahagiannya masing-masing. Hanya mungkin kita belum terbayang seperti apa. Mungkin kalau teman-teman menganggap saya beruntung, ya memang saya beruntung (dan bersyukur atas itu), tapi itu juga karena keikhlasan saya untuk masuk ke salah satu lubang. Berbekal rasa penasaran atas apa yang akan terjadi nanti saya mengesampingkan sebagian gengsi dan menahan diri terhadap godaan lubang-lubang lain.

"Ciee kejebak haha, niatnya mau presentasi malah disuruh ngobrol sama *** (nama orang HRD)". Saat itulah saya terjun pada lubang yang saya pilih.

Hey Kawan!
Stay cool and amazing like the eagle. But enjoy your food life like this panda






Chandra

Senjata Kimia

April 05, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik menulis sesuatu tentang konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Saya mengikuti perkembangan berita dari berbagai sumber. Saya juga kadang berdiskusi dengan orang-orang di sekitar. Tapi justru itu yang membuat saya ragu untuk berpendapat secara terbuka. Semakin banyak informasi semakin simpang siur jadinya, dan semakin sulit disimpulkan.

Masalahnya adalah saya belum mempunyai sumber informasi terpercaya atas apa yang terjadi di sana. Kalau kita sering mengeluhkan media massa Indonesia terlalu banyak ditunggangi kepentingan, sebenarnya media asing/internasional juga banyak yang begitu.

Jadi makin susah percaya ketika peristiwa terjadi di benua lain. Tempat yang menggunakan bahasa yang berbeda. Persoalan penerjemahan juga sering menjadikan berita meleset dari maksud aslinya. Sedih ya..jadi tidak jelas mana hitam mana putih. Mana yang benar mana yang salah. Tidak jelas koalisinya, ini ikut kelompok A atau B, dan sebagainya.

Tapi kemarin benar-benar terjadi peristiwa yang menurut saya sudah di luar batas. Yaitu penggunaan senjata kimia di Suriah. Tidak peduli siapa yang melakukan, apa alasannya, seberapa besar korbannya, senjata kimia adalah perlakuan yang tidak manusiawi.

The types of weapons are banned by international law because they represent an intolerable barbarism. - Dr. Peter Salama, WHO

Senjata kimia sudah ada puluhan tahun yang lalu. Penggunaannya juga relatif mudah tetapi sangat mematikan. Sungguh hanya iman dan nurani yang bisa mencegah seseorang melepaskan senjata kimianya.  

Hak hidup adalah salah satu hak paling dasar yang dimiliki oleh manusia. Bahkan dalam perang yang di dalamnya sangat mungkin ada pertumpahan darah, aturan dibuat untuk memastikan orang-orang di dalamnya tetap beradab. Bukan hanya dilarang membunuh anak-anak, wanita, lansia, dan orang lemah. Bahkan di militer dinyatakan lebih detil, seperti tidak boleh menembak orang yang sedang terjun menggunakan parasut, tidak boleh menembak lawan yang sudah tidak berdaya, dll.

Senjata kimia bekerja sebaliknya, dia membunuh tanpa peduli apapun. Bahkan orang-orang lemah cenderung lebih rentan menjadi korban. Ada juga senjata kimia yang tidak punya efek apapun pada orang sehat namun sangat berbahaya bagi yang memiliki kekebalan tubuh lemah. Apapun bentuknya, senjata yang memiliki 'intolerable barbarism' sangat tidak pantas untuk digunakan.

Informasi mengenai penggunaan senjata kimia di Suriah menyebar dengan begitu cepat ke seluruh dunia. Semoga ini meningkatkan awareness lebih banyak orang. Btw, ada fakta menarik dari dunia sepakbola. Suriah berpeluang cukup besar lolos ke Piala Dunia 2018. Walaupun mereka harus menjalani pertandingan kandang (home) di Malaysia karena alasan keamanan negaranya. Bayangkan jika mereka benar-benar bisa tembus World Cup 2018 di Rusia :)

Mari berdoa untuk saudara-saudara kita di Suriah dan daerah-daerah konflik lainnya. Semoga mereka diberi kekuatan dan kebenaran sejati segera terungkap. Aamiin...



Salam,
Chandra





Idiot Man Pursuing Excelence

March 25, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Saya malu ketahuan baru nonton film 3 Idiots sekarang hahaha. Saya maklumi keheranan mereka, itu film bagus dan booming pada jamannya. Saya browsing, itu adalah film keluaran 2009 dan memiliki rating tinggi. Saya telat 8 tahun nonton film itu. Teman-teman bertanya, kemana aja saya selama ini.

Tentang ke-kudet-an saya ini dibicarakan nanti saja, saya ingin lebih dulu berkomentar tentang film 3 Idiots. Bukan review atau resensi karena percuma sebagian besar dari Anda pasti sudah nonton film ini. Kalaupun ada yang belum, semoga ini ada manfaatnya.

3 Idiots adalah sebuah kritik terhadap sistem pendidikan kita. Yaitu sistem pendidikan yang mendewakan nilai dan grade. Sistem dimana siswa (dan mahasiswa) dirangsang untuk berkompetisi, instead of berkolaborasi.

Alasan kesetaraan dan efisiensi menjadi alasan digelarnya sistem pendidikan yang menyamaratakan input dan metode pengajaran. Kekhawatiran mulai muncul dari berbagai pihak mengenai hal ini. Tentang sistem yang dikatakan 'pendidikan modern' ini. Saya sempat menulis tentang itu di sini .

Ada 3 tokoh utama dalam 3 Idiots yang berperan sebagai mahasiswa teknik mesin Imperial College of Engineering (ICE). Pertama, Ranchodas Chanchad, seorang genius yang memiliki alur berpikir agak aneh. Sangat cerdas tapi anti sistem rangking. Kedua, Farhan Qureshi, mahasiswa yang dipaksa kuliah di bidang teknik padahal passionnya adalah fotografi alam. Ketiga, Raju Rastogi, mahasiswa yang memiliki krisis kepercayaan diri.

Dipersatukan di asrama, ketiganya menjadi sahabat karib. Konflik-konflik muncul karena ketidakcocokan mereka dengan sistem yang ada dan ditambah hubungan kurang baik dengan 2 orang, Dr. Viru Sahastrabuddhi (Director) dan Chatur Ramalingam (mahasiswa gila rangking).

Jalan cerita film ini berkelok-kelok serta dibumbui komedi, wisdom, cinta, dan plot twist tak terduga. Namun, pada akhirnya Rancho berhasil membantu kedua sahabatnya sekaligus membuktikan kata-katanya yaitu :
Never study to be successful, study for self efficiency. Don’t run behind success. Follow behind excellence, success will come all way behind you - Rancho 
 Beberapa quote menarik dari film 3 Idiots :

If I pass, it'll be because of my own ability. Otherwise it's okay if I fail. - Raju 
Do you know why I come first ? Why ? Because I'm in love with machines. Engineering is my passion! - Rancho
Give me some sunshine. Gove me some rain. Give me another chance. I wanna grow up once again - Joy Lobo
Pursue excellence and success will follow you - Rancho
Today my respect for that idiot shot up. Most of us went to college just for degree. No degree meant no plum job, no pretty wife, no credit card, no social status. But none of this mattered to him, he was in college for the joy of learning, he never cared if he was first or las - Farhan, about Rancho

Okay, masuk ke topik : Idiot man pursuing excelence

Saya termasuk orang yang sensitif terhadap film, mudah tersentuh. Andai saya nonton film ini tahun 2009 - kelas 3 SMP -  mungkin saya menjadi orang yang berbeda sekarang. Bukan saya tidak mensyukuri keadaan saya saat ini, tapi entah jadi lebih baik atau lebih buruk, pasti akan berbeda.

Saya seperti memakai kacamata kuda selama sekolah. Terlalu banyak belajar. Tidak setiap waktu memang, tapi tetap terlalu banyak. Organisasi di sekolah masih ikut tapi tidak terlalu aktif. Di rumah agak lebih sibuk beraktivitas di organisasi pemuda dan TPA.

Tapi fokus utama saya saat itu hanya belajar untuk mendapatkan rangking. Sangat bureng (pemburu rangking). Susungguhnyalah saya hanya menikmati beberapa bidang pelajaran seperti matematika dan fisika. Tapi demi rangking saya kejar semua as good as possible. Dan baru saya tahu setelah lulus, it's not always good.

Ada benarnya juga perkataan salah satu teman. Bahwa saya bisa masuk ITB salah satunya karena keputusan itu. Ini alasan mengapa saya tidak bisa menyimpulkan keputusan saya dulu sebenarnya baik atau buruk. Sebab dalam pendidikan formal, perguruan tinggi adalah tahap paling puncak.

Saya berusaha mensyukuri keadaan saya saat ini dengan melihat bahwa yang telah saya lakukan kemarin-kemarin semasa sekolah adalah sebuah investasi. Masa SD biarlah, pada tahap itu orang belum cukup dewasa untuk memahami konsep benar-salah, baik-buruk, penting-tidak penting. Tapi 6 tahun di SMP-SMA berbeda.

Di SMP dan SMA selayaknya seseorang sudah bisa mengambil keputusan untuk hidupnya. Dan saya juga sudah mengambil keputusan. Keputusan yang dalam pikiran saya pun masih debatable, abu-abu mengenai benar-salahnya.

Okay, saya putuskan mengambil tempat sebagai orang yang bersyukur.

Kalaupun dulu saya mengambil keputusan yang salah, saya ikhlaskan. Setidaknya keputusan itu juga lah yang melemparkan saya ke kampus ini. Saya belajar dan belajar, walaupun mengejar sesuatu yang agak semu. Tapi Allah tidak pernah ingkar janji, siapa berusaha akan berhasil. Sekarang Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk memperbaiki keputusan-keputusan masa lalu yang sekiranya salah.

Tidak ada yang salah dengan belajar. Masalahnya adalah saya over-focused. Saya hanya melihat ke depan, tepat seperti memakai kacamata kuda. Akibat buruk over-focused ? Tidak melihat hal-hal baik yang berseliweran di kiri kanan.

Contohnya, blog sudah berkembang di Indonesia sejak awal 2000an. Tapi saya baru mengerti apa itu blog tahun 2013, saat awal kuliah. Sampai akhirnya jadi hobi menulis sampai sekarang. Saya dulu tidak tahu ada buku-buku bagus, sekarang setelah tahu jadi sering baca. Inilah kenapa saya bilang saya kudet. Selain waktu itu akses terhadap informasi belum seperti sekarang, saya sendiri kurang inisiatif dalam mencari informasi. Saya jadi tidak banyak tahu.

Masih banyak contoh lain dimana saya telat mengerti. Akibatnya sekarang sering bertanya-tanya, "loh kok aku baru tahu sekarang ya?". Makanya, 3 Idiots saja baru nonton sekarang. Hahaha

Saya memakai kacamata kuda. Memang tampak sukses, tapi tidak excelent (unggul). Tajam secara teori tapi tumpul dalam praktek. Bahkan pernah saya dulu saat awal-awal lulus tidak dipercaya untuk memegang amanah penting dalam acara alumni. Saya tidak dipercaya mempunyai kapabilitas.
Give me another chance. I wanna grow up once again
Bandung dan kampus di Jalan Ganeca ini memberikan kesempatan kedua. Saya merubah haluan. Ingin rasanya menjadi orang yang berguna dan dipercaya. Sedikit-sedikit saya merubah cara menjalani proses belajar.

Alhamdulillah, saya merasa beruntung. Pertama, karena kondisi kampus dan lingkungan sesuai dengan yang saya inginkan. Saya bukan anak manja, tidak ada masalah bahwa saya harus mengurus makan dan kebutuhan lainnya sendiri. Tapi dengan berada di perantauan, saya lebih bebas mengambil keputusan. Tak perlu ijin jika akan pulang pagi atau bahkan tidak pulang, lebih bebas bersosialisasi, lebih bebas mengatur diri.

Lingkungan kampus juga begitu, mungkin ini salah satu kampus dengan budaya paling 'bebas' di Indonesia. Pergaulan dengan dosen dan staf yang bersahabat, definisi 'rapi' yang fleksibel dalam hal berpakaian, heterogennya bahasa, dll telah mengeluarkan saya dari kekakuan lingkungan selama ini.

Kedua, saya berada di bidang yang menjadi passion saya : teknik penerbangan. Akibatnya saya bisa mengeksplor diri, menekuni hobi, dan berorganisasi. Alhamdulillah saya jadi bisa menyelami dunia robotika, menggeluti pesawat remote control, mencari ilmu dari buku, menulis dan mendesain blog, menjadi pemain futsal, dan bersenang-senang membuka mata lebar lebar bagi setiap kemungkinan, dengan tetap mempertahankan kondisi akademik pada level baik.

Alhamdulillah lagi dan lagi...

Ya Allah, ampuni saya jika selama ini terlalu banyak mengeluh. Bawasannya baru saya pahami bahwa setiap orang punya jalan dan masanya masing-masing. Membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain adalah senjata perusak kedamaian paling mutakhir.

Posisi kita sekarang adalah buah keputusan kita 10 tahun yang lalu. Dan keputusan kita hari ini menentukan menjadi apa kita 10 tahun yang akan datang.

Sekian cerita saya mengenai kesadaran yang dipicu hal sederhana : film 3 Idiots. Maaf kalau agak panjang, saya lega telah menuliskannya dan semoga bermanfaat buat Anda.

Hikmahnya, banyak-banyak bersyukur. Ilmu masuk ke tempat yang bersih :)



Salam,
Chandra Nurohman

Mengubah Keadaan Menjadi Lebih Baik

February 18, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Sebuah cerita.

Di suatu sore di musim hujan sekumpulan anak-anak bermain berlarian di sebuah pekarangan. Anak-anak menjalani hidupnya tanpa beban, bukan karena tidak ada masalah, tapi karena mereka memutuskan tidak merisaukannya. Tanpa sengaja salah seorang di antara mereka terpeleset jatuh ke kubangan lumpur. Cukup dalam hampir 2 meter. Pakaiannya jelas kotor oleh lumpur. Bayangan akan disetrap sesampainya di rumah menghantuinya.

Bayangkan kita adalah satu-satunya orang dewasa di sana. Hanya kita yang dapat menolong anak itu dengan mengeluarkannya dari kubangan. Apa yang akan kita lakukan ? Berteriak-teriak tanpa melakukan apa-apa karena takut kotor atau turun menolong dengan konsekuensi terkena lumpur ?

Terkadang, dan seringnya, untuk memperbaiki sesuatu yang buruk menjadi baik kita harus siap kecipraran buruknya sedikit. Ketakutan terhadap 'lumpur' menjauhkan kita dari banyak kesempatan untuk membantu. Yang penting adalah kita sadar bahwa kita turun ke kubangan, bukan jatuh ke kubangan.

Hidup jangan dibuat susah. Silakan dipersepsikan sendiri.


Salam,
Chandra


sumber gambar : Tribun news

Bukan Tulisan Saya : Sebuah Kisah Cinta

November 16, 2016 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Sebelumnya saya peringatkan, ini bukan tulisan saya. Ada seorang teman yang mengirim ini lewat LINE kemarin pagi. Saya pikir sangat bagus untuk dibaca.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


SEBUAH KISAH CINTA
Telah meriwayatkan kepada kami Ustadz @Cahyadi_Takariawan dan lafazh ini adalah dari keterbatasan ingatan @salimafillah:
Ketika itu Mbak Siti Syamsiah sudah seorang pengajar di Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada. Seorang dosen cemerlang yang menyelesaikan pendidikan lanjutnya di Swedia. Adapun suaminya, Mas Rahman Sudiyo, adalah mahasiswa yang diajarnya.
Usia mereka terpaut 10 tahun. Semangat berislam dan semangat berdakwah yang mempertemukan mereka. Allah yang menganugrahi mereka cinta.
Dan Profesor yang membimbing Siti Syamsiah tak habis pikir, bagaimana wanita cerdas yang sudah bergelar Ph.D itu rela kembali lagi ke Swedia hanya untuk mendampingi suaminya belajar di jenjang S-2 dan S-3. Allah mengaruniakan pesona pada tiap manusia, dan pesona pasangan suami istri ini adalah kecintaan pada ilmu dan totalitas pengabdian yang tanpa pamrih.
Ketika mereka berdua pulang, Sang Profesor mengaku. “Baru kali ini aku bertemu muslim cerdas dan berdedikasi tinggi seperti kalian.”
Ya, karena di Swedia, citra tentang para muslim pencari suaka adalah mereka yang suka menggantungkan diri pada jaminan negara, tak merasa perlu bekerja, dan keterlibatan dalam berbagai persoalan sosial yang terasa membebani masyarakat pembayar pajak.
“Kalau Anda ingin bertemu orang-orang muslim yang jauh lebih hebat dari kami”, demikian keduanya tersenyum, “Datanglah ke Indonesia.”
Dan Sang Profesor menerima tantangan itu. Melihat para dosen dan mahasiswa yang rajin ke mushalla, menyaksikan para mahasiswi berjilbab yang begitu tekun di dalam laboratorium, dia tertegun. Universitas Gadjah Mada meruntuhkan gengsi yang selama ini membuatnya mengunci dalam-dalam keimanannya. Untuk kali kedua, dia merasa dilahirkan kembali sebagai muslim dengan kesadaran baru. Airmata di pipi menjadi saksi syahadat ulang dan komitmennya untuk mengamalkan Islam.
Mas Rahman Sudiyo dan Mbak Siti Syamsiah juga punya cita tinggi tentang pendidikan putra-putranya dan seluruh anak-anak muslim sedunia. Dengan penuh pengorbanan, mereka turut membidani berdirinya SDIT Lukman Hakim Internasional di Yogyakarta. Sang Profesor mengerahkan jejaringnya, dan decak takjub tular-menular di Eropa hingga Australia melihat guru-guru dan murid-murid sekolah islami begitu fasih berkomunikasi antar-bangsa, percaya diri, dan yakin mempresentasikan konsep-konsep pendidikan yang luar biasa.
Orang baik begitu dicintai Allah. Mas Rahman Sudiyo meninggalkan kita satu setengah tahun lalu dalam usia sekira 43 tahun. Kanker hati dari semula hepatitis menjadi jalannya menghadap Allah setelah bertahun-tahun tak diperlihatkan pada siapapun dengan kerja keras memforsir diri yang membuat iri.
Dan kemarin, Mbak Siti Syamsiah, yang juga mengidap lupus namun tak pernah mengeluh dan tak suka mengurangi segala dedikasinya untuk ilmu dan ummat meski sering hanya untuk memakai pakaian pun beliau sudah harus jeda beristirahat berulangkali, menyusul kekasih tercintanya.
Ini adalah duka kami semua, duka sedalam cinta. Ghafarallahu lahuma wa rahimahuma rahmatan wasi'ah.😭
(Ust. Salim A Fillah)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Innalillahi wainnailaihi rajiun
Mungkin kalau saya masih berdomisili di Jogja atau kuliah di UGM saya akan banyak mendengar kisah-kisah inspiratif dari beliau-beliau. Sayangnya tidak, baru kemarin saya mendapat cerita itu.
Judulnya saja "Sebuah Surat Cinta", maka bisa dipastikan salah satu point dari tulisan ini adalah kisah cinta antara Bapak Rahman Sudiyo dan Ibu Siti Syamsiah. Keduanya berselisih 10 tahun, dengan Pak Rahman lebih muda.  Bu Siti dengan setia menemani sang suami belajar di Swedia padahal sendirinya sudah selesai menjalani studi lanjut. Pasangan yang inspiratif dan pantas diteladani. Belum lagi, keduanya memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembangan manusia terutama melalui pendidikan. 
Beliau berdua itu sendiri-sendiri saja sudah baik, apalagi menjadi pasangan suami istri. Walaupun saya belum mengalami, tapi dalam bayangan saya menikah dan hidup berumah tangga bisa membuka kebaikan-kebaikan yang sebelumnya belum muncul. Jika masing-masing memiliki kualitas bernilai 9 dan 9. Maka jika digabungkan dalam pernikahan nilainya akan lebih dari 18.
Ndherek bela sungkawa, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Salam,
Chandra


Krisis Toleransi Beragama : Apa Cuma Saya Di Sini yang Tidak Nyaman ?

November 14, 2016 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya suntuk dengan ketidakharmonisan ini. Marilah menjadi agen perdamaian. 

Dua minggu terakhir media massa dipenuhi berita mengenai Ahok, demo 411, agama, Al-Maidah 51, pilkada DKI, SBY, Loyalitas TNI, dll. Sungguh aliran informasi yang memuakkan bagi saya. 

Newsjacking bisa membuat sebuah tulisan viral. Bisa saja saya memanfaatkan momen ramainya kasus-kasus ini untuk membuat tulisan populer. Tapi meskipun banyak referensi dan ada kesempatan menulis itu tidak saya lakukan. Even, saya belum satu kali pun menulis di social media mengenai peristiwa ini.

Saya takut kehilangan teman. Isu agama sangat sensitif. Beberapa teman membatalkan agenda ke jakarta untuk acara Indo Defence dan EHEF 2016 karena khawatir ketemu demo. Salah satu WA group saya chaos karena ada yang memosting link tentang aksi 411, beberapa anggota left dan sang pemosting harus susah payah minta maaf.

Demo 411 usai tidak berarti atmosfer mendingin. Internet masih dipenuhi dengan dugaan adanya provokator penyusup, dugaan campur tangan politikus bahkan termasuk SBY, dan presiden yang 'terpaksa' turun menemui ulama dan aparatnya. 

Kebencian makin menyebar. Netizen bersuara menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Banyak orang tanpa pikir panjang membagikan tulisan, berita, dan provokasi. Sialnya, kebayakan share dilakukan sambil membenarkan keyakinannya dan/atau mengutuk keyakinan lain. Menyedihkan sekali.

Peristiwa bom molotov di Samarinda akhirnya menjadikan saya gatal untuk ikut berkomentar. Gemas sekali dengan drama-drama dan pemutarbalikan logika yang terjadi. Prasangka buruk menyebar merusak hubungan antar personal di level akar rumput.

Saya menghormati proses hukum yang berjalan baik untuk kasus Pak Ahok maupun bom molotov. Namun dari pengamatan saya ada beberapa poin yang dapat ditarik :

1. Pak BTP alias Ahok berpidato di Kepulauan Seribu dan kepleset menyebut-nyebut Surat Al-Maidah 51 disertai embel-embel 'dibohongi'. Menurut saya memang ini kurang bijak untuk orang biasa sekalipun. Kalau bicara di depan umum lebih baik bawa ayat dari kitabnya sendiri. Bawa-bawa ayat orang di depan umum sangat beresiko.

2. Lepas dari kesalahan pengutipan atau apapun, ada/banyak umat Islam yang secara ikhlas ikut serta dalam aksi 4 November. Mereka pergi dari rumah masing-masing dengan kerelaan, tanpa mengharap bayaran atau semacamnya. Saya cukup yakin karena mendapat penuturan dari orang terpercaya. Sumber saya tidak menerima bayaran apapun, hanya dapat roti dan minuman yang dibagi-bagikan.

3. Masih banyak pertanyaan yang sangat mengganggu tapi belum jelas jawabannya.
Apakah benar ada yang menunggangi aksi damai 411 ? Kalau ada, siapa saja ?
Apakah benar presiden dari kalangan sipil kurang kuat ? Apakah ada ketidaksepahaman di kalangan atas sana ? 
Mengapa BIN disebut-sebut ?
Bom molotov Samarinda, seorang ekstrimis ingin mengganggu agama lain atau ingin merusak nama Islam ?
dan lain lain.

4. Posisi Gubernur DKI Jakarta berbeda dengan gubernur daerah lain. Gubernur DKI memiliki kekuasaan lebih besar karena walikota di bawahnya bukan dipilih tapi ditunjuk dan tidak ada DPRD di tingkat kota. Gubernur DKI setingkat menteri. Posisi gubernur ibukota sangat strategis dan pilkada sudah dekat. Oleh karenanya, sangat mungkin peristiwa akhir-akhir ini berkaitan dengan pilgub DKI. 

5. Di kalangan akar rumput, agama menjadi isu sangat sensitif. Karena sensitifnya menjadi sulit untuk membuka forum-forum diskusi dengan kepala dingin.

6. Contoh kebingungan yang ada di pikiran saya : pihak Cikeas dituding mengail di air keruh pada kesempatan ini karena AHY mencalonkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Ada 2 kemungkinan output. AHY leading karena pesaingnya tercoreng atau AHY malah turun popularitasnya karena dianggap main kotor. Lebih lanjut, jika kemungkinan 2 yang terjadi, AHY bisa play victim. Di sisi lain, calon lain bisa naik karena masyarakat simpatik dan menganggap mereka terdzalimi. Pengetahuan saya sangat dangkal di bidang ini, tapi di level atas sana pasti sudah menyiapkan banyak plan.

Saya menulis pendapat saya di blog supaya tidak mengotori timeline siapa pun. Saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang meluangkan waktu mengklik blog saya dan membaca tulisan ini. 

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (Al-Mumtahanah 8).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya-lah berserah diri.” (Qs. Al-Ankabut [29]:46)

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami hiasi bagi setiap umat pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am [6]:108)

Daripada kita menjadi api yang memanaskan suasana dan membakar tali silaturahmi, lebih baik kita menjadi angin perdamaian. Bila Anda muslim maka tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Sampaikanlah ilmu dengan cara-cara yang baik lagi santun.

Jadilah seperti Mohammad Ali yang jika bertanding perang berhenti karena para tentara sama-sama ingin menonton. Sungguh-sungguh terjadi pertandingan Ali pernah diselenggarakan di Afrika karena di sana sedang perang.

Marilah mencari persamaan, bukan perbedaan.


Salam,
Chandra Nurohman, saya sadar tulisan ini pun tendensius sebenarnya
*Mending nostalgia dengerin lagu ini. Kalau Anda tahu, Anda sudah berumur :)



Wayang - Damai

Fenomena Six Degrees of Separation : "Loh kalian saling kenal ?"

November 04, 2016 Posted by Chandra Nurohman , No comments


Pagi ini buka hp dan ada chat :

Kenal ***** ?

Pertanyaan itu membuat saya ingin membuka draft dalam kepala ini tentang six degrees of separation.

Six degrees of separation adalah kenyataan bahwa kita bisa terhubung dengan semua orang di dunia melalui 6 langkah atau kurang. Langkah-langkah itu adalah hubungan saling kenal orang per orang. Gagasan mengenai konsep ini sudah lahir sejak tahun 1930. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan hilangnya masalah jarak dalam hubungan personal suatu saat kondisinya mungkin akan berubah menjadi hanya 5 langkah.

Kita sering mendengar :
"Kata temannya temanku . . . "
"Anaknya temannya orang tuaku . . . "
"Oh ternyata kalian saling kenal! "
"Dunia sempit ya "

Ungkapan-ungkapan di atas muncul karena adanya fenomena six degrees of separation dimana semua orang sebenarnya terhubung - hanya kadang belum disadari. Orang dalam satu negara, satu pulau, satu provinsi akan memiliki langkah yang secara rata-rata lebih kecil. Penetrasi internet, tata kota, dan lalu lintas juga memengaruhi jumlah langkah ini.

Saya beri contoh mengenai six degree of separation :

Saya mempunyai teman yang jadi panitia suatu acara, di jadi LO-nya Mas Sabrang a.k.a Noe Letto. Maka saya terhubung dengan Noe Letto dalam 2 langkah. Saya pernah menulis tentang beliau di sini : Sabrang Mowo Damar Panuluh

Saya dan Pak B.J. Habibie terpisah 2 langkah melalui dosen-dosen saya, semoga segara mengecil menjadi 1 langkah.

Semua mahasiswa AE 2013 berjarak 3 langkah dari Chelsea Islan karena ada di antara kamu yang temannya berteman dengan dia. What an example...

Saat ini kebetulan kapolres Bantul dijabat oleh om saya. Artinya saya hanya butuh 2 langkah untuk sampai ke pejabat Bantul (Bupati, Dandim, dll).

Dengan adanya penerimaan terhadap fenomena six degrees of separation maka seharusnya pertanyaan "kenal (sebut nama) ?" menjadi kurang relevan. Pertanyaan itu menjadi tidak perlu ditanyakan karena dalam era saat ini sangat mudah untuk mencari benang merah antara 2 orang.

Tapi tidak masalah karena pertanyaan tersebut akan diikuti dengan "kok bisa kenal ?" atau "kenal dari mana ?". Nah kalau ini pertanyaan bagus karena sama saja menanyakan jalur separation yang digunakan yang mana.

Untuk saya, jalur-jalur itu mungkin saja karena sama-sama suka dunia aerospace, fans Liverpool, aktivis robotika dan pernah bertemu di KRI, teman SD SMP SMA, ketemu pas lomba, kenalan dari salah satu anggota keluarga, dll.

Konsep six degrees of separation digunakan oleh sosial media seperti Linked In dan Research Gate. Kedua sosmed tersebut meminta usernya untuk memasukkan interest atau expertisenya. Dengan mengetahui hal tersebut maka mesin akan menghubungkan kita dengan "People You May Know". 

Teman-teman yang menekuni bidang sosial humaniora jelas akan lebih paham daripada saya dalam hal ini. Tapi dari yang saya pahami, saya simpulkan bahwa six degrees of separation artinya kita bisa terhubung 'kenal' atau friend chains dengan seluruh individu melalui 6 langkah atau kurang.

Sekian


Salam, selamat hari Jumat
Chandra

Penyakit Cacar Air pada Orang Dewasa (Chickenpox in Adults)

February 29, 2016 Posted by Chandra Nurohman 1 comment
Assalamualaikum wr wb

Kali ini saya ingin sedikit lebih serius. Tulisan ini sudah saya rencanakan sejak beberapa waktu yang lalu. Fyi, sekitar 1,5 bulan yang lalu saya menderita cacar air yang lumayan parah. Gejala mulai muncul seminggu sebelum masuk kuliah sehingga membuat saya cukup risau. Untuk gejala demam dan gatalnya alhamdulillah bisa ditolerir, namun yang saya khawatirkan saat itu adalah kemungkinan saya kembali beraktivitas dan bertemu orang-orang dengan penampilan yang kurang bersih.

Pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya adalah, "ini cacar sembuhnya berapa lama ?", "apa akan ada bekasnya ?". Saya banyak mencari tulisan di internet, berharap ada yang pernah mengalami hal serupa dengan saya dan semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang muda, penampilan adalah hal yang krusial. Oleh karena itu di tulisan ini saya ingin membuat timeline penyakit cacar saya kemarin, semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan rekan-rekan yang membutuhkan. Di belakang akan saya sertakan pula tips-tips berdasarkan kejadian yang saya alami.

Semua dalam 2016

2 Januari : saya berinteraksi dengan penderita cacar air, saya kira tidak akan tertular karena saya lihat bekas cacarnya sudah mengering. Belakangan saya tahu bahwa dalam keropeng tersebut masih ada virusnya.

3 - 10 Januari : belum muncul gejala apapun, saya beraktivitas normal. Belakangan saya tahu ini masa inkubasi

11 Januari : di sore hari saya mulai merasa lemas dan letih padahal tidak beraktivitas berat, saya kira saya terkena masuk angin

12 Januari : bangun tidur muncul benjolan berisi cairan di jari tangan kanan, awalnya saya kira digigitu serangga atau semacamnya namun ketika mandi saya menemukan beberapa benjolan serupa di bagian badan. Saya mulai sadar bahwa terkena cacar air. Sore harinya saya periksa ke dokter umum dan diberi salep acyclovir 5% serta obat penghilang rasa sakit.

13 Januari : Saya agak pusing tetapi memutuskan untuk tetap berangkat ke Bandung karena ada agenda perwalian esok harinya.

14 - 18 Januari : Saya di tempat kos sehingga merawat diri sendiri. Cacar menyebar ke seluruh tubuh, urutannya : badan, wajah, tangan, kaki. Yang bisa saya lakukan menjaga kebersihan dan kekebalan tubuh, berharap gelembung-gelembung itu cepat mengering.

18 Januari : Saya periksa di Bumi Medika Ganesha (pusat kesehatan ITB), oleh dokter saya diminta istirahat 5 hari ke depan dan diberi obat termasuk antivirus acyclovir tablet yang diminum 5 kali sehari. Karena istirahat 5 hari artinya bolos seminggu pertama maka saya putuskan membeli tiket kereta dan kembali ke Yogyakarta.

19 - 24 Januari : Saya bedrest di rumah, minum obat teratur. Keropeng di seluruh tubuh mengering dan mengelupas satu-persatu. Bekas mengelupasnya tampak bersih namun ternyata keropeng yang dilepas secara paksa menimbulkan bekas. Jangan ditiru.

25 Januari : Saya masuk kuliah pertama kali. Keropeng di wajah sudah mengelupas tetapi sebagian meninggalkan bekas. Keropeng masih tersisa beberapa di tangan dan kaki. Untuk menghilangkan bekasnya (terutama di wajah) saya membeli salep Mederma di apotik. Lumayan harganya Rp214000 untuk 20gram krim.

Minggu 1-2 Februari : bekas luka makin coklat sehingga semakin jelas,  saya terus gunakan salep itu.

Minggu 3-4 Februari : bekas luka berangsur menghilang dengan pemakaian salep 3 kali sehari

Sekarang, 29 Februari : alhamdulillah bekas luka pudar, saya masih memakai salep tersebut karena belum habis ditambah memakai kri dari dokter kulit langganan di Yogya yang dikirim kemarin.

Next : saya akan menghabiskan salep dan krim yang sudah ada dan semoga bekasnya bisa benar-benar hilang. Aamiin


Sebelum ini saya belum pernah menderita cacar air, ini yang pertama. Penyakit ini memberikan pengalaman baru untuk saya karena masa recovery-nya panjang dan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga psikis. Beberapa orang menasehati bahwa pada anak kecil biasanya seminggu sudah sembuh, namun pada orang dewasa memang biasanya lebih parah. Ada beberapa tips yang ingin saya bagi :

1. Jaga kekebalan tubuh dengan makan teratur, olahraga, istirahat cukup, dan bila perlu minum vitamin dan suplemen
2. Walaupun terkena cacar air, tetap harus mandi untuk mencegah infeksi sekunder. Intinya badan harus tetap bersih
3. Gunakan pakaian yang longgar sehingga resiko gelembung pecah kecil
4. Tidur dengan posisi yang nyaman
5. Sebagai bentuk tanggung jawab, hindari kemungkinan menularkan ke orang lain
6. Bedrest mungkin perlu
7. Jika ke dokter, minta obat antivirus, ini berguna untuk saya
8. Jangan digaruk atau melepas keropeng (gelembung kering) secara sengaja, ini akan meninggalkan bekas
9. Jika membekas, setelah luka kering sebaiknya segera hubungi dokter kulit
10. Tetaplah beraktivitas dalam masa penghilangan bekas luka

Mungkin itu yang bisa saya tulis sementara ini, jika ada tambahan akan saya edit kemudian. Bila diantara pembaca ada yang ingin bertanya silakan menulis di kolom komentar.
Terima kasih. Semoga kita senantiasa diberika kesehatan oleh Allah SWT aamiin



-CN-