Atap GelreDome

October 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Puluhan penerbangan dari Schiphol dibatalkan karena cuaca buruk. Hujan dan angin kencang mengguyur rata seluruh Belanda dari Jumat sore sampai Sabtu pagi akhir pekan ini. Agenda nonton bola yang kami rencanakan terancam runyam sebelum akun instagram Vitesse mengumumkan bahwa atap stadion akan ditutup.



Kami punya dua tiket gratis nonton pertandingan kandang Vitesse di GelreDome yang sudah saya redeem untuk match Vitesse lawan FC Emmen malam ini. Cuaca buruk agak membuat saya khawatir karena tentu nggak asik kena tampias sepanjang pertandingan dalam suhu mendekati satu digit celcius. Beruntung GelreDome adalah stadion canggih yang punya retractable roof jadi cuaca semestinya bukan masalah ketika sudah di dalam. Berbekal jaket dobel-dobel dan payung kami berbaur dengan orang-orang menuju stadion.

Secara kapasitas GelreDome tidak besar-besar amat, hanya sekitar 20-30 ribu penonton tergantung setingan. Tapi stadion ini dibangun dengan pikiran untuk bisa digunakan berbagai jenis event olahraga dan hiburan. Makanya selain atap yang bisa ditutup tadi rumput stadion juga bisa digeser ke luar untuk preservasi. Sebagai stadion sepak bola, GelreDome adalah salah satu venue Euro 2000 dan menjadi home klub Vitesse Arnhem. Sementara untuk konser, musisi dunia yang pernah tampil di sini antara lain Linkin Park, The Rolling Stones, Metallica, Celine Dion, U2, Bon Jovi, Shakira, Spice Girls, Coldplay, dan lain sebaginya. GelreDome melabeli dirinya the biggest theater in The Netherlands.
Nonton bola dalam stadion tertutup rasanya clean sekali. Tidak ada pengaruh angin, hujan, dan faktor eksternal lain dari alam. Segala ekspresi dan teriakkan penonton jadi terperangkap di dalam dan terdengar jauh lebih bergemuruh. Matchday event jadi bisa maksimal, saya ragu akan ada atraksi Elang dan kid mascot seperti kemarin andai pertandingan dalam posisi outdoor dan cuaca kurang bersahabat. Secara teknis sound dan lighting juga jadi bisa selalu on point karena kondisi yang lebih terkontrol. Overall pengalamannya seperti nonton di gedung olahraga hanya saja ini lebih besar dan lapangannya rumput yang mulus.

Vitesse sendiri sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaik. Beberapa tahun lalu mereka masih sempat main di UEFA Conference League tapi karena masalah finansial tim ini harus turun kasta. Sekarang Vitesse bermain di Eerste Divisie, satu level di bawah kasta tertinggi Eredivisie. Di pertandingan ini mereka memulai aksi dengan baik tapi kurangnya fire power menjadikan mereka susah mencetak gol. Setelah 0-0 saat paruh waktu, di babak kedua FC Emmen mendapat peluang terbuka yang berhasil digagalkan kiper Vitesse. Sayangnya penyelamatan ini involves bola kena ke muka sampai kiper butuh perawatan. Setelahnya kiper bisa main lagi tapi beberapa menit kemudian kebobolan mudah dan harus dilakukan pergantian kiper. Vitesse kemudian all-out menyerang tapi di menit terakhir serangan balik FC Emmen justru berbuah penalti dan berhasil dikonversi. Pertandingan berakhir 0-2 untuk tim tamu.

Saya melihat raut wajah kecewa opa-opa yang duduk sebaris dengan kami. Mereka mungkin sudah nonton Vitesse sejak 40-50 tahun yang lalu. Ekspresinya seperti Fergie ketika nonton MU kalah. Saya merasa kasihan melihat beliau-beliau ini yang mungkin dulu melihat Vitesse saat masih di masa jayanya.  Walaupun tidak sementereng Ajax dan PSV, Vitesse pernah beberapa kali angkat trofi dan main di Eropa. Tapi problem finansial tadi sangat serius sampai mereka hampir dicabut lisensi klub profesionalnya. Beruntung mereka bisa bertahan dan rebuild lagi dengan pemain-pemain muda. Padahal dulu beberapa nama yang pernah main di sini antara lain Phillip Cocu, Roy Makaay, sampai yang lebih kekinian Mason Mount dan Martin Odegaard.

Setelah pertandingan selesai kami keluar dalam kondisi hujan yang masih mengguyur deras. Rejekinya payung yang tadi ditaruh luar karena tidak boleh dibawa masuk kok ya ilang diambil orang. Akhirnya kami hujan-hujanan bersama ribuan orang lainnya. Avondje Vites (the night of Vitesse) kali ini ditutup dengan basah kuyup. Tapi saya tetap bisa bilang atap stadion saves the day.


Chandra

Marathon Tidak Untuk Semua Orang

October 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Iya marathon tidak untuk semua orang, makanya saya bersyukur Amsterdam Marathon menyediakan event 7,5k yang terjangkau buat saya yang half marathon saja belum pernah. Walaupun secara distance hanya kira-kira seperenamnya, event ini tidak dianaktirikan dari race utamanya. Di luar hal-hal yang race-related, nyaris semuanya sama bahkan di marathon expo nama peserta 7,5k dicetak setara dengan pelari full marathon di dinding (saya nggak tahu di kalangan pelari sebutannya apa, tapi ini dinding yang memuat nama semua peserta).





Amsterdam Marathon 2026 diikuti oleh lebih dari 65.000 pelari dari 100+ negara. Rangkaian acara sudah dimulai dari hari Kamis 15 Oktober kemarin dengan Marathon Expo di RAI Amsterdam. Selain pameran apparel dan aksesoris lari dari berbagai brand, di tempat ini pula pengambilan bib dilakukan. Pada Sabtu pagi antriannya puaanjang sekali karena kebanyakan orang mengambil nomor di hari ini. Tapi walaupun mengular sampai pinggir jalan, panitia profesional sekali seperti sudah sering mengurus ini. Beberapa ada yang antri sambil menggeret koper, mungkin mereka datang dari luar negeri dan berniat mengambil nomor sebelum cek in hotel.

Epicentrum event ini ada di Olympisch Stadion Amsterdam. Ini adalah stadion legendaris yang dibangun untuk Olimpiade Amsterdam 1928. Bentukannya tidak seperti stadion modern, stadion ini masih mempertahankan desain Yunani kunonya lengkap dengan tulisan citius altius fortius dan logo Olympics. Lokasinya agak minggir di sisi selatan kota. Ketika ada event besar dan ramai seperti ini cara terbaik untuk mencapai tempat ini adalah dengan transportasi umum + siap jalan kaki agak banyak. Di area ini lah start dan finish untuk seluruh cabang lari dilakukan. Event 7,5K dimulai pukul 14.15 start dari depan stadion, saya dapat start wave 3 dan mulai berlari 14.42. For the record, marathon dan half marathon diadakan besoknya (Minggu 18 Oktober).


Course 7,5K didesain melewati berbagai area yang berbeda, mulai dari jalan raya besar, neighborhood lawas dengan rumah khas Amsterdam di kanan kirinya, sampai taman Vondelpark. Di hari Sabtu yang kadang cerah kadang gerimis ini banyak warga berderet di sepanjang course dengan berbagai aksinya. Mulai dari anak-anak yang menjulurkan tangannya untuk high-five, penonton yang random menyebut nama pelari, kakak-kakak kreatif yang bikin sign run like the Belastingdienst is after you, sampai komunitas lansia yang main musik tradisional Belanda. Nyaris tidak ada area yang sepi sepanjang 7,5 kilometer ini.

Finish-nya adalah yang paling keren. Semakin dekat finish semakin banyak orang berjejer berlapis-lapis di pinggir jalan ke arah stadion. Setelah memasuki pintu stadion bertuliskan citius altius fortius tadi peserta lari 200 meter tarakhir di track lari stadion sambil disoraki penonton dari tribun. Berasa olahragawan beneran, padahal hanya pelari kalcer yang larinya nggak kencang-kencang amat. Sampai tulisan ini dibuat hasil resmi panitia belum keluar karena masih menunggu full dan half marathon, tapi aplikasi saya menunjukkan pace 6:27. And just like that, medali lari ketiga tahun ini dan keempat secara total.



Hari masih terang saat lari selesai, masih ada sedikit waktu untuk menikmati Amsterdam sebelum matahari terbenam. Saya paling senang Amsterdam saat sore dan awal malam, sangat nyaman untuk duduk santai memandangi kanal. Untuk makan malam kami beli fries yang kata istri saya sering dibeli public figure Indonesia yang traveling ke Amsterdam, sampai viral dan direkomendasikan Helmi Yahya katanya. Yeah let me call it kentang goreng artis.


Alhamdulillah, terimakasih Amsterdam.

Chandra




Kabar Duka

October 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kemarin saya mendapat dua kabar duka sekaligus. Yang bikin lebih menyesakkan adalah dua-duanya berpulang pada usia yang tidak beda jauh dengan saya. Kabar duka pertama datang dari adik kelas SMA yang hanya 1 tahun di bawah saya. Lalu yang kedua adalah ex-diaspora Indonesia di Belanda yang usianya juga baru 35 tahun. Sebelum itu baru beberapa minggu yang lalu teman satu angkatan kuliah juga ada yang tutup usia. Saya tidak sedekat itu kenal dengan mereka, tapi kepergiannya di usia 30an ini terasa menohok buat saya.

Walaupun katanya umur itu hanya angka, saya merasa periode 30s punya banyak perbedaan dengan 20s. Saya melihat orang-orang yang beranjak 30 sudah mulai punya pondasi yang firm dalam apa yang mereka lakukan. Orang sudah tahu profilnya apa dan sudah tidak mencari-cari lagi perannya. Seolah roket yang heading-nya sudah jelas, umur-umur segini adalah saatnya untuk mengeluarkan boost sebesar-besarnya. Fokusnya hanya keluarga, kerja, dan menekuni satu dua hobi. Hal-hal yang dirasa tidak lagi relevan mulai ditinggalkan. Let's be honest, bahkan teman dekat pun kini tidak sebanyak dulu.

Yes sebagian hal yang diusahakan pasti punya dimensi vertikal yang bisa jadi bekal sampai hereafter. Banyak grind dan hustle yang dilakukan generasi ini adalah hal-hal mulia. Bekerja, berbisnis, mencari nafkah, aksi sosial, kerja kebudayaan, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang manfaati banyak orang. Tapi di sisi lain, termasuk saya, kadang terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sebenarnya semu. 

Perbandingan-perbandingan yang ada sekarang banyak yang sebenarnya tidak terlalu penting. Siapa yang larinya paling kencang, siapa yang baca buku paling banyak, siapa yang traveling paling jauh, siapa yang paling populer, siapa yang fotonya paling estetis. Oke maybe it's all fun and games, tapi kalau tiba tiba oke, waktu habis, lalu apa? What was all that for? Kepergian teman-teman sepantaran tadi humbling buat saya karena kemudian ini yang saya pikirkan.

Manusia modern sangat senang mengumpulkan portfolio karena itu dibutuhkan untuk mendapat pengakuan. Tapi bagaimana ketika tiba hari di mana itu semua portfolio itu tidak berlaku lagi? Lalu apa? Jujur malu ketika sedang getol-getolnya mengejar dunia, saling melihat satu sama lain sudah sejauh apa perjalanannya, iri ketika merasa tertinggal tapi arogan ketika di depan, lalu whatsapp berbunyi membawa kabar teman seusia yang berpulang duluan.

Turut berduka cita, semoga beliau-beliau diampuni segala kesalahannya dan diterima segala amal baiknya. Semoga keliarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Aamiin.


Chandra

Masjid Toren Air

October 04, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada beberapa masjid megah di Belanda, masjid yang beneran bangunannya berbentuk masjid bukan convert-an gedung atau ruangan. Tapi kemarin saya ketemu masjid dengan salah satu bentuk paling unik.



Ini adalah Ulu Moskee Oss, lokasinya di kota Oss provinsi North Brabant. Dari jauh masjid ini sudah tampak karena bangunannya yang jauh lebih tinggi dari yang lain sekelilingnya. Setelah saya cari tahu ternyata ini dulunya tower air yang dibangun tahun 1930an. Bangunan ini lalu ditakeover oleh komunitas muslim Turki pada 1970an dan dijadikan masjid. Bentuk tower airnya masih dipertahankan walaupun bagian dalamnya sudah dipugar. 

Salat di situ terasa normal saja, hanya bentuk ruangannya yang seperti segi banyak. Masuknya lewat samping tower di mana juga ada tempat wudhu di situ. Di sebelahnya langsung masuk ke ruang salat pria. Saya lihat ada tempat salat wanita juga tapi saya tidak tahu pintunya lewat mana (saat ke sini saya datang sendiri). Di bagian luar masjid ada kafetaria, saya lihat setelah jamaah beberapa bapak-bapak minum teh Turki di sana. Tempat parkir sepeda dan mobil tersedia tepat di sampingnya.

Cerita masjid yang dulunya gereja sudah lumayan sering saya dengar. Tapi masjid yang dulunya tower air baru ini. Bahkan alamat masjid ini menunjukkan itu: Watertorenstraat no 1 (toren = tower dalam bahasa Belanda). Masjid ini berada di tengah-tengah area pemukiman, mungkin itu juga berhubungan dengan fungsi water toren ini di masa lampau. Lokasinya tidak begitu jauh dari stasiun dan centrum Oss serta dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau sepeda. 

Saya impressed ketemu masjid ini, semoga di waktu yang akan datang bisa mampir di masjid-masjid unik lainnya.

Chandra