Showing posts with label masjid. Show all posts
Showing posts with label masjid. Show all posts

Masjid Toren Air

October 04, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada beberapa masjid megah di Belanda, masjid yang beneran bangunannya berbentuk masjid bukan convert-an gedung atau ruangan. Tapi kemarin saya ketemu masjid dengan salah satu bentuk paling unik.



Ini adalah Ulu Moskee Oss, lokasinya di kota Oss provinsi North Brabant. Dari jauh masjid ini sudah tampak karena bangunannya yang jauh lebih tinggi dari yang lain sekelilingnya. Setelah saya cari tahu ternyata ini dulunya tower air yang dibangun tahun 1930an. Bangunan ini lalu ditakeover oleh komunitas muslim Turki pada 1970an dan dijadikan masjid. Bentuk tower airnya masih dipertahankan walaupun bagian dalamnya sudah dipugar. 

Salat di situ terasa normal saja, hanya bentuk ruangannya yang seperti segi banyak. Masuknya lewat samping tower di mana juga ada tempat wudhu di situ. Di sebelahnya langsung masuk ke ruang salat pria. Saya lihat ada tempat salat wanita juga tapi saya tidak tahu pintunya lewat mana (saat ke sini saya datang sendiri). Di bagian luar masjid ada kafetaria, saya lihat setelah jamaah beberapa bapak-bapak minum teh Turki di sana. Tempat parkir sepeda dan mobil tersedia tepat di sampingnya.

Cerita masjid yang dulunya gereja sudah lumayan sering saya dengar. Tapi masjid yang dulunya tower air baru ini. Bahkan alamat masjid ini menunjukkan itu: Watertorenstraat no 1 (toren = tower dalam bahasa Belanda). Masjid ini berada di tengah-tengah area pemukiman, mungkin itu juga berhubungan dengan fungsi water toren ini di masa lampau. Lokasinya tidak begitu jauh dari stasiun dan centrum Oss serta dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau sepeda. 

Saya impressed ketemu masjid ini, semoga di waktu yang akan datang bisa mampir di masjid-masjid unik lainnya.

Chandra

Menyoal Musik di Masjid

March 15, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Penampilan band Perunggu di Masjid Jogokariyan menjadi polemik karena dianggap menyatukan musik dan masjid. Orang mempertanyakan kepantasan dan kesesuaiannya dengan syariat. Sebagian menganggap ini bagian dari dakwah kekinian untuk menarik lebih banyak orang ke masjid, tapi sebagian yang lain menganggap penggunaan musik di area masjid berlebihan bahkan haram.

Disclamer dulu, sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja saya lumayan akrab dengan Masjid Jogokariyan. Kurang lebih saya mengerti denah masjidnya minimal untuk area yang bisa diakses publik, jadi saya tahu exactly di mana penampilan Perunggu itu digelar. Saya sudah beberapa kali menulis di blog ini tentang Masjid Jogokariyan, mungkin ini masjid yang paling sering saya mention di sini. Sebagai konsekuensinya, kedekatan itu juga memungkinkan adanya bias dalam saya berpendapat. After all, tulisan ini murni pendapat saya pribadi yang sangat mungkin salah.

Lalu disclaimer selanjutnya adalah saya pendengar musik juga, saya termasuk yang menganggap musik itu boleh asal tidak berlebihan dan tidak bercampur dengan maksiat. Karena kalau berpendapat bahwa musik itu total haram maka kita tidak perlu lagi membicarakan di mana musik itu dimainkan. 

So, menurut keyakinan saya..

Tempat band Perunggu main musik kemarin kalau saya bilang ada di area abu-abu memang. Selasar yang dipakai bukanlah serambi yang rutin dipakai untuk salat, melainkan lebih seperti area serbaguna. Tentu dalam situasi tertentu ketika jamaah banyak seperti salat ied tempat itu bisa dipakai untuk salat, tapi sehari-hari itu bukan area suci. Jika area itu dipakai acara diskusi, rapat, talkshow, ceramah, atau makan-makan saya yakin tidak akan ada yang mempermasalahkannya. Pada Ramadhan kali ini banyak juga acara digelar di sana walaupun saya cuma nonton dari YouTube.

Di sisi lain, area ini secara fisik masih 'satu atap' dengan masjid sehingga kalau dibilang bagian dari masjid ya nggak salah juga. Sebenarnya Perunggu ini bukan satu-satunya musik yang pernah ada di sana, beberapa diskusi diiringi musik sudah pernah ada termasuk di Ramadhan tahun ini ketika ada collab antara Ustadz Jojo Ali Yusuf dan Orkes Pensil Alis. Tapi untuk Perunggu selain formatnya band-band-an, fans-nya juga terlalu banyak sampai menempati area serambi salat. Menurut saya di sini lah acaranya cross the line. 


Ketika melihat line-up Ramadhan Masjid Jogokariyan jujur tampak seru, upaya menyolatkan orang hidupnya kelihatan sekali. Tapi tadinya saya pikir Perunggu ini akan dibuatkan panggung di jalan atau di parkiran mobil/bis. In that case, it's fine. Saya tidak menyangka konsernya akan dilakukan di selasar. Mau itu hanya akustikan atau yang dibawakan adalah lagu religi menurut saya tetap kurang pas. Alasannya sama dengan kenapa lagu-lagu Maher Zain dan Opick bagus diputar di acara syawalan tapi tetap tidak pantas diputar di masjid.

Cak Nun pernah bilang bahwa kalau bawa Kiai Kanjeng beliau maksimal banget di halaman, tidak pernah mau di serambi masjid apalagi ruang utama. Sebelum bicara syariat, menurutnya secara estetika saja sudah tidak cocok. Sebagai salah satu sesepuh yang menggunakan musik sebagai media dakwah tentu pendapat beliau pantas dipertimbangkan. Saya cukup yakin panitia Ramadhan Masjid Jogokariyan akan belajar dari kejadian ini dan lebih bijak dalam menyelenggarakan acara.

Masjid Jogokariyan bukan masjid baru, sepak terjangnya dalam dunia dakwah di Indonesia sudah panjang sekali. Ini adalah masjid yang sudah mature, bahwa ada kesalahan terjadi ya siapa sih manusia yang tidak pernah salah selain Nabi? Kejadian ini akan viral selama beberapa hari, Jogokariyan akan 'diserang', tapi menurut saya itu tidak cukup untuk menutup legacy yang sudah dibangun puluhan tahun. Dengan ijin Allah orang akan tetap datang ke Jogokariyan.

Patut disayangkan kejadian ini memicu perdebatan antar sesama muslim di bulan suci Ramadhan. At some point diskursusnya sampai sindir-sindiran antar golongan seolah-olah perbedaan kalender saja belum cukup. Tak bisakah meyakini kebenaran yang dipegang tanpa menganggap orang lain pasti salah? 

Tapi di sisi lain streisand effect-nya justru kejadian ini mungkin membuat Masjid Jogokariyan dan Perunggu lebih terkenal. Kini masyarakat umum jadi terpapar lagu 33x yang kalau diresapi liriknya sebenarnya dalam:

Risalah terikatnya
Batin dan raga yang mengunci
Diatas Sang Maha Daya
Semua kendali terambil alih

Jikalau kau keluhkan
Dengung sumbang yang mengganggu
Buka lagi visimu
Kau tahu mana urutan satu

Saya berharap kesalahan serupa tidak terulang karena satu kali khilaf dua kali berarti ada yang salah. Pandangan saya juga akan berbeda kalau ini sampai terjadi lagi. Masjid tidak didesain untuk musik dan saya sangat yakin Masjid Jogokariyan sudah cukup menarik tanpa musik.

Terakhir, untuk antum yang belum pernah ke Masjid Jogokariyan, silakan coba datang ke sana pada bulan Ramadhan dari sore sebelum berbuka sampai malam setelah tarawih dan rasakan suasananya, lebih bagus lagi kalau sekalian sampai sahur dan jamaah subuh :)

Allah yang Maha Mengetahui.


Chandra
foto-foto (3 dan 4): @rangga_ip

Jogokariyan

December 28, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Ketika bicara Masjid Jogokariyan, sosok yang menjadi top of mind di kepala banyak orang mungkin Ustadz Salim A Fillah. Beliau adalah public figure, da'i kondang level nasional, penulis banyak buku, sekaligus aktivis Masjid Jogokariyan. Di hari di mana beliau terjadwal untuk mengisi ceramah tarawih dan subuh di Jogokariyan, pasti masjidnya penuh malam itu. 

Tapi selain beliau ada sosok yang mungkin lebih sering di belakang layar tapi perannya sangat besar sebagai ketua takmir sekaligus sesepuh Masjid Jogokariyan yaitu Ustadz Muhammad Jazir ASP. Beliau juga seorang tokoh dan pendakwah, orang yang pernah tinggal di Jogja kemungkinan pernah menyimak ceramahnya atau minimal mendengar namanya. Ustadz Salim sendiri berulang kali bilang bahwa jasa Ustadz Jazir sangat besar dalam pengembangan Masjid Jogokariyan maupun perjalanan dakwah Islam di Indonesia pada umumnya.

Ustadz Jazir kapundut beberapa hari yang lalu, innalillahi wainnailaihi rajiun. Jogokariyan berduka, tapi duka juga dirasakan sampai tempat yang sangat jauh dari Jogja. Masjid-masjid di seluruh Indonesia mengucapkan bela sungkawa sekaligus penghargaan tinggi atas jasa-jasa Ustadz Jazir dalam peningkatan kualitas manajemen masjid. Bahkan akun resmi SGB di Utrecht Belanda pun menyampaikan ucapan turut berduka cita. Warga Jogokariyan, warga Jogja pada umumnya, orang yang pernah tinggal di Jogja, orang biasa, politisi, public figure, anak muda, orang tua, semuanya berduka.


Nama Ustadz Jazir sudah bersinonim dengan masjid. Beliau menulis sebuah buku berjudul Manifesto Masjid Nabi yang menceritakan perjalanan masjid Jogokariyan. Masjid yang dulunya sebuah langgar kecil kini menjadi masjid percontohan karena aktivitas dakwahnya. Misinya untuk 'mensolatkan orang hidup' mampu mengubah lingkungan yang tadinya abangan menjadi salah satu neighborhood paling hijau di Jogja. 

Saya pikir semua yang pernah bersentuhan dengan Masjid Jogokariyan sepakat bahwa masjid ini memang dikelola dengan sangat baik. Masjid ini tidak begitu mewah secara bangunan, tapi jamaah dan aktivitas yang terus ada di dalamnya menjadikannya 'terang'. Datang ke Jogokariyan bahkan untuk sekedar mampir salat 15 menit saja sudah cukup membuat batin serasa direfresh. Orang yang niatnya hanya singgah sebentar bisa jadi betah kalau sudah duduk di dalamnya. Datang kesana bisa membuat hati yang keras jadi lembut, kepala yang panas jadi dingin, dan badan yang lelah jadi lebih segar.

Ribuan orang datang ke Masjid Jogokariyan tiap harinya pada hari biasa dan akan lebih banyak lagi saat Ramadhan. Jamaah yang terus membesar menjadikan masjid ini juga terus tumbuh. Secara teknis fasilitasnya sangat lebih dari cukup mengingat ketersediaan lahan yang terbatas. Parkiran motor, mobil, bahkan bis ada dan luas. Toilet dan tempat wudhu ada puluhan. Tempat salat luas dan nyaman. Ada serambi yang bisa digunakan untuk berdiam lama. Kotak infaq banyak menyediakan berbagai opsi sedekah. Di sekitarnya ada fasilitas penunjang seperti minimarket, warung makan, apotek, ATM, angkringan, toko baju, sampai hotel. Lalu yang mungkin paling penting adalah masjid ini buka 24/7 selama 365 hari dalam setahun alias tidak pernah tutup. Masjid Jogokariyan itu mungkin satu-satunya tempat yang saya seumur hidup belum pernah dengar ada yang kasih 'review negatif'.

Itu belum bicara tentang program dakwah dan hal non-fisik yang ada di Masjid Jogokariyan. Masjid ini terkenal sebagai masjid dengan saldo nol rupiah, yang artinya dana yang dimiliki masjid diputar lagi untuk mendatangkan manfaat bagi jamaah. Akuntabilitas yang terjaga membuat masjid ini dipercaya jamaah untuk menitipkan zakat, infaq, dan sadaqah-nya sehingga dana yang dikelola Masjid Jogokariyan sudah sampai milyaran rupiah. Masjid Jogokariyan adalah seperti lembaga amil zakat yang jamaah bisa lihat langsung 'dapurnya' sehingga kepercayaan itu tumbuh.

Masjid punya program dakwah untuk membantu orang yang belum salat menjadi salat dan yang salat di rumah menjadi salat ke masjid. Dalam fungsi utama yaitu fungsi ibadah masjid memberikan layanan ternyaman kepada siapapun yang jadi jamaah. Di samping itu secara sosial budaya dan ekonomi masjid memberikan kontribusi yang sangat besar bagi lingkungan sekitarnya. Ada banyak usaha di lingkungan masjid yang berkembang karena ada Masjid Jogokariyan di situ. Kampung Ramadhan Jogokariyan yang diadakan tiap tahun adalah festival yang bisa menarik wisatawan untuk datang ke Jogja.


Saya tidak mengklaim bahwa saya seakrab itu dengan Masjid Jogokariyan dan tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tidak tinggal sedekat itu dengan Jogokariyan (I'd love to), saya juga sudah belasan tahun tidak efektif menetap di Jogja. Saya cuma pejalan yang kadang mampir dan merasakan hangatnya Masjid Jogokariyan. Jika saya ingin ke pusat kota Jogja dari tempat saya tinggal, terlewatilah daerah Jogokariyan ini. Jadi hal biasa untuk mampir ke masjid ini selagi ada kesempatan. Melihat bagaimana Masjid Jogokariyan melayani jamaah wajar kalau masjid ini jadi role model manajemen masjid, dan kita tahu Ustadz Jazir sebagai nahkodanya. 

Salam,
Chandra






Mampir Masjid

June 29, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Awalnya saya merasa perlu untuk mencatat masjid-masjid di Belanda yang bisa jadi tempat salat ketika bepergian. Jadi saya buat katalog sederhana di google sheet untuk mengingat lokasi masjid di jalur dan kota utama sehingga kapan dibutuhkan saya tahu dimana bisa mampir. Problem yang mau saya pecahkan adalah tidak mudahnya mencari tempat salat yang layak di negara ini. Jumlah masjid dalam satu kota bisa dihitung jari, fasilitas umum seperti pom bensin tidak menyediakan mushola, dan tidak di semua tempat ada akses ke air wudhu dan permukaan suci. Satu persatu masjid dicatat, setelah setahun ternyata terkumpul 50 tempat, alhamdulillah. 


Beberapa masjid lebih berkesan di antara yang lain. Masjid Al-Hikmah di Den Haag sangat nyaman buat saya dengan kehangatan orang-orang Indonesianya. Andai memungkinkan ingin rasanya tinggal dekat masjid itu. Moskee Ulu Camii jadi andalan untuk mampir ketika lewat Utrecht, ini sekaligus masjid pertama di Belanda yang saya salat di dalamnya. Lalu ada masjid di Amsterdam yang dari luar tampak seram karena bekas gereja tua tapi dalamnya nyaman dan selalu buka setiap mau mampir.

Saya mencari masjid saat berkunjung ke kota besar seperti Amsterdam, Roterdam, dan Den Haag. Di sana relatif ada lebih banyak opsi masjid karena demografinya yang heterogen, termasuk di dalamnya komunutas muslim. Seiring berjalannya waktu saya eksplor juga kota-kota lain dan mampir ke masjid di Tilburg, Breda, Eindhoven, Enschede, Groningen, Wageningen, dan lain sebagainya. Total ada lebih dari 25 kota di list ini ditambah dua kota di luar negeri (Cologne/Koln dan Paris). 

Dulu awal-awal saya beberapa kali kecele mendapati masjid yang tutup atau tidak akomodatif untuk pejalan (misal tidak dibuka untuk jamaah wanita sehingga istri tidak bisa ikut salat di dalamnya), tapi lama kelamaan dari melihat tampilannya di google saya bisa memprediksi kira-kira masjid ini bisa dipakai mampir atau tidak. Saya mulai mengenali karakter masjid dari organisasi-organisasi Turki, Maroko, dan tentu Indonesia. 

Awalnya saya fokus pada masjid yang letaknya dekat stasiun atau halte bus karena kemana-mana masih pakai transportasi umum, itu juga sebabnya pada list yang saya buat saya cantumkan transit in proximity. Tapi sejak ada kendaraan sendiri pencarian saya bisa lebih luas ke masjid yang lokasinya lebih masuk. Kota-kota kecil seperti Terborg, Doesburg, dan Dieren juga jadi bisa saya singgahi. 

Sebenarnya kalau sebagai alat pencari masjid google maps sudah cukup, pun untuk tahu jam salat sudah ada aplikasi Mawaqit yang diadopsi sebagian besar masjid. Jadi katalog masjid ini mungkin tidak akan terlalu berguna bagi orang lain selain buat exercise saya sendiri. Adanya list ini juga tidak serta merta membuat saya bisa selalu salat dengan proper, masih ada saatnya di mana saya salat di taman, lapangan golf, pojokan gedung, atau belakang pepohonan. 

Banyak cerita dari sekedar mencari tempat salat, semoga Allah mudahkan dan jaga supaya tetap (dan semakin) beraktivitas around salat meskipun di tanah yang asing, bukan sebaliknya.

Salam,
Chandra

1 Ramadhan

March 02, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sudah expect bahwa puasa akan sangat berbeda di sini. Tidak ada orang berbondong-bondong ke masjid untuk taraweh hari pertama, tidak ada yang jual jajanan jelang buka puasa, tidak ada bunyi-bunyian membangunkan sahur, jam kerja/sekolah tidak berubah, tempat makan tetap buka seperti biasa, dan tidak ada nuansa ramadhan pada umumnya. Semua berjalan layaknya bulan-bulan lainnya. Ramadhan hanya terasa di rumah dan masjid masing-masing.

Jatuhnya 1 Ramadhan pada hari sabtu adalah kebetulan yang menyenangkan karena taraweh dan sahur pertama jadi ngunduri libur tanpa perlu cuti. Ditambah lagi suhu udara di minggu ini mulai menghangat dan sudah memungkinkan untuk bersepeda dengan nyaman. Itulah yang kami lakukan, datang ke masjid Maroko dekat rumah untuk melaksanakan taraweh pertama di Belanda. Kebetulan ini salah satu masjid yang sangat support jamaah perempuan sehingga kami bisa datang bersama.


Kami datang ke masjid membawa pertanyaan yang umum ditanyakan pendatang baru: 11 atau 23. Sepertinya imam menyampaikan soal ini selepas salat isya tapi dalam bahasa Arab sehingga sulit buat saya menangkapnya. Pada akhirnya 11 it is, dengan arrangement 2 2 2 2 lalu witir 2+1. Rakaat pertama taraweh dibuka dengan alif lam mim, pertanda bahwa salat kali ini akan panjang hehe. Adzan isya pukul 20:00, semuanya selesai kira-kira 21:30, yah masih oke sebenarnya, Albert Heijn masih buka kalau perlu mampir beli kebutuhan sahur. 

Siang hari masih cukup pendek di sini. Subuh pukul 05:30 dan maghrib 18:18, jadi puasa tidak sampai 13 jam. Tapi karena lokasi jauh dari khatulistiwa dan musim panas di depan mata, akhir ramadhan nanti imsaknya maju sejam dan bukanya mundur sejam, jadi kira-kira puasanya akan jadi 2 jam lebih panjang. 

Hari terasa cepat dan tahu-tahu sudah siang. Kami siap-siap untuk jalan ke Den Haag karena di masjid Indonesia Al-Hikmah Den Haag ada pengajian dan buka bersama tiap hari Sabtu yang diselenggarakan oleh PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa). Balik lagi karena ini weekend dan jam buka/taraweh belum terlalu malam banyak yang datang ke masjid ini. Chance ketemu kenalan di sana besar karena banyak orang Indonesia yang tinggal di Den Haag dan banyak mahasiswa karena lokasinya dekat Delft. Benar saja, meskipun tanpa janjian dengan siapapun kami ketemu beberapa kenalan dan dapat kesempatan ngobrol banyak hal sambil berbuka puasa.




Sulit buat saya menjelaskannya, tapi bacaan imam Indonesia warnanya tetap beda dengan imam Maroko atau Turki, dan ini membuat taraweh di Al-Hikmah berasa seperti salat di Jogokariyan atau Salman. Rakaatnya 2 2 2 2 dan witir 2+1 tanpa ceramah. Taraweh selesai just in time untuk kami kembali pulang sebelum kemalaman. 

Hari pertama ramadhan surprisingly terasa penuh meskipun ketika melihat ke luar jendela dan ke jalan-jalan seperti tidak ada apa-apa. Semoga kebaikan-kebaikan lain menyusul di hari-hari ramadhan berikutnya. Bagaimanapun ramadhan di Indonesia bukan hanya soal rukun puasa tapi event sosial juga, dan perbedaan besar pasti terjadi di sini. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi yang menjalankan. Semoga Allah SWT menerima amalan kita dan ramadhan ini mendatangkan banyak keberkahan. Barakallah & enjoy!

Salam,
Chandra

Umrah dari Eropa

February 01, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Pagi yang cerah untuk ukuran Belanda di bulan Januari, semoga jadi awal yang baik untuk perjalanan yang (niatnya) baik.



Menunggu kereta Intercity menuju Schiphol, meskipun tampak cerah tapi sebenarnya di luar 3°C, membuat 10 menit di peron terasa lumayan lama.



Check-in di Schiphol Airport, penerbangan ke Saudi tampaknya tidak terlalu ramai. 



Menunggu boarding, salat dulu di meditation room yang didesain untuk interfaith tapi pada akhirnya mostly dipakai salat.



Umrah pertama dari Eropa kami pilih Saudia karena penerbangan direct, akomodatif untuk ganti kain ihram, dan semestinya akan ada notifikasi miqat.



Benar saja, entertainment system dilengkapi jadwal salat, fiqh dan doa umrah, sampai countdown menuju miqat.



Tentu makanannya halal tanpa perlu request khusus, Saudia juga adalah satu di antara sedikit airlines yang tidak menyediakan alkohol onboard. Allahumma bariklana..


Alhamdulillah landing di Jeddah dengan posisi sudah berihram. Ini tengah malam, pada akhirnya kami nyaris tidak tidur malam itu (hanya terlelap sebentar di pesawat).




Sebagai umrah mandiri kami tak punya bis jadi kami panggil taksi. Di bandara Jeddah, pickup point taksi online ada di dalam stasiun dan bersebelahan dengan taksi 'pangkalan'. Opsi taksi online: Uber dan Careem.





Kami juga harus memesan makanan sendiri, kami menemukan favorit 'Damba' untuk masakan Indonesia dan 'Al-Romansiah' untuk kuliner Arab. Urusan bayar membayar saya pakai kartu debet BCA Mastercard.





                   Labbaikallahumma labbaik...




                                    Makkah



Kereta menuju Madinah sudah datang, InsyaaAllah disambung lagi nanti


Salam,
Chandra

Masjid untuk Semua

April 09, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Di Subuh terakhir Ramadhan tahun ini alhamdulillah kesampaian salat di Masjid Jogokariyan. Thanks to teman-teman yang membersamai walaupun berarti motoran berkilo-kilometer jam setengah 3 pagi.


Jogokariyan kini sudah dikenal lebih dari sekedar masjid. Kampung Ramadhan Jogokariyan (KRJ) yang sudah berlangsung selama 20 tahun berturut-turut adalah fastival lintas keyakinan dan budaya. Pasar sore-nya mempertemukan ratusan pedagang dengan ribuan pembeli, perputaran uangnya diperkirakan dalam orde milyar. Beberapa bidang tanah di sekitar masjid dijadikan kantong parkir dan disana terparkir banyak kendaraan plat luar daerah. Toko, hotel, dan warung makan banyak buka di sekitar masjid. ATM bank, BTS telekomunikasi, dan klinik pun ada.

Namun sebagai masjid tentu pelayanan ibadah tetap jadi prioritas. Ruang salat dibuat sangat nyaman dan wangi. Sistem pendingin sentral, sound system, dan multimedia berkualitas terpasang di dalamnya. Tempat wudhu dan toilet terjaga bersih. Baitul maal mengelola zakat, infaq, dan sodaqoh dalam jumlah besar karena memang banyak jamaah yang mempercayakan. Buka puasa 3500 porsi piringan untuk mencegah menumpuknya sampah. Program i'tikaf 10 hari terakhir full menginap di masjid dengan diberikan fasilitas. Takmir menjalankan masjid dengan orientasi pelayanan pada jamaah, banyak sentuhan personal yang membuat jamaah betah.

Masjid Jogokariyan secara fisik tidaklah megah, banyak masjid yang lebih besar dan mewah. Tapi masjid ini dengan segala komponen penunjangnya dimanage dengan sangat advance untuk sebuah masjid. Sudah seperti mengurus perusahaan saja. Pengurus masjid sangat serius memberikan layanan terbaik bagi para jamaahnya, 24 jam x 30 hari selama bulan ramadhan. Melayani sebanyak mungkin jamaah sambil tetap menjaga kekhidmatan ibadah, kenyamanan, dan tanggung jawab sosial. Ribuan jamaah, ratusan relawan, masjid ini tak pernah sepi selama ramadhan. 

Masyarakat sekitar pun sangat suportif. Jalan Jogokariyan sering sulit dilewati saking banyaknya jamaah. Warga sekitar mungkin banyak yang pernah mengalami kesulitan ketika mau pulang ke rumah. Tapi justru masjid ini jadi kebanggaan bagi masyarakat Jogokariyan khususnya dan masyarakat Jogja pada umumnya. Masjid Jogokariyan adalah definisi masjid yang makmur. Meski begitu Ustadz Salim A Fillah dalam kuliah subuhnya tadi pagi mengatakan bahwa Masjid Jogokariyan tidak sempurna, tidak ingin jadi sempurna, apalagi terlihat sempurna. Glembuk Yoja banget.

Masjid yang nyaman untuk semua, beneran untuk semua.

Thanks,
Chandra