Showing posts with label review buku. Show all posts
Showing posts with label review buku. Show all posts

How to Not Know: Navigating Uncertainty

August 01, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika pertama kali membaca judul buku ini saya agak kurang yakin karena How To Not Know terdengar seperti versi lain dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck, yang mana tidak terlalu menarik buat saya. Tapi saya tetap checkout How To Not Know dari Bol.com karena penulisnya Simone Stolzoff, penulis buku The Good Enough Job, salah satu buku all-time favorite saya. Saya bersyukur mendapatkan buku ke-dua-nya ini karena walaupun judulnya begitu tapi isinya 10/10.

Baca juga: The Good Enough Job

Tadinya saya kira buku ini bicara soal bagaimana caranya supaya tidak terlalu ingin tahu hal-hal yang tidak perlu kita tahu alias tidak kepo, tapi ternyata bukan itu yang dimaksud 'Not Know'. Not Know di sini maksudnya adalah uncertainty (ketidakpastian) yang sering mendatangkan problem psikologis bagi manusia. Terlebih sekarang virus ketidakpastian looming more than ever dengan adanya krisis global di hampir segala lini kehidupan: politik, keamanan, ekonomi, hukum, sosial, dan lingkungan.

Ketidakpastian adalah perkara serius yang dihadapi semua orang tapi kadang tidak dipahami secara penuh. Ada cerita dalam buku ini tentang penelitian melibatkan orang yang disetrum. Responden yang tidak tahu apakah dia akan disetrum ternyata punya kecemasan dan stres lebih tinggi daripada yang sudah tahu dari awal bahwa dia akan disetrum. Menunggu hasil ujian keluar lebih menegangkan daripada ketika tahu hasilnya. Mendukung klub bola yang nyanan di peringkat 3 lebih mentally easy daripada mendukung yang bersaing di peringkat 1-2 sampai akhir musim tapi akhirnya kalah.

Secara bawaan setiap manusia punya uncertainty tolerance, kemampuan untuk menampung ketidakpastian. Tapi derasnya arus informasi dan kemudahan untuk ngecek dan memastikan segala sesuatu pada gilirannya bisa mengerdilkan uncertainty tolerance ini. Orang harus ngecek daftar menu dulu sebelum masuk restoran, orang harus baca review sebelum nonton film, dan orang harus tahu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Ada sebuah paragraf yang bagus sekali di buku ini dan rasanya harus saya kutip:

Rather than engage with someone with different political views from ours, we retreat into our silo. Rather than face the uncertainty of inviting a potential new friend out to coffee, we cling to our solitude. And rather than walk a few blocks to the local corner stone, we order through an app. The ramifications of these choices extend beyond polarization and loneliness. When we continuosly choose to surround ourselves with the familiar, our ability to tackle the unknown begins to atrophy.

Paragraf itu merangkum keresahan utama yang dibawa buku ini. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang sering menjebak orang sehingga menyikapi ketidakpastian dengan kurang tepat. Pertama comfort, kecenderungan untuk tidak beranjak dari zona nyaman. Kedua hubris, menutup diri dari pengetahuan baru karena merasa sudah jadi yang paling tahu. Ketiga control, merasa bisa mengendalikan semua hal padahal tidak. Tiga hal itu menjadi bagian penyusun buku ini, tiap bagian terdiri dari beberapa bab yang masing-masingnya berkisah tentang satu atau beberapa kontributor. 

Di antara kontributornya adalah seorang Menteri dari Tuvalu yang meng-address PBB soal climate change lewat pidato di pinggir pantai dalam kondisi kakinya terendam air laut yang naik mengikis wilayah negaranya sedikit demi sedikit (keyword youtube: Simon Kofe speech COP26). Lalu ada seorang software engineer di Google yang meninggalkan rutinitas, rumah, dan kehidupannya untuk hidup nomaden secara random. Dia membuat aplikasi yang memutuskan untuknya di mana dia harus tinggal, apa yang harus dia makan, dan apa aktivitas yang harus dia datangi. Selama beberapa tahun dia manut total pada aplikasi itu dan menemukan sisi-sisi dunia yang sebelumnya tidak dia tahu. Dalam penulisannya Stolzoff total, misalnya ketika mendalami Tuvalu dia benar-benar terbang ke negara itu.


Simone Stolzoff punya karir yang panjang di berbagai bidang (jurnalis, penulis, speaker, ex-design lead IDEO) dan he knows what he's doing. Selain story telling yang bagus, tulisannya sarat dengan informasi-informasi yang berbasis data yang banyak orang belum tahu sebelumnya. Banyak titik di buku ini yang hit close to home karena saya merasa relate dengan apa yang dialami kontributornya. Buku ini memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini saya tidak tahu apakah ada jawabannya. Aftertaste setelah menyelesaikan buku ini adalah: "orang harus baca ini bukan hanya karena bagusnya, tapi karena manfaatnya.

Buku ini menyadarkan saya untuk tidak overthink atas sesuatu. Beri ruang untuk ketidaktahuan karena lawan dari faith bukanlah doubt tapi certainty. Saya coba terapkan itu kemarin ketika terakhir kami ke Den Haag dengan sengaja tidak membuat rencana yang matang, tapi justru hari itu kami ketemu kapsul Soyuz* asli, makan pempek, ke pasar kermis (pasar malam), dan makan nasi rames di masjid. Persiapan yang terbatas posses some risks, tapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk kejutan-kejutan baik.

Ada konsep menarik lain yang saya temukan di buku ini yaitu soal exploit + explore. Exploit adalah melakukan sesuatu yang sudah familiar dan mendalaminya, sementara explore adalah melebarkan sayap mencoba hal-hal baru. Kita perlu punya dua pendekatan ini secara seimbang agar bisa tahu banyak sekaligus banyak tahu. Kita bisa datang berulang-ulang ke restoran langganan yang sudah jelas disuka tapi juga sebaiknya sesekali mencoba restoran lain karena siapa tahu ketemu yang enak juga.

Stolzoff menutup bukunya dengan memberikan empat ajakan yang perlu dilakukan agar manusia bukan hanya bisa me-manage uncertainty tapi juga meng-embrace uncertainty. Empat ajakan itu adalah: find your anchors, choose curiosity over comfort, trust your future self to handle future problems, dan let go of the ghost ships that did not carry you. Empat ajakan itu menjadi kesimpulan yang membungkus dengan apik segala bahasan di buku ini.

How To Not Know tidak memberi pembacanya cara untuk menjadi excelent communicator, effective negotiator, atau impactful leader. Buku ini sesederhana mengajak pembaca untuk menerima bahwa uncertainty adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tapi dengan faith dan keberanian untuk tetap melangkah dalam gelap, di sana lah manusia bisa membuka ruang-ruang yang bahkan sebelumnya belum diketahui adanya.

Chandra


*Soyuz adalah wahana antariksa milik Rusia. Salah satu kapsul asli Soyuz disimpan di Space Expo Museum di Noordwijk, Belanda. Wahana ini sentimental buat saya karena nama 'Soyuz' kami ambil jadi nama angkatan waktu osjur kuliah dulu.




Review Buku: Time After Time

May 10, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya adalah orang yang memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Kalau sudah suka buku dari penulis A, saya akan cari dan baca buku lain yang dia terbitkan. Kali ini saya sedang menamatkan bukunya Chris Atkins, sebelumnya saya sudah baca A Bit of A Stretch, sekarang saya baca yang terbaru berjudul Time After Time.



Chris Atkins adalah British movie director, jurnalis, dan penulis. Dia sempat tersandung kasus pajak yang membuatnya divonis bersalah dan dipenjara selama beberapa tahun. Buku A Bit of A Stretch menceritakan kisah-kisah yang dipotretnya selama masa hidupnya di penjara. Setelah bebas dia menulis Time After Time ini berdasarkan investigasinya kenapa banyak kriminal yang begitu sulit keluar dari kasus dan masuk penjara berulang kali.

Chris Atkins adalah well educated-white-white collar criminal, ketika di penjara dia mendapat pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik daripada mayoritas narapidana karena perannya membantu beberapa urusan di dalam. Kemudian ketika keluar dia sudah punya karir yang terbangun dan keluarga serta sirkel yang suportif. Setelah bebas ia melanjutkan karirnya, menulis buku best seller, jadi pembicara dimana-mana, dan stay away from crime.

Tapi tidak semua seberuntung itu, banyak narapidana yang punya keluarga yang tidak fungsional, tinggal di kawasan Bronx, berasal dari status sosial lebih rendah, punya masalah mental health yang tidak ditangani, dan belum sembuh dari adiksi. Golongan kriminal yang seperti ini sangat rentan untuk melakukan reoffending. Inilah yang ditulis Chris Atkins dalam bukunya Time After Time, dia mewawancarai banyak narapidana yang melakukan reoffending termasuk diantaranya beberapa yang dia temui ketika masih di dalam penjara.

Setiap bab dalam buku ini membahas satu kasus atau person. Totalnya ada 14 dan commonality di dalamnya adalah bahwa banyak hal yang masih salah dengan penegakan hukum dan sistem penjara di Inggris. Dia menemukan bahwa program-program pemasyarakatan yang ada di sana alih-alih memperbaiki hidup orang justru memperbesar kemungkinan orang melakukan tindak kriminal berulang.

Kursus-kursus yang ada bukannya memberikan keterampilan untuk bekerja justru jadi ajang berjejaring kriminal yang belum reformed. Sistem parole dan probation yang tidak akurat memungkinkan high risk offender kembali ke masyarakat dan melakukan kejahatan yang lebih besar. Orang yang sudah mau hidup lurus justru ditempatkan di kawasan rawan sehingga terlibat altercation dan masuk penjara lagi. Uang saku ketika keluar penjara tidak naik sejak lama sekali hingga kini tidak cukup untuk satu malam airbnb. Tidak ketinggalan tentu isu rasisme dan cap kriminal yang terus menempel bahkan setelah belasan tahun hidup bersih dan lurus melengkapi lingkaran setan yang menjerumuskan orang ke jurang reoffending. Itu adalah beberapa temuan yang dia tuliskan dan masing-masingnya dibahas secara mendalam.

"This is caused by a criminal justice system that traps offenders into an endless cycle of crime and insidiously sucks them back to prison rathen than giving them the tools to escape it."

Penulisan jenaka khas Chris Atkins masih berlanjut di buku ini. Kritik yang sebenarnya keras terhadap pemerintah, justice system, dan penjara dikemas dengan rapi dan enak dibaca. Melalui buku ini Chris juga menjadi penyambung lidah orang-orang yang tidak punya jalur untuk mengutarakan casenya di luar persidangan. Saking sensitifnya beberapa bab dia harus menyensor sebagian nama dan detail. Dua buku yang ditulis Chris sangat bisa jadi buku yang impactful.

Bedanya Time After Time dengan A Bit of A Stretch adalah pada buku pertamnya penulis adalah pelaku langsung, dia ada di penjara dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk buku kedua ini dia mendasarkan tulisannya pada interview, witness statement, dokumen persidangan, dokumen lain, phone calls, dan semacamnya di mana ia tetap adalah orang ketiga. Ini membuat ada sedikit jarak antara dia dan yang ditulisnya, hal yang membuat buku ini sedikit di bawah A Bit of A Stretch sebagai sebuah memoir. Hal lainnya, entah kenapa menurut saya desain sampulnya kurang, bagusan buku pertamanya.

Nevertheless, buku ini sangat enak dibaca, di-backing data dan fakta yang cukup, serta didasari riset yang panjang (5 tahun+). Penulisnya adalah jurnalis profesional yang punya ID pers jadi dia bisa menjangkau informasi yang tidak diketahui masyarakat umum. Lebih dari itu dia adalah penulis yang capable. Dedikasinya untuk mendorong perbaikan justice system di Inggris sebagai orang yang pernah mengalami langsung problemnya adalah sesuatu yang juga patut diapresiasi.

"It's widely accepted that the only way to break this cycle is a mix of carrot and stick, but in recent times we've removed the carrot and weaponised the stick"


Time After Time: Why Criminals Can't Quit Crime.

Walaupun buku ini tentang kriminal, tapi Chris menutupnya dengan Epilog yang manis di mana ia fast forward menemui beberapa respondernya setelah bebas dan menemukan hidup barunya.





Chandra

Edensor

January 25, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya paham konsep bahwa buku tidak seharusnya menjadi barang sekali baca yang setelah selesai tak perlu disentuh lagi. Tapi saya tidak menyangka kalau suatu keadaan bisa membuat kita ingin sekali membaca kembali sesuatu yang dulu pernah dibaca, merasakan emotional exercise-nya, dan menyusuri jalan yang pernah dialami dulu waktu pertama kali membacanya. 

     Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jerejak anggur yang telantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku terpana dilanda deja vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalanku yang telah lama hidup dalam kalbuku.
     Aku bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun tiba-tiba tersintesa persis di depan mataku, indah tak terperi.
     Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, "Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?"
     Ia menatapku lembut, lalu menjawab
     "Sure lof, it's Edensor ...."

Di atas adalah rangkaian paragraf yang menutup buku Edensor karya Andrea Hirata. Buat saya ini adalah paragraf paling memorable dari semua tulisan yang pernah saya baca. "Sure lof, it's Edensor"-nya itu tidak saya lupa sejak baca ini waktu SMA. Kalau baca bukunya pasti tahu bahwa bagian ini semacam callback, dan membacanya menggetarkan karena dieksekusi dengan sangat brilian. Edensor ini sekaligus adalah buku pertama yang saya baca habis secara suka rela bukan karena tuntutan pelajaran Bahasa Indonesia. Kini saya sangat ingin membaca itu lagi setelah tahu bahwa Desa Edensor ini benar-benar ada, dan mungkin, dalam jangkauan (aamiin).


Masalahnya tidak ada buku itu di sini, paling mentok adanya Laskar Pelangi versi terjemahan. Saya sudah coba cari di toko buku fisik maupun online dan tak menemukannya, ebook pun nihil. Satu-satunya cara mendapatkan buku ini adalah beli di Indonesia lalu jastip ke sini, itu cara tercepat dan termurah yang mungkin dilakukan. Akhirnya saya menemukan buku original bekas di Tokopedia. Saya lebih milih buku ori second daripada bajakan (enyahlah buku bajakan!) meskipun harganya lebih mahal. Yes, tampaknya buku ini sudah hampir menjadi collectible items dan harganya makin tergoreng.

Ongkos jastip tidak beda antara saya beli hanya Edensor saja atau sekalian empat-empatnya, akhirnya saya putuskan beli semuanya. Buku-buku ini cetakan awal 2007-2008 sehingga kertasnya sudah agak menguning karena faktor usia, tapi I'm happy with that. Shoutout untuk toko yang menjual buku-buku ini, pelayanannya satset, packing rapi dan aman, dan yang paling penting jujur bahwa bukunya ori, bahkan pembatas bukunya sebagian masih ada. Buku ori walaupun sudah lawas tapi kertasnya nyaman dipegang, hurufnya enak dibaca, dan bau nostalgia. Ini tokonya: Link Tokopedia

                                  Tetralogi

Menulis ini mengingatkan saya kalau orang yang open jastip kemarin belum ngasih tikkie sampai sekarang, nanti saya akan tanya.

Jadi saya membuka 2025 dengan menyelami kembali tetralogi Laskar Pelangi. Apakah saya akan buat review-nya, belum tahu. Lagipula saya rasa semua orang sudah tahu Laskar Pelangi, dan orang yang memang mau baca buku-buku ini kemungkinan sudah membacanya dulu sekali. Doakan saya bisa merawat mereka ini agar umurnya panjang, karena pelajaran yang saya dapat adalah bahwa buku yang kita hendaki belum tentu masih dicetak lagi.

Thanks,
Chandra



Diaspora Nordik

December 28, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Apa buku yang menurutmu sangat bagus hingga membuat kamu ingin baca semua buku dari penulis yang sama? Saya ada beberapa, salah satunya Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Sejak itu saya baca semua bukunya yang bisa didapat di toko buku: Blink, Outliers, What the Dog Saw, David and Goliath, Talking to Strangers, The Bomber Mafia, dan tentu saja yang terakhir kemarin Revenge of the Tipping Point yang dirilis pada Oktober 2024 atau sekitar 25 tahun setelah buku pertamanya.

Revenge of the Tipping Point (ROTTP) masih banyak berbicara soal critical mass, epidemi, dan hal-hal viral. Bedanya dengan Tipping Point yang pertama, pada ROTTP ini Gladwell banyak memberikan contoh fenomena sosial yang sifatnya negatif seperti krisis opium, konflik ras, s**cide rate, coronavirus, tren perampokan bank, sampai Holocaust. Malcolm Gladwell mengingatkan bahwa mekanisme sosial yang sama dengan yang menghasilkan kesuksesan marketing bisa juga menyebabkan berbagai masalah sosial hingga kriminal.


Salah satu bahasan dalam Revenge of the Tipping Point adalah small area variation. Ada penelitian pada dokter dan rumah sakit di dua kota di Amerika. Dua kota ini sangat mirip dari segi populasi, ekonomi, dan geografis, tapi somehow dokter-dokter di dua kota ini punya cara pendekatan yang extremely berbeda ketika menangani pasien penyakit dalam. Perbedaan di kota A dan kota B ini sulit dijelaskan secara logis. Lebih mengejutkan lagi ketika ditemukan bahwa ketika ada dokter dari kota A pindah ke kota B, pendekatannya ke pasien akan berubah menyesuaikan dengan cara dokter B, walaupun itu berbeda jauh dengan yang sudah dia lakukan bertahun-tahun di A. Maka kesimpulannya yang membuat berbeda bukan orangnya melainkan tempatnya, ada overstory yang meliputi orang-orang di suatu tempat yang membuat mereka berperilaku sedemikian rupa. Kasus small area variation ini ternyata terjadi di banyak tempat di berbagai bidang.

Saya dulu amazed waktu pertama kali motoran ke BSD karena pengendaranya tertib lalu lintas banget, berhenti di belakang marka, nggak ada yang ngeblong lampu merah, dan ngegasnya sopan. Padahal itu orang-orang yang sama dengan yang berlalulintas secara semrawut di Jakarta dan Tangsel non-pengembang, ya termasuk saya juga. 

Bagaimana bisa setelah melewati pagar BSD tiba-tiba orang jadi bijak? Apakah ada tulisan 'Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas'? Nggak, nggak ada. Yang terjadi adalah ketika orang memasuki BSD bawaannya segan mau neko-neko karena (1) lingkungan tertata rapi sehingga mengesankan di situ harus tertib dan (2) semua orang do tertib. Orang nggak ingin mencolok ndugal sendiri, orang nggak nyaman berbeda dari yang lain. Jadi yang bikin taat lalu lintas itu overstory, bukan polisi. 

Khusus untuk kasus nomnoman yang kebut-kebutan di jalanan BSD di tengah malam itu beda cerita. Dalam kasus ini yang bekerja adalah critical mass, dimana di malam hari mereka merasa jumlah mereka cukup banyak in percentage to general population (karena orang-orang lain dah pada tidur) sehingga mereka merasa bisa melakukan sesuatu. Bareng-bareng terus merasa gagah lah.

Variasi ini tidak harus tempat fisik, coba lihat perbedaan pendapat soal calon presiden kemarin di media sosial yang berbeda: twitter vs instagram vs tiktok. Pada buku ROTTP ini juga diberikan contoh bagaimana media (dalam hal ini TV) memberikan pengaruh ke masyarakat. Media tidak secara hard selling menanamkan suatu paham tapi media bekerja menyatukan orang-orang. Media menyeragamkan cara berpikir audiensnya (pertimbangan penting-tidak penting, etis-tidak etis, dll). Maka citra gemoy diterima berbeda oleh pengguna satu platform dengan platform lainnya, satu bilang lucu satu bilang blas ramasuk.

Setelah tahu soal small area variation tadi, saya jadi mikir sedikit lebih panjang kalau mau membanding-bandingkan sesuatu. Orang berkendara di Jelupang dan BSD saja bisa beda kelakuannya padahal sebelahan, orang tetanggaan saja bisa beda pandangan politiknya hanya karena channel youtube yang disubscribe beda, kok bisa-bisanya ada orang membandingkan pendidikan Indonesia dengan Nordik, atau mendukung PPN 12% dengan argumen pajak tinggi di Eropa. Ya nggak bisa lah. Populasinya beda, iklimnya beda, budayanya beda. Maka lucu aja kalau ada diaspora anyaran yang fafifu soal Indonesia harus begini begitu, lebih lucu lagi melihat tanggapan orang-orang yang nyuruh diam dan menjulukinya diaspora nordik alias norak dikit.



Chandra




Supaya Jadi Tempat Bertanya

August 30, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Pada 1982, perusahaan farmasi dari Amerika Johnson & Johnson didera skandal. Salah satu produknya yang bernama Tylenol tercemar sianida hingga mengakibatkan jatuhnya beberapa korban jiwa di Chicago. Mereka tidak tahu apa penyebabnya dan seberapa jauh kontaminasi ini terjadi. FBI dan FDA (badan POM-nya Amerika) menyarankan untuk melakukan recall terbatas pada Tylenol yang ada di Chicago saja, mereka tidak merekomendasikan untuk melakukan recall nasional karena tidak ada laporan korban di daerah lain, selain itu recall besar-besaran bisa mengakibatkan kepanikan publik.

Di luar dugaan Johnson & Johnson mengabaikan saran itu, mereka memutuskan untuk merecall semua Tylenol yang ada di seluruh Amerika walaupun itu berarti mereka harus merogoh kocek tambahan hingga 100 juta dollar. Seluruh sumber daya perusahaan bergerak menangani krisis ini, banyak pegawai mengerjakan pekerjaan yang biasanya bukan tanggung jawab mereka. Pada akhirnya krisis berlalu dan secara mengejutkan brand Tylenol masih bisa comeback dan laku di pasaran dengan kemasan baru yang lebih aman. Respon krisis Tylenol ini menjadi golden standard penanganan krisis di seluruh dunia.

Respon atas kasus Tylenol bukan semata-mata karena tim PR yang brilian, sesungguhnyalah mereka malah tidak punya PR yang proper saat itu. Tapi Johnson & Johnson adalah perusahaan matang yang bertahun-tahun memegang teguh visi dari founding fathers-nya yang dituangkan dalam sebuah Credo. Visi yang mengakar itu menjadi dasar para top management mengambil keputusan penanganan krisis yang brilian. Berikut penggalan Credo Johnson & Johnson yang jadi dasar dalam mereka berbuat: 

We believe our first responsibility is to doctors, nurses, and patiens; to mothers and fathers and all others who use our products and service.

Credo itu ditulis pada tahun 1943 oleh Robert Wood Johnson. Secara keseluruhan Credo-nya berparagraf-paragraf. Tapi intinya menekankan prioritas Johnson & Johnson secara berurutan adalah: (1) Customers, (2) Employees, (3) Community, (4) Company Stockholders. Yang spesial adalah kalimat-kalimat ini dibicarakan berulang-ulang, ditempel di mana-mana, dan sering diucapkan hingga orang-orang di perusahaan itu menyadari bahwa Credo ini sesuatu, lalu memengaruhi mereka dalam berperilaku dan mengambil keputusan. Credo ini tidak dianggap sebagai corporate buzzword dan tempelan dinding belaka.

Kisah di atas adalah salah satu kisah yang dibahas dalam buku The Culture Code karya Daniel Coyle. Buku ini ditulis berdasarkan penelitian penulis selama 4 tahun di banyak perusahaan dan kelompok yang berhasil di bidangnya. Ada tiga resep menghasilkan kelompok yang sukses yaitu build safety, share vulnerability, dan establish purpose. 

Penjelasan dari dua poin yang pertama, build safety dan share vulnerability, membuat saya ngeh kenapa ada pertemanan yang seru tapi ada juga yang layu. Itu bukan masalah orangnya kurang baik hati, tapi dalam pertemanan itu ada barrier, ada koneksi yang nggak nyambung, ada sinyal dan cue yang hilang, dan ada jaim-jaiman. Lalu juga kenapa ada tim yang sukses dan yang tidak padahal secara kemampuan teknis hampir sama. Tim yang sering ngobrol, evaluasi, bertukar feedback, dan saling terbuka cenderung lebih berhasil daripada yang saling diam karena menghindari konflik dan awkwardness dalam tim. Saling terbuka -> tahu kekurangannya dimana -> cepat diperbaiki. 

Namun poin ketiga agak berbeda, semua orang juga tahu kalau sebuah kelompok perlu tujuan bersama, establish purpose. Yang saya tidak sangka adalah bagaimana caranya kelompok-kelompok yang sukses itu menghadirkan tujuan yang sama pada seluruh anggotanya. Ternyata cara menanamkan tujuan dan nilai adalah sesederhana dengan mengulanginya terus menerus. Catchprase, motto perusahaan, visi misi, dan jargon ternyata benar-benar ada gunanya. Sungguh dulu saya pikir motto perusahaan itu sekedar omon-omon dan kata mutiara dari CEO dan Direksi saja. 



Membaca buku ini membuat saya ingat pernah bekerja di sebuah perusahaan yang saya tidak yakin perusahaan itu punya motto atau tidak. Kalaupun ada sepertinya hanya 1 kalimat yang kurang catchy. Business as usual sih jalan dengan normal, perusahaan tetap mencetak laba, dan tidak ada krisis seperti Johnson & Johnson tadi. Tapi saat resign dari sana jadi ada kegamangan apakah selama disitu saya sudah melakukan sesuatu yang benar dan meaningful karena saya tidak tahu tujuan dan arah besarnya mau kemana selain performance review tahunan.

Saya ingat di sekolah dulu ada papan bertuliskan 'Wawasan Wiyatamandala', sekolah kalian mungkin juga ada. Terus terang saya tidak ingat satu pun isinya karena tidak pernah dibahas dan dibicarakan. Agak berbeda ketika kuliah, ada kalimat yang mungkin diingat banyak mahasiswa:

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya. 

Kalimat yang terpatri di Plaza Widya Nusantara (PlaWid) ini ditulis oleh Prof Wiranto Arismunandar, mantan rektor ITB. Sebenarnya secara lengkap ada beberapa kalimat, tapi hanya satu itu yang paling saya ingat. Tentu diingat bersama tulisan di tugu sebelahnya: 'Sekali teman tetap teman', yang ini mungkin maksudnya solidaritas tapi malah sering dibercandai mahasiswa sebagai friendzone.

sumber: aryansah.wordpress.com


Walaupun mengingatnya, saya pribadi merasa kalimat itu terlalu berat untuk mahasiswa dan baru merasakan manfaatnya beberapa tahun setelahnya. Saya merasa dalam dunia profesional orang boleh tidak tahu tapi tidak boleh diam tanpa jawaban sama sekali. Yang diharapkan dari seseorang ketika mendapat pertanyaan atau tantangan adalah, ya jawaban. Entah itu bentuknya inquiry, target, request, atau apapun mesti ada jawabnya. Jika harus menjawab tidak tahu atau belum mampu memenuhi target yang ditetapkan, sebisa mungkin dapat menjelaskan kenapa, apa yang salah, dan apa yang bisa dilakukan supaya lebih baik lain waktu. 

Lagipula semakin menua semakin sadar bahwa yang dicari bukan kesempurnaan. Ini mungkin salah satu prinsip penting yang saya pelajari selama kuliah. Reasoning dan limit adalah hal yang banyak ditekankan terutama di semester-semester akhir. Beda dengan TPB yang banyak tugasnya mengejar nilai 100, di semester akhir-akhir justru ditunjukkan dunia nyata tidak bekerja seperti itu. Ada limit atas sesuatu: material akan patah pada batas tertentu, bahan bakar akan habis setelah jarak atau waktu tertentu, beberapa unsur tidak bisa disatukan, menambah fitur sama dengan menambah kerumitan dan biaya, etc etc. Pemahaman seperti ini di-drill terus menerus sampai terbiasa. Menurut saya inilah fungsinya universitas, membentuk cara berpikir dan menjawab. Saya yakin ini juga diajarkan di kampus-kampus lain, nggak ekslusif di tempat saya belajar. Yang saya syukuri adalah di ITB gagasan ini tertuang sampai level 'ideologi' berupa Plaza Widya Nusantara tadi.


Kembali ke bahasan buku The Culture Code dan isinya. Bagi kalian yang suka dengan karya Malcolm Gladwell seperti Blink, Outliers, dan Tipping Point, saya jamin cocok membaca buku ini. Risetnya sama mendalam, cara penyampaiannya serupa, hipotesisnya menarik, penarikan kesimpulannya bold, dan melibatkan riset di perusahaan dan tim ternama seperti Navy SEALs, San Antonio Spurs, sampai IDEO.

Tapi ada hal yang menurut saya kurang dibahas dalam buku The Culture Code ini. Jadi buku ini berbicara tentang faktor tak terlihat yang mendasari hubungan antar manusia dalam sebuah kelompok, faktor tersebut dinamai cue. Cue ini yang sehari-hari sering kita bilang sebagai kesan, chemistry, frekuensi, atau (se)kufu'. Penulis menjelaskan dengan baik apa itu cue tapi tidak cukup menjabarkan darimana datangnya cue ini. Apakah kesamaan suku dan bahasa? Apakah faktor pernah sekolah di tempat yang sama? Apakah karena kesamaan generasi/usia? Atau apa? Lalu saya juga tidak menemukan jawaban apakah 'warna' cue ini bawaan atau bisa kita ubah sesuai keadaan.

Terakhir tentang jargon dan motto. Kalau di Indonesia, corporate motto yang kena di saya adalah "Benar Sejak Awal". Sederhana banget kalimatnya tapi kalau dipikir baik-baik dan dilakukan semua orang efeknya bisa sangat besar bagi sebuah institusi: menghindari perulangan kerja, mengurangi koreksi yang tidak perlu, memastikan on-time delivery, menjaga kondisi mood team, dan pada akhirnya semestinya bisa meningkatkan performa.

Mari senantiasa belajar, semoga dimudahkan.
Sekian dan terimakasih..

Salam,
Chandra

Permanent Record

February 24, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya sedang baca buku Permanent Record karya Edward Snowden. Snowden mengambil judul itu sebagai representasi bahwa hal yang pernah kita produce secara digital akan terekem semuanya, selamanya. Foto yang pernah diupload di instagram, kalimat yang dipost di twitter, komentar di video youtube, artikel di blog, jawaban di quora, file yang dibackup ke cloud, foto yang ada di handphone (dengan izin akses galeri pada instagram), dan lain sebagainya. Menghapus konten itu hanya membuatnya tersembunyi orang lain, tapi tidak ada jaminan benar-benar hilang. Konten private seperti chat whatsapp dan email pun terekam. Jangankan itu, perilaku online kita yang intangible saja disimpan. 


Frustrasi kalau memikirkan fakta bahwa kita semua direkam dan diawasi setiap saat. Ketika semua hal terkoneksi dan berbasis digital, rasanya sudah tidak mungkin mengharapkan data kita benar-benar milik kita. Yang kita bisa harapkan semoga data-data penting tidak jatuh ke tangan yang salah dan disalahgunakan sehingga menyebabkan gangguan keamanan atau kerugian finansial. Kita terlalu powerless untuk mengubah kondisi itu, tapi tidak untuk Edward Joseph Snowden, system administrator CIA dan NSA yang punya akses ke sistem top secret intelejen Amerika. Ia tergerak untuk berkorban menjadi whistleblower yang melaporkan kepada jurnalis tentang penyalahgunaan wewenang pemerintah Amerika yang melakukan mass surveillance. Itu bukan tanpa resiko, sekarang ia menjadi eksil dan tinggal dengan suaka di Moskow bersama istrinya.

Kita sudah rutin membuat jejak digital, let's say, sejak 2007. Sebagian mungkin sebelum itu terutama yang sudah punya akses internet lebih awal. Sebagian besar platform yang kita pakai adalah buatan Amerika: Facebook, Google (termasuk YouTube), WhatsApp, Instagram, Twitter, Amazon, dll. Maka kita bisa assume bahwa walaupun kita bukan siapa-siapa tapi data kita ikut dicollect sama mereka. Inilah sebabnya ada ketegangan antara Amerika dan China soal Tiktok, Huawei, produksi chip, dan semacamnya. Buat mereka ini bukan cuma perkara bisnis tapi juga national security, intelejen, dan penguasaan wilayah.

Aksi yang dilakukan Snowden ini bukan terjadi baru-baru ini. Ia come out dengan data-datanya pada 2013 saat bertemu jurnalis Glenn Greenwald, Laura Poitras, dan Ewen MacAskill. Bayangkan saat itu saja surveillance sudah sangat masif, apalagi sekarang saat kehidupan digital dan nyata sudah semakin sulit dipisahkan. Buku ini adalah memoir paling lengkap yang membahas peristiwa whistleblower Edward Snowden, tapi ada alternatif lain yaitu dua film yang bisa ditonton: Citizenfour (2014) dan Snowden (2016). Silakan ditonton untuk tahu lebih banyak tentang aksi heroik ini.

I used to work for the government, but now I work for the public - Edward Snowden
Saya coba mereka-reka, andaikan ada pihak yang mengambil data-data saya, gambaran apa yang akan mereka dapatkan soal saya. Kalau hanya dari Facebook dan Twitter sih tidak terlalu risau. Paling yang bisa didapat dari sana adalah apa hobi saya, siapa teman-teman saya, di mana saya sekolah dan tinggal (kota), apa pendapat saya soal beberapa isu, klub olahraga favorit saya, dan paling sama seberapa memalukan tipografi saya di jaman-jaman awal sosial media. I can live with that, toh konten yang saya post disana saya keluarkan secara sadar dan saya tahu akan dilihat orang.

Tapi yang 'bahaya' adalah email. Email adalah sebenar-benarnya saksi bisu perjalanan hidup. Saya punya 2 email utama yang saya pakai sejak SMA dan kuliah. Email tahu kegiatan saya saat sekolah, cerita mendaftar kuliah (di tulisan soal UKT saya ambil evidence dari email), profil sosmed yang pernah saya buat, invoice barang yang pernah saya beli dan tiket yang pernah saya pesan, event yang pernah saya hadiri, pekerjaan yang pernah saya apply (termasuk attachment dokumen), kerjaan freelance dan part time yang pernah saya garap, slip gaji, tagihan telepon, sertifikat seminar & tes bahasa, file tugas akhir, rangkuman perjalanan ojek online, sampai urusan asmara pun ada disana hahaha. Email itu private, jadi jelas isinya jauh lebih personal. Ibaratnya twitter itu ruang tamu sementara email adalah kamar tidur. 

Tapi ya beginilah era teknologi. Teknologi yang interconnected membuat kita berada di bawah massive surveillance, sulit untuk lepas dari itu. Batasan dunia nyata dan maya sudah semakin kabur, jauh lebih kabur daripada jaman handphone masih nokia candybar dulu. Bahkan mungkin sekarang sudah tidak ada maya dan nyata, sudah ngeblend jadi satu. Begini deh, kamu lebih khawatir mana, membiarkan orang asing berada di rumahmu sendirian selama satu jam atau membiarkan dia mengakses handphonemu unlocked selama satu jam? Apa yang ada di smartphone bisa lebih penting daripada yang ada di dalam rumah. 


Thanks,
Chandra

Waktu untuk Buku

January 04, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya pikir reward terbesar setelah berhasil menyelesaikan buku-buku ini selama 2023 adalah penemuan bahwa 'oh ternyata aku masih punya waktu buat kebiasaan-kebiasaan baru ya'. Dulu saya kira 24 jam ini kurang, dari bangun sampai tidur lagi berasa sudah penuh. Tapi awal tahun lalu saya buat resolusi untuk rutin baca buku,  membuat review singkat, lalu berusaha mendisiplinkannya. Entah porsi aktivitas apa yang ter-replace, mungkin waktu tidur sedikit berkurang, atau jam-jam nunggu sesuatu yang sebelumnya dihabiskan memandang layar HP jadi diganti dengan buku. Waktu mengikuti kaidah zero sum game, jumlahnya selalu tetap yaitu sehari 24 jam. Jadi kalau ada kebiasaan baru yang masuk, konsekuensinya pasti ada hal lama yang tergusur.

Karena itulah, sekarang terasa basiannya berupa rasa mau cari dan baca buku lagi dan lagi. Tapi yang lebih dahsyat dari itu ada semacam optimisme yang muncul bahwa kalau di tahun lalu bisa garap sesuatu yang baru, tahun ini mestinya bisa juga dong. 

Optimisme tadi itu terasa lebih hangat bahkan daripada buah-buah yang bisa saya petik dari buku yang saya baca. Padahal buah-buah itu juga sudah terasa manis, setiap buku seperti ngasih saya satu atau beberapa senjata baru. Seperti yang dinasehatkan, orang yang senjatanya hanya palu, akan memperlakukan segala hal seperti paku. Nah buku-buku ini ada yang ngasih saya cangkul, sendok, pisau, bantal, kursi, dan lain sebagainya. Feeling more complete, bener kalau dibilang buku adalah suplemen untuk pikiran. Terima kasih untuk para penulis, jasamu abadi.


Kalau kamu lagi bergelut dengan pekerjaan dan merasa lelah coba baca The Good Enough Job, ini terbaik diantara semua yang ada disini menurut saya. Kalau lagi butuh healing baca The Comfort Book. Kalau lagi pengen ketawa receh baca bukunya Agus Magelangan, kalau ketawa yang berbobot bukunya Chris Atkins itu bagus banget juga. Mau emotional exercise dari novel melayu saya rekomendasikan Anak Rantau & Brianna dan Bottomwise. Mau insyaf tipis-tipis, Seni Merayu Tuhan. Mau marah sama pemerintah, Animal Farm. Kamu vet atau punya kenalan vet, saya rekomendasikan bukunya James Herriot, di tumpukan itu yang paling atas. Mau cerita founder-startup-delusional-fake-it-till-you-make-it, baca Bad Blood.

Saya sekarang juga jadi punya rule of thumb, sebuah buku enak dibaca kalau rating Goodreads-nya lebih dari 4.00. Kalau kurang dari itu biasanya agak berat membereskannya, setidaknya buat saya. Lalu untuk buku dari penulis luar, jauuuh lebih baik baca versi English-nya daripada terjemahan. Harga asli memang mahal, solusinya beli aja di Big Bad Wolf di kotamu. Review singkat dari buku-buku di atas ada di highlight instagram saya. Mohon maag jika desain template-nya kurang oke dan nggak konsisten, saya nggak ahli desain.

So 2024, what do we do next?

Salam,
Chandra



Reclaiming Life from Work

October 19, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments


Dulu saya pikir cara untuk tetap waras menghadapi tekanan pekerjaan adalah dengan memiliki aktivitas lain di luar itu seperti main game, baca buku, olahraga, atau liburan dalam jumlah yang cukup. Tentu itu bisa membantu, tapi dari buku ini saya menemukan bahwa ada satu hal yang sering terlupa yaitu memiliki hubungan baik dengan pekerjaan itu sendiri. Bukan hanya dengan orang-orangnya, tapi juga dengan waktunya, aktivitasnya, tuntutannya, dan dinamikanya.

Game, olahraga, dan liburan adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran pekerjaan. Menenggelamkan diri padanya bisa sejenak menghilangkan stres dengan cara mengambil alih fokus kita menjauh dari pekerjaan. Tapi ketika sudah kembali bekerja, ya bisa buneg lagi. Kita butuh sesuatu in-house yang bisa jadi penolong. Salah satunya adalah memastikan pekerjaan masih dalam kontrol kita, bukan pekerjaan yang mengontrol kita. Sebelumnya saya sempat menulis tentang orang-orang yang konsisten salat tepat waktu di tengah kesibukan. Salah satu faktornya adalah mereka menguasai apa yang mereka lakukan. 

Baca juga: Prioritas

Banyak hal menarik yang bisa diambil dari buku The Good Enough Job. Saya merasa tidak cukup kalau hanya dituangkan dalam dua halaman review di story instagram. Di sampul buku ini tertulis jelas 'Reclaiming Life from Work'. Terdengar seperti ajakan untuk mengurangi bekerja ya. Faktanya kita sudah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk satu hal saja, yaitu pekerjaan. Sampai lupa bahwa kita punya fungsi lain yaitu sebagai anggota keluarga, saudara, tetangga, anggota komunitas, umat beragama, dll. Jadi sedikit menarik diri dari pekerjaan dan membagi fokus dengan lebih berimbang akan menjadikan kita better human, lalu pada gilirannya better employee.

Ditambah lagi, menggantungkan diri pada satu hal saja bukanlah hal yang bijak. Terlalu fokus pada pekerjaan menjadikan kita adalah pekerjaan tersebut. Takutnya kalau terjadi sesuatu pada satu hal itu kita kehilangan pegangan dan jatuh. Itulah kenapa di beberapa tempat orang yang akan pensiun diberikan pelatihan keterampilan. Harapannya supaya mereka tidak kosong ketika pensiun nanti. Bukan cuma masalah duit atau waktunya, tapi sampai di level kepercayaan diri dan anggapan terhadap identitas dirinya.

'Bekerja' di buku ini bisa diartikan secara luas ya, bukan hanya karyawan/buruh. Presiden juga bekerja. Petani dan pedagang juga bekerja walaupun mereka sendiri juga bosnya jika yang digarap sawah dan toko sendiri. Founder start-up, either dibiayai SoftBank, BlackRock, atau ayah sendiri, juga bekerja. Profesi yang diwawancara oleh penulis ranging dari pemuka agama, jurnalis yang menapaki karir dari majalah kampus hingga media internasional, investmen banker yang menjadi salah satu managing director termuda, juru masak yang kemudian mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi CEO, software engineer google yang tidur makan mandi di kantor, sampai anak agency. Penulis sendiri, Simone Stolzoff adalah ex-design lead di IDEO. 


Seperti yang saya tulis di instagram, para ambis itu pada satu titik kehilangan kenikmatan dari apa yang dikerjakan. Sebagian dari mereka memutuskan resign dan mencari 'kehidupan' yang lain. Ini tidak semudah kelihatannya, karena selama bertahun-tahun mereka telah menempelkan identitasnya pada pekerjaan yang dilakoninya. Yang tadinya koki, setelah resign tidak tahu lagi siapa dirinya. Sebagian lagi membuat batasan baru antara dirinya dan pekerjaannya. Si software engineer tidak mau lagi menyebut dirinya Googler, menggantinya dengan 'orang yang kerja di Google'. Dia juga memutuskan sewa apartemen.

Setiap bab dalam buku ini mempunyai satu sosok sentral yang diceritakan dan menjawab satu mitos dalam hubungan manusia dan pekerjaannya.

Bab 1: For What It's Worth - on the myth that we are what we do
Bab 2: The Religion of Workism - on the myth that your job can be your God
Bab 3: The Love of Labor - on the myth of dream jobs
Bab 4: Lose Yourself - on the myth that your work is your worth
Bab 5: Working Relationship - on the myth that workplace can be family
Bab 6: Off the Clock - on the myth that working more hours always leads to better work
Bab 7: Work Hard, Go Home - on the myth of cushy office perks
Bab 8: The Status Game - on the myth that status equals success
Bab 9: A World with Less Work - on the myth of personal boundaries

Menarik bukan? Selesai baca buku ini rasanya pengen fafifuwasweswos di reply twit hrdbacot wkwk.

Banyak hal baru yang saya tahu dari buku ini, misalnya istilah Integrator dan Segmentor dalam mengkategorikan pekerja. Integrator adalah yang mencampur waktu bekerja dengan kegiatan pribadinya. Pagi buka laptop dulu, lalu ditinggal antar anak sekolah, balik kerja lagi, siangnya benerin kipas angin, sorenya standby sambil nyiramin halaman, malam hari waktu anak istri sudah tidur kalau masih ada kerjaan buka laptop lagi. Sementara segmentor tegas soal batas, bekerja dari jam 9 sampai setenah 6 sore tanpa aktivitas sambilan, tapi di luar itu tidak menyentuh kerjaan lagi. Dua tipe ini perlu cara handling yang berbeda, kamu yang mana?

Banyak insight yang saya dapat dari buku ini yang saya rasa akan berguna dalam pekerjaan saya (atau untuk wawancara kerja berikutnya hehe). Seperti resep kenyamanan dalam bekerja ternyata adalah terlindunginya waktu luang pekerja. Ini bisa diwujudkan dengan andil dari government (regulasi), perusahaan (budaya), dan diri sendiri (keputusan personal). Jika ingin lompat ke pekerjaan baru, ukur apakah waktu luangmu lebih terlindungi atau tidak. Termasuk jika ingin ubah haluan untuk mencoba entrepreneur atau freelancing.

Definitely kandidat buku terbaik tahun ini. Buat yang saat ini sedang lelah lahir batin setiap selesai bekerja, tratapan kalau dengan notif Teams, Slack, atau WA, atau terjebak dalam hustle culture berlebihan cocok untuk baca ini. Buku ini juga meng-acknowledge bahwa lebih cocok untuk dibaca sebagian orang daripada sebagian yang lain. Penulis menjelaskan bahwa latar yang diambil adalah korporat Amerika dengan keyakinan bahwa kondisi yang sama banyak terjadi terutama di kota-kota besar. Jadi untuk budak korporat Jkt, Sby, Smg, Bdg, Jog, dll sih termasuk must read.

Terakhir, buku ini mudah untuk dibaca. Halaman pertama dibuka dengan kisah obrolan nelayan dan businessman yang sudah diceritakan ulang dimana-mana. Baca cerita itu membuat langsung tahu apa sih yang mau disampaikan buku ini, dengan caranya yang ringan.



Thanks,
Chandra









Crime-y

July 07, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Salah satu film favorit saya sepanjang masa adalah The Shawshank Redemption. Bercerita tentang mengapa dan bagaimana seorang narapidana kabur dari penjara dengan cara yang sangat brilian dan tak diduga oleh siapapun. Kisah Andy (diperankan Tim Robbins) dan Red (diperankan Morgan Freeman) selama di penjara sangat menguras emosi. Sudah itu lalu ditutup dengan ending yang menurut saya salah satu terbaik yang pernah saya tonton dari sebuah film.


Untuk serial, beberapa yang saya ikuti seperti White Collar, Prison Break, OMITB, dan Suits. Beberapa season atau episode bahkan saya tonton berulang. Not necessarily saya suka atau terinspirasi dengan sosok yang terlibat kejahatan. Yang membuat saya tertarik adalah trik-trik cerdik yang dilakukan oleh pemainnya, siapapun itu dan apapun posisinya. Tokoh yang paling moncer pikirannya dan paling luas wawasannya biasanya yang jadi favorit saya. Misal Mozzie di White Collar yang menurut saya sama pentingnya dengan Neal, meskipun kocak dan lebih sering di belakang layar, tapi terobosan-terobosannya sering jadi kunci pemecahan kasus. Scofield di Prison Break dengan masterplan-nya yang sangat rapi juga dapat dua jempol dari saya.

Baca juga: Crime Series XI

Sebenarnya sejak kecil saya sudah suka tokoh detektif, dimulai dengan Conan, sudah mengoleksi komiknya sejak SMP. Kini saya juga baca beberapa buku bertema crime. Tahun ini saya sudah baca The Bomber Mafia dan Heist. Yang pertama itu lebih tentang sejarah, tapi juga ada cerita soal perangnya, a kind of violence. Heist itu ditulis berdasarkan kisah nyata perampokan perusahaan pengirim uang di Amerika. Terbaru kemarin saya ke BBW Bandung beli Bit of a Stretch: The Diaries of a Prisoner.


Kalau di YouTube ada channel yang saya sangat suka tapi lama tidak upload, kabarnya karena creatornya sakit, nama channelnya Kento Bento. Saya juga ikuti channel The Infographic Show, terutama bahasan soal crime atau heist. Film adaptasi novel Agatha Christie? mainkan. I saw Hercule Poirot then I clicked. Knives Out dan Glass Onion juga saya kasih nilai tinggi. 

Membaca atau menyimak cerita-cerita detektif atau kriminal membuat saya merasa berperan menjadi tokohnya. Walking on their shoes. Bisa sebagai pahlawannya, bisa sebagai villainnya. Seperti anak kecil yang berpikir berurusan sama penculik seru gara-gara nonton film Sherina, tapi tahu bahwa akan repot kalau mengalaminya di dunia nyata.

Jadi yok kalau ada tontonan atau bacaan serupa dengan any yang saya sebutkan di atas, tolong beri tahu saya.

Chandra

pict: 
1. themoviedb.org
2. instagram @chandranrhmn

Derajat Kekacauan, Beberapa Perubahan Tidak Bisa Dibalik

June 13, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya belum selesai baca buku ini, mungkin baru 70%. The Uninhabitable Earth ini membahas pemanasan global secara mendalam, sayangnya terjemahannya kurang luwes jadi agak kesandung-sandung bacanya. Tapi sampai titik ini pun sudah banyak poin yang saya dapat. Satu diantaranya sudah saya tulis di postingan sebelumnya tentang wet bulb temperature. Kali ini saya dapat insight tentang bagaimana pemanasan global ini (bisa jadi) tidak bisa dicegah lagi dan suhu bumi akan terus naik.


Dalam Paris Agreement tentang global warming, disepakati target untuk menekan kenaikan suhu global well below 2 derajat, kalau bisa 1.5 saja. Dalam berbagai jurnal para ilmuwan juga memperkirakan suhu bumi akan naik sekian derajat. Intinya, mindset kita sekarang adalah menahan laju kenaikan suhu bumi, bukan lagi mengurangi suhu bumi. Kenapa? Karena mengurangi suhu bumi bisa dibilang mustahil.

Sebabnya, kita sebagai makhluk hidup untuk sekedar hidup saja sudah pasti mengeluarkan emisi karbon. Kalau kita beraktivitas menggunakan kendaraan bermotor, sudah jelas ada gas buang disana. Misalnya pun semua orang di dunia dipaksa untuk diam di rumah saja, minimal tetap akan ada carbon trail dari makanan yang dikonsumsi. Daging merah mengeluarkan metana, sayur dan buah diangkut dari ladangnya sampai ke warung sayur dekat tempat tinggal kita dengan pickup bermesin bensin, bahkan nasi yang kita makan digiling menggunakan penggilingan berbahan bakar fosil. Kecuali manusia bisa berfotosintesis, untuk sekedar makan demi menjaga tetap hidup saja manusia mengeluarkan sejumlah emisi.

Kalau ada aplikasi penghitung intake kalori, mungkin kita perlu juga aplikasi untuk melihat berapa besar carbon trail yang kita sebabkan setiap harinya. Jadi setiap pagi sebelum mulai beraktivitas kita sadar bahwa ada sejumlah tertentu karbon yang perlu kita offset untuk sekedar membuatnya impas, untuk sekedar bisa mengklaim bahwa kita tidak berkontribusi pada pemanasan global sepanjang hari ini.

Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, raduce-reuse-recycle sampah, menggunakan bahan-bahan alami menggantikan produk sintetis pabrik, menanam pohon, berternak, dan lain sebagainya adalah upaya untuk meminimalisir 'hutang' kita pada bumi dan anak cucu nanti. Sudah ada beberapa contoh sustainable living seperti ini, namun masih pada skala individu dan komunitas kecil. Salah satu yang pernah saya lihat langsung adalah Pak Iskandar Waworuntu dengan Bumi Langit dan Permaculture-nya

Baca juga: Bumi Langit (Lagi)
note: pardon, ditulis waktu masih kuliah

Balik ke The Uninhabitable Earth, upaya individu masih bisa dilakukan. Tapi untuk punya efek yang cukup guna menahan laju pemanasan bumi, ini harus dilakukan secara kolektif. Kekuatan yang bisa mendorong kolektivitas di sini adalah politik dan ekonomi. Jadi ketika pemanasan global sudah mengganggu stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar, bisa jadi saat itu lah baru akan ada gerakan yang lebih konkret daripada Perjanjian Paris. Takutnya saat itu terjadi semuanya sudah terlambat.

Jangankan nanti, saat ini saja pemanasan global ini sudah very unlikely untuk dihentikan. Suhu akan terus naik, tinggal seberapanya yang bisa kita usahakan. Kita kudu menerima bahwa beberapa hal memang tidak reversible. Membaca bagian ini saya jadi teringat materi kuliah termodinamika tentang entropy. 

Entropi ini adalah satuan kimia yang menunjukkan suatu reaksi bisa terjadi atau tidak. Reaksi kimia baru bisa terjadi jika dan hanya jika entropinya positif. Kalau negatif, tidak bisa. Ini juga menunjukkan beberapa reaksi tidak reversible, A ke B dengan entropi (+) bisa berlangsung, tapi jika B ke A punya entropi (-) maka itu tidak mungkin terjadi. Kondisi A ke B tidak reversible. 

Entropi juga disebut degree of disorder atau degree of randomness, atau kalau dosen saya menjulukinya derajat kekacauan. Hukum II Termodinamika mengatakan bahwa entropi selalu bertambah seiring berjalannya waktu. Kekacauan yang selalu bertambah dan perubahan yang tidak bisa dibalik, persis kaya bumi dan penghuninya.

Tapi ada satu hal positif yang ditulis David Wallace-Wells dalam bukunya. Yaitu karena perubahan suhu bumi ini dipengaruhi oleh aktivitas manusia, manusia juga punya kontrol untuk menanganinya. Jadi kita tidak sepenuhnya tak berdaya menghadapi pemanasan global. Suhu memang akan makin panas, tapi bisa saja manusia beradaptasi dengan itu berkat gerakan kolektif dan perkembangan teknologi. 

Bumi ini bukan tinggalan nenek moyang untuk kita, tapi kita pinjam dari anak cucu. Apa yang kita hasilkan sekarang bisa jadi yang memanen bukan kita tapi mereka. Manusia diamanati untuk mengelola bumi dalam tugasnya sebagai 'khalifah', jadi berhasil tidaknya kita, punya konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekedar merasa kegerahan di bumi, pertanggungjawabannya langsung pada Sang Pencipta.

We're together on this. Pemanasan global itu kena satu kena semua.


Chandra

Kenapa Hari-hari ini Sumuk ya?

June 01, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Sumuk adalah istilah dalam bahawa jawa yang artinya gerah. Saya rasa kita bisa sepakat bahwa sekitar satu setengah bulan terakhir cuaca di Indonesia sedang panas dan gerah. Kombinasi suhu dan kelembaban tinggi membuat badan kurang nyaman. Kita jadi mudah berkeringat dan rawan bau badan jika kurang menjaga kebersihan. Tapi kalau baca buku Bumi yang Tak Dapat Dihuni (The Uninhabitable Earth) karya David Wallace-Wells, efek dari naiknya suhu karena pemanasan global bisa jauh lebih buruk daripada sekedar bau badan.

Tapi itu nanti, saya mau mulai dari yang berhubungan dengan yang kita rasakan sehari-hari. Kenapa sih kita yang tinggal di daerah tropis banyak berkeringat dan sering merasa gerah? Di buku The Uninhabitable Earth saya menemukan istilah wet bulb temperature yang setelah saya browsing ternyata bisa menjawab beberapa pertanyaan.

source: JH Cooling Machine

Wet bulb temperature (WBT) adalah suhu yang terukur dari termometer yang bagian bulb-nya ditutup kain basah kemudian dilewati udara (airflow). Dengan ditutupkan kain basah ini, termometer mereplikasi sistem pendinginan tubuh manusia yang terjadi dengan mengeluarkan keringat atau biasa disebut evaporative cooling. Karena ada fungsi cooling di sini, suhu yang terukur di WBT akan lebih rendah daripada dry bulb temperature, yaitu ketika termometer tidak dipasang apapun, ya seperti cara kita biasanya mengukur suhu pakai termometer merkuri.

Pertanyaannya, seberapa banyak selisih antara wet bulb dan dry bulb temperature? Ini dipengaruhi oleh kelembaban. Kelembaban adalah ukuran berapa banyak air yang ada di udara, semakin banyak air maka dikatakan kelembaban semakin tinggi. Semakin tinggi kelembaban, semakin susah evaporative cooling untuk terjadi karena 'ruang' untuk tambahan uap air sudah sedikit. Semakin sedikit cooling, semakin tinggi suhu yang dirasakan oleh sistem termometer yang ditutup kain basah tadi, yang mana ini menggambarkan bagaimana kita manusia semakin gerah ketika kelembaban udara tinggi.

Jadi barangkali di suatu hari suhu di Jakarta dan Tokyo sama-sama 30 derajat celcius. Tapi kelembaban di Jakarta 75% sementara Tokyo 30%. Dalam kasus ini, 30C di Jakarta terasa lebih gerah daripada di Tokyo. Ukuran kelembaban dalam persen ini disebut relative humidity. Jika relative humidity mencapai 100% maka pengukuran wet bulb = dry bulb karena pada sistem wet bulb tidak bisa lagi ada penguapan. Sebaliknya jika ada di angka 0%, penyerapan moisture akan lebih cepat sehingga apparent temperature (temperatur yang dirasakan) manusia semakin rendah/dingin.

Salah satu mekanisme kerja air conditioner (AC) adalah mengurangi kelembaban udara sehingga kita tidak merasa gerah. Tapi efek sampingnya kulit jadi terasa kering kalau terlalu lama berada di ruang ber-AC. Jadi temperatur dan kelembaban udara bersama-sama menentukan seberapa gerah kita rasakan. Sebenarnya kelembaban agak tinggi pun asal suhunya masih dingin tidak masalah. Karena saat masih dingin kita belum butuh-butuh banget dengan evaporative cooling.

Angka dry bulb temperature, wet bulb temperature, dan kelembaban dapat dihubungkan satu sama lain. Dari sisi yang lain, ilmu kedokteran memberikan data seberapa panas yang aman dan berbahaya bagi manusia. Jadi pada batas tertentu, jika suhu dan kelembaban terlalu tinggi secara bersama-sama, efeknya bukan lagi nyaman-tidak nyaman tapi sudah taraf membahayakan keselamatan. Ada tabel heat index untuk mempermudah melihat amankah aktivitas kita dalam hubungannya dengan temperatur dan kelembaban.

source: researchgate


Banyak pertanyaan lain yang bisa terjawab dengan konsep wet bulb temperature ini. Misalnya kenapa kalau selesai mandi atau baru keluar dari kolam renang kita merasa dingin. Itu karena badan kita yang tertutup air membuat kita jadi seperti termometer yang ditutup kain basah. Sebagian air memang jadi kering karena handuk, tapi sebagiannya lagi menguap sambil mengambil energi panas tubuh. Atlet berbagai cabang olahraga menyiramkan air ke muka atau badan untuk alasan yang sama juga.

Kembali ke buku The Uninhabitable Earth dan kenapa kita bicara lebih luas dari sekedar masalah bau badan. Dengan laju emisi yang ada saat ini, ada kemungkinan pada tahun 2100 suhu bumi akan lebih tinggi 2-4 derajat celcius dibanding sekarang, ada yang bilang lebih tinggi lagi bahkan. Kenaikan beberapa derajat ini bisa jadi membawa kita melewati batas antara livable dan tidak karena jika terlalu panas muncul ancaman heat stroke. Jadi ada potensi banyak tempat di daerah tropis (yang kelembabannya tinggi) akan tidak lagi bisa dihuni.

Kalau yang diusik hanya kenyamanan, mungkin kita akan lupa ketika nanti malam yang dingin di musim hujan sudah datang. Tapi kalau ada kesadaran bahwa kenaikan suhu ini hubungannya dengan keselamatan, seharusnya banyak gerakan kolektif yang dilakukan untuk memperlambat laju pemanasan global. 

Tentang wet bulb temperature dan lainnya, maaf kalau ada penjelasan yang meleset, mungkin fellow chemical engineering grad bisa lebih baik dalam menjelaskan.

Terimakasih, semoga ada manfaatnya.

source: JH Cooling Machine


Chandra

Seni Merayu Tuhan: Podcast Dalam Bentuk Tulisan

January 31, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Salah satu influencer (kalau tidak ingin disebut ulama) yang sedang saya ikuti adalah Habib Husein Ja'far Al-Hadar. Saya pendengar setia podcast Berbeda Tapi Bersama (BTB) di Noice dan subscriber YouTube Jeda Nulis. Saya juga menyimak obrolan beliau di podcast/video dari creator lain seperti SportCast77 yang ngomongin bola, Berizik waktu Habib bicara musik, sampai PWK yang obrolannya kemana-mana. Rasanya seperti berpahala ketika nyimak apa yang disampaikan oleh seorang cucu Kanjeng Nabi walaupun soal Juventus atau sebuah warung sate di Ciputat .

Saya cukup sering mendengarkan beliau sampai terbayang cara bicaranya. Ketika baca buku Seni Merayu Tuhan ini saya yakin bahwa ini karya beliau dan mungkin tidak banyak diedit. Pilihan diksinya sama dengan ketika beliau bicara. Koma-koma di tengah kalimatnya (agak banyak) persis seperti tempat pemenggalan kalimat ketika beliau ucapkan secara lisan. Kalau audiobook itu buku yang diperdengarkan, kalau ini seperti ceramah yang dituliskan, sudah ada istilahnya belum ya?

Beberapa minggu yang lalu Habib mengunggah sebuah story di instagram bahwa untuk yang membeli buku Seni Merayu Tuhan atau Ada Tuhan di Hatimu di toko Warung Sejarah RI maksimal hari itu akan mendapat tanda tangan basah dari beliau. Sayangnya saya melihat story tersebut satu hari sesudahnya, otomatis 'promo' itu sudah lewat. Tapi dari situ saya yang sebelumnya merasa cukup dengan mendengar dan belum tertarik dengan bukunya jadi terpikir untuk beli salah satu.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saat membaca buku Seni Merayu Tuhan di kepala seperti sedang memakai headset mendengar ceramah atau interview Habib Husein. Antara konten digital dan konten tulisan sangat seragam. Akhirnya buku ini dengan mudahnya dapat saya telan layaknya sebuah podcast. Beberapa isinya juga sudah pernah saya dengar beliau katakan dalam konten digital.

Seperti biasanya dalam podcast/interview, Habib Husein menekankan bahwa Allah itu cinta keindahan maka kita sebagai hamba harus menjaga akhlak yang indah dan baik termasuk pada orang yang berbeda bahkan menyakiti. Dalam beragama kita harus rasional, seperti yang banyak termaktub dalam Al-Quran mengenai pentingnya akal. Judul dari setiap bab mewakili poin-poin yang ingin disampaikan oleh Habib:

Beragama dengan Cinta: Merayu bukan Mendikte
Beragama dengan Keberagaman: Memberi Solusi bukan Menghakimi
Beragama dengan Akhlak: Mengajak bukan Mengejek
Beragama dengan Tulus: Ikhlas bukan Culas

Sebuah paragraf dari buku Seni Merayu Tuhan:
Kita dididik untuk bijak menyikapi perbedaan itu, yakni memilih salah satu pendapat untuk dipegang, tapi dengan kerendahan hati tanpa merasa kita pasti benar dan dengan pandangan bahwa yang berbeda belum tentu juga salah.



Chandra


Brianna dan Bottomwise: Warm as Always

January 29, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments


Novel yang pertama saya baca sampai selesai adalah Pulang karya Toha Mohtar, tapi itu karena disuruh guru Bahasa Indonesia waktu SMP. Saya memang bukan anak yang tumbuh dengan kebiasaan membaca buku. Novel pertama yang saya selesaikan atas kemauan sendiri dan benar-benar bisa saya nikmati adalah Edensor, Andrea Hirata. Novel itu yang pertama menyadarkan saya bahwa membaca bisa menyenangkan, kalau bukunya tepat candunya bisa setara main game.

Setelah Edensor saya lalu menyelesaikan tetralogi Laskar Pelangi, kemudian diikuti buku Andrea Hirata lainnya. Sampai saat ini mungkin semua bukunya yang bisa ditemui di toko buku sudah saya baca (exclude song book). Terbaru yang saya baca adalah Brianna dan Bottomwise, atau dalam versi bahasa aslinya English, Brianna and Bottomwise. Brianna dan Bottomwise mengambil premis dasar yang menarik, yaitu musik.

Dalam pengantarnya, Andrea Hirata menyampaikan bahwa dia menerima tantangan dari gurunya untuk menulis fiksi mengenai musik, katanya ini suatu bidang yang sulit. Brianna dan Bottomwise adalah jawaban untuk tantangan itu. Novel ini bercerita tentang perjalanan gitar Vintage Sunburst 1960 milik musisi besar John Musiciante. 

Gitar yang pernah tergores tanda tangan Jimi Hendrix ini berpindah tangan dari sang musisi ke gerombolan kriminal, pedagang flea market, pasar maling, chef, hingga ke orang-orang yang sangat jauh dan tidak ada hubungannya sama sekali. Gitar itu hijrah dari panggung-panggung California ke acara kawinan di Pulau Senyap, dari musisi super berbakat hingga pimpinan orkes telinga kuali, dihargai ratusan milyar hingga jadi alat tukar orang kalah judi. 

Tapi di antara perjalanan itu Gitar Vintage Sunburst 1960 telah melalui beberapa tangan berbakat. Sayang meski gitar luar biasa itu sudah sempat singgah di tangannya, nasib belum mengijinkan mereka untuk benar-benar memilikinya. Emotional exercise yang dihadirkan buku ini top class. Di akhir sebuah paragraf Andrea Hirata menulis, mereka yang melupakan mimpi-mimpi akan selalu bangun tidur dalam keadaan kalah.

Kehidupan orang-orang melayu pinggiran tetap jadi resep wajib novel Andrea Hirata. Sadman, Sekonderudin, Jamidin, Kembar Tarobi 1 dan 2, dari namanya saja sudah kelihatan tingkahnya seperti apa. Di sisi yang lain, dituturkan perjalanan pencarian gitar keliling Amerika dari satu state ke state lainnya. Road trip keliling Amerika pakai mobil, sebuah imajinasi yang saya semogakan. 

Ada satu hal yang membuat saya sedikit mengernyitkan dahi. Menulis dua kehidupan total berbeda (Melayu dan Amerika) dalam sebuah buku berbahasa tunggal pasti memunculkan dilema. Bahasa slang tampaknya susah untuk ditransalasi tanpa menghilangkan rasa slang-nya. Misalnya, bagaimana kita membahasa-Indonesiakan "I'm all ears", "aku mendengarkan" atau "aku nyimak" terasa tidak sepenuhnya mewakili. Beberapa translasi nanggung ini membuat saya ingin membaca versi English-nya. 

Di luar dari itu all good. Novel ini adalah novel pertama dari dwilogi Brianna dan Bottomwise. Saya sangat menantikan novel keduanya. Jadi bagaimana akhirnya nasib John Musiciante? Berhasilkah ia mendapatkan kembali gitar sekaligus semangat hidupnya?



Chandra


Pameran Buku Paling Dahsyat

March 12, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya tipe orang yang lumayan suka baca buku tapi malas datang ke pameran buku. Kalau mau cari buku ya ke toko buku aja nggak usah nunggu pameran, begitu pikir saya. Tapi Big Bad Wolf beda, ini bukan sekedar pameran buku tapi bisa jadi tujuan jalan-jalan.

Kabar gembira buat para pemburu buku, tahun ini BBW nggak cuma hadir di Jakarta dan Surabaya seperti tahun-tahun sebelumnya tapi ada juga di Bandung, Jogja, Balikpapan, Makassar, dan Medan. Nggak cuma di Jawa bro sis. Tapi Jakarta tetap jadi yang pertama dan mungkin yang terbesar, karena saya ragu ada gedung sebesar ICE di kota lain.

Ya, BBW Jakarta sebenarnya nggak benar-benar di Jakarta tapi di BSD Tangerang, tepatnya di Indonesia Convention Exhibition (ICE). Tempat yang paling cocok untuk pameran-pameran akbar. Auditoriumnya gede banget, di dalam kawasan elit, dekat dengan Jakarta, akses gampang. Perfect!

Saya datang ke BBW hari ke-3 pameran, tanggal 3 Maret hari Minggu. Agak salah datang hari libur karena ramenya luar biasa. Jauh lebih nyaman seperti yang saya lakukan 2 tahun lalu, BBW Jakarta 2016, yang mana waktu itu saya datang weekday dari jam 00.00 tengah malam sampai subuh. Merdeka leluasa banget milih buku, aisle-nya lengang, bisa sambil baca-baca dikit. Oh ya, pameran buka 24 jam ya.

Kalau kepepet harus datang hari sabtu/minggu/tanggal merah coba pahami psikologi masyarakat. Pengunjung yang memboyong keluarganya kemungkinan datang siang hari dan pulang sorenya. Apalagi kalau ada anak-anak. Terbukti sekitar jam 5-7 malam antrian kasir luar biasa bejubel. Antrian mengular kalau dihitung mungkin sampai 250 meter ke belakang wkwkwk. Saking panjangnya sampai ada petugas bawa tanda “Antrian mulai di sini”.



Saya kemarin datang jam 4 sore, awalnya ingin keluar sekitar jam 7 malam tapi melihat antrian sebegitu rupa jadi nggak minat, mending lanjut belanja. Akhirnya saya keluar jam 9, saat antrian keluarga sudah hampir habis dan pemburu malam belum pada datang. Sarana penunjang kehidupan lengkap kok di dalam, termasuk foodcourt.

Ada banyak cara menuju lokasi BBW Jakarta. Kalau Anda dari luar kota datanglah ke Jakarta atau Tangerang via moda transportasi yang ada. Kalau sudah di Jakarta bisa memanfaatkan taksi online atau konvensional dari manapun Anda berada. Tapi kalau mau lebih hemat disarankan mendekat dulu ke kawasan BSD dengan transportasi umum seperti Transjakarta atau KRL.

Stasiun KRL terdekat dari ICE adalah Stasiun Cisauk yang beberapa waktu yang lalu sempat viral di twitter setelah kecantikannya diupload oleh Pak Sutopo BNPB. Stasiun ini memang tampak lebih modern daripada stasiun KRL lain. Banyak ojek online siap mengantar dari stasiun ini sampai ke ICE dan sebaliknya.

Hub yang menghubungkan jalur Cisauk/Serpong/Rangkasbitung ini dengan kota Jakarta adalah Stasiun Tanah Abang, jadi kalau posisi di kota langsung saja menuju Tanah Abang.

Kalau sudah sampai di ICE, carilah Gate 7 karena ini pintu masuknya. Datanglah di waktu yang tepat biar bisa cepet masuk tanpa harus antri panjang. Nggak usah bawa makanan ke dalam karena akan disita. Alternatif kalau lapar bisa makan di foodcourt dengan harga layaknya makanan mall/event atau keluar gedung cari di luar. Keluar masuk pameran gratis dan tanpa tiket.

Saya nggak tahu kenapa BBW tahun ini kid-friendly sekali. Selain disediakan area permainan, porsi buku dan alat peraga anak di pameran ini bisa dibilang banyak, mungkin sampai 35-40% area. Jatah buku impor jadi berkurang apalagi buku Indonesia juga banyak masuk ke pameran ini. Sebuah penurunan sih menurut saya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tapi tak apalah, mungkin nanti kalau sudah punya anak jadi mensyukuri kondisi seperti ini. Karena sekarang datang sendiri aja jadi nggak tertarik masuk ke area anak.

Karena niat datang ke BBW bukan untuk belanja buku melainkan untuk jalan-jalan, saya tidak  menyiapkan list target buku yang mau dibeli. Prinsipnya saya datang kesana, lihat-lihat, kalau ada yang eyecathcing ambil, kalau kebablasan sampai di luar budget eliminasi beberapa buku lalu kembalikan ke tempatnya.

Kembalikan ke tempatnya ya kalau ada buku yang nggak jadi dibeli biar rapi dan nggak menyulitkan orang yang serius mau beli buku itu. Sekalian meringankan kerjaan para volunteer BBW yang bekerja shift-shiftan selama 11 hari.

Memilih buku mana yang harus dieliminasi bukan urusan gampang karena buku yang dipamerkan di BBW memang kebanyakan best seller internasional. Tapi tentu harus tetap rasional dan ingat bahwa tiga bulan lagi BBW datang ke Bandung. Artinya, sebagai responsible buyer sebaiknya beli buku sejumlah yang habis dibaca dalam 3 bulan saja, besok beli lagi kalau habis.

Saya keluar dengan hanya membawa 12 buku, itupun yang benar-benar untuk saya hanya 7, sisanya titipan dan buku yang memang saya rencanakan untuk diberikan ke orang. Kebanyakan yang saya ambil buku nonfiksi karena lagi tertarik dengan yang semacam time traveller, sejarah manusia, teknologi luar angkasa & interstellar, dan hal-hal yang menjadikan tampak keren kalau kita bisa ngobrol soal itu wkwkwk

Kalau harga buku-buku yang dijual di BBW diplot dalam grafik nantinya akan muncul distribusi normal dimana mayoritas buku dijual antara 70-90 ribu. Kalau dilihat harganya saja memang jadi nggak murah-murah amat walaupun sudah didiskon 60-80% (menurut poster), mending beli di gramedia atau togamas, mungkin ada yang mikir begitu.

Tapi hanya sedikit buku BBW yang bisa didapat di Gramedia, itupun paling versi terjemahan bahasa Indonesianya. Kalau datang ke Periplus atau Books&Beyond mungkin lebih banyak dan versi English, tapi harganya diatas 300 ribu, begitu pula kalau beli online. Jadi worth it banget beli buku di BBW sampai para penyedia jastip banjir orderan gara-gara banyaknya peminat buku-buku berkualitas ini yang nggak bisa datang ke tempat pameran.

Hari ini (12 Maret) BBW Jakarta 2019 sudah berakhir. Untuk kamu-kamu yang belum sempat datang atau yang masih lapar mari sama-sama kita tunggu kehadiran BBW Bandung beberapa bulan lagi.
See you!

Salam,
Chandra

Book Review : Keluarga Cemara Ada Lanjutannya

April 20, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Judul : Keluarga Cemara 2
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017 (Desember, cetakan kedua)
Jml Halaman : 341


Minggu siang yang agak longgar dan saya iseng jalan-jalan ke toko buku. Tanpa sengaja melihat buku Keluarga Cemara 2. Saya baru tahu kalau Keluarga Cemara ada buku keduanya. Akhirnya sampai browsing dan ternyata memang ada, cetakan pertama tahun 2013. Buku yang pertama saya baca sekitar dua tahun yang lalu dan bagus. Bagaimana dengan yang ini ?

Keluarga Cemara 2 masih soal keluarga Abah, Ema, Euis, Ara, dan Agil. Keluarga yang dulunya pengusaha kaya di Jakarta lalu bangkrut karena dicurangi lalu mengasingkan diri ke pedesaan Tasikmalaya. Bagi keluarga ini hanya kejujuran yang bisa menyelamatkan hidup mereka. Ceritanya sangat menyentuh, tentang keluarga dari golongan yang dianggap rendah pada society yang melihat segala sesuatu berdasarkan kepemilikan.

Sebuah kutipan (kredit Arswendo) :

Melalui pembantunya, Tante Pressier akhirnya memberi gantu rugi. Memberikan uang lima ratus rupiah. Euis menggeleng.
"Habis, apa dicetak lagi kalau sudah terbakar?"
"Saya tidak mau."
"O, kamu minta yang baru, ya? Yang dari toko ?
"Tidak. Saya minta tiga ratus lima puluh rupiah."
"Ambil saja semuanya. Saya tidak peduli sisanya."
"Tidak. Saya mau harga sewaktu tempat minum plastik itu saya beli.", ucap Euis.
Keangkuhan Tante Pressier terjotos di pusatnya. Untuk pertama kalinya Tante Pressier merasa dikalahkan oleh seorang anak kecil. Dalam hal yang selalu dibanggakan : uang!

Sudah terbayang bukunya seperti apa ?

Keluarga Cemara 2 adalah kompilasi dari tiga cerita : Tempat Minum Plastik dari Toko, Becak Emak, dan Bunga Pengantin. Sayangnya, kompilasi ini seperti terlalu dipaksakan. Masih oke kalau misalnya ceritanya tidak berhubungan. Tapi di buku ini ada banyak sekali perbedaan fundamental antara bagian 1 dengan bagian 2-3nya. Sekilas saja bisa dilihat font-nya berbeda, format penulisan judul juga berbeda, impresi cerita berbeda, tapi yang parah adalah perbedaan penggunaan kata Ema (bagian 1) dan Emak (bagian 2-3). Rasanya seperti bagian 1 adalah lanjutan dari buku pertama yang tertinggal sedangkan 2-3 adalah kisah yang lain walaupun masih soal keluarga ini.

Kalau dibandingkan buku pertama masih lebih menyenangkan yang pertama untuk dibaca. Tapi itu lebih karena faktor ketidaksinkronan di atas, kalau mutu ceritanya sih setara. Kalau dulu sempat nonton serial Keluarga Cemara di TV pasti sulit untuk tidak membaca buku Keluarga Cemara (1). Dan ketika sudah membaca yang pertama, sulit untuk mengelak dari yang kedua.

Lagi kurang bersyukur ? baca ini. Lagi iri dengan keberhasilan orang lain ? baca ini. Buku ini sangat menampar. Orang yang lebih sulit hidupnya daripada rata-rata kita ternyata lebih pandai bersyukur.

Saya kemarin nemu buku ini di Toga Mas Bandung, tapi harusnya juga tersedia di toko buku besar lain. Kalau mau pinjam punya saya nggak masalah juga sih, silakan kontak. Selamat membaca!