Review Buku: Time After Time

May 10, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya adalah orang yang memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Kalau sudah suka buku dari penulis A, saya akan cari dan baca buku lain yang dia terbitkan. Kali ini saya sedang menamatkan bukunya Chris Atkins, sebelumnya saya sudah baca A Bit of A Stretch, sekarang saya baca yang terbaru berjudul Time After Time.



Chris Atkins adalah British movie director, jurnalis, dan penulis. Dia sempat tersandung kasus pajak yang membuatnya divonis bersalah dan dipenjara selama beberapa tahun. Buku A Bit of A Stretch menceritakan kisah-kisah yang dipotretnya selama masa hidupnya di penjara. Setelah bebas dia menulis Time After Time ini berdasarkan investigasinya kenapa banyak kriminal yang begitu sulit keluar dari kasus dan masuk penjara berulang kali.

Chris Atkins adalah well educated-white-white collar criminal, ketika di penjara dia mendapat pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik daripada mayoritas narapidana karena perannya membantu beberapa urusan di dalam. Kemudian ketika keluar dia sudah punya karir yang terbangun dan keluarga serta sirkel yang suportif. Setelah bebas ia melanjutkan karirnya, menulis buku best seller, jadi pembicara dimana-mana, dan stay away from crime.

Tapi tidak semua seberuntung itu, banyak narapidana yang punya keluarga yang tidak fungsional, tinggal di kawasan Bronx, berasal dari status sosial lebih rendah, punya masalah mental health yang tidak ditangani, dan belum sembuh dari adiksi. Golongan kriminal yang seperti ini sangat rentan untuk melakukan reoffending. Inilah yang ditulis Chris Atkins dalam bukunya Time After Time, dia mewawancarai banyak narapidana yang melakukan reoffending termasuk diantaranya beberapa yang dia temui ketika masih di dalam penjara.

Setiap bab dalam buku ini membahas satu kasus atau person. Totalnya ada 14 dan commonality di dalamnya adalah bahwa banyak hal yang masih salah dengan penegakan hukum dan sistem penjara di Inggris. Dia menemukan bahwa program-program pemasyarakatan yang ada di sana alih-alih memperbaiki hidup orang justru memperbesar kemungkinan orang melakukan tindak kriminal berulang.

Kursus-kursus yang ada bukannya memberikan keterampilan untuk bekerja justru jadi ajang berjejaring kriminal yang belum reformed. Sistem parole dan probation yang tidak akurat memungkinkan high risk offender kembali ke masyarakat dan melakukan kejahatan yang lebih besar. Orang yang sudah mau hidup lurus justru ditempatkan di kawasan rawan sehingga terlibat altercation dan masuk penjara lagi. Uang saku ketika keluar penjara tidak naik sejak lama sekali hingga kini tidak cukup untuk satu malam airbnb. Tidak ketinggalan tentu isu rasisme dan cap kriminal yang terus menempel bahkan setelah belasan tahun hidup bersih dan lurus melengkapi lingkaran setan yang menjerumuskan orang ke jurang reoffending. Itu adalah beberapa temuan yang dia tuliskan dan masing-masingnya dibahas secara mendalam.

"This is caused by a criminal justice system that traps offenders into an endless cycle of crime and insidiously sucks them back to prison rathen than giving them the tools to escape it."

Penulisan jenaka khas Chris Atkins masih berlanjut di buku ini. Kritik yang sebenarnya keras terhadap pemerintah, justice system, dan penjara dikemas dengan rapi dan enak dibaca. Melalui buku ini Chris juga menjadi penyambung lidah orang-orang yang tidak punya jalur untuk mengutarakan casenya di luar persidangan. Saking sensitifnya beberapa bab dia harus menyensor sebagian nama dan detail. Dua buku yang ditulis Chris sangat bisa jadi buku yang impactful.

Bedanya Time After Time dengan A Bit of A Stretch adalah pada buku pertamnya penulis adalah pelaku langsung, dia ada di penjara dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk buku kedua ini dia mendasarkan tulisannya pada interview, witness statement, dokumen persidangan, dokumen lain, phone calls, dan semacamnya di mana ia tetap adalah orang ketiga. Ini membuat ada sedikit jarak antara dia dan yang ditulisnya, hal yang membuat buku ini sedikit di bawah A Bit of A Stretch sebagai sebuah memoir. Hal lainnya, entah kenapa menurut saya desain sampulnya kurang, bagusan buku pertamanya.

Nevertheless, buku ini sangat enak dibaca, di-backing data dan fakta yang cukup, serta didasari riset yang panjang (5 tahun+). Penulisnya adalah jurnalis profesional yang punya ID pers jadi dia bisa menjangkau informasi yang tidak diketahui masyarakat umum. Lebih dari itu dia adalah penulis yang capable. Dedikasinya untuk mendorong perbaikan justice system di Inggris sebagai orang yang pernah mengalami langsung problemnya adalah sesuatu yang juga patut diapresiasi.

"It's widely accepted that the only way to break this cycle is a mix of carrot and stick, but in recent times we've removed the carrot and weaponised the stick"


Time After Time: Why Criminals Can't Quit Crime.

Walaupun buku ini tentang kriminal, tapi Chris menutupnya dengan Epilog yang manis di mana ia fast forward menemui beberapa respondernya setelah bebas dan menemukan hidup barunya.





Chandra

0 comments:

Post a Comment