Showing posts with label football. Show all posts
Showing posts with label football. Show all posts

Atap GelreDome

October 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Puluhan penerbangan dari Schiphol dibatalkan karena cuaca buruk. Hujan dan angin kencang mengguyur rata seluruh Belanda dari Jumat sore sampai Sabtu pagi akhir pekan ini. Agenda nonton bola yang kami rencanakan terancam runyam sebelum akun instagram Vitesse mengumumkan bahwa atap stadion akan ditutup.



Kami punya dua tiket gratis nonton pertandingan kandang Vitesse di GelreDome yang sudah saya redeem untuk match Vitesse lawan FC Emmen malam ini. Cuaca buruk agak membuat saya khawatir karena tentu nggak asik kena tampias sepanjang pertandingan dalam suhu mendekati satu digit celcius. Beruntung GelreDome adalah stadion canggih yang punya retractable roof jadi cuaca semestinya bukan masalah ketika sudah di dalam. Berbekal jaket dobel-dobel dan payung kami berbaur dengan orang-orang menuju stadion.

Secara kapasitas GelreDome tidak besar-besar amat, hanya sekitar 20-30 ribu penonton tergantung setingan. Tapi stadion ini dibangun dengan pikiran untuk bisa digunakan berbagai jenis event olahraga dan hiburan. Makanya selain atap yang bisa ditutup tadi rumput stadion juga bisa digeser ke luar untuk preservasi. Sebagai stadion sepak bola, GelreDome adalah salah satu venue Euro 2000 dan menjadi home klub Vitesse Arnhem. Sementara untuk konser, musisi dunia yang pernah tampil di sini antara lain Linkin Park, The Rolling Stones, Metallica, Celine Dion, U2, Bon Jovi, Shakira, Spice Girls, Coldplay, dan lain sebaginya. GelreDome melabeli dirinya the biggest theater in The Netherlands.
Nonton bola dalam stadion tertutup rasanya clean sekali. Tidak ada pengaruh angin, hujan, dan faktor eksternal lain dari alam. Segala ekspresi dan teriakkan penonton jadi terperangkap di dalam dan terdengar jauh lebih bergemuruh. Matchday event jadi bisa maksimal, saya ragu akan ada atraksi Elang dan kid mascot seperti kemarin andai pertandingan dalam posisi outdoor dan cuaca kurang bersahabat. Secara teknis sound dan lighting juga jadi bisa selalu on point karena kondisi yang lebih terkontrol. Overall pengalamannya seperti nonton di gedung olahraga hanya saja ini lebih besar dan lapangannya rumput yang mulus.

Vitesse sendiri sebenarnya sedang tidak dalam kondisi terbaik. Beberapa tahun lalu mereka masih sempat main di UEFA Conference League tapi karena masalah finansial tim ini harus turun kasta. Sekarang Vitesse bermain di Eerste Divisie, satu level di bawah kasta tertinggi Eredivisie. Di pertandingan ini mereka memulai aksi dengan baik tapi kurangnya fire power menjadikan mereka susah mencetak gol. Setelah 0-0 saat paruh waktu, di babak kedua FC Emmen mendapat peluang terbuka yang berhasil digagalkan kiper Vitesse. Sayangnya penyelamatan ini involves bola kena ke muka sampai kiper butuh perawatan. Setelahnya kiper bisa main lagi tapi beberapa menit kemudian kebobolan mudah dan harus dilakukan pergantian kiper. Vitesse kemudian all-out menyerang tapi di menit terakhir serangan balik FC Emmen justru berbuah penalti dan berhasil dikonversi. Pertandingan berakhir 0-2 untuk tim tamu.

Saya melihat raut wajah kecewa opa-opa yang duduk sebaris dengan kami. Mereka mungkin sudah nonton Vitesse sejak 40-50 tahun yang lalu. Ekspresinya seperti Fergie ketika nonton MU kalah. Saya merasa kasihan melihat beliau-beliau ini yang mungkin dulu melihat Vitesse saat masih di masa jayanya.  Walaupun tidak sementereng Ajax dan PSV, Vitesse pernah beberapa kali angkat trofi dan main di Eropa. Tapi problem finansial tadi sangat serius sampai mereka hampir dicabut lisensi klub profesionalnya. Beruntung mereka bisa bertahan dan rebuild lagi dengan pemain-pemain muda. Padahal dulu beberapa nama yang pernah main di sini antara lain Phillip Cocu, Roy Makaay, sampai yang lebih kekinian Mason Mount dan Martin Odegaard.

Setelah pertandingan selesai kami keluar dalam kondisi hujan yang masih mengguyur deras. Rejekinya payung yang tadi ditaruh luar karena tidak boleh dibawa masuk kok ya ilang diambil orang. Akhirnya kami hujan-hujanan bersama ribuan orang lainnya. Avondje Vites (the night of Vitesse) kali ini ditutup dengan basah kuyup. Tapi saya tetap bisa bilang atap stadion saves the day.


Chandra

Spiciest International Break Ever

September 27, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
International break kali ini datang di waktu yang kurang tepat, tim fantasy football saya sedang on fire dan mendominasi beberapa mini league. Tiga minggu dan dua weekend tanpa club football dan FPL rasanya lama sekali. Tapi tiba-tiba update soal 115 charges-nya City diumumkan dan ini jadi salah satu momen paling epic di jagat football twitter tahun ini.



Manchester City diputus bersalah atas 114 dari 115 tuntutan terkait financial regulation Premier League. Tuntutan ini berdasarkan penyelidikan dari laporan keuangan dekade lalu, tapi tidak sulit untuk penonton EPL menduga bahwa pelanggaran masih dilakukan sampai sekarang. How the heck mereka bisa beli Haaland cuma seharga €60? Owner dan sponsor sama-sama berbasis di Abu Dhabi? Can't be squeaky clean.

Putusan bersalah ini rame karena efek dominonya besar dan mungkin bisa mengubah jalan hidup City selama bertahun-tahun. Denda dan dicabut gelar mungkin least of their concern, paling hanya mereka tidak lagi bisa flexing Aguerooo moment. Hukuman yang akan lebih berat misalnya pengurangan poin besar-besaran (75+) yang kemungkinan bisa mendegradasi mereka. Dengan begitu mereka akan turun kasta musim ini, main di Championship musim depan, tidak ada kompetisi Eropa, dan revenue turun. Lalu kalau sudah begitu berapa banyak pemain yang mau stick around?

Transfer ban selama 5 tahun misalnya juga pasti ngefek. Ketika skuad menua dan hanya bisa regenerasi via akademi, apakah bisa tetap kompetitif? Ujungnya performa turun dan pemain bintang memilih pergi. Kondisi akan semakin spiraling down karena pemain yang pergi tidak bisa diganti dengan yang kualitasnya sana.


Jadi asal hakimnya nggak masuk angin ini win-win untuk para rival dan fansnya yang sudah bertahun-tahun memendam kesal pada tim ini. Alegasi cheating yang sebelumnya hanya dugaan kini sudah terkonfirmasi, selamanya gelar-gelar mereka akan punya asterisk di sampingnya. Sekarang tinggal menunggu hukumannya apa, semakin lama diputuskan semakin lama internal City limbung dan mungkin akan jadi toksik. Ketika akhirnya hukuman itu diumumkan pasti akan jadi ledakan besar berikutnya di kalangan fans bola.

Saya menulis draft ini sambil nonton pertandingan UEFA Nations League antara Inggris dan Spanyol. Inggris kalah 2-3 di kandang dengan Kane gagal penalti. Tapi Guehi dan O'Reilly juga tampak semrawut di pertandingan ini, gol pertama dan kedua Spanyol adalah buah kesalahan dua pemain ini. Mungkin berita soal putusan itu memengaruhi psikis mereka. Kalau hukumannya benar-benar sampai dilucuti gelar juara dan turun kasta maka para pemain mungkin harus segera mencari jalan lain. Saat ini hukuman belum ditentukan dan masih menunggu proses banding. 


Isu ini juga menghadirkan banyak spin-off. Fabrizio Romano dituduh sebagai PR bayarannya Citiy karena dia tidak sedikitpun memberitakan ini padalah Ornstein sudah rilis dua hari yang lalu. Rodri tentu membela City, tapi ini justru membuat fans rival marah dan menuntut gelar Ballon d'Or-nya dicabut. Laporan keuangan yang dimanipulasi berarti pajak tidak dilaporkan dengan benar dan berpotensi memunculkan pelanggaran tax evasion. Internal fans City juga kabarnya kecewa karena selama ini manajemen selalu bilang bahwa mereka baik-baik saja dan tidak akan kena hukuman.

Beberapa tim termasuk Liverpool bisa kelimpahan gelar andai diputuskan gelar City dicabut. Selain itu ada potensi pemain bintang City bisa direkrut dengan harga miring. Melihat kondisi Spurs yang beberapa tahun ini sibuk berjibaku di papan bawah, bisa jadi big six akan balik lagi jadi big four, sebuah fantasi fans-fans bola lama.


Chandra

Sponsor Utama (No More Betting)

August 23, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Premier League bergulir kembali. Di musim yang baru ini PL menerapkan beberapa perubahan aturan yang mayoritas bertujuan menjadikan permainan lebih efektif, fair, dan cepat. Tapi ada gebrakan menarik lain dari PL yang tidak ada hubungan langsungnya dengan permainan.



Saya kemarin nonton beberapa pertandingan Premier League dan menyadari ada yang berbeda di jersey beberapa tim. Tim-tim seperti Brentford, Forest, dan Sunderland tidak lagi menggunakan sponsor judi seperti musim lalu. Indeed yang sebelumnya hanya sponsor di training kit Brentford sekarang naik jadi sponsor utama. Forest kini punya sponsor baru Marex, sebuah penyedia layanan keuangan. Sementara Sunderland spot sponsor utamanya masih kosong.

Saya jadi ingat soal aturan yang melarang brand judi jadi sponsor utama di jersey tim-tim Inggris. Aturan ini sudah disepakati beberapa tahun yang lalu dan tampaknya mulai berlaku musim ini. Ini memaksa tim-tim yang sebelumnya bersponsor judi mencari partner lain. Rata-rata yang terpengaruh adalah tim menengah karena tim besar biasanya sudah punya kesepakaran jangka panjang dengan brand ternama misalnya Etihad, Emirates, atau Standard Chartered. 

Tanpa perlu mengambil fatwa agama dan norma sosial, sebagai fans bola saya jauh lebih senang klub bola disponsori real company. Ada ikatan antara nama klub, jersey, dan sponsor. Orang kalau bicara jersey ikonik pasti teringatnya Juventus Sony, Milan Opel, Inter Pirelli, MU Vodavone, Arsenal O2, Valencia Toyota, atau Ajak ABN Amro. Semua itu real brand, beberapa bahkan mungkin kita pernah bersinggungan langsung. 

Lagipula menurut saya aneh ketika platform judi menyeponsori klub olahraga. Kita tahu bahwa judi adalah akar dari match fixing, kankernya dunia olahraga. Gimana logikanya klub-klub malah menerima uang dan mempromosikan mereka? Belum lagi visual sponsor di jersey bisa dilihat anak-anak. Ini sama saja seperti rumah sakit mengiklankan rokok.

Cek grafis dari BBC ini, tampak betapa dua musim yang lalu lebih dari setengah klub Premier League disponsori oleh brand judi. Ini sudah bukan anomali lagi, ini sudah jadi tren. Mungkin sulit bagi klub-klub ini untuk mendapat sponsor organik, di sisi lain platform judi berani membayar cukup tinggi.

Sementara ini adalah distribusi sponsor musim ini. Dari gambar ini saja tampak lebih exciting karena variasinya lebih banyak, apalagi kalau melihat jersey yang sebenarnya. Satu catatan, Forest belum terupdate (masih No Sponsor) karena deal yang baru saja mereka dapatkan.

Ketika dipakai turun ke lapangan beberapa jersey jadi tampak segar. Bahkan menurut saya Fulham (Clickhouse) dan Palace (Temporal) keren banget dengan sponsor barunya. Apakah saya tahu brand-brand itu? Tidak, yang pernah saya dengar hanya Indeed dan Rwanda. Tapi ini masih jauh lebih baik daripada Bet something.


Ini pergerakan yang sangat bagus dari Premier League. Lagipula melihat betapa makmurnya tim-tim Inggris sekarang, harusnya mereka tidak butuh uang dari bandar judi. Real brand semestinya juga bisa melihat bahwa kini Liga Inggris adalah liga paling populer dan ditayangkan di banyak sekali negara. Saya berharap brand-brand yang familiar dengan kita akan masuk di masa depan. Toyota, Samsung, atau Garuda sekalian boleh lah.

Sebagai penutup soal jersey dan sponsor baru, pemenangnya musim ini menurut saya adalah Newcastle. Walaupun tim ini sering dibully di transfer window, tapi soal kit mereka nyampe.


***

Beranjak dari perbincangan soal jersey dan sponsornya, ini adalah beberapa di antara aturan baru yang diterapkan musim ini:
1. Hitung mundur 5 detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang jika wasit menilai pemain sudah mengulur waktu terlalu lama. Jika lewat 5 detik bola diberikan pada lawan (tendangan gawang jadi sepak pojok)
2. Waktu maksimal pergantian pemain 10 detik, jika lewat dari itu pemain yang masuk harus menunggu bola mati berikutnya setelah 1 menit.
3. Pemain cedera harus keluar lapangan 1 menit.
4. Jika kiper cedera dan perlu perawatan, pelatih harus memilih satu pemain depan untuk kemudian keluar selama 1 menit. Ini untuk meminimalisir kiper pura-pura cedera demi mendapatkan tactical time-out.
5. Pemain dilarang mengelap bola menggunakan handuk sebelum lemparan ke dalam.

Bagaimana menurutmu?

Chandra


Tim-Tim Barclays

April 18, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
What if Spurs gets relegated?

Saya menulis ini di depan TV yang sedang menyiarkan pertandingan Tottenham lawan Brighton. Kalau Tottenham kalah lagi di pertandingan ini maka ancaman degradasi semakin dekat menjadi kenyataan. Walaupun secara matematis masih sangat bisa selamat, potensi turun kastanya besar karena kontender degradasi lain sedang membaik mainnya sementara Spurs gitu-gitu saja meskipun sudah dua kali ganti pelatih.

Liverpool memang having a bad season karena angin-anginan setelah menggelontorkan ratusan juga pounds. Tapi degradasi is in another level, tim sebesar Spurs akan sangat terpukul secara reputasi dan finansial kalau sampai terjadi. Absen dari kompetisi Eropa saja sudah membuat keuangan tersendat, apalagi turun divisi. Spurs juga belum lama menempati stadion barunya yang sangat megah. Bayangkan main di divisi Championship dengan stadion sebesar punya mereka, apa gak terkagum-kagum itu tim yang bertandang.


Kalau ditanya, saya sebagai penonton berharap Spurs tidak terdegradasi. As much as I enjoy Klopp's Liverpool era, Liga Inggris tahun 2000an tetap membekas buat saya. Saya pikir angkatan saya dan sebelumnya sependapat soal 'Barclays Era' sebagai salah satu masa nonton bola paling seru. Tentu saja Spurs termasuk di dalamnya dan potensi kehilangan satu Barclays team tidak membuat saya happy. Saking inginnya saya melihat klasemen liga Inggris berisi tim-tim yang ada di tahun 2000an, saya sering ngecek klasemen Championship untuk tahu siapa yang akan promosi musim depan.

Saya ingat pertama kali dibelikan sepatu bola oleh orang tua merknya Speed. Di bagian belakang kardusnya for some reason desainernya menaruh logo 20 tim Liga Inggris di jaman itu. Selain traditional Big 4 (yes waktu itu masih 4), ada tim-tim macam Bolton, Blackburn, Portsmouth, Middlesbrough, dan Birmingham. Lagi-lagi sebagai Barclays fan saya kangen melihat logo tim-tim itu di media publikasi Premier League. 


Things are not looking good already in Championship karena cuma Middlesbrough yang ada di 10 besar, itupun kemungkinan harus main play-off. Maka saya berharap yang terdegradasi jangan tim 'tradisional', Wolves dan Burnley sih oke tapi Spurs kalau bisa jangan. Kalau survive musim ini, saya cukup yakin Spurs minimal bisa bersaing di papan tengah musim depan.

Babak pertama selesai dengan skor 1-1, gol Pedro Porro dibalas Mitoma. Not looking good, kalau cuma imbang mereka akan tetap di zona merah dengan memainkan satu pertandingan lebih banyak. Keren Liga Inggris musim ini, selain perebutan juara yang belum final, satu spot degradasi juga masih punya banyak kemungkinan. Setelah pertangan ini akan ada MU lawan Chelsea, besok Merseyside derby Liverpool lawan Everton lalu ditutup City ketemu Arsenal. What a weekend.

Chandra 

Korea Selatan 2002

January 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Singkat cerita saya menemukan plang selamat datang ini. Papan ini berdiri di pinggir jalan memberitahukan bahwa di depan sudah masuk area Varsseveld. Yang menarik adalah di papan ini ada tulisan dengan huruf Korea, tapi untuk apa aksara Korea ada di sana? Varsseveld itu kota kecil yang rasanya tidak mungkin jadi sister city suatu kota di Korea. Saya juga tidak melihat ada Korean Town atau area yang bernuansa Korea di sana.

Karena penasaran saya translate tulisan Korea itu dengan Google, ternyata terjemahannya adalah "This is Hiddink's hometown". Sekarang jadi masuk akal kenapa ada tulisan Korea di Varsseveld, ini soal sepak bola. Guus Hiddink adalah nama yang tersohor di dunia sepak bola terutama sebagai pelatih. Dia pernah melatih klub-klub besar seperti Real Madrid, Chelsea, dan PSV. Sementara itu di level timnas dia pernah menangani timnas Belanda, Turki, Australia, dan tentu saja Korea Selatan.


Guus Hiddink adalah pelatih Korea Selatan di piala dunia 2002 Korea-Jepang. Saat itu Korsel yang dibintangi Park Ji Sung dan Ahn Jung Hwan berhasil masuk semifinal sebelum kalah dari Jerman (Kahn, Ballack, dkk). Pada perebutan juara 3 Korsel kalah lagi lawan Turki sehingga harus puas di posisi 4. Tapi prestasi ini sudah dianggap sangat tinggi hingga figur Hiddink sudah jadi seperti pahlawan bagi orang Korea. Karena Hiddink lahir dan besar di Varsseveld, jadilah ada hubungan unik antara Korea dan kota kecil ini.

Alamat rumah di mana Guus Hiddink dulu tinggal tersebar di kalangan orang Korea sampai-sampai banyak turis Korea datang pakai bis ke Varsseveld. Padahal tempat ini jauh dari kota besar seperti Amsterdam. Saking inginnya mengabadikan momen itu kabarnya mereka sampai membawa pulang kerikil dari pekarangan rumah Hiddink sebagai suvenir. Andai kemarin Indonesia berhasil lolos Piala Dunia bersama STY, mungkin banyak pula orang Indonesia yang akan menyerbu rumahnya di Korea sana.


Chandra

Muslim Player Considerations Awareness

March 23, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments
Beberapa tahun yang lalu, pemain sepak bola di Eropa yang berpuasa dan harus berbuka di tengah pertandingan seringkali harus berpura-pura cedera atau mendapatkan perawatan agar bisa menenggak sebotol air dan makan sepotong energy bar. Kadang-kadang sebutir kurma juga harus diserahkan secara sembunyi-sembunyi seakan tabu menggabungkan keyakinan dengan olahraga. Kini keadaan sudah berubah, di pertandingan resmi liga-liga besar Eropa wasit secara resmi menghentikan pertandingan sejenak agar pemain bisa berbuka puasa. Lebih menariknya lagi, momen seperti ini selalu diiringi tepuk tangan dan riuh penonton.




Di Inggris, PFA (Professional Footballers' Association) melakukan sosialisasi Muslim Player Considerations Awareness guna membuat official dan coach dari klub-klub aware tentang kebutuhan pemain muslim salah satunya dalam kaitannya dengan Ramadhan. Akan ada waktunya Ramadhan jatuh pada saat libur kompetisi, tapi dalam 18-20 tahun ke depan Ramadhan akan beririsan dengan kalender kompetisi berjalan. Untuk itu PFA merasa perlu secara proaktif memberikan booklet yang berisi penjelasan A-Z tentang kebutuhan pemain muslim di Liga Inggris. Ini inisiatif yang bagus dari PFA dan tampaknya bersambut dengan baik pula dari sisi klub dan federasi.

Bukan hanya soal puasa dan Ramadhan, PFA pada dasarnya memberikan penyulusan Islam 101. Dimulai dengan penjelasan apa itu Islam, rukun Islam yang 5, serta penjelasan ibadah-ibadah yang dilakukan pemeluknya. Ini jadi penting karena ibadah muslim banyak yang terikat dengan waktu (salat wajib, salat jumat, puasa ramadhan) sehingga akan ada saatnya kewajiban beragama akan bersinggungan dengan urusan profesional. Salat jumat misalnya, dijelaskan bahwa atlet pria muslim wajib untuk hadir di masjid sehingga diharapkan jadwal training bisa disesuaikan untuk mereka pada Jumat siang.

PFA juga menjelaskan ucapan-ucapan yang biasa terlontar dari pemain muslim seperti salam, hamdalah, dan lainnya. Simbol-simbol seperti sujud yang biasa dilakukan pemain saat melakukan selebrasi juga disosialisasikan sehingga tidak menjadi sesuatu yang asing dan aneh untuk dilihat. Saat ini mungkin Mohamed Salah adalah pemain muslim paling high profile di UK dan dia sering melakukan selebrasi dengan bersujud. PFA juga menghighlight bahwa ada muslim yang tidak ingin bersentuhan dengan lawan jenis sehingga diharapkan tidak ada kesalahpahaman jika ada pemain muslim yang memilih bersalaman 'jarak jauh'.


Aspek teknis berkaitan dengan kebutuhan pemain muslim juga disampaikan oleh PFA. Misalnya kebutuhan akan makanan halal, saran untuk menyediakan prayer room di training ground, dan mengkondisikan pemain muslim di kamar yang sama ketika di hotel untuk mempermudah salat. Klub juga diharapkan membantu mencarikan housing bagi pemain muslim yang dekat dengan tempat ibadah dan halal shop.

Setelah menjelaskan Islam 101, barulah masuk pembahasan soal puasa. PFA memberikan info sedetail-detailnya mulai dari kalender puasa beberapa tahun ke depan, jadwal imsakiyah, syarat boleh tidak berpuasa (jika pertandingan away jarak jauh bisa jadi boleh tidak berpuasa), sampai guidance teknis bagaimana menjaga performa pemain saat berpuasa. Klub sudah berusaha mengakomodasi maka pemain juga harus tetap profesional dan menjaga performa terbaiknya meskipun sedang berpuasa.

Bagi pemeluknya, Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan sehari-hari, atau dalam bahasa lain susah 'dibikin' sekuler. Bagi top level athlete mungkin puasa tidak terlalu memberikan benefit secara fisik (mereka sudah super human, beda sama kita yang lumayan puasa bisa bantu bakar lemak), tapi secara batin dan emosional rasa lega karena bisa menjalankan ibadah dengan baik dan penuh support bisa jadi akan mendatangkan mental boost yang bisa menunjang performa. Itulah yang diharapkan PFA dari agenda awareness workshop ini.

Saya fans Liverpool, tim ini pernah punya duet maut Salah + Mane yang dua-duanya muslim. Masa-masa mereka ngobrak-abrik liga Inggris lalu bersujud tiap selesai mencetak gol tentu dilihat dan diingat banyak orang. Pemain muslim akan terus datang dan pergi di Liga Inggris maupun liga-liga lain di Eropa. Mungkin belum bisa dibilang dakwah, tapi apa yang dilakukan oleh PFA di Inggris adalah sesuatu yang sangat baik. Pendekatan yang sopan, ramah, dan informatif akan berterima dengan lebih baik, dibuktikan dengan respon pelaku sepakbola Inggris atas sosialisasi yang dilakukan. Keren. Sampaikanlah walau satu ayat.

Thanks,
Chandra

sumber bacaan: fifpro.org

Kill Them With Passes

August 26, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Pertandingan kemarin sore melawan Brantford menandai dimulainya era Arne Slot di Anfield. Setelah 9 tahun tumbuh dalam asuhan Jurgen Klopp, kini Liverpool dinahkodai manajer baru yang bisa dibilang new kid on the block di kalangan manajer dan tim papan atas. Ada pertanda baik di mana Liverpool berhasil memenangi dua laga awal musim ini lawan Ipswich dan Brentford. Walaupun ujian sebenarnya baru datang akhir pekan nanti saat bertandang ke Man Utd. Namun setidaknya cara bermain Liverpool kemarin sungguh memberikan angin segar dan optimisme di tengah keringnya bursa transfer.

Sudah nampak perbedaan cara bermain Liverpool era Slot dan Klopp. Gegenpresing-nya Klopp masih ada jejaknya namun tidak se-hard core dulu. Kini serangan lebih banyak dibendung dengan overload di tengah bukan pressing di depan. Smart menurut saya karena menghemat energi dan semoga mengurangi potensi cedera, masalah yang selalu datang menghambat usaha jadi juara.

Kedua, yang lebih mencolok adalah perubahan cara build up dari bola panjang menjadi passing pendek. Dulu serangan Liverpool mengandalkan bola direct dari Trent, VVD, Robbo, bahkan Alisson langsung ke Mane dan Salah. Tapi kini Mane sudah pergi, Diaz jago gocek tapi larinya tidak sekencang Mane, sementara Salah sudah menua dan suka tidak suka melambat. 

Sekarang tampak serangan Liverpool dibangun step by step lewat tengah, hadirnya Szobo dan MacAllister memungkinkan ini dilakukan. Hasilnya Liverpool mencatat akurasi passing 92%, rekor tim dalam 20 tahun sejak statistik ini dihitung, dan itu dihasilkan di pertandingan resmi kedua Slot. Impressive! 



Apakah filosofi 'Kill Them with Passes' ini akan sukses? Kita lihat saja nanti. Tapi minimal apa yang diperlihatkan kemarin sangat menghibur, terutama di babak kedua. Liverpool bersama Slot tampaknya bergerak ke arah yang benar setelah di awal sempat muncul keraguan apakah ia cukup kuat untuk meneruskan nama besarJurgen Klopp.


YNWA,
Chandra

pict (1): @LFC

Danke Jürgen

January 26, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Bombshell. Lagi santai-santai di jumat sore tiba-tiba ada tweet Fabrizio Romano soal Jürgen Klopp bakal meninggalkan Liverpool di akhir musim ini. I was like, WHAT??!!


Tulisan ini mungkin akan kurang rapi karena saya masih shocked dan apa yang melintas di pikiran langsung saya tuangkan. Saya pikir saya udah nggak akan merasakan patah hati, ternyata masih hahaha. Klopp pergi ini rasanya sudah seperti kehilangan anggota keluarga. Sedihnya real, buat saya apa yang dilakukan Klopp di Liverpool efeknya sampai ke real life, bukan sekedar fanatisme pada sebuah tim olahraga. Dalam saat-saat sulit, Klopp's Liverpool adalah satu dari sedikit hiburan yang ada buat saya. Di dunia yang melarang anak laki-laki mengeluh apalagi menangis, Liverpool pernah jadi obat yang bisa mengangkat kesedihan saya, tanpa orang lain perlu tahu yang saya alami. Keeps my boat afloat.


Sembilan tahun Klopp di Liverpool merubah total wajah tim ini. Liverpool tidak punya banyak uang tapi bisa bersaing dengan tim yang dibekingi juragan minyak timur tengah. Dengan segala keterbatasan Klopp meng-assemble pemain yang mostly level menengah dan disulapnya jadi pemain elit. Alisson dan VVD baru bisa dibeli setelah dapat duit hasil penjualan Coutinho, lalu keduanya berkembang jadi yang terbaik di dunia. Duet full back Liverpool sangat disegani dan memegang record assist padahal didapat secara nyaris gratis, Trent jebolan akademi, Robbo dibeli murah dari Hull yang terdegradasi. Trio Henderson, Fabinho, Wijnaldum jauh dari kata kelas dunia. Siapa pernah mengira pemain kaya Henderson bisa jadi UCL & PL winning captain? Andalan di depannya Mane Salah Firmino gak perlu dijelaskan lagi semua orang sudah tahu.

Favorit match under Klopp:
1. 4-0 vs Barcelona, legendary comeback, sudah ketinggalan agregat 0-3, tanpa Salah dan Firmino, tapi bisa membalikkan keadaan.
2. 7-0 vs Man United, menang dengan skor yang bikin geleng-geleng lawan musuh bebuyutan.
3. 5-4 vs Norwich, jaman awal-awal Klopp di Liverpool, masih labil, bikin senam jantung wkwk

Waktu seperti ini akan tiba, sama seperti sebelumnya saat Klopp meningglkan Mainz dan Dortmund. Tapi saya tidak menduga akan secepat ini. Walaupun mungkin ini juga saat yang paling tepat karena dia sudah menyiapkan pondasi untuk Liverpool 2.0, hanya saja nanti akan dinahkodai oleh manajer yang berbeda. Tapi btw Klopp ini keren karena setiap resign selalu dilepas dengan penuh bangga oleh klub dan suporternya. Klopp once said, "When I left Dortmund, I said it's not important what people think when you come in but what they think when you leave."


Football twitter sore sampai malam ini ramai dengan pemberitaan soal Klopp, he is massive. Beberapa artikel mencuat tentang alasan kenapa pengumuman mundurnya Klopp dilakukan di Januari. Klopp sadar bahwa sebagian staffnya mungkin akan ikut pindah juga setelah ini, ia tidak mau mengumumkan di akhir musim karena akan menyulitkan para staff biasa untuk arrange living ke depannya. Sampai menyangkut sekolah anak pun ia pikirkan. What a guy, berinisiatif memberikan notice period untuk memudahkan orang lain. Manajemen pun kabarnya sudah tahu keputusan ini sejak November sehingga succession plan sudah ada. No panic.

Bicara suksesi, tampaknya kandidat yang paling diharapkan untuk meneruskan Klopp adalah Xabi Alonso. Alasannya jelas karena sekarang Alonso sedang menangani Leverkusen yang duduk di puncak klasemen Bundesliga, unggul 4 poin dari Bayern. It's lonely at the top beneran. Plus tentu saja Alonso adalah mantan pemain Liverpool, sosok penting saat memenangi UCL 2005. Alonso kabarnya juga punya klausul di kontraknya bahwa ia bisa melatih ex-timnya (Liverpool, Madrid, Bayern) kalau mau. Saya setuju gagasan ini, rasanya tidak ada calon lain yang lebih sesuai. Gerrard legendary sebagai pemain, tapi karir kepelatihannya kurang mulus, mungkin kalau jadi sporting director lebih cocok. Jika bukan Alonso, saya prefer Unai Emery.

Di Inggris posisi pelatih dibahasakan dengan 'manager', bukan 'coach'. Itu karena tanggung jawab pelatih bukan hanya soal memilih pemain yang turun dan strategi di lapangan tapi juga sampai ke belakang layar. Infrastruktur, youth system, recruitment, scouting, kesehatan dan gizi pemain, sponsorship, dan finance tidak lepas dari pandangan Klopp, tapi ia juga tidak terjebak pada detail dengan merekrut orang-orang terbaik di posisi masing-masing. Makanya salah satu yang membuat fans Liverpool bangga adalah klub ini beres luar dalam, nggak banyak drama, dan well planned, seperti sebuah perusahaan yang sangat sehat. 

Memasuki setengah tahun terakhir Klopp di Anfield, saat ini Liverpool ada di puncak klasemen PL, masih aktif di UEL dan FA Cup, dan masuk final Carabao Cup. Sama sekali tidak bisa dibilang jelek. Semoga Klopp berhasil menutup karirnya di Liverpool dengan manisnya gelar juara.

Klopp interview about his exit: 

"No other English club EVER. Even if I have nothing to eat, it will not happen". 

"Liverpool 2.0 didn't include me obviously"

Jleb. Klopp ini inspiring figure. Banyak fans Liverpool yang menganggapnya 'paman'. Dia berhak mendapat proper farewell nanti. Bahkan saya berharap one day Klopp akan kembali melatih Liverpool untuk meneruskan legacy-nya. Klopp adalah orang yang 'I'd love to work under a boss like him.'

"It needs time. Nobody wants to hear it, but that's the truth: if you want to have success in the future, you have to be ready to work now." - Klopp

"Anyone can have a good day, but you have to be able to perform on a bad day." - Klopp

From doubters to believers. Danke Jürgen Norbert Klopp. You are a legend. You'll Never Walk Alone. 

Thanks,
Chandra


Somebody Named Mohamed

December 12, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Liverpool fanbase sedang kenceng-kencengnya memuji Salah setelah ia berhasil mencetak goal ke-200-nya untuk Liverpool. Pada list yang mengandung nama Ian Rush, Steven Gerrard, Michael Owen, dan lain sebagainya terselip seorang African bernama Mohamed. No tattoo, no alcohol, no criminal charge, no haters, just pure quality footballer.
Mo Salah bukan lagi di level Luis Suarez, Torres, Morientes, atau Djibril Cisse. Kini namanya disebut satu nafas dengan Kenny Dalglish dan Robbie Fowler. Bayangkan kalau Salah ini bukan orang Mesir tapi bocah asli Merseyside yang sejak kecil sudah join SSB Liverpool lalu bisa tampil sampai lebih dari 600 pertandingan, bukan tidak mungkin Mo Salah jadi all time top scorer.

Glad to have such players like Alisson Becker, Van Dijk, Sadio Mane, Firmino, Henderson, Trent, etc (the whole 2018-2020 squad basically), but Mo Salah is in different level now. Kalau di Nankatsu, Salah ini Tsubasa-nya. Mo Salah is the face of English Premier League, bukan cuma Liverpool.



Transplantasi Lapangan Tengah

October 27, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Musim ini Liverpool jadi menyenangkan lagi untuk ditonton. Midfield benar-benar baru, Henderson Milner Fabinho Keita Ox semuanya hengkang, diganti Szoboslai MacAllister Gravenberch Endo yang datang. Keempatnya nggak ada yang flop dan dapat kepercayaan penuh dari Klopp. Transplantasi midfield yang sukses.


Yang paling membedakan Liverpool musim ini dan kemarin adalah predictability. Tahun lalu lapangan tengah selalu diisi Hendo dan Fabinho, plus satu lagi pemain siapapun yang lagi nggak cedera. Masalahnya ini di 2022 bukan 2018-2019 dimana dua pemain itu sedang bagus. Sekarang Klopp punya jauh lebih banyak pilihan. Selain Szobo Mac Graven dan Endo tadi, ada Jones dan Elliot yang makin matang, serta Thiago dan Bajcetic juga sebentar lagi sembuh dari cedera. Total 8 first team players siap ngisi 3 posisi.

Di depan pun sama, dari 3 posisi yang ada hanya 1 yang permanently booked yaitu Mo Salah di kanan. Sementara 2 pos lain bisa diisi oleh Gakpo, Jota, Nunez, dan Diaz, masing-masing dengan tipe yang berbeda. Gakpo juga bisa agak turun menjadi CAM, sementara Elliot, Graven, dan Szobo bisa naik jadi false 9 atau winger. Versatility ini yang membuat Liverpool jadi menyenangkan ditonton karena ada unsur kejutan, ditambah sekarang lebih sering menang.


Di lini belakang sih nggak perlu banyak kejutan karena yang diinginkan stabilitas. Mungkin musim depan saatnya regenerasi saja, Virgil semakin tua, Matip dan Gomez sudah lewat masanya, plus cari suksesor Robertson. Dari beberapa youngster yang dicoba, baru Quansah yang kelihatan punya first team material. Tugas lain tentu saja mencari penerus Mohamed Salah, ini yang berat.

Klopp's Liverpool 2.0 is in motion!


Cheers,
Chandra

Champion

September 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Nonton bola jam 3 pagi walaupun nanti paginya sekolah/kerja. Sunyi, gelap, dan minim distraksi pada dini hari.

Match-up yang nggak biasa mempertemukan tim dari dua liga yang berbeda, menghasilkan permainan dan hasil yang kadang random nggak terduga.

Fase knock-out yang menghadirkan tensi serupa Euro dan Piala Dunia. Final yang legendary tentu salah satunya Istanbul 2005.

Tayang di TV lokal tanpa perlu buka aplikasi digital dan memusingkan kualitas sinyal serta kuota. Menghadirkan pengalaman menonton yang nggak berubah sejak masih SD.

Visual yang tidak banyak berubah sejak dulu, simpel dan berkelas.Shot close-up di menit 80+ menunjukkan ekspresi jumawa dari yang unggul dan putus asa dari yang kalah.

Anthem yang ikonik. Die Meister, Die Besten, Les grandes equipes, The Champions.

Champion, satu dari sedikit hal yang tidak berubah sejak dulu hingga sekarang.

Thanks,
Chandra
*ditulis sambil nonton emyu kena humbling dan pemain bayern throwing shots at Onana seperti Bale ke Karius dulu, kiper dianggap nggak ada wkwk

Salam Panah Hijau

August 11, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Meskipun pergerakan Liverpool di bursa transfer musim ini seperti siput, tapi saya tetap bersemangat menyambut musim baru liga Inggris yang akan dimulai malam nanti, thanks to FPL. Saya tahu FPL sejak SMA dan sudah main sejak kuliah, itu membuat saya lebih serius mengikuti pertandingan dan info terkait liga Inggris. Kalau bukan karena FPL, untuk alasan apa lagi saya nonton pertandingan Brighton vs Crystal Palace.

Hampir sama seperti Wordle, FPL ini game yang egaliter. Semua orang punya start yang sama, tidak ada pay to win, semua orang bisa membuat liga sendiri untuk berkompetisi dalam komunitasnya, semua informasi sifatnya publik, dan tidak ada batasan ini itu. Walaupun untuk saya sendiri saya punya prinsip untuk tidak memakai pemain emyu dan everton. Ini latest draft saya, 18 jam menjelang deadline gameweek pertama musim 2023/2024


Salah, Haaland, dan Saka wajib ada. Untuk defend saya trust issue dengan bek Liverpool karena kebobolan mulu, tapi saya masukkan Szobo sebagai pembeda. Saya lumayan percaya sama Villa-nya Emery jadi saya mau Watkins dan Emi ada di tim saya. Estu dan Mitoma tahun lalu sangat produktif, harganya juga murah. Stones pilihan standar karena defend City yang you know lah, sementara untuk Eze saya hanya coba ikut-ikutan kata orang-orang twitter.

Seminggu terakhir saya membombardir beberapa grup untuk mengumumkan liga FPL dan meminta teman-teman untuk join. Sudah beberapa tahun berjalan saya ngadmin liga FPL grup angkatan kuliah, angkatan SMA, dan grup kosan di Bandung. Memang di FPL kalau kita tidak ganti akun, liga yang pernah kita buat bisa auto renew. Yang baru, tahun ini saya join liga FPL IAITB, thanks to mas Jati yang ngasih tahu bahwa liga ini ada. Beberapa account yang saya ikuti di twitter juga biasanya create liga FPL. Saya sudah join punya panditfootball dan Jiroluger, tapi entah kenapa hrdbacot dan infomieayamyk kok belum kelihatan hilalnya.

Selain memilih pemain yang akan diturunkan, penentuan nama tim juga jadi sesuatu yang layak dipikirkan. Namanya kalau bisa unik, tapi tidak norak atau terlalu nerd. Tim saya musim ini awalnya mau saya namai Fire Chicken, terpikir dari menu favorit saya di Richeese Factory, tapi saya sudah lama nggak makan. Sempat saya ubah Administrator, tapi kok kaya sok berkuasa. Lalu saya ganti Belanesia, tapi agak kurang. Akhirnya sekarang saya namai A Pit Stop, entah kenapa saya terpikir ini, mungkin karena saya suka F1 atau habis baca entah dimana.


Chandra

My Favorite World Cup

November 22, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Anyone's favourite World Cup is the first one they remember as a kid. Begitu juga saya dengan Korea Jepang 2002. Waktu itu saya masih 7 tahun dan sedang di kelas 2 SD. Itu exposure pertama saya dengan turnamen besar sepakbola. Disitu pertama kalinya saya tahu pemain macam Oliver Kahn, Ronaldo, David Beckham, Alessandro Del Piero, Ahn Jung-Hwan, dan nama-nama besar lainnya.

Oliver Kahn salah satu pemain bola favorit saya saat tumbuh dewasa, meskipun saya tidak terlalu suka timnas Jerman. Menurut saya Kahn adalah proper keeper. Skillnya bagus, nggak punya takut, badan guedhe, dan tampak galak. Carilah foto-fotonya di google, mirip Hulk tapi nggak ijo. Meskipun Jerman gagal juara Kahn dinobatkan sebagai pemain terbaik sekaligus kiper terbaik Piala Dunia 2002. Satu-satunya pemain setelahnya yang ada di level yang sama menurut saya hanya Alisson Becker-nya Liverpool/Brazil sekarang.

Karena faktor usia saya belum kuat begadang waktu itu. Beruntung karena tuan rumahnya di Asia waktu tandingnya cukup ramah anak. Saya lupa jamnya, tapi seingat saya dari siang sudah ada pertandingan. Sampai finalnya pun masih di awal malam. Betapa bahagianya waktu itu sepulang sekolah setelah makan dan istirahat setiap keluar rumah ada rame-rame bola. Seolah aktivitas cuma ada dua, nonton bola dan main bola.

Pertandingan paling memorable tentu saja final Brazil vs Jerman. Match ini yang menjadikan saya sempat yakin bahwa timnas paling hebat di dunia ya dua itu, yang lain numpang. Brazil memang unggulan karena trio Ronaldo Rivaldo Ronaldinho seperti nggak ada lawan, wajar kalau menang. Oh ya another iconic stuff dari PD 2002 yaitu potongannya Ronaldo ini.

Dari Piala Dunia 2002 pula saya tahu ada negara-negara seperti Denmark, Kroasia, Slovenia, Costa Rica, Senegal, dan duo -guay (Paraguay dan Uruguay). Waktu itu ada saudara yang dapat suvenir bola entah dari mana, yang di bola itu tergambar emblem negara-negara yang tampil di Piala Dunia. Kaos, poster, dan produk bernuansa PD ada dimana-mana, saya ingat pernah punya puzzle yang gambarnya bukan tokoh kartun atau hewan, melainkan foto pemain Uruguay Alvaro Recoba.

Waktu itu di Indonesia sedang booming kartun Kapten Tsubasa. Saya sangat terinfluence dengan kartun itu sampai suatu waktu di sekolah ada event dari Milo untuk membuat gambar tokoh favorit, saya gambar Tsubasa. Kalau ingat waktu itu juga diputar sebuah TV series berjudul Spheriks yang dibintangi oleh tiga maskot Piala Dunia 2002 yaitu Ato, Kaz, dan Nik. Terimakasih untuk stasiun TV yang sangat serius menghadirkan pesta sepak bola waktu itu sebelum adanya internet.

Buat saya memori Piala Dunia 2002 lebih banyak tentang atmosfernya daripada pertandingannya itu sendiri. Sesungguhnya Piala Dunia 2006 sama memorable-nya karena datang ketika kami sedang butuh hiburan pasca gempa Jogja. Ada satu film pendek buatan Ifa Isfansyah yang berlatar situasi saat itu, yang kalau ditonton sekarang masih bikin mbrebes mili: Harap Tenang Ada Ujian 




Crime Series XI

September 02, 2022 Posted by Chandra Nurohman , No comments


Apa jadinya kalau tokoh-tokoh dari beberapa crime series dikumpulkan menjadi satu tim sepakbola. Tentu menarik karena setiap cast pasti punya kekhasan masing-masing yang pas untuk salah satu posisi di dalam tim. Ini adalah untimate team dari series yang saya ikuti beberapa bulan terakhir yaitu: Prison Break, White Collar, Suits, dan Only Murders In The Building.

Saya ceritakan sedikit satu-satu ya. Prison Break, sesuai namanya, adalah drama pelarian dari penjara yang di-orchestrate oleh Michael Scofield untuk membebaskan saudaranya Lincold Burrows. Aksi keduanya dibantu Sara Tancredi, dokter penjara yang jatuh cinta pada Scofield. Sama-sama keluar dari penjara, Neal Caffrey di White Collar keluar tidak dengan kabur melainkan karena diminta untuk membantu Peter Burke di FBI dalam memecahkan kasus, dalam aksinya mereka dibantu oleh rekan kriminal Caffrey bernama Mozzie.

Kalau di White Collar ada Peter dan Neal, di Suits mereka punya pasangan serupa dalam diri Harvey Specter dan Michael Ross. Harvey adalah pengacara kondang di New York yang meng-hire Mike Ross sebagai associate-nya meskipun dia bermasalah karena tidak punya ijazah. Terakhir ada Only Murders In The Building yang menampilkan trio Mabel Mora, Oliver Putnam, dan Charles-Haden Savage dalam upayanya memecahkan kasus pembunuhan di apartemennya.

Now here's the team

Striker: Michael Scofield

Scofield punya insting yang super tajam dalam membaca peluang layaknya striker terbaik dunia. Dia juga eksekutor ulung yang mampu memaksimalkan segala kesempatan untuk mencetak gol, ditunjang dengan kelincahan dan timingnya yang brilian. Dia bisa bekerja sendiri menghancurkan pertahanan lawan maupun membangun serangan bersama rekan-rekannya. Dia adalah team player sejati yang bersedia masuk penjara demi membebaskan kakaknya. 

Right Winger: Sara Tancredi

Tidak ada pendamping yang lebih baik bagi Scofield selain Sara Tancredi. Romansa keduanya menjadi pemanis cerita dan aksi yang tegang dalam Prison Break. Sebagai pemain di sayap kanan Sara senantiasa memberikan umpan lambung untuk Scofield di depan. Assist terbaiknya tentu saja ketika ia meninggalkan pintu infirmary tak terkunci malam itu.

Left Winger: Mabel Mora

Mabel melengkapi barisan depan tim ini. Kehadirannya sebagai pemain sayap kiri menawarkan kreativitas dan keberanian dalam bermanuver. Kombinasinya di sisi kiri bersama Putnam tentu akan merepotkan pertahanan lawan. Daya jelajahnya sangat berguna untuk menusuk ke kotak penalti lawan ketika seluruh tim yang lain sedang mengalami kebuntuan, seperti keberaniannya ketika melawan dan mengejar glitter guy dalam OMITB.

Central Midfielder : Neal Caffrey

Neal dengan gayanya yang elegan mengingatkan saya pada pemain tengah Barcelona, Xavi. Ide-ide Neal yang brilian dan tidak terpikirkan orang itu sama halnya passing-passing mengejutkan nan akurat yang biasa dilakukan Xavi. Kasus rumit menjadi ringan ketika orang sekreatif Neal ada di jantung permainan. Neal adalah spesialis tendangan bebas dan sering mencetak gol dengan sepakan akuratnya. 

Central Midfielder: Mozzie

Kalau Neal adalah Xavi, tentu Mozzie adalah Iniesta-nya. Neal dan Mozzie bisa saling mengerti tanpa harus berbicara. Mozzie adalah orang kepercayaan Neal untuk membereskan banyak hal yang membutuhkan berpikir dan risat. Dia adalah otak di belakang kesuksesan Neal bersama FBI. Baik Iniesta di Barcelona maupun Mozzie di White Collar keduanya sama-sama menyenangkan untuk dilihat. Kemiripan lain diantara keduanya tentu saja masalah . . rambut.

Defensive Midfielder: Harvey Specter

Sebagai salah satu pengacara terbaik di New York yang ahli dalam mematahkan gugatan hukum kepada kliennya, Harvey Specter adalah orang yang pas menduduki posisi gelandang bertahan. Tugasnya menghentikan serangan lawan sebelum terlalu dekat dengan gawang. Skill yang mumpuni, kemampuan membaca situasi, dan work ethic yang dimilikinya membuatnya dipercaya menjadi kapten di tim ini. 

Right Back: Michael Ross

Michael Ross atau yang biasa dipanggil Mike Ross ini sebenarnya sangat jenius. Namun ia terpaksa berada di belakang karena harus menyembunyikan fakta bahwa dia bukanlah lulusan hukum. Ini membuatnya ilegal mempraktekkan hukum di Amerika. Di tim ini Mike Ross akan berperan sebagai inverted full back yang masuk ke tengah membantu Harvey menghalau upaya serangan lawan. Bersama Mabel Mora, Mike Ross adalah youngster yang akan bersinar di tim ini. 

Center Back: Charles-Haden Savage

Charles-Haden Savage a.k.a Brazzos adalah pemain paling senior di tim ini. Secara fisik mungkin ia bukan yang paling enerjik dan cepat, namun pengalamannya adalah modal berharga untuk menjadi pemain belakang. Jiwa detektifnya sebagai Charles dan Brazzos membuatnya jeli melihat aliran serangan lawan. Potitioningnya bagus, Charles bijak di dalam lapangan, walaupun di luar lapangan dia bucin pada orang yang salah.

Center Back: Lincoln Burrows

Linc berperan sebagai tukang pukul di lini belakang. Kalau Scofield adalah otak, Linc adalah ototnya. Dia tidak segan menggunakan fisiknya untuk menghentikan serangan lawan. Meskipun sedikit sloppy dan kadang-kadang blunder, Linc beberapa kali mampu mencetak gol dengan sundulannya memanfaatkan umpan sepak pojok dan tendangan bebas. Linc pemain yang paling sering kena kartu merah di tim ini.

Left Back: Oliver Putnam

Sebagai bek kiri Putnam selalu merasa dirinya Roberto Carlos, ketika sebenarnya dia adalah Alberto Moreno. Banyak gaya, suka ngide, tapi tetap valuable member of the squad. Setidaknya di sisi kiri lapangan ada pawangnya yaitu Mabel. Putnam bersama Mabel akan merangsek dari sayap seperti ketika mereka menyelinap di lorong rahasia Arconia. 

Goalkeeper: Peter Burke

Sebagai agen FBI dengan success rate di atas 90 persen, kita bisa berharap gawang kita aman ketika dijaga oleh Peter. Dilihat dari keahliannya menggunakan senjata maupun bertarung tangan kosong, sepertinya tangannya bisa diandalkan. Sepanjang pertandingan Peter terus memberikan arahan pada garis pertahanan di depannya. Namun ketika pemain belakang bisa dilewati dia pun berani berhadapan satu lawan satu dengan penyerang lawan. After all, Peter adalah 'penjaga' Neal Caffrey.

Inilah Crime Series Ultimate Team versi saya, bagaimana menurutmu?

Belajar dari Statistik Bola Part 1

June 16, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments
Ada sebuah metode analisis teknis sepakbola yang sekarang sedang naik daun. Metode ini dapat digunakan untuk memprediksi tim mana yang akan memenangkan pertandingan, bahkan kompetisi. Metode ini pula yang saat ini banyak digunakan sebagai rujukan tim-tim bola Eropa untuk memilih pemain yang akan dibeli pada bursa transfer.

Expected Goal (xG) dan Expected Point (xP) menjadi dua variabel yang banyak dibicarakan saat ini karena dipercaya sebagai besaran yang sederhana namun akurat untuk menggambarkan permainan sebuah tim di lapangan sepakbola. Menang dan kalah dapat dilihat dari skor yang terpampang pada peluit akhir pertandingan. Namun, xG dapat menjelaskan kenapa satu tim layak kalah dan yang lainnya menang. Begitu pula xP untuk skala kompetisi.



Begini penjelasan singkat tentang xG

Seiring berkembangnya industri sepakbola, ada beberapa pihak/situs yang mengumpulkan data tembakan (shot data) dari berbagai liga sepakbola profesional selama sekian tahun hingga terkumpul setidaknya puluhan ribu tembakan. Tembakan di sini diartikan tendangan berupa attemps untuk mencetak goal ya, kalau cuma operan tidak dihitung.

Selanjutnya, unsur yang paling dilihat dari data tersebut adalah dari mana tembakan dilakukan dinyatakan dengan jarak dari gawang dan sudutnya. Sebagai contoh perhatikan ilustrasi berikut:


Angka-angka tersebut punya arti berapa persen tendangan (dan sundulan) yang dilakukan di area tersebut yang berhasil menjadi goal. Semakin dekat dengan gawang dan semakin lurus sudutnya tentu semakin besar kemunginannya menjadi goal. Pada dasarnya xG menggambarkan kualitas peluang.

xG biasanya dinyatakan dalam desimal, bukan persen, seperti:

37% menjadi 0.37
8% menjadi 0.08
dst

Angka xG kemudian dijumlahkan dalam satu pertandingan bahkan dalam satu musim kompetisi untuk melihat seberapa bagus performa tim tersebut. xG diyakini lebih representatif daripada jumlah goal yang dicetak tim itu sendiri karena xG mengeliminasi faktor keberuntungan.


Selanjutnya, tentang xP alias expected points

Dua tim yang bertanding di lapangan bola pasti memiliki xG yang dihitung berdasarkan peluang yang mereka dapatkan di pertandingan itu. Expected points dihitung berdasarkan selisih xG yang dimiliki kedua tim, dengan ketentuan berikut:


Ilustrasinya, misal Persib Bandung lawan PSS Sleman setelah dihitung xG-nya Persib 2,1 vs 1,4 PSS. Maka selisih xG Persib unggul 0,7 atas PSS, sehingga xP untuk Persib adalah 2 (baris ketiga) dan untuk PSS 0,5 (baris 6). Catatan: yang xG kalah nilainya jadi negatif, kasus PSS ini jadi -0,7.

Nilai xP yang diperoleh masing-masing tim dalam suatu kompetisi dijumlahkan sepanjang musim sehingga bisa dibuat klasemen berdasarkan xG dan xP. Tentu penilaian ini lebih rumit daripada skoring yang biasanya dipakai dimana tim yang menang dapat 3 poin, imbang 1, dan kalah 0. 

Ini adalah contoh klasemen liga Inggris yang dinyatakan dengan metode konvensioal sekaligus xP-xG: https://understat.com/league/EPL

Lalu apa keutamaan dari statistik xG dan xP ini? Jawabannya adalah prediksi

Telah terbukti dalam beberapa tahun terakhir bahwa perolehan xG dan xP mencerminkan performa tim tersebut pada musim berikutnya jika tidak melakukan perubahan pada masa istirahat kompetisi: membeli pemain, ganti pelatih, dll.

Jika melihat tabel untuk liga Inggris tersebut, jika tidak ada perubahan besar maka Manchester City dan Liverpool tetap akan menjadi unggulan dimana City tetap akan menjadi juara. Liverpool perlu merekrut penyerang baru yang cukup berkualitas untuk meningkatkan xG sehingga bisa mengimbangi City.

Konsekuensinya, xG dan xP juga menjadi pertimbangan ketika sebuah tim akan merekrut pemain. Jangan sampai membayar mahal untuk pemain gagal, contohnya Higuain ke Chelsea.


Chelsea melakukan kesalahan dengan membeli pemain yang xG-nya terus menurun, yang mana artinya pemain yang bersangkutan semakin tidak mampu mendapatkan peluang. Hasilnya xG Chelsea bahkan berada di bawah Arsenal dan MU.

Kemampuan xG dan xP untuk memprediksi masa depan sebuah tim semakin diakui. Lebih dari itu, di luar sepakbola pun konsep serupa dapat digunakan. Kita bisa memprediksi masa depan sebuah perusahaan, organisasi, universitas, sekolah, bahkan keluarga dan individu dengan melihat secara mendalam entitas yang bersangkutan.

Jika melihat keluarga misalnya, kita bisa mengobservasi bagaimana hubungan orang tua dan anak di keluarga tersebut, bagaimana bahasa yang digunakan, bagaimana cara keluarga itu menyelesaikan konflik, bagaimana hubungannya dengan tetangga, apakah keluarga menjunjung tinggi pendidikan, dan lain sebagainya.

Jika kita menemukan bahwa aspek-aspek itu bernilai baik, dapat diduga keluarga itu kondisi hidupnya akan membaik regardless bagaimana kondisinya saat ini. Sebaliknya, keluarga yang tampak stabil bisa lengser sedikit demi sedikit jika kebaikan-kebaikan tadi tidak dipelihara.

Kita sering bilang bahwa roda kehidupan berputar, yang di atas akan ada saatnya berada di bawah, dan sebaliknya. Kita sering kaget kok bisa berubah begitu cepat. Padahal jika kita mau melihat lebih dalam memang individu/keluarga/lembaga itu kehilangan pegangan sejak waktu-waktu sebelumnya.

Pada bagian ini saya banyak menjelaskan dari sisi sepakbolanya, nanti pada bagian berikutnya saya ingin lebih berkontemplasi tentang bagaimana kita bisa melihat masa depan dengan cara ini dalam dunia yang lebih luas dari lapangan sepak bola.