Showing posts with label faith and humanity. Show all posts
Showing posts with label faith and humanity. Show all posts

Rajin Ngaji, Jangan Lupa Belajar

March 16, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Saat belajar puasa dulu, ibadah ramadhan adalah ibadah yang sangat fisik. Sebagai anak-anak tantangan beratnya adalah bangun jam 3 pagi untuk sahur, memaksa melek untuk subuhan, lalu menahan lapar dan haus sampai maghrib dengan siang harinya tetap sekolah dan TPA, malamnya salat minimal belasan rakaat. Itu diulang selama 29 atau 30 hari. 

Sementara kini setelah dewasa orang secara fisik sudah lebih kuat. Lapar dan haus sudah bukan tantangan terberat, kecuali memang punya aktivitas yang sangat menguras tenaga. Masalah tidak makan di luar ramadhan pun orang berkreasi dengan intermittent fasting dengan alasan kesehatan. Bangun dini hari mestinya biasa kalau sering bangun nonton bola. Tarawih kalau sampai ngos-ngosan berarti orangnya yang kurang olahraga atau salatnya kecepetan.

Untuk orang dewasa ramadhan itu game-nya bukan di fisik tapi di prioritas. Mau pilih mana,  perbanyak ibadah sunnah atau kembali bekerja, buka puasa di masjid atau buka bersama di rumah saudara, usai tarawih tadarusan atau nge-gym, pulang kerja buka di luar atau dengan keluarga, baca buku umum atau nyimak video kajian, safari masjid atau main dengan anak, kajian sore atau menyiapkan makanan berbuka,  belajar atau mengejar target bacaan, dll. Keputusan akan lebih mudah diambil kalau pilihannya yang satu baik yang satu tidak, tapi dalam ramadhan sering harus memilih di antara dua yang baik. Ramadhan banyak baik-baiknya. Alhamdulillah.

Ramadhan jadi makin spesial karena terbatas, hanya 1 bulan saja. Karenanya semestinya ramadhan dijalani dengan prioritas yang berbeda. Teringat sebuah pesan:

̶R̶̶a̶̶j̶̶i̶̶n̶ ̶b̶̶e̶̶l̶̶a̶̶j̶̶a̶̶r̶, ̶j̶̶a̶̶n̶̶g̶̶a̶̶n̶ ̶l̶̶u̶̶p̶̶a̶ ̶n̶̶g̶̶a̶̶j̶̶i̶
Rajin ngaji, jangan lupa belajar

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, semoga Allah SWT menerima amal baik dan mengampuni kesalahan kita. Mohon maaf lahir dan batin, jika saya punya hutang atau janji mohon diingatkan.


Thanks,
Chandra

Agamophobia

July 06, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Agak mengganggu ketika sekarang orang-orang begitu sensitif kalau ada hal-hal berbau agama. Hari ini mencuat di twitter seorang buzzer ngetweet sindiran pada SPBU yang memberikan bbm gratis ke konsumennya yang baca Al-Quran. Come on, SPBU deket rumah saya sudah sejak bertahun lalu ngasih gratis bbm seperti itu juga sepanjang bulan puasa, dan nggak ada yang protes tuh.



Geli ketika seorang kader partai mengeskalasi hal-hal macam ini. Logika mana yang menghubungkan bbm gratis dengan menempatkan pemeluk agama lain sebagai second class citizen. Padahal ini partai yang katanya menjunjung tinggi toleransi, eh.

Setelah saya baca-baca, SPBU ini dikelola oleh swasta dan bukan milik anak perusahaan Pertamina. Jadi terserah pemiliknya mau membuat kebijakan bonus seperti apa, toh promo ini dibiayai oleh keuangan pom bensin itu sendiri, bukan uang rakyat.

Bahkan kalau mau bicara BUMN, beberapa BUMN juga memberikan promo dan hadiah berupa paket umroh. Yang namanya usaha, mulai dari kios kelontong kecil hingga perusahaan raksasa dikelola oleh manusia dan melayani manusia. Mereka bukan robot yang semuanya harus sama-ma. Ada pertimbangan-pertimbangan yang ujungnya bertujuan menyenangkan konsumennya.



Perusahaan pasti punya data persebaran demografi konsumen mereka. Mulai dari usia, jenis kelamin, agama, dan lain sebagainya. Data ini menjadi acuan untuk banyak keputusan, salah satunya dalam memberikan promo dan hadiah. Promo membutuhkan biaya, maka harus tepat sasaran. Jadi jangan dipaksa memberikan promo secara rata.

Grab kemarin memberikan diskon tarif flat di Jakarta untuk keberangkatan dari stasiun KRL tertentu saja yang jadi pusat commuter. Disneyland punya harga yang berbeda (lebih murah) untuk lansia. Bulan depan mungkin beberapa warung makan akan ngasih diskon untuk orang bernama Agus. Apa yang kaya gini akan dibaperi?

Phobia ini semakin kemana-mana. Saya jadi harus agak mikir kalau mau ngetweet atau berkomentar takut salah omong dan dinilai macam-macam. Masalahnya sekarang banyak orang bipolar. Logika banyak orang sekarang: kalau kamu bukan kelompokku, maka pasti kamu kelompok lawanku. Sayangnya saya lihat oknum dari kedua kubu ada yang begitu, jadi nggak selesai-selesai urusannya.

Orang yang menegasikan dengan cara ini perlu diruqyah emang. Memangnya dunia ini cuma ada hitam putih? cuma ada kawanmu dan lawanmu? saya lebih suka menyebutnya kelompokku dan kelompok lain? Kalau kata Cak Nun, jangan menilai aku benar kamu salah, tapi katakan aku begini dan kamu berbeda. Perkara siapa benar dan salah, bukan hak kita untuk menentukan. Sesama siswa tidak bisa mengisi raport temannya.

Sekarang ini saatnya rekonsiliasi setelah polarisasi yang terjadi selama berbulan-bulan. Kalau yang akan dikatakan rawan menjadi sebuah provokasi mending nggak usah dikatakan. Di sosial media saya tidak akan mengatakan saya ada di posisi mana. Saya mau ketawa aja kalau ada orang yang berusaha melucu.

Soal promo bbm nggak usah dibaperi lah. Apalagi kalau yang bersangkutan cuma nemu foto itu dan nggak tahu sebenarnya dimana itu SPBU. Terserah yang punya SPBU apakah promo itu hanya pertimbangan bisnis atau yang punya memang mengharapkan berkah di dalamnya. Emang tahu siapa yang punya? Enggak kan.

Kalau ada yang mau buka twitnya, ini saya kasih link-nya: twit promo bbm

Keep calm and makan makan

@chandranrhmn

Saya Cinta Palestina tapi Tidak Ikut Aksi

December 17, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Hari ini ada Aksi Bela Palestina di Monas. Saya tidak ikut. Ada beberapa alasan sehingga bagi saya rasanya tidak worth it untuk pergi ke Jakarta 'hanya' untuk ikut acara ini.

Bagi orang awam seperti saya, Aksi Bela Palestina ini lebih esensial daripada acara bernuansa sama beberapa hari lalu. Setahun yang lalu ada kasus penistaan agama lalu ditanggapi dengan Aksi Bela Islam dan aksi semacamnya. Bagus, karena pada akhirnya kita sadar bahwa kehormatan agama ini perlu dibela. Tapi perlukah reuni ? hmmm. Jangan-jangan kalau tahu Trump bakal mengeluarkan pidato kontroversial beberapa hari berikutnya reuni itu tidak akan ada.

Seperti kita tahu Trump kemarin mengeluarkan statement yang memicu kehebohan dunia dengan mengatakan bahwa Jarusalem adalah ibukota Israel. Akibatnya konflik di Palestina sana semakin menyala dan berdarah-darah.

Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ikut panas. Muncul gerakan-gerakan dan kampanye untuk membantu saudara-saudara yang berjihad di Palestina. Bagus, kalau kata Ust. Hanan Attaki di jaman sekarang bangsa-bangsa seperti Palestina, Syria, dan Rohingya adalah kaum 'Muhajirin' sedangkan bangsa damai seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei adalah kaum 'Ansor'. Sudah seharusnya bangsa-bangsa damai dan makmur memberikan kepedulian besar atas saudaranya.

Seperti Anda, saya juga cinta Palestina. Tapi...


Kalau tadi saya katakan ada beberapa alasan yang membuat saya tidak begitu simpatik dengan aksi ini adalah ketidaksukaan saya pada beberapa kelompok atau pihak yang terlibat. Walaupun saya bilang aksi ini esensial, nuansa aksi ini tetap relatable dengan aksi-aksi sebelumnya dan saya terlanjur tidak simpatik dengan aksi-aksi itu. Saya sepakat dengan ide yang mendasari aksi-aksi ini. Tapi jujur saya lelah menyaksikan drama-drama di belakangnya dan perselisihan yang terjadi di level akar rumput.

Maaf kalau sangat subyektif, saya sadar bahwa kalau sudah tidak suka dengan sesuatu segalanya jadi tampak tidak baik. Tapi faktanya bahkan saya terpaksa kehilangan respect pada seorang guru yang dulu saya anggap sangat intelek tapi kini sering membagikan informasi-informasi tidak akurat dan dipaksakan untuk menyalahkan pihak lain, bahkan kadang berisi ujaran kebencian.

Saya punya prinsip, untuk mendapatkan gambaran paling murni tentang sesuatu, carilah petunjuk dengan rantai informasi terpendek. Saya orang yang internet-active, tapi sangat menghindari berita yang isinya "katanya-katanya", tanpa sumber yang jelas, bahkan kadang cacat logika. Sayangnya berita seperti ini sangat banyak tersebar di internet, membuat berita salah memang lebih mudah daripada membuat berita benar. Kebiasaan selektif ini memang kadang-kadang membuat saya ketinggalan berita, tapi sisi baiknya adalah saya tidak banyak terpengaruh oleh buzzer-buzzer yang belum tentu kredibel.

Video wawancara atau pidato yang tidak dipotong, berita yang narasumbernya terlibat dalam peristiwa, dan sumber berita non profit yang jauh dari kepentingan adalah alternatif referensi yang menurut saya lumayan baik. Sayangnya yang seperti ini seringnya sulit dicari.

Masyarakat muslim Indonesia terpolarisasi sejak kasus penistaan agama dan pilkada yang heboh itu. Di sisi lain informasi bias tersebar dengan sangat cepat. Perdebatan terjadi dimana-mana dan sebagiannya tidak menghasilkan solusi, malah banyak saya temui di sosial media dimana sesama teman jadi saling menyalahkan.

Saya pun berjudi dengan tulisan ini. Walaupun pembacanya belum banyak-banyak amat, tetapi pasti ada diantara teman-teman yang membaca ini yang tidak sependapat dengan saya. Tolong kalau saya salah diingatkan, tapi jangan buta-buta membeci saya karena tulisan ini. Jangan-jangan nanti banyak keputusan memilih menantu dipengaruhi stance dalam hal-hal ini heuheu...

Kalau saya pada akhirnya berempati atau membantu saudara-saudara di Palestina, itu bukanlah karena terinspirasi dari aksi hari ini. Tetapi itu karena hidayah Allah melalui gambaran-gambaran peristiwa yang terjadi di Palestina yang saya akses dari sumber-sumber referensi yang saya yakini tadi.

Nasehat dekat dengan kata "kebenaran" dan "kesabaran"
Sama seperti Anda, saya juga cinta Palestina
Save Palestine




Salam damai,
Chandra








Membeli Bukan Sekedar Transaksi

November 05, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments
Pesan seorang senior di kantor, "Kamu sekarang cari sambilan, buat backup, mumpung masih banyak waktu luang, nanti bisa sekalian buat mengkader istri..". Obrolan sambil makan nasi goreng kambing, bukan acara pengenalan perusahaan atau apapun seperti kawan-kawan yang juga mulai bekerja, karena memang gak ada, sudah dianggap langsung siap mroyek karena sejak dulu sudah sering main kesana, dianggap sudah kenal.

Fleksibilitas sistem kerja memungkinkan saya untuk secara paralel mengerjakan sesuatu yang lain. Dengan mempertimbangkan keinginan untuk belajar, passion, dan prediksi pasar, saya putuskan kegiatan yang menguntungkan untuk dilakukan saat ini adalah : jualan alat-alat dan aksesoris panahan secara online.

Ini adalah pengalaman pertama saya berjualan secara profesional. Tentu masih sangat noob dibandingkan olshop-olshop yang sudah jauh lebih senior. Tapi saya suka sistem tokopedia yang memungkinkan toko baru untuk bersaing dengan yang sudah lebih dulu masuk. Akhirnya saya pilih Tokopedia sebagai marketplace toko pertama saya ini. Awalnya saya mau buka juga di Bukalapak, tapi ternyata mengurus satu saja udah cukup repot.

Pada Sea Games 2017 kemarin cabor panahan cukup sukses dan menyumbangkan beberapa medali. Pasca itu sepertinya olahraga panahan semakin populer di Indonesia. Info yang saya dengar dari sesama penghobi, di beberapa daerah lahir komunitas-komunitas panahan baru. Komunitas baru = pasar meluas. Apalagi ini termasuk aktivitas hobi dan rekreasi, pegiatnya biasanya siap mengeluarkan budget lebih.

Marketplace siap, pasar ada, barang mulai berdatangan, akhirnya dengan mengucap bismillah saya buka toko online pertama saya : BANDOENG ARCHERY



Sebagai toko yang masih baru, saya belum punya banyak bintang dan ulasan yang biasanya jadi pertimbangan calon pembeli, yah walaupun alhamdulillah sekarang sudah hampir tiap hari ada penjualan dan hasilnya lumayan lah sebagai pengalaman pertama dan usaha sampingan. Tapi kalau teman-teman hobi panahan atau ingin mencoba olahraga ini - sunnah loh - boleh banget belanja di kami hehehe. Atau kalau teman-teman punya kenalan yang hobi, boleh direfer ke toko saya. Minimal doanya semoga usaha ini berkah :)

Btw, untuk meningkatkan penjualan, saya menggunakan fitur TopAds di tokopedia sehingga jika ada orang mencari kata kunci tertentu barang saya akan muncul di bagian atas. Melalui fitur TopAds saya bisa tahu berapa kali produk itu ditampilkan, berapa orang yang meng-klik, persentasenya, dan berapa yang terjual. Saat ini persentase klik produk saya ada di sekitar 4%. Artinya secara rata-rata dari 100 kali iklan muncul ada 4 orang yang meng-klik. Kalau dari yang saya baca di forum-forum jualan online, persentase 2-3% oke, di atas 3% bagus.

Melihat statistik ini saya jadi terpikir penjual makanan, asongan, koran, mainan, tongkat tol, atau apapun yang biasa menjajakan jualannya di jalanan itu. Betapa banyak kendaraan dan manusia yang lewat tanpa menoleh kepadanya, termasuk saya. Kalau kita tanya penjaja di pinggir jalan itu ia akan menjawab dia berjualan untuk makan. Tapi setelah saya merasakan sendiri sensasi menjual sungguh berdagang bukan cuma soal keuntungan, tapi juga kebahagiaan dan rasa syukur. Tidak ada notifikasi lebih menyenangkan akhir-akhir ini selain notifikasi order baru di akun tokopedia saya.

Berbeda dengan pekerja kantoran atau pegawai negeri yang relatif sudah tahu berapa dia akan dapat nanti ketika tanggal gajian, para pedagang itu tidak tahu. Mereka pagi-pagi berangkat dari rumah tanpa tahu petang nanti pulang akan membawa apa. Mereka sampai pada tingkat keberserahan yang lebih tinggi dari rata-rata orang. 

Dulu diajarkan oleh guru agama di sekolah bahwa berniaga adalah salah satu sumber rejeki, bahkan profesi yang recommended. Membeli dari pedagang jalanan bukan sekedar membantu mereka menyambung hidup atau menafkahi keluarganya. Di saat yang bersamaan kita memberi mereka alasan untuk berbahagia dan kemudahan untuk lebih bersyukur. Lebih dari itu, dengan membeli bahkan mungkin kita akan menyelamatkan mereka dari meragukan kasih sayang Tuhan.


Chandra 


Perlukah Mengkhawatirkan Ini ?

June 15, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dari 12 pasangan yang terjaring tersebut, tiga pasangan berstatus sebagai pelajar SMA. Mereka adalah Na (18) berpasangan dengan Ang (21) keduanya warga Bantul. Ri (18) dan Yu (18) keduanya warga Kecamatan Pundong, Bantul. Pasangan lainnya ialah Ar (22) warga Pundong berpasangan dengan Me (18) seorang pelajar warga Jetis, Bantul. - Kedaulatan Rakyat, Senin 12 Juni 2017, halaman 23 
Hmmm..beberes koran di ruang tamu dan malah menemukan bacaan ini. Bukan saya merasa heran. Tapi jadi bertanya-tanya, seberapa 'gelap' kah masa dan kehidupan remaja sebenarnya ?

Di satu sisi mungkin saya perlu bersyukur selama ini berada di lingkungan yang lemayan baik. Memang ada yang begitu-begitu tapi tidak terlalu parah. Masih lebih dekat ke cahaya daripada ke kegelapan. Tapi di sisi lain, jangan-jangan itu karena dolanku kurang adoh ? (mainku kurang jauh)

Ini menjadikan saya sedikit khawatir. Seperti mau pergi ke suatu tempat yang saya belum pernah kesana dan berpikir itu daerah maju maka pasti akses jalannya bagus. Tapi orang-orang di sekitar bilang bahwa sering terjadi longsor dan banjir, berkelok dan licin sehingga sering terjadi insiden, dan lain sebagainya. Jadi harus bagaimana ? Optimis dengan pemikiran sendiri yang berdasarkan asumsi atau percaya kata orang yang mungkin lebih tahu.

Saya pernah menemukan sebuah infografis, tapi lupa filenya dimana. Intinya secara statistik remaja Indonesia kehilangan virginitasnya rata-rata pada usia 19,1 tahun (2005). Benarkah ? Saya juga ragu karena agak tidak jelas siapa yang meneliti, apa standarnya, bagaimana metodenya, siapa respondennya, dll.

Lalu kalau browsing juga banyak artikel dan berita yang membahas tentang ini. Misal "90% mahasiswa di kota A bla bla bla". Semakin banyak membaca itu makin menjadikan saya curious dan khawatir. Beberapa kali saya mengajak diskusi teman-teman tentang masalah ini, tentang pertanyaan "seberapa parah sih ?".

Ternyata pendapat mereka juga beda-beda. Ada yang bilang angka segitu terlalu tinggi, ada yang bilang terlalu rendah. Ada yang mengatakan mahasiswa lebih parah daripada remaja umum, ada yang bilang sebaliknya. Ada yang menanggap menjaga kehormatan adalah keharusan, ada yang mengatakan jaman sekarang itu nggak penting-penting amat.

Oke, jadi memang susah untuk menyimpulkan tentang seberapa parah. Faktor yang paling membuat perbedaan pendapat adalah dimana dan bagaimana remaja yang bersangkutan bergaul. Kalau diperdebatkan akan jadi sangat panjang karena standar baik-buruk yang berbeda.

Tidak usah munafik, di masa remaja saya juga pernah dekat dengan lawan jenis, sebut saja pacaran. Tapi bagi saya 19 tahun adalah 3 tahun yang lalu dan gambaran seperti itu belum terbayang dengan jelas bahkan sampai sekarang. Alhamdulillah ya, malah semakin banyak nasehat untuk menjaga diri.

Ada salah satu teman yang mengatakan "tantangan terbesar remaja itu adalah keinginan untuk jima' ". Makanya segerakan mendapat pasangan yang halal jika sudah siap. Kalau belum siap ya jaga diri, salat, puasa. Begitu katanya. Memang nggak bisa benar-benar suci, tapi kan kudu diminimalkan.

Huaa, apa mungkin kekhawatiran ini bagian dari quarter life crisis ? Jujur saya mengharapkan feedback dari kawan-kawan pembaca soal ini, bagaimana menurut Anda ? Comment bisa anonim kok.

Harusnya kekhawatiran ini tidak perlu kalau meyakini penuh bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Harusnya . . .

Jadi apa ya inti dan moral value tulisan ini ? -_-

Ini adalah soal kekhawatiran saya dengan kondisi remaja-remaja kita. Mungkin ada yang menilai kekhawatiran saya ini berlebihan. Saya sebenarnya juga egois karena sedikit banyak berpikir "kalau memang ada keburukan saya tidak tahu bagaimana memperbaikinya, tapi sebagai individu saya ingin menghindari keburukan itu".

Fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang memprihatinkan. Ini kondisi sekarang, lalu bagaimana dengan generasi selanjutnya ?

Kembali lagi kekhawatiran ini tidak perlu kalau meyakini penuh bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Maka mungkin cara terjelas yang bisa dilakukan adalah memperbaiki dan menjaga diri masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua punya masa lalu yang bisa saja baik dan bisa saja buruk.

Berubahlah agar Dia tersenyum - Ebiet G Ade
Astaghrifullahaladzim..


Chandra
150617


sumber gambar : www.thesun.co.uk

Salat Tarawih di Masjid Pusdai Bandung

June 08, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sudah hampir 4 ramadhan di Bandung tapi ini baru pertama kalinya saya tarawih di masjid Pusdai Jawa Barat. Padahal ini masjid yang lumayan terkenal. Pusdai lokasinya di dekat Gedung Sate. Tepatnya di sebelah timur RRI Bandung. Bisa juga masuk lewat jalan PHH Mustofa.

Awalnya nggak berniat tarawih di tempat ini. Tapi kemarin ada acara buka bersama di HDL 293 Cilaki yang tempatnya pas di depan Pusdai jadi sekalian salat Maghrib di sana. Betah dengan suasana Pusdai jadi pengen sekalian tarawih di sana.

Lokasi yang strategis dan namanya yang memang sudah terkenal plus kegiatan ramadhan yang semarak menjadikan masjid ini rame di bulan ramadhan. Parkirannya juga luas untuk mobil dan motor dan berportal. Jadi buat Anda-Anda yang membawa kendaraan tak perlu khawatir soal parkir. Udah gitu, bayar parkir seikhlasnya hehehe. 

Bicara soal tarawih biasanya ada yang nanya berapa rakaat salatnya. Tarawih di Masjid Pusdai 11 rakaat. Teknisnya 2 rakaat salam sebanyak 4 kali lalu ditutup witir 3 rakaat. Tentu sebelumnya salat Isya dan ceramah sekitar 20 menit.

Kesan saya salat di masjid ini
Pertama, tempatnya nyaman, sejuk tapi tidak dingin walaupun sudah malam. Ventilasinya cukup dan atapnya tinggi jadi tidak pengap walaupun rame. Kalau tidak sedang waktu salat juga nyaman duduk-duduk di serambi dan tamannya yang luas. Bikin betah lah.

Kedua, waktu salat di sana kemarin bacaan imam dan ceramahnya enak. Jadi betah dan nggak terasa lama. Ada beberapa jamaah yang membawa anak-anak dan kayaknya ayem ayem aja si anak.

Jadi kalau kamu hobi safari dari masjid ke masjid selama ramadhan Pusdai boleh dicoba. Juga warga luar daerah yang sedang ke Bandung juga bisa mampir ke sana. Selamat beribadah. Ramadhan mubarak

Beberapa potret masjid Pusdai

Pintu utama masjid Pusdai
Masih pintu utamanya
Parkiran luas
Pintu masuk masjidnya ada beberapa dari berbagai sisi, jadi enak datang dari mana saja
Bagian dalam masjid




Chandra





Ramadhan 1-7 : Pemanasan

June 02, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


"Masih bahagiakah kita ?"

Ini pertanyaan yang dilontarkan khatib sewaktu tarawih 2 hari yang lalu. Masih ingat waktu tanggal 1 Ramadhan kemarin. Semua orang happy-happy, bersyukur menyambut bulan suci. Sahur pertama disiapkan dengan sebaik-baiknya. Masjid penuh waktu tarawih dan subuh, bahkan nggak cukup. Feed medsos dipenuhi ucapan selamat dan semangat Ramadhan.

Tapi beberapa hari berjalan suasana mulai menghambar. Shaf-shaf mulai berkurang. Mulai bernegosiasi dengan target-target yang sudah dibuat sejak awal puasa. Memang, segala hal yang baru pasti terasa indah. Usaha untuk istiqomah jarang mudah.

Tapi biarlah, kita manusia tidak bisa perfect, yang penting keep trying, ya tho ?
Lagipula tiap orang berada pada levelnya masing-masing. Mulainya juga beda-beda dan mungkin nanti selesainya juga beda-beda. Just remember jangan lupa untuk terus levelling up.

Bagi saya ramadhan ini spesial. Alasannya saya ingin comeback setelah tahun lalu kurang bisa maksimal karena cukup banyak distraksi. Ada tanggung jawab lumayan besar waktu itu bersamaan dengan ramadhan yang mau tidak mau menguras waktu. Tahun lalu juga sempat sakit di tengah-tengah bulan. Alhamdulillah tahun ini masih diberi kesempatan bertemu ramadhan. Walaupun 'hanya' 30 hari tapi ingin rasanya Ramadhan kali ini jadi berkualitas tinggi.

Kalau mungkin teman-teman punya target progresif dari tahun ke tahun yang terus naik, tidak begitu dengan saya. Kalau ditanya kapan ramadhan terbaik mungkin waktu kelas 3 SMP. Setelah itu sering naik turun. Jadi kali ini seperti mulai dari nol. Tahun-tahun lalu saya menjalani puasa day by day. Tapi kali ini ingin memanfaatkan bulan ini lebih terencana. Semoga selepas ramadhan menjadi individu yang lebih baik. aamiin..

Tujuh hari pertama ramadhan saya anggap sebagai fase pemasanan. Selama ini saya fokus membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang seoptimal mungkin mendukung pencapaian target-target ramadhan dengan kualitas ibadah terbaik. Mulai dari bagaimana menyiapkan makan sahur agar proper dan bisa subuh dengan baik. Bagaimana berbuka agar tetap bisa maghrib, isya, plus tarawih berjamaah. Bagaimana mengatur kegiatan di siang dan malam hari. Dan lain sebagainya. Eksperimen-eksperimen membuahkan hasil. Alhamdulillah hari ini saya sudah punya cukup gambaran untuk menyeimbangkan semuanya.

Tentang target harian ramadhan, banyak tersebar di internet templatenya. Berisi daftar amalan yang bisa dilakukan selama ramadhan. Berupa tabel yang harus diisi tiap harinya. Tapi menurut saya itu belum cukup. Sebagai contoh, misalnya di siang hari sekitar salat Dzuhur. Datang tepat waktu ke masjid, salat jamaah, mendengarkan ceramah, dzikir, plus baca Al-Quran mungkin memakan waktu sekitar 1,5 jam. Artinya masih ada 1,5 jam lagi yang unguided sampai Ashar. Waktu yang seperti ini biasanya malah menjerumuskan kepada hal yang sia-sia.

Itu adalah salah satu hasil evaluasi saya selama 7 hari pertama. Mulai besok saya akan coba menutup lubang itu dengan membuat 1 guidance lagi. Yaitu dengan membagi waktu 24 jam sehari secara lebih jelas. Berapa jam untuk fokus beribadah, berapa jam mengurusi urusan akademik / TA, berapa jam me time produktif dan santai, berapa jam istirahat, dan berapa jam spare. Nanti dievaluasi terus dan porsinya berubah, levelling up.

Selanjutnya dihitung setiap kegiatan yang kita lakukan. Tidak perlu terlalu detail perhitungannya, yang penting proporsional. Harapannya jadi tidak bingung dalam memanfaatkan waktu yang terbatas ini dan semoga makin sedikit waktu yang terbuang sia-sia. Karena untuk bergerak ke arah yang lebih baik caranya bukan hanya menambah yang baik-baik, tapi juga mengurangi yang jelek-jelek. Zero sum game.

Alhamdulillah sepertinya ini ramadhan paling khusyuk selama di Bandung. Tidak terlalu banyak beban pikiran tapi juga tidak nganggur-nganggur amat. Tapi seriously, paling enak itu ramadhan di rumah bareng keluarga. Jadi pengen segera mudik...

Btw, salah satu hasil eksperimen saya adalah sebisa mungkin tidur sebelum jam 11 malam. Jadi karena sekarang sudah jam 10 lebih, selamat malam :)

Ramadhan mubarak


Chandra


gambar : www.bestwishesquotes.com


Bukber Yok!

May 23, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments
Katanya mulai banyak iklan sirup adalah tanda sebentar lagi Ramadhan. Tapi Ramadhan bukan cuma itu. Lagu-lagu renungan dan religi ala Ebiet dan Bimbo naik lagi. Tayangan-tayangan khas sahur dan berbuka mengudara. Semoga lebih banyak yang bermutu daripada gimmick dan lelucon asal bunyi.

Alhamdulillahnya masjid jadi lebih rame dan meriah. Jalan-jalan rame penjaja makanan menjelang berbuka. Orang-orang bekerja lebih pendek dari biasanya. Tapi bisa jadi lebih produktif karena distraksi lebih sedikit, tidak ada makan siang, apalagi ngrokok. Atmosfernya dimana-mana jadi lebih riang.

Tapi ada kebiasaan yang berulang beberapa tahun ini semenjak lulus SMA dan merantau. Menjelang lebaran banyak ajakan buka bersama. Teman SD, SMP, SMA, dan circle-circle lain. Menjelang lebaran karena saat-saat itu lah teman-teman yang di luar kota pulang kampung. Menyenangkan sih, tapi kadang memakan 'jatah' ikut kajian menjelang buka puasa di mesjid..

Ada yang menarik yang saya perhatikan dari buber-buber yang sudah lewat. Yaitu soal gaya dan penampilan teman-teman pasca lulus SMA. Emang ya setelah lulus SMA dunia menjadi tampak jauh lebih luas, jauh. Banyak yang pindah ke luar kota berada di lingkungan baru, banyak aturan-aturan yang tidak lagi mengikat. pergaulan semakin luas dengan tipe-tipe orang yang berbeda, dll.

Saya memang suka memperhatikan orang dan menerka-nerka kenapa dia bersikap seperti itu hehe. Termasuk waktu ketemu teman-teman lama. Menjadi menarik karena dulu waktu masih sekolah hampir semuanya sama, seragam. Tapi setelah sekian lama berada di lingkungan yang berbeda gaya dan penampilan jadi beda. Semacam mimikri kali ya.

Kalau laki ada yang bergaya formal, menunjukkan sisi kedewasaannya. Ada yang swag, menunjukkan ke-gaul-annya. Ada yang menjadi lebih kalem, tampak cool tidak banyak omong. Yang mulai bisnis atau start up bicara soal proyek-proyek. Yang bekerja bicara soal kesibukannya. Yang masih kuliah bicara soal conference internasional. Kalau ada teman cewek di dekatnya memberat-beratkan suaranya. Hehehe nggak semua ding.

Kalau perempuan ada yang tampil dengan make up tebal dan pakaian 'masa kini', classy. Ada yang tampil kalem bersahaja dan keibuan. Ada yang cuek dengan penampilan, yang penting asik. Kalau apa yang mereka bicarakan, saya kurang tahu.

Tapi sah-sah aja kok yang namanya personal branding. Justru perlu dan baik. Ketika seseorang sudah menemukan style-nya maka sebagian masa pencarian dirinya sudah terlewati. Sudah lebih pantas disebut dewasa daripada ABG.

Jadi mau bergaya seperti apapun, asal masih dalam nilai dan norma, it's fine. Apalagi di masa-masa 'cari jodoh' seperti ini. Katanya orang cederung tertarik dengan yang setipe, sefrekuensi. Kenapa ?

Karena getaran dengan frekuensi yang sama akan mengalami interferensi. Semua benda, termasuk manusia. Frekuensi ini sudah ada sejak dulu. Tapi di usia dewasa muda ini amplitudonya sedang besar, sedang bergejolak. Makanya sensitif.
Amplitudo yang besar plus getaran yang sefrekuensi menghasilkan kekuatan yang dahsyat. Ini bener lho secara ilmiah, dan menurut saya berlaku juga untuk manusia. Hati-hati yaa.. 
Okay cukup bicara tentang itu.

Saya cukup yakin perubahan orang bukan cuma penampilannya saja. Tapi kedewasaan, kebijaksanaan, kematangan emosi, dll juga berkembang. Yang perlu dipastikan perubahan di luar dan dalam itu berjalan beriringan. Orang yang terlalu banyak pencitraan tanpa dasar sikap yang kuat akan mudah cemar namanya. Banyak public figure yang begini. Sebaliknya orang yang mendewasa tanpa berani tampil tidak akan dikenal orang.

Jangan saling judge sok-ini lah, sok-itu lah. Kita belum tentu lebih baik daripada orang yang kita nilai.

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind.

Tugas kita adalah menjadi yang terbaik dari versi masing-masing, gaya masing-masing. Kita perlu tahu kapan saatnya menjadi berbeda dan kapan saatnya ngumumi. Kapan saatnya tampil dan kapan saatnya menarik diri. Kapan teguh menjadi diri sendiri dan kapan luwes adaptif berkompromi dengan sekitar.

Ada nasehat yang sama baiknya dengan "Jadilah dirimu", bahkan lebih lengkap. Yaitu "menyatulah dengan sekitarmu, tapi milikilah pijakan yang kuat". Dinamika yang ada sekarang mengharuskan kita untuk dapat beradaptasi.

Untuk belajar kita harus menceburkan diri. Kita tidak akan belajar banyak jika hanya memandang dari permukaan. Seperti beberapa waktu lalu, urusannya karena penasaran ya, saya dan beberapa teman mencoba masuk ke kawasan lokalisasi Sarkem di Jogja. Ngeri, nggak usah coba-coba saya bilang. Tapi hikmahnya untuk tahu sesuatu kita harus total. Kalau tidak kita hanya akan tahu dari "katanya-katanya". Ingatlah bahwa fotokopian kalau difotokopi lagi akan semakin bruwet.

Harus total, tapi milikilah batas yang jelas. Batas untuk membedakan apakah kita sedang belajar atau kita terjerumus. Kuatkanlah pijakanmu, kita tidak bisa menguatkan orang lain jika kita sendiri tidak kokoh.

Dan jangan lupa bahagia, bukber yok :)



Chandra

Silaturahmi Muslim AE #2 : Al-Quran Manual Manusia

April 28, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Menyusuri lorong dan tangga FTMD, saya kaget ketika masuk ke ruang seminar lt 4. Saya pikir yang hadir tidak beda jauh dengan 2 minggu yang lalu. Tapi ternyata, saya yang datang agak terlambat bahkan sudah tidak kebagian kursi 'empuk'. Hanya tersisa kursi-kursi tambahan di pinggir.

Hari ini adalah harinya Silaturahmi Muslim AE #2. Ini adalah kelanjutan dari agenda kami 2 minggu yang lalu yang sempat saya tuliskan di sini. Singkatnya, ini adalah forum yang mempertemukan dosen dan mahasiswa di lingkungan teknik penerbangan ITB. Bukan dalam forum keinsinyuran, melainkan kerohanian. Dua minggu yang lalu yang hadir hanya sekitar 8 orang. Tapi hari ini alhamdulillah ada 23 mahasiswa dan 3 dosen yang kumpul sharing-sharing soal Al-Quran. Jumlah yang cukup banyak di tengah 'badai' ujian dan deadline, pikir saya. Alhamdulillah



Pembicaraan dimulai oleh cerita Bapak M. Kusni (dosen & ahli struktur pesawat) tentang perjuangan melawan penjajah. Pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol bertarung berlandaskan agama. Itulah yang menjadikan beliau-beliau berani mati. Bukan hanya berani, bahkan ingin mati syahid. Gimana coba caranya melawan orang yang bahkan ingin mati ?

Memperjuangkan kebenaran tidak pernah mudah. Selalu ada hambatan dan perlawanan yang harus diterima dengan kesabaran. Contoh terbaru, Novel Baswedan, penyidik KPK yang disiram air keras di wajahnya dan ini diduga berhubungan dengan kasus mega korupsi yang ditanganinya.

Sayangnya, menurut Pak Kusni, pendidikan yang ada sekarang hanya mengajarkan ilmu tanpa menumbuhkan karakter pembela kebenaran itu. Itulah fungsinya forum-forum semacam Silaturahmi Muslim AE ini. Forum untuk memberikan bekal lain bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Konsep berani bertarung ini masih relevan sampai sekarang. Bentuknya mungkin bukan lagi konfrontasi fisik dan senjara. Tapi sebagai warga negara Indonesia kita harus berani bersaing dengan bangsa luar, jangan inferior, kejar keunggulan. Itu bukan dzalim, tapi bersaing.

Pak Kusni sempat bercerita dulu pada tahun 1980an ketika Pak Habibie masih di IPTN. Saat itu lembaga penerbangan dari Australia ingin bertemu untuk menawarkan kerjasama. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh beliau. Beliau menganggap kemampuan Indonesia lebih tinggi, Indonesia sudah punya apa yang mereka tawarkan. Tapi ya namanya tamu, mereka ditolak oleh IPTN tapi akhirnya diterima oleh ITB. Keunggulan, kemenangan, dan dominasi bukanlah sesuatu yang dzalim, itu hasil persaingan.

Lebih lanjut, Pak Kusni berbicara mengenai ketakwaan. Taqwa adalah hal yang selalu diamanatkan dalam khotbah, jadi minimal seminggu sekali kita diingatkan. Maka taqwa adalah perkara yang tidak main-main. Kata taqwa disebut dalam Al-Quran lebih dari 200 kali. Banyak ayat yang menyebutkan definisinya dan masing-masing ayat bisa beragam. Contohnya Q.S. Ali Imron ayat 133-134


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S Ali 'Imron : 133-134)

Salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit. Diantara cara-cara bersedekah, ternyata yang utama adalah bersedekah pada orang tua. Regardless orang tua sudah berkecukupan dan masih banyak yang lebih perlu dibantu, ternyata orang tua tetap yang utama.

Itu baru 2 ayat dari Al-Quran dan salah satu penyebutan taqwa, masih banyak lagi yang lain. Al-Quran adalah manual book-nya hidup manusia. Untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan akhirat kuncinya sudah ada di dalam Al-Quran. Karena sesungguhnya manusia adalah makhkluk surga, dunia ada untuk membedakan mana yang pantas di surga dan mana yang pantas di neraka.

Al-Quran dijaga kesuciannya. Kalau ada orang yang coba-coba mengotak-atik isi maupun kalimatnya pasti akan ketahuan karena banyak sekali orang yang hafal dan bisa memverifikasi. Al-Quran adalah perkara yang sangat serius dalam hidup. Membaca, memahami, dan menghafalkan AL-Quran banyak berkahnya. Banyak.

Idealnya lulus ITB paham Al-Quran lah - Pak Kusni



Bapak Agoes Moelyadi menambahkan, bahwa ketaqwaan bukanlah hal yang statis. Di dalamnya harus terus menerus ada peningkatan. Usaha untuk meningkatkan ketaqwaan, misalnya forum seperti ini, mungkin baru akan terasa efeknya 3 atau 5 tahun lagi.

Di sisi lain, ketika kita lalai untuk 'mencelupkan' diri dalam Islam, lama-lama ketaqwaan akan luntur. Akibatnya mengusahakan pemimpin Islam saja susah.

Dalam awalan Surah Al-Baqarah Allah menjelaskan ada 3 tipe orang :

Ayat 2 - 5 : orang yang beriman dan mendapat hidayah
Ayat 6 - 7 : orang-orang kafir
Ayat 8 - 16 : orang munafik

Orang munafik dijelaskan paling panjang karena ini zona abu-abu. Orang munafik mengaku beriman tapi masih melakukan penyimpangan-penyimpangan. Mari kita evaluasi diri masing-masing, ada di golongan manakah kita ?

Mengenai berjuang dan bela negara, dalam Al-Quran tepatnay Q.S Al Balad ayat 1 dan 2

Aku bersumpah demi negeri ini. Dan engkau menjadi halal di negeri ini (Q.S. Al Balad :1-2)
Ini adalah bukti bahwa legitimasi sebuah negeri diakui dalam Al-Quran. Maka sense of belonging terhadap negeri masing-masing adalah hal yang diamanatkan untuk ada. Maka sejatinya cinta tanah air juga merupakan bagian dari iman dan ketaqwaan.

Kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal, makanya dek, coba kalian cari pasangan dari bangsa lain - Pak Kusni , dan tawa pun pecah



Salam,
Chandra


Silaturahmi Muslim AE #1 : Ngaji Bareng Dosen-Mahasiswa

April 13, 2017 Posted by Chandra Nurohman 6 comments

Pagi ini tiba-tiba ada pengumuman di grup LINE Islamic Student of Aerospace (ISA). Pak Agoes, dosen aerodinamika kami, mengajak dosen dan mahasiswa AE untuk ngaji bareng. Maaf lho ya, tapi ketika banyak mahasiswa ngeluh susah ketemu dosen untuk bimbingan atau semacamnya, ini malah sang dosen yang ngajak kumpul belajar agama. Alhamdulillah :)

Niat beliau menginisiasi acara ini adalah untuk menciptakan forum yang menyatukan civitas akademika teknik penerbangan ITB dalam forum agama, bukan melulu ilmiah. Karena mendadak, tadi memang belum banyak yang datang. Dosen yang hadir juga cuma Pak Agoes. Beliau juga yang berperan jadi pembicara. Rencananya kegiatan ini akan dirutinkan tiap 2 minggu sekali, mengajak mahasiswa dan dosen yang lebih banyak. Aamiin.

Padahal beliau dosen yang sangat sibuk, juga salah satu dosen yang paling rajin turun dari lantai 4 gedung FTMD (nggak ada lift) lalu jalan kaki ke Masjid Dzarratul Ulum Batan untuk salat jamaah. Btw, dari gedung FTMD lebih dekat ke masjid Batan daripada ke Masjid Salman ITB.

Menurut Pak Agoes, kita harus menjadikan Al-Quran sebagai guidance. Syukur bahwa kebanyakan mahasiswa telah mengenal Al-Quran sejak kecil, lewat TPA misalnya atau karena bersekolah di sekolah Islam. Tapi, cuma 'kebanyakan', masih ada muslim yang belum mengenal Al-Quran dan salat. Tugas orang yang sudah sadar untuk berbagi.
This is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah - Al Baqarah : 2
Lebih bagus lagi, jika kita tidak hanya mengenal dan bisa membaca Al-Quran. Tetapi lebih dari itu, kita paham maksudnya. Memahami Al-Quran tidak sesederhana membaca terjemahan atau menguasai bahasa Arab tingkat dasar. Karena kata-kata dalam Al-Quran adalah bahasa tingkat tinggi yang dirancang sedemikian indahnya oleh Allah SWT. Ada nuansa dalam bahasa Al-Quran yang sesuai dengan makna fisiknya.

Pak Agoes sempat bercerita bagaimana pengalamannya selama kuliah di Eropa. Beliau merasa bertanggungjawab untuk berinteraksi dengan para "non-practicing moslem" yang ada di sana. Tentu dengan tujuan menyadarkan mereka tentang Islam.

Berada jauh di negeri orang, memberikan pengalaman-pengalaman berkesan. Masalah-masalah relatif lebih sering datang dan solusinya kadang lebih rumit. Tapi dengan keberserahan diri plus ikhtiar dan sabar InsyaAllah semua bisa diselesaikan dengan baik. Banyak masalah-masalah yang secara logis dan manusiawi tidak mungkin diselesaikan ternyata bisa beres atas pertolongan dan ijin Allah. Disitu kita sering disadarkan bahwa ada kekuatan besar yang mengatur semuanya.
Kalau bukan karena sabar bertahan, mungkin S3 saya tidak selesai - M. Agoes Moelyadi
Dalam dunia engineering, ada salah satu konsep yang sangat fundamental, yaitu heat transfer (perpindahan panas). Semua bidang teknik pasti menerima pamahaman tentang ini. Contoh peristiwa yang menyangkut heat transfer misalnya ketika memasak air atau air conditioner (AC) mobil. Itu hanya contoh kecil sehari-hari.

Lalu apa fenomena heat transfer yang terbesar ? Fenomena heat transfer terbesar adalah pergantian siang dan malam. Bagaimana jadinya kalau hari berjalan siang terus atau malam terus, sampai kiamat ? Sulit dibayangkan, bahkan di dekat kutub utara yang pada musim tertentu proporsi siang-malam tidak imbang saja orang-orang sudah kesulitan. Bagaimana jika sampai hari kiamat ?

Q.S. Al-Qashash :71-72


Tidak ada pergantian siang-malam maka tidak terjadi heat transfer. Tidak terjadi heat transfer sama saja tidak ada kehidupan.  Betapa ini nikmat yang tidak terkira, priceless. Have you considered ?

Itu hanya contoh, Al-Quran sangat luas mencakup segala sesuatu. Mari jadikan Al-Quran sebagai guidance dalam menjalani hidup. Sabarlah dan bertahanlah dalam segala kondisi, pertolongan Allah mencakup segala sesuatu.

Kurang lebih itu yang disampaikan Pak Agoes hari ini. Tulisan ini sekaligus sebagai notulensi. Dosen yang biasanya membahas soal aerodinamika kini berbicara tentang hal yang agak berbeda. Dulu sempat agak envy dengan kawan-kawan yang menginisiasi kongkow medika. Tapi sekarang di sini saya juga menemukan oase. Semoga bermanfaat dan berlanjut :)


Salam,
Chandra

sumber : https://quran.com/