Idul Kurban

May 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Untuk pertama kalinya kemarin saya dan istri melaksanan salat ied bukan di lapangan, bukan di masjid, tapi di halaman rumah. Bahkan saat covid dulu tidak ada momen kami salat di rumah, antara ke masjid/lapangan atau nggak salat jamaah. 

Kami salat di Nijmegen, di rumah salah satu warga orang Indonesia. Beliau punya halaman belakang yang cukup luas karena kebetulan rumahnya di hoek. Halamannya besar sehingga bisa didirikan tenda dan muat dipakai untuk salat mungkin sekitar 50 orang. Ini adalah opsi tempat salat ied jamaah Indonesia terdekat dari tempat kami tinggal.


Walaupun tampak sederhana, setingan seperti ini justru hangat dan akrab. Setelah takbiran, salat, lalu khutbah seperti biasa, ada acara ramah tamah sambil makan-makan yang baru bubar menjelang siang. Regulasi yang tidak mengijinkan penyembelihan hewan di tempat masing-masing membuat tidak ada yang buru-buru berkegiatan. Bapak-bapak ngobrol cukup panjang sampai terjadi janjian untuk main padel hari minggu nanti.

Acara ini diselenggarakan oleh Kemuni alias Keluarga Muslim Nijmegen. Komunitas ini punya dua demografi utama yaitu student di Radboud University dan bapak ibu mukimin yang sudah lama di Belanda. Biasanya kalau di suatu komunitas banyak ibu-ibu mukiminnya, hampir bisa dipastikan ketika ada acara makanannya enak-enak haha.



Makanan itu satu hal, tapi yang paling penting buat saya adalah momen kumpul-kumpulnya. Salat di masjid Maroko atau Turki mungkin lebih nyaman, tapi kita tetap merasa sebagai tamu. Beda dengan salat bersama orang-orang Indonesia yang walaupun sederhana tapi berasa di rumah. Saya bersyukur ke sini dalam kondisi di banyak kota-kota besar sudah ada komunitas muslim Indonesia yang berkembang yang welcome.

Idul Adha tidak memungkinkan dirayakan secara maksimal di sini karena setelah salat tidak bisa melihat penyembelihan dan pengurusan daging kurban. Penyebelihan hanya boleh dilakukan di rumah pemotongan hewan. Walaupun RPH halal sudah cukup banyak, kebanyakan orang memilih untuk menitip saja ke masjid atau badan amil zakat baik di Belanda atau Indonesia.

Ketika hari kamisnya masuk kerja, saya lewat sebuah tempat pemotongan hewan halal. Di sana aktivitasnya memang lebih sibuk dari biasanya sampai dibuat tenda di belakangnya, banyak orang bekerja, dan bau hewan lebih tercium daripada biasanya. Ini adalah momen terdekat saya dengan penyembelihan hewan kurban di Belanda.

Selamat Hari Raya Idul Adha! Fijne Offerfeest!

Chandra



Koperasi

May 24, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya menunggu seperti apa jadinya program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)-nya Prabowo nanti. Jujur dari berita yang sekarang-sekarang ini muncul aroma bakal banyak gagalnya sudah kuat sekali. 

MBG bisa berjalan karena gratis dan sekolah-sekolah bisa dipaksa untuk menerima. Sekolah, guru, dan siswa dalam hal ini hanya sebagai obyek. Tapi untuk KDMP masyarakat adalah subyeknya, mereka yang (berhak) memutuskan mau beli atau tidak. Kalau orang tidak mau atau tidak bisa belanja kesana (karena tempatnya jauh, barang nggak lengkap, pelayanan kurang, dll) lalu pengurus mau apa?

Di sisi lain pemerintah memaksakan diri sesegera mungkin membangun ribuan bangunan koperasi dengan berbagai ukuran. Saya yakin ini dilakukan secara koboi tanpa studi yang cukup. Padahal pasarnya segitu-segitu aja, apalagi ketika harga-harga naik orang akan cenderung menahan spending. 

Selama ini juga sudah ada kesetimbangan antara supply dan demand, ketika jumlah penduduk di suatu wilayah naik otomatis akan muncul swalayan dan warung-warung baru, begitu juga sebaliknya. Tapi kini tiba-tiba bangunan KDMP muncul dimana-mana tanpa tahu yang akan ngelarisi siapa. KDMP nggak ada organik-organiknya sama sekali.

Bangunan KDMP banyak yang bagus tapi suasananya tampak menyedihkan. Di daerah, memindahkan pasar ke lokasi baru saja beresiko gagal karena secara sosial dan teknis belum tentu cocok. Orang yang pernah menginjakkan kaki di pasar pasti tahu pasar itu ada soul-nya, bukan hanya perkara bangunan.

Ini belum bicara soal hal-hal teknis: penataan barang yang tanpa perencanaan, strategi pricing dan diskon tanpa data, relasi dengan brand/supplier yang dimulai dari nol, lokasi yang jauh dari pemukiman, manajemen pegawai yang entah seperti apa, dan lain sebagainya. Indomaret dan Alfamart bisa besar karena ilmu dan iterasi bertahun-tahun, bukan modal fantasi pendirinya.

Not that I'm a fan of MBG, tapi dapur SPPG bisa jalan karena at least secara konsep (bukan pelaksanaan) nyaris semua unsurnya in-line: pemerintah terjalankan 'misinya', pemilik dapur untung besar, pegawai dapur bergaji layak, suplier dan produsen (petani, peternak) punya pembeli, anak-anak dapat makanan gratis, hanya guru saja yang terjepit di antara kepentingan-kepentingan itu. Tapi balik lagi, KDMP itu jualan dan mereka butuh pembeli yang memutuskan untuk mau belanja di mereka. Pembeli bagaimanapun akan menggunakan motif ekonomi: kualitas tertentu untuk harga termurah atau harga tertentu untuk kualitas terbaik. Apakah KDMP bisa memenuhi itu?

Mungkin KDMP akan bisa laku jika tidak ada saingan, dalam artian pedagang mulai dari warung kelontong kecil sampai swalayan besar harus 'ditangani'. Seminimal-minimalnya KDMP harus bisa menjual barang jauh lebih murah dari yang lain, yang mana pasti nggak masuk secara itung-itungan bisnis. Fakta bahwa manajer KDMP digaji dari APBN sudah menunjukkan bahwa koperasi ini nggak self sufficient. Skenario terburuknya adalah warung dan swalayan dipaksa tutup dan pegawai di-lay-off yang mana sudah kejadian. Pada akhirnya rakyat yang jadi korban.

Kita tahu lah untuk apa dan siapa program ini ada, tapi kita bisa apa? Konsep koperasi yang mestinya secara organik tumbuh dari dalam, dari anggota untuk anggota, dan buahnya adalah SHU (sisa hasil usaha), di-bypass demi kepentingan segelintir orang. Pokoknya top down, pokoknya komando, pokoknya senegara manut. 


Chandra



Indonesia for Newcomers

May 17, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
A Turkish friend asked me about places to visit in Indonesia as they are planning to go in July. They specifically ask for places that are not too touristy. So on my spare time I wrote this for them and I think it's also a good idea to repost it here. 

Mind you that this is a recommendation for foreigners that will come to Indonesia for the first time, not for Jakartans that plan to visit Jogja for lebaran holiday. So this will be more high level and mainstream like I will list Borobudur and Prambanan in which you might have visited some time during highschool. I would not recommend Wediombo for too far or Mangut Lele Mbah Marto for being too spicy.

1. (Some places in) BALI
Places like Kuta are very touristy, but there are still some calmer and more peaceful places: Ubud, Panglipuran Village, plus this good reddit post: reddit

2. LOMBOK (+GILI) & KOMODO
Both are island-ic area situated close to Bali, they have beautiful beaches with a lot of activities and more relax than Bali. Komodo Island is special for its Komodo dragon (big lizard). Tourist-infra is ready and local people are used to foreigners. Place to visit: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Komodo Island.

3. JAKARTA
Capital city with malls, shopping centers, tall buildings, city lights, etc you can imagine from a big city in Asia. Most tourist landed or go via Jakarta so many of them will spend some days here. This is easy place for tourist, quite many people speak English, you have everything just around the corner. Place to visit: Monumen Nasional (Monas); Kota Tua (Old City) - Dutch buildings; city walking; Malls: Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall 1-2-3, Senayan City, Plaza Senayan.


3. YOGYAKARTA (YOGYA/JOGJA)
The most cultural city in Indonesia, there is still literary an active kingdom here, there are 2 big temples Borobudur and Prambanan + many smaller ones. lt's combination of modern-traditional. City center is walkable for a city in Asia. Good food. Place to visit: Borobudur Temple, Prambanan Temple, Candi Sewu, Yogyakarta Royal Palace, Tamansari Water Castle, Malioboro Street, Vredeburg Fort, Batik (traditional clothing) shopping, Sate Ratu (internationally famous food), Tempo Gelato (ice cream shop)


4. EAST JAVA
There are serious nature here like big volcanoes, crater, and waterfalls. Places to visit are Bromo Tengger Semeru National Park, ljen Crater (blue fires), Tumpak Sewu Waterfall, Kajoetangan Heritage Village includes Cokelat Mojopahit. If you enjoy nature these areas are good to visit. There is also big city (2nd after Jakarta) here called Surabaya with big malls, etc.

5. BANDUNG
Temperature here is more chill and not so hot compared to other cities. The location is close to Jakarta and easily reachable by train (or high speed train). City center has many old Dutch style building. Place to visit: Kawah Putih (white crater), Tangkuban Perahu volcano, tea plantation, Ciater Hot Springs, Malabar Radio site (Dutch 1920s intercontinental radio station). Hotel to stay: Savoy Homann

6. RAJA AMPAT
Located in eastern Indonesia and very popular with beautiful sceneries. Many pics available on the internet to see. This place is quite far tho and long transport to reach (flying + local boat). Worth it if you are planning to stay at least 1 week.

7. PADANG
A city located in Sumatra island, known for food, culture, and good nature in the surrounding areas. Unique tourist experience expected.

Some other notes:
- Transport
Beside Jakarta, public transport is practically non existent. But to go around you can order online taxi via Gojek and Grab app (similar to Uber), they provide food deliveries too. Inter-city you can rent a car or between cities in Java you can use train which is I think the best option, buy ticket online via apps (Traveloka or KAI Access), English friendly, choose executive class for max comfort.

- Food
Tasty and spicy, for tourist please consider food safety and get food from clean places, some streetfoods are oke. McD, KFC, and similar are available. Coffee shops (real coffee, not Dutch style) are everywhere and pretty good scene. Most foods are halal dan pork free.

- Hotel
Book via Booking.com, Agoda, or Traveloka. The rest is as usual.

- Payment
QRIS is very popular option almost everywhere but you need at least 1 app installed (can be Gojek or Grab that you use for transport), credit/debit card usable at restaurant or hotel, the rest cash is still king.

Thanks,
Chandra


Review Buku: Time After Time

May 10, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya adalah orang yang memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Kalau sudah suka buku dari penulis A, saya akan cari dan baca buku lain yang dia terbitkan. Kali ini saya sedang menamatkan bukunya Chris Atkins, sebelumnya saya sudah baca A Bit of A Stretch, sekarang saya baca yang terbaru berjudul Time After Time.



Chris Atkins adalah British movie director, jurnalis, dan penulis. Dia sempat tersandung kasus pajak yang membuatnya divonis bersalah dan dipenjara selama beberapa tahun. Buku A Bit of A Stretch menceritakan kisah-kisah yang dipotretnya selama masa hidupnya di penjara. Setelah bebas dia menulis Time After Time ini berdasarkan investigasinya kenapa banyak kriminal yang begitu sulit keluar dari kasus dan masuk penjara berulang kali.

Chris Atkins adalah well educated-white-white collar criminal, ketika di penjara dia mendapat pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik daripada mayoritas narapidana karena perannya membantu beberapa urusan di dalam. Kemudian ketika keluar dia sudah punya karir yang terbangun dan keluarga serta sirkel yang suportif. Setelah bebas ia melanjutkan karirnya, menulis buku best seller, jadi pembicara dimana-mana, dan stay away from crime.

Tapi tidak semua seberuntung itu, banyak narapidana yang punya keluarga yang tidak fungsional, tinggal di kawasan Bronx, berasal dari status sosial lebih rendah, punya masalah mental health yang tidak ditangani, dan belum sembuh dari adiksi. Golongan kriminal yang seperti ini sangat rentan untuk melakukan reoffending. Inilah yang ditulis Chris Atkins dalam bukunya Time After Time, dia mewawancarai banyak narapidana yang melakukan reoffending termasuk diantaranya beberapa yang dia temui ketika masih di dalam penjara.

Setiap bab dalam buku ini membahas satu kasus atau person. Totalnya ada 14 dan commonality di dalamnya adalah bahwa banyak hal yang masih salah dengan penegakan hukum dan sistem penjara di Inggris. Dia menemukan bahwa program-program pemasyarakatan yang ada di sana alih-alih memperbaiki hidup orang justru memperbesar kemungkinan orang melakukan tindak kriminal berulang.

Kursus-kursus yang ada bukannya memberikan keterampilan untuk bekerja justru jadi ajang berjejaring kriminal yang belum reformed. Sistem parole dan probation yang tidak akurat memungkinkan high risk offender kembali ke masyarakat dan melakukan kejahatan yang lebih besar. Orang yang sudah mau hidup lurus justru ditempatkan di kawasan rawan sehingga terlibat altercation dan masuk penjara lagi. Uang saku ketika keluar penjara tidak naik sejak lama sekali hingga kini tidak cukup untuk satu malam airbnb. Tidak ketinggalan tentu isu rasisme dan cap kriminal yang terus menempel bahkan setelah belasan tahun hidup bersih dan lurus melengkapi lingkaran setan yang menjerumuskan orang ke jurang reoffending. Itu adalah beberapa temuan yang dia tuliskan dan masing-masingnya dibahas secara mendalam.

"This is caused by a criminal justice system that traps offenders into an endless cycle of crime and insidiously sucks them back to prison rathen than giving them the tools to escape it."

Penulisan jenaka khas Chris Atkins masih berlanjut di buku ini. Kritik yang sebenarnya keras terhadap pemerintah, justice system, dan penjara dikemas dengan rapi dan enak dibaca. Melalui buku ini Chris juga menjadi penyambung lidah orang-orang yang tidak punya jalur untuk mengutarakan casenya di luar persidangan. Saking sensitifnya beberapa bab dia harus menyensor sebagian nama dan detail. Dua buku yang ditulis Chris sangat bisa jadi buku yang impactful.

Bedanya Time After Time dengan A Bit of A Stretch adalah pada buku pertamnya penulis adalah pelaku langsung, dia ada di penjara dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Untuk buku kedua ini dia mendasarkan tulisannya pada interview, witness statement, dokumen persidangan, dokumen lain, phone calls, dan semacamnya di mana ia tetap adalah orang ketiga. Ini membuat ada sedikit jarak antara dia dan yang ditulisnya, hal yang membuat buku ini sedikit di bawah A Bit of A Stretch sebagai sebuah memoir. Hal lainnya, entah kenapa menurut saya desain sampulnya kurang, bagusan buku pertamanya.

Nevertheless, buku ini sangat enak dibaca, di-backing data dan fakta yang cukup, serta didasari riset yang panjang (5 tahun+). Penulisnya adalah jurnalis profesional yang punya ID pers jadi dia bisa menjangkau informasi yang tidak diketahui masyarakat umum. Lebih dari itu dia adalah penulis yang capable. Dedikasinya untuk mendorong perbaikan justice system di Inggris sebagai orang yang pernah mengalami langsung problemnya adalah sesuatu yang juga patut diapresiasi.

"It's widely accepted that the only way to break this cycle is a mix of carrot and stick, but in recent times we've removed the carrot and weaponised the stick"


Time After Time: Why Criminals Can't Quit Crime.

Walaupun buku ini tentang kriminal, tapi Chris menutupnya dengan Epilog yang manis di mana ia fast forward menemui beberapa respondernya setelah bebas dan menemukan hidup barunya.





Chandra