Showing posts with label quote. Show all posts
Showing posts with label quote. Show all posts

Andai Golden Ways Masih Ada

November 03, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments


Setiap Minggu malam, saya dulu selalu siap di depan TV untuk nonton Mario Teguh Golden Ways. MTGW adalah sumber quote-quote motivasi saya jaman SMP-SMA. Dari acara ini pula saya jadi tahu ada profesi yang namanya motivator. Saya follow Pak Mario di facebook sejak jumlah pengikutnya masih kurang dari 1 juta. Saya nonton MTGW sejak orang-orang masih mengira itu acara kerohanian non-muslim.

Agak sedih ketika kemudian Pak Mario terkena masalah berkaitan dengan kehidupan pribadinya dan MTGW tidak tayang lagi. 

Sebagai anak sekolah, quote-quote yang muncul dalam Golden Ways sebenarnya sering tidak relate. Saya maklum karena target utama tayangan itu adalah golongan pekerja di perkotaan. Saya jadi terbiasa cocoklogi menghubungkan kata-kata motivasi itu dengan problematika anak sekolah -- yang baru kemudian saya sadar bahwa tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah orang dewasa.

Dari caranya tampil dan bicara, saya melihat Pak Mario ini seperti seorang bos perusahaan multinasional yang sudah sangat sukses dan selesai dengan dirinya sendiri lalu turun gunung membantu anak muda yang baru merangkak naik. Secara teknis memang begitu, beliau adalah mantan vice-president bank. Sekarang beliau memanfaatkan FB dan YouTube sebagai media komunikasinya. Tapi andaikan MTGW masih ada itu akan sangat berguna.

A Lonely Root Three

June 09, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
I fear that I will always be 
A lonely number like root 3 (three) 

A 3 is all that's good and right 
Why must my 3 keep out of sight 
Beneath a vicious square root sign 
I wish instead I were a 9 (nine) 

For 9 could thwart this evil trick 
With just some quick arithmetic 
I know I'll never see the sun 
As 1.7321 (one point seven three two one) 

Such is my reality 
A sad irrationality 
When..hark!..what is this I see 
Another square root of a 3 

Has quietly come waltzing by 
Together now we multiply 
Form a number we prefer 
Rejoicing as an integer 

We break free from out mortal bonds 
And with a wave of magic wands 
Our square root sign become unglued 
And love for me has been renewed 

I am not a poet, it's from Harold & Kumar: Escape from Guantanamo Bay


Menjaga Rencana

July 19, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Masuk ke dunia kerja, mau tidak mau menjadikan saya banyak bergaul dengan orang yang lebih dewasa (atau tua). Sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan sudah ngomah di Bandung. Mereka punya atau ngontrak rumah di sini, anak-anaknya juga sekolah di kota ini. Live happily and settled lah pokoknya.

Lupakan soal adaptasi bahasa sunda, dinginnya udara lembang, dan pola kerja. Sembilan bulan di sini cukup lah untuk menyesuaikan diri. Tapi ada satu hal yang memang agak susah untuk disamakan.

Seperti yang saya bilang tadi, sebagian besar pegawai di sini sudah berkeluarga. Umur juga banyak yang sudah kepala tiga. Apalagi ada bapak-bapak eks IPTN yang sudah relatif sepuh. Artinya apa ? Memang bagi banyak pegawai pilihan terbaiknya adalah bekerja di sini sampai datang masa pensiun. 

Umur membatasi seseorang untuk pindah kerja karena rasanya tidak banyak lowongan yang terbuka kalau sudah berumur 35 tahun ke atas. Ada memang, tapi biasanya posisi berlabel 'senior' yang mensyaratkan pengalaman kerja dan referensi yang excelence. Jadi intinya kurang ideal untuk lompat dari satu kantor ke kantor lain kalau sudah berumur.

Belum lagi beliau-beliau yang senior biasanya sudah berkeluarga. Berkeluarga artinya income yang stabil itu penting. Agak beresiko untuk melepas pekerjaan jika sudah ada tanggungan

Di sisi lain, saya pribadi sejak awal sudah menyampaikan pada atasan bahwa saya nggak akan disini dalam jangka panjang. Alasannya karena punya keinginan untuk sekolah lagi. Saya nggak sendiri, tapi bagaimanapun hanya sedikit rekan disini yang punya pikiran seperti itu. 

Dulu di kampus punya cita-cita jadi Master hunter adalah hal yang biasa, mayoritas kawan di ITB gitu. Tapi sekarang saya berada pada kondisi dimana kebanyakan orang di sekitar sudah pada masa ingin hidup yang stabil, nggak ingin coba-coba. Seolah saya gedabikan sendiri di tengah orang-orang yang anteng.

Saya nggak bilang anteng itu jelek. Kalau sudah seumur para senior itu juga saya nggak akan sehiperaktif ini. Soal waktu dan kondisi saja.

Orang kalau kumpul dengan kelompok yang cita-citanya serupa, majunya cepet. Tapi kalau kebetulan berada di lingkungan yang orientasi umumnya berbeda butuh beberapa adjusment supaya tetap bisa bergaul sekaligus rencana terjaga.

Sebagai contoh, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya untuk tidak langsung pulang selepas kerja. Bahkan menginap pun ada tempatnya. Tapi ketika beberapa rekan bersantai di kantor sampai malam saya nggak bisa karena harus pulang ada yang perlu dikerjakan di rumah, yaa nggak jauh dari urusan menyiapkan studi lanjut. 

Hal yang sederhana memang, tapi ketika pilihan dan godaan semacam itu hadir hampir setiap hari butuh energi yang besar juga untuk tetap istiqomah. Lebaran kemarin ketemu dan ngobrol dengan beberapa teman jaman sekolah dan kuliah, dari sana saya menyimpulkan bahwa cukup banyak yang mengalami hal serupa. Bukannya nggak bahagia, tapi karena lebih banyak hal yang meminta fokus dan waktu, jadi lebih exhausting aja kita. 



***

Dua minggu yang lalu saya ketemu sama seorang bapak asal Semarang waktu nonton Indonesia Open di Senayan. Beliau datang sendirian jadi akhirnya ikut rombongan saya dan teman-teman. Waktu ngobrol-ngobrol sambil nunggu antrian masuk Istora, beliau kasih nasehat :

Kuncinya salat subuh dan sunah 2 rakaat sebelumnya. Dah pokoke mau apa aja modal itu bisa tercapai

Jangan merasa susah, banyak orang hidupnya lebih berat.


Chandra

gambar : Pixabay

Fans dari Sebuah Cara

July 04, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments


Semua pasti setuju kalau saya bilang bulan Syawal ini banyak banget yang nikah. Weekend ini aja saya menerima beberapa undangan tapi nggak bisa datang dan cuma nitip amplop karena terlanjur punya acara.

Itu baru yang mengundang, lebih banyak lagi kalau digabung dengan yang tidak. Kakak tingkat yang agak jauh, kenalan jaman sekolah, dan teman yang nggak begitu dekat biasanya saya tahu kabar pernikahannya dari media sosial saja.

Dari semua yang menikah, kalau dicermati setiap pasangan punya cara dan ceritanya masing-masing hingga sampai ke jenjang pelaminan. Ada yang sudah bisa diduga karena sudah pacaran sejak lama dan selalu update di sosial media. Ada yang ujug-ujug nyebar undangan di grup yang mana calon mempelai putra dan putrinya berasal dari grup itu juga (seangkatan). Ada teman sekelas jaman SMA yang sudah dekat sejak dulu tapi saya baru tahu. Ada adik tingkat yang baru sidang kemarin langsung nyebar undangan. Ada cerita pasangan yang persiapan nikahnya kilat, sebulan tok. Ada yang lama nggak ada kabar tahu-tahu menutup beberapa medsosnya, ternyata mau nikah juga. Macem-macem lah kisahnya.

Kesimpulan dari itu semua adalah tidak ada cara pasti bagaimana kita akan bertemu jodoh. Bahkan jika pun kita fokuskan pada golongan anti pacaran saja. Anti pacaran seolah sudah sebuah pendirian keras, tapi ternyata di dalamnya masih banyak variasi cerita. Seperti yang dicontohkan tadi, ada pasangan yang adalah teman seangkatan dan sudah kenal selama 4 tahun (tapi tidak ada apa-apa), ada juga yang memang baru kenal sebulan dua bulan sebelumnya.

Pemahaman dan pilihan soal mana cara yang kita pilih pasti berubah seiring berjalannya waktu. Manusia dibekali dengan kemampuan belajar sekaligus ingatan. Semakin mendewasa semakin banyak pula insight yang diterima. Di sisi lain ingatan yang terbatas membuat kita lupa dengan yang sudah lama. Ingatan lama yang sudah nggak relevan diganti dengan pemahaman baru. Banyak hal dari masa lalu yang menjadi tidak menarik lagi.

Contoh paling gampang barangkali malah pada remaja putri seusia saya. Jaman usia awal-awal SMP mungkin mereka membaca teenlit dan impressed dengan kisah percintaan remaja yang ada di dalamnya. Tapi bayangkan kalau mereka membacanya sekarang, pasti dianggap kekanak-kanakan. Mereka sudah hijrah dalam arahnya masing-masing. Mereka tidak akan kagum lagi.

Bertanya pada orang soal cara mana yang dia sukai sebenarnya antara bisa dan tidak bisa. Kenapa ? Karena pemahaman tentang itu bisa berubah dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Jadi daripada merisaukan bagaimana pilihan orang lain, lebih baik perbarui terus referensi kita.

Karena logikanya, dengan ini otomatis jodoh terseleksi,

kenapa ?

Karena pernikahan selalu berpasangan, sedangkan dua orang bisa jadi berpasangan jika dan hanya jika mereka bersepakat menjadi pengikut dari cara yang sama.

yang baik untuk yang baik, penjagaan diri itu penting

-chandra-

gambar : YouTube : Awakening Record

Memiliki Kehilangan

June 23, 2018 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Salah satu penyebab saya jarang ngepost kalau lagi liburan di Bantul adalah terbatasnya koneksi internet. Bisa sih bikin draft offline di laptop, tapi tetep kurang marem kalau nggak langsung di editor Blogger. Faktor kebiasaan sih. Tapi juga kalau offline jadi susah kalau mau cari-cari bahan atau gambar di internet.

Rumah kami agak jauh dari kota jadi wajar kalau koneksi internet kurang sip. Bapak Ibuk yang pakai internet sekedar untuk chat WA, baca berita, baca blog anaknya, dan kadang-kadang YouTube nggak masalah dengan ini. Mereka sudah terbiasa. Tapi saya yang terlanjut terbiasa internet-active suka geregetan.

Kondisinya memang berbeda dengan ketika saya di Bandung sehari-harinya. Karena kebetulan di kota jadi internet provider apapun 4G banter. Ketika pagi masuk kantor atau ketika sore pulang ke kosan juga semua gadget langsung terhubung wifi.

Entah kenapa ketika pulang ke Bantul saya seperti kehilangan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang biasanya ada dalam genggaman jadi tidak ada, atau lebih tepatnya kadang ada kadang tidak. Ya sesimpel koneksi internet. Saya kecanduan internet ? mungkin, tapi kayaknya banyak yang begitu hehe. Lain waktu bahas soal kecanduan internet deh, InsyaAllah.

Saya pikir-pikir, kenapa ya sampai merasa begitu ? Di sisi lain petani-petani di kampung yang hp-nya belum tentu bisa buat internetan baik-baik saja. Dulu orang tua kita juga tumbuh dewasa tanpa internet dan bisa menjadi seperti sekarang. Berarti masalahnya bukan pada tidak adanya internet, tapi pada perubahan dari ada menjadi tidak ada.

Saya mengalami shock  ketika pindah dari tempat yang internet-rich ke tempat yang internet-rare. Yang membuat saya merasa kehilangan adalah karena sebelumnya terlanjur terbiasa dengan internet tahu-tahu perlu strugle untuk dapat sinyal 4G banter. Coba kalau di Bandung saya jarang pakai internet, pasti nggak ada masalah berarti. Atau andai saya lebih lama libur di Bantul-nya, pasti lama-lama terbiasa dan menjadi baik-baik saja.

Perubahan dari punya menjadi tidak punya lebih menyesakkan daripada tidak punya itu sendiri.

Mari kita bicara hikmah mumpung masih Syawal. Kita perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah pada kita. Tapi saya jadi mikir, apa-apa yang kita pengen dan belum kesampaian untuk memilikinya, jangan-jangan itu karena Allah tahu kita belum siap andaikan nanti kehilangannya ? Manusia itu tahu sedikit tentang yang sekarang, gampang lupa dengan yang lalu-lalu, dan totally nggak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kedua, kehilangan sesuatu akan meninggalkan ruang kosong. Bisa ruang fisik, misal kehilangan kendaraan atau perabot rumah. Bisa 'ruang' waktu ketika seseorang kehilangan pekerjaannya. Bisa ruang batin kita seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya, kucing kesayangan mati misalnya. Susah untuk nggak bersedih, tapi jangan lupa bahwa ruang yang kosong itu bisa diisi hal yang baru. Kalau kamu sedang pada posisi itu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih gampang kita menemukan syukur atasnya. Aamiin.

Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya - Letto

Sekian. Saya baik-baik saja kok alhamdulillah tidak sedang kehilangan sesuatu. Cuma sebagai pengingat saja bahwa ada dua cara sesuatu hilang. Pertama, memang diambil dari kita. Kedua, kita yang memutuskan untuk meninggalkannya. 


Chandra

Belum Bisa Apa Apa

January 04, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments


Elemen terbesar pada diri kita adalah ketidaktahuan. Kalau kita menyingkirkan ketidaktahuan, kita akan jadi merasa tahu segalanya.

Kita bisa membuat terang menjadi lebih terang, dengan menambahkan cahaya. Tapi kita tidak bisa membuat gelap menjadi lebih gelap. Yang membedakan gelap dan terang hanyalah ada tidaknya cahaya.

Kita bisa membuat panas menjadi lebih panas, dengan memasukkan kalor. Tapi kita tidak bisa mendinginkan 'dingin'. Yang kita lakukan adalah semata-mata memasukkan atau mengeluarkan kalor.

***

Skills & Endorsement LinkedIn, tempatnya seseorang mencantumkan hal-hal yang telah dia kuasai atau telah dididikkan padanya sambil berharap banyak orang mengakuinya (mengendorse). Lebih tepatnya, itu adalah hal-hal yang dia 'rasa' telah ia kuasai.

Terlalu lama dimanjakan dengan sistem sekolah, aku sempat merasa tahu segalanya. Mendapatkan pelajaran C++ sangat dasar di semester satu dan langsung aku masukkan sebagai skill yang aku kuasai. Hanya sedikit menggunakan Unity3D untuk tugas akhir dan merasa sudah bisa membuat apapun dengan itu. Baru mengenal Vortex Editor dan sudah memasukkannya di sana.

Setelah lepas dari dunia sekolah dan belajar di 'alam liar' engineering, aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Masih banyak hal yang aku belum tahu apalagi bisa. Aku masukkan kembali elemen ketidaktahuan dalam cara berpikirku sehingga aku lebih ikhlas untuk belajar hal-hal baru.

Kalau kamu juga begitu, jangan khawatir, kamu tidak sendiri, dan yang kau harus tahu adalah itu tidak salah. Hampir semua orang mengalami bias itu, dalam banyak bidang. Bias yang disebut Dunning-Kruger Effect


Sekarang aku justru bersyukur telah menyadari kealpaan ini. Karena walaupun berada pada titik yang rendah, barangkali itu adalah jalan menuju penguasaan yang sejati, bukan ketidaktahuan yang ditutupi.

Skills, kuputuskan untuk menghapus sebagian besarnya, menyisakan yang memang sudah mendapat apresiasi. Sisanya nanti kutambahkan kalau sudah cukup umur, mau belajar dulu.


Salam,
Chandra

Film Review : Apakah Kita Truman ?

December 19, 2017 Posted by Chandra Nurohman , , , 2 comments


Judul : The Truman Show
Tahun Rilis : 1998
Pemain : Jim Carrey, Laura Linney, Noah Emmerich, Natascha McElhone, Holland Taylor, Ed Harris
Sutradara : Peter Weir
Durasi : 103 menit
Bahasa : English

[SPOILER ALERT]

Hayoo, udah nonton film ini belum ?
Walaupun sudah lama dirilis, tapi film ini sangat layak tonton dan masih relevan dengan realitas yang ada sekarang. Kalau mau nonton, paling gampang klik disini. Nggak masalah lah ya nonton film gratisan, wong udah nggak tayang di bioskop. Tapi kalau mau nonton film baru ke bioskop saja, hargai para pekerja film :)

Fyi, The Truman Show disebut-sebut sebagai salah satu film dengan premis cerita terbaik. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang Truman Burbank dan drama-drama yang ada di dalamnya. Tapi sayangnya bahkan Truman sendiri tidak punya kuasa atas apa yang terjadi pada dirinya. Dia tidak tahu bahwa dia adalah bagian dari sebuah acara televisi.

Truman : Was nothing real ? | Christof : You were real, that's what make you so good to watch

Hidup Truman diatur sedemikian rupa oleh sang sutradara, Christof. Kehidupan sekitarnya memang tampak normal. Truman berkeluarga, bekerja, bergaul, namun semuanya palsu. Kegiatannya direkam kamera selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dia tidak bisa pergi lebih jauh daripada 'dunia' yang ditempatinya. Atau lebih tepatnya yang dicipatakan untuknya. Bahkan untuk sekedar jatuh cinta bukanlah menjadi kuasanya.

Sekitar setahun yang lalu saya pernah menulis review sebuah film biografi, Ed Snowden. Snowden sempat menggemparkan dunia beberapa tahun yang lalu setelah secara berani membuka rahasia tentang aktivitas spionase yang diduga dilakukan pemerintah AS. Data-data yang dibawanya menunjukkan bahwa banyak penyadapan atau pengumpulan informasi secara ilegal atas warga sipil. Snowden menjadi buah bibir di seluruh dunia, menempatkannya sebagai penghianat sekaligus pahlawan.

Kenapa bawa-bawa Snowden ? Karena ada hubungannya dengan Truman. Fakta-fakta yang dipaparkan Snowden seolah melegitimasi bahwa sosok Truman dalam The Truman Show bisa jadi bukan sekedar tokoh fiksi. Bisa jadi setiap dari kita adalah Truman-Truman yang hidupnya tidak merdeka.

Selama ribuan hari Truman tidak curiga atas kehidupan yang dijalaninya. Setelah terjadi beberapa kejadian-kejadian janggal barulah dia berkata "aku seperti terlibat dalam sesuatu". Lalu bagaimana dengan kita ?

We accept the reality of the world with which we are presented - Christof 

Jika informasi yang disampaikan Snowden benar (dan saya sih cukup yakin dia benar), maka tidak menutup kemungkinan kita pun selama ini diawasi secara sembunyi-sembunyi. Kita tidak pernah tahu kemana chat-chat yang kita kirim itu ter-delivery, apakah hanya ke orang yang kita tuju ? atau juga disimpan di suatu tempat ? Foto-foto, video, tulisan, riwayat pencarian Google, history browser, selama kita terkoneksi internet, tidak ada yang tahu apa saja yang sebenarnya terjadi.

Google, Apple, Microsoft termasuk dalam pihak-pihak yang disebut terlibat melakukan aktivitas spionase. Sekarang lihat handphone dan laptopmu. Tahu kenapa kita bisa pakai google setiap saat secara gratis ? Karena google bisa mengumpulkan data, interest, pola aktivitas, informasi pendidikan, pekerjaan, dll lalu menjualnya.

Coba perhatikan, sekali kita pernah beli tiket atau booking hotel lewat sebuah situs pemesanan online, akan sering muncul pop up promosi situs tersebut bahkan ketika kita membuka hal yang sama sekali tidak berhubungan. Itu karena mereka tahu kita punya potensi untuk bepergian sehingga kita butuh tiket - dan mereka maunya kita beli dari mereka.

Sebenarnya ini tidaklah seluruhnya jahat. Sebelum internet memasyarakat pun forecasting semacam ini sudah dilakukan. Yang tidak etis adalah kalau benar kita 'diintai' sampai urusan yang sifatnya pribadi. Dalam film Snowden ditunjukkan bahwa kamera laptop bisa diaktifkan dari jarak jauh dan gambar kita bisa diambil. Sering tidur ngadep laptop terbuka ? Hayoloh..

Memang masih debatable apakah kita ini sebenarnya 'merdeka' atau tidak. Tapi kalau bicara soal internet agak susah jaman sekarang melepaskan diri dari hal yang satu ini, karena banyak juga manfaatnya. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan kita dalam menggunakannya. Kita harus senantiasa sadar bahwa dalam private chat paling private sekalipun bisa saja ada orang lain yang membaca.

Rasanya kita perlu mencontoh Truman yang heroik mencari kebenaran. Faktanya adalah bahwa serapat apapun kungkungan yang melingkupi kita, pasti ada celahnya. Kalau kita cukup bijaksana, setiap perjalanan bisa jadi hikmah.

You never had a camera in my head - Truman

Pelajaran dari Truman : jangan menyerah dan sepahit apapun kenyataan hadapi dengan tersenyum lebar :)

Well, I'm Truman - Truman Burbank


Salam,

Chandra


Keburukan yang (Harus) Terjadi

October 14, 2017 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Saya termasuk orang yang setuju bahwa terkadang kita perlu merelakan terjadinya mudarat kecil untuk mencegah mudarat yang lebih besar.

Suatu ketika kita berada dalam sebuah perjalanan darat dari Jogja menuju Jakarta yang memakan waktu semalam suntuk. Kita berangkat dari Jogja bermobil, berangkat ba'da Ashar karena besok ada meeting di Jakarta jam 8 pagi. Di sisi lain kita tidak bisa berangkat lebih awal karena beberapa anggota rombongan baru ready sore hari itu. Di tengah perjalanan muncul masalah bahwa di mobil itu hanya ada 1 orang yang capable untuk nyetir mobil. Satu jam sebelum masuk Bandung dia tampak sangat lelah karena memang sejak hari sebelumnya sudah banyak acara. Rombongan itu dirundung dilema. Mereka galau antara meneruskan perjalanan dengan sopir mengantuk atau memberikan kesempatan beristirahat dulu dengan resiko akan telat sampai di Jakarta dan merugikan rekanan yang akan ditemui.

Dalam hal seperti ini, tampaknya tidak ada pilihan yang sepenuhnya baik. Kita harus memilih antara was-was disopirin sopir nggliyer sepanjang tol Bandung-Jakarta 150 km atau was-was kehilangan klien karena kita mengecewakannya.

Mau tidak mau kita harus memilih salah satu dari 2 opsi itu. Sekarang kita harus menimbang-nimbang. Kalau saya, yang akan saya lakukan adalah memberikan kesempatan driver beristirahat dulu lalu menghubungi klien untuk minta reschedule dari jam 8 pagi jadi jam 11 siang. Menghubungi orang jam 3 dini hari untuk mengatakan bahwa kita akan telat menghadiri pertemuan bukanlah ide yang bagus. Tapi itu masih lebih baik daripada terjadi apa-apa di jalan yang mungkin menyebabkan kita tidak bisa menghadiri pertemuan itu sama sekali.

Itulah yang saya maksud dengan mudarat kecil dan mudarat besar. Menjadwalkan ulang pertemuan adalah mudarat kecil. Terjadi musibah di jalan adalah mudarat besar. Tentu di sini dengan catatan bahwa kita tahu bahwa si sopir benar-benar ngantuk berat, mata melek sudah susah, apalagi untuk konsentrasi.

Pengambilan keputusan memilih yang mana dalam kasus seperti ini dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya ini adalah fungsi dari kedewasaan. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak pengalaman dan oleh karena itu semakin banyak pula sudut pandang yang dia miliki. Pengambilan keputusan akan menjadi lebih bijaksana, atau setidaknya lebih cepat.

Kasus lain, misalnya kita berada di antrian toilet mall yang sedang ramai. Kita berada di antrian pertama, di belakang kita ada seorang pemuda, dan di belakangnya lagi baru datang kakek-kakek yang sudah tua, untuk berdiri lama sudah tidak kuat. Bagaimana ?

Kalau saya, saya lebih memilih memenangkan penghormatan saya kepada orang tua itu daripada norma tentang ketertiban antrian. Itu di mall, lingkungan yang "beradab", tertib antri adalah nilai yang dijunjung, bukan stadion sepakbola yang loketnya memprihatinkan dan harus bersaing dengan calo kalau mau dapat tiket. Tapi saya dan pasti banyak dari Anda, memilih menyalahi aturan itu demi memudahkan orang yang sudah sepuh.

Coba ingat lagi klien dan pemuda yang ikut antri di toilet tadi. Dari sana kita tahu bahwa dalam keputusan memilih mudarat besar-kecil itu bisa saja ada unsur "merugikan orang lain". Mungkin itulah salah satu komponen "tidak ada manusia yang sempurna". Karena bahkan pilihan yang tampak lebih baik pun bisa berimbas buruk bagi orang lain.

Kita itu lebih sering bingung memilih mudarat daripada memilih manfaat. Ketika terjebak diantara 2 pilihan manfaat, kita masih mudah mengambil keputusan karena manapun yang diambil masih ada kebaikan yang diraih. Tapi kalau memilih mudarat ? Apapun yang diambil bisa saja merugikan orang lain. Kita punya beban harus mampu memilih mudarat yang lebih kecil.

Jadi maafkan saya jika kadang merugikan, menyakiti, bersikap tidak dewasa, dll. Itu adalah output dari utak-utik timbangan mudarat di balik layar pikiran saya. Lebih dari itu, kita semua harus saling menerima dan memaafkan bahwa keputusan buruk yang diambil orang lain pasti didasari pertimbangan akan sesuatu yang kita tidak tahu.

Everyone you meet is battling with something you'll never understand about, be kind.

Oh ya tentang perjalanan ke Jakarta tadi kelanjutannya bagaimana ?

Jadilah keputusannya beristirahat, mlipir mampir ke sebuah mesjid lalu si driver tidur. Tidak terjadi apa-apa sampai adzan subuh berkumandang. Ketika adzan si driver terbangun, minta kopi, turun dari mobil, dan ambil wudhu. Ternyata setelah itu dia sudah segar kembali, siap meneruskan sisa perjalanan. Selepas salat subuh mobil kembali melaju. Di luar dugaan ternyata sepanjang tol traffic-nya lancar, hijau semua. Draft chat meminta reschedule yang tadi sudah disiapkan tidak jadi di kirim karena menurut perhitungan dengan traffic lancar jarak Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam waktu cukup 2 jam. Benar saja, jam 7 rombongan sudah sampai di tujuan. Masih ada waktu untuk mandi dan menyiapkan diri demi pertemuan yang penting itu.

.....

Lalu apa hubungannya dengan gambar Zidane ?
Final Piala Dunia 2006, Berlin, 9 Juli 2006, Zidane dikartu merah setelah menanduk Materazzi.
Bagi Zidane, martabat ibunya lebih besar daripada trofi Piala Dunia.

Terkadang keburukan kecil harus dibiarkan terjadi


Chandra




Mengubah Keadaan Menjadi Lebih Baik

February 18, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Sebuah cerita.

Di suatu sore di musim hujan sekumpulan anak-anak bermain berlarian di sebuah pekarangan. Anak-anak menjalani hidupnya tanpa beban, bukan karena tidak ada masalah, tapi karena mereka memutuskan tidak merisaukannya. Tanpa sengaja salah seorang di antara mereka terpeleset jatuh ke kubangan lumpur. Cukup dalam hampir 2 meter. Pakaiannya jelas kotor oleh lumpur. Bayangan akan disetrap sesampainya di rumah menghantuinya.

Bayangkan kita adalah satu-satunya orang dewasa di sana. Hanya kita yang dapat menolong anak itu dengan mengeluarkannya dari kubangan. Apa yang akan kita lakukan ? Berteriak-teriak tanpa melakukan apa-apa karena takut kotor atau turun menolong dengan konsekuensi terkena lumpur ?

Terkadang, dan seringnya, untuk memperbaiki sesuatu yang buruk menjadi baik kita harus siap kecipraran buruknya sedikit. Ketakutan terhadap 'lumpur' menjauhkan kita dari banyak kesempatan untuk membantu. Yang penting adalah kita sadar bahwa kita turun ke kubangan, bukan jatuh ke kubangan.

Hidup jangan dibuat susah. Silakan dipersepsikan sendiri.


Salam,
Chandra


sumber gambar : Tribun news

Catatan Najwa : CInta Habibie

January 20, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Habibie adalah pencinta yang penuh seluruh
cintanya kepada Ainun selalu sungguh
cintanya pada Indonesia tak pernah luruh

Dididik ayah yang berwawasan terbuka
dibesarkan ibu yang kerja keras merealisasikan segala asa

Menghadapi alam rantau yang sulit berkali-kali
Habibie muda bertarung menaklukkan rindu dan rasa sepi

Saat harus hidupi anak dan istri
sekaligus ditekan tenggat disertasi
Habibie tetap memikirkan masa depan negeri

Cintanya kepada Ainun dan Indonesia
membuatnya tak goyah wujudkan cita-cita
walau bujuk rayu harta datang dari penjuru dunia

Visinya melihat Indonesia yang makmur dan sejahtera
hasratnya membangun teknologi yang berguna bagi bangsa

Soal pesawat baginya tentang bersiap jauh-jauh hari
agar Indonesia tak sekedar menjadi konsumen teknologi

Itulah Habibie yang pandangannya jauh merentang
menuju kaki langit yang penuh pengharapan

Untuk Bacharuddin Jusuf Habibie tercinta
80 tahun hanyalah hitung-hitungan usia
tapi keteladanan akan abadi sepanjang masa


Catatan Najwa - eps Cinta Habibie (2016)

Renungan Pagi

December 15, 2016 Posted by Chandra Nurohman No comments

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Insyirah 5-6 :
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Entah kenapa kemarin sore hati saya nggak enak dan malah terpikir diagram ini. Sebuah himpunan (set) berisi problem-problem terhubung dengan himpunan solution. Himpunan solution adalah himpunan bagian (subset) dari himpunan pertolongan Allah yang ukurannya tak hingga.

Kurang lebih cara membaca diagram itu adalah :
1. Untuk setiap problem, pasti sudah ada solusinya. Pemikiran ini akibat kata-katanya 'bersama'.
2. Tidak masalah jika kita sudah bisa mendefinisikan problemnya dan mengetahui kandidat solusinya. Tinggal diterapkan.
3. Tapi tanpa tahu solusinya atau bahkan tanpa bisa mendefinisikan masalahnya pun, kalau kita merasa ada yang tidak benar pasti selalu ada pertolongan Allah.

Sebenarnya saya tidak pede menasehati, merasa belum siap jika diuji dengan nasehat itu sendiri. Tapi semoga poin pikiran saya tersampaikan. Aamiin
.
.
.
.
Di samping pesan itu, sebenarnya saya ingin menunjukkan bahwa bahasa arab bisa ditranslate ke bahasa matematika. Saya ingin mengenalkan pendekatan matematika sebagai bahasa. Semoga bisa mengubah pandangan orang (minimal saya sendiri) tentang matematika dan menghilangkan math anxiety di benak adik-adik kita.
InsyaAllah next time saya akan menulis tentang itu lebih panjang.


Salam,
Chandra

Bupati Hasto & Kongkow Medika

December 11, 2016 Posted by Chandra Nurohman , , , , , No comments


"Hardskill harus paripurna, softskill juga harus punya" - dr Hasto

Perjalanan ke Bumi Langit berlanjut. Tidak tanggung-tanggung, agendanya ketemu Bupati Kulonprogo yang sekarang maju nyalon lagi, tidak lain adalah dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Pertemuan ini dirancang oleh teman-teman Kongkow Medika. Sebuah komunitas, perkumpulan, atau geng berisi mahasiswa-mahasiswa aktif, berprestasi, kritis, banyak ide dan tenaga, visioner, tapi anomali di lingkungannya, yang berasal dari cluster medika UGM.

Siapa saya ni ? jangankan medika, mahasiswa UGM saja bukan. Tapi ajakan berkumpul dengan orang-orang baik tidak bisa ditolak. Akhirnya bukan hanya saya outsider-nya, ada 2 mahasiswa FEB juga.

Khoirul Fahmi, mahasiswa FK UGM yang hafidz 30 juz membuat janji dengan dr. Hasto. Tak disangka ternyata responnya cepat bahkan mendadak. Alhasil teman-teman kongkow medika banyak yang berhalangan. Supaya lebih pantas, nggak dikit-dikit amat yang ikut maka diajaklah kami oleh Zahra karena pagi sampai siangnya sudah sama-sama ke Bumi Langit.

Kami sampai di RSKIA Sadewa di Babarsari, tempat dr. Hasto praktek sekitar pukul 4 sore. Tapi kami harus menunggu sekitar 1 jam sampai pasiennya habis. Ini bukan kampanye, tapi saya ingin menginformasikan saja bahwa selama menjadi bupati beliau tetap praktek 2-3 kali seminggu. Setiap hari dibatasi hanya 40 pasien tapi konsultasi dan tindakan GRATIS.

Masuk ke ruang prakteknya kami bertanya dan minta saran karena sebagai mahasiswa tingkat akhir mungkin ada hal-hal yang perlu untuk disiapkan. Kami disuguhi jawaban yang membuat speechless. Beliau benar-benar ramah dan dengan sepenuh hati memberikan nasehatnya kepada kami yang masih sangat junior.

dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K)

Menurut dr. Hasto, ketika lulus hardskill harus dikuasai secara penuh dan paripurna. Tapi softskill juga harus dimiliki. Jangan sakit hati bila di dunia kerja nanti ada orang ber-hardskill pas-pasan tapi softskill jempolan lebih berhasil daripada yang hardskill bagus tapi kurang bisa berkomunikasi dan kurang memanusiakan manusia. Hal ini lebih krusial lagi bagi teman-teman medika yang berhadapan person to person dengan pasien.

Masih menurut dr. Hasto, orang yang sukses adalah orang yang mudah di-iya-kan banyak orang. Pendekatan ini digunakan beliau selama menjadi Bupati, jabatan yang sebenarnya tidak straight forward dengan keilmuannya. Kesuksesan orang dipengaruhi salah satunya oleh penggunaan waktunya. Beliau menjelaskannya menggunakan analogi melipat kertas.

Bayangkan ada kertas sepanjang 12 cm yang mewakili waktu setahun, 1 bulan 1 cm. Banyak orang menggunakannya sebagaimana adanya jadi hanya punya kontribusi sebanyak 12 cm. Tapi orang yang hebat melipat kertas sepanjang 10 meter menjadi 12 cm. Dia tidur lebih sedikit, bekerja lebih banyak, berkegiatan dan berkontribusi sejak bangun tidur hingga larut malam. Hasilnya kontribusi sebanyak orde meter-an bisa dilakukan dalam jangka waktu yang sama, 12 bulan. Cara seperti itu menjadikan banyak orang seusia memiliki kualitas kontribusi yang berbeda. Untuk menjadi seperti itu, carilah banyak kegiatan yang relevan dan bisa dilakukan beriringan. Bila tampak tidak relevan, cari relevansinya.

Menyimak dengan hangat, obrolan berbobot tapi santai

Beliau menjelaskan bedanya orang terampil, orang bijak, dan orang arif. Orang terampil adalah yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, tapi airnya jadi keruh. Orang bijak adalah orang yang bisa menangkap ikan dengan cepat, dapat banyak, dan airnya tetap bening. Sementara orang arif adalah orang yang tidak perlu ke kolam, ikannya datang sendiri.

dr. Hasto mencontohkan sosok seorang pejuang kemanusiaan. Jika menemui rintangan yang sulit maka pikirkan, "risiko terburuknya apa ?", lalu ikhlaskan. Untuk menjadi siap, kita harus punya ilmu. Mengabdi di bidang kesehatan, ekonomi, maupun teknik harus didasari ilmu yang cukup karena bertanggung jawab kepada orang banyak.

Setelah tahu saya dari Teknik Penerbangan, dr. Hasto sempat bicara tentang ground handling. Agaknya urusan bandara Kulonprogo cukup menjadi bahan pikiran beliau. hehehe

Adzan maghrib berkumandang dan kami pamitan. Berharap bisa ketemu lagi dengan beliau. Saya pribadi berharap ketemu tokoh-tokoh keren lagi dan mengisi waktu mudik dengan hal-hal super berbobot.

Dari RSKIA Sadewa kami menuju UGM, mengantar Rahma dan Erlin. Lalu kembali ke Banguntapan, makan, lalu pamitan pulang ke rumah.

Terima kasih banyak Zahra, Fahmi, Iqbal, Rahma, Erlin, Rofaidah atas perjalanannya. Nice to see amazing people like kalian. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah

Salam,
Chandra




Bumi Langit & Orang-Orang Baik

December 11, 2016 Posted by Chandra Nurohman , , No comments
Manusia diturunkan di bumi untuk menjadi khalifah. Oleh karena itu sudah selayaknya ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan manusia dan alam. Kurang lebih pemikiran demikian yang dibawa oleh Bumi Langit Institute


Alhamdulillah kepulangan kali ini sangat berbobot. Walaupun baru 2 hari tapi isinya luar biasa. Setelah kemarin quality time dengan keluarga, hari ini (10/12) saya mendapat buaanyak sekali inspirasi.

Dengan agak dadakan, saya diajak Zahra Iftikar untuk ikut meng-guide mahasiswa exchange dari Norway. Agendanya adalah berkunjung ke Bumi Langit Institute di Imogiri Bantul. Sebelumnya belum pernah saya dengar nama itu. Setelah googling ternyata soooo interesting. Langsung lah saya iyakan ajakan itu.

Rute yang  dilewati tadi pagi : Rumah – Banguntapan – UGM – Seturan – Imogiri. Setelah agak tersendat karena traffic Alhamdulillah kami sampai di Bumi Langit sekitar pukul 11.

Bumi Langit terletak di pinggir jalan Imogiri – Mangunan, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Makam Raja-raja Imogiri. Di tanah seluas 3 ha berdiri sebuah sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, nyaris zero waste, dan sangat ramah lingkungan. Bumi Langit ingin mandiri, mereka menggunakan listrik dari solar panel dan diesel, air ambil dari tanah sekitarnya, memasak pakai biogas (restoran kompornya banyak, LPJ masih ada saya lihat)

Bumi Langit Institute digagas oleh Bapak Iskandar Woworuntu. Beliau adalah seorang muslim keturunan bapak Indo – Belanda dan ibu Yahudi. Berdasarkan nilai-nilai Islam dan idealismenya, beliau mendirikan tempat ini untuk mengembalikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam serta untuk kebaikan diri dan orang-orang di sekitarnya. Pak Iskandar sangat concern dengan makanan yang masuk ke perut karena itulah sumber segala hal termasuk perilaku. Pak Iskandar tinggal bersama anak istri dan relawan Bumi Langit di sana.

Rumah Pak Iskandar sekaligus tempat Permaculture Design Course (PDC)
Bumi Langit Institute ingin mempopulerkan permaculture farming dan food forest. Sebenarnya saya tidak begitu paham apa itu permaculture (or permanent culture (?) ). Tapi yang saya lihat disana adalah sekumpulan kegiatan berbasis lingkungan yang saling terkait, dari alam untuk alam, kebaikannya dimanfaatkan manusia pada porsi yang pas untuk tujuan kebaikan berdasarkan Islam.

Disana ada sistem pengelolaan grey water yang mengubah limbah cair rumah dan Warung Bumi menjadi air yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman dan membuat kolam ikan. Tanaman yang ada sangat bervariasi dan dimanfaatkan untuk keperluan rumah dan tamu. Ikan hasil kolam untuk dimakan.

Pak Sugiyo namanya

Ada pula ternak sapi, kambing, ayam, cacing, kelinci dll. Kotoran hewan (dan manusia) dimanfaatkan menjadi biogas. Saya sempat mengintip ke dapurnya, memang mereka menggunakan biogas untuk memasak. Ampas pembuatan biogas dimanfaatkan untuk pupuk dan ternak cacing. Cacing digunakan untuk obat dan limbah ternaknya berupa cairan (disebut kencing cacing) dipakai sebagai pupuk cair.


Ternak cacing, relawan Bumi Langit kalau badan kurang sehat ambil cacing dari sini langsung masuk mulut katanya

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa dilihat disana. Perjalanan muter-muter kebun, tanpa alas kaki, melihat ternak dari dekat, dll menjanjikan pengalaman baru terutama bagi Anda yang hidup di kota. Cobalah, saaangat berkesan.

Kebutuhan memasak diambil dari kebun sendiri

Setelah berkeliling, kami duduk-duduk di Warung Bumi. Warung Bumi adalah bangunan berbentuk Joglo (bangunan khas Yogyakarta) yang difungsikan sebagai restoran. Harap harap cemas, tepat ketika akan pulang akhirnya kami bertemu Pak Iskandar. Cita-cita untuk ngobrol-ngobrol dengan beliau Alhamdulillah kesampaian.

Beliau menyampaikan banyak inspirasi. Beliau prihatin dengan tatanan hidup modern yang tampak hebat tapi sebenarnya merusak. Makanan sebagai faktor pendukung kehidupan diproduksi dalam skala industri dengan beberapa bahan yang sintetis. Padahal makanan adalah sesuatu yang masuk ke tubuh dan pasti berpengaruh. Pengaruh pada kesehatan memasukkan manusia ke jebakan berikutnya : obat (ini bapaknya lho yang ngomong). Lebih parah, selain memengaruhi hardware (tubuh) makanan juga bisa mengotak atik software kita.

Allah telah menciptakan segalanya secara berimbang. Manusia boleh memanfaatkan alam pada porsi tertentu. Jika lebih dari itu maka manusia salah sebagai khalifah. Menurut Pak Iskandar, cara hidup konsumtif dan konsep kapitalisme adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam. Melalui Bumi Langit Institute beliau ingin memperkenalkan sekaligus memfasilitasi masyarakat yang :
- Secara fisik memiliki ketertarikan dengan Permakulture dan Sustainable Environment
- Memiliki kesadaran untuk mengembalikan interaksi seimbang manusia - alam

Sebagai anak muda yang masih berada (dan belum bisa meninggalkan) sistem kota modern, kami disadarkan bahwa time is running out, harus ada yang melakukan perubahan. Sebagai muslim (si mahasiswa Norway juga muslim) kita punya tanggung jawab untuk menjadi khalifah dan harus berhasil. 

"When someone find a wisdom, the wisdom choose him/her", kata Pak Iskandar. Maaf tidak banyak-banyak amat yang saya ingat dari percakapan dengan beliau. Tapi InsyaAllah banyaak sekali nilai-nilai yang saya ambil dan teringat karena jleb menusuk dalam hati dan pikiran. Mungkin nanti www.zhriftikar.com akan menuliskan dengan lebih lengkap karena dia yang nyatat hehehe.

Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Iskandar sekeluarga, Mas Yogi yang telah memandu kami berkeliling, seluruh keluarga besar Bumi Langit, Zahra, Rahma, Erlin, dan Rofaida. Terima kasih sudah mengajak saya kesini.



Salam,
Chandra

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Eiiits masih ada lanjutannya...

Untuk yang Akan Menjadi Orang Tua

October 26, 2016 Posted by Chandra Nurohman , , 4 comments

Saya bukan peramal, tapi projectionist. Saya kadang-kadang merasa bisa mem-project masa depan seseorang dengan melihat kesehariannya. Tampak sok tahu memang, oleh karenanya perkiraan-perkiraan itu hanya untuk konsumsi pikiran saya sendiri.

Sepertinya akurasi dan tingkat keyakinan saya lebih tinggi ketika melihat teman seumuran. Setelah berinteraksi sekian waktu saya sering berucap dalam hati, "orang ini besok jadi orang besar" atau "dia akan jadi bussinessman hebat nih" atau "dia di jalan yang benar, cita-citanya jadi penulis bisa tercapai  suatu saat nanti", dll.

Sebagian prasangka adalah salah. Memang. Namun disini hampir semua proyeksi saya mengarah ke sisi positif. Sebenarnya saya hanya mengubah kalimat "kecilnya gini gedenya jadi apa" menjadi gambaran yang lebih real.

Lebih jauh, selain sok-sok memprediksi seperti yang di atas. Akhir-akhir ini sering pula muncul pertanyaan di kepala saya, "anaknya begini, seperti apa ya didikan orang tuanya ? siapa ya orang tuanya ?"

Saya punya teman yang mempunyai leadership dan skill komunikasi di atas rata-rata. Belakangan saya tahu bahwa orang tuanya sudah membiasakan anak ini untuk mandiri sejak kecil dan tidak melarangnya untuk berinteraksi dengan orang baru/asing.

Saya lihat teman sebaya yang sudah dipercaya untuk berdakwah, ternyata orang tuanya juga pendakwah yang pasti sering dia lihat ceramahnya dan serap ilmunya.

Saya lihat teman yang tidak bisa tidur dengan lampu mati, ternyata di rumahnya memang terbiasa tidur dengan lampu menyala.

Masih banyak contoh lain bagaimana seorang anak sangat dipengaruhi oleh didikan orang tuanya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bahkan, anak yang sering dikatakan "terlalu terpengaruh teman-temannya" sebenarnya mengalami "kurang mendapat pengaruh dari orang tuanya".

Saya ingin menjelaskan pemikiran saya tentang ini dengan sedikit matematika.


Pada persamaan tersebut, anggaplah :
y : kualitas anak
ai : kemampuan serap anak terhadap didikan orang tua
xi : didikan orang tua
indeks i menunjukkan bahwa didikan ini sangat luas dan menjangkau banyak sekali aspek.

Lalu apa itu K ?

K adalah kemauan dan kemampuan anak untuk mengenal dunianya di luar campur tangan orang tuanya. Nilai K dipengaruhi masalah-masalah yang dialami anak dan bagaimana dia menyelesaikannya, kerja keras anak dalam menjalani petualangannya, kemauan anak untuk masuk ke pergaulan yang baik, dan dunia anak di luar keluarganya.

Hasilnya ?

Pribadi anak sangat ditentukan oleh orang tuanya. Orang tua yang hebat memberikan start yang baik bagi perkembangan anak.

Orang tua harus memiliki pemahaman agama yang cukup dulu untuk bisa mengajarkan kepada anaknya. Orang tua perlu memiliki bisnis dulu untuk melatih anak berbisnis dari dekat. Orang tua harus memiliki kebiasaan-kebiasaan baik agar si anak bisa mengikutinya. Orang tua harus bisa mengatur dinamika keluarga, mengatur keuangan, menjaga kebersihan, mendisiplinkan waktu, aktif, bisa bermasyarakat.

Dalam contoh sehari hari, orang tua tidak boleh nonton sinetron jika ingin menjauhkan anaknya dari efek buruk sinetron. Orang tua harus rutin gosok gigi sebelum tidur jika ingin anaknya melakukan hal yang sama, dll

Namun, itu tidak mutlak. Banyak pula anak dari keluarga broken home yang berhasil dalam karirnya. Banyak anak dari keluarga kurang mampu yang punya banyak spare untuk berderma di masa dewasanya. Banyak anak pelosok yang dewasanya menjadi ahli teknologi.

Hal ini disebabkan adanya konstanta K tersebut. Konstanta K adalah nilai-nilai yang diperoleh anak tanpa campur tangan orang tuanya sama sekali. Semua bergantung pada si anak. Sungguh, kedekatan anak dengan Tuhan memiliki korelasi yang sangat erat.

Pernah saya dengar, "orang tua jangan terlalu cepat mengambil alih masalah anaknya, biarkan dia mencoba menyelesaikannya". Sesungguhnya ini untuk meningkatkan nilai K.

Bagaimana dengan Chandra ?

Alhamdulillah. Saya mensyukuri segala yang telah diberikan orang tua saya. InsyaAllah saya mensyukuri adanya saya sekarang. Justru saya yang sekarang sedang berusaha keras meningkatkan nilai K saya. Nilai variabel xi yang diberikan oleh ayah dan ibu sungguh menjadi garis start baik bagi saya. Saya sangat bersyukur.

"Jangan takut kekurangan rezeki, takutlah kekurangan rasa syukur"

Tapi saya berkata pada diri saya sendiri dan teman-teman, sebagai orang yang InsyaAllah nantinya menjadi orang tua, mari terus perbaiki diri. Mari wariskan start yang baik bagi anak-anak kita.

Marilah kita menjadi generasi yang "meledakkan silsilah". Apa maksudnya meledakkan silsilah ?

Saya beri contoh saja, lihatlah diri Bapak B.J. Habibie yang keturunannya lalu menggunakan nama belakang Habibie. Begitu pula keluarga Yudhoyono berkat sepak terjang Bapak SBY. Anak cucu beliau-beliau ketika ditanya latar belakangnya akan selalu me-refer kepada sang peledak silsilah.

Namun perlu diingat, yang hebat bukan hanya Pak BJH dan Pak SBY, tapi juga orang tuanya. Orang tua yang memberikan nilai variabel xi dengan nilai tinggi.

Kesimpulannya, yang juga menjadi alasan saya menulis ini, bahwa saya ingin menjadi orang tua yang memberikan nilai xi tinggi kepada anak saya nanti. Yang perlu saya lakukan adalah memperbaiki diri dan meniru kebaikan-kebaikan para orang tua. Yang utama orang tua saya, sebagai tambahannya orang tua teman-teman saya.


Salam,
Chandra, 21 tahun.