Our Favorite Korean

August 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada dua restoran Indonesia yang cukup besar di Arnhem. Sayangnya dua-duanya adalah tipe yang menyasar pelanggan bule sehingga menjual sate babi, setingannya fine dining jadi relatif mahal, dan kalau dilihat dari foto tampilannya too nice untuk makanan AsiaOleh karenanya kami belum pernah ke sana, tongkrongan favorit kami untuk makan di luar justru sebuah warung Korean food, Mama Bowls.



Mama Bowls adalah sebuah restoran Korea di jantung kota Arnhem. Lokasinya di centrum dan dapat dengan mudah dijangkau lima menit berjalan kaki dari stasiun Arnhem Centraal. Restorannya tidak terlalu besar tapi sangat bisa untuk makan di tempat. Meskipun Korean, warung ini didirikan dan dimanage bersama oleh dua orang mbak-mbak, salah satunya orang Indonesia. Jadi alasan lain kami-kami sering makan di sini ya karena ini warung kepunyaan teman. Selain support bisnis kenalan, kadang juga dikasih bonus dan bisa sambil ngobrol kalau makan di sana.

Mereka menjual berbagai macam makanan Korea dan Asia mulai dari Kimbab, Bibimbab, Tteokbokki, Korean Fried Chicken, Japchae, Chibap, Japanese Curry, Gyoza, Corndog, Fried Rice, dan lain sebagainya. Saya belum pernah ke Korea jadi tidak tahu seberapa otentik rasanya, tapi saya bisa bilang rasanya enak. Favorit saya fried chicked dan topokki-nya, japchae-nya juga oke. Selain dine-in, beberapa kali kami juga order delivery ayam gorengnya karena cocok buat lauk di rumah. Delivery bisa dilayani via Uber Eats dan Thuisbezorgd.


Mama Bowls juga punya cabang di Wageningen, saya pernah satu kali makan di sana. Selain itu, mereka juga sering mengadakan event pop-up berkolaborasi dengan brand-brand makanan Indonesia atau Asia lainnya. Informasi tentang itu bisa dilihat di instagram mereka @mamabowls_nl. Di sana juga ada kontaknya yang bisa dihubungi untuk tanya-tanya atau reservasi. Walaupun bisa walk-in, kalau mau datang ramean atau di jam-jam peak lebih baik reservasi dulu agar dapat meja. 

Restoran ini well-run, karyawannya banyak, tempatnya nyaman, menunya lengkap, jam bukanya panjang,  mejanya sering ramai, dan pengalaman makannya menyenangkan. Lebih penting lagi rasanya masih sangat Asia, halal, dan vegan friendly. Apalagi saat musim dingin nanti, tempat dan makanannya sangat cocok untuk menghangatkan badan. Buat saya no-brainer untuk mampir ke sini ketika ingin yang pasti-pasti aja. Proudly recommend this!

Chandra




Sponsor Utama (No More Betting)

August 23, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Premier League bergulir kembali. Di musim yang baru ini PL menerapkan beberapa perubahan aturan yang mayoritas bertujuan menjadikan permainan lebih efektif, fair, dan cepat. Tapi ada gebrakan menarik lain dari PL yang tidak ada hubungan langsungnya dengan permainan.



Saya kemarin nonton beberapa pertandingan Premier League dan menyadari ada yang berbeda di jersey beberapa tim. Tim-tim seperti Brentford, Forest, dan Sunderland tidak lagi menggunakan sponsor judi seperti musim lalu. Indeed yang sebelumnya hanya sponsor di training kit Brentford sekarang naik jadi sponsor utama. Forest kini punya sponsor baru Marex, sebuah penyedia layanan keuangan. Sementara Sunderland spot sponsor utamanya masih kosong.

Saya jadi ingat soal aturan yang melarang brand judi jadi sponsor utama di jersey tim-tim Inggris. Aturan ini sudah disepakati beberapa tahun yang lalu dan tampaknya mulai berlaku musim ini. Ini memaksa tim-tim yang sebelumnya bersponsor judi mencari partner lain. Rata-rata yang terpengaruh adalah tim menengah karena tim besar biasanya sudah punya kesepakaran jangka panjang dengan brand ternama misalnya Etihad, Emirates, atau Standard Chartered. 

Tanpa perlu mengambil fatwa agama dan norma sosial, sebagai fans bola saya jauh lebih senang klub bola disponsori real company. Ada ikatan antara nama klub, jersey, dan sponsor. Orang kalau bicara jersey ikonik pasti teringatnya Juventus Sony, Milan Opel, Inter Pirelli, MU Vodavone, Arsenal O2, Valencia Toyota, atau Ajak ABN Amro. Semua itu real brand, beberapa bahkan mungkin kita pernah bersinggungan langsung. 

Lagipula menurut saya aneh ketika platform judi menyeponsori klub olahraga. Kita tahu bahwa judi adalah akar dari match fixing, kankernya dunia olahraga. Gimana logikanya klub-klub malah menerima uang dan mempromosikan mereka? Belum lagi visual sponsor di jersey bisa dilihat anak-anak. Ini sama saja seperti rumah sakit mengiklankan rokok.

Cek grafis dari BBC ini, tampak betapa dua musim yang lalu lebih dari setengah klub Premier League disponsori oleh brand judi. Ini sudah bukan anomali lagi, ini sudah jadi tren. Mungkin sulit bagi klub-klub ini untuk mendapat sponsor organik, di sisi lain platform judi berani membayar cukup tinggi.

Sementara ini adalah distribusi sponsor musim ini. Dari gambar ini saja tampak lebih exciting karena variasinya lebih banyak, apalagi kalau melihat jersey yang sebenarnya. Satu catatan, Forest belum terupdate (masih No Sponsor) karena deal yang baru saja mereka dapatkan.

Ketika dipakai turun ke lapangan beberapa jersey jadi tampak segar. Bahkan menurut saya Fulham (Clickhouse) dan Palace (Temporal) keren banget dengan sponsor barunya. Apakah saya tahu brand-brand itu? Tidak, yang pernah saya dengar hanya Indeed dan Rwanda. Tapi ini masih jauh lebih baik daripada Bet something.


Ini pergerakan yang sangat bagus dari Premier League. Lagipula melihat betapa makmurnya tim-tim Inggris sekarang, harusnya mereka tidak butuh uang dari bandar judi. Real brand semestinya juga bisa melihat bahwa kini Liga Inggris adalah liga paling populer dan ditayangkan di banyak sekali negara. Saya berharap brand-brand yang familiar dengan kita akan masuk di masa depan. Toyota, Samsung, atau Garuda sekalian boleh lah.

Sebagai penutup soal jersey dan sponsor baru, pemenangnya musim ini menurut saya adalah Newcastle. Walaupun tim ini sering dibully di transfer window, tapi soal kit mereka nyampe.


***

Beranjak dari perbincangan soal jersey dan sponsornya, ini adalah beberapa di antara aturan baru yang diterapkan musim ini:
1. Hitung mundur 5 detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang jika wasit menilai pemain sudah mengulur waktu terlalu lama. Jika lewat 5 detik bola diberikan pada lawan (tendangan gawang jadi sepak pojok)
2. Waktu maksimal pergantian pemain 10 detik, jika lewat dari itu pemain yang masuk harus menunggu bola mati berikutnya setelah 1 menit.
3. Pemain cedera harus keluar lapangan 1 menit.
4. Jika kiper cedera dan perlu perawatan, pelatih harus memilih satu pemain depan untuk kemudian keluar selama 1 menit. Ini untuk meminimalisir kiper pura-pura cedera demi mendapatkan tactical time-out.
5. Pemain dilarang mengelap bola menggunakan handuk sebelum lemparan ke dalam.

Bagaimana menurutmu?

Chandra


Yatai Jepang

August 16, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya lagi hobi nonton video YouTube soal Yatai. Yatai adalah salah satu model kuliner tradisional Jepang yang konsepnya seperti angkringan kalau di Indonesia. Dijual menggunakan gerobak, sajiannya bermacam-macam, dan pelanggannya duduk melingkar. Tapi walau ini soal makanan, bagian terbaik dari video-video Yatai bukanlah makanan atau proses memasaknya.


Dalam video-video yang saya lihat, menu yang dijual di Yatai antara lain ramen, gyoza, omelet, oden, nasi goreng, dan bakaran dengan versi dan variasi masing-masing. Beberapa Yatai punya specialty menu yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya Yatai biasanya B2-heavy jadi untuk sobat muslim ini bukan jenis kuliner yang aman dicoba. Ini alasan lain bagian terbaik video Yatai bukanlah makanannya.

Proses memasak dalam Yatai juga bukan daya tarik utama buat saya. Sebagai bagian dari budaya kuliner Jepang, koki Yatai memasak dengan delicate, clean, minimalis, dan rapi. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka menata kondimen ramen, memasak pakai sumpit, membuat omelet into perfection, dan mengiris daging dengan simetris. Hal-hal ini bagus untuk konsep fine dining, tapi ketika bicara street food menurut saya cara masak Chinese yang berapi-api, penuh asap, mie sampai kelempar-lempar keluar wok, dan saos kemana-mana tampak lebih appetizing.

Maka bagian terbaik dari video Yatai menurut saya justru proses penjualnya menggelar gerobak dagangannya. Video dari channel Food Tourism Japan misalnya mengcapture dengan baik proses ini. Kalau dilihat dari komentar-komentar yang muncul sepertinya banyak orang juga berfokus pada bagian ini. Part di mana vendornya mensetup dagangan menunjukkan betapa hard working dan tekunnya mereka.


Yatai pada umumnya buka di malam hari di pinggir jalan dan trotoar. Karena tempat berjualan mereka adalah tempat umum sepertinya mereka tidak diijinkan untuk meninggalkan apapun di titiknya berjualan, semua harus disimpan di tempat lain, dipasang ketika mau buka, lalu dibereskan lagi sampai bersih ketika selesai. Proses ini tidak ringan mengingat banyaknya dan beratnya peralatan yang dibutuhkan.

Gerobak kayu tradisional Yatai sendiri sudah berat, belum di dalamnya ada piring gelas, alat masak besar, papan-papan, kursi, water heater, kompor, sampai sink. Kompornya saja bisa 4 sampai 6 tungku. Sobloknya minimal 2 besar-besar satu untuk rebusan air dan satu untuk kuah ramen. Kemudian selain segala perkakas itu, pedagangnya masih mengambil setumpuk bahan makanan, tabung gas, dan beberapa cooling box berisi minuman pakai pickup.

Semua proses dari menarik gerobak ke lokasi berjualan, mengeluarkan barang-barang dan menatanya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci piring kotor, beberes setelah tutup, menata gerobak kembali, kemudian mendorong gerobak baik ke parkiran dilakukan setiap hari. Melihat prosesnya dalam satu hari berjualan saja sudah membuat capek, sementara penjual Yatai melakukan semua itu lagi keesokan harinya. Itu belum termasuk proses-proses yang tidak kelihatan: belanja barang, menata bahan, dan memasak di rumah. Mad respect!



Beberapa Yatai dijalankan oleh beberapa orang, sebagian gerobak juga sudah dimodernkan dengan bahan aluminium dan bisa dibawa pakai pickup. Model Yatai yang begitu mungkin sedikit lebih ringan dijalankan, tapi tetap saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan sepele. Apalagi jika take into account cuaca yang bisa sangat panas atau sangat dingin dan kondisi badan yang belum tentu selalu sehat.

Menonton video Yatai membuka mata saya bahwa membuka usaha kuliner tidak sesederhana itu. Saya yakin ini tidak sesempit Yatai dan Jepang. Andai ada dokumentasi memadai yang memperlihatkan bagaimana pedagang bubur atau angkringan di Indonesia menyiapkan dagangannya pasti juga akan membuat dunia tersentuh. Kita sebagai pembeli hanya menemui mereka dalam 'bentuk terbaiknya' yaitu ketika sudah buka. Tapi untuk sampai pada titik buka itu ada proses panjang yang harus dilewati. 


Chandra

Berkalimat ala Agus Magelangan

August 09, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ternyata di balik celelekan-nya tulisan Agus Mulyadi, banyak teori-teori serius yang strict dan matematis menyusunnya. Itu adalah temuan saya setelah mengikuti kelas menulisnya Agus Mulyadi yang diselenggarakan bersama Belajar Literasi.



Saya follow Belajar Literasi di Instagram sejak tahun lalu saat mereka mengadakan kelas bersama Agus juga, tapi saat itu kelasnya offline jadi saya tidak bisa ikut. Minggu lalu saya melihat postingan mereka soal Webinar Menulis Esai ala Agus Mulyadi. Acaranya diadakan Sabtu 8 Agustus dan tanpa pikir panjang saya langsung daftar. Sembilan puluh sembilan ribu paling worth it bulan ini.

Saya mengikuti Agus Mulyadi aka Agus Magelangan sudah lama, sejak jaman-jaman tulisan sempak indomaret di blognya. Saya punya beberapa bukunya dan mendengarkan podcastnya baik dia sebagai tamu ataupun pengisi utama (podcast Mojok). Tulisan-tulisan Agus ringan, lucu, dan renyah itu sudah jelas. Tapi persona dan logat cah ndeso-nya yang kental itu buat saya jadi nilai plus lain karena semacam jadi pengingat masa-masa bermain. Some of my friends back then sounds just like him ketika bicara.

Dalam webinar kemarin Agus menjelaskan teknik-tekniknya dalam membuat tulisan yang bikin orang betah membaca. Dia menjelaskan di antaranya bagaimana membuat kalimat/paragraf pembuka yang memikat, membuat penutup yang berkesan, menggambarkan situasi secara indah, memilih vocab yang menggugah, menggunakan prinsip rule of three, dan menerapkan perumpamaan yang pas. Ternyata tulisan-tulisan lucu dan luwes itu dibangun dengan struktur yang sudah tertentu.


Saya tahu mau ikut webinar Agus Mulyadi 100 kali pun saya tidak akan bisa menulis lucu seperti dia. Menurut saya lucu itu bakat, sama seperti tidak semua orang bisa stand up comedy. Agus bisa dengan jenaka memasukkan dalam tulisannya frase "keblondrok bakule slondokkk", tapi kalau saya yang melakukan itu jelas malah jadi cringe dan terlalu trying to be funny.

Maka saya secara sadar ikut webinar ini bukan untuk jadi penulis, misi saya hanyalah untuk mendapatkan ilmu bagaimana membuat tulisan tidak terlalu dingin dan kaku. Webinar ini juga semakin meyakinkan saya bahwa kemampuan menulis itu penting bahkan jika pekerjaan kita bukan penulis ataupun sosok digital.


Ah, weekend well spent. 
Chandra


How to Not Know: Navigating Uncertainty

August 01, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika pertama kali membaca judul buku ini saya agak kurang yakin karena How To Not Know terdengar seperti versi lain dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck, yang mana tidak terlalu menarik buat saya. Tapi saya tetap checkout How To Not Know dari Bol.com karena penulisnya Simone Stolzoff, penulis buku The Good Enough Job, salah satu buku all-time favorite saya. Saya bersyukur mendapatkan buku ke-dua-nya ini karena walaupun judulnya begitu tapi isinya 10/10.

Baca juga: The Good Enough Job

Tadinya saya kira buku ini bicara soal bagaimana caranya supaya tidak terlalu ingin tahu hal-hal yang tidak perlu kita tahu alias tidak kepo, tapi ternyata bukan itu yang dimaksud 'Not Know'. Not Know di sini maksudnya adalah uncertainty (ketidakpastian) yang sering mendatangkan problem psikologis bagi manusia. Terlebih sekarang virus ketidakpastian looming more than ever dengan adanya krisis global di hampir segala lini kehidupan: politik, keamanan, ekonomi, hukum, sosial, dan lingkungan.

Ketidakpastian adalah perkara serius yang dihadapi semua orang tapi kadang tidak dipahami secara penuh. Ada cerita dalam buku ini tentang penelitian melibatkan orang yang disetrum. Responden yang tidak tahu apakah dia akan disetrum ternyata punya kecemasan dan stres lebih tinggi daripada yang sudah tahu dari awal bahwa dia akan disetrum. Menunggu hasil ujian keluar lebih menegangkan daripada ketika tahu hasilnya. Mendukung klub bola yang nyanan di peringkat 3 lebih mentally easy daripada mendukung yang bersaing di peringkat 1-2 sampai akhir musim tapi akhirnya kalah.

Secara bawaan setiap manusia punya uncertainty tolerance, kemampuan untuk menampung ketidakpastian. Tapi derasnya arus informasi dan kemudahan untuk ngecek dan memastikan segala sesuatu pada gilirannya bisa mengerdilkan uncertainty tolerance ini. Orang harus ngecek daftar menu dulu sebelum masuk restoran, orang harus baca review sebelum nonton film, dan orang harus tahu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Ada sebuah paragraf yang bagus sekali di buku ini dan rasanya harus saya kutip:

Rather than engage with someone with different political views from ours, we retreat into our silo. Rather than face the uncertainty of inviting a potential new friend out to coffee, we cling to our solitude. And rather than walk a few blocks to the local corner stone, we order through an app. The ramifications of these choices extend beyond polarization and loneliness. When we continuosly choose to surround ourselves with the familiar, our ability to tackle the unknown begins to atrophy.

Paragraf itu merangkum keresahan utama yang dibawa buku ini. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang sering menjebak orang sehingga menyikapi ketidakpastian dengan kurang tepat. Pertama comfort, kecenderungan untuk tidak beranjak dari zona nyaman. Kedua hubris, menutup diri dari pengetahuan baru karena merasa sudah jadi yang paling tahu. Ketiga control, merasa bisa mengendalikan semua hal padahal tidak. Tiga hal itu menjadi bagian penyusun buku ini, tiap bagian terdiri dari beberapa bab yang masing-masingnya berkisah tentang satu atau beberapa kontributor. 

Di antara kontributornya adalah seorang Menteri dari Tuvalu yang meng-address PBB soal climate change lewat pidato di pinggir pantai dalam kondisi kakinya terendam air laut yang naik mengikis wilayah negaranya sedikit demi sedikit (keyword youtube: Simon Kofe speech COP26). Lalu ada seorang software engineer di Google yang meninggalkan rutinitas, rumah, dan kehidupannya untuk hidup nomaden secara random. Dia membuat aplikasi yang memutuskan untuknya di mana dia harus tinggal, apa yang harus dia makan, dan apa aktivitas yang harus dia datangi. Selama beberapa tahun dia manut total pada aplikasi itu dan menemukan sisi-sisi dunia yang sebelumnya tidak dia tahu. Dalam penulisannya Stolzoff total, misalnya ketika mendalami Tuvalu dia benar-benar terbang ke negara itu.


Simone Stolzoff punya karir yang panjang di berbagai bidang (jurnalis, penulis, speaker, ex-design lead IDEO) dan he knows what he's doing. Selain story telling yang bagus, tulisannya sarat dengan informasi-informasi yang berbasis data yang banyak orang belum tahu sebelumnya. Banyak titik di buku ini yang hit close to home karena saya merasa relate dengan apa yang dialami kontributornya. Buku ini memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini saya tidak tahu apakah ada jawabannya. Aftertaste setelah menyelesaikan buku ini adalah: "orang harus baca ini bukan hanya karena bagusnya, tapi karena manfaatnya.

Buku ini menyadarkan saya untuk tidak overthink atas sesuatu. Beri ruang untuk ketidaktahuan karena lawan dari faith bukanlah doubt tapi certainty. Saya coba terapkan itu kemarin ketika terakhir kami ke Den Haag dengan sengaja tidak membuat rencana yang matang, tapi justru hari itu kami ketemu kapsul Soyuz* asli, makan pempek, ke pasar kermis (pasar malam), dan makan nasi rames di masjid. Persiapan yang terbatas posses some risks, tapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk kejutan-kejutan baik.

Ada konsep menarik lain yang saya temukan di buku ini yaitu soal exploit + explore. Exploit adalah melakukan sesuatu yang sudah familiar dan mendalaminya, sementara explore adalah melebarkan sayap mencoba hal-hal baru. Kita perlu punya dua pendekatan ini secara seimbang agar bisa tahu banyak sekaligus banyak tahu. Kita bisa datang berulang-ulang ke restoran langganan yang sudah jelas disuka tapi juga sebaiknya sesekali mencoba restoran lain karena siapa tahu ketemu yang enak juga.

Stolzoff menutup bukunya dengan memberikan empat ajakan yang perlu dilakukan agar manusia bukan hanya bisa me-manage uncertainty tapi juga meng-embrace uncertainty. Empat ajakan itu adalah: find your anchors, choose curiosity over comfort, trust your future self to handle future problems, dan let go of the ghost ships that did not carry you. Empat ajakan itu menjadi kesimpulan yang membungkus dengan apik segala bahasan di buku ini.

How To Not Know tidak memberi pembacanya cara untuk menjadi excelent communicator, effective negotiator, atau impactful leader. Buku ini sesederhana mengajak pembaca untuk menerima bahwa uncertainty adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tapi dengan faith dan keberanian untuk tetap melangkah dalam gelap, di sana lah manusia bisa membuka ruang-ruang yang bahkan sebelumnya belum diketahui adanya.

Chandra


*Soyuz adalah wahana antariksa milik Rusia. Salah satu kapsul asli Soyuz disimpan di Space Expo Museum di Noordwijk, Belanda. Wahana ini sentimental buat saya karena nama 'Soyuz' kami ambil jadi nama angkatan waktu osjur kuliah dulu.