Yatai Jepang

August 16, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya lagi hobi nonton video YouTube soal Yatai. Yatai adalah salah satu model kuliner tradisional Jepang yang konsepnya seperti angkringan kalau di Indonesia. Dijual menggunakan gerobak, sajiannya bermacam-macam, dan pelanggannya duduk melingkar. Tapi walau ini soal makanan, bagian terbaik dari video-video Yatai bukanlah makanan atau proses memasaknya.


Dalam video-video yang saya lihat, menu yang dijual di Yatai antara lain ramen, gyoza, omelet, oden, nasi goreng, dan bakaran dengan versi dan variasi masing-masing. Beberapa Yatai punya specialty menu yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya Yatai biasanya B2-heavy jadi untuk sobat muslim ini bukan jenis kuliner yang aman dicoba. Ini alasan lain bagian terbaik video Yatai bukanlah makanannya.

Proses memasak dalam Yatai juga bukan daya tarik utama buat saya. Sebagai bagian dari budaya kuliner Jepang, koki Yatai memasak dengan delicate, clean, minimalis, dan rapi. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka menata kondimen ramen, memasak pakai sumpit, membuat omelet into perfection, dan mengiris daging dengan simetris. Hal-hal ini bagus untuk konsep fine dining, tapi ketika bicara street food menurut saya cara masak Chinese yang berapi-api, penuh asap, mie sampai kelempar-lempar keluar wok, dan saos kemana-mana tampak lebih appetizing.

Maka bagian terbaik dari video Yatai menurut saya justru proses penjualnya menggelar gerobak dagangannya. Video dari channel Food Tourism Japan misalnya mengcapture dengan baik proses ini. Kalau dilihat dari komentar-komentar yang muncul sepertinya banyak orang juga berfokus pada bagian ini. Part di mana vendornya mensetup dagangan menunjukkan betapa hard working dan tekunnya mereka.


Yatai pada umumnya buka di malam hari di pinggir jalan dan trotoar. Karena tempat berjualan mereka adalah tempat umum sepertinya mereka tidak diijinkan untuk meninggalkan apapun di titiknya berjualan, semua harus disimpan di tempat lain, dipasang ketika mau buka, lalu dibereskan lagi sampai bersih ketika selesai. Proses ini tidak ringan mengingat banyaknya dan beratnya peralatan yang dibutuhkan.

Gerobak kayu tradisional Yatai sendiri sudah berat, belum di dalamnya ada piring gelas, alat masak besar, papan-papan, kursi, water heater, kompor, sampai sink. Kompornya saja bisa 4 sampai 6 tungku. Sobloknya minimal 2 besar-besar satu untuk rebusan air dan satu untuk kuah ramen. Kemudian selain segala perkakas itu, pedagangnya masih mengambil setumpuk bahan makanan, tabung gas, dan beberapa cooling box berisi minuman pakai pickup.

Semua proses dari menarik gerobak ke lokasi berjualan, mengeluarkan barang-barang dan menatanya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci piring kotor, beberes setelah tutup, menata gerobak kembali, kemudian mendorong gerobak baik ke parkiran dilakukan setiap hari. Melihat prosesnya dalam satu hari berjualan saja sudah membuat capek, sementara penjual Yatai melakukan semua itu lagi keesokan harinya. Itu belum termasuk proses-proses yang tidak kelihatan: belanja barang, menata bahan, dan memasak di rumah. Mad respect!



Beberapa Yatai dijalankan oleh beberapa orang, sebagian gerobak juga sudah dimodernkan dengan bahan aluminium dan bisa dibawa pakai pickup. Model Yatai yang begitu mungkin sedikit lebih ringan dijalankan, tapi tetap saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan sepele. Apalagi jika take into account cuaca yang bisa sangat panas atau sangat dingin dan kondisi badan yang belum tentu selalu sehat.

Menonton video Yatai membuka mata saya bahwa membuka usaha kuliner tidak sesederhana itu. Saya yakin ini tidak sesempit Yatai dan Jepang. Andai ada dokumentasi memadai yang memperlihatkan bagaimana pedagang bubur atau angkringan di Indonesia menyiapkan dagangannya pasti juga akan membuat dunia tersentuh. Kita sebagai pembeli hanya menemui mereka dalam 'bentuk terbaiknya' yaitu ketika sudah buka. Tapi untuk sampai pada titik buka itu ada proses panjang yang harus dilewati. 


Chandra

0 comments:

Post a Comment