Sensus Ekonomi

July 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sebuah surat mendarat di kotak pos kami dari CBS (Centraal Bureau voor de Statistiek) berisi voucher belanja senilai €30. Ini adalah ucapan terimakasih pemerintah karena sebelumnya kami berpartisipasi dalam sensus ekonomi. Haha.



Beberapa minggu sebelumnya kami menerima surat dari CBS tentang menanyakan kesediaan kami untuk ikut serta dalam sensus ekonomi. Dalam sensus seperti ini tidak ada petugas yang datang untuk menanyai, kuesioner diisi secara online. Pertanyaannya lumayan komprehensif seperti pekerjaan, penghasilan, status tempat tinggal, dan lain sebagainya. Sebenarnya one way or another pemerintah sudah tahu data-data ini andaikan mau dikumpulkan dari berapa instansi.

Tapi yang menarik adalah selain mengisi kuesioner kami juga diminta untuk menginput pengeluaran harian selama 2 minggu sejak enroll. Pada website CBS sudah disiapkan templatenya. Jadi setiap belanja kebutuhan, makan di luar, biaya transportasi, sampai leisure dan main padel diinput disitu habis berapa dan untuk apa. Dari data ini mungkin CBS akan melihat pola dan mrngekstrapolasi ke interval yang lebih panjang.

Karena menggunakan effort dan waktu warga, keluarga yang berkenan menyelesaikan survey ini sampai 2 minggu mendapat reward voucher belanja. Saya nggak tahu apakah semuanya dapat atau ada kriteria tertentu, tapi happy lah dapat satu. Selain itu saya bersedia mengikuti sensus ini karena saya punya concern dengan harga-harga yang lumayan naik terutama setelah perang Iran-Amerika. Semoga data-data yang terkumpul menunjukkan bahwa inflasi cukup tinggi sehingga pemerintah tergerak untuk melakukan sesuatu guna memitigasi hal ini.

Chandra

Melayat

July 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Dalam episode #PertamaKalinya lagi tapi kali ini suasananya berduka, ini lah pertama kalinya saya datang melayat di Belanda.

Kami punya kenalan seorang Indonesian lady yang menikah dengan orang Belanda. Beliau aktif di pengajian dan dari sana kami (muda-mudi Indonesia) akrab dengannya. Beliau sering sedekah makanan-makanan enak sebagai konsumsi pengajian karena memang punya katering profesional baik di Jakarta dulu sampai di Belanda sekarang. Kateringnya adalah andalan untuk kami-kami pesan ketika ada acara atau pun sekedar untuk stok lauk di rumah. 

Tapi bukan hanya urusan jajanan, secara personal kami juga akrab dengan beliau. Setiap lebaran kami diundang ke rumahnya. Baik sekali ibu ini, keluarganya juga sudah terbiasa dan sangat welcome dengan orang-orang Indonesia muslim. Suaminya mualaf, beberapa kali ikut pengajian, tidak ada anjing dan alkohol di rumahnya, dan salat di sana sudah ada tempatnya. Jadi main ke sana sudah seperti ke tempat saudara.

Qadarullah beberapa waktu yang lalu kami mendapat kabar duka dari beliau, adik iparnya meninggal dunia. Kami kenal dengan iparnya ini juga karena beberapa kali ikut ngantar ke pengajian walaupun tidak ikut masuk. Berita duka ini awalnya hanya informasi via whatsapp, tapi ternyata beliau juga mengirimkan surat duka ini ke rumah. Maka tidak enak kalau kami tidak menyempatkan untuk datang. Saya datang bersama seorang teman untuk mewakili angkatan muda ini, tidak ajak istri karena undangannya di jam kerja.

Ini adalah pertama kalinya saya datang ke rumah duka 'umum', sebelumnya hanya dengar-dengar saja di Jakarta. Acara diselenggarakan sekitar satu minggu setelah hari wafatnya. Foto di atas adalah sebuah krematorium tempat prosesi diadakan yang setelah ngobrol-ngobrol saya baru tahu bahwa tempat ini baru. Dari luarnya tampak sangat bersih dan rapi, tapi sekaligus sepi. Sejak masuk ke sini saya tahu ini akan jadi pengalaman melayat yang berbeda.

Begitu masuk, tamu dipersilakan duduk di ruang tunggu. Ketika semua sudah datang mungkin ada 40-50 orang di sana. Tentu ini jumlah yang sangat sedikit kalau dibandingkan takziah di Indonesia. Kalau dibilang nyaman tempatnya nyaman sekali memang, seperti ruang tunggu rumah sakit kelas atas. Ada beberapa sofa dan meja kursi, hiasan dinding, lampu gantung, dispenser air minum, dan di ujung ruangan ada TV yang menampilkan foto orang yang berpulang.

Tepat ketika acara akan dimulai ada semacam protokoler yang masuk, dia mempersilakan tamu untuk masuk ke ruang ceremony. Tapi sebelum itu bagi tamu yang ingin melihat peti atau memberikan penghormatan terakhir bisa masuk melalui pintu samping. Ruang ceremony-nya berbentuk seperti gereja dengan kursi-kursi panjangnya. Tapi tidak ada simbol agama apapun, sepertinya krematorium seperti ini bisa melayani agama apapun termasuk yang tidak beragama. 

Tembok depan ruangan ini transparan sehingga taman dan rerumputan di belakang bangunan jadi background yang sangat cantik. Di dalam musik yang mendayu-dayu di putar, musik popular btw seperti Coldplay sampai Van Halen hanya saja dengan aransemen sendu. Di depan ruangan ada mimbar, bunga,  beberapa lilin, dan TV yang nantinya akan dipakai memutar slide show foto-foto. Bagian belakang ada kamera yang bisa digunakan untuk live streaming. Acara ini dibroadcast ke Indonesia karena memang keluarga ini dekat dengan saudara-saudaranya di Indonesia.


Ketika semua tamu sudah di dalam, keluarga masuk berjalan menyusuri aisle sambil membawa peti jenazah, para tamu berdiri. Acara kemudian terdiri dari beberapa speech dari keluarga dan kolega. Isinya menceritakan riwayat hidup mendiang, kenangan-kenangan dengannya, dan sifat-sifat baiknya. Di antara speech itu diputar foto-foto sejak mendiang masih kecil sampai tua. Ceremony berlangsung selama sekitar 45 menit. Prosesinya seperti scene pemakaman yang di film-film, tapi dengan ada di situ saya sekarang merasakan atmosfernya untuk pertama kalinya.

Kalau ada satu kata yang menggambarkan suasana di sana itu adalah kosong. Ya kosong, sunyi, diam, sepi, sendu. Orang seperti bergulat dengan pikirannya masing-masing berusaha memunculkan kembali kenangan dengan orang yang meninggal. Tidak ada yang berbisik-bisik apalagi berbicara, musik masih mengalun pelan. Ini mengheningkan cipta tapi panjang.

Selesai prosesi, para tamu berdiri memberikan penghormatan terakhir dan menyalami keluarga. Kemudian tamu diarahkan ke ruangan di sebelah di mana sudah disiapkan sajian kopi, teh, dan makanan ringan. Di sini lah kemudian tamu bisa berbicara sekaligus ngobrol dengan anggota keluarga. 

Template acara penghormatan seperti ini tidak bisa diterapkan untuk muslim karena keharusan untuk memproses pemulasaran jenazah sesegera mungkin. Sementara butuh waktu dan pikiran (serta dana cukup besar) untuk merancang acara seperti ini. Kemudian juga untuk muslim dianjurkan menghadiri takziah bahkan jika tidak ada hubungan apapun, tanpa perlu menunggu undangan. 

Ketika menemui unsur budaya yang berbeda seperti ini saya selalu coba menarik ke belakang dan menelisik 'apa ya alasannya?'. Pasti ada sebabnya acara funeral dibuat seperti ini. Yang muncul di pikiran saya adalah mereka ingin menciptakan momen untuk mengenang. Ini berbeda dengan di Indonesia yang ketika datang takziah tujuan utamanya adalah untuk mendoakan

Saya jadi merasa ada yang perlu diperbaiki dari cara saya datang takziah. Selama ini seperti sudah cukup hanya dengan datang. Di rumah duka malah lebih banyak ngobrolnya daripada mendoakan atau minimal mengingat yang berpulang. Mungkin ada baiknya setelah menyalatkan kemudian mencari sudut sepi untuk minutes of silence.

Selamat jalan, Eugenio.



Chandra


Peak Aviation

July 12, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Space Shuttle mounted di atas Boeing 747, di belakangnya ada Concorde lagi take-off. Engineering abad 20.


Tulislah Walau Satu Kalimat

July 05, 2026 Posted by Chandra Nurohman 3 comments
Pepatah bilang motivasi adalah yang membuat kita memulai, tapi disiplin lah yang membuat kita terus berjalan. Waktu memulai blog ini dulu, motivasinya ada beberapa, tapi seiring berjalannya waktu sudah hilang satu per satu dan yang tersisa menjaga ini tetap berjalan tinggal disiplinnya.


Sejujurnya writing is not always fun. Menulis menyenangkan ketika memang sedang ada uneg-uneg yang ingin dikeluarkan, tapi itu tidak setiap waktu. Ada saat-saatnya pikiran buntu tapi ada target menulis tiap minggu. Di saat seperti itu saya coba paksa walaupun kadang-kadang hasilnya tidak maksimal. Maka di antara postingan di sini ada yang saya puas menulisnya tapi ada juga yang hanya for the sake of posting. Meski begitu saya merasa perlu menjaga streak karena kalau bolong tanpa alasan yang valid takutnya skip berkelanjutan dan berat untuk memulai lagi.

Alasan saya tetap memaksa diri untuk rutin menulis entah ada yang membaca atau tidak adalah karena saya mulai merasakan manfaatnya di beberapa tahun terakhir. Pertama, saya merasakan ini ketika menemukan kok menulis email jadi gampang. Dulu ketika mau mengirim email saya perlu googling dulu "contoh email untuk . . ." atau "template email . . .". Tapi karena terbiasa menulis from scratch, jadinya bisa menulis email cukup panjang dengan informasi awal yang terbatas. Selain kata-kata jadi lebih cepat meluncur, saya juga lebih pede dengan hasil akhirnya. Ketika perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris bertambah, menulis English juga jadi semakin effortless. 

Menulis bukan skill wajib dalam pekerjaan saya, tapi saya menemukan kebiasaan ini sangat berguna. Mendetailkan rencana kerja, membuat catatan, dan menulis dokumentasi adalah contoh bentuk menulis. Lalu sama halnya dengan bicara yang ada seninya bagaimana mempersuasi orang, bagaimana berargumen, bagaimana talk yourself out of trouble, menulis ada unsur "bersilat lidah"-nya juga. Tulisan tidak ada intonasinya, maka butuh konstruksi kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud secara jelas pada lawan bicara. 

Dalam kaitannya dengan AI, ada dua hal yang penting soal menulis. Pertama, kebiasaan menulis mempermudah ketika harus membuat prompt karena di situ ada proses mengubah maksud pikiran jadi tulisan. Kedua, walaupun AI semakin pintar tapi manusia tetap punya kelebihan dengan personal touch-nya. Misal dalam membuat bahan presentasi, AI bisa membuat slide beserta tulisannya, tapi manusia lah yang bisa menyesuaikan hasil akhirnya dengan audience yang akan dihadapi. Jadi kebiasaan menulis bisa menjadikan penggunaan AI lebih optimal dan di saat yang sama menjadikannya lebih "tidak kelihatan seperti hasil AI".

Saya setuju dengan Puthut EA yang bilang bahwa sebaiknya orang itu bisa menulis, tanpa harus jadi penulis. Dokter, politisi, engineer, artist, atau profesi apapun kalau bisa menulis itu baik. Sama seperti ada perbedaan level antara mendengar dan mendengarkan, menulis juga begitu. Semua orang bisa menulis kata, tapi alangkah lebih baiknya jika orang bisa menulis ide. 

Kalau bukan karena manfaatnya (untuk diri sendiri dan semoga orang lain), mungkin saya sudah berhenti menginvestasikan waktu untuk rutin menulis. Siapa juga yang masih blogging di tahun 2026 ini? Buat saya menulis itu seperti lari atau ngegym, just to keep me in shape.

Chandra