Yatai Jepang
Mag Ik Kapsalon?
Rekomendasi Restoran Indonesia di Belanda
Warung Barokah
Sate Semoga Berkah
Danau Abah Suradita
Warpas
Mie Oven, Tapi Tetap Direbus
Sate Ambal Dalam Kemasan
Tahu Telor di Jakarta Part 2
Dalam rangka menyelesaikan apa yang telah dimulai, saya mau melanjutkan cerita soal mencoba sajian tahu telor yang ada di Jakarta. Sebelumnya saya sudah menyambangi beberapa tempat makan tahu telor dan tahu campur, bisa dilihat di sini. Karena kemarin sudah ada 4, sekarang dimulai dari nomor 5.
5. Tahu Campur Cak Trisno (Bintaro)
Warung Tahu Campur Cak Trisno ini sangat gampang ditemukan, waktu pertama lewat langsung saya tandai. Lokasinya tepat di pinggir jalan Veteran di kawasan Bintaro. Menurut saya tempat ini cocok untuk makan bersama keluarga karena tempatnya luas, bersih, dan nyaman. Warung Cak Trisno buka dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, bisa lah untuk sarapan, makan siang, atau makan malam.
Saya suka sajian tahu telur di sini karena porsi tidak terlalu besar namun bumbu petisnya banyak. Secara rasa pun di atas rata-rata, review nggak bohong. Sebagai warung jawa timuran, tentu di sini juga tersedia tahu campur, soto, dan rawon dengan harga berkisar 20 ribuan. Kalau tidak bisa datang ke tempat pun bisa pesan via food delivery. Mantap pokoknya, sangat layak dicoba.
6. Tahu Campur Jalan Sabang (Sarinah)
Yes Sarinah is cool, tapi kalau jalan kesana belum afdol rasanya kalau belum makan di jalan sabang. Saya punya beberapa favorit disana: Sate Pak Heru (yang paling rame), pempek 99, dan tentu tahu telor. Saya agak lupa nama warung tahu telornya apa, tapi seingat saya hanya ada satu disana jadi mudah ditemukan. Kalau mau makan disini hanya bisa malam ya, karena kawasan ini siang hari jadi parkiran, waktu malam baru mulai rame orang kulineran.
Terakhir saya kesana harga seporsi tahu telornya 18 ribu. Enaknya makan di jalan sabang, karena pilihannya banyak jadi serombongan bisa makan beda-beda sesuai selera. Kebetulan saya dan istri begitu, tahu telor bf, pempek kulit gf. Piring boleh dibawa ke tenda sebelah asal jangan lupa bayar dan dikembalikan.
7. Tahu Tek Telor Kedoya (Kebon Jeruk)
Dua hari lalu saya ada keperluan di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Siangnya saya browsing tahu telor yang ada di sekitar tempat saya berada, ketemulah warung ini yang reviewnya lumayan mentereng. Niatnya makan siang, istirahat, bikin dokumentasi untuk postingan ini, sekalian berharap bisa standby buka laptop kalau perlu. Saat saya ikuti petunjuk maps ternyata saya diarahkan masuk ke suatu perumahan. Everything is fine sampai ketika tiba di tempatnya ternyata warung ini hanya melayani take away dan delivery, tidak bisa makan di tempat.
Sebagai orang yang hobi menikmati momen makan di warung, ini memberikan impresi kurang baik sih buat saya. Karena sudah lapar terpaksa saya mampir indomaret terdekat, beli minum sekalian duduk makan. Surprisingly rasanya sangat enak, iya, sangat. Saya bisa bilang ini tahu telor terenak yang pernah saya coba. Harga seporsinya 25 ribu. Silakan dicoba, tapi saran saya delivery saja.
8. Tahu Campur Citra Rasa (Bintaro)
Halaman parkir Bintaro Plaza ramai dengan tenda-tenda tenant makanan setiap sore hingga malam. Salah satu yang ada di sana adalah Tahu Campur Citra Rasa yang tentu juga menjual tahu tek telor. Ada juga rujak cingur barangkali mau, khas jawa timuran pokoknya. Citra Rasa ini cukup terkenal di kawasan Bintaro karena sudah berjualan tahun-tahunan. Bisa dipastikan langganan sudah banyak.
![]() |
| picture by: E.A.P @google |
Silakan kalau jalan-jalan sore ke daerah Bintaro mampir ke sini. Kalau weekday ramai dengan orang-orang pulang kerja yang lapar dan butuh mampir setelah lepas dari macetnya Jakarta. Kalau weekend jadi destinasi makan malam keluarga rame-rame.
Sekian review tahu telor, berikutnya makan apa ya?
Plencing, Makanan Wajib Coba
Sedikit mengulas perjalanan mudik saya minggu lalu, saya ingin menulis soal salah satu sajian yang sejauh ini belum saya temukan di luar Bantul. Bahkan di Bantul pun hanya terpusat di beberapa kecamatan di kawasan Bantul Selatan seperti Sanden dan Srandakan. Apakah makanan ini sudah bisa dikategorikan sebagai makanan khas Bantul? Mungkin bisa.
Nama makanannya adalah mie plencing, atau bisa disebut dengan plencing saja (not to be confused with plecing jawa ya). Plencing masih termasuk keluarga bakmi jawa. Kalau datang ke warung bakmi di daerah Sanden dan Srandakan Bantul, mereka punya menu plencing ini di samping menu jamak seperti bakmi goreng/godhog, nasi goreng, dan magelangan.
Yang menjadikan plencing beda dari yang lain adalah jenis bakmi yang digunakan yang biasa disebut mie lethek. Mie lethek adalah produk bakmi asli Bantul berbahan tepung singkong yang diproduksi secara tradisional sejak tahun 1940an hingga sekarang. Kata lethek (bunyi 'e' seperti dalam 'lebah') dalam bahasa Jawa berarti kotor atau kusam, sesuai dengan warna mie-nya yang coklat kusam bukan kuning atau putih. Mie lethek berukuran kecil/tipis dan punya tekstur yang kenyal. Pamor mie lethek sempat naik dan banyak diberitakan ketika disantap oleh Obawa dalam kunjungannya ke Indonesia.
Dalam pengolahannya plencing punya kesamaan dengan mie rebus, yaitu bakmi berkuah. Namun perbedaannya kuah plencing lebih kental dan punya rasa pedas manis. Secara warna kuahnya juga tampak pekat karena menggunakan kecap. Jadi tinggal menyesuaikan dengan selera saja, mau yang gurih seperti mie rebus biasa atau pedas manis seperti plencing, dua-duanya enak.
Semua plencing yang pernah saya coba menggunakan daging ayam kampung dan telur bebek. Tidak ada yang pakai ayam potong dan telur ayam. Selain lebih sehat secara rasa juga lebih enak. Plencing biasanya disajikan tanpa kerupuk. Kalau kurang pedas di meja sering disediakan cabe rawit hijau untuk ditambah sendiri. Minumnya paling mantep teh tubruk panas gula batu disajikan dengan gelas kecil dan teko.
Hangatnya plencing membuatnya paling enak disantap malam hari. Biasanya warung bakmi jawa di Bantul buka hingga jam 1 atau 2 pagi. Catatan untuk yang mau berkunjung, warung bakmi jawa yang enak di Bantul biasanya terletak di dalam perkampungan bukan di pinggir jalan raya, jadi sebaiknya gunakan maps untuk menemukan lokasinya. Salah satu langganan saya bersama keluarga dan teman-teman untuk menikmati plencing adalah Bakmi Pak Ribut (link)
![]() |
| Plencing Pak Ribut, sumber tertera |
Gimana? Tertarik mencobanya? Saya sih sangat merekomendasikan teman-teman untuk datang mencoba. Kalau pas liburan ke jogja dan tahu saya sedang mudik juga, feel free to contact me, saya ajak jalan-jalan dan menikmati plencing di tempat asalnya.
Salam,
Chandra
Tahu Telor di Jakarta
Salah satu menu makanan yang baru saya kenal ketika di Jakarta dan yang membuat saya langsung jatuh cinta adalah tahu telor khas Surabaya. Sekarang tahu telor sudah masuk teritori makanan favorit buat saya. Sayang populasinya belum banyak, masih di bawah pecel lele Lamongan atau bebek Madura secara jumlah. Pada tulisan ini saya akan review beberapa warung tahu telor yang sudah saya coba.
Disclaimer, saya belum pernah makan tahu telor di daerah aslinya. Jadi definisi enak tidaknya saya pakai ukuran lidah sendiri, dan enak disini bukan lantas punya rasa yang sama persis dengan di Surabaya. Check this out!
1. Warung Tahu Campur Cak Bejo (Tebet)
Di tempat ini lah tahun lalu saya pertama kali makan tahu telor dan langsung suka saat itu juga. Baru tahu bumbu kacang kalau dicampur petis bisa enak gitu ya. Lokasinya strategis di pinggir jalan jadi gampang dicari. Kalau sore jam pulang kerja sering penuh rombongan karyawan pulang gawe. Saya kesini biasanya milih agak malam biar lebih longgar.
Ukuran porsinya pas, cukup untuk bikin kenyang tapi tidak berlebihan. Kalau krupuknya kurang bisa minta nambah. Harga per porsi tahu telor 18 ribu. Di samping tahu telor tentu ada juga tahu campur. Kalau mau yang lain lagi mereka juga jual soto dan rujak cingur. Ini adalah warung tahu telor yang paling sering saya datangi dan sejauh ini selalu puas. Satu poin yang agak mengganggu adalah banyaknya pengamen yang mampir silih berganti, itu saja sisanya well.
2. Tahu Campur Kantor Pos Fatmawati Pak Subari (Cilandak)
Berikutnya adalah tahu campur Pak Subari di daerah Fatmawati/Cilandak. Kata adik saya yang pernah makan tahu telor di Surabaya ini cukup mirip secara rasa maupun komposisi, porsinya gede termasuk tauge-nya banyak, ada kentangnya juga. Harga seporsi tahu telur 20 ribu. Menu lain yang tersedia disini diantaranya tahu campur, nasi rawon, rujak cingur, dan gado-gado. Jam bukanya dari pagi sampai tengah malam.
Lokasinya di jalan Anuraga, agak sedikit masuk dari jalan utama tapi ketika sampai di lokasi tempatnya luas meskipun berupa tenda. Banyak yang makan disini rombongan keluarga, salah satu indikator tempat makan yang maknyus. Tahu Campur yang ini juga masuk kategori dari-halte-ke-halte karena lokasinya terjangkau jalan kaki dari stasiun MRT Fatmawati. Satu lagi kelebihannya adalah warung ini buka dari pagi sampai malam.
3. Tahu Telur Jalan Panjang (Kebayoran Lama)
Jalan Panjang adalah salah satu pusat jajanan sore-malam di daerah Kebayoran Lama. Satu diantara banyak makanan di sana adalah tahu telor ini. Secara rasa sangat memuaskan, sayang lokasinya kurang kondusif untuk makan di tempat karena tidak ada meja, hanya kursi saja. Parkir pun tidak bisa lama-lama karena warungnya berada di pinggir jalan banget berderet dengan warung lainnya.
Secara harga tahu telor disini paling murah dibandingkan yang lain, 15 ribu rupiah saja. Karena konsepnya 'gerobak' jadi dia buka hanya sore sampai malam hari dan hanya menjual tahu telor saja. Beli disini paling cocok dibungkus, bumbu kacang dipisah, lalu dinikmati di rumah. Maknyus.
4. Tahu Tek Meruya (Kembangan)
Warung yang menjual tahu campur dan tahu telor ini berlokasi di daerah Jakarta Barat. Lokasinya mudah dicari karena langsung di pinggir jalan raya. Secara tempat yang satu ini paling proper karena berupa warung permanen dengan beberapa meja. Pilihan menunya komplit berbagai pilihan sajian khas Jawa Timuran.
Secara rasa tahu telornya punya bumbu yang lebih pekat dari yang lainnya sehingga lebih nendang. Mungkin proporsi petisnya lebih banyak dari yang lain. Walaupun saya pribadi lebih suka rasa yang lebih moderat untuk sebuah tahu telor, tapi ini masalah selera.
Sekian review tahu telor bagian pertama. Sebagai penikmat tahu telor saya akan coba eksplor lagi tempat-tempat lainnya. Thank you!
Chandra
Sushi Masa: Kisah dari Utara Jakarta
Di tengah komplek perniagaan ikan di Jakarta Utara ada sebuah bangunan yang mencolok karena deretan mobil-mobil yang terparkir di depannya. Tak kurang BMW, Mercedes, Lexus, dan MPV high end berderet di depan dan samping gedung tersebut. Saya coba cari di google tempat apa itu karena tidak ada tulisannya, ternyata itu adalah sebuah kedai sushi.
Saya sebut Sushi Masa ini hidden gem bukan karena saya baru tahu tapi memang lokasinya tersembunyi di tengah pasar ikan Muara Baru, Jakarta Utara. Untuk mencapainya saja harus melewati jalan akses Pluit yang saingannya truk-truk kontainer besar khas kawasan utara Jakarta. Begitu masuk kawasan pasar ikannya aroma amis ikan tercium tajam.
Sushi Masa berada di sebuah bangunan tingkat 6 di samping ATM center kawasan pasar ikan Muara Baru. Selain tidak ada banner nama, tempatnya pun tidak tampak dari luar, saya harus bertanya ke satpam memastikan bahwa restonya benar disana.
Bisa ditebak tempat seperti ini menjual eksklusivitas, tidak mengharapkan banyak tamu, dan mematok harga tinggi untuk sajiannya. Saya dan istri beruntung bisa datang langsung dan dapat tempat duduk karena ternyata tamu yang datang kesana harus melakukan reservasi lebih dulu. Tamu walk-in hanya diterima jika masih ada meja yang belum terbooking.
Begitu keluar dari lift lantai 3 kami langsung disambut oleh resepsionis dan ditanya apakah sudah reservasi. Selanjutnya kami diarahkan ke tempat duduk yang masih tersedia. Kebetulan ada kursi kosong untuk dua orang di bagian bar sehingga kami bisa melihat langsung proses pembuatan sushi oleh para chef dengan pakaian khas chef sushi dari Jepang dan tampak sudah sangat berpengalaman.
Meski kemasannya high-class, cara pesan makanannya ternyata cukup sederhana. Cukup memanggil waiter lalu pesanan kami ditulis di kertas. Kami juga diberi tahu bahwa waktu menikmati sushi dibatasi sampai jam 7 malam saja. Ternyata selain memakai reservasi, restoran ini juga menggunakan sistem shift. Shift 1 pukul 11.00-14.00, shift 2 pukul 17.00-19.00, shift 3 pukul 19.00-21.00, di luar itu tutup.
Secara harga Sushi Masa memang agak mahal. Tapi ada harga ada rupa, rasa sushinya memang sangat enak, bahan-bahan laut yang digunakan tampak sangat segar. Untuk makan sushi casually saya mungkin prefer sushi Aeon untuk saat ini, tapi Sushi Masa ini bolehlah sekali-sekali untuk selebrasi. Untuk dinner di tempat ini, per tamu perlu merogoh kocek 75 sampai 250 ribu.
Kalau ingin sajian yang lain, di lantai 5 (1 lantai diatas, tidak ada lantai 4 fyi) gedung yang sama ada Shabu Masa dengan berbagai tawaran self grill. Sementara itu ada patisserie di lantai 2 dan toko seafood beku di lantai 1-nya. Kalau ingin berfoto dengan background sunset dan kapal-kapal bisa naik ke rooftopnya.
Apakah saya merekomendasikan restoran ini? Ya, cocok untuk selebrasi dengan keluarga atau teman-teman. Kalau Anda tidak berkeberatan spending ratusan ribu per orang boleh saja datang kesini berkali-kali dalam seminggu. Paling enak kesini pakai kendaraan pribadi mobil atau motor (masih ada parkiran motor walaupun kecil). Tapi kalau mau pakai angkutan umum bisa pakai taksi online dari rumah atau naik KRL, TJ, MRT (kalau sudah jadi) sampai kawasan Kota Tua/Jakarta Kota lalu nyambung taksi.
Jika dirasa terlalu niat kalau sampai pucuk utara Jakarta hanya untuk makan sushi, bisa sekalian eksplor spot-spot menarik di sekitarnya. Opsi tempat wisata utama selain komplek Kota Tua adalah Ancol dan PIK. Kalau mau yang lebih adventure bisa masuk-masuk ke kawasan pelabuhan tradisional Muara Angke, Muara Karang, Muara Baru, dan Sunda Kelapa.
Chandra




.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)















