Showing posts with label review makanan. Show all posts
Showing posts with label review makanan. Show all posts

Our Favorite Korean

August 30, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ada dua restoran Indonesia yang cukup besar di Arnhem. Sayangnya dua-duanya adalah tipe yang menyasar pelanggan bule sehingga menjual sate babi, setingannya fine dining jadi relatif mahal, dan kalau dilihat dari foto tampilannya too nice untuk makanan Asia. Oleh karenanya kami belum pernah ke sana, tongkrongan favorit kami untuk makan di luar justru sebuah warung Korean food, Mama Bowls.



Mama Bowls adalah sebuah restoran Korea di jantung kota Arnhem. Lokasinya di centrum dan dapat dengan mudah dijangkau lima menit berjalan kaki dari stasiun Arnhem Centraal. Restorannya tidak terlalu besar tapi sangat bisa untuk makan di tempat. Meskipun Korean, warung ini didirikan dan dimanage bersama oleh dua orang mbak-mbak, salah satunya orang Indonesia. Jadi alasan lain kami-kami sering makan di sini ya karena ini warung kepunyaan teman. Selain support bisnis kenalan, kadang juga dikasih bonus dan bisa sambil ngobrol kalau makan di sana.

Mereka menjual berbagai macam makanan Korea dan Asia mulai dari Kimbab, Bibimbab, Tteokbokki, Korean Fried Chicken, Japchae, Chibap, Japanese Curry, Gyoza, Corndog, Fried Rice, dan lain sebagainya. Saya belum pernah ke Korea jadi tidak tahu seberapa otentik rasanya, tapi saya bisa bilang rasanya enak. Favorit saya fried chicked dan topokki-nya, japchae-nya juga oke. Selain dine-in, beberapa kali kami juga order delivery ayam gorengnya karena cocok buat lauk di rumah. Delivery bisa dilayani via Uber Eats dan Thuisbezorgd.


Mama Bowls juga punya cabang di Wageningen, saya pernah satu kali makan di sana. Selain itu, mereka juga sering mengadakan event pop-up berkolaborasi dengan brand-brand makanan Indonesia atau Asia lainnya. Informasi tentang itu bisa dilihat di instagram mereka @mamabowls_nl. Di sana juga ada kontaknya yang bisa dihubungi untuk tanya-tanya atau reservasi. Walaupun bisa walk-in, kalau mau datang ramean atau di jam-jam peak lebih baik reservasi dulu agar dapat meja. 

Restoran ini well-run, karyawannya banyak, tempatnya nyaman, menunya lengkap, jam bukanya panjang,  mejanya sering ramai, dan pengalaman makannya menyenangkan. Lebih penting lagi rasanya masih sangat Asia, halal, dan vegan friendly. Apalagi saat musim dingin nanti, tempat dan makanannya sangat cocok untuk menghangatkan badan. Buat saya no-brainer untuk mampir ke sini ketika ingin yang pasti-pasti aja. Proudly recommend this!

Chandra




Yatai Jepang

August 16, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya lagi hobi nonton video YouTube soal Yatai. Yatai adalah salah satu model kuliner tradisional Jepang yang konsepnya seperti angkringan kalau di Indonesia. Dijual menggunakan gerobak, sajiannya bermacam-macam, dan pelanggannya duduk melingkar. Tapi walau ini soal makanan, bagian terbaik dari video-video Yatai bukanlah makanan atau proses memasaknya.


Dalam video-video yang saya lihat, menu yang dijual di Yatai antara lain ramen, gyoza, omelet, oden, nasi goreng, dan bakaran dengan versi dan variasi masing-masing. Beberapa Yatai punya specialty menu yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya Yatai biasanya B2-heavy jadi untuk sobat muslim ini bukan jenis kuliner yang aman dicoba. Ini alasan lain bagian terbaik video Yatai bukanlah makanannya.

Proses memasak dalam Yatai juga bukan daya tarik utama buat saya. Sebagai bagian dari budaya kuliner Jepang, koki Yatai memasak dengan delicate, clean, minimalis, dan rapi. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka menata kondimen ramen, memasak pakai sumpit, membuat omelet into perfection, dan mengiris daging dengan simetris. Hal-hal ini bagus untuk konsep fine dining, tapi ketika bicara street food menurut saya cara masak Chinese yang berapi-api, penuh asap, mie sampai kelempar-lempar keluar wok, dan saos kemana-mana tampak lebih appetizing.

Maka bagian terbaik dari video Yatai menurut saya justru proses penjualnya menggelar gerobak dagangannya. Video dari channel Food Tourism Japan misalnya mengcapture dengan baik proses ini. Kalau dilihat dari komentar-komentar yang muncul sepertinya banyak orang juga berfokus pada bagian ini. Part di mana vendornya mensetup dagangan menunjukkan betapa hard working dan tekunnya mereka.


Yatai pada umumnya buka di malam hari di pinggir jalan dan trotoar. Karena tempat berjualan mereka adalah tempat umum sepertinya mereka tidak diijinkan untuk meninggalkan apapun di titiknya berjualan, semua harus disimpan di tempat lain, dipasang ketika mau buka, lalu dibereskan lagi sampai bersih ketika selesai. Proses ini tidak ringan mengingat banyaknya dan beratnya peralatan yang dibutuhkan.

Gerobak kayu tradisional Yatai sendiri sudah berat, belum di dalamnya ada piring gelas, alat masak besar, papan-papan, kursi, water heater, kompor, sampai sink. Kompornya saja bisa 4 sampai 6 tungku. Sobloknya minimal 2 besar-besar satu untuk rebusan air dan satu untuk kuah ramen. Kemudian selain segala perkakas itu, pedagangnya masih mengambil setumpuk bahan makanan, tabung gas, dan beberapa cooling box berisi minuman pakai pickup.

Semua proses dari menarik gerobak ke lokasi berjualan, mengeluarkan barang-barang dan menatanya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci piring kotor, beberes setelah tutup, menata gerobak kembali, kemudian mendorong gerobak baik ke parkiran dilakukan setiap hari. Melihat prosesnya dalam satu hari berjualan saja sudah membuat capek, sementara penjual Yatai melakukan semua itu lagi keesokan harinya. Itu belum termasuk proses-proses yang tidak kelihatan: belanja barang, menata bahan, dan memasak di rumah. Mad respect!



Beberapa Yatai dijalankan oleh beberapa orang, sebagian gerobak juga sudah dimodernkan dengan bahan aluminium dan bisa dibawa pakai pickup. Model Yatai yang begitu mungkin sedikit lebih ringan dijalankan, tapi tetap saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan sepele. Apalagi jika take into account cuaca yang bisa sangat panas atau sangat dingin dan kondisi badan yang belum tentu selalu sehat.

Menonton video Yatai membuka mata saya bahwa membuka usaha kuliner tidak sesederhana itu. Saya yakin ini tidak sesempit Yatai dan Jepang. Andai ada dokumentasi memadai yang memperlihatkan bagaimana pedagang bubur atau angkringan di Indonesia menyiapkan dagangannya pasti juga akan membuat dunia tersentuh. Kita sebagai pembeli hanya menemui mereka dalam 'bentuk terbaiknya' yaitu ketika sudah buka. Tapi untuk sampai pada titik buka itu ada proses panjang yang harus dilewati. 


Chandra

Mag Ik Kapsalon?

November 08, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Ini adalah kapsalon. Cara membuatnya pertama-tama kentang goreng dimasukkan ke dalam wadah aluminium foil. Trust me benturan antara kentang goreng renyah dan wadahnya menghasilkan suara yang sangat merdu. Di atasnya lalu ditaruh daging doner, bisa daging sapi ataupun ayam. Berikutnya ditaruh keju menutupi seluruh permukaan wadah lalu dipanaskan sebentar dalam oven hingga kejunya lumer. Sebagai penutup di atasnya ditambah salad dan saus sesuai selera, ada pilihan knoflook (garlic) sauce, sambal, dan mayo. 

Ada juga model di mana ditaruh salad dulu baru keju sehingga lapisan paling atasnya adalah keju yang meleleh, beuh tampilannya. Kunci dari kapsalon yang enak menurut saya adalah kentang goreng yang renyah, daging yang lezat, dan keju yang banyak. Sejauh ini ada 2 tempat yang menurut saya kapsalonnya paling sip, Doner Nijmegen di Nijmegen dan Donerix di Arnhem. Mereka memenuhi semua ceklist kapsalon enak. Gambar di atas adalah kapsalon punya Donerix, sementara yang di bawah ini dari Doner Nijmegen. Kapsalon biasa dinikmati dengan softdrink, tapi biasanya saya lebih suka pakai air putih dingin.



Kapsalon adalah go-to food buat saya karena selain enak, lumayan mudah didapat, dia juga halal. Kapsalon banyak dijual di warung-warung doner milik orang Turki. Mereka juga menjual kebab dan panini (seperti kebab tapi kulitnya pakai roti), tapi kapsalon lebih mudah dimakan karena pakai wadah, bukan hanya digulung. Kapsalon juga pakai kentang goreng yang lebih bikin kenyang dan buat saya kombinasinya dengan komponen lain lebih masuk. 

Ada banyak warung doner di kota-kota besar dan buat saya warung-warung ini seperti warmindo. Seperti indomie, kapsalon ini juga adalah makanan malam, warungnya biasanya buka sampai dini hari. Saya kadang ke sana bukan hanya untuk makan tapi lebih ke blow off steam dan relaks setelah hari yang panjang. Apalagi di malam hari banyak spot parkir gratis sehingga bisa berlama-lama tanpa mikir bill parkir.

Banyaknya warung doner menunjukkan bahwa mereka diterima termasuk oleh masyarakat lokal. Saya sering melihat rombongan nom-noman kulit putih nongkrong di tempat ini. Mereka mungkin tidak cari halalnya, tapi secara rasa dan harga memang menarik. Harga makanan di tempat doner seperti ini lebih murah daripada di restoran apalagi yang fine dining. Karena anak muda adalah segmen pasarnya, mereka banyak buka di pusat keramaian malam. Donerix di Arnhem itu diapit kafe dan pub. Bayangkan di kawasan tempatnya orang nge-wine dan party, di tengah-tengahnya ada nyempil satu warung halal. Second-track dakwah.

Kapsalon ini juga strategis untuk dibawa pulang. Sampai rumah bisa dimakan berdua pakai nasi dan kalau sudah dingin bisa dipanaskan lagi. Hanya saja kalau dibungkus kentangnya pasti tidak lagi serenyah ketika di warung. Saya rasa kekurangannya hanya satu itu, so far kapsalon adalah jajanan non-nusantara favorit saya di sini. 

Eet smakelijk!

Chandra


Rekomendasi Restoran Indonesia di Belanda

January 11, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Katanya Belanda adalah negara yang paling banyak restauran Indonesia-nya di antara negara-negara lain di Eropa. Tentu ini wajar mengingat hubungan sejarah kedua negara dan banyaknya WNI atau warga keturunan Indonesia di Belanda. Berikut adalah lima rekomendasi restoran Indonesia berdasarkan petualangan kuliner kami.

            Warung Barokah (credit: dok. pribadi)

Tapi sebelum itu disclaimer dulu, secara garis besar ada dua jenis restoran Indonesia di Belanda kalau dilihat dari target pasarnya. Tipe pertama adalah yang menyasar orang kulit putih, restoran jenis ini sudah lebih westernized dari segi menu maupun suasana. Makanannya cenderung lebih fancy, harganya lebih tinggi, dan kebanyakan menjual olahan babi dan alkohol. Jenis kedua adalah yang menyasar warga Indonesia, menunya rumahan dan lebih tradisional seperti nasi rames dan cendol, harganya lebih murah, dan kebanyakan halal. Restoran yang kami kunjungi yang model kedua, maka itu juga yang akan kami rekomendasikan di sini.

1. Warung Barokah, Amsterdam

Ini adalah restoran Indonesia pertama yang kami kunjungi dan kami sudah ke sana beberapa kali. Walaupun kecil, tapi kami merasa tempatnya sangat homey dan paling berasa Indonesianya dibandingkan resto-resto yang lain. Bu Sri, sang pemilik restoran, dengan senang hati melayani dan ngobrol bahasa Indonesia dengan para pengunjung. Beliau berasal dari Jawa Timur sehingga di antara menu andalan Warung Barokah adalah rujak cingur dan tahu campur. 

  Ramesan Warung Barokah (credit: dok. pribadi)

Warung Barokah lumayan jadi top of mind ketika bicara tempat makan Indonesia di Belanda dan sudah berulang kali diliput media. Menunya beragam, saya paling suka rames dengan segala pilihan lauk dan sayurnya. Rasanya top tier dan porsinya bikin kenyang. Satu-satunya catatan adalah lokasi Warung Barokah ini agak minggir, sekitar 6 kilometer dari Stasiun Amsterdam Centraal dan perlu naik transportasi umum atau kendaraan untuk ke sana. Tapi tentu worth it untuk makanan, orang-orang, dan tempat senyaman itu. Oh ya, bakso beranaknya juga recommended.


2. Toko Ming Kee, Den Haag

Meskipun konsepnya Chinese take out, Ming Kee menjual beraneka macam masakan Indonesia yang bahkan belum tentu ada di tempat lain, seperti lele goreng. Kami sudah ke Ming Kee beberapa kali dan bisa dibilang jadi salah satu favorit kami. Harganya paling murah dibanding yang lain, satu porsi nasi ayam goreng hanya €7.5 dan banyak menu yang masih di bawah €10. Untuk desert, es cendolnya mantep apalagi kalau beli yang ukuran besar.

   Ayam goreng di Ming Kee (credit: dok. pribadi)

Ada 2 Ming Kee di Den Haag, satu Ming Kee 'halal' ini yang menjual masakan Indonesia, satu lagi yang pure Chinese. Bagusnya, mereka memisahkan semuanya secara ketat, meskipun berdekatan hanya beda gang, pengunjung tidak bisa pesan dari satu Ming Kee untuk dimakan di Ming Kee yang satunya, jadi alat masak dan makan pun terpisah. Secara lokasi, Ming Kee sangat mudah dijangkau dari Den Haag Centraal dan kawasan perbelanjaan Spui.


3. Pempek Elysha, Den Haag

Sesuai namanya, spesialis Elysha ada di pempeknya yang memang sangat enak. Bahkan kalau dibandingkankan dengan pempek di Indonesia pun rasanya tidak kalah. Restoran ini sangat cocok untuk penggemar pempek dan yang kangen jajanan ini. Beberapa restoran Indonesia lain punya menu pempek sebagai snack, tapi kalau mau yang paripurna ya sebaiknya coba langsung punya Elysha.

       Pempek kapal selam (credit: dok. pribadi)

Selain itu Pempek Elysha juga menyajikan berbagai masakan Indonesia lain seperti olahan ayam, bebek, ikan, ketoprak, tahu telur, es cendol, es durian, dan lain sebagainya. Lokasinya masih di Den Haag tapi bukan di centrum, satu kali naik tram dari stasiun centraal dan Anda akan sampai di tempatnya.


4. Masakan Padang Lapek, Den Haag

Ini adalah Restoran Padang paling terkenal di Belanda bahkan Eropa. Banyak orang Indonesia dari berbagai negara datang ke sini, wajar kalau warungnya selalu penuh sampai kadang perlu waiting list. Padahal restoran ini belum lama pindah tempat baru yang lebih besar dari sebelumnya (hanya depan-depanan dengan kios lamanya sih). Daftar menunya layaknya restoran Padang di Indonesia: rendang, ayam pop, tunjang, kerupuk kulit, daun singkong, dll. 

       Rendangnya Lapek Jo (credit: dok. pribadi)

Waktu kesini kami pesan rendang daging dan ayam pop, dua menu yang menurut kami representatif untuk menilai sebuah restoran masakan Padang. Enak, nggak jauh dari Padang Sederhana lah kalau di Indonesia. Mampu menghadirkan rasa Padang di tempat yang tidak terlalu kaya akan spices ini sungguh sesuatu yang patut diapresiasi. Jadi pay a visit kalau kalian datang ke Belanda.


5. Toko Bersama, Amsterdam

Satu restoran favorit lain di Amsterdam, Toko Bersama juga sangat layak jadi pilihan ketika ingin makan masakan Indonesia. Lokasinya tidak terlalu jauh dari centraal, hanya sekitar 3 kilometer. Menu ramesnya lengkap dan sangat bersaing secara rasa dan harga, rasa sayur bayamnya cocok banget untuk saya yang biasanya kurang doyan sayur. Mereka punya sambal homemade yang juga enak. Tapi memang selain rames tidak terlalu banyak pilihan menu lainnya.

    Rames di Toko Bersama (credit: dok. pribadi)

Pelayanannya sangat oke, saat itu kami datang waktu warung belum buka, tapi karena pemiliknya tahu di luar dingin kami dipersilakan menunggu di dalam, bahkan dibuatkan teh hangat gratis. Mereka punya sebuah rak besar berisi bahan-bahan masakan Indonesia dan Asia pada umumnya seperti kecap ABC dan saus Sriracha.

Itu tadi beberapa restoran favorit kami. Sebagai honorable mention ada beberapa tempat lain seperti Iboenda (Amsterdam), Pasundan (Nijmegen), dan Praboemoelih (Den Haag). Semoga bermanfaat, ambil baik-baiknya saja.

Thanks,
Chandra

Warung Barokah

July 21, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Ini adalah Warung Barokah di Amsterdam, dimana untuk pertama kalinya saya bersama istri makan di luar. Ada dua alasan kenapa kami biasanya lebih memilih untuk masak sendiri. Pertama adalah harga dimana perbedaan antara masak dan beli jauh sekali. Groceries seminggu berdua menghabiskan sekitar 70 euro, sementara jika makan di luar bisa habis 25-40 euro untuk sekali makan berdua. Maka makan di luar dua atau tiga kali setara dengan belanjaan seminggu. 

Alasan kedua adalah kehalalan. Karena di sini muslim adalah minoritas, halal tidaknya makanan jadi sebuah concern. Di sini tidak ada cap halal resmi dari pemerintah seperti halnya yang diberikan MUI di Indonesia, maka kami harus memastikan sendiri kehalalan makanan atau bahan tersebut. Memastikan di sini sebenarnya lebih ke menafsirkan dan memutuskan berdasarkan informasi yang bisa didapat, tidak benar-benar 'pasti' karena tingkat keyakinan belum tentu 100%. Dari pengalaman, ada tiga tier penilaian halal yang kami lakukan, mungkin akan berubah di masa depan tergantung situasi dan ilmu.

Satu: Label Halal
Meskipun tidak ada lembaga resmi yang tupoksinya memberikan cap halal, beberapa pemilik tempat makan dan produsen produk secara mandiri memberikan label halal pada produknya. Ini banyak terlihat di warung, restoran, dan toko dari Asia (Indonesia, Turki, India-Pakistan, dan Timur Tengah). Warung Barokah di atas adalah contohnya, mereka secara jelas menempelkan logo halal di daftar menunya. Beberapa produk impor dari negara-negara tersebut juga mencantumkan label halal dari negaranya masing-masing, seperti indomie dan snack-snack impor dari Lebanon yang pernah kami beli. 


Label halal tentu sangat membantu karena kami tidak perlu berpikir lagi tentang bahan dan pembuatannya. Kami tidak khawatir untuk membeli protein seperti ayam karena ada jaminan RPH-nya halal. Sisi positif lain dari toko halal adalah banyaknya barang dari Asia termasuk Indonesia: indomie, kecap ABC, bumbu-bumbu, rempah, dan sayur mayur. Fun fact, restoran dan produk halal juga banyak dinikmati oleh masyarakat lokal, walaupun bagi mereka mungkin bukan soal halal tapi soal rasa.

Dua: Komposisi
Jika tidak ada label halal, kami harus menggali lebih dalam dengan mengecek komposisi makanan tersebut. Untuk produk yang umum ditemui relatif lebih mudah karena seringnya di internet sudah ada yang mengulas, cukup browsing dengan kata kunci seperti 'is kitkat halal in netherlands?'. Kadang ada lembaga atau komunitas yang sudah melakukan kajian dan memberikan rekomendasi apakah produk tersebut boleh dikonsumsi. Beberapa dari mereka punya aplikasi yang bisa langsung mengeluarkan informasi berdasarkan scan barcode produk, misalnya aplikasi bernama Mustakshif.

Tapi jika tidak ditemukan datanya, kami harus mencermati ingredients-nya satu-satu. Kesulitannya adalah jika bahan-bahannya ditulis dalam bahasa Belanda, kami jadi harus buka-buka google translate. Jadi kami sering menghindari produk yang komposisinya rumit, prefer yang simpel seperti di bawah, bahannya hanya kentang, minyak, dan garam, tiga-tiganya aman. Fun fact, bahan pengawet dan penyedap di sini dituliskan dengan kode seperti E500, E319, dsb. Pretty handy karena itu memudahkan pencarian: 'is E500 halal?'


Tiga: Rekomendasi
Kemarin saya sempat datang ke sebuah acara yang di dalamnya ada agenda makan-makan prasmanan. Datang prasmanan di sini tidak seenteng di Indonesia karena di satu sisi ingin mencoba makannya tapi di sisi lain ada beban harus memastikan boleh tidaknya. Beruntung ada satu teman dari Indonesia yang sudah lebih lama di sini dan bisa menjelaskan mana-mana saja yang aman diambil. Tentu ada unsur pemantapan hati di situ, karena walaupun tampak dibuat dari bahan-bahan halal who knows barangkali alatnya kecampur atau ada tambahan alkohol sedikit. Dimulai dengan bismilah dan ditutup astaghfirullah jadinya. 

Label Vegan yang lumayan populer di sini juga bisa agak membantu. Orang barat sangat serius dengan vegan sehingga kalau sudah dilabeli V kita bisa yakin tidak ada bahan hewani sama sekali, yang mana menghilangkan kekhawatiran soal babi (daging, minyak, ketercampuran alat, dll) dan cara sembelih. 


Itu tadi tiga tier seleksi kami soal makanan. Kami masih berusaha terus mengkalibrasi sehingga bisa navigate cara terbaik memilih makanan di sini. 
 

Salam & Thanks,
Chandra

Sate Semoga Berkah

September 01, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Ada satu warung sate yang stands-out di Jakarta. Yaa oke lokasi sebenarnya di Ciputat, tepatnya ada di depan RS Hermina. Menurut saya ini sate paling enak yang pernah saya makan, pun dibandingkan dengan yang di Jogja dan Bandung. Namanya Sate Bang Acong, asli Madura.

Saya tahu tempat ini dari salah satu video YouTube-nya Habib Husein Ja'far. Infonya beliau langganan warung Bang Acong sejak jaman kuliah, lokasinya memang dekat dengan UIN Jakarta. Warungnya tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja kursi di dalamnya. Di dinding terpampang beberapa foto Kyai, sepertinya Bang Acong ini sangat menjunjung tinggi para ulama dan habib. Gerobaknya penuh dan bakarannya tidak pernah nganggur, ketahuan banyak pelanggannya.


Meskipun rame dan enak, harganya masih standar. Satu porsi sate ayam plus satu porsi sate kambing dihargai 60 ribu sudah termasuk lontongnya. Itu juga masih bonus kuah sop yang hangat. Saya baru saja beli dan tidak bisa tidak sangat ingin menulis ini sebagai penghargaan. Kalau google review bisa kasih bintang lebih dari 5 akan saya kasih lebih. Sate Bang Acong masuk tier teratas kuliner saya bersama Mieayam Om Karman dan fire chicken Richeese Factory.

Pastikan nonton ini:

Thanks,
Chandra

Danau Abah Suradita

August 26, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya mau mereview sebuah restoran taman yang weekend kemarin saya kunjungi. Sebenarnya tempat ini sudah cukup banyak direview di instagram, tapi karena tidak pandai membuat reels, saya akan buat dalam bentuk tulisan.

Ini dia Danau Abah Suradita, lokasinya di Cisauk, Kab Tangerang. Meski begitu, marketing online sering dengan gagah berani menyebutnya 'di BSD'. Yang menarik dari resto ini adalah selain tempat makan dia juga menyuguhkan ruang terbuka hijau dan danau, sehingga dianggap oase bagi masyarakat kota.

Awalnya saya menemukan tempat ini saat sedang mencari tempat makan yang cocok untuk keluarga. Pasalnya, bapak ibuk saya akan datang ke Jakarta dan mereka jauh lebih suka nuansa tradisional dan alam daripada mall dan restoran tengah kota. Review google untuk Danau Abah Suradita tidaklah cemerlang, hanya 3.8, tapi karena ada teman yang sudah kesana dan menurutnya masuk kriteria, saya memutuskan bolehlah dicoba. Langsung saja, berikut review-nya.

Scenery: 8
Danau Abah Suradita sebenarnya 50 persen leisure park dan 50 persen restoran. Jadi seberapa bagus pemandangannya juga jadi poin penting untuk dilihat. Terus terang tempatnya di atas ekspektasi saya. Saya tidak menyangka ada taman dan danau serapi ini di Cisauk. Kalau dibandingkan dengan destinasi wisata alam di Jogja atau Bali jelas kalah, tapi untuk di sekitar Jakarta ini pretty good. Kekurangannya adalah beberapa oknum pengunjung yang buang sampah di pinggir danau dan tidak dibersihkan, sangat merusak keindahan. Cisauk juga daerah dengan kualitas udara yang buruk saat ini, dan untuk sebuah destinasi outdoor ini mengganggu.

Makanan: 9
Surprisingly untuk standar 'makan di luar' sajian di Danau Abah enak. Menu andalannya ikan bakar dalam bambu yang berupa ikan patin dibungkus daun pisang bersama bumbu-bumbu lalu dimasukkan selongsong bambu dan dibakar. Di samping itu pilihan lauk lainnya banyak dengan berbagai sambal dan lalapan yang meriah. Cara pesannya dengan ambil lauk yang diinginkan kemudian akan digoreng atau dibakar oleh tim masaknya sesuai permintaan. Ada free sayur asem juga yang cukup segar. Kenyang dan no complaint.


Service: 8
Pelayanan adalah salah satu hal yang direview negatif oleh pengunjung sebelumnya. Banyak yang menulis bahwa pelayanannya lama. Saya menduga konsumen yang mengkritik ini datang di jam-jam ramai sehingga makanan lama disajikan. Tempatnya memang luas sehingga makan waktu untuk berjalan mengantar pesanan. Belum lagi sistem mencatat pesanannya dengan nama sehingga pelayannya harus manggil-manggil, dan di lokasi outdoor seluas itu cara ini bukanlah yang terbaik. Tapi untuk saya kemarin, karena datang di saat lengang, pelayanan OK dan nggak lama.

Akses & Parkir: 7.5
Untuk parkir tidak ada masalah, tempatnya luas dan gampang keluar masuk. Tapi akses jalan lain cerita. Walaupun bisa keluar tol BSD, tapi jalan dari pintu tol sampai komplek (danaunya ada di dalam komplek btw) semrawut dan macet karena sedang dibangun fly over stasiun Cisauk. Lalu setelah masuk komplek ada 2 pilihan jalan, yang satu via jalan utama komplek yang gronjal-gronjal, lalu ada jalan kedua yang meskipun lebih mulus tapi sempit.

Fasilitas: 8
Sore-sore lesehan di pinggir danau pakai beanbag sepertinya enak. Sayang beanbag-nya sudah kotor yang membuat mau duduk pun males. Jadi kami kemarin lebih pilih duduk di gazebo yang lebih terawat dan bersih. Untuk toilet dan mushola sangat layak, bahkan dari mushola bisa langsung lihat danau. Balik lagi karena tidak sedang ramai jadi fasilitas umum bisa lebih dinikmati.


Kesimpulannya, makan di Danau Abah Suradita menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Kalau mencari alternatif dolan non-mall di sekitar Jakarta ini bisa jadi salah satu pilihan terbaik. Tempatnya luas, cocok untuk keluarga atau kalau mau bikin acara.


Thanks,
Chandra

Warpas

June 28, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ini adalah Warpas alias Warung Pasta, restoran pasta yang salah satu cabangnya ada di Dago Bandung, tepat di samping parkiran SR ITB. Sebagian besar yang pernah kuliah di ITB pasti punya kenangan dengan tempat ini. Bisa berupa memori makan bareng sirkel atau gebetan. Tapi di sudut yang lain ada golongan mahasiswa yang mbatin bahwa tempat ini di luar jangkauan wkwkw. Saya salah satunya, sejak kuliah dan 2 tahun bekerja di Bandung belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tempat ini.

Dari sejumlah restoran yang ada di sekitar kampus, entah kenapa Warpas yang sering jadi benchmark. Kalau bilang pernah makan di-Warpas biasanya respon orang antara dua. Pertama mereka mafhum bahwa kamu orang yang mampu. Kedua ada pertanyaan lanjutan seperti ada acara apa? sama dosen? habis menang lomba? Warpas bukan tempat yang biasa untuk mahasiswa biasa.

Sekali-sekali makan disana mungkin bisa saja, tapi tetap merasa eman-eman. Berasa not belong to begitu. Warung tenda sedap malam di depannya pasti kalah dari segi kebersihan, tapi di sana hati lebih nyaman wkwk.

Kini setelah beberapa tahun lulus dan pindah dari Bandung, saya memutuskan ingin makan di sana. Libur panjang idul adha saya manfaatkan untuk ngadem ke Bandung dengan kelurga. Di antara beberapa tempat yang kami masukkan dalam rencana perjalanan, Warung Pasta adalah salah satunya. Alhamdulillah warpas buka pada hari cuti bersama hari raya.

Saya sama sekali tidak ada masalah dengan teman-teman yang bisa atau bahkan terbiasa makan di sana. Cuma penasaran saja dalamnya seperti apa jadi sekarang mencoba datang. Lagipula kalau bicara kesenjangan pernah ada kejadian yang lebih tidak enak. Yaitu pada suatu hari di semester 2, salah satu teman saya mendekat dan berbisik, "pantes ditolak chan ajakanmu kemaren, pacare pake mobil". hahahaha. This belum-pernah-makan-di-warpas is nothing.

Hari ini waktu saya datang, Warpas sepi sekali. Mungkin karena very-long-weekend dan hari raya jadi lebih banyak orang pulang kampung. Begitu masuk kami disambut welcome drink air mineral. Karena sepi, kami bebas pilih tempat duduk. Ada area smoking dan non smoking, meja kursi maupun sofa. Untuk kenyamanan tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Daftar menu bisa dilihat dengan cara scan QR code, berikut latest menu Warpas bulan ini: Menu Warpas

Portofolio pasta saya hanya sebatas spaghetti la fonte, jadi makan di Warpas sudah tentu saya bilang sangat enak. Porsinya juga lumayan banyak, pas untuk sekali makan. Overall pengalaman makan di Warpas Bandung solid 9/10. Apakah saya akan balik lagi? Iya, tapi mungkin akan coba yang di Jakarta. Yang penting unsur sentimentilnya sudah terbayar hari ini di Jalan Ganeca.


Chandra

Mie Oven, Tapi Tetap Direbus

January 25, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk menembus dominasi Indomie dan Mie Sedaap di pasar mie instan saat ini. Tapi mungkin Mayora berpikir kalau mereka bisa mengasapi Teh Botol Sosro dan Frestea-nya Coca Cola Company di pasar teh kemasan lewat Teh Pucuk Harum, bukan tidak mungkin mereka juga bisa berbicara di dunia mie instan. Lahirlah Mie Oven yang saat ini sedang gencar-gencarnya promo dimana-mana. Tapi ada satu hal pada Teh Pucuk yang masih jadi PR untuk Mie Oven kalau benar-benar ingin bersaing dengan market leader.



Mayora tampak ingin lepas dari bayang-bayang rivalnya dengan meluncurkan mie instan bertajuk 'mie oven', yang katanya di-oven tidak di goreng. Entah apakah ini penting karena pada akhirnya mie-nya tetap direbus. Mungkin untuk menaikkan kelasnya, Mie Oven dikemas layaknya spaghetti instan yang lurus-lurus. Bedanya mie-nya kecil-kecil, persis jajanan lidi pedas yang ada di SD-SD. Bumbu mie-nya pun dibuat berbeda, Mie Oven menyajikan bumbu dalam bentuk pasta walaupun untuk kecap dan bubuk cabe masih dibuat terpisah.

Mie-nya yang kecil-kecil membuat durasi perebusan 3 menit sudah lebih dari cukup. Teksturnya langsung empuk tidak seperti mie biasa yang bisa dipilih mau agak kenyal atau sangat lodrok. Karena ketipisannya ini sensasinya jadi seperti makan bihun. Tapi mungkin metode pembuatan mie yang berbeda ini ada baiknya karena kuah sisa rebusan mie lebih bening dibanding lawan-lawannya.



Untuk bumbu, saya pikir bentuk pasta ini lebih ke gimmick saja karena secara rasa dan bentuk mirip seperti kalau kita mencampur bumbu bubuk dan minyak bumbu mie konvensional lalu mengaduknya. Secara rasa tidak buruk lho, sangat bisa dimakan, cita rasanya menuju ke arah yang benar bukan asal bikin bumbu mentang-mentang brand baru. Kekurangannya simply bumbunya kurang banyak jadi agak kurang nglendhi. Kecap dan cabe bubuknya juga sedikit. Jadi ketika dicampur warnanya masih agak terang, ingin tampak classy maybe?

Sangat mudah menghabiskan mie ini karena memang rasanya masuk. Overall saya bisa kasih nilai 7.5/10. Andai saja bumbunya lebih banyak mungkin bisa sampai 9, tapi untuk saat ini belum. Inilah yang belum dimiliki Mie Oven dibandingkan Teh Pucuk: rasa. Teh Pucuk tidak sepat seperti Sosro dan Freshtea sehingga mudah diminum, serta tidak semanis dan bikin haus lagi seperti Fruittea. Semoga Mie Oven mengeluarkan varian yang makin beragam dengan rasa yang makin nendang.





Sate Ambal Dalam Kemasan

January 08, 2023 Posted by Chandra Nurohman 1 comment
Ambal adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kalau dari Jogja, perjalanan ke Ambal memakan waktu 1.5 jam melewati jalur Daendels pantai selatan. Untuk yang belum pernah lewat, jalur ini lurus (beneran lurus berpuluh kilometer) dan sepi. Dulu ini adalah pilihan jalur yang lumayan populer untuk pergi ke Bandung atau Jakarta dari daerah Jogja selatan, namun banyak penggunanya kini beralih ke tol trans jawa.

Tidak seperti dulu, sekarang jalur ini sudah lebar dan halus. Kanan kirinya masih banyak sawah dan kebun dengan angin yang bertiup kencang karena dekat dengan pantai. Jalannya saja sudah refreshing sendiri, apalagi berhenti di pinggir sawah atau mlipir ke pantai di sepanjang jalur ini. Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, Ambal ini bisa jadi alternatif destinasi yang bisa sekalian disinggahi kalau main ke Jogja/Bantul.

Saya menulis tentang Ambal sebagai apresiasi untuk salah satu kuliner favorit saya, sekaligus juara satu dalam urusan persatean, yaitu Sate Ambal. Pertama kali saya ke Ambal sekaligus pertama kali mencoba satenya adalah saat kelas 3 SD, sayang waktu itu kena mabuk perjalanan jadi gagal menikmati rasanya. Baru ketika dewasa beberapa kali mencoba lagi dan saya mantap menetapkan sate Ambal sebagai sate paling enak yang pernah saya makan.

Sate Ambal terbuat dari daging ayam. Spesialnya adalah bumbunya yang terbuat dari tempe yang dihaluskan dan memiliki cita rasa gurih-manis. Kalau dilihat sekilas bumbunya seperti bumbu kacang namun lebih encer dan berminyak. Rasa tempenya sendiri sudah tidak ada. Ada rasa khas dari minyaknya yang susah dijelaskan dengan kata-kata, intinya rasa ini yang menjadi penanda ini sate dari Ambal. 

Sayang meskipun di Ambal sana berderet warung Sate Ambal, populasinya minim di luar daerah asalnya. Bahkan di Jogja pun sulit, apalagi Jakarta yang jauh. Jadi susah untuk menjadikan Sate Ambal sebagai konsumsi harian. Namun seminggu yang lalu lewat cuitan di timeline Twitter tentang adanya Sate Ambal dalam kemasan yang bisa dikirim ke luar kota dan awet hingga 6 bulan di suhu ruangan. Tanpa pikir panjang saya langsung buka marketplace dan pesan.




Here it is, Sate Ambal khas Kebumen dalam kemasan yang diproduksi oleh CV Allisha Foods. Sepertinya ini industri rumahan ya, tapi kemasannya sungguh profesional dan meyakinkan. Satu kotak berisi 10 tusuk sate termasuk bumbunya dibanderol 35 ribu rupiah. Alasan sate bisa tahan hingga 6 bulan di suhu ruangan adalah karena kemasannya di-vacuum. Tapi siapa juga yang mau nunggu sampai selama itu untuk menikmatinya.

Untuk menyantapnya, sate bisa dipanaskan menggunakan microwave atau dengan cara dikukus selama 3-5 menit, tidak perlu dibakar lagi karena sudah dibakar dari sananya. Saat saya coba gunting aluminium foil-nya setelah dikukus, aroma khas Ambalnya langsung keluar. Dari situ saya tahu kalau ini legit Sate Ambal. Saya tuang bumbunya dan ambil nasi hangat. Beuh rasanya..







Percobaan pertama beli Sate Ambal dalam kemasan berakhir sukses. Sama sekali tidak kecewa, bahkan saya lebih suka ini daripada sate ayam yang biasa saya beli. Rasanya Ambal banget, mengingatkan pada Jalan Daendels dan sawah di kanan kirinya. Saya baru pesan 2 kotak Sate Ambal, dan sepertinya hari ini sudah akan habis dimakan bareng istri. For sure saya ingin beli lagi. 

Sedikit catatan, entah kenapa minyak yang membawa rasa khas Ambal mudah split dari bumbunya. Jadi cara makannya malah saya siramkan minyak ini ke nasi, supaya ketika disuap rasanya tetap komplit dan otentik. Overall sate ini saya kasih nilai 9/10, sangat memuaskan dan saya rekomendasikan. Kalau berminat silakan meluncur ke www.tokopedia.com/allishafoods/allisha-sate-ambal-dalam-kemasan


Thanks!

Tahu Telor di Jakarta Part 2

August 12, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dalam rangka menyelesaikan apa yang telah dimulai, saya mau melanjutkan cerita soal mencoba sajian tahu telor yang ada di Jakarta. Sebelumnya saya sudah menyambangi beberapa tempat makan tahu telor dan tahu campur, bisa dilihat di sini. Karena kemarin sudah ada 4, sekarang dimulai dari nomor 5.


5. Tahu Campur Cak Trisno (Bintaro)

Warung Tahu Campur Cak Trisno ini sangat gampang ditemukan, waktu pertama lewat langsung saya tandai. Lokasinya tepat di pinggir jalan Veteran di kawasan Bintaro. Menurut saya tempat ini cocok untuk makan bersama keluarga karena tempatnya luas, bersih, dan nyaman. Warung Cak Trisno buka dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, bisa lah untuk sarapan, makan siang, atau makan malam.

Saya suka sajian tahu telur di sini karena porsi tidak terlalu besar namun bumbu petisnya banyak. Secara rasa pun di atas rata-rata, review nggak bohong. Sebagai warung jawa timuran, tentu di sini juga tersedia tahu campur, soto, dan rawon dengan harga berkisar 20 ribuan. Kalau tidak bisa datang ke tempat pun bisa pesan via food delivery. Mantap pokoknya, sangat layak dicoba.


6. Tahu Campur Jalan Sabang (Sarinah)

Yes Sarinah is cool, tapi kalau jalan kesana belum afdol rasanya kalau belum makan di jalan sabang. Saya punya beberapa favorit disana: Sate Pak Heru (yang paling rame), pempek 99, dan tentu tahu telor. Saya agak lupa nama warung tahu telornya apa, tapi seingat saya hanya ada satu disana jadi mudah ditemukan. Kalau mau makan disini hanya bisa malam ya, karena kawasan ini siang hari jadi parkiran, waktu malam baru mulai rame orang kulineran. 

Terakhir saya kesana harga seporsi tahu telornya 18 ribu. Enaknya makan di jalan sabang, karena pilihannya banyak jadi serombongan bisa makan beda-beda sesuai selera. Kebetulan saya dan istri begitu, tahu telor bf, pempek kulit gf. Piring boleh dibawa ke tenda sebelah asal jangan lupa bayar dan dikembalikan.  


7. Tahu Tek Telor Kedoya (Kebon Jeruk)

Dua hari lalu saya ada keperluan di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Siangnya saya browsing tahu telor yang ada di sekitar tempat saya berada, ketemulah warung ini yang reviewnya lumayan mentereng. Niatnya makan siang, istirahat, bikin dokumentasi untuk postingan ini, sekalian berharap bisa standby buka laptop kalau perlu. Saat saya ikuti petunjuk maps ternyata saya diarahkan masuk ke suatu perumahan. Everything is fine sampai ketika tiba di tempatnya ternyata warung ini hanya melayani take away dan delivery, tidak bisa makan di tempat.

Sebagai orang yang hobi menikmati momen makan di warung, ini memberikan impresi kurang baik sih buat saya. Karena sudah lapar terpaksa saya mampir indomaret terdekat, beli minum sekalian duduk makan. Surprisingly rasanya sangat enak, iya, sangat. Saya bisa bilang ini tahu telor terenak yang pernah saya coba. Harga seporsinya 25 ribu. Silakan dicoba, tapi saran saya delivery saja.


8. Tahu Campur Citra Rasa (Bintaro)

Halaman parkir Bintaro Plaza ramai dengan tenda-tenda tenant makanan setiap sore hingga malam. Salah satu yang ada di sana adalah Tahu Campur Citra Rasa yang tentu juga menjual tahu tek telor. Ada juga rujak cingur barangkali mau, khas jawa timuran pokoknya. Citra Rasa ini cukup terkenal di kawasan Bintaro karena sudah berjualan tahun-tahunan. Bisa dipastikan langganan sudah banyak.

picture by: E.A.P @google

Silakan kalau jalan-jalan sore ke daerah Bintaro mampir ke sini. Kalau weekday ramai dengan orang-orang pulang kerja yang lapar dan butuh mampir setelah lepas dari macetnya Jakarta. Kalau weekend jadi destinasi makan malam keluarga rame-rame. 


Sekian review tahu telor, berikutnya makan apa ya?

Plencing, Makanan Wajib Coba

October 25, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sedikit mengulas perjalanan mudik saya minggu lalu, saya ingin menulis soal salah satu sajian yang sejauh ini belum saya temukan di luar Bantul. Bahkan di Bantul pun hanya terpusat di beberapa kecamatan di kawasan Bantul Selatan seperti Sanden dan Srandakan. Apakah makanan ini sudah bisa dikategorikan sebagai makanan khas Bantul? Mungkin bisa.

Nama makanannya adalah mie plencing, atau bisa disebut dengan plencing saja (not to be confused with plecing jawa ya). Plencing masih termasuk keluarga bakmi jawa. Kalau datang ke warung bakmi di daerah Sanden dan Srandakan Bantul, mereka punya menu plencing ini di samping menu jamak seperti bakmi goreng/godhog, nasi goreng, dan magelangan. 

Yang menjadikan plencing beda dari yang lain adalah jenis bakmi yang digunakan yang biasa disebut mie lethek. Mie lethek adalah produk bakmi asli Bantul berbahan tepung singkong yang diproduksi secara tradisional sejak tahun 1940an hingga sekarang. Kata lethek (bunyi 'e' seperti dalam 'lebah') dalam bahasa Jawa berarti kotor atau kusam, sesuai dengan warna mie-nya yang coklat kusam bukan kuning atau putih. Mie lethek berukuran kecil/tipis dan punya tekstur yang kenyal. Pamor mie lethek sempat naik dan banyak diberitakan ketika disantap oleh Obawa dalam kunjungannya ke Indonesia.

Dalam pengolahannya plencing punya kesamaan dengan mie rebus, yaitu bakmi berkuah. Namun perbedaannya kuah plencing lebih kental dan punya rasa pedas manis. Secara warna kuahnya juga tampak pekat karena menggunakan kecap. Jadi tinggal menyesuaikan dengan selera saja, mau yang gurih seperti mie rebus biasa atau pedas manis seperti plencing, dua-duanya enak.

Semua plencing yang pernah saya coba menggunakan daging ayam kampung dan telur bebek. Tidak ada yang pakai ayam potong dan telur ayam. Selain lebih sehat secara rasa juga lebih enak. Plencing biasanya disajikan tanpa kerupuk. Kalau kurang pedas di meja sering disediakan cabe rawit hijau untuk ditambah sendiri. Minumnya paling mantep teh tubruk panas gula batu disajikan dengan gelas kecil dan teko.

Hangatnya plencing membuatnya paling enak disantap malam hari. Biasanya warung bakmi jawa di Bantul buka hingga jam 1 atau 2 pagi. Catatan untuk yang mau berkunjung, warung bakmi jawa yang enak di Bantul biasanya terletak di dalam perkampungan bukan di pinggir jalan raya, jadi sebaiknya gunakan maps untuk menemukan lokasinya. Salah satu langganan saya bersama keluarga dan teman-teman untuk menikmati plencing adalah Bakmi Pak Ribut (link)

Plencing Pak Ribut, sumber tertera

Gimana? Tertarik mencobanya? Saya sih sangat merekomendasikan teman-teman untuk datang mencoba. Kalau pas liburan ke jogja dan tahu saya sedang mudik juga, feel free to contact me, saya ajak jalan-jalan dan menikmati plencing di tempat asalnya.

 

Salam,

Chandra

 

 

 

 


Tahu Telor di Jakarta

September 27, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Salah satu menu makanan yang baru saya kenal ketika di Jakarta dan yang membuat saya langsung jatuh cinta adalah tahu telor khas Surabaya. Sekarang tahu telor sudah masuk teritori makanan favorit buat saya. Sayang populasinya belum banyak, masih di bawah pecel lele Lamongan atau bebek Madura secara jumlah. Pada tulisan ini saya akan review beberapa warung tahu telor yang sudah saya coba. 

Disclaimer, saya belum pernah makan tahu telor di daerah aslinya. Jadi definisi enak tidaknya saya pakai ukuran lidah sendiri, dan enak disini bukan lantas punya rasa yang sama persis dengan di Surabaya. Check this out!

1. Warung Tahu Campur Cak Bejo (Tebet)

Di tempat ini lah tahun lalu saya pertama kali makan tahu telor dan langsung suka saat itu juga. Baru tahu bumbu kacang kalau dicampur petis bisa enak gitu ya. Lokasinya strategis di pinggir jalan jadi gampang dicari. Kalau sore jam pulang kerja sering penuh rombongan karyawan pulang gawe. Saya kesini biasanya milih agak malam biar lebih longgar.

Ukuran porsinya pas, cukup untuk bikin kenyang tapi tidak berlebihan. Kalau krupuknya kurang bisa minta nambah. Harga per porsi tahu telor 18 ribu. Di samping tahu telor tentu ada juga tahu campur. Kalau mau yang lain lagi mereka juga jual soto dan rujak cingur. Ini adalah warung tahu telor yang paling sering saya datangi dan sejauh ini selalu puas. Satu poin yang agak mengganggu adalah banyaknya pengamen yang mampir silih berganti, itu saja sisanya well.


2. Tahu Campur Kantor Pos Fatmawati Pak Subari (Cilandak)

Berikutnya adalah tahu campur Pak Subari di daerah Fatmawati/Cilandak. Kata adik saya yang pernah makan tahu telor di Surabaya ini cukup mirip secara rasa maupun komposisi, porsinya gede termasuk tauge-nya banyak, ada kentangnya juga. Harga seporsi tahu telur 20 ribu. Menu lain yang tersedia disini diantaranya tahu campur, nasi rawon, rujak cingur, dan gado-gado. Jam bukanya dari pagi sampai tengah malam.

Lokasinya di jalan Anuraga, agak sedikit masuk dari jalan utama tapi ketika sampai di lokasi tempatnya luas meskipun berupa tenda. Banyak yang makan disini rombongan keluarga, salah satu indikator tempat makan yang maknyus. Tahu Campur yang ini juga masuk kategori dari-halte-ke-halte karena lokasinya terjangkau jalan kaki dari stasiun MRT Fatmawati. Satu lagi kelebihannya adalah warung ini buka dari pagi sampai malam.


3. Tahu Telur Jalan Panjang (Kebayoran Lama)

Jalan Panjang adalah salah satu pusat jajanan sore-malam di daerah Kebayoran Lama. Satu diantara banyak makanan di sana adalah tahu telor ini. Secara rasa sangat memuaskan, sayang lokasinya kurang kondusif untuk makan di tempat karena tidak ada meja, hanya kursi saja. Parkir pun tidak bisa lama-lama karena warungnya berada di pinggir jalan banget berderet dengan warung lainnya. 

Secara harga tahu telor disini paling murah dibandingkan yang lain, 15 ribu rupiah saja. Karena konsepnya 'gerobak' jadi dia buka hanya sore sampai malam hari dan hanya menjual tahu telor saja. Beli disini paling cocok dibungkus, bumbu kacang dipisah, lalu dinikmati di rumah. Maknyus.


4. Tahu Tek Meruya (Kembangan)

Warung yang menjual tahu campur dan tahu telor ini berlokasi di daerah Jakarta Barat. Lokasinya mudah dicari karena langsung di pinggir jalan raya. Secara tempat yang satu ini paling proper karena berupa warung permanen dengan beberapa meja. Pilihan menunya komplit berbagai pilihan sajian khas Jawa Timuran. 


Secara rasa tahu telornya punya bumbu yang lebih pekat dari yang lainnya sehingga lebih nendang. Mungkin proporsi petisnya lebih banyak dari yang lain. Walaupun saya pribadi lebih suka rasa yang lebih moderat untuk sebuah tahu telor, tapi ini masalah selera. 

Sekian review tahu telor bagian pertama. Sebagai penikmat tahu telor saya akan coba eksplor lagi tempat-tempat lainnya. Thank you!

 

Chandra


Sushi Masa: Kisah dari Utara Jakarta

April 11, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Di tengah komplek perniagaan ikan di Jakarta Utara ada sebuah bangunan yang mencolok karena deretan mobil-mobil yang terparkir di depannya. Tak kurang BMW, Mercedes, Lexus, dan MPV high end berderet di depan dan samping gedung tersebut. Saya coba cari di google tempat apa itu karena tidak ada tulisannya, ternyata itu adalah sebuah kedai sushi.

Saya sebut Sushi Masa ini hidden gem bukan karena saya baru tahu tapi memang lokasinya tersembunyi di tengah pasar ikan Muara Baru, Jakarta Utara. Untuk mencapainya saja harus melewati jalan akses Pluit yang saingannya truk-truk kontainer besar khas kawasan utara Jakarta. Begitu masuk kawasan pasar ikannya aroma amis ikan tercium tajam. 

Sushi Masa berada di sebuah bangunan tingkat 6 di samping ATM center kawasan pasar ikan Muara Baru. Selain tidak ada banner nama, tempatnya pun tidak tampak dari luar, saya harus bertanya ke satpam memastikan bahwa restonya benar disana.

Bisa ditebak tempat seperti ini menjual eksklusivitas, tidak mengharapkan banyak tamu, dan mematok harga tinggi untuk sajiannya. Saya dan istri beruntung bisa datang langsung dan dapat tempat duduk karena ternyata tamu yang datang kesana harus melakukan reservasi lebih dulu. Tamu walk-in hanya diterima jika masih ada meja yang belum terbooking.

Begitu keluar dari lift lantai 3 kami langsung disambut oleh resepsionis dan ditanya apakah sudah reservasi. Selanjutnya kami diarahkan ke tempat duduk yang masih tersedia. Kebetulan ada kursi kosong untuk dua orang di bagian bar sehingga kami bisa melihat langsung proses pembuatan sushi oleh para chef dengan pakaian khas chef sushi dari Jepang dan tampak sudah sangat berpengalaman.




Meski kemasannya high-class, cara pesan makanannya ternyata cukup sederhana. Cukup memanggil waiter lalu pesanan kami ditulis di kertas. Kami juga diberi tahu bahwa waktu menikmati sushi dibatasi sampai jam 7 malam saja. Ternyata selain memakai reservasi, restoran ini juga menggunakan sistem shift. Shift 1 pukul 11.00-14.00, shift 2 pukul 17.00-19.00, shift 3 pukul 19.00-21.00, di luar itu tutup.

Secara harga Sushi Masa memang agak mahal. Tapi ada harga ada rupa, rasa sushinya memang sangat enak, bahan-bahan laut yang digunakan tampak sangat segar. Untuk makan sushi casually saya mungkin prefer sushi Aeon untuk saat ini, tapi Sushi Masa ini bolehlah sekali-sekali untuk selebrasi. Untuk dinner di tempat ini, per tamu perlu merogoh kocek 75 sampai 250 ribu.


Kalau ingin sajian yang lain, di lantai 5 (1 lantai diatas, tidak ada lantai 4 fyi) gedung yang sama ada Shabu Masa dengan berbagai tawaran self grill. Sementara itu ada patisserie di lantai 2 dan toko seafood beku di lantai 1-nya. Kalau ingin berfoto dengan background sunset dan kapal-kapal bisa naik ke rooftopnya. 

Apakah saya merekomendasikan restoran ini? Ya, cocok untuk selebrasi dengan keluarga atau teman-teman. Kalau Anda tidak berkeberatan spending ratusan ribu per orang boleh saja datang kesini berkali-kali dalam seminggu. Paling enak kesini pakai kendaraan pribadi mobil atau motor (masih ada parkiran motor walaupun kecil). Tapi kalau mau pakai angkutan umum bisa pakai taksi online dari rumah atau naik KRL, TJ, MRT (kalau sudah jadi) sampai kawasan Kota Tua/Jakarta Kota lalu nyambung taksi.

Jika dirasa terlalu niat kalau sampai pucuk utara Jakarta hanya untuk makan sushi, bisa sekalian eksplor spot-spot menarik di sekitarnya. Opsi tempat wisata utama selain komplek Kota Tua adalah Ancol dan PIK. Kalau mau yang lebih adventure bisa masuk-masuk ke kawasan pelabuhan tradisional Muara Angke, Muara Karang, Muara Baru, dan Sunda Kelapa.


Chandra