Sebagai bocah laki-laki yang tumbuh di desa, sudah tentu masa kecil saya banyak diisi permainan di luar ruangan: sepak bola, petak umpet, kelereng, badminton, layangan, sepeda, dan lain sebagainya. Aktivitas saya jaman itu dibuktikan dengan bekas-bekas luka yang beberapa masih ada sampai sekarang. Sayangnya
playstation dan tuntutan pelajaran yang makin serius di kelas atas membuat waktu bermain saya kian berkurang.
Akhirnya saat SMP-SMA physical prowess bukanlah treat terkuat saya. Saya sempat ikut ekstrakurikuler bola saat SMP dan badminton di SMA tapi itu formalitas saja untuk memenuhi kewajiban. Saya tidak pernah masuk tim sekolah atau ikut lomba apapun. Perlombaan paling physical yang pernah saya ikuti cuma tonti, itu juga ikut awalnya terpaksa karena dari 60an siswa laki-laki harus dipilih 31, chance kepilihnya 50 persen. Baru paham esensi aktivitas ini di akhir-akhir dan alhamdulillah sempat dapat juara 3 seprovinsi. Selain itu lomba yang saya ikuti ya lomba matematika, cerdas cermat, sampai tryout-tryout SBMPTN saat kelas tiga.
Saat kuliah saya sempat secara nggak sengaja jadi kiper tim futsal himpunan. Saya seneng futsal tapi tidak cukup fit untuk jadi outfield player secara kompetitif. Jadilah saya mengajukan diri jadi kiper, malah diajak terus, diminta bikin jersey, dan didaftarkan resmi. Endingnya lumayan jadi juara 2 Kampung Bola ITB. Mainnya di Lembang dan berangkatnya konvoi naik motor, what a time. Tapi di luar itu, dengan segitu banyaknya pilihan unit kegiatan mahasiswa alam bawah sadar saya memilih robotika dan catur, dua aktivitas yang tidak mengandalkan otot-otot gerak.
Saya tidak sama sekali menyesali genre lomba-lomba yang saya ikuti sejak SD sampai kuliah. Di sana penuh momen-momen seru, banyak orang-orang baik yang saya temui dan masih berhubungan sampai sekarang, serta sudah membuka pintu-pintu yang dulu saya tidak tahu adanya. Dari sana saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke Jakarta, terbang ke Hong Kong, nginep di hotel berminggu-minggu untuk pelatihan olim, tampil di TVRI, masuk ke fakultas-fakultas di UGM dari Teknik, Kedokteran, MIPA, sampai Pertanian, dan ikut lomba robot dari Bandung, Jogja, sampai Surabaya.
Tapi seintens-intensnya lomba akademik, masih lebih intens kompetisi-kompetisi aliran Porseni. Kalau dalam kondisi menang dan jadi unggulan sih nggak masalah. Tapi tekanan ketika ketinggalan atau membuat kesalahan jauuuh berbeda. Apalagi ajang-ajang olahraga dan seni biasanya disaksikan banyak orang, sementara lomba matematika di ruangan tertutup. Mungkin hanya lomba robot yang ada di dua alam, persiapannya berbulan-bulan di belakang layar tapi tampilnya ditonton orang. Dalam berkompetisi saya bisa menerima kekalahan bahkan menertawakannya (thanks to jadi fans bola bertahun-tahun), tapi saya masih sangat tidak nyaman dilihat orang dalam kondisi vulnerable.
Saya yakin kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi tertekan adalah skill yang akan berguna dalam hidup. Saya ingin men-develop itu dan sepertinya cara termudah adalah lewat olahraga. Olahraga juga membantu dalam berinteraksi dengan komunitas lokal dan menjaga kebugaran mengingat usia sudah masuk kepala tiga.
Sejauh ini saya sudah ikut tiga event lari, di Varsseveld, Utrecht, dan Wageningen. Tentu saya tidak berambisi cepet-cepetan karena pasti kalah dengan orang-orang sini yang tumbuh dengan rutin berolahraga. Saya dapat personal best 5K di Varsseveld, tapi itupun saat saya baru selesai satu putaran (2,5 km) ada pelari yang sudah finish 2 putaran. Meski begitu ini tidak begitu humiliating karena dalam lari pasti ada yang pace-nya mirip-mirip sekalipun itu bapak-bapak 50+.
Berikutnya saya coba mendaftar turnamen padel, olahraga yang kalau kalah kelihatan banget. Saya sering baca cerita orang di Reddit soal turnamen padel, tapi ini pertama kalinya saya mau daftar jadi saya cari tahu apa yang diperlukan.
Ternyata bukan hanya fasilitas olahraga yang proper di Belanda, sistemnya juga. Siapapun yang berminat bisa mendaftar menjadi anggota KNLTB, federasi resmi tenis seluruh Belanda yang menaungi olahraga tenis, padel, dan pickleball. Setelah punya nomor anggota, kita bisa ikut berbagai kegiatan, kompetisi, dan turnamen yang diselenggarakan oleh klub atau komunitas.
Nantinya catatan menang kalah, gelar, dan rangking akan terdokumentasi dengan lengkap dan up-to-date. Secara teori jika seseorang sering menang turnamen amatir, rangkingnya akan naik dan mungkin akan qualified untuk ikut dalam event profesional. Turnamen tersedia dari usia sangat belia sampai dewasa. Cara mereka menemukan talenta sungguh rapi dan efisien.
Kemudian di samping rangking resmi yang dikelola oleh KNLTB, ada sistem 'swasta' lewat aplikasi Playtomic. Playtomic adalah aplikasi match making untuk padel, tenis, dan pickleball yang sekaligus berfungsi jadi platform booking lapangan dan payment service. ELO rating di Playtomic akan naik jika menang dan turun jika kalah.
Pekan turnamen akhirnya tiba, saya tidak berharap hasil apa-apa dari sini karena ini turnamen pertama dan saya belum pernah main di tempat ini sama sekali. Targetnya hanya jangan sampai kebantai karena akan tercatat di permanent record. Kami main dua kali, Minggu 30 Agustus siang dan Jumat 4 September sore. Hasilnya kalah dua-duanya haha. Tapi selain set pertama di mana kami masih adaptasi pertandingan berjalan lumayan berimbang.
Play-wise could be better, saya akan cari match di Playtomic lagi buat nambah jam terbang dan konsistensi. Tapi turnamen ini berhasil menghadirkan excitement yang saya cari. Apalagi lawannya para Dutchies, membuat rasanya bukan hanya olahraga tapi juga bela negara.
Chandra