Spiciest International Break Ever

September 27, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
International break kali ini datang di waktu yang kurang tepat, tim fantasy football saya sedang on fire dan mendominasi beberapa mini league. Tiga minggu dan dua weekend tanpa club football dan FPL rasanya lama sekali. Tapi tiba-tiba update soal 115 charges-nya City diumumkan dan ini jadi salah satu momen paling epic di jagat football twitter tahun ini.



Manchester City diputus bersalah atas 114 dari 115 tuntutan terkait financial regulation Premier League. Tuntutan ini berdasarkan penyelidikan dari laporan keuangan dekade lalu, tapi tidak sulit untuk penonton EPL menduga bahwa pelanggaran masih dilakukan sampai sekarang. How the heck mereka bisa beli Haaland cuma seharga €60? Owner dan sponsor sama-sama berbasis di Abu Dhabi? Can't be squeaky clean.

Putusan bersalah ini rame karena efek dominonya besar dan mungkin bisa mengubah jalan hidup City selama bertahun-tahun. Denda dan dicabut gelar mungkin least of their concern, paling hanya mereka tidak lagi bisa flexing Aguerooo moment. Hukuman yang akan lebih berat misalnya pengurangan poin besar-besaran (75+) yang kemungkinan bisa mendegradasi mereka. Dengan begitu mereka akan turun kasta musim ini, main di Championship musim depan, tidak ada kompetisi Eropa, dan revenue turun. Lalu kalau sudah begitu berapa banyak pemain yang mau stick around?

Transfer ban selama 5 tahun misalnya juga pasti ngefek. Ketika skuad menua dan hanya bisa regenerasi via akademi, apakah bisa tetap kompetitif? Ujungnya performa turun dan pemain bintang memilih pergi. Kondisi akan semakin spiraling down karena pemain yang pergi tidak bisa diganti dengan yang kualitasnya sana.


Jadi asal hakimnya nggak masuk angin ini win-win untuk para rival dan fansnya yang sudah bertahun-tahun memendam kesal pada tim ini. Alegasi cheating yang sebelumnya hanya dugaan kini sudah terkonfirmasi, selamanya gelar-gelar mereka akan punya asterisk di sampingnya. Sekarang tinggal menunggu hukumannya apa, semakin lama diputuskan semakin lama internal City limbung dan mungkin akan jadi toksik. Ketika akhirnya hukuman itu diumumkan pasti akan jadi ledakan besar berikutnya di kalangan fans bola.

Saya menulis draft ini sambil nonton pertandingan UEFA Nations League antara Inggris dan Spanyol. Inggris kalah 2-3 di kandang dengan Kane gagal penalti. Tapi Guehi dan O'Reilly juga tampak semrawut di pertandingan ini, gol pertama dan kedua Spanyol adalah buah kesalahan dua pemain ini. Mungkin berita soal putusan itu memengaruhi psikis mereka. Kalau hukumannya benar-benar sampai dilucuti gelar juara dan turun kasta maka para pemain mungkin harus segera mencari jalan lain. Saat ini hukuman belum ditentukan dan masih menunggu proses banding. 


Isu ini juga menghadirkan banyak spin-off. Fabrizio Romano dituduh sebagai PR bayarannya Citiy karena dia tidak sedikitpun memberitakan ini padalah Ornstein sudah rilis dua hari yang lalu. Rodri tentu membela City, tapi ini justru membuat fans rival marah dan menuntut gelar Ballon d'Or-nya dicabut. Laporan keuangan yang dimanipulasi berarti pajak tidak dilaporkan dengan benar dan berpotensi memunculkan pelanggaran tax evasion. Internal fans City juga kabarnya kecewa karena selama ini manajemen selalu bilang bahwa mereka baik-baik saja dan tidak akan kena hukuman.

Beberapa tim termasuk Liverpool bisa kelimpahan gelar andai diputuskan gelar City dicabut. Selain itu ada potensi pemain bintang City bisa direkrut dengan harga miring. Melihat kondisi Spurs yang beberapa tahun ini sibuk berjibaku di papan bawah, bisa jadi big six akan balik lagi jadi big four, sebuah fantasi fans-fans bola lama.


Chandra

Smarai: Band Baru Orang Lama

September 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Setelah berkolaborasi dengan Mukti & Yusril, Kukuh Kudamai, Tova Veno, dan Podcast Mojok, akhirnya Smarai lewat di timeline saya. Semoga metode marketingnya yang super kreatif bisa mengjangkau lebih banyak orang. Harapannya makin banyak yang terpapar dan bisa menilai apakah musik 2000-an masih berterima di 2026 ini.



Benar kata Patub bahwa ini adalah band baru dengan orang-orang lama. Drummernya Bagoes Kresnawan aka bagustikus, seorang filmmaker, produser, dan lama ada di timnya Soekamti. Gitarisnya produser musik yang sudah established dan punya studio rekaman di Sleman. Basisnya selain musisi juga seorang publisis dan jurnalis. Kibordisnya adalah personil paling muda tapi juga sudah banyak mengisi bagian kibor untuk musisi nasional. Terakhir vokalisnya, Dhedot, adalah drummer Letto dan masih aktif sampai sekarang, iya drummer.

Kesamaan dari para personilnya adalah mereka semua berbasis di Jogja. Maka mereka memang memperkenalkan dirinya sebagai band Jogja yang ingin menaikkan kembali musik pop era 2000an, menapaki jejak Sheila on 7, Jikustik, The Rain, dan Letto. Masing-masing personil Smarai sudah punya massa di Jogja, ini menjadikan lebih mudah bagi mereka untuk take-off. Selain itu kematangan mereka dalam musik, bisnis, dan bidangnya masing-masing membentuk cara branding dan marketing band ini. Program Main Bareng yang dinaikkan di media sosialnya fresh, menarik, dan rapi banget. Nggak mungkin ini dibuat oleh anak baru yang semata-mata jago main musik.


Saya bukan pendengar dan penikmat musik garis keras, tapi mungkin saya gampang connect dengan Smarai karena bias latar belakang Jogja. Saya yakin Jakarta, Bandung, atau Surabaya punya skena dan massanya sendiri dalam bidang musik, komedi, dan lainnya. Jadi strategi cerdas dari Smarai di awal pembentukan mereka untuk menggandeng tokoh-tokoh sekitar Jogja. Festival lokal seperti FKY (Festival Kebudayaan Yogyakarta) juga jadi ajang andalan perkenalan mereka. 


Smarai sudah mengeluarkan satu album berjudul Semai. Ini sesuai prinsip mereka mau seperti band lama yang harus punya album bukan hanya single saja. Agak berbeda dengan SO7 dan Letto yang tema lagunya akhir-akhir ini mengikuti umur yang sudah lebih dewasa (i.e. Memori Baik, Sebening Senja), Smarai mengangkat drama-drama anak muda. Jadi secara tema sebenarnya saya tidak merasa relate, hanya saja musik khas band-nya saya suka. Model seperti ini lebih masuk selera saya daripada musik 'buatan' yang marak di era sekarang. Track andalan mereka adalah Ajari Aku dan Optimis. Selain itu menurut saya Hidupkan Hidup juga bagus.


Viewer dan listener Smarai belum banyak. Kalau diketik di search engine juga masih sering dikira typo Samurai. Maka coba cek di kanal digital favorit Anda karena masih ada kesempatan untuk tampak kalcer dengan menjadikannya backsound story instagram.

Chandra

Terlalu Galileo untuk Clash of Champions

September 13, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Selama beberapa minggu istri saya mencanangkan do not disturb selama satu-dua jam di akhir pekan karena dia mau nonton Clash of Champions (CoC)-nya Ruang Guru di YouTube. Walaupun bisa playback, dia sebisa mungkin nonton live/premiere karena takut spoilernya keburu muncul di timeline media sosial. CoC is her EPL jadi saya bisa memaklumi itu. Selama beberapa waktu kami mengatur agenda weekend centered on her schedule nonton CoC. Tidak masalah karena nantinya datang Agustus gantian jadwalnya ngikut waktu tanding Liverpool.

Saya sering ada di ruangan yang sama saat dia nonton. Walaupun sambil main game di komputer, saya mendengar tayangan yang ada di TV. Tantangan yang diberikan pada peserta bukan soal-soal cemen memang, tapi tidak mustahil juga untuk dikerjakan. Apalagi oleh alumni OSN, IMO, IPhO, dan sejenisnya. Hanya saja gamesnya bukan sepenuhnya selera saya. Terlalu gimmick untuk sebuah event cerdas cermat dan terlalu lepas untuk sebuah acara kuis. Sebagai generasi 90an yang dibesarkan bersama kuis Galileo di SCTV, standar saya nyangkut di sana haha.


Tapi saya akui strategi RG untuk membuat cara ini mengundang mahasiswa-mahasiswa pinter dari berbagai kampus dalam dan luar negeri ini brilian. Ini seperti Nike yang mengumpulkan atlet-atlet besar sebagai brand ambassador mereka. Nike tidak menjual komoditi sepatu tapi movement, trend, dan victory. Sama halnya Ruang Guru tidak menjual ruang kursus tapi mimpi dan masa depan. Saya bisa membayangkan banyaknya ibu-ibu dengan anak usia sekolah yang sold karena acara ini. Kami belum ada anak tapi istri saya sudah berpikir mendaftarkan anak ke RG.

Lebih penting dari itu menurut saya adalah anak-anak pinter ini dapat panggung dan diframing keren. Pinter akademik dan pandai mengingat saja bukan jaminan memang, life is too complicated dengan hanya mengandalkan satu dua jenis palu. Tapi at least CoC adalah konten di sudut positif media sosial, lebih baik daripada content creator yang hanya mementingkan engagement tanpa peduli efek negatif bagi pengikutnya (termasuk anak-anak). 

Beberapa talent CoC kemudian jadi selebritis tampaknya. Saya tahu karena istri saya nonton beberapa podcast di mana mereka jadi tamunya. Di sini kadang saya merasa gatel wkwk. Saya tahu mereka pinternya di atas rata-rata dan bukan representasi skor PISA Indonesia yang rendah, beberapa bahasa Inggrisnya juga sangat bagus karena lahir atau besar di luar negeri. Mereka bisa menjawab soal is totally fine, tapi ketika mulai memberi life advice hehehe. OSN medalist itu banyak, ratusan tiap tahunnya (per bidang 5 emas, 10 perak, 15 perunggu = 30, dikalikan sekian bidang). Setiap tahun Indonesia juga dapat medali di kompetisi internasional. Belum lagi lomba-lomba yang dijadikan portfolio di CoC tapi pipeline-nya tidak seketat OSN. Jadi mereka bukan super rare human. Hanya saja tidak semua juara kelihatan di dunia nyata, good looking di kamera, atau punya akses kuliah di luar negeri straight outta highschool.

Chandra

Turnamen

September 06, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sebagai bocah laki-laki yang tumbuh di desa, sudah tentu masa kecil saya banyak diisi permainan di luar ruangan: sepak bola, petak umpet, kelereng, badminton, layangan, sepeda, dan lain sebagainya. Aktivitas saya jaman itu dibuktikan dengan bekas-bekas luka yang beberapa masih ada sampai sekarang. Sayangnya playstation dan tuntutan pelajaran yang makin serius di kelas atas membuat waktu bermain saya kian berkurang. 

Akhirnya saat SMP-SMA physical prowess bukanlah treat terkuat saya. Saya sempat ikut ekstrakurikuler bola saat SMP dan badminton di SMA tapi itu formalitas saja untuk memenuhi kewajiban. Saya tidak pernah masuk tim sekolah atau ikut lomba apapun. Perlombaan paling physical yang pernah saya ikuti cuma tonti, itu juga ikut awalnya terpaksa karena dari 60an siswa laki-laki harus dipilih 31, chance kepilihnya 50 persen. Baru paham esensi aktivitas ini di akhir-akhir dan alhamdulillah sempat dapat juara 3 seprovinsi. Selain itu lomba yang saya ikuti ya lomba matematika, cerdas cermat, sampai tryout-tryout SBMPTN saat kelas tiga.

Saat kuliah saya sempat secara nggak sengaja jadi kiper tim futsal himpunan. Saya seneng futsal tapi tidak cukup fit untuk jadi outfield player secara kompetitif. Jadilah saya mengajukan diri jadi kiper, malah diajak terus, diminta bikin jersey, dan didaftarkan resmi. Endingnya lumayan jadi juara 2 Kampung Bola ITB. Mainnya di Lembang dan berangkatnya konvoi naik motor, what a time. Tapi di luar itu, dengan segitu banyaknya pilihan unit kegiatan mahasiswa alam bawah sadar saya memilih robotika dan catur, dua aktivitas yang tidak mengandalkan otot-otot gerak. 



Saya tidak sama sekali menyesali genre lomba-lomba yang saya ikuti sejak SD sampai kuliah. Di sana penuh momen-momen seru, banyak orang-orang baik yang saya temui dan masih berhubungan sampai sekarang, serta sudah membuka pintu-pintu yang dulu saya tidak tahu adanya. Dari sana saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke Jakarta, terbang ke Hong Kong, nginep di hotel berminggu-minggu untuk pelatihan olim, tampil di TVRI, masuk ke fakultas-fakultas di UGM dari Teknik, Kedokteran, MIPA, sampai Pertanian, dan ikut lomba robot dari Bandung, Jogja, sampai Surabaya. 

Tapi seintens-intensnya lomba akademik, masih lebih intens kompetisi-kompetisi aliran Porseni. Kalau dalam kondisi menang dan jadi unggulan sih nggak masalah. Tapi tekanan ketika ketinggalan atau membuat kesalahan jauuuh berbeda. Apalagi ajang-ajang olahraga dan seni biasanya disaksikan banyak orang, sementara lomba matematika di ruangan tertutup. Mungkin hanya lomba robot yang ada di dua alam, persiapannya berbulan-bulan di belakang layar tapi tampilnya ditonton orang. Dalam berkompetisi saya bisa menerima kekalahan bahkan menertawakannya (thanks to jadi fans bola bertahun-tahun), tapi saya masih sangat tidak nyaman dilihat orang dalam kondisi vulnerable.

Saya yakin kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi tertekan adalah skill yang akan berguna dalam hidup. Saya ingin men-develop itu dan sepertinya cara termudah adalah lewat olahraga. Olahraga juga membantu dalam berinteraksi dengan komunitas lokal dan menjaga kebugaran mengingat usia sudah masuk kepala tiga.

Sejauh ini saya sudah ikut tiga event lari, di Varsseveld, Utrecht, dan Wageningen. Tentu saya tidak berambisi cepet-cepetan karena pasti kalah dengan orang-orang sini yang tumbuh dengan rutin berolahraga. Saya dapat personal best 5K di Varsseveld, tapi itupun saat saya baru selesai satu putaran (2,5 km) ada pelari yang sudah finish 2 putaran. Meski begitu ini tidak begitu humiliating karena dalam lari pasti ada yang pace-nya mirip-mirip sekalipun itu bapak-bapak 50+. 

Berikutnya saya coba mendaftar turnamen padel, olahraga yang kalau kalah kelihatan banget. Saya sering baca cerita orang di Reddit soal turnamen padel, tapi ini pertama kalinya saya mau daftar jadi saya cari tahu apa yang diperlukan. 

Ternyata bukan hanya fasilitas olahraga yang proper di Belanda, sistemnya juga. Siapapun yang berminat bisa mendaftar menjadi anggota KNLTB, federasi resmi tenis seluruh Belanda yang menaungi olahraga tenis, padel, dan pickleball. Setelah punya nomor anggota, kita bisa ikut berbagai kegiatan, kompetisi, dan turnamen yang diselenggarakan oleh klub atau komunitas. 

Nantinya catatan menang kalah, gelar, dan rangking akan terdokumentasi dengan lengkap dan up-to-date. Secara teori jika seseorang sering menang turnamen amatir, rangkingnya akan naik dan mungkin akan qualified untuk ikut dalam event profesional. Turnamen tersedia dari usia sangat belia sampai dewasa. Cara mereka menemukan talenta sungguh rapi dan efisien. 

Kemudian di samping rangking resmi yang dikelola oleh KNLTB, ada sistem 'swasta' lewat aplikasi Playtomic. Playtomic adalah aplikasi match making untuk padel, tenis, dan pickleball yang sekaligus berfungsi jadi platform booking lapangan dan payment service. ELO rating di Playtomic akan naik jika menang dan turun jika kalah. 


Pekan turnamen akhirnya tiba, saya tidak berharap hasil apa-apa dari sini karena ini turnamen pertama dan saya belum pernah main di tempat ini sama sekali. Targetnya hanya jangan sampai kebantai karena akan tercatat di permanent record. Kami main dua kali, Minggu 30 Agustus siang dan Jumat 4 September sore. Hasilnya kalah dua-duanya haha. Tapi selain set pertama di mana kami masih adaptasi pertandingan berjalan lumayan berimbang.

Play-wise could be better, saya akan cari match di Playtomic lagi buat nambah jam terbang dan konsistensi. Tapi turnamen ini berhasil menghadirkan excitement yang saya cari. Apalagi lawannya para Dutchies, membuat rasanya bukan hanya olahraga tapi juga bela negara.

Chandra