Saya sering ada di ruangan yang sama saat dia nonton. Walaupun sambil main game di komputer, saya mendengar tayangan yang ada di TV. Tantangan yang diberikan pada peserta bukan soal-soal cemen memang, tapi tidak mustahil juga untuk dikerjakan. Apalagi oleh alumni OSN, IMO, IPhO, dan sejenisnya. Hanya saja gamesnya bukan sepenuhnya selera saya. Terlalu gimmick untuk sebuah event cerdas cermat dan terlalu lepas untuk sebuah acara kuis. Sebagai generasi 90an yang dibesarkan bersama kuis Galileo di SCTV, standar saya nyangkut di sana haha.
Tapi saya akui strategi RG untuk membuat cara ini mengundang mahasiswa-mahasiswa pinter dari berbagai kampus dalam dan luar negeri ini brilian. Ini seperti Nike yang mengumpulkan atlet-atlet besar sebagai brand ambassador mereka. Nike tidak menjual komoditi sepatu tapi movement, trend, dan victory. Sama halnya Ruang Guru tidak menjual ruang kursus tapi mimpi dan masa depan. Saya bisa membayangkan banyaknya ibu-ibu dengan anak usia sekolah yang sold karena acara ini. Kami belum ada anak tapi istri saya sudah berpikir mendaftarkan anak ke RG.
Lebih penting dari itu menurut saya adalah anak-anak pinter ini dapat panggung dan diframing keren. Pinter akademik dan pandai mengingat saja bukan jaminan memang, life is too complicated dengan hanya mengandalkan satu dua jenis palu. Tapi at least CoC adalah konten di sudut positif media sosial, lebih baik daripada content creator yang hanya mementingkan engagement tanpa peduli efek negatif bagi pengikutnya (termasuk anak-anak).
Beberapa talent CoC kemudian jadi selebritis tampaknya. Saya tahu karena istri saya nonton beberapa podcast di mana mereka jadi tamunya. Di sini kadang saya merasa gatel wkwk. Saya tahu mereka pinternya di atas rata-rata dan bukan representasi skor PISA Indonesia yang rendah, beberapa bahasa Inggrisnya juga sangat bagus karena lahir atau besar di luar negeri. Mereka bisa menjawab soal is totally fine, tapi ketika mulai memberi life advice hehehe. OSN medalist itu banyak, ratusan tiap tahunnya (per bidang 5 emas, 10 perak, 15 perunggu = 30, dikalikan sekian bidang). Setiap tahun Indonesia juga dapat medali di kompetisi internasional. Belum lagi lomba-lomba yang dijadikan portfolio di CoC tapi pipeline-nya tidak seketat OSN. Jadi mereka bukan super rare human. Hanya saja tidak semua juara kelihatan di dunia nyata, good looking di kamera, atau punya akses kuliah di luar negeri straight outta highschool.
Chandra
0 comments:
Post a Comment