Kabar Duka

October 11, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kemarin saya mendapat dua kabar duka sekaligus. Yang bikin lebih menyesakkan adalah dua-duanya berpulang pada usia yang tidak beda jauh dengan saya. Kabar duka pertama datang dari adik kelas SMA yang hanya 1 tahun di bawah saya. Lalu yang kedua adalah ex-diaspora Indonesia di Belanda yang usianya juga baru 35 tahun. Sebelum itu baru beberapa minggu yang lalu teman satu angkatan kuliah juga ada yang tutup usia. Saya tidak sedekat itu kenal dengan mereka, tapi kepergiannya di usia 30an ini terasa menohok buat saya.

Walaupun katanya umur itu hanya angka, saya merasa periode 30s punya banyak perbedaan dengan 20s. Saya melihat orang-orang yang beranjak 30 sudah mulai punya pondasi yang firm dalam apa yang mereka lakukan. Orang sudah tahu profilnya apa dan sudah tidak mencari-cari lagi perannya. Seolah roket yang heading-nya sudah jelas, umur-umur segini adalah saatnya untuk mengeluarkan boost sebesar-besarnya. Fokusnya hanya keluarga, kerja, dan menekuni satu dua hobi. Hal-hal yang dirasa tidak lagi relevan mulai ditinggalkan. Let's be honest, bahkan teman dekat pun kini tidak sebanyak dulu.

Yes sebagian hal yang diusahakan pasti punya dimensi vertikal yang bisa jadi bekal sampai hereafter. Banyak grind dan hustle yang dilakukan generasi ini adalah hal-hal mulia. Bekerja, berbisnis, mencari nafkah, aksi sosial, kerja kebudayaan, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang manfaati banyak orang. Tapi di sisi lain, termasuk saya, kadang terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sebenarnya semu. 

Perbandingan-perbandingan yang ada sekarang banyak yang sebenarnya tidak terlalu penting. Siapa yang larinya paling kencang, siapa yang baca buku paling banyak, siapa yang traveling paling jauh, siapa yang paling populer, siapa yang fotonya paling estetis. Oke maybe it's all fun and games, tapi kalau tiba tiba oke, waktu habis, lalu apa? What was all that for? Kepergian teman-teman sepantaran tadi humbling buat saya karena kemudian ini yang saya pikirkan.

Manusia modern sangat senang mengumpulkan portfolio karena itu dibutuhkan untuk mendapat pengakuan. Tapi bagaimana ketika tiba hari di mana itu semua portfolio itu tidak berlaku lagi? Lalu apa? Jujur malu ketika sedang getol-getolnya mengejar dunia, saling melihat satu sama lain sudah sejauh apa perjalanannya, iri ketika merasa tertinggal tapi arogan ketika di depan, lalu whatsapp berbunyi membawa kabar teman seusia yang berpulang duluan.

Turut berduka cita, semoga beliau-beliau diampuni segala kesalahannya dan diterima segala amal baiknya. Semoga keliarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Aamiin.


Chandra

0 comments:

Post a Comment