Yatai Jepang

August 16, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya lagi hobi nonton video YouTube soal Yatai. Yatai adalah salah satu model kuliner tradisional Jepang yang konsepnya seperti angkringan kalau di Indonesia. Dijual menggunakan gerobak, sajiannya bermacam-macam, dan pelanggannya duduk melingkar. Tapi walau ini soal makanan, bagian terbaik dari video-video Yatai bukanlah makanan atau proses memasaknya.


Dalam video-video yang saya lihat, menu yang dijual di Yatai antara lain ramen, gyoza, omelet, oden, nasi goreng, dan bakaran dengan versi dan variasi masing-masing. Beberapa Yatai punya specialty menu yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya Yatai biasanya B2-heavy jadi untuk sobat muslim ini bukan jenis kuliner yang aman dicoba. Ini alasan lain bagian terbaik video Yatai bukanlah makanannya.

Proses memasak dalam Yatai juga bukan daya tarik utama buat saya. Sebagai bagian dari budaya kuliner Jepang, koki Yatai memasak dengan delicate, clean, minimalis, dan rapi. Ini bisa dilihat dari bagaimana mereka menata kondimen ramen, memasak pakai sumpit, membuat omelet into perfection, dan mengiris daging dengan simetris. Hal-hal ini bagus untuk konsep fine dining, tapi ketika bicara street food menurut saya cara masak Chinese yang berapi-api, penuh asap, mie sampai kelempar-lempar keluar wok, dan saos kemana-mana tampak lebih appetizing.

Maka bagian terbaik dari video Yatai menurut saya justru proses penjualnya menggelar gerobak dagangannya. Video dari channel Food Tourism Japan misalnya mengcapture dengan baik proses ini. Kalau dilihat dari komentar-komentar yang muncul sepertinya banyak orang juga berfokus pada bagian ini. Part di mana vendornya mensetup dagangan menunjukkan betapa hard working dan tekunnya mereka.


Yatai pada umumnya buka di malam hari di pinggir jalan dan trotoar. Karena tempat berjualan mereka adalah tempat umum sepertinya mereka tidak diijinkan untuk meninggalkan apapun di titiknya berjualan, semua harus disimpan di tempat lain, dipasang ketika mau buka, lalu dibereskan lagi sampai bersih ketika selesai. Proses ini tidak ringan mengingat banyaknya dan beratnya peralatan yang dibutuhkan.

Gerobak kayu tradisional Yatai sendiri sudah berat, belum di dalamnya ada piring gelas, alat masak besar, papan-papan, kursi, water heater, kompor, sampai sink. Kompornya saja bisa 4 sampai 6 tungku. Sobloknya minimal 2 besar-besar satu untuk rebusan air dan satu untuk kuah ramen. Kemudian selain segala perkakas itu, pedagangnya masih mengambil setumpuk bahan makanan, tabung gas, dan beberapa cooling box berisi minuman pakai pickup.

Semua proses dari menarik gerobak ke lokasi berjualan, mengeluarkan barang-barang dan menatanya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci piring kotor, beberes setelah tutup, menata gerobak kembali, kemudian mendorong gerobak baik ke parkiran dilakukan setiap hari. Melihat prosesnya dalam satu hari berjualan saja sudah membuat capek, sementara penjual Yatai melakukan semua itu lagi keesokan harinya. Itu belum termasuk proses-proses yang tidak kelihatan: belanja barang, menata bahan, dan memasak di rumah. Mad respect!



Beberapa Yatai dijalankan oleh beberapa orang, sebagian gerobak juga sudah dimodernkan dengan bahan aluminium dan bisa dibawa pakai pickup. Model Yatai yang begitu mungkin sedikit lebih ringan dijalankan, tapi tetap saja pekerjaan ini bukanlah pekerjaan sepele. Apalagi jika take into account cuaca yang bisa sangat panas atau sangat dingin dan kondisi badan yang belum tentu selalu sehat.

Menonton video Yatai membuka mata saya bahwa membuka usaha kuliner tidak sesederhana itu. Saya yakin ini tidak sesempit Yatai dan Jepang. Andai ada dokumentasi memadai yang memperlihatkan bagaimana pedagang bubur atau angkringan di Indonesia menyiapkan dagangannya pasti juga akan membuat dunia tersentuh. Kita sebagai pembeli hanya menemui mereka dalam 'bentuk terbaiknya' yaitu ketika sudah buka. Tapi untuk sampai pada titik buka itu ada proses panjang yang harus dilewati. 


Chandra

Berkalimat ala Agus Magelangan

August 09, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ternyata di balik celelekan-nya tulisan Agus Mulyadi, banyak teori-teori serius yang strict dan matematis menyusunnya. Itu adalah temuan saya setelah mengikuti kelas menulisnya Agus Mulyadi yang diselenggarakan bersama Belajar Literasi.



Saya follow Belajar Literasi di Instagram sejak tahun lalu saat mereka mengadakan kelas bersama Agus juga, tapi saat itu kelasnya offline jadi saya tidak bisa ikut. Minggu lalu saya melihat postingan mereka soal Webinar Menulis Esai ala Agus Mulyadi. Acaranya diadakan Sabtu 8 Agustus dan tanpa pikir panjang saya langsung daftar. Sembilan puluh sembilan ribu paling worth it bulan ini.

Saya mengikuti Agus Mulyadi aka Agus Magelangan sudah lama, sejak jaman-jaman tulisan sempak indomaret di blognya. Saya punya beberapa bukunya dan mendengarkan podcastnya baik dia sebagai tamu ataupun pengisi utama (podcast Mojok). Tulisan-tulisan Agus ringan, lucu, dan renyah itu sudah jelas. Tapi persona dan logat cah ndeso-nya yang kental itu buat saya jadi nilai plus lain karena semacam jadi pengingat masa-masa bermain. Some of my friends back then sounds just like him ketika bicara.

Dalam webinar kemarin Agus menjelaskan teknik-tekniknya dalam membuat tulisan yang bikin orang betah membaca. Dia menjelaskan di antaranya bagaimana membuat kalimat/paragraf pembuka yang memikat, membuat penutup yang berkesan, menggambarkan situasi secara indah, memilih vocab yang menggugah, menggunakan prinsip rule of three, dan menerapkan perumpamaan yang pas. Ternyata tulisan-tulisan lucu dan luwes itu dibangun dengan struktur yang sudah tertentu.


Saya tahu mau ikut webinar Agus Mulyadi 100 kali pun saya tidak akan bisa menulis lucu seperti dia. Menurut saya lucu itu bakat, sama seperti tidak semua orang bisa stand up comedy. Agus bisa dengan jenaka memasukkan dalam tulisannya frase "keblondrok bakule slondokkk", tapi kalau saya yang melakukan itu jelas malah jadi cringe dan terlalu trying to be funny.

Maka saya secara sadar ikut webinar ini bukan untuk jadi penulis, misi saya hanyalah untuk mendapatkan ilmu bagaimana membuat tulisan tidak terlalu dingin dan kaku. Webinar ini juga semakin meyakinkan saya bahwa kemampuan menulis itu penting bahkan jika pekerjaan kita bukan penulis ataupun sosok digital.


Ah, weekend well spent. 
Chandra


How to Not Know: Navigating Uncertainty

August 01, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika pertama kali membaca judul buku ini saya agak kurang yakin karena How To Not Know terdengar seperti versi lain dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck, yang mana tidak terlalu menarik buat saya. Tapi saya tetap checkout How To Not Know dari Bol.com karena penulisnya Simone Stolzoff, penulis buku The Good Enough Job, salah satu buku all-time favorite saya. Saya bersyukur mendapatkan buku ke-dua-nya ini karena walaupun judulnya begitu tapi isinya 10/10.

Baca juga: The Good Enough Job

Tadinya saya kira buku ini bicara soal bagaimana caranya supaya tidak terlalu ingin tahu hal-hal yang tidak perlu kita tahu alias tidak kepo, tapi ternyata bukan itu yang dimaksud 'Not Know'. Not Know di sini maksudnya adalah uncertainty (ketidakpastian) yang sering mendatangkan problem psikologis bagi manusia. Terlebih sekarang virus ketidakpastian looming more than ever dengan adanya krisis global di hampir segala lini kehidupan: politik, keamanan, ekonomi, hukum, sosial, dan lingkungan.

Ketidakpastian adalah perkara serius yang dihadapi semua orang tapi kadang tidak dipahami secara penuh. Ada cerita dalam buku ini tentang penelitian melibatkan orang yang disetrum. Responden yang tidak tahu apakah dia akan disetrum ternyata punya kecemasan dan stres lebih tinggi daripada yang sudah tahu dari awal bahwa dia akan disetrum. Menunggu hasil ujian keluar lebih menegangkan daripada ketika tahu hasilnya. Mendukung klub bola yang nyanan di peringkat 3 lebih mentally easy daripada mendukung yang bersaing di peringkat 1-2 sampai akhir musim tapi akhirnya kalah.

Secara bawaan setiap manusia punya uncertainty tolerance, kemampuan untuk menampung ketidakpastian. Tapi derasnya arus informasi dan kemudahan untuk ngecek dan memastikan segala sesuatu pada gilirannya bisa mengerdilkan uncertainty tolerance ini. Orang harus ngecek daftar menu dulu sebelum masuk restoran, orang harus baca review sebelum nonton film, dan orang harus tahu siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. Ada sebuah paragraf yang bagus sekali di buku ini dan rasanya harus saya kutip:

Rather than engage with someone with different political views from ours, we retreat into our silo. Rather than face the uncertainty of inviting a potential new friend out to coffee, we cling to our solitude. And rather than walk a few blocks to the local corner stone, we order through an app. The ramifications of these choices extend beyond polarization and loneliness. When we continuosly choose to surround ourselves with the familiar, our ability to tackle the unknown begins to atrophy.

Paragraf itu merangkum keresahan utama yang dibawa buku ini. Lebih dalam lagi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang sering menjebak orang sehingga menyikapi ketidakpastian dengan kurang tepat. Pertama comfort, kecenderungan untuk tidak beranjak dari zona nyaman. Kedua hubris, menutup diri dari pengetahuan baru karena merasa sudah jadi yang paling tahu. Ketiga control, merasa bisa mengendalikan semua hal padahal tidak. Tiga hal itu menjadi bagian penyusun buku ini, tiap bagian terdiri dari beberapa bab yang masing-masingnya berkisah tentang satu atau beberapa kontributor. 

Di antara kontributornya adalah seorang Menteri dari Tuvalu yang meng-address PBB soal climate change lewat pidato di pinggir pantai dalam kondisi kakinya terendam air laut yang naik mengikis wilayah negaranya sedikit demi sedikit (keyword youtube: Simon Kofe speech COP26). Lalu ada seorang software engineer di Google yang meninggalkan rutinitas, rumah, dan kehidupannya untuk hidup nomaden secara random. Dia membuat aplikasi yang memutuskan untuknya di mana dia harus tinggal, apa yang harus dia makan, dan apa aktivitas yang harus dia datangi. Selama beberapa tahun dia manut total pada aplikasi itu dan menemukan sisi-sisi dunia yang sebelumnya tidak dia tahu. Dalam penulisannya Stolzoff total, misalnya ketika mendalami Tuvalu dia benar-benar terbang ke negara itu.


Simone Stolzoff punya karir yang panjang di berbagai bidang (jurnalis, penulis, speaker, ex-design lead IDEO) dan he knows what he's doing. Selain story telling yang bagus, tulisannya sarat dengan informasi-informasi yang berbasis data yang banyak orang belum tahu sebelumnya. Banyak titik di buku ini yang hit close to home karena saya merasa relate dengan apa yang dialami kontributornya. Buku ini memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini saya tidak tahu apakah ada jawabannya. Aftertaste setelah menyelesaikan buku ini adalah: "orang harus baca ini bukan hanya karena bagusnya, tapi karena manfaatnya.

Buku ini menyadarkan saya untuk tidak overthink atas sesuatu. Beri ruang untuk ketidaktahuan karena lawan dari faith bukanlah doubt tapi certainty. Saya coba terapkan itu kemarin ketika terakhir kami ke Den Haag dengan sengaja tidak membuat rencana yang matang, tapi justru hari itu kami ketemu kapsul Soyuz* asli, makan pempek, ke pasar kermis (pasar malam), dan makan nasi rames di masjid. Persiapan yang terbatas posses some risks, tapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk kejutan-kejutan baik.

Ada konsep menarik lain yang saya temukan di buku ini yaitu soal exploit + explore. Exploit adalah melakukan sesuatu yang sudah familiar dan mendalaminya, sementara explore adalah melebarkan sayap mencoba hal-hal baru. Kita perlu punya dua pendekatan ini secara seimbang agar bisa tahu banyak sekaligus banyak tahu. Kita bisa datang berulang-ulang ke restoran langganan yang sudah jelas disuka tapi juga sebaiknya sesekali mencoba restoran lain karena siapa tahu ketemu yang enak juga.

Stolzoff menutup bukunya dengan memberikan empat ajakan yang perlu dilakukan agar manusia bukan hanya bisa me-manage uncertainty tapi juga meng-embrace uncertainty. Empat ajakan itu adalah: find your anchors, choose curiosity over comfort, trust your future self to handle future problems, dan let go of the ghost ships that did not carry you. Empat ajakan itu menjadi kesimpulan yang membungkus dengan apik segala bahasan di buku ini.

How To Not Know tidak memberi pembacanya cara untuk menjadi excelent communicator, effective negotiator, atau impactful leader. Buku ini sesederhana mengajak pembaca untuk menerima bahwa uncertainty adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tapi dengan faith dan keberanian untuk tetap melangkah dalam gelap, di sana lah manusia bisa membuka ruang-ruang yang bahkan sebelumnya belum diketahui adanya.

Chandra


*Soyuz adalah wahana antariksa milik Rusia. Salah satu kapsul asli Soyuz disimpan di Space Expo Museum di Noordwijk, Belanda. Wahana ini sentimental buat saya karena nama 'Soyuz' kami ambil jadi nama angkatan waktu osjur kuliah dulu.




Sensus Ekonomi

July 26, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sebuah surat mendarat di kotak pos kami dari CBS (Centraal Bureau voor de Statistiek) berisi voucher belanja senilai €30. Ini adalah ucapan terimakasih pemerintah karena sebelumnya kami berpartisipasi dalam sensus ekonomi. Haha.



Beberapa minggu sebelumnya kami menerima surat dari CBS tentang menanyakan kesediaan kami untuk ikut serta dalam sensus ekonomi. Dalam sensus seperti ini tidak ada petugas yang datang untuk menanyai, kuesioner diisi secara online. Pertanyaannya lumayan komprehensif seperti pekerjaan, penghasilan, status tempat tinggal, dan lain sebagainya. Sebenarnya one way or another pemerintah sudah tahu data-data ini andaikan mau dikumpulkan dari berapa instansi.

Tapi yang menarik adalah selain mengisi kuesioner kami juga diminta untuk menginput pengeluaran harian selama 2 minggu sejak enroll. Pada website CBS sudah disiapkan templatenya. Jadi setiap belanja kebutuhan, makan di luar, biaya transportasi, sampai leisure dan main padel diinput disitu habis berapa dan untuk apa. Dari data ini mungkin CBS akan melihat pola dan mrngekstrapolasi ke interval yang lebih panjang.

Karena menggunakan effort dan waktu warga, keluarga yang berkenan menyelesaikan survey ini sampai 2 minggu mendapat reward voucher belanja. Saya nggak tahu apakah semuanya dapat atau ada kriteria tertentu, tapi happy lah dapat satu. Selain itu saya bersedia mengikuti sensus ini karena saya punya concern dengan harga-harga yang lumayan naik terutama setelah perang Iran-Amerika. Semoga data-data yang terkumpul menunjukkan bahwa inflasi cukup tinggi sehingga pemerintah tergerak untuk melakukan sesuatu guna memitigasi hal ini.

Chandra

Melayat

July 19, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Dalam episode #PertamaKalinya lagi tapi kali ini suasananya berduka, ini lah pertama kalinya saya datang melayat di Belanda.

Kami punya kenalan seorang Indonesian lady yang menikah dengan orang Belanda. Beliau aktif di pengajian dan dari sana kami (muda-mudi Indonesia) akrab dengannya. Beliau sering sedekah makanan-makanan enak sebagai konsumsi pengajian karena memang punya katering profesional baik di Jakarta dulu sampai di Belanda sekarang. Kateringnya adalah andalan untuk kami-kami pesan ketika ada acara atau pun sekedar untuk stok lauk di rumah. 

Tapi bukan hanya urusan jajanan, secara personal kami juga akrab dengan beliau. Setiap lebaran kami diundang ke rumahnya. Baik sekali ibu ini, keluarganya juga sudah terbiasa dan sangat welcome dengan orang-orang Indonesia muslim. Suaminya mualaf, beberapa kali ikut pengajian, tidak ada anjing dan alkohol di rumahnya, dan salat di sana sudah ada tempatnya. Jadi main ke sana sudah seperti ke tempat saudara.

Qadarullah beberapa waktu yang lalu kami mendapat kabar duka dari beliau, adik iparnya meninggal dunia. Kami kenal dengan iparnya ini juga karena beberapa kali ikut ngantar ke pengajian walaupun tidak ikut masuk. Berita duka ini awalnya hanya informasi via whatsapp, tapi ternyata beliau juga mengirimkan surat duka ini ke rumah. Maka tidak enak kalau kami tidak menyempatkan untuk datang. Saya datang bersama seorang teman untuk mewakili angkatan muda ini, tidak ajak istri karena undangannya di jam kerja.

Ini adalah pertama kalinya saya datang ke rumah duka 'umum', sebelumnya hanya dengar-dengar saja di Jakarta. Acara diselenggarakan sekitar satu minggu setelah hari wafatnya. Foto di atas adalah sebuah krematorium tempat prosesi diadakan yang setelah ngobrol-ngobrol saya baru tahu bahwa tempat ini baru. Dari luarnya tampak sangat bersih dan rapi, tapi sekaligus sepi. Sejak masuk ke sini saya tahu ini akan jadi pengalaman melayat yang berbeda.

Begitu masuk, tamu dipersilakan duduk di ruang tunggu. Ketika semua sudah datang mungkin ada 40-50 orang di sana. Tentu ini jumlah yang sangat sedikit kalau dibandingkan takziah di Indonesia. Kalau dibilang nyaman tempatnya nyaman sekali memang, seperti ruang tunggu rumah sakit kelas atas. Ada beberapa sofa dan meja kursi, hiasan dinding, lampu gantung, dispenser air minum, dan di ujung ruangan ada TV yang menampilkan foto orang yang berpulang.

Tepat ketika acara akan dimulai ada semacam protokoler yang masuk, dia mempersilakan tamu untuk masuk ke ruang ceremony. Tapi sebelum itu bagi tamu yang ingin melihat peti atau memberikan penghormatan terakhir bisa masuk melalui pintu samping. Ruang ceremony-nya berbentuk seperti gereja dengan kursi-kursi panjangnya. Tapi tidak ada simbol agama apapun, sepertinya krematorium seperti ini bisa melayani agama apapun termasuk yang tidak beragama. 

Tembok depan ruangan ini transparan sehingga taman dan rerumputan di belakang bangunan jadi background yang sangat cantik. Di dalam musik yang mendayu-dayu di putar, musik popular btw seperti Coldplay sampai Van Halen hanya saja dengan aransemen sendu. Di depan ruangan ada mimbar, bunga,  beberapa lilin, dan TV yang nantinya akan dipakai memutar slide show foto-foto. Bagian belakang ada kamera yang bisa digunakan untuk live streaming. Acara ini dibroadcast ke Indonesia karena memang keluarga ini dekat dengan saudara-saudaranya di Indonesia.


Ketika semua tamu sudah di dalam, keluarga masuk berjalan menyusuri aisle sambil membawa peti jenazah, para tamu berdiri. Acara kemudian terdiri dari beberapa speech dari keluarga dan kolega. Isinya menceritakan riwayat hidup mendiang, kenangan-kenangan dengannya, dan sifat-sifat baiknya. Di antara speech itu diputar foto-foto sejak mendiang masih kecil sampai tua. Ceremony berlangsung selama sekitar 45 menit. Prosesinya seperti scene pemakaman yang di film-film, tapi dengan ada di situ saya sekarang merasakan atmosfernya untuk pertama kalinya.

Kalau ada satu kata yang menggambarkan suasana di sana itu adalah kosong. Ya kosong, sunyi, diam, sepi, sendu. Orang seperti bergulat dengan pikirannya masing-masing berusaha memunculkan kembali kenangan dengan orang yang meninggal. Tidak ada yang berbisik-bisik apalagi berbicara, musik masih mengalun pelan. Ini mengheningkan cipta tapi panjang.

Selesai prosesi, para tamu berdiri memberikan penghormatan terakhir dan menyalami keluarga. Kemudian tamu diarahkan ke ruangan di sebelah di mana sudah disiapkan sajian kopi, teh, dan makanan ringan. Di sini lah kemudian tamu bisa berbicara sekaligus ngobrol dengan anggota keluarga. 

Template acara penghormatan seperti ini tidak bisa diterapkan untuk muslim karena keharusan untuk memproses pemulasaran jenazah sesegera mungkin. Sementara butuh waktu dan pikiran (serta dana cukup besar) untuk merancang acara seperti ini. Kemudian juga untuk muslim dianjurkan menghadiri takziah bahkan jika tidak ada hubungan apapun, tanpa perlu menunggu undangan. 

Ketika menemui unsur budaya yang berbeda seperti ini saya selalu coba menarik ke belakang dan menelisik 'apa ya alasannya?'. Pasti ada sebabnya acara funeral dibuat seperti ini. Yang muncul di pikiran saya adalah mereka ingin menciptakan momen untuk mengenang. Ini berbeda dengan di Indonesia yang ketika datang takziah tujuan utamanya adalah untuk mendoakan. 

Saya jadi merasa ada yang perlu diperbaiki dari cara saya datang takziah. Selama ini seperti sudah cukup hanya dengan datang. Di rumah duka malah lebih banyak ngobrolnya daripada mendoakan atau minimal mengingat yang berpulang. Mungkin ada baiknya setelah menyalatkan kemudian mencari sudut sepi untuk minutes of silence.

Selamat jalan, Eugenio.



Chandra


Peak Aviation

July 12, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Space Shuttle mounted di atas Boeing 747, di belakangnya ada Concorde lagi take-off. Engineering abad 20.


Tulislah Walau Satu Kalimat

July 05, 2026 Posted by Chandra Nurohman 3 comments
Pepatah bilang motivasi adalah yang membuat kita memulai, tapi disiplin lah yang membuat kita terus berjalan. Waktu memulai blog ini dulu, motivasinya ada beberapa, tapi seiring berjalannya waktu sudah hilang satu per satu dan yang tersisa menjaga ini tetap berjalan tinggal disiplinnya.


Sejujurnya writing is not always fun. Menulis menyenangkan ketika memang sedang ada uneg-uneg yang ingin dikeluarkan, tapi itu tidak setiap waktu. Ada saat-saatnya pikiran buntu tapi ada target menulis tiap minggu. Di saat seperti itu saya coba paksa walaupun kadang-kadang hasilnya tidak maksimal. Maka di antara postingan di sini ada yang saya puas menulisnya tapi ada juga yang hanya for the sake of posting. Meski begitu saya merasa perlu menjaga streak karena kalau bolong tanpa alasan yang valid takutnya skip berkelanjutan dan berat untuk memulai lagi.

Alasan saya tetap memaksa diri untuk rutin menulis entah ada yang membaca atau tidak adalah karena saya mulai merasakan manfaatnya di beberapa tahun terakhir. Pertama, saya merasakan ini ketika menemukan kok menulis email jadi gampang. Dulu ketika mau mengirim email saya perlu googling dulu "contoh email untuk . . ." atau "template email . . .". Tapi karena terbiasa menulis from scratch, jadinya bisa menulis email cukup panjang dengan informasi awal yang terbatas. Selain kata-kata jadi lebih cepat meluncur, saya juga lebih pede dengan hasil akhirnya. Ketika perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris bertambah, menulis English juga jadi semakin effortless. 

Menulis bukan skill wajib dalam pekerjaan saya, tapi saya menemukan kebiasaan ini sangat berguna. Mendetailkan rencana kerja, membuat catatan, dan menulis dokumentasi adalah contoh bentuk menulis. Lalu sama halnya dengan bicara yang ada seninya bagaimana mempersuasi orang, bagaimana berargumen, bagaimana talk yourself out of trouble, menulis ada unsur "bersilat lidah"-nya juga. Tulisan tidak ada intonasinya, maka butuh konstruksi kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud secara jelas pada lawan bicara. 

Dalam kaitannya dengan AI, ada dua hal yang penting soal menulis. Pertama, kebiasaan menulis mempermudah ketika harus membuat prompt karena di situ ada proses mengubah maksud pikiran jadi tulisan. Kedua, walaupun AI semakin pintar tapi manusia tetap punya kelebihan dengan personal touch-nya. Misal dalam membuat bahan presentasi, AI bisa membuat slide beserta tulisannya, tapi manusia lah yang bisa menyesuaikan hasil akhirnya dengan audience yang akan dihadapi. Jadi kebiasaan menulis bisa menjadikan penggunaan AI lebih optimal dan di saat yang sama menjadikannya lebih "tidak kelihatan seperti hasil AI".

Saya setuju dengan Puthut EA yang bilang bahwa sebaiknya orang itu bisa menulis, tanpa harus jadi penulis. Dokter, politisi, engineer, artist, atau profesi apapun kalau bisa menulis itu baik. Sama seperti ada perbedaan level antara mendengar dan mendengarkan, menulis juga begitu. Semua orang bisa menulis kata, tapi alangkah lebih baiknya jika orang bisa menulis ide. 

Kalau bukan karena manfaatnya (untuk diri sendiri dan semoga orang lain), mungkin saya sudah berhenti menginvestasikan waktu untuk rutin menulis. Siapa juga yang masih blogging di tahun 2026 ini? Buat saya menulis itu seperti lari atau ngegym, just to keep me in shape.

Chandra

Hari Terpanas Eropa

June 28, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments

Jumat 26 Juni 2026, untuk pertama kalinya pemerintah Belanda mengeluarkan code red karena suhu panas. Diperkirakan suhu hari Jumat bisa mencapai 40 derajat celcius dengan feels like sampai 45 derajat. Orang disarankan untuk mengurangi keluar rumah dan sekolah sampai diliburkan.

Masalahnya bangunan di Belanda didesain untuk menghadapi suhu dingin bukan panas. Lupakan soal ventilasi, hampir semua hunian fully insulated agar menjaga penghuninya dari winter yang dingin. Semakin bagus insulasi semakin tinggi grade sebuah rumah. Ini bagus ketika dingin karena bisa menghemat penggunaan pemanas, tapi ketika suhu panas udara jadi terjebak dan lebih pengap daripada mayoritas rumah-rumah di Indonesia.


Sistem pemanas ada di setiap rumah dan jadi instalasi penting di samping listrik dan air, tapi sangat sangat sedikit rumah yang punya AC. Bahkan kipas angin pun tidak setiap keluarga punya. Sekarang orang-orang sedang ramai mencari cara menjaga bagian dalam rumah tetap sejuk, mulai dari membeli AC potable, membuka jendela sepanjang malam, sampai memasang alumunium foil.

Serupa dengan hunian, tempat-tempat umum seperti stasiun, bis, tempat olahraga, masjid, dan lain sebagainya juga banyak yang tidak punya fasilitas pendingin yang cukup. Mungkin hanya perkantoran yang menjaga ruangannya tetap dingin. Bekerja dalam kondisi sepanas dan segerah ini sangat tidak ideal. Tidak heran kalau Lee Kuan Yew bilang air conditioning is one of the most valuable inventions in history.

Menurut perkiraan setelah puncak di Jumat ini suhu akan berangsur turun dan minggu depan sudah kembali normal di sekitar 25 derajat pada siang hari. Tapi butuh waktu untuk menurunkan suhu di dalam rumah yang terlanjur panas. Puncaknya tempat kami sempat mencapai 30 derajat pada Sabtu siang kemarin.


Chandra

Haruskah Padel Jadi Hobi Mahal?

June 20, 2026 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya pernah nulis bagaimana cara badminton dan tenis dimainkan memengaruhi bentuk dua olahraga itu sebagai bisnis. Sekarang saya mau membahas olahraga yang sedang naik daun: Padel.




Padel biasanya dimainkan oleh 4 orang dalam lapangan berukuran 20 kali 10 meter. Secara permainan padel banyak mengadaptasi dari tenis, tapi selain lapangannya lebih kecil, di sekelilingnya ada kaca dan fence sebagai pembatas. Bola yang digunakan di padel sedikit berbeda dengan tenis. Sementara untuk raket, raket padel sangat mudah dikenali karena bentuknya yang khas dan tidak pakai senar.

Lalu kenapa padel bisa tenar sebagai olahraga maupun bisnis, ini adalah gabungan dari banyak faktor yang saling mendukung satu sama lain. Swiss Cheese Model.

1. Padel lebih dari tenis dalam hal tidak bisa dimainkan di sembarang tempat karena net, lantai, kaca, fence, bahkan atap adalah bagian dari permainan itu sendiri. Maka harus ada bisnis yang membangun dan mengeluarkan modal, bukan infrastruktur suka rela. Tapi ada pasar untuk ini dan orang bersedia bayar.

2. Walaupun bisa dimainkan outdoor, tapi kebanyakan lapangan padel indoor atau semi-indoor. Ini menyelesaikan dua hambatan orang untuk berolahraga: panas matahari dan polusi udara. Sama seperti gym, orang bersedia bayar (cukup mahal) untuk kenyamanan itu. Ini menarik banyak middle upper class, golongan yang juga jadi penggerak tren.

3. Dalam konsep indoor, pemilik lapangan bisa menambah coffee shop, dining area, dan vending machine di dalamnya. Ini sumber revenue tambahan yang jadi insentif untuk bisnis membangun infrastruktur padel.

4. Masih karena indoor, padel bisa dimainkan di setiap waktu termasuk siang hari di wilayah panas sekalipun. Musim hujan juga tidak jadi halangan. Lagi-lagi ini keuntungan bagi investor.


5. Raket padel padat tanpa senar, ini memberikan ruang lebih bagi brand untuk memasang brandingnya. Dalam tenis dan badminton paling mentok branding ada di frame, grip, atau dicap di senar yang tentu tidak semantap diprint di permukaan raket padel. Maka brand seperti Adidas invest dalam jumlah besar di padel. Lalu ada Babolat yang sampai berpartner dengan Lamborghini. 

6. Untuk pemain, padel adalah olahraga dengan entry barrier rendah apalagi untuk yang punya background racket sport dan fitness cukup. Padel mudah dimulai dan tidak terlalu capek karena tidak sekencang badminton dan tenis. Semakin mudah dicoba semakin banyak orang mau main. Note: mudah dimulai untuk rekreasional, tapi untuk jadi advanced perlu latihan, taktik, dan waktu. 

7. Padel dimainkan oleh 4 orang, cukup untuk menjadikan iuran biaya lapangan terjangkau sekaligus memberikan ruang untuk pemilik lapangan untuk matok harga lebih tinggi.


8. Karena indoor juga, kebersihan dan air conditioning yang bagus menjaga penampilan fisik pemain tetap on point. Ini penting untuk customer yang menganggap penting image karena bisa menghasilkan foto-foto yang instagramable sebagai media berkembangnya tren. 

9. Masih berkaitan dengan image, banyak pemain padel sangat concern dengan fashion. Attire padel banyak meniru tenis termasuk untuk wanita yang menurut saya sering unnecessarily revealing. Walaupun untuk level pemula outfit nyaris tidak ada hubungannya dengan performa, brand-brand punya pasar untuk merilis baju, celana, sampai sepatu.

10. Karena permainan dibatasi oleh kaca dan fence, penonton dan fotografer bisa berada pada posisi yang sangat dekat dengan pemain, ini bagus untuk branding diri maupun produk.

11. Mingle dan drink after padel sangat mungkin dilakukan dengan disediakannya cafe dan food corner. Olahraga yang memungkinkan networking seperti ini biasanya cenderung higher: golf, balap. 


Hal-hal di atas bersatu mengantarkan padel pada posisinya sekarang. Tapi ada faktor luar juga yang memengaruhi image olahraga ini: karakter masyarakatnya sendiri, media sosial, dan budaya influencer. Padel memberikan ruang signaling: aku bagian dari ini loh. Di masyarakat yang sangat person dan kesosokan oriented, padel sangat mungkin jadi olahraga yang elit dan malah dibenci oleh general population. 

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan menyarakat padel jika olahraga ini jadi tren karena memang desain dan cara olahraganya dimainkan mendukung untuk jadi begitu. Pickle ball dan squash lacking beberapa di antara faktor di atas yang menjadikannya tidak sebooming padel. Seperti pada umumnya tren olahraga baru akan ramai, nantinya waktu yang akan menguji apalah hanya akan menjadi ledakan sementara atau akan masuk ke fase organik.

Chandra

Third Space

June 14, 2026 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Saya mau men-challenge konsep "third space" yang selama ini dianggap sebagai sebab kota-kota di Eropa tampak nice dan livable. Sebelum third tentu ada first dan second. First space adalah rumah atau tempat tinggal sedangkan second space adalah tempat kerja. Third space adalah tempat-tempat yang bukan home atau work. 



Sering dikatakan third space ini adalah taman, city center, perpustakaan, river bank, stadion, museum, cafe, dan tempat-tempat semacamnya. Kota-kota di Eropa memang banyak yang punya itu semua dan biasanya terjaga dengan baik. Di sisi lain kota di negara-negara so called "berkembang" rata-rata kurang dalam hal ini. Jakarta misalnya, infrastrukturnya didominasi perkantoran dan pemukiman tanpa ada public space yang cukup di antaranya. 

Yah memang kalau definisi third space-nya ngikut orang barat memang nggak banyak. Kalau yang dibayangkan adalah city center dengan bangunan-bangunan kuno, jalannya berupa batu-batuan yang di susun rapi, di sekelilingnya berdiri cafe-cafe warna-warni, di pojokan ada musisi jalanan main biola, bersih tanpa kendaraan, sejuk, dan teratur, ya ndak ada di Jakarta. 

Tapi orang sering lupa bahwa definisi third space jauh lebih luas daripada itu. Third space adalah tempat yang selain rumah dan kantor, dan itu ada buanyak sekali di Jakarta. Third space-nya Jakarta adalah warung mie ayam, kedai kopi, serambi masjid, pos ronda, bakul nasi goreng, starling trotoar, rest area, pasar tradisional, pusat onderdil mobil, pemancingan, kios jus, kebun binatang, kursi indomaret, stasiun, Blok M, Jalan Sabang, ITC, PIM, GBK, mana lagi you name it lah.

Poinnya adalah third space tidak harus estetik dalam gambar, third space adalah tempat orang bisa ketemu orang lain, refreshing, dan melepas penat dengan mudah. Tempat-tempat itu tadi walaupun tidak estetik tapi gampang diakses publik dan berkontribusi menjadikan Jakarta lebih livable di tengah penat dan segala problemnya*. Di sisi lain pelepasan penat yang biasa saya lakukan di Jakarta dulu tidak bisa dilakukan di sini. Terakhir saya pengen mie ayam saya harus buat reservasi dulu.

Saya yakin kota-kota lain punya third space-nya dengan bentuk masing-masing, termasuk mungkin Amerika yang sering dianggap antitesisnya Eropa dalam hal tata kota. Iya memang third space di Eropa cakep-cakep, tapi menjadikan konsep Eropa sebagai standar livability tidaklah tepat, ini sama seperti sebutan Middle East untuk kawasan Asia Barat yang bersumber dari POV Eropa/Inggris.

Chandra

*walaupun tidak lama-lama banget, saya pernah tinggal, bekerja, dan commute di Jakarta selama kurang lebih 5 tahun.