Sejujurnya writing is not always fun. Menulis menyenangkan ketika memang sedang ada uneg-uneg yang ingin dikeluarkan, tapi itu tidak setiap waktu. Ada saat-saatnya pikiran buntu tapi ada target menulis tiap minggu. Di saat seperti itu saya coba paksa walaupun kadang-kadang hasilnya tidak maksimal. Maka di antara postingan di sini ada yang saya puas menulisnya tapi ada juga yang hanya for the sake of posting. Meski begitu saya merasa perlu menjaga streak karena kalau bolong tanpa alasan yang valid takutnya skip berkelanjutan dan berat untuk memulai lagi.
Alasan saya tetap memaksa diri untuk rutin menulis entah ada yang membaca atau tidak adalah karena saya mulai merasakan manfaatnya di beberapa tahun terakhir. Pertama, saya merasakan ini ketika menemukan kok menulis email jadi gampang. Dulu ketika mau mengirim email saya perlu googling dulu "contoh email untuk . . ." atau "template email . . .". Tapi karena terbiasa menulis from scratch, jadinya bisa menulis email cukup panjang dengan informasi awal yang terbatas. Selain kata-kata jadi lebih cepat meluncur, saya juga lebih pede dengan hasil akhirnya. Ketika perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris bertambah, menulis English juga jadi semakin effortless.
Menulis bukan skill wajib dalam pekerjaan saya, tapi saya menemukan kebiasaan ini sangat berguna. Mendetailkan rencana kerja, membuat catatan, dan menulis dokumentasi adalah contoh bentuk menulis. Lalu sama halnya dengan bicara yang ada seninya bagaimana mempersuasi orang, bagaimana berargumen, bagaimana talk yourself out of trouble, menulis ada unsur "bersilat lidah"-nya juga. Tulisan tidak ada intonasinya, maka butuh konstruksi kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud secara jelas pada lawan bicara.
Dalam kaitannya dengan AI, ada dua hal yang penting soal menulis. Pertama, kebiasaan menulis mempermudah ketika harus membuat prompt karena di situ ada proses mengubah maksud pikiran jadi tulisan. Kedua, walaupun AI semakin pintar tapi manusia tetap punya kelebihan dengan personal touch-nya. Misal dalam membuat bahan presentasi, AI bisa membuat slide beserta tulisannya, tapi manusia lah yang bisa menyesuaikan hasil akhirnya dengan audience yang akan dihadapi. Jadi kebiasaan menulis bisa menjadikan penggunaan AI lebih optimal dan di saat yang sama menjadikannya lebih "tidak kelihatan seperti hasil AI".
Saya setuju dengan Puthut EA yang bilang bahwa sebaiknya orang itu bisa menulis, tanpa harus jadi penulis. Dokter, politisi, engineer, artist, atau profesi apapun kalau bisa menulis itu baik. Sama seperti ada perbedaan level antara mendengar dan mendengarkan, menulis juga begitu. Semua orang bisa menulis kata, tapi alangkah lebih baiknya jika orang bisa menulis ide.
Kalau bukan karena manfaatnya (untuk diri sendiri dan semoga orang lain), mungkin saya sudah berhenti menginvestasikan waktu untuk rutin menulis. Siapa juga yang masih blogging di tahun 2026 ini? Buat saya menulis itu seperti lari atau ngegym, just to keep me in shape.
Chandra
Alhamdulillah,terus semangat
ReplyDeleteTerimakasih
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete