Precision Approach Path Indicator (PAPI)

September 24, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

note: ini adalah salah satu tulisan lama yang sebelumnya saya publish di sainsterbang.blogspot.com, dikarenakan saya ingin me-maintain blog ini saja jadi secara bertahap tulisan-tulisan di sana akan saya pindah ke blog ini. tks!

Dalam operasi penerbangan khususnya landing, ketepatan sangat diperlukan. Banyak parameter yang harus dipenuhi agar pesawat terbang dapat mendarat dengan aman dan nyaman. Pesawat dan arah geraknya harus segaris dengan landasan, kecepatan cukup rendah, dan glideslope sekitar 3 derajat.

Glideslope adalah kemiringan terbang pesawat ketika mendekati landasan. Ketika memasuki tahap landing, pilot harus menjaga glide slope pesawat sehingga berada di interval yang aman. Secara umum nilai sudut yang disepakati adalah 3 derajat.

Ketidaktepatan glide slope bisa berakibat fatal. Sudah beberapa kali terjadi insiden karena hal tersebut. Bila pesawat terlalu cepat turun maka bisa jadi pesawat sudah sampai di bawah sebelum mencapai landasan. Peristiwa ini pernah terjadi pada Lion Air di Bali. Bila pesawat terlambat turun maka pesawat beresiko tergelincir dari landasan. Kecelakaan Garuda Indonesia di Yogyakarta adalah akibat kondisi ini.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan karena glide slope yang tidak telat diciptakan beberapa alat bantu. Alat-alat ini memudahkan pilot dalam menjaga glide slope pesawatnya. Perangkat yang digunakan antara lain Instrument Landing System (ILS) dan Precision Approach Path Indicator (PAPI).

ILS akan dijelaskan pada tulisan lain. Kali ini saya akan berfokus membahas PAPI. PAPI adalah perangkat yang cukup sederhana. PAPI terdiri dari 4 buah lampu yang diletakkan di samping runway.

Lampu PAPI dapat memunculkan warna yang berbeda bila dilihat dari sudut yang berbeda. Jika dilihat dari sisi atas akan tampak warna putih dan jika diihat dari sisi lebih bawah akan tampak warna merah. Keempat lampu PAPI memiliki batasan sudut yang berbeda.

Skema kerja PAPI    |     www.tc.gc.ca

PAPI dapat dilihat oleh pilot dan jumlah warna yang terlihat menjadi petunjuk apakah posisi pesawat sudah tepat relatif terhadap runway. Bila dari 4 lampu tersebut tampak merah dan putih masing-masing 2 maka pesawat berada pada path yang tepat. Bila pesawat terlalu tinggi maka lampu putih lebih banyak. Sebaliknya bila pesawat terlalu rendah maka lampu merah lebih banyak.

Cara pembacaan indikator PAPI    |     asfandsattar.files.wordpress.com

Berdasarkan petunjuk PAPI, bila pesawat terlalu rendah maka pilot harus menurunkan rate of descent pesawat agar mendarat dengan aman. Sebaliknya, bila pesawat terlalu tinggi maka pilot harus melakukan go-around.

PAPI di lapangan    |    www.aecinfo.com

PAPI adalah perangkat yang cukup sederhana dalam navigasi pesawat terbang. Meski begitu, peranannya cukup vital dalam membantu pilot mendaratkan pesawat dengan aman.

Lima Tahun

September 13, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Pertanyaan apakah lima tahun itu sebentar atau lama tergantung pada konteksnya. Kalau dalam dunia profesional pada umumnya timeframe lima tahun itu sangat lama. Tuntutan bisnis menggunakan satuan minggu bahkan hari dan jam. Dalam lima tahun sebuah perusahaan bisa jadi sudah sangat berbeda. Ada yang hilang, ada yang datang. Seseorang mungkin sudah berada di titik karir yang tak terduga pada lima tahun mendatang.

Tapi dalam kontemplasi self improvement, lima tahun bisa jadi waktu yang tak terasa. Kita sering lupa bahwa lima tahun yang lalu bukan 2010, tapi 2016. Lima tahun yang lalu saya bukan anak SMA yang bisa hidup bebas dan belum perlu memikirkan urusan orang dewasa. Yang benar lima tahun yang lalu saya adalah mahasiswa semester 7 yang sudah harus memikirkan bagaimana lulus kuliah dan apa setelahnya. 

Lima tahun yang lalu saya mestinya sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan-keputusan penting secara bertanggungjawab. Di usia itu, kita bukan lagi anak-anak yang apa-apanya manut orang tua. Disadari atau tidak, posisi kita sekarang dipengaruhi sikap kita waktu itu - lima tahun yang lalu. 

Salah satu tujuan saya menulis blog yaitu sebagai time capsule mulai bisa dilihat hasilnya. Lima tahun yang lalu saya sudah menulis di blog ini (sudah tulisan agak panjang, bukan cuma gambar-gambar atau lirik lagu). Justru tahun 2016 itu saya sedang semangat-semangatnya. Mungkin juga hidup saya sedang sangat menarik  sehingga dalam sebulan bisa membuat sampai belasan tulisan.

Dengan semua renungan-renungan itu saya jadi ngeri-ngeri sedap mengenai apa yang terjadi di 2026 nanti jika masih diberi umur panjang. Mendadak every single decision sehari-hari menjadi krusial. Perbedaan kedisiplinan sedikit saja bisa membentuk kebiasaan yang kalau diteruskan selama lima tahun ke depan bakal sangat terlihat akibatnya, entah baik atau buruk.

Saya jadi sadar pentingnya punya dua hal ini. Pertama, mentor yang lebih senior 10-15 tahun untuk memberi gambaran tentang jalan ke depan dan keputusan-keputusan terbaik yang bisa diambil. Kedua, apapun atau siapapun yang bisa jadi reservoir inspirasi dan motivasi untuk memberikan energi, to stay afloat and able to overcome any difficulties. 

Kalau kata istri saya, salat istikharah bukan cuma untuk mempermudah mengambil keputusan. Yang lebih penting dari itu adalah kita memindahkan tanggungjawab dan akibat atas keputusan itu dari pundak kita yang lemah ke Allah Yang Maha Tahu. 

Saya semakin tidak mau mengecilkan arti ibadah ketika melihat orang-orang yang hidupnya berubah, dalam lima tahun, karena ibadah. 

Embrace what the future brings. Bismillah. We move

Chandra


pic: dreamstime, dashe

Pemadam Penasaran

September 08, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ada dua hal yang sering saya cari di google image semata-mata karena oddly satisfying to see yaitu peta dan anatomi tubuh manusia. Seperti tadi pagi waktu nonton video youtube tentang kemungkinan suhu di Eropa turun akibat perubahan kandungan garam di lautan, saya penasaran seperti apa sebenarnya tingkat keasinan air laut di seluruh dunia. Dari google dapatlah saya gambar ini

Sumber: ESA

Saya mendapat kesenangan hanya dengan melihat grafis-grafis semacam ini. Saya manthuk-manthuk saja sambil mbatin oh ternyata laut merah dan mediterania memang super asin, sedangkan laut-laut asia tenggara tergolong salinitas rendah. Saya juga nggak serius-serius amat sampai menganalisa mungkin ini sebab produksi garam di Indonesia biasa-biasa saja padahal punya garis pantai sangat panjang, tidak sampai situ juga mikirnya.

Sama halnya waktu beberapa minggu lalu nyamuk lagi banyak-banyaknya, saya penasaran persebaran nyamuk di dunia seperti apa. Saya dapat peta ini dan menyimpulkan tinggal di daerah subtropis enak ya nggak banyak nyamuk

Sumber: NPR

Peta dunia waktu malam juga termasuk yang sudah lama saya cari. Google earth menyediakan tools yang menarik untuk melihat betapa Indonesia ini berpusat di Jawa dengan beberapa kota besarnya, ketimpangan Korsel dan Korut, perbedaan West Coast dan East Cost di US, konsentrasi penduduk Mesir di sekitar Sungai Nil, dan lain sebagainya. Kalian bisa eksplor sendiri.






Beberapa peta lain yang ada di history pencarian saya adalah: peta gurun Australia, peta elevasi India-China karena saya penasaran dengan besar dan tingginya Himalaya, peta populasi di Amerika, dan peta temperatur dunia. Tanpa mengurangi rasa hormat silakan dicari sendiri gambar-gambarnya di Google kalau penasaran, karena disini sudah terlalu banyak image.

Sebagai orang yang suka data yang mudah dicerna, visualisasi seperti ini sangat berguna daripada angka-angka statistik. Bayangkan harus melihat tabel berisi jumlah populasi nyamuk di setiap negara di dunia. Aku yo wegah, aku yo klenger. Terima kasih para data saintis yang telah membuat gambar-gambar ciamik.

Barang kedua yang sering membuat saya penasaran adalah fenomena-fenomena dalam tubuh manusia. Jurnalis sepak bola sempat menggoreng isu bahwa Gareth Bale menguncir rambutnya untuk menyembunyikan kebotakan. Mereka membandingkan foto Bale muda waktu masih di Spurs dengan ketika dia sudah di Madrid.


Dari sana saya baru tahu ada yang namanya M pattern baldness dimana pada laki-laki lumrah terjadi pengurangan rambut bagian depan sehingga seolah-olah forehead melebar. Dulu saya pikir kebotakan itu identik dengan profesor sepuh, ternyata nggak juga. Bale (plus Rooney, Shaqiri) yang atlet dan sangat sehat juga mengalami. Banyak faktor termasuk genetik mendorong baldness seperti ini ternyata. Saya perhatikan orang-orang di sekitar saya yang beranjak dewasa ternyata juga mengalami serupa. Justru gejala ini salah satu yang mempermudah manusia memprediksi usia orang yang belum dikenalnya.

Dari berita sekilas soal pemain bola saya jadi browsing bab kebotakan



Gambar anatomi kulit seperti ini entah kenapa sangat menarik buat saya. Padahal biologi bukan bidang yang jam pelajarannya saya tinggu-tunggu waktu sekolah dulu. Tampaknya saya suka mengamati, tapi agak anti menghafal. Selain kulit saya juga sering penasaran sama anatomi tulang dan otot. Kadang-kadang kalau ada kabar pemain bola yang cedera saya cari tahu sebenarnya bagian mana yang kena.

Kemarin di twitter ada yang promosi standing mouse. Katanya kalau pakai mouse ini posisi tangan lebih ergonomis dan mengurangi kemungkinan terkena carpal tunnel syndrome (CTS). Otomatis saya penasaran lalu googling apa itu CTS.


Seperti halnya peta-peta tadi, saya ucapkan terima kasih pada para dokter dan pegiat kesehatan yang sudah membuat visualisasi-visualisasi anatomi sehingga kita-kita yang orang biasa mudah memahami apa yang terjadi di dalam tubuh. Bahkan selain gambar banyak pula yang dibuat video dan diunggah di youtube.

Di internet kita bisa dapat informasi macam-macam hanya dengan beberapa klik saja. Di forum akademik tidak kuat argumennya kalau bilang ambil referensi 'dari google'. Tapi untuk sekedar tanya-tanya casual seperti ini google memberikan jawaban yang lebih dari cukup. Semoga rasa penasaran yang sering muncul ini masih dalam batas wajar ya, syukur-syukur kalau positif.

Sebagai penutup berikut beberapa pencarian saya yang lainnya.











 

Subordinat

September 01, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments
Tanggal 1 September saya tepat 3 bulan bekerja di tempat baru. Masa probation saya selesai hari ini. Saya tidak terlalu mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kantor baru. Lokasinya masih satu kawasan, hanya pindah gedung. Jalan-jalannya lumayan hafal luar dalam karena dulu ngekos daerah sana. Secara budaya dan orang-orangnya agak beda, tapi justru yang sekarang ini terasa lebih cocok buat saya daripada sebelumnya.

Satu hal yang masih membuat saya awkward adalah kenyataan bahwa sekarang saya punya bawahan. Ini pertama kalinya dalam perjalanan karir profesional saya dimana saya tidak lagi jadi staf tapi punya staf. Sebagai orang yang sering nggak enakan hal macam ini bagi saya perlu pembiasaan.

Ternyata punya bawahan bukan cuma urusan nyuruh-nyuruh. Saya punya kewajiban mendelegasikan tugas secara tepat sesuai kompetensi masing-masing, di waktu yang lain saya harus bisa menjelaskan apa yang harus mereka pelajari untuk bisa menjalankan tugas pada project yang sedang berjalan. Tujuannya agar semua pekerjaan dapat terdeliver dengan optimal. 

Saya harus memberikan cukup pekerjaan supaya mereka ada bahan untuk memenuhi KPI dan tugas tim beres, tapi juga tidak terlalu banyak sehingga membuat mereka burnout. Saya harus cukup akomodatif supaya tidak dikenal otoriter, tetapi tidak terlalu lunak sehingga disepelekan. 

Sekarang saya jadi tahu pentingnya berorganisasi waktu sekolah dan kuliah. Agak menyesal dulu pengalaman kurang banyak jadi sekarang merasa kurang modal hahaha. Dengan alasan lebih suka yang praktek-praktek dulu lebih banyak milih jadi orang lapangan/eksekutor. Alergi sama yang namanya posisi 'ketua'. Pernah sih, tapi jarang. Mau nggak mau belajarnya sekarang.

Bawaan sifat anak daerah asal daerah yang andhap asor juga rada jadi problem, apalagi ketika harus mengatur orang yang sebaya atau lebih tua. Dipanggil 'mas' sama orang seumuran pun awalnya berasa aneh, mau minta panggil nama aja tapi yaudahlah. Kecenderungan tidak mau berkonflik ini jan hmmmmm...

Semoga yang baca ini dilancarkan karir, pekerjaan, dan tanggungjawabnya. Dilindungi dari masalah-masalah yang tidak diharapkan, ditempatkan di posisi yang sesuai, diapresiasi karyanya, dan dimudahkan aksesnya menuju kesempatan-kesempatan baik. Aamiin.

Cek Fisik Kendaraan Luar Daerah di Bantul Jogja

August 09, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Tahun 2018 saya sempat menulis tentang cara cek fisik kendaraan bermotor di luar kota asal. Waktu itu saya mengurus motor plat AB di Samsat Bandung. Ceritanya ada di sini.

Kali ini saya ada pengalaman serupa yang ingin saya tuliskan sebagai tambahan. Singkat cerita karena drama-drama PPKM saat ini, saya WFH dari rumah di Bantul. Kebetulan waktunya pas dengan habisnya masa berlaku STNK motor budhe yang tinggal di Lombok namun punya motor di sini. Jadi saya ke Samsat Bantul mengurus cek fisik motor plat DR. Karena prolog sudah ada di tulisan sebelumnya jadi saya langsung masuk ke teknisnya saja.

Samsat Bantul berlokasi di Jalan Badegan no 25, Nyangkringan, Bejen, Kecamatan Bantul, atau gampangnya dekat pom bensin Gose, warga Bantul pasti tahu. Tentu kantor ini melayani segala macam urusan per-samsat-an. Lokasi strategis, parkir luas, gedung masih baru, beberapa nilai plus kantor ini. Kalau ada yang berniat titip urus pun ada beberapa biro jasa buka lapak di kanan kirinya.

Begitu memasuki gerbang, ada petugas yang melakukan pengecekan suhu sekaligus menanyai keperluan. Sifatnya sih adhoc sepertinya, kalau sudah tidak darurat pandemi mungkin sudah tidak ada. Tapi untuk saat ini keberadaannya membantu karena bisa langsung tahu mesti menuju kemana untuk urusan tertentu. Setelahnya ada portal parkir seperti biasa lalu masuk ke area parkir atau layanan drive-thru, sesuai keperluan apa yang mau diurus.

Untuk cek fisik, pendaftaran dilakukan di gedung sebelah barat dekat masjid. Sayang saya lupa tidak ambil gambarnya, tapi mudah dicari kok. Ruangan cukup nyaman dan waktu saya datang tadi tidak terlalu ramai. Layanan yang dilakukan disini antara lain pendaftaran cek fisik, mutasi masuk dan keluar, balik nama, pengambilan BPKB, serta ada teller bank. Berikut penampakan loketnya.

Syarat yang perlu dibawa STNK dan BPKB asli dan fotokopi. Kalau BPKB tidak bisa bawa yang asli, cukup fotokopiannya boleh. Setelah memasukkan syarat itu ke bagian cek fisik dan bilang untuk pajak lima tahunan, kita akan diberi blanko cek fisik oleh petugas. Kita akan diminta mengisi data-data kendaraannya sesuai STNK, untuk ini sebaiknya bawa pulpen sendiri.

Setelah blanko diisi kita bisa menuju ke parkiran tempat akan dilakukan penggosokkan nomor rangka. Jadi penggosokkan ini dilakukan di parkiran ya, tempat untuk motor dan mobil bersebelahan, kalau truk atau kendaraan besar agak misah. Blanko yang sudah diisi data kendaraan kemudian ditumpuk di meja petugas gosok.

Btw buat yang belum tahu maksudnya gosok disini, jadi untuk memastikan nomor rangka dan mesin kendaraan sama dengan yang ada di surat-surat dilakukan proses gosok ini. Prinsipnya memanfaatkan bentuk nomor rangka dan mesin yang dibuat 3D di kendaraan, petugas menempelkan kertas khusus, lalu digosok menggunakan pensil hingga menghasilkan pola hitam putih dimana bagian putihnya menunjukkan nomor rangka dan mesin, jadi normalnya nomor ini sulit direkayasa.

Yang perlu jadi catatan adalah lokasi pencetakan nomor rangka dan mesin ini beda-beda di tiap kendaraan. Kalau mobil sih relatif dengan buka kap mesin sudah cukup untuk mengakses nomornya, tapi kalau motor ada yang mudah diakses ada yang tidak. Sebagai contoh di motor yang saya urus ini harus buka plat nomor dan tutup bodi depan. Mana disuruh bongkar pasang sendiri pula wkwk


Proses gosok tidak lama, paling cuma 10 menit (tidak termasuk bongkar pasang). Setelah nomor rangka dan mesin selesai digosok, kertas khusus tadi ditempel pada blanko. Blanko ini kemudian difotokopi bersama STNK dan BPKB sebanyak dua kali kemudian dimintakan pengesahan di loket pendaftaran. Proses cek fisik selesai dan dokumennya sudah bisa untuk perpanjang pajak di daerah asal.

Layanan cek fisik di Samsat Bantul buka dari pagi sampai jam 11.00 saja (pendaftaran ditutup 10.30). Kebetulan saya tadi datang agak siang dan dapat urutan paling buncit. Secara keseluruhan prosesnya tidak lama, maksimal 1 jam sudah selesai. Saya meninggalkan samsat sekitar pukul 11.30, karena sudah agak siang di perjalanan pulang mampir dulu cari yang seger-seger. Rujak eskrim Pak Tony dekat perempatan klodran, langganan sejak SMA pas harganya masih 3000 per mangkok.



Sekian.

Chandra


Time Capsule

August 06, 2021 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Siang tadi buka-buka lemari nemu tablet samsung lawas yang saya beli tahun 2013 dengan uang refund UKT semester 1. Baterai jelas tekor karena sudah lebih dari 3 tahun nggak nyala, untung masih ada kabel charger yang cocok buat tab ini. Butuh waktu agak lama sampai baterainya cukup untuk dia bangun. Begitu nyala makdeg wallpapernya masih gambar Imperial College, cita-cita yang dulu pernah ada wkwk

Ada dua tablet lagi di tumpukan yang sama, satu merk 'cina' hasil tryout sbmptn TO Bareng Teknik (Tobat) UGM 2013, satu lagi Ipad 3 saya beli seken steal-deal dapat dari FJB ITB tahun 2016. Sayang sudah nggak punya charger yang bisa masuk. Mungkin nanti cari di Jakarta, lumayan kalau nyala bisa buat istri ngajar.

Kembali ke tablet samsung, meskipun tidak semua tapi sebagian perjalanan awal kuliah saya terekam di gadget ini. Waktu itu HP saya tidak cukup powerful untuk menghandle semua keperluan akademik dan nonakademik. Sebagian file saya transfer ke tab terutama video-video praktikum dan aplikasi berat. Senangnya dulu pas ospek mau masuk jurusan bisa bikin glider yang sekedar bisa terbang dengan imbang.

Galeri adalah yang paling banyak menyimpan kenangan. Ada foto-foto slide kuliah yang akhirnya nggak dibuka lagi, dokumentasi anak robotika waktu KRI, meme tentang engineering dan aerospace, foto jalan-jalan yang agak bikin malu kalau dilihat lagi sekarang, beberapa foto tugas tour kosan waktu osjur, sampai screenshot-screenshot yang banyaknya minta ampun. Tentu konten yang berpotensi mengganggu ketentraman segera dihapus demi kemaslahatan :p

No no no, jangan berpikir itu konten berhubungan sama porn, drug abuse, atau human trafficking ya. Senakal-nakalnya yo nggak segitunya. Lagi pula semua bisa dijelaskan karena file-file disitu semua bertanggal 2016 ke bawah...gimana ya jelasinnya...ya tahulah maksudnya wkwk

Saya pernah bilang bahwa kalau punya mesin waktu yang hanya bisa dipakai satu kali, saya memilih balik ke tahun 2013. Disanalah banyak keputusan-keputusan diambil yang membuat saya berada di state yang sekarang. Tidak boleh berandai-andai berlebihan, tapi saya merasa jika bisa kembali ke tahun itu dengan bekal pengetahuan yang sekarang, rasanya banyak keputusan bisa saya perbaiki sehingga jadi orang yang lebih benyak berguna dan lebih sedikit merepotkan. 

Mesin waktu mungkin tidak akan terjadi, tapi ketemunya tab lama ini mengembalikan sebagian ingatan saya tentang diri saya 7-8 tahun lalu, bagaimana saya berpikir, apa yang saya cita-citakan saat itu, siapa teman saya, apa yang saya lakukan, siapa inspirasi saya, apa kebaikan yang dulu ada dan kini saya tinggalkan, apa yang berubah dan apa yang tidak. 

Terpenting dari itu semua adalah setelah beberapa jam menyusuri folder dan aplikasi-aplikasi yang sudah vakum beberapa tahun saya mendapat gambaran bahwa saya dulu pernah punya api. Di satu sisi ekpresi dari api itu adalah sifat naif, sombong, keminter, dan merasa berada di puncak dunia. Padahal puncak adalah tempat paling mungkin untuk jatuh. After all, api itu terlalu besar buat saya yang sempit, hingga tanpa sadar membakar beberapa hal yang seharusnya dipelihara.

Tapi di sisi yang lain api itulah yang membuat saya tetap kuat menjalani masa-masa penuh tempaan sambil tetap menjaga asa menolak menjadi sekedar rata-rata. Bahkan saya yang sekarang merasa malu bagaimana dulu jiwa raga ini mampu bekerja nyaris 24/7 hingga akhirnya menemukan bentuk nyamannya. Di masa-masa itulah paling sering saya merasa batas saya diuji.

Semakin mendewasa, rasanya api itu tidak sepanas dulu. Bisa jadi karena saya tidak memeliharanya dengan baik, atau hakikatnya memang api itu teredam seiring pemahaman soal realita kehidupan. Tapi sebagai manusia yang ditugaskan untuk selalu berusaha, setidaknya dari time capsule ini saya jadi tahu ada hal yang perlu saya coba.

Saya harus menjaga nyala api itu sama atau bahkan lebih berkobar daripada 7 tahun lalu. Tapi di saat yang sama harus memastikan bahwa api itu tidak membuat apapun dan siapapun di sekitar saya tidak nyaman. Syukur kalau api itu bisa menyalakan beberapa api lainnya yang mulai padam. Tapi setidaknya saya harus cukup amba untuk menjadikan segalanya seimbang. 

Kalau mau lebih baik dari 7 tahun lalu mungkin saya harus lebih presisi, sisanya biar mengikuti.

Maaf atas segala kesalahan

Chandra

Tokyo 2020

July 25, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Olimpiade adalah tempat dimana kita bisa menyaksikan olahraga-olahraga 'aneh' yang selama ini tidak mendapat akses broadcast mainstream. Dayung, anggar, menembak, panahan, triathlon, dan lain sebagainya. Buat saya cabang-cabang ini jadi refreshment diantara rutinitas nonton bola dan balapan. Di sepakbola kadang kita perlu menunggu puluhan menit sampai terjadinya sebuah goal dan balapan F1 bisa memakan waktu sampai hampir 2 jam.

Sementara itu olahraga olimpiade menjanjikan excitement-excitement rapid yang hadir beberapa menit sekali. Atlet angkat beban butuh kurang dari 1 menit untuk tiap angkatan, satu set dalam panahan selesai sekitar 3 menit, balap dayung dan renang berlangsung hanya beberapa menit tiap heat. Belum lagi setelah satu cabang atau partai selesai penonton bisa switch ke tayangan lain hanya dengan beberapa klik. Menyenangkan sekali.

Olimpiade adalah tempat dimana lebih dari 200 negara mengirimkan wakilnya. Dalam cabang badminton kita bisa lihat pemain Indonesia bertanding lawan wakil dari sebuah negara di Afrika atau Timur Tengah. Hal yang jarang terjadi dalam kompetisi World Tour biasa dimana didominasi beberapa negara Asia saja. 

Pernahkah kamu dengar negara Aruba? Comoros? Sao Tome and Principe? Saint Lucia? Kemungkinan besar belum, sama seperti saya. Tidak semua negara lolos karena qualified, ada yang mendapat tempat di olimpiade karena 'undangan'. Bahkan ada tim bentukan IOC yang diperuntukkan bagi refugee yaitu Refugee Olympic Team (EOR). Di satu level Olympic adalah ajang bagi atlet papan atas untuk mengejar medali tertinggi, tapi lebih dari itu Olympic memberi ruang bagi semua negara untuk berpartisipasi.

Kebanyakan orang Indonesia tahu pasangan ganda putra Indonesia Kevin/Gideon serta Hendra/Ahsan karena namanya sudah sering lalu lalang di media sosial dan berita ketika mereka berprestasi di ajang badminton dunia. Sebagian dari kita juga mungkin tahu lifter Eko Yuli Irawan atau masih ingat sprinter muda Lalu Mohamad Zohri yang sempat trending beberapa waktu lalu.

Tapi barangkali belum banyak yang dengar nama Windy Aisah yang kemarin menyumbangkan medali pertama untuk Indonesia, atau tim panahan Indonesia yang cukup impresif setidaknya di level Asia, lalu atlet Rio Waida dari surfing, duet Mutiara-Melani dari dayung, Vidya Rafika dari menembak, dan anggota kontingen lainnya. Olimpiade memberi kesempatan bagi atlet di cabang yang belum begitu populer untuk berdiri di panggung yang sama dengan atlet media darling. Tidak semuanya berprestasi, tapi bisa tampil di Olympic saja sudah sebuah pengalaman tak terlupakan pasti.

Saya sebagai penonton merasa sangat dimanjakan dengan tayangan olahraga tanpa henti yang disajikan Tokyo 2020. Tinggal pilih mau nonton di TV atau ambil gadget untuk buka Vidio. Tidak harus Indonesia yang main tetap saya tonton karena kapan lagi nonton tayangan live olahraga-olahraga tak biasa. Masa tunggu datangnya musim bola berikutnya jadi terasa lebih ringan. Mantap dan terimakasih #Tokyo2020

Citius Altius Fortius

Faster Higher Stronger, Together 

Vettel to Aston Martin ;-)

June 12, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments


I used to rule the grid
Fans would rise when I took the win
Now in the garage I feel alone
Spin on tracks I used to own

I used to scrap for miles
Feel the fear in Alonso's eyes
Listened as the crowds would chant
As I matched Senna, Nikki, Jack, and Alain

One minute I held the crown
Next the media tried to drown me in critique and doubt
And now, I think my confidence's down, that's why I spin 'round

I see the blue flags the stewards are waving
But this time it is I who's paving
The road for the winner like in Brazil
Where Schumacher handed me the wheel

There's some issues I can explain
I'll be gone but never
Never without a dream
Could I reach it with a new team?

I see the blue flags the stewards are waving
But this time it is I who's paving
The road for the winner like in Brazil
Where Schumacher handed me the wheel

There's some issues I can explain
I know Red Bull still regards my name
as though I still a king
Even without all the bling


Akseyna

May 07, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Setelah 6 tahun peristiwa duka itu terjadi, berita tentang Akseyna kembali melintas di timeline twitter saya. Keluarganya sampai saat ini masih terus berusaha mencari keadilan atas kasusnya. Ketika peristiwa itu terjadi Maret 2015 silam dan langsung menjadi headline berita, saya termasuk yang terkejut karena secara pribadi saya kenal Akseyna.

Almarhum Akseyna Ahad Dori adalah siswa SMAN 8 Yogyakarta angkatan 2013, satu angkatan dengan saya. Karena DIY adalah provinsi yang kecil namun padat akan event pendidikan, menjadi hal yang wajar waktu itu ketika seorang siswa punya kenalan dari berbagai sekolah lain seprovinsi. Bisa jadi ketemu di lomba, seminar, try-out, jambore, dan semacamnya. Begitu juga dengan saya kenal dengan Ace, panggilan Akseyna.

Kami sempat mewakili Provinsi D.I.Yogyakarta dalam OSN tingkat nasional tahun 2012 di Jakarta. Bersama sekitar 35an siswa lainnya dari SMA-SMA di DIY kami sempat nge-camp dan mendapat pelatihan di salah satu hotel kawasan Malioboro. Pelatihannya sekitar satu bulan dan karena dikarantina harus ijin tidak ikut pembelajaran di sekolah.

Meskipun beda cabang sehingga kelasnya terpisah (saya matematika, dia biologi), aktivitas lain seperti makan sahur dan buka, salat, tarawih, dan lain-lain dilakukan bersama-sama. Tidak bisa tidak lama-lama kenal juga, beberapa diantaranya bahkan berteman akrab sampai sekarang. Sayang waktu itu belum jamannya cekrek upload jadi saya tidak berhasil menemukan dokumentasi yang bagus.

Akseyna adalah siswa yang brilian. Tahun sebelumnya ketika masih kelas 10 dia sudah lolos OSN 2011 Manado. Jadi di 2012 dia jadi ujung tombak tim biologi DIY dan salah satu yang paling berpengalaman di kontingen OSN Jogja. Mengingat prestasinya di bidang biologi wajar jika dia meneruskan studinya di Biologi UI. 

Selepas SMA saya sudah tidak keep in touch dengan Ace memang. Tapi ketika tiba-tiba berita yang muncul adalah berita duka saya tentu ikut merasa kehilangan. Ace adalah anak muda dengan potensi yang sangat besar, di masa depan dia pasti jadi 'orang'.

Tentu kesedihan saya tidak ada apa-apanya dengan apa yang dirasakan keluarganya. Apalagi sampai sekarang peristiwa ini masih jadi misteri dengan banyak dugaan dan teori-teori. Sampai lebih dari 6 tahun kepergiannya belum ada penjelasan gamblang tentang apa yang sebenarnya terjadi, tidak banyak kasus kriminal yang bisa 'tersembunyi' sampai se-lama ini. 

Keluarga, terutama sang ayah, Pak Mardoto terus mengusahakan keadilan untuk anaknya. Kalau kamu baca ini yuk ikut tandatangani petisi ini: Sudah 6 Tahun, Segera Ungkap Pembunuh Putra Kami Akseyna!

Terima kasih!


Chandra

Gimana Kondisi Sekitarmu, Lur?

May 02, 2021 Posted by Chandra Nurohman No comments

Memasuki tahun kedua pandemi masyarakat di sekitar tempat tinggal saya tampaknya mulai abai. Banyak orang sudah secara mantap gantung masker. Di beberapa masjid sekitar rumah jamaah yang pakai masker hanya 10-20% saja, kadang kurang. Dari beberapa masjid yang saya datangi untuk tarawih sejauh ini, hanya masjid An-Nashr Bintaro yang masih konsisten menerapkan distancing dan wajib masker. Maklum lokasinya di tengah peradaban maju dan makmur. Kawasan dengan penduduk yang relatif tidak risau urusan dapur dan terbiasa berprokes ditempat aktivitas sehari-hari terbukti lebih gampang diatur. Minimal kalau kita masih ikhtiar menuju kaya, bermental kaya dulu aja.

Saya tinggal dekat kawasan pasar yang ramai hampir 24 jam. Ada pasar induk buah, pasar tradisional, dan terminal bis di satu lokasi. Tambah ramai dengan adanya pasar kaget tiap menjelang buka puasa. Masker agak lumayan karena sepertinya di pasar ada satgasnya, tapi masalah distancingnya hmmm...

Geser sedikit dari pasar ada deretan tempat ngopi dan nongkrong anak muda. Heran saya tiap malam sabtu dan minggu parkirannya penuh. Saya belum pernah masuk karena selain malas berkerumun saya memang tidak suka kopi. Di beberapa sudut jalan dan muka perumahan masih ada banner-banner waspada covid, tapi sepertinya itu catakan 2020 saat orang-orang masih respek sama corona. 

Pagi dan sore hari jalanan dipenuhi orang-orang yang mau masuk dan keluar Jakarta untuk bekerja. Nampaknya bisnis mulai menggeliat lagi diikuti peningkatan volume orang-orang WFO. Transjakarta yang bulan-bulan lalu nyaman mulai penuh sesak, perubahan terasa sebulan terakhir.

Beberapa kali saya lihat Pol PP dan satgas merazia kerumunan warga. Tapi yang dirazia kebanyakan hanya tempat-tempat umum dan terbuka saja. Sementara gang-gang sementara ini sering luput dari pengawasan. Razia juga masih sporadis, diusir sekali besoknya balik lagi.

Secara aturan mudik dilarang (tapi wisata dan belanja didorong). Untuk kali kedua saya ngalamat tidak merayakan idul fitri di kampung halaman. Tapi mengingat di Indonesia bangjo saja ditrabas dan separator busway dipencoloti saya kok ragu masyarakat akan taat. Minim penggedhe yang lead by example saat ini. Motif yang manjur untuk bangsa kita ini sepertinya hanya takut mati (seperti lebaran 2020 waktu corona masih dianggap sangat mematikan) dan urusan perut. Kalau ada kebijakan dimana yang nggak mudik dapat insentif jutaan saya yakin akan efektif. Masalahnya kita bukan negara kaya, dan jumlah penduduknya segunung.

Efek dari euforia vaksinasi juga mungkin membuat sebagian orang lengah. Saya sendiri belum ada kabar berita kapan akan dapat jadwal vaksin. Selama pandemi sudah tiga kali pilek tapi semoga itu flu biasa saja. Dengan segala kesimpangsiuran ini sepertinya kita memang harus menjaga diri dan keluarga masing-masing. Hormati orang yang masih memasang standar tinggi penjagaan diri terhadap covid. Semoga pandemi segera berakhir. Aamiin


Chandra