Stadion Maguwoharjo itu ramai bahkan ketika tidak ada acara atau pertandingan bola. Banyak pedagang dan warga beraktivitas di sana apalagi saat akhir pekan. Fakta bahwa perangkat negara sampai harus menggerakkan RT/RW untuk mencari penonton bayaran agar hadir acara hiburan yang diadakan pihak swasta menunjukkan paniknya mereka. Acara yang tadinya hanya berskala lokal malah tersebar jadi berita nasional.
Sebenarnya makna dari menyerang tanpa pasukan adalah keberanian untuk maju demi kebenaran walaupun hanya sendiri. Tapi aksi kemarin menawarkan arti baru bahwa menyerang tidak harus berarti konfrontasi fisik. Tidak ada demo di Maguwo apalagi pengrusakan tempat acara, masyarakat bergerak dengan mengabaikan. Secara bisnis kosongnya acara ini tidak akan membuat R**s goyang, tapi ini mengirim sinyal bahwa tidak semua hal bisa mereka kendalikan dan masyarakat sudah muak. Mending acara batal karena kendala teknis atau perijinan, kalau acara sudah siap tapi H-1 diboikot dan warga tidak mau datang pasti lebih menyesakkan (dan mungkin membuat acara ini not as effective for whatever reason they do this).
Momennya pas sekali karena R**S Carnival Jogja ini diselenggarakan hanya dua hari setelah RA ikut aksi tipu-tipu bersama polisi dan mahasiswa gadungan di Bundaran HI. Event ini otomatis jadi obyek pertama warga menumpahkan kekesalannya. Beberapa penampil menyatakan cancel tidak lama setelah jelas bahwa anginnya berubah drastis untuk RA. Saya membaca beberapa pernyataan mereka, mereka serentak menarik diri walaupun dengan tingkat dissent yang berbeda-beda terhadap penyelenggara. Tapi it's good enough for now.
Yang lebih membanggakan justru apa yang terjadi pada tenant-tenant UMKM yang batal hadir dalam acara ini. Media sosial does its magic menghubungkan mereka dengan pasar yang justru jauh lebih luas. Efek jangka pendeknya mereka bisa menghabiskan stok yang sebelumnya disiapkan untuk acara. Tapi lebih dari itu brand mereka jadi sampai ke lebih banyak orang. Jujur saja banyak brand yang saya baru dengar justru setelah kejadian ini.
Kelanjutan dari menyerang tanpa pasukan adalah menang tanpa merendahkan alias menang tanpa ngasorake. Itu berlaku dalam kontestasi yang adil dan fair. Tapi sekarang sudah jelas bahwa pemerintah dan alat-alatnya meng-abuse power dengan membabi buta. Maka yang lebih tepat sekarang adalah yang kemarin diangkat di aksi Jakarta: if we burn you burn with us.
Chandra
gambar: X @haluandotco