Love Hate Relationship with Engineering

May 10, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya merasa mulai mencelupkan kaki ke dunia engineering waktu kuliah tingkat dua. Tahun pertama di ITB lebih kaya ekstensi SMA daripada kuliah. Waktu itu saya pun masih belum bisa menjelaskan kenapa pesawat bisa terbang secara memuaskan. Setelah di tingkat dua baru ada project-project yang walaupun belum terlalu memakai skill tapi setidaknya sudah menunjukkan bagaimana rekayasa bekerja. 

Kalau dihitung sejak tingkat dua alias tahun 2014, sampai sekarang sudah 6 tahun saya mempelajari dan menggarap bidang engineering. Ada beberapa hal yang membuat jatuh cinta sekaligus malas di waktu yang bersamaan.

Hal yang membuat saya jatuh cinta
1. Eksplorasi nyaris tak terbatas
Rekayasa (engineering) adalah soal mengeksplorasi kemungkinan yang bisa di capai di waktu yang akan datang lalu berusaha mewujudkannya. Karena sifatnya yang menghadap ke depan maka tidak banyak unsur yang menjadi batasan dalam eksplorasi di pikiran seorang perekayasa. Kalaupun ada batasan akan tiba waktunya seseorang menemukan cara untuk menghalau batasan tersebut atau melampauinya sekalian. Contohnya, karena perkembangan kecepatan komputasi terbatas rate perkembangan teknologi chip berbasis silikon maka orang menemukan dan mengembangkan quantum computing.

Kalau dilihat seminar-seminar teknologi atau engineering kebanyakan membahas hal-hal yang belum terjadi, misal revolusi mobil elektrik, nuclear power, atau unmanned aerial vehicle. Selanjutnya yang dibahas adalah soal target, timeline, dan pihak-pihak yang akan diajak berkolaborasi untuk mewujudkan cita-cita ini. Kadang tampak absurd, tapi begitulah engineering bekerja, dimulai dari visi dulu lalu mencari cara untuk menggapainya. 

2. Do it your way
Engineering sangat menekankan yang namanya dokumentasi (pembuatan dokumen). Sampai sekrup-sekrup terkecil pun harus tercantum. Tujuannya untuk mempermudah replikasi sekaligus pengurusan paten dan lain sebagainya. Hasil yang paling mahal harganya dalam sebuah pengembangan teknologi adalah dokumennya.

Tapi di luar itu engineering sangat luwes dan fleksibel. Luasnya bahasan dalam engineering membuat sulit untuk mengatur cara kerja orang-orang di dalamnya. Beda kasus menuntut metode yang berbeda pula. Orang-orang di dalamnya cenderung kreatif menjurus suka-suka. Jadi adanya dokumentasi juga penting untuk memvalidasi proses. Asal prosesnya valid, maka hasilnya diterima. Fleksibilitas ini menyenangkan untuk orang yang tidak suka diatur bagaimana dia sebaiknya bekerja.

3. No routine
Orang yang bekerja dalam bidang engineering setiap hari akan menemukan tantangan yang beragam. Untuk setiap masalah yang berbeda ada reward yang berbeda-beda pula. Jarang dilanda kebosanan yang disebabkan rutinitas berulang. Self satisfaction seorang engineer akan meroket ketika dia berhasil menembus tembok masalah yang sudah berhari-hari dia pikirkan. 

Tidak ada jaminan kalau hari ini sukses maka besok juga akan sukses, begitu juga sebaliknya. Itu juga menjadi sebab kesepahaman bahwa dalam engineering gagal itu tidak dosa. Tidak masalah gagal, asal tahu penyebabnya dan punya rencana solusi. 

4. Seragam di seluruh dunia
Disparitas perkembangan keilmuan engineering di seluruh dunia mungkin termasuk yang deviasinya rendah. Ada negara yang lebih dulu mengembangkan dan mengimplementasikan suatu teknologi karena fasilitas penelitian dan sumber daya yang lebih baik. Namun tidak lama berselang teknologi itu akan menyebar ke tempat lain di seluruh dunia. Lagi-lagi thanks to documentation.

Alhasil, forum-forum diskusi engineering biasanya melibatkan banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Pertukaran dokumen dan informasi juga terjadi sangat cepat. Jadi ketika menemui suatu masalah biasanya tersedia referensi solusi entah dari mana. Jarang ada masalah yang belum ditemukan penyelesaiannya oleh seseorang di belahan dunia yang lain. Kalau sampai menemukan masalah seperti itu berarti itu sebuah masalah yang mahal.

Tapi di sisi lain ada hal-hal yang suka membikin saya gemas dan rasanya ingin pindah ke bidang lain...

1. Unpredictable
Yap, masalah dalam sebuah pekerjaan atau project engineering bisa datang kapan saja, kadang di saat yang tidak tepat. Mood yang bagus bisa tiba-tiba runtuh hanya karena satu masalah yang kita sadar kita adalah salah satu penyebabnya. Kayanya dalam hal apapun jadi orang yang bertanggung jawab atas terjadinya sesuatu itu nggak enak. Pekerjaan dalam skala apapun punya kemungkinan untuk gagal, misalnya Space Shuttle Challenger. Bayangkan proyek tahunan dengan biaya jutaan dollar gagal dalam 73 detik, dan engineer dipaksa menyaksikannya, pasti sakit sekali.

2. Maximum RPM
Bukan cuma harus menyelesaikan persoalan rumit, engineer kadang-kadang juga diminta untuk berusaha menyelesaikan sesuatu yang tidak ada penyelesaiannya. Otak dipacu bekerja pada RPM tertingginya. Salah satu hal yang saya pelajari selama ini adalah untuk tahu kapan harus berhenti dan di satu titik bilang "ini nggak bisa diselesaikan". 



3. Butuh proses
Engineer (dan scientist) adalah profesi yang butuh waktu untuk matang. Jarang ada engineer yang bisa langsung ngetop di usia muda. Engineering adalah bidang yang sangat mengagungkan nurture daripada nature. Banyak orang di dunia engineering yang menghabiskan masa mudanya berada di belakang layar jauh dari spotlight padahal sedang melakukan sesuatu yang berarti untuk masa depan. Mereka memang minim recognition. Orang yang konsisten dengan keahliannya baru akan muncul ke permukaan pada usia 40 tahun ke atas, berbicara sebagai 'Ahli xxx', 'Praktisi di bidang xxx'. Jujur saja, tidak semua orang bisa bersabar.

Sekian curhatan dari saya. Kalau kata orang jawa hidup itu wang sinawang alias tergantung bagaimana kita melihat positif dan negatifnya. Setiap profesi dan bidang pasti punya plus minusnya masing-masing. Saya nggak berniat bilang engineering itu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Overall saya merasa profil diri saya cocok dengan tipe profesi di dunia engineering jadi saya selalu coba untuk mengambil angle bersyukur dalam hal ini. Saya senang kalau nanti ada yang share pengalamannya dari profesi lain, pasti menarik.

Selamat berpuasa!

Didi Kempot dan Backsound Masa Kecil

May 07, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Walaupun tulisan saya nggak mungkin setrengginas tulisannya Agus Magelangan, tapi ijinkan saya sebagai insan Jawa untuk ikut menyampaikan sesuatu tentang Pakdhe Didi Kempot. 

Jaman saya SD dulu, apalagi di desa, belum ada kebiasaan orang tua memasukkan anaknya dalam program les renang, piano, bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Jadi aktivitas saya sepulang sekolah sampai maghrib ya main. Asal sudah makan siang ijin main sudah di tangan, tidak dicari asal pulang sebelum gelap. Saat itu kalau keluar rumah pasti terdengar ada tetangga memutar musik keras-keras pakai speaker/salon-nya. Selain lagu-lagu pop Dewa, Slank, Padi, tentu ada juga kalanya lagu Didi Kempot diputar.

Dari pergaulan akhirnya tahu kalau lagu kaya gini namanya campursari. Sebagai anak kecil respon pertama saya sesimpel 'wah ini lagunya simbah-simbah'. Nama genrenya saja campursari, Gunungkidul banget, nggak masuk sama dunia anak muda yang waktu itu lagi gila Meteor Garden dan Amigos x Siempre, budaya asing sebelum masuknya Korean wave di Indonesia.

Momen lain seperti perayaan 17an bahkan nikahan juga muter campursari. Saya pikir orang-orang bodoamat sama lirik yang sebenarnya nggak cocok untuk acara nikahan tapi karena lagu-lagu Didi Kempot bisa buat joget ya show must go on. Kalau ada orang sedang renovasi atau bangun rumah biasanya lagu campursari juga jadi backsound. Tukang-tukang andalan asal Gunungkidul mungkin sudah menemukan bahwa musik meningkatkan efisiensi energi ketika bekerja. (Fun Fact: di daerah DIY, tukang bangunan paling elit adalah yang berasal dari Gunungkidul, mungkin seperti orang India di dunia tech Amrik sekarang)

Karena saya hanya mendengar sepotong-sepotong lagu campursari terutama karya Didi Kempot tanpa ada keinginan untuk tahu lebih lanjut, saya hanya tahu lagunya tanpa tahu judulnya. Walaupun tidak diinginkan kadang sampai hafal reff-nya juga sih. Sekarang ketika ada akses ke internet untuk cari lirik lagu dan chord baru ngeh 'oh lagu ini judulnya ini'.

Fast forward ke masa SMA. Saya buta alat musik hingga SMA. Tiga tahun di SMP saya cuma bisa main recorder. Walaupun pernah dibelikan keyboard tapi tetep hanya bisa doremi sederhana tanpa bisa main kombinasi kunci. Baru di SMA saya ketemu guru seni musik yang paten, namanya Pak Achid Nur Hidayat, beliau aktif di IG dan FB dengan nama Pakdhe KliminZs, silakan dicari kalau kepo. Bapake orang Gunungkidul, ngajar di dua sekolah sekaligus, SMAN 1 Bantul dan SMAN 1 Wonosari (sekolah favorit di GK).

Di SMA, seni musik di hari sabtu jadi pelajaran paling menyenangkan ke-2 setelah matematika (hehehe). Salah satu tugas yang masih saya ingat adalah kami per orang diminta belajar gitar lalu penilaiannya adalah main gitar sambil nyanyi lagu campursari. Lagu yang dipilih bebas asal ber-genre campursari. Lagu yang saya pilih waktu itu judulnya Layang Kangen, by Didi Kempot tentu saja. Tidak ada larangan menyanyikan lagu yang sama, tapi hasil eksplorasi teman-teman menghasilkan lagu yang sangat beragam. Khasanah pengetahuan saya tentang campursari otomatis bertambah.

Pada tugas-tugas berikutnya kami disuruh untuk main drum, cover lagu bebas, saya pilih Seventeen - Selalu Mengalah, dapat nilai 8 nggak jelek-jelek amat wkwk. Kami juga sempat dibagi kelompok untuk bikin band bawakan lagu Lestari Alamku Lestari Desaku alias Berita Cuaca by Gombloh, saya main keyboard. Tapi tugas yang paling kena tentu yang campursari, karena itu pertama kalinya saya main alat musik dan bisa 'bunyi'.

Ketika kuliah, karena sudah tidak lagi di tanah jawa, melodi yang sayup-sayup terdengar bukan lagi campursari tapi lagu Sunda yang saya nggak tahu artinya. Tapi dalam beberapa titik heavy rotation di youtube laptop saya adalah konser live-nya Didi Kempot. Entah kenapa saya lebih suka nonton versi live-nya daripada versi rekaman. Suara dan ekpresi melas para sad boys dan sad girls jadi bumbu yang bikin tontonan lebih menyala. Lip service dari Didi Kempot juga one of the best. Saya mau tunjukkan rekaman konser yang menurut saya bagus banget. Visual Full HD, sound mantap, musiknya bagus, Pakdhe Didi jempolan. Hebatnya, ini sebuah pensi SMA di Jogja!



Kemarin kita dapat kabar kalau Didi Kempot meninggal dunia. Saya nggak ingin mengaku sebagai orang yang sangat attach pada beliau. Pun saya nggak mau mengklaim sebagai fans berat. Namun setidaknya penghujung tahun lalu saya sudah berhasil mencoret satu bucket list saya yaitu nonton Didi Kempot secara live. Terima kasih Family Day BRI alias Brifest 2019. 

Bagi saya lagu Didi Kempot adalah media nostalgia yang mengingatkan saya pada rumah. Merefresh ingatan tentang lingkungan masa kecil dan tetangga-tetangga, tentang siang hari terik ketika saya bermain di halaman tetangga tanpa merasa kepanasan karena rimbunnya pohon-pohon di atas kepala. Menjadi pengingat bahwa sejauh apapun pergi, tidak boleh ada jarak dan sekat antara kita dan kampung halaman. Kalau pendidikan dan pengalaman menjadikan kita tidak lagi bisa melebur, ada yang salah dengan yang kita lakukan.

Selamat jalan Pakdhe Didi Kempot...


HCB

May 07, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Merinding boss, ketika tahu orang yang selama ini kita anggap akan punya masa depan yang cerah mendapat masalah yang bener-bener mengancam masa depannya. Menulis nama seoarang kawan di google biasanya direspon dengan deretan sosial media dan portal akademik. Aku yakin begitupun dia setahun yang lalu, sebelum sebuah kejadian memukul jiwanya yang aku yakin sebenarnya sangat kuat. Sekarang kamu telusuri namanya dan yang keluar adalah sebuah berkas persidangan.

Dulu dia tak ubahnya seperti teman lama yang kalau kita ada perlu tinggal cari instagram atau twitternya, buka DM, lalu ucapkan salam dan sampaikan keperluan. Bahkan kutahu dia mempublish kontak pribadinya dimana-mana karena tuntutan dan kesibukannya. Tapi kini not a single documentation can be found in the ordinary internet. Dia seperti hilang, tapi aku yakin dia masih ada.

Sebagai orang yang imannya masih naik turun, bukan sekali dua kali aku dalam hati masih biasa saja atau bahkan menyembunyikan senyum ketika orang lain jatuh, astaghfirullah. Tapi sejujurnya kali ini aku ikut jatuh melihat dia jatuh. 

Melihat jalan hidupnya, aku memposisikan diri sebagai orang yang akan tepuk tangan keras sekali saat dia sampai pada tujuan dan cita-citanya. Sambil menyanyikan sebuah lagu berjudul Rayakan Pemenang, "kau tiada pernah bisa terbantahkan, semua baru terbukti di jaman sekarang". Iya terbukti kalau dulu aku salah besar, dan sekarang mau minta maaf pun sudah sangat susah sekali.

Ramadhan ini, kalau mau diambil intisarinya adalah bahwa kita nggak pernah tahu apa yang kita lakukan ke orang lain efeknya baik atau buruk. Menyakiti orang dengan pembenaran bahwa dia akan memaafkan menjadi tidak valid ketika tidak ada jaminan bahwa kita akan bisa minta maaf. 

Aku nggak ingin punya pikiran bahwa setelah kejadian itu aku jadi orang lebih baik dari kamu. Tidak sama sekali. Aku berharap kamu bisa bangkit, kembali menjalani hidup, dan kita berpotongan jalan lagi suatu saat di masa depan nanti, teman.


Apa Kabar?

April 10, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Semakin hari semakin banyak yang nanya soal kabar saya di masa isolasi corona ini. Alhamdulillah saya sehat. Soal yang lain-lainnya saya mau ceritakan di sini.

Makan
Sejak corona heboh dan banyak perusahaan menerapkan WFH, omset pedagang makanan di daerah kawasan perkantoran turun drastis. Sepertinya kebanyakan dari mereka yang biasa berjualan sudah pulang kampung sejak akhir Maret.

Yang masih bertahan adalah yang memang penduduk setempat, restoran yang mengandalkan order online, dan franchise fast food. Sedangkan warung non permanen yang biasa berjualan di pinggir jalan mungkin tinggal 30% yang masih buka.

Saya sendiri sejak awal ada perintah social distancing sudah menyiapkan keperluan untuk bisa memasak di dalam kosan. Saya beli penanak nasi, teflon, panci, dan alat masak lain, serta beberapa macam sembako. Untuk kompornya kebetulan saya sudah punya kompor listrik. Air minum saya pakai galon seperti biasa.

Namun karena tidak banyak variasi masakan yang bisa saya buat, saya masih mengandalkan delivery online grabfood dan gofood. Saya pilih restoran yang memberikan promo besar sehingga sisanya bisa digunakan untuk tip saja. Rekomendasi saya untuk yang berlokasi di sekitar Kuningan/ Sudirman: Bebek BKB dan Ngikan.

Aktivitas
Sejak 4 minggu lalu tempat kerja saya sudah menerapkan WFH. Walaupun di awal sedikit kurang efektif tetapi makin kesini produktivitas makin mendekati level normal. Jam kerja saya memang jadi lebih pendek yaitu jam 9 sampai 4 sore. Siang hari tetap ada istirahat makan siang.

Di luar itu, saya baca buku, nonton film yang lalu saya buat review super singkat di instagram, nulis-nulis sedikit, riset kecil-kecilan soal beberapa hal, belajar main saham, dan main gitar. Iya saya memutuskan beli gitar untuk mengisi masa isolasi, siapa tau jadi jago mainnya habis ini.

Pagi atau sore hari saya jalan keluar untuk memastikan saya tetap bergerak minimal 6000 langkah. Biasanya sambil ke minimarket atau warung beli kebutuhan. This to preserve my sanity as well.

Komunikasi dan Hiburan
Alhamdulillah tidak ada masalah dengan jaringan internet dan listrik sehingga saya masih bisa dengan mudah terhubung dengan dunia luar. Ini sangat membantu karena di dalam kos, walaupun sesekali ngobrol dengan penghuni kanan kiri, tetap saja akan terasa sepi.

Hiburan saya di internet antara lain youtube (saya sedang suka nonton basket NBA dan video woodturning) dan film. Sejujurnya saya nonton film gratisan mengandalkan keluarga indoxxi. Masih mempertimbangkan apakah akan ambil langganan Netflix atau tidak, what do you think?

Ibadah
Jakarta termasuk kota yang gercep sejak awal meminta social distancing dan membuat himbauan untuk beribadah di rumah. Sekarang masjid-masjid di sekitar tempat tinggal saya sudah tidak menyelenggarakan salat berjamaah apalagi salat jumat. Masjid hanya dibuka untuk adzan.

Saya tidak tahu bagaimana nanti ibadah di bulan puasa yang notabene tinggal beberapa hari lagi. Kemungkinan akan jadi ramadhan paling sepi.

Transportasi
Meskipun harus physical distancing, kadang-kadang saya juga perlu pergi ke luar rumah. Saya yang sebelumnya sangat mengandalkan angkutan umum atau online sekarang beralih pakai motor sendiri untuk kemana-mana. Kalau tidak terlalu jauh saya memilih jalan kaki.

Sekarang pemprov DKI Jakarta sudah secara resmi menerapkan PSBB. Layanan transportasi umum di Jakarta dipangkas dan kapasitas dibatasi hanya 50% kapasitas normal.

Apa lagi ya yang perlu ditulis? Nanti diupdate kalau kepikiran. Stay safe everyone, sehat sehat. Begini banget ya jadi saksi sejarah dunia.

Doa

April 06, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Ya Allah
Kami manusia yang sangat terbatas
Memohon kepadaMu yang tak terbatas

Jika kami memilih pilihan yang benar
Jadikanlah pilihan itu jalan menuju kebaikan yang lebih besar

Jika kami memilih pilihan yang salah
Hindarkanlah kami dari keadaan yang bisa membuat kami lebih salah lagi
Berikanlah kemudahan untuk kami menyadari kesalahan
Berikanlah kerendahan hati untuk menerima pelajaran
Dan berikanlah kesabaran untuk menunggu waktu dimana kami bisa memperbaiki pilihan

Man arofa nafsahu faqad arafa rabbahu

March 26, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Apa yang terjadi ketika social distancing (atau physical distancing)? Pertama jelas kita jadi lebih jarang ketemu orang. Kita mungkin masih chatting, telepon, video conference, saling lihat di media sosial, dll. Tapi itu semua tetap tidak akan lebih banyak daripada interaksi yang biasanya terjadi.

Kita (terutama yang ngekos seperti saya), dibuat sadar bahwa selama ini kita diatur oleh sistem. Lebih tepatnya kita dibantu mengatur diri. Keharusan untuk keluar rumah memaksa kita untuk sarapan dan mandi pada waktunya. Sengantuk-ngantuknya kita belum tentu bisa istirahat siang karena selalu ada orang di sekitar kita. Banyak keputusan-keputusan sederhana yang ternyata selama ini pengaturannya datang dari luar diri kita.

And then what? Otoritas pengaturan diri itu saat ini dibebankan seluruhnya pada masing-masing individu. Ketika pandemi Covid-19 ini nanti sudah reda (dan semoga segera) akan terlihat mana orang yang memanfaatkan waktu sendirinya dengan optimal dan mana yang tidak.

Sudah hampir separuh bulan Maret lumpuh. Bagaimana jika ini nanti terjadi selama 1 atau 1,5 atau 2 bulan? Perhatikan ilustrasi berikut:


We don't want to go the whole year with this pandemic, but 30 instead of 365 will be ridiculous as well

Orang bisa ngaku 'aku udah selesai dengan diriku kok, mau coba hal baru'. Tapi virus ini akan membuktikan sejauh apa masing-masing dari kita mampu mengontrol diri sendiri. It has some positive sides tho..

Banyak aktivitas bermanfaat yang bisa dilakukan dalam masa-masa mengurung diri ini. Memperbanyak ibadah, berjemur sejenak di pagi hari, membaca lebih banyak buku, mencoba resep masakan baru, belajar main musik, fitnes di dalam rumah, mengembalikan pola tidur tepat waktu, dan lain sebagainya.

Setelah semua ini berlalu, katakanlah satu bulan lagi, apakah kita akan menjadi orang yang membuang 1,5 bulannya sia-sia atau menjadi orang yang fresh, sehat, dan punya kebiasaan-kebiasaan baik yang baru. Man arofa nafsahu faqad arafa rabbahu.

Semangat semuanya, we got to be strong. #dirumahaja

Jual HP Langsung Laku dari Rumah!

March 23, 2020 Posted by Chandra Nurohman 1 comment
Hari ini saya mencoba salah satu fitur yang ada di Tokopedia. Fitur ini namanya Langsung Laku, yaitu sebuah channel untuk menjual handphone bekas kita. Kebetulan saya mau jual dua hp saya yaitu Iphone 6s dan Blackberry Aurora (iya saya sebelumnya pakai BB Android). Iphone saya jual karena baterai sudah sangat drop dan mulai sering restart sendiri ditambah switch silent mati karena pernah jatuh. BB saya jual karena memang sudah tidak dipakai.

Kalau mau tahu apa itu Langsung Laku cek video ini aja. Saya yakin prosedurnya lebih enak disimak di video berikut daripada saya tulis disini. Check this out


Sebelum lanjut pastikan udah nonton videonya ya, biar nyambung hehe

Ada beberapa alasan kenapa Langsung Laku ini jadi fitur yang menarik menurut saya. Pertama karena kemudahannya, kedua harganya tawarnya, ketiga karena Loophole di dalamnya.

Cozy
Kalau sudah nonton video itu pasti tahu kalau sistem jualnya adalah hp yang akan dijual di-pickup di tempat kita. Kita bisa masukkan alamat rumah atau kantor sesuai kenyamanan.

Untuk saat ini fitur Langsung Laku menggandeng kurir AnterAja untuk proses pickupnya. Kita nggak perlu kemana-mana, cukup standby di rumah dan hp akan diambil. Dalam kondisi pandemi coronavirus seperti sekarang ini tentu sistem jemput bola sangat membantu.

Selain tidak perlu pergi kemana-mana, kita juga tidak perlu berhadapan dengan para penjual handphone di toko-toko yang kadang menyebalkan. Proses juga jadi sangat cepat karena ketika barang di-pickup hanya dicek nomor IMEI saja, sedangkan kalau kita jual hp ke toko pasti dicek semua fiturnya plus dicari-cari kekurangannya supaya mereka (toko) bisa beli dengan harga murah, namanya juga usaha.

Harga
Harga yang ditawarkan oleh Tokopedia kira-kira sama dengan harga tawar toko-toko. Saya tahu karena kebetulan saya lumayan sering berinteraksi dengan orang yang bisnis handphone. Kuncinya adalah saat ambil foto handphone pastikan terlihat jelas dan tampak mulus. Dengan begitu, penawaran akan tinggi.

BB saya ditawar 450K, harga yang wajar mengingat usia pemakaian, merk yang nggak populer, kualitas, dan harga jual kembalinya. Iphone 6s saya ditawar 1450K. Harga yang sangat berterima karena kondisi hp sudah nggak sehat-sehat amat dan jelas ada minusnya.

Inilah kelemahan Langsung Laku, tesnya tidak lengkap jadi tidak semua minus terdeteksi!

Loophole
Sesuai video di atas, komponen yang dicek hanya tombol volume up, volume down, tombol back (touch), touchscreen, wifi, kapasitas, dan accelerometer. Akibatnya matinya switch silent di Iphone saya tidak terdeteksi.

Kalau yang biasa pakai Iphone pasti tahu istilah Battery Health. Baterai saya sudah drop, tapi ini juga tidak terdeteksi. Kalau misalnya ada komponen yang pernah diganti misal kamera atau speaker sepertinya juga tidak akan ketahuan. Kalaupun ketahuan, tidak akan jadi pertimbangan penawaran.

Langsung Aja juga tidak meminta pemilik hp untuk menyertakan kotak hp, charger, headset, dan aksesoris lainnya. Jadi handphone batangan pun dapat dijual dengan mudah disini.

Kemudahan untuk tidak perlu keluar rumah dan harga yang kompetitif sebab adanya loophole itu membuat saya merasa beruntung memilih cara ini untuk menjual handphone. Kalau teman-teman juga ada rencana untuk menjual handphonenya, Langsung Laku boleh dicoba. Kalaupun tidak cocok dengan tawaran harganya, kita bisa membatalkan tanpa ada kerugian apapun.

Cheers!

Isolasi

March 16, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Masih dalam rangka corona, sebagai seorang introvert akut (pernah test sampe dapat introvert 80%), harusnya social distancing bukan masalah. Bahkan kalau bisa malah inisiatif isolasi diri sejak dini. Faktanya, ini memang sudah saya lakukan sejak hari Sabtu tanggal 14 kemarin.

Meski begitu saya nggak bisa sepanjang hari mengurung diri. Entah kenapa badan ini malah jadi anget kalau hanya berdiam di dalam ruangan 9 meter persegi ini. Dalam darurat virus begini badan anget dikit ngeri sendiri membayangkan yang tidak-tidak. Ternyata solusinya jalan keluar kosan 15-30 menit.

Kayanya ini gara-gara trauma. Walaupun badan alhamdulillah sehat, tapi situasi isolasi begini melempar pikiran saya ke tahun 2015 waktu kena cacar, Ya, saya kena cacar pas udah gede, awal semester 4 kuliah, dan kata google ternyata kena cacar pas dewasa akan lebih parah daripada kalau kena pas masih bocah. Waktu itu dua minggu saya bedrest termasuk skip the whole minggu pertama kuliah.

Posisi waktu itu sudah di Bandung karena ada acara perwalian dan lain sebagainya. Saya kemana-mana pakai masker, takut nular sekaligus takut ditanya kenapa. Maklum muka bentol-bentol khas cacar.

Empat hari saya mengisolasi diri di dalam kamar. Saat itu belum ngetren yang namanya food delivery jadi kalau mau makan ya harus jalan ke luar. Malas keluar = kelaparan. Obat dari dokter sampai habis belum sembuh juga. Ditambah kepikiran udah mau mulai kuliah dan harus muncul dengan bekas-bekas cacar di wajah.

Yang menemani saya waktu itu hanya tv yang saya nyalakan sekedar sebagai backsound. Nggak saya tonton karena lagi heavy rotation video klipnya OK GO di YouTube. Satu lagu yang spaling sering diulang judulnya Writings On The Wall. Lagunya bagus, video klipnya bagus banget. Saking seringnya, sekarang kalau muter lagu itu saya psikosomatis juga.

Setelah 4 hari akhirnya memutuskan pulang ke Bantul sebelum masuk kuliah. Selain Bantul nggak sedingin Bandung, namanya di rumah pasti selalu tersedia makanan haha

Alhamdulillah sekarang lebih baik. Saya mengurung diri dalam kondisi sehat dan menikmati hidup. Kemarin sabtu men-set-up dapur di dalam kamar berbekal kompor yang dulu dibawa dari Bandung. Kondisi di luar makin kacau. Orang-orang mulau mengurangi keluar rumah walaupun tadi saya lihat sepanjang jalan Karbela biasa saja seperti tidak kejadian apa-apa.

Semoga masalah corona ini masih dapat tertangani ya. Masyarakat menjaga diri dengan sosial distancing, semua pihak memahami kondisi upnormal ini, dan pemerintah berhenti denial!

Coronavirus

March 14, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Paling susah adalah melawan musuh yang nggak keliatan, tapi cepet nular. Dua bulan yang lalu manusia masih dengan pedenya menganggap diri sebagai pengendali dunia. Sekarang kita dibuat kocar-kacir oleh entitas yang sangat kecil bernama virus corona.

Perasaan saya sudah nggak enak waktu baca breaking news soal munculnya virus baru yang belum ada obatnya di sebuah supermarket di Wuhan, China. Waktu itu hanya seperti sebuah bencana lokal di sebuah kota di China. Lama-lama kondisi disana makin parah. Dimulai dari Wuhan satu per satu kota lockdown termasuk kota-kota penting seperti Beijing.

Kalau ibarat di sebuah sekolah, China adalah anak nerd yang nggak begitu disukai teman-teman sekelasnya. Sama orang barat, China dianggap penjahat ekonomi karena produk bajakan kualitas rendahnya serta hobi perang dagang. Sama tetangganya Jepang Korea mereka nggak akur, bahkan dengan Hongkong yang masih saudara dekat sering bertengkar. Di Indonesia etnis China dibenci karena kaya-kaya dianggap itungan dan anti mayoritas. China menderita nyaris tanpa bantuan, bahkan mendapat cemoohan rasis.

Masalahnya virus nggak kenal batas negara. Dengan seenaknya dia nyebrang ke negara-negara tetangga dan negara yang banyak dikunjungi orang China. Cilakanya orang yang bawa kadang nggak tau kalau dia ketitipan.

Asia timur kena, Eropa dan US ngimpor, Asia bagian yang lain ikut kena, Timur Tengah nggak kelewat, negara tetangga kita macam Malaysia, Singapura, Filipina kena. Akhirnya setelah merasa kebal karena terbiasa minum es dari air mentah, Indonesia ngaku kalau kena juga.

Virus juga nggak pandang bulu. Awalnya hanya orang-orang biasa. Lama-lama public figure, petinggi negara, selebritis, dan atlet dunia juga terkonfirmasi positif Covid-19. Jarang-jarang ada keadaan dimana pejabat punya resiko yang sama dengan rakyat...

Pemerintah ini memang agak ngeselin. Memonopoli informasi yang beredar di masyarakat. Kalau masih ingat, waktu itu case 1 dan case 2 corona di Indonesia yang berinisiatif melapor dan meminta diperiksa adalah pasien sendiri, dan ternyata positif, lalu diisolasi. Waktu itu pemerintah sudah nggak punya pilihan. Kalau mau mengelak tinggal nunggu waktu pasien ini bicara sendiri di media dan terbuka semuanya. Pemerintah akhirnya mengumumkan.

Hari-hari selanjutnya pasien positif terus bertambah. Per sore ini hari Sabtu tanggal 14 Maret sudah 96 teridentifikasi positif menurut task force corona bentukan presiden. Lagi-lagi pemerintah nganyeli dengan ambil tindakan tegas. Justru orang-orang di bawahnya lebih aktif.

Solo sudah menetapkan KLB, Jakarta menutup tempat umum dan sekolah, Sleman sudah menutup sekolah, universitas mengubah cara pengajaran jadi online/jarak jauh. Beberapa kantor mengijinkan work from home. Orang-orang di daerah dan institusi bergerak membuat keputusan.

Memang susah jadi pemerintah. Kalau mereka banyak bicara bisa-bisa masyarakat tambah panik. Kalau ada lockdown maka negara terancam lumpuh, apalagi Jakarta. Orang-orang yang mencari nafkah dari hari ke hari akan susah. Orang yang punya uang pun akan bermasalah karena buat apa punya uang kalau toko nggak ada yang buka, uang nggak bisa dimakan.

Masalah lain Indonesia itu harus diakui negara yang nggak kaya-kaya amat. Tidak seperti Singapura Jepang Korsel yang punya dana tak terbatas untuk mengatasi dampak corona. Ibaratnya Singapura adalah rumah tangga kaya yang akan melakukan apapun at all cost demi kesehatan dan keselamatan keluarganya. Sedangkan Indonesia adalah keluarga biasa saja yang nggak punya dana untuk hal hal luxury, lebih parah lagi, keluarga ini anaknya banyak.

Dampak corona nggak akan bisa dihindari. Korban pasti ada, ekonomi pasti turun. Tapi sebelum petugas medis ngeri tertular corona, pemilik usaha kecil menutup tokonya, dan abang ojol kesulitan tutup poin, pemerintah harus siap kalau nanti jadi yang pertama babak belur.

Terakhir, WTF orang yang ngakat duta imunitas corona di saat-saat begini!!!

Setiap Jam di Jakarta Rush Hours

February 20, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments


Saat masih di Jogja bisa dibilang saya jarang pergi ke luar kota. Lebih jarang lagi pergi untuk tujuan liburan. Perjalanan yang saya alami lebih banyak karena urusan sekolah dan semacamnya. Pertama kali naik pesawat, pertama kali ke luar negeri, tujuannya keperluan akademik, lomba lah, pertukaran pelajar lah. 

Ketika saya pindah ke Bandung tahun 2013 saya menemukan konsep yang sebelumnya jarang saya pikirkan. Ternyata ada sebagian orang yang menjadikan 'liburan tahunan' sebagai sebuah rutinitas. Saya mulai menjumpai pertanyaan 'tahun ini liburan kemana?', 'tahun baru kemana?'. Walaupun disebut liburan tahunan pada prakteknya bisa 2 sampai 2 kali dalam setahun.

Bukannya saya nggak pernah liburan, pernah. Tahun baruan di luar kota juga pernah. Tapi itu nggak rutin. Sebagian besar tahun baru di masa ABG saya dihabiskan bersama teman pemuda sekampung atas instruksi bapak untuk sering-sering bermasyarakat dengan tetangga kiri kanan. 

Liburan juga pernah ke Jakarta, Kalimantan, Lombok, dll tapi lebih banyak waktu libur sekolah dihabiskan di rumah aja. Kalau ke luar kota biasanya ke tempat saudara yang lokasinya nggak jauh-jauh amat dari Jogja. Sedangkan liburan yang benar-benar private sekeluarga sangat jarang dan memang sepertinya bukan begitu budayanya.

Ketenangan hidup di daerah mungkin berpengaruh ya. Jadi nggak merasa liburan sebagai kebutuhan yang harus disegerakan. Wisata kuliner bersama keluarga dan mampir di beberapa tempat wisata dalam kota saja sudah lebih dari cukup. Say it, mungkin hampir semua tempat makan ikonik di Jogja sudah pernah saya coba.

Tapi ketenangan ini agak sulit di dapatkan di Jakarta. Sebagai sebuah kota metropolitan, disini orang-orang sangat bersemangat mengejar impiannya (ini bahasa halusnya) dan mencari uang (ini realistisnya). Banyak hal diukur secara materialistis. Jadinya orang sibuk dan kemrungsung. 

Tidak heran kalau Bogor dan Bandung selalu macet di akhir pekan. Orang Jakarta ingin ngadem. Ngadem dari suhu Jakarta yang lumayan hot, dan ngadem menjauh dari rutinitas yang menekan di lima hari lainnya. Orang Jakarta sangat menghargai weekend (setidaknya lebih dari Jogja dan Bandung), yang ini saya suka.

Secara pekerjaan, bekerja di Jakarta atau kota besar lainnya belum tentu lebih berat daripada di daerah suburban. Tapi tekanan untuk terus bergerak dan perform itu membuat banyak orang Jakarta bundet pikirannya. Nggak heran kalau liburan tahunan jadi agenda yang nggak pernah lupa dijadwalkan. 

Dengan standar penghasilan ibukota yang lumayan tinggi memang memudahkan orang-orang ini untuk pergi ke luar kota bahkan luar negeri. Adil sih, setelah hari-hari yang menguras energi menyempatkan waktu dan biaya untuk self reward bisa dimaklumi. 

Saya senang jalan-jalan ke luar negeri. Tapi untuk saat ini destinasi yang selalu ingin saya kunjungi ya pulang ke rumah, ke Jogja. Hari Jumat dimana saya sudah booking tiket untuk pulang ke Jogja sore harinya selalu susah untuk fokus bekerja, karena sudah kebayang pulang. Lalu hari Minggunya selalu eman-eman untuk cepat pulang. Tapi bagaimanapun banyak hal ke depan harus disiapkan 

-chandranurohman-