Rekomendasi Restoran Indonesia di Belanda

January 11, 2025 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Katanya Belanda adalah negara yang paling banyak restauran Indonesia-nya di antara negara-negara lain di Eropa. Tentu ini wajar mengingat hubungan sejarah kedua negara dan banyaknya WNI atau warga keturunan Indonesia di Belanda. Berikut adalah lima rekomendasi restoran Indonesia berdasarkan petualangan kuliner kami.

            Warung Barokah (credit: dok. pribadi)

Tapi sebelum itu disclaimer dulu, secara garis besar ada dua jenis restoran Indonesia di Belanda kalau dilihat dari target pasarnya. Tipe pertama adalah yang menyasar orang kulit putih, restoran jenis ini sudah lebih westernized dari segi menu maupun suasana. Makanannya cenderung lebih fancy, harganya lebih tinggi, dan kebanyakan menjual olahan babi dan alkohol. Jenis kedua adalah yang menyasar warga Indonesia, menunya rumahan dan lebih tradisional seperti nasi rames dan cendol, harganya lebih murah, dan kebanyakan halal. Restoran yang kami kunjungi yang model kedua, maka itu juga yang akan kami rekomendasikan di sini.

1. Warung Barokah, Amsterdam

Ini adalah restoran Indonesia pertama yang kami kunjungi dan kami sudah ke sana beberapa kali. Walaupun kecil, tapi kami merasa tempatnya sangat homey dan paling berasa Indonesianya dibandingkan resto-resto yang lain. Bu Sri, sang pemilik restoran, dengan senang hati melayani dan ngobrol bahasa Indonesia dengan para pengunjung. Beliau berasal dari Jawa Timur sehingga di antara menu andalan Warung Barokah adalah rujak cingur dan tahu campur. 

  Ramesan Warung Barokah (credit: dok. pribadi)

Warung Barokah lumayan jadi top of mind ketika bicara tempat makan Indonesia di Belanda dan sudah berulang kali diliput media. Menunya beragam, saya paling suka rames dengan segala pilihan lauk dan sayurnya. Rasanya top tier dan porsinya bikin kenyang. Satu-satunya catatan adalah lokasi Warung Barokah ini agak minggir, sekitar 6 kilometer dari Stasiun Amsterdam Centraal dan perlu naik transportasi umum atau kendaraan untuk ke sana. Tapi tentu worth it untuk makanan, orang-orang, dan tempat senyaman itu. Oh ya, bakso beranaknya juga recommended.


2. Toko Ming Kee, Den Haag

Meskipun konsepnya Chinese take out, Ming Kee menjual beraneka macam masakan Indonesia yang bahkan belum tentu ada di tempat lain, seperti lele goreng. Kami sudah ke Ming Kee beberapa kali dan bisa dibilang jadi salah satu favorit kami. Harganya paling murah dibanding yang lain, satu porsi nasi ayam goreng hanya €7.5 dan banyak menu yang masih di bawah €10. Untuk desert, es cendolnya mantep apalagi kalau beli yang ukuran besar.

   Ayam goreng di Ming Kee (credit: dok. pribadi)

Ada 2 Ming Kee di Den Haag, satu Ming Kee 'halal' ini yang menjual masakan Indonesia, satu lagi yang pure Chinese. Bagusnya, mereka memisahkan semuanya secara ketat, meskipun berdekatan hanya beda gang, pengunjung tidak bisa pesan dari satu Ming Kee untuk dimakan di Ming Kee yang satunya, jadi alat masak dan makan pun terpisah. Secara lokasi, Ming Kee sangat mudah dijangkau dari Den Haag Centraal dan kawasan perbelanjaan Spui.


3. Pempek Elysha, Den Haag

Sesuai namanya, spesialis Elysha ada di pempeknya yang memang sangat enak. Bahkan kalau dibandingkankan dengan pempek di Indonesia pun rasanya tidak kalah. Restoran ini sangat cocok untuk penggemar pempek dan yang kangen jajanan ini. Beberapa restoran Indonesia lain punya menu pempek sebagai snack, tapi kalau mau yang paripurna ya sebaiknya coba langsung punya Elysha.

       Pempek kapal selam (credit: dok. pribadi)

Selain itu Pempek Elysha juga menyajikan berbagai masakan Indonesia lain seperti olahan ayam, bebek, ikan, ketoprak, tahu telur, es cendol, es durian, dan lain sebagainya. Lokasinya masih di Den Haag tapi bukan di centrum, satu kali naik tram dari stasiun centraal dan Anda akan sampai di tempatnya.


4. Masakan Padang Lapek, Den Haag

Ini adalah Restoran Padang paling terkenal di Belanda bahkan Eropa. Banyak orang Indonesia dari berbagai negara datang ke sini, wajar kalau warungnya selalu penuh sampai kadang perlu waiting list. Padahal restoran ini belum lama pindah tempat baru yang lebih besar dari sebelumnya (hanya depan-depanan dengan kios lamanya sih). Daftar menunya layaknya restoran Padang di Indonesia: rendang, ayam pop, tunjang, kerupuk kulit, daun singkong, dll. 

       Rendangnya Lapek Jo (credit: dok. pribadi)

Waktu kesini kami pesan rendang daging dan ayam pop, dua menu yang menurut kami representatif untuk menilai sebuah restoran masakan Padang. Enak, nggak jauh dari Padang Sederhana lah kalau di Indonesia. Mampu menghadirkan rasa Padang di tempat yang tidak terlalu kaya akan spices ini sungguh sesuatu yang patut diapresiasi. Jadi pay a visit kalau kalian datang ke Belanda.


5. Toko Bersama, Amsterdam

Satu restoran favorit lain di Amsterdam, Toko Bersama juga sangat layak jadi pilihan ketika ingin makan masakan Indonesia. Lokasinya tidak terlalu jauh dari centraal, hanya sekitar 3 kilometer. Menu ramesnya lengkap dan sangat bersaing secara rasa dan harga, rasa sayur bayamnya cocok banget untuk saya yang biasanya kurang doyan sayur. Mereka punya sambal homemade yang juga enak. Tapi memang selain rames tidak terlalu banyak pilihan menu lainnya.

    Rames di Toko Bersama (credit: dok. pribadi)

Pelayanannya sangat oke, saat itu kami datang waktu warung belum buka, tapi karena pemiliknya tahu di luar dingin kami dipersilakan menunggu di dalam, bahkan dibuatkan teh hangat gratis. Mereka punya sebuah rak besar berisi bahan-bahan masakan Indonesia dan Asia pada umumnya seperti kecap ABC dan saus Sriracha.

Itu tadi beberapa restoran favorit kami. Sebagai honorable mention ada beberapa tempat lain seperti Iboenda (Amsterdam), Pasundan (Nijmegen), dan Praboemoelih (Den Haag). Semoga bermanfaat, ambil baik-baiknya saja.

Thanks,
Chandra

Antwerp

January 05, 2025 Posted by Chandra Nurohman No comments
Antwerp adalah kota besar Belgia yang letaknya paling dekat dengan Belanda. Dari mana saja di Belanda Antwerp bisa dicapai lewat perjalanan darat dalam 3 jam atau kurang, alternatif lainnya bisa menggunakan kereta yang mana akan lebih cepat lagi. Stasiun Antwerp Centraal disebut-sebut sebagai salah satu bangunan stasiun paling cantik di Eropa. Stasiun yang umurnya sudah lebih dari 1 abad ini akan menyambut pengunjung dari berbagai penjuru karena stasiun ini merupakan salah satu hub penting jaringan kereta Belgia yang juga melayani perjalanan internasional. Kalau dilihat desainnya, stasiun ini dibangun bukan hanya atas pertimbangan fungsional tapi juga estetika.

    Antwerp Centraal Station (credit: dok. pribadi)

Centraal Station di malam hari (credit: dok. pribadi)

Dari stasiun, tourist akan berbondong-bondong berjalan ke arah kawasan Grote Martk (Pasar Gede). Sepanjang sekitar 1.5 kilometer, berderet kafe, restoran, shopping outlet, dan toko perhiasan. Salah satu penggerak ekonomi Antwerp adalah bisnis jewelry terutama diamond yang banyak dipasok dari Tiongkok. Saking baiknya hubungan dagang Antwerp dengan negeri tirai bambu itu, pemerintah RRT sampai membangunkan monumen Nello & Patrasche sebagai ucapan terimakasih, monumen itu berupa sebuah patung marbel berbentuk anak kecil dan anjing yang berselimut. 

    Patung Nello & Patrasche (credit: dok. pribadi)

Patung ini berada di pelataran katedral Onze-Lieve-Vrouwe, sebuah gereja di pusat Antwerp yang juga jadi destinasi para wisatawan. Gereja ini dikelilingi bangunan dengan arsitertur khas Eropa lama. Salah satu unique selling point dari Antwerp ini adalah bercampurnya arsitektur lawas dan modern yang saling berdampingan. Beberapa toko souvenir tersedia di sini, menyediakan cenderamata berupa postcard, magnet kulkas, kaos, dan lain sebagainya. 

Hanya selangkah dari sana tibalah kita di Grote Markt. Area ini seperti city center-nya Antwerp sekaligus halaman Stadhuis (balaikota). Pada akhir tahun kemarin sedang berlangsung sebuah festival winter market sehingga di lokasi ini banyak berdiri stall yang menjual jajanan, cadeau (gift shop), dan aksesoris. Tumplek blek para wisatawan berbelanja atau sekedar mengabadikan momen di sana. Di depan Stadhuis berdiri sebuah patung Brabo monument yang sudah berdiri sejak abad 18.

  Stadhuis, Brabo, dan market (credit: dok. pribadi)

Bergeser sedikit dari kawasan Grote Markt, pengunjung bisa menjumpai sebuah sungai yang membelah kota Antwerp. Di tepian sungai ini ada sebuah benteng tua yang ikonik yang dinamai Het Steen. Sama seperti banyak kota di Benelux, Antwerp punya lumayan banyak museum dan salah satu yang terkenal adalah MAS Museum. Saya kemarin tidak sempat kesana, tapi katanya di museum ini pengunjung bisa naik ke rooftop untuk menikmati pemandangan kota Antwerp dari atas.

Karena banyaknya wisatawan dan mungkin terkait juga hubungan dagang Antwerp-China tadi, pilihan kuliner di Antwerp sangat beragam. Ada jajanan tradisional Belgia sepergi waffle, ada kafe dengan nuansa western, italiano, latin america, middle east, sampai asian. Bahkan hanya 200 meter dari stasiun sentral Antwerp ada kawasan Pecinan yang sudah pasti di dalamnya banyak toko-toko dan tempat makan oriental. Untuk mencari makanan halal juga tidak sulit, ada sebuah gerai ayam goreng halal Belchicken yang selalu ramai karena selain makanannya enak dan tempatnya luas, mereka tetap buka di libur natal. Lalu ada juga warung wok halal bernuansa thai-viet yang menyajikan mie hangat yang cocok sekali untuk orang asia kedinginan seperti kami.

    Wok bami halal, fuiyoohh (credit: dok. pribadi)


                                   -Antwerp-
           Antwerp, Belgium (credit: dok. pribadi)

Thanks,
Chandra

Diaspora Nordik

December 28, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Apa buku yang menurutmu sangat bagus hingga membuat kamu ingin baca semua buku dari penulis yang sama? Saya ada beberapa, salah satunya Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Sejak itu saya baca semua bukunya yang bisa didapat di toko buku: Blink, Outliers, What the Dog Saw, David and Goliath, Talking to Strangers, The Bomber Mafia, dan tentu saja yang terakhir kemarin Revenge of the Tipping Point yang dirilis pada Oktober 2024 atau sekitar 25 tahun setelah buku pertamanya.

Revenge of the Tipping Point (ROTTP) masih banyak berbicara soal critical mass, epidemi, dan hal-hal viral. Bedanya dengan Tipping Point yang pertama, pada ROTTP ini Gladwell banyak memberikan contoh fenomena sosial yang sifatnya negatif seperti krisis opium, konflik ras, s**cide rate, coronavirus, tren perampokan bank, sampai Holocaust. Malcolm Gladwell mengingatkan bahwa mekanisme sosial yang sama dengan yang menghasilkan kesuksesan marketing bisa juga menyebabkan berbagai masalah sosial hingga kriminal.


Salah satu bahasan dalam Revenge of the Tipping Point adalah small area variation. Ada penelitian pada dokter dan rumah sakit di dua kota di Amerika. Dua kota ini sangat mirip dari segi populasi, ekonomi, dan geografis, tapi somehow dokter-dokter di dua kota ini punya cara pendekatan yang extremely berbeda ketika menangani pasien penyakit dalam. Perbedaan di kota A dan kota B ini sulit dijelaskan secara logis. Lebih mengejutkan lagi ketika ditemukan bahwa ketika ada dokter dari kota A pindah ke kota B, pendekatannya ke pasien akan berubah menyesuaikan dengan cara dokter B, walaupun itu berbeda jauh dengan yang sudah dia lakukan bertahun-tahun di A. Maka kesimpulannya yang membuat berbeda bukan orangnya melainkan tempatnya, ada overstory yang meliputi orang-orang di suatu tempat yang membuat mereka berperilaku sedemikian rupa. Kasus small area variation ini ternyata terjadi di banyak tempat di berbagai bidang.

Saya dulu amazed waktu pertama kali motoran ke BSD karena pengendaranya tertib lalu lintas banget, berhenti di belakang marka, nggak ada yang ngeblong lampu merah, dan ngegasnya sopan. Padahal itu orang-orang yang sama dengan yang berlalulintas secara semrawut di Jakarta dan Tangsel non-pengembang, ya termasuk saya juga. 

Bagaimana bisa setelah melewati pagar BSD tiba-tiba orang jadi bijak? Apakah ada tulisan 'Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas'? Nggak, nggak ada. Yang terjadi adalah ketika orang memasuki BSD bawaannya segan mau neko-neko karena (1) lingkungan tertata rapi sehingga mengesankan di situ harus tertib dan (2) semua orang do tertib. Orang nggak ingin mencolok ndugal sendiri, orang nggak nyaman berbeda dari yang lain. Jadi yang bikin taat lalu lintas itu overstory, bukan polisi. 

Khusus untuk kasus nomnoman yang kebut-kebutan di jalanan BSD di tengah malam itu beda cerita. Dalam kasus ini yang bekerja adalah critical mass, dimana di malam hari mereka merasa jumlah mereka cukup banyak in percentage to general population (karena orang-orang lain dah pada tidur) sehingga mereka merasa bisa melakukan sesuatu. Bareng-bareng terus merasa gagah lah.

Variasi ini tidak harus tempat fisik, coba lihat perbedaan pendapat soal calon presiden kemarin di media sosial yang berbeda: twitter vs instagram vs tiktok. Pada buku ROTTP ini juga diberikan contoh bagaimana media (dalam hal ini TV) memberikan pengaruh ke masyarakat. Media tidak secara hard selling menanamkan suatu paham tapi media bekerja menyatukan orang-orang. Media menyeragamkan cara berpikir audiensnya (pertimbangan penting-tidak penting, etis-tidak etis, dll). Maka citra gemoy diterima berbeda oleh pengguna satu platform dengan platform lainnya, satu bilang lucu satu bilang blas ramasuk.

Setelah tahu soal small area variation tadi, saya jadi mikir sedikit lebih panjang kalau mau membanding-bandingkan sesuatu. Orang berkendara di Jelupang dan BSD saja bisa beda kelakuannya padahal sebelahan, orang tetanggaan saja bisa beda pandangan politiknya hanya karena channel youtube yang disubscribe beda, kok bisa-bisanya ada orang membandingkan pendidikan Indonesia dengan Nordik, atau mendukung PPN 12% dengan argumen pajak tinggi di Eropa. Ya nggak bisa lah. Populasinya beda, iklimnya beda, budayanya beda. Maka lucu aja kalau ada diaspora anyaran yang fafifu soal Indonesia harus begini begitu, lebih lucu lagi melihat tanggapan orang-orang yang nyuruh diam dan menjulukinya diaspora nordik alias norak dikit.



Chandra




Akrab

December 22, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Bicara produk, Paket Akrab dari provider XL ini menurut saya salah satu yang cemerlang. Saya sudah berlangganan sejak April 2023 dan sampai saat ini masih setia menggunakannya sebagai solusi internet mobile. Kelebihan paling utama dari produk ini adalah kemudahan untuk menggunakan satu sumber kuota bagi beberapa nomor sekaligus. Itulah yang saya manfaatkan untuk mengorganisir internet untuk orang tua.

Sebenarnya saya adalah pengguna provider lain sejak SMP hingga sekarang, tapi saya sengaja beli kartu XL demi skema paket internetnya. Sekalian dipakai jadi nomor burner lah, nomor yang ditaruh dimana-mana, buat janjian COD-an, dan semacamnya. Karena ingin berlangganan paket Akrab, saya juga belikan nomor XL burner untuk bapak. Sementara ibuk sudah jadi pelanggan setia XL sejak pertama kali pakai handphone. Belakangan nomor AXIS juga bisa gabung ke Akrab karena dua provider itu satu grup.

Paket Akrab adalah skema layanan internet dari XL yang memungkinkan beberapa nomor untuk sharing satu sumber kuota data. Konsepnya seperti family subscription di platform-platform digital dimana satu orang jadi koordinator, di sini adminnya saya. Saya daftarkan nomor bapak dan ibuk untuk masuk ke dalam grup ini. Karena mau dipakai untuk 3 orang, saya pilih paket 45GB/180ribu. Sampai beberapa bulan yang lalu saya lihat opsi ini masih ada, tapi barusan saya cek offeringnya sudah berubah dan justru jadi makin murah karena sedang diskon.

Shared quota 45GB itu akan dipakai oleh 3 orang, selanjutnya masing-masing orang juga mendapat bonus setidaknya 8GB (bisa lebih) yang akan terpakai jika shared quota sudah habis. Dulu saya juga mengambil kuota internet dari sini, tapi sejak pindah saya hanya jadi organizer saja. Paket ini auto renewal tiap bulannya asal saldo mencukupi di tanggal jatuh temponya. Jika auto renewal gagal karena pulsa tidak cukup/lupa top up pengguna harus subscribe ulang dan mendaftarkan nomor-nomornya lagi, bagian ini rada pain point karena subscribe ulang oke tapi kalau bisa ya nomor yang terakhir didaftarkan masih ada tanpa perlu mengulang dari awal.

Karena saat ini hanya dipakai bapak ibuk, paket 180 ribu ini cukup untuk dipakai sebulan tanpa perlu topup atau tambahan add-on. Jadi retensi terkuat dari paket ini bukan masalah harganya, 180 ribu untuk 2 handphone menurut saya adalah harga yang bagus tapi nggak spesial juga. Justru yang paling saya suka dari Akrab adalah karena semua pengaturannya ada pada organizer sehingga orang tua tidak perlu melakukan apapun. Sesimpel beli paketan ke konter HP pun nggak perlu, tinggal menunggu nanti paketan akan terbaharui lagi. 


Kalau bisa ngasih ke orang tua tentu mulia, tapi sebagai generasi yang disebut-sebut paling tech savvy ini kita punya banyak alternatif cara untuk membantu orang tua lewat teknologi. Misalnya pasang wifi di rumah hingga handphone sudah langsung connect, langganan YouTube premium family sehingga orang tua kalau nonton bisa tanpa iklan, dan lain sebagainya termasuk paket Akrab tadi. Sebaliknya, paket Akrab ini juga bisa dipakai oleh orang tua yang anaknya beranjak dewasa dan mulai perlu handphone dan internet.

Kelebihan lain dari Akrab-nya XL adalah kemudahan untuk melakukan segala sesuatunya via app, termasuk memantau usage dan sisa kuota sehingga tahu in case perlu nambah top up. Meski begitu user experience-nya mungkin bisa ditingkatkan, tidak buruk juga tapi kadang-kadang updatenya lambat seperti sudah isi pulsa tapi di aplikasi ada jeda hingga pulsanya bertambah. Jadi biasanya saya tidak nunggu sampai menjelang jatuh tempo untuk beli pulsa, topup sejak beberapa hari sebelumnya.


Chandra

Indonesia, Ik Hou van Jou

December 21, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments

Indonesia Ik Hou van Jou (Rayuan Pulau Kelapa)
By Anneke Gronloh

Oh Indonesia mijn geboorteland
Oh Indonesia tanah airku
Het mooiste eiland waar de zon heet brandt
Pulau yang cantik di mana matahari bersinar terang
Het zoete fruit de rijpe doerian
Buah manis, durian nan matang
Kroncong muziek en zachte gamelan
Musik keroncong dan gamelan yang lembut
Het warme land waar ik zoveel van hou
Hangatnya bangsa yang sangat aku cintai
Ik zing dit lied zo graag alleen voor jou
Aku bahagia menyanyikan ini untukmu
Omdat ik dan een beetje bij je ben
Karena dengan begitu aku merasa bersamamu
En zo mezelf verwen
Dan itu terus membayangiku

Alles wat ik weet en nooit meer vergeet
Semua yang aku tahu dan tidak pernah kulupa
Indonesia ik hou van jou
Indonesia aku cinta padamu
Mijn geboorteland prachtig palmenland
Tanah airku pulau kelapa yang indah
Indonesia ik hou van jou
Indonesia aku cinta padamu

De blije mensen en hun stille kracht
Rakyat bahagia dan kekuatan yang tenang
De rijke sawahs met hun groene pracht
Sawah hijau membentang nan megah
Waar de melati bloem het mooiste bloeit
Dimana bunga melati mekar dengan indah
En waar de klapperboom het snelste groeit
Dan dimana pohon kelapa tumbuh tinggi
Zoals de cicak lachen aan de wand
Cicak-cicak tertawa di dinding
Zo ben ik trots op mijn geboorteland
Membuatku bangga pada tanah airku
Je blijft voor altijd als ik jou bezing
Engkau abadi dan selalu ku puji
In mijn herinnering
Dalam ingatanku

Alles wat ik weet en nooit meer vergeet
Semua yang aku tahu dan tidak pernah kulupa
Indonesia ik hou van jou
Indonesia aku cinta padamu
Mijn geboorteland prachtig palmenland
Tanah airku pulau kelapa yang indah
Indonesia ik hou van jou
Indonesia aku cinta padamu

Alles wat ik weet en nooit meer vergeet
Semua yang aku tahu dan tidak pernah kulupa
Indonesia ik hou van jou
Indonesia aku cinta padamu

Solstice

December 15, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Selain perkara suhu, hal yang juga harus dibiasakan saat menjelang musim dingin adalah perubahan panjangnya hari. Harinya sih tetap 24 jam, maksud saya panjang siang dan malam harinya yang berubah. Pada 21 Desember nanti akan terjadi Winter Solstice yaitu hari dimana siang harinya terpendek sepanjang tahun. Menuju kesana, saat ini juga sudah terasa betapa siangnya sebentar dan malamnya lama. Sekarang ini jam 8 pagi masih gelap, sementara belum jam 5 sore sudah gelap lagi. Sungguh secara teknis ini waktu yang sangat nyaman untuk puasa. Berikut foto dengan timestamp.



Dengan waktu terbit dan tenggelamnya matahari yang agak awkward ini, kadang kita kehilangan track atas waktu. Di pagi hari rasanya tahu-tahu sudah siang jam 10 atau 11 padahal matahari baru saja keluar. Sebaliknya di sore hari rasanya sudah larut karena matahari sudah terbenam dari tadi padahal ternyata baru jam 8. Ini semua terkait dengan bagaimana bumi mengelilingi matahari, bagaimana bumi sendirinya punya kemiringan, dan pada akhirnya bagaimana musim dan iklim terbentuk.

Solstice terjadi karena kemiringan (tilt) bumi yang 23.5 derajat itu. Di Indonesia tidak terlalu terasa karena berada dekat khatulistiwa sehingga waktu terbit dan terbenamnya matahari hanya swing beberapa menit saja (terasa saat imsak / buka). Tapi di tempat dengan latitude tinggi alias jauh dari ekuator perubahannya besar. Pada bulan Juni di belahan bumi utara terjadi Summer Solstice (kebalikan winter solstice) dimana siang harinya sangat panjang, saat itu jam 3 pagi matahari sudah terbit dan baru terbenam setelah jam 10 malam di Belanda. Lalu pada bulan Desember seperti saat ini terjadi winter solstice. Gejala sebaliknya tentu terjadi di belahan bumi selatan.

Kalau dari sudut pandang kita di bumi, seolah matahari bergerak dalam 2 orientasi. Pertama dari timur ke barat yang menyebabkan adanya siang dan malam. Kedua, gerak semu matahari sepanjang tahun bolak-balik antara utara dan selatan khatulistiwa yang menyebabkan adanya musim. Tapi kita juga tahu bahwa tata surya itu sebenarnya heliosentris, artinya matahari sebagai pusat. Maka sejatinya kita (bumi)-lah yang bergerak terhadap matahari. Siang dan malam terjadi karena rotasi bumi sehingga kadang kita menghadap matahari (siang) dan kadang membelakangi matahari (malam). Sementara gerak semu matahari disebabkan revolusi bumi mengelilingi matahari dengan kecepatan 1 tahun untuk 1 putaran. 

Masalahnya bumi mengelilingi matahari dalam posisi miring 23.5 derajat, membuat bagian bumi yang terpapar panas matahari secara tegak lurus/frontal selalu berubah. Dua kali dalam setahun matahari menerangi tepat di atas khatulistiwa sehingga di seluruh belahan bumi panjang siang harinya relatif segaram, ini disebut equinox (equal+night). Tapi selain di hari equinox itu titik 'hotspot' yang diterangi marahari akan bergeser ke utara dan selatan. Titik balik paling utaranya adalah lintang yang melewati Mesir, Arab Saudi, India dan Meksiko sebelum kembali lagi ke selatan. Sementara titik balik selatannya melewati Australia, Chile, dan Afrika Selatan.


Ilustrasinya ada pada gambar dari Encyclopedia Britannica di atas. Kita juga bisa praktekkan dengan senter dan bola plastik kalau mau. Kuncinya di sini adalah kemiringan 23.5 derajat itu yang menyebabkan wilayah pada latitude tinggi mengalami either tilting towards the sun atau tilting away from the sun. Tilting ini juga lah yang menyebabkan adanya musim. Matahari memengaruhi temperatur dan sirkulasi udara serta air laut yang pada gilirannya memengaruhi musim. Tapi proses ini butuh waktu sehingga biasanya ada delay antara siang terpanjang dengan suhu tertinggi serta siang terpendek dengan suhu terendah. Hari-hari terpanas biasanya terjadi di bulan Juli-Agustus, bukan Juni di mana siangnya panjang. Begitu pula puncak musim dingin terjadi pada Januari-Februari, bukan Desember saat winter solstice. 

Karena durasi siang-malam yang terus berubah tiap harinya, kebiasaan orang sini dalam menyebut pagi siang sore biasanya tidak bergantung pada ada tidaknya matahari melainkan dengan pembagian jam yang relatif tetap.

06-12: ochtend
12-18: middag
18-24: avond
00-06: nacht

Maka walaupun jam 5 sore sudah gelap, orang tetap akan mengatakan goedemiddag, yang secara arti lebih ke good afternoon/midday, bukan avond (evening) apalagi nacht. 

Orang juga tetap pada aktivitasnya regardless ada tidaknya cahaya matahari. Pada Desember seperti ini orang berangkat dan pulang kerja saat masih gelap. Sekarang ini saya salat 3 kali di kantor: dzuhur, ashar, dan maghrib. Padahal saat musim panas dulu hanya dzuhur saja karena ashar-nya jam 6 sore. Banyak subsidi silang, sekarang berangkat gelap pulang gelap, tapi di bulan Juni setelah pulang kerja masih punya banyak waktu sampai matahari terbenam. Saat musim dingin biaya energi naik karena heater sering nyala, tapi di musim panas biaya murah karena tidak perlu pakai pemanas. Maka banyak hal lebih make sense dihitung secara tahunan bukan bulanan: konsumsi energi, tagihan, income, subscription, dll.


Chandra

Sembilan Tahun

December 08, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Sembilan tahun umur blog ini, banyak perubahan terjadi seiring pergantian fase hidup saya. Blog ini dulu dipakai untuk upload segalanya sebelum eranya instagram story. Lalu ada masanya blog ini dipakai untuk impress people, hanya menulis yang keren-keren dan cool (menurut standar saat itu). Pernah juga blog ini coba dimonetisasi walaupun hanya sebentar karena iklannya terlalu mengganggu, tidak sebanding dengan adsense yang didapatkan. Sempat juga blog ini diusahakan untuk menunjang karir profesional, karena itu juga rela memakai domain berbayar.


Ada kalanya saya berusaha menulis mengikuti kaidah SEO agar traffic naik. Kadang-kadang juga terpengaruh penulis yang sedang saya ikuti atau bacaan yang sedang saya baca, misalnya ingin sedikit komedi seperti Agus Mulyadi atau filosofis-romantis ala penulis-penulis muda yang naik daun beberapa tahun yang lalu. Ada juga pengaruh dari blog kanan kiri yang saling memengaruhi dan muncul di waktu-waktu tertentu. Kini saat ada di posisi yang cukup unik karena tinggal di luar negeri, ada dorongan untuk menulis gaya influencer yang informatif menceritakan segala aspek kehidupan di sini. Ya yang paling memungkinkan untuk saya memang lewat tulisan. Dengan penampilan yang kurang kamera friendly, aksen yang medok, dan bawaan minim percaya diri, jelas tidak cocok kalau mau memproduksi konten-konten visual. Mungkin nanti akan ke sana, tapi sekarang tipis-tipis dulu karena masih banyak sekali hal yang saya belum tahu. Sebisa mungkin jangan terjebak dunning-kruger.

Yang penting buat saya saat ini dan tidak berubah dari dulu adalah blog ini saya anggap sebagai health check, artinya kalau saya masih ngepost berarti saya baik-baik saja, masih up and running. Setiap tulisan bisa beda-besa intensi dan maksudnya, tapi kesemuanya adalah beacon yang memancarkan pesan 'hey aku di sini dan baik-baik saja'. Tidak selalu tulisan keluar dengan mudah dari kepala ke jari lalu ke layar, kadang-kadang harus sedikit dipaksa. Tapi karena sudah jadi seperti kebiasaan rasanya ada yang kurang kalau belum nulis dalam waktu lama. Secara teknis saya pindah dari menulis di laptop jadi menulis di handphone karena lebih praktis dan mudah dilakukan di mana saja: di kereta, sambil nunggu bis, sebelum tidur, dll.

Motivasi lain yang membuat saya keep going menghidupi blog ini adalah karena mendengar sebuah nasehat yang bunyinya kira-kira begini: di umur 25-30an sebaiknya punya setidaknya satu aktivitas yang dilakukan rutin tapi tidak bermotif finansial. Nasehat itu satu segmen dengan anjuran olahraga 150 menit per minggu, minum air putih, dan jangan begadang. Intinya nasehat dari orang umur 40an pada orang yang memasuki umur 25-30an. 

Kalau saya jago main musik mungkin saya akan jamming bikin-bikin lagu walaupun tidak untuk dirilis. Kalau saya jago gambar mungkin hobi saya gambar-gambar kartun di ipad. Balik lagi karena saya tidak jago keduanya, sepertinya nulis adalah hal paling mungkin dijadikan kebiasaan (dan paling murah untuk memulai). Waktu mulai dulu saya tidak mengira bisa betah mempertahankan blog ini sampai bertahun-tahun. Tentu makin kesini makin eman kalau mau berhenti. Ke depan cara dan gaya menulis saya tentu akan berubah terus dan yang lampau jadi tampak wagu (padahal saat ditulis terasa keren). Let's see seperti apa jadinya.


Chandra




Saling Menjaga

December 04, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Nah, this is a banger. Baru beberapa hari yang lalu bicara soal Letto, hari ini saya nemu hidden gem yang benar-benar hidden. Lagu ini bahkan tidak dirilis secara resmi, tidak ada di streaming platform, tidak ada di music list instagram, hanya ada di youtube diupload oleh fans. 


Yang terjadi biarkanlah saja tuk menjadi
Yang menjadi jangan ada untuk disesali
Kau tahu semua ini datang dari mimpi
Sebuah mimpi yang sejak lama kita hidupi

Yang terjadi adalah bagian dari cerita
Yang terjadi bisa malah membuat kita terjaga
Tak perlu kau menunjukkan jarimu ke muka
Sebelum sama-sama bisa untuk berkaca

Renungkanlah..
Setelah semua badai yang berhembus telah reda
Tertinggallah kita yang semakin dewasa
Setelah semua badai yang terjadi tlah tiada
Tertinggallah diriku dan dirimu saling menjaga

Yang terjadi adalah bagian dari cerita
Yang terjadi bisa malah membuat kita terjaga
Tak perlu kau menunjukkan jarimu ke muka
Sebelum sama-sama bisa untuk berkaca

Renungkanlah..
Setelah semua badai yang berhembus telah reda
Tertinggallah kita yang semakin dewasa
Setelah semua badai yang terjadi tlah tiada
Tertinggallah diriku dan dirimu saling menjaga

Kalau kata Ibou Konate: a cote de la difficulte est, certes, une facilite


Langkah

December 01, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments

Hanya dalam 5 bulan, sepatu sudah tepos seperti ini. Sepatu ini saya beli di Jakarta 3 hari sebelum berangkat ke Belanda. Jadi praktis baru saya pakai di sini. Keadaan memaksa orang banyak jalan kaki, dan itu terlihat dari kenaikan jumlah langkah harian saya sejak Juli. Di awal tahun rata-rata saya jalan 3000 langkah per hari, sementara pada Juli-September sampai lebih dari 8000. Oktober-November agak turun karena suhu sudah semakin dingin jadi frekuensi jalan di luar agak berkurang. Meski begitu angkanya tetap lebih dari 6000 secara rata-rata. Ini natural langkah harian saja tanpa motif olahraga.
Rekor langkah terbanyak terjadi di 18 Agustus yang sampai 19000 langkah saat jalan-jalan ke Leiden. Ada beberapa hari lain yang sampai di atas 15 ribu. Mostly aktivitas saya ter-record, tapi ada beberapa yang tidak karena handphone mati atau tidak dibawa, saya belum pakai smartwarch sampai saat ini. Ketika ngegym handphone saya taruh jadi aktivitas di treadmill tidak di hitung. 

Saya punya dua sepatu yang sering dipakai. Satu dari Indonesia yang saya foto di atas, satu lagi beli sepatu lari di sini. Sekedar sepatu harga €35 karena saya masih belum mau invest barang mewah untuk lari, beli di semacam Sport Station-nya sini. Jadi andai sepatu dari Indonesia ini jadi satu-satunya yang saya pakai, ausnya bisa lebih parah lagi. 

See, uppernya masih bagus karena memang masih baru, tapi gaya hidup jalan kaki yang hardcore ini memang makan outsole dan bagian belakangnya itu.


Chandra

Fatwa Hatimu

December 01, 2024 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Ah pick me banget mosok band favorit Letto.
Ah itu mah dumeh sama-sama dari Jogja.
Alah si paling maiyahan.

Yaa tentu nggak juga kalau saya cuma dengar Letto, saya pastinya growing up bersama Peterpan dan Radja juga jaman-jaman itu. Letto justru baru saya sadari karyanya bagus setelah beranjak dewasa. Gimana bisa bikin lagu dengan lirik seperti ini tapi nggak dianggap lagu religi.

Teringat ku teringat
Pada janji-Mu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kau-lah sandaran hati
(Sandaran Hati)

Penggalan lirik itu bisa dianggap lagu cinta-cintaan biasa (dan itu yang saya rasa dulu). Tapi seiring berjalannya waktu justru lebih pas kalau -Mu dan Kau- nya dalam huruf besar. Banyak musik 2000an yang masih enak didengar sampai sekarang, seperti intronya Mimpi Yang Sempurna atau bagian solo gitarnya Manusia Biasa. Sayangnya kebanyakan lagu-lagu itu liriknya terasa cringe kalau didengar dan dibaca sekarang. Itulah yang menurut saya beda dari Letto, liriknya age well, makin tua tidak jadi cringe tapi malah makin enak dirasakan.

A soft summer rain
A smile that hides a pain
Why should you be ashamed
'Cause in every life a little rain must fall
(Truth, Cry, and Lie)

Di jaman itu tidak banyak musisi atau band Indonesia yang merilis lagu dalam bahasa asing karena 'tekanan' label. Beda dengan sekarang yang semua bisa merilis sendiri/indie sehingga variasinya sangat beragam. Dulu satu Melayu ya Melayu semua. Letto satu dari beberapa yang bisa agak melenceng, dan melencengnya sampai sekarang. Misalnya dengan mengeluarkan lagu berbahasa Jawa berjudul Kangen Deso ini. Pada 2010 vokalis Letto memproduseri film berjudul Minggu Pagi di Victoria Park, lagu ini bisa dibilang 'versi musik' dari film tersebut.

Jroning rasa tan kuwowo [dalam hati tak kuasa]
Kangen marang kluwargo [kangen pada keluarga]
Lungo adoh saka ndeso [pergi jauh dari desa]
Golek sandang lan boga [mencari pakaian dan makan]
(Kangen Deso)

Elingo sliramu marang [ingatkah engkau kepada]
Embun enjang kang prasaja [embun pagi bersahaja]
Nemoni sliramu [yang menemanimu]
Tumekaning cahyo [sebelum cahaya]
(Sebelum Cahaya - live version)

Tentu saya juga mengerti Letto tidak bisa disejajarkan dengan legend macam Dewa atau Sheila On 7. Sheila tetap jadi top of mind ketika bicara grup band Jogja, arguably band Jogja pertama yang bisa menembus Jakarta dan panggung internasional. Hanya ada beberapa hits dari Letto yang semua orang tahu seperti Sebelum Cahaya dan Ruang Rindu (jadi sangat terkenal karena dipakai soundtrack sinetron). Tapi banyak hidden gem di album-album Letto yang tidak terlalu banyak didengarkan tapi kalau didalami liriknya seperti keluar dari buku bukan album lagu.

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
(Memiliki Kehilangan)

Far too many emotions 
That taint my soul
Before my faith
And often I drown in the moment
When in the end they are ephemera
(Ephemera)

Meskipun banyak dari kalimat-kalimatnya bersayap, tidak semuanya lantas bernuansa sendu. Beberapa menghangatkan hati dan bisa dipakai untuk menyampaikan pesan pada yang tersayang. 

Tapi saat ku merasa sepi
Desir angin pun tak menemani hati
Tapi saat ku tak punya mimpi
Hanya engkau (Engkau) yang selalu memberikan arti
(Tapi Saat)

Ku tahu mawar tak seindah dirimu
Awan tak seteduh tatapanmu
Tapi kau tahu yang kutunggu
Adalah senyumanmu
(Senyumanmu)

Tentang kita dan tentang cinta
Tentang janji yang kau bawa
Jika nanti saat kau sendiri
Temukanku di fatwa hatimu
(Fatwa Hati)


Sekian corat-coret malam minggu saya sebagai top 0.6% Letto listener in 2024 on YouTube Music. Rasanya dengan statistik seperti itu saya sudah boleh self-proclaim sebagai Pletonic hahaha. Ambil baik-baiknya saja.


Chandra