Review Film : Maze Runner 3, The Death Cure

February 09, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


[SPOILER ALERT]

Sebenernya agak telat untuk menulis review soal film ini karena filmnya sudah tayang sejak 24 Januari kemarin. Tapi memang baru tadi malem meluangkan waktu untuk berangkat nonton. Minggu lalu sempet udah masuk bioskop tapi kehabisan tiket. Bioskop rame banget gara-gara Dilan dan Dylan (O'Brien).

Sebelumnya ada beberapa lumayan banyak teman yang bilang ini film bagus banget. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa ratingnya di Rottentomatoes dan IMDb kok gak tinggi-tinggi amat ya, menengah lah. RT dan IMDb reviewernya mantep mantep laah.

Sejujurnya saya dulu nggak ngikutin sekuel 1 dan 2 Maze Runner. Baru nonton minggu lalu setelah yang ke-3 muncul dan jadi omongan. Entahlah, tapi mungkin ada bedanya antara yang sudah nonton sekuel sebelumnya pada waktunya dengan yang baru nonton dirapel minggu lalu. Mungkin impresinya beda. Tapi dari 3 film ini menurutku yang paling bagus masih yang pertama, lalu ketiga yang sekarang keluar, baru yang kedua.

Maze Runner 3 : The Death Cure bukan film yang jelek, tapi juga nggak flawless. Jujur saya merasa agak bosan menonton film ini karena dramanya diulang-ulang. Premis selalu dimulai dengan tindakan heroik (kalau tidak mau disebut nekat) dari si protagonis. Setelah tampil gagah akhirnya dia mulai mendapat masalah. Ketika benar-benar sudah terdesak ujug-ujug muncul sosok yang menyelamatkan mereka. Mission completed.

Ketika Thomas, Newt, dan Fry diam-diam naik mobil mau menjemput Minho mereka masuk ke terowongan penuh Crank. Awalnya mereka mencoba melawan sebelum akhirnya terdesak ketika mobil terguling dan peluru habis. Tiba-tiba muncul Jorge dan Brenda menyusul mereka, selamat. Ada juga kejadian ketika mencegat kereta, ketika terdesak terus-terusan diberondong peluru tiba-tiba datang pertolongan udara, tepat waktu. Lalu di akhir film ketika berhasil mengevakuasi anak-anak namun tidak dapat pergi tiba-tiba Vince datang menjemput. Pun ketika kedatangan Thomas cs ketahuan lewat kamerea dan sensor WCKD, datang Gally dan gank-nya mengamankan mereka. Gitu aja terus sampai . . .

Tapi lumayan, minimal nggak semua misi berjalan baik. Ada tokoh yang di-mati-kan. Nggak usah disebut lah ya, nanti spoilernya berlebihan.

Kekurangan kedua, saya menonton film ini karena mengharapkan plot twist yang bombastis, tapi sayangnya kurang. Di film pertama ditunjukkan bahwa anak-anak muda dalam Glade punya kesamaan yaitu lupa segalanya kecuali nama. Premis soal ingatan ini adalah celah seharusnya bisa digodok lebih matang lagi sehingga ketika keluar bioskop penonton punya bahan untuk diterka dan didiskusikan. Saya membayangkan Thomas akhirnya mengingat sesuatu yang sangat krusial hingga mengubah keberpihakannya. Nyatanya tidak, Thomas memang berubah, tapi itu menjelang cerita berakhir dan karena dibujuk oleh Teresa. Teresa-lah yang fluktuasinya lebih terlihat, bukan Thomas.

Tapi ada hal yang saya sangat suka dari film ini. Walaupun genre-nya fantasy, tapi masih lebih make sense daripada beberapa film sejenisnya. Pada banyak film biasanya ketika pihak protagonis menang dunia yang sebelumnya sudah hancur tiba-tiba hidup normal lagi. Tapi di film ini tidak, misalnya orang-orang yang selamat dari WCKD hidup seadanya di pantai. Persis ketika Thomas cs masih di Glade, bedanya kali ini mereka tidak dibatasi oleh labirin.

Hal lain yang saya suka adalah film ini tetap memasukkan unsur labirin (maze) walaupun tidak sekuat di film pertama. Adegan di gedung WCKD, bayangan Minho ketika cairannya diambil, dan beberapa scene kejar-kejaran menunjukkan itu. Nice.

Kesimpulannya The Death Cure adalah film yang bagus tapi juga bukan yang paling bagus untuk periode 6 bulan terakhir. Nilainya 7.2/10 lah. Kalau belum nonton nggak ada salahnya ke bioskop mumpung masih tayang. Tapi kalau dirasa kurang worth it ya nunggu bajakannya aja hehehe

Terakhir, moral value The Death Cure : tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk dilewati. Good things take time.


Salam,
Chandra

Antara Noe Letto dan Ust Hanan Attaki

February 01, 2018 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Kalau ada orang yang nyaman bekerja atau berpikir sambil dengerin musik, aku bukan termasuk salah satunya. Sedikit aja ada musik, apapun musiknya, siapa penyanyinya, dan apa bahasanya, konsentrasi langsung buyar. Kecuali di pekerjaan yang sifatnya rutin dan gak butuh mikir, musik membantu jadi lebih cekatan, efisien, dan kerjaan jadi cepet beres.

Tapi soal mengganggu konsentrasi, lain musik lain ceramah. Musik iya, tapi ternyata kalau cuma orang ngomong enggak. Jadi sehari-hari, memanfaatkan multidesktop-nya Windows 10 selalu buka minimal 4 desktop : 2 untuk kerja, 1 buka browser (di dalamnya ada buka YouTube), dan 1 chat (WA, telegram, dll). Tinggal geser-geser ctrl + windows + kanan/kiri, sangat simpel, cepet buat geser ke desktop kerjaan kalau tiba-tiba atasan lewat wkwkw.

Diantara pembicara yang speechnya paling sering kubuka ada 2 : Noe Letto dan Ust. Hanan Attaki.

Mencari perbedaan diantara dua orang ini lebih mudah daripada persamaannya. Noe alias Sabrang adalah putra dari Emha Ainun Najib (Cak Nun). Lahir di Yogyakarta, Noe menempuh pendidikan tinggi di Alberta, Kanada di bidang Fisika dan Matematika sekaligus. Sepulang dari Kanada, Noe malah berkarier di bidang musik bersama bandnya, Letto. Sekarang selain bermusik dia juga sering mengisi acara maiyah dan forum diskusi semacamnya.

Sedangkan Ust. Hanan Attaki adalah putra kelahiran Aceh yang menempuh pendidikan di Kairo, Mesir pada bidang Tafsir Al-Quran. Sekembalinya ke Indonesia beliau aktif menjadi penceramah dan mengembangkan komunitasnya yang kebanyakan berkaitan dengan anak muda. Setidaknya itu sih yang kutahu.

Tapi kesamaan diantara keduanya adalah : bicaranya ringan enak didengar. Maksudnya dari segi cara bicara, intonasi, dan pemilihan katanya friendly. Yang lebih penting dari itu, dalam menyampaikan gagasan, informasi, dan nasehat, jarang sekali ada kata-kata atau kalimat yang arahnya 'menyalahkan', jauh lebih banyak yang membangun.

Maybe some of you know me sebagai orang yang kurang suka disalahkan hehehe.

Banyak pembicara yang sebenarnya bagus penyampaiannya, diselingi humor agar tidak menjemukan, mengambil contoh faktual sehari-hari, dan interaktif, tapi kurang ramah. Ada beberapa kalimat yang arahnya menyalahkan pendapat pihak lain.

Ada dua cara untuk mengajak orang setuju pada satu argumen. Pertama adalah dengan mengemukakan kelebihan dari argumen itu. Lalu yang kedua menyerang argumen yang berseberangan dengan itu. Apa yang dilakukan both of Noe Letto dan Ust. Hanan Attaki adalah yang pertama. Mereka menyampaikan suatu hal dan membiarkan audience untuk mencernanya sesuai kondisi masing-masing.

Noe sangat masuk dengan konsep forum-forum dimana ia berbicara. Yaitu forum yang sifatnya sinau bareng nek iso pinter bareng-bareng. Kesempatan terbuka lebar untuk orang-orang menyampaikan pandangannya dan mbat-mbatan (sharing) soal argumen yang disampaikan.

Noe masih terpengaruh gaya bicara Cak Nun yang sifatnya merangkul dan menenangkan. Tapi karena lama belajar ilmu eksak, bumbu-bumbu sains sering terasa dalam bicaranya.

Saat ini satuan yang dianggap terkecil adalah Planck Constant (6.62E-34) dan yang terbesar adalah observable universe. Ternyata diantara itu titik tengahnya ada pada ukuran manusia. Mungkin ini berhubungan dengan tujuan diciptakannya manusia sebagai khalifah karena kita punya jarak pandang yang sama baik ke atas maupun ke bawah. 
Ust Hanan Attaki seperti yang kita tahu punya motto "banyak maen, banyak manfaat, banyak pahala, sedikit dosa". Sebagai penceramah beliau masuk ke pasar anak muda. Pasar yang jumlahnya sangat besar dan potensial namun sedikit penceramahnya. Banyak contohnya beliau menggunakan istilah anak muda seperti "follow", "ngepost", "ngetrick", dll. Kisah-kisah sahabat menjadi terdengar kekinian kalau beliau yang bicara.

Mau itu video pendek 1-5 menit ataupun video panjang sampai 1.5 jam, kalau dua orang ini yang bicara rasanya nggak membosankan. Selera bisa berubah, tapi untuk saat ini yang paling sering diputer ya beliau-beliau ini. Kalau lagi butuh info-info baru soal dunia sains, wawasan ilmiah, perenungan filosofis, dan guyonan merakyat kusearch Sabrang Mowo Damar Panuluh. Kalau lagi butuh siraman rohani atau lagi ada masalah yang menggalaukan yang dicari Ust Hanan Attaki. Gantian aja antara dua orang ini.

Untuk menyampaikan kebenaran, yang pertama harus dilakukan adalah menjadikan diri kita diterima oleh orang lain. Jika memang kita cukup yakin bahwa apa yang kita bawa adalah kebenaran, bukalah hati orang di sekitar kita sehingga apa yang kita sampaikan berterima.

Membedakan antara benar dan salah itu satu hal. Menjelaskan kenapa sesuatu salah adalah hal lain. Tapi yang paling sulit adalah menunjukkan kesalahan tanpa menyalahkan.

Salam,
Chandra

Sultan

January 21, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Nama aslinya Ridwan Hanif Rahmadi, tapi terkenal dengan nickname Sultan. Aku juga nggak tahu sejarahnya. Maklum baru ngikutin updatenya beberapa bulan terkahir. Sore tadi barusan aku update story instagram bilang bahwa dia adalah reviewer mobil favorit untuk saat ini. Ternyata ada beberapa reply, beberapa teman juga tahu dia dan suka reviewnya juga.

Awal tahu dia adalah dari channel YouTube Autonetmagz. Dia mereview banyak mobil. Mulai dari mobil LCGC sampai Tesla Model S yang harganya 44 M, weww. Kebanyakan mobil yang direview adalah mobil yang baru masuk pasaran Indonesia. Either dapat pinjaman mobil baru dari pemilik, komunitas, atau ATPM.

Dia bukan satu-satunya reviewer di AutonetMagz, tapi menurutku dia salah satu yang paling informatif sekaligus entertaining. Dia punya knowledge soal otomotif dalem, penyampaian bagus, jokesnya nggak garing, dan jujur.

Maksudnya jujur, walaupun beberapa mobil yang direview adalah endorsement, kalau memang ada kekurangan akan dia sampaikan. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan intervensi. Kalau bagus ya dibilang bagus, kalau jelek ya siap aja dicaci hahaha. Beberapa korban misalnya desain Karimun kotak, AC Grand Livina, transmisi AGS Ignis, suspensi Mobilio keras, build quality Xpander belum bagus, dll.

Sebenarnya dia bukan cuma mereview mobil, tapi juga motor, bis, bahkan gadget. Di channel YouTube pribadinya, Ridwan Hanif Rahmadi, dia upload video-video yang lebih beragam. Ada porsi review mobil, tapi lebih ke owning experience, dia sering mereview mobil-mobil yang disewakan di Autonet Rent Car. Sisanya adalah video tips n trick, review gadget, video perjalanan di pameran, dan dokumentasi sosial misalnya ketika dia mendalami kehidupan keras para sopir truk.

Kalau ditanya video favorit, banyak euy yang bagus. Cuma nemu satu dua yang kayak kurang niat misalnya ngereview sambil pegang hp buat ngrekam suara (mungkin mic di kamera rusak), atau review malem-malem jadi pencahayaan jelek. Tapi yang terbaik diantara yang baik dari segi konten dan presentasi menurutku adalah waktu dia menunjukkan cara beli kendaraan lelang di JBA Indonesia.



Mobil Impian

Salah satu efek keseringan nonton video Sultan adalah jadi pengen cepet-cepet punya mobil haha. Dari puluhan video yang sudah kutonton, mobil yang paling bikin kepincut adalah Ford Ecosport. Ini link reviewnya (link aja ya biar page ini gak jadi berat dan makan banyak kuota :

link 1 : Ford Ecosport review by AutonetMagz
link2 : Ford Ecosport test drive by AutonetMagz

Konsep mobilnya Mini SUV yang tampak keren dari luarnya, sangat sporty menurutku. Bagian dalamnya juga luas, lebih luas dari mobil hatchback. Dan karena ini mobil dari pabrikan Amerika, fiturnya komplit karena mengikuti regulasi di Amerika atau Eropa. Ditambah lagi dia punya sunroof yang bisa dibuka. Keren euy!

Kelemahannya saat ini Ford nggak punya ATPM di dalam negeri, tapi mungkin gara-gara ini juga harga bekasnya jadi menarik.


Mobil Pertama

Dalam salah satu videonya, dia pernah memberikan tips-tips untuk anak muda yang pengen beli mobil pertamanya. Saya lupa video yang mana, silakan cari sendiri di channelnya hehe. Dalam video itu Sultan ngasih beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih mobil. Mulai pengaturan budget, pengecekan (kalau beli mobil bekas), dan beberapa aspek teknis yang penting.

Tapi ada poin yang menarik. Dia (sangat) menyarankan untuk lebih baik membeli mobil bekas secara cash daripada mobil baru tapi kredit. Mobil bekas asal perawatannya baik banyak yang masih bagus. Memang ada beberapa komponen yang bisa aus dan harus diganti rutin, tapi itu biayanya tak seberapa. Dia juga menyarankan untuk menyisakan budget maintenance dan upgrade, jadi gak semua duitnya habis untuk beli unit mobilnya.

Alasannya kenapa harus cash, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Anak muda yang baru nabung belum punya cukup aset backup kalau andaikata ada kebutuhan mendadak. Kalau ambil mobil kredit, kita rawan bermasalah. Mobilnya nggak bisa dijual, mau over kredit juga susah cari yang mau, masih harus bayar cicilan tiap bulan, kan repot. Mending beli cash, yang orientasinya kebutuhan bukan gaya-gayaan, sambil tetap nabung untuk nanti upgrade jadi mobil yang kelasnya lebih tinggi.

Satu lagi, beli mobil cash menghindari riba.




Selain Sultan mungkin masih banyak reviewer mobil yang bagus, tapi selama ini karena udah terlanjur subscribe AutonetMagz dan Ridwan Hanif Rahmadi jadi yang sering muncul ya video dari dua channel itu.

Buat teman-teman yang lagi punya waktu luang, daripada melakukan yang enggak-enggak mending nambah ilmu tentang dunia otomotif. Pasti suatu saat berguna. Apalagi laki-laki selayaknya bisa lah maintenance minor macem ganti oli, nyuci mobil yang bener, bersihin filter AC, dll.

Pernah kepikiran kayaknya di masa depan buka bengkel motor mobil sangat prospektif. Selain jumlah pemakainya yang terus naik, kendaraan jaman sekarang semakin 'well-designed' yang artinya semakin bagus tapi susah diotak-atik, apalagi sepertinya generasi milenial banyak yang males kotor-kotoran nyervis kendaraan, ada masalah bawa aja ke abang bengkel. Heuheu...


Sekian semoga bermanfaat,
Chandra

Bewawasan Luas

January 11, 2018 Posted by Chandra Nurohman , No comments


Pernah ketemu orang yang seolah-olah tahu segalanya ? Mulai berita infotainment sampai politik, segala jenis musik sampai penyair-penyair Melayu jaman dulu, up to date berbagai macam isu sosial, lingkungan, teknologi, kesehatan, dll.

Aku selalu senang kalau dapat kesempatan untuk mengenal dan ngobrol dengan orang yang berwawasan luas seperti itu. Ini bukan maksudnya pilih-pilih teman. Tapi menurutku ada 3 cara menghabiskan waktu luang : me time (sendiri atau bersama keluarga dekat), chilling out (santai, nganggur, ngelamun, apapun untuk mengistirahatkan fisik dan pikiran), exploring (belajar, mencari sesuatu). Kalau mau menghabiskan waktu luang untuk hal yang bermanfaat dengan exploring something, cara termudahnya adalah bertemu dengan orang-orang macam ini. Dua jam talktime dan kita akan pulang dengan membawa ilmu baru dan inspirasi.

Maksudnya berwawasan luas adalah orang yang tahu banyak hal di luar bidang atau aktivitas primernya. Misalnya kalau aku bisa membedakan mana Boeing 737 dan mana Airbus 320 hanya dengan melihat tampilan luarnya, itu bukan termasuk 'berwawasan luas' karena memang itu bidang yang aku tekuni. Kalau ada orang yang belajar dan bekerja di bidang kesehatan lalu bisa bicara soal pentingnya vaksin itu juga bukan berwawasan luas. Tapi kalau dia bisa diajak diskusi soal hal random misal Vietnam War, Piala Dunia, dan seri Star Wars itu baru berwawasan luas.

Pandai dan berwawasan luas adalah dua hal yang berbeda

Ada dua hal yang membuat orang seperti tahu segalanya. Pertama adalah dia punya ketertarikan yang besar pada banyak hal. Dia nggak butuh motivasi besar untuk mencari tahu soal sesuatu. Just spontaneous, terlintas apa di pikiran dan dia akan cari tahu soal itu. Bahasa kekiniannya knowing every particular object alias kepo. Kalau di depan komputer dia akan langsung buka browser dan googling. Kalau ngobrol di jalan dia sering tiba-tiba nyeletuk tentang sesuatu, misalnya liat stiker TRD Sportivo dia bilang, "TRD apa ya ?". Terus kawannya ada yang jawab, "Toyota Rakitan Daihatsu". wkwkwk garing ya..

Fyi aja nih, saham Daihatsu sepenuhnya dimiliki Toyota, makanya bisa ada mobil kembar Avanza-Xenia dan Rush-Terios. Tapi karena posisi Toyota adalah saudara tua, mobil Toyota diberi spek lebih tinggi/lebih spesial. Fyi lagi, Toyota Avanza sekarang produksinya dilakukan di pabrik Daihatsu..

Oke kembali ke topik. Faktor kedua yang membuat seseorang berwawasan luas adalah daya tangkapnya pada sesuatu. Dia mungkin hanya mendengar orang ngobrol di warung makan, tapi secara otomatis dia memproses suara yang ia dengar dan menyaring info yang penting lalu menyimpannya. Lain waktu ketika dia bicara dengan orang lain, dia punya perbendaharaan informasi yang lebih banyak. Karena pada akhirnya dia juga mengucapkan itu, dia semakin paham dengan apa yang dibicarakan. Padahal awalnya hanya tidak sengaja nguping orang di warung bakso misalnya.

Dua hal itu, kepo dan peka, sebenarnya dimiliki semua orang, tapi kadarnya berbeda-beda. Menurutku itu perlu diasah juga sebagai bentuk syukur atas hardware dan software yang sudah Allah berikan pada diri kita.

Faktor lingkungan, pendidikan, kesehatan, dll juga memengaruhi seberapa luas wawasan seseorang. Kita tidak perlu mengeluh dan merendah kalau merasa pengetahuan masih cetek. Justru kita harus banyak belajar dari buku, orang, dan media lain. Diantara itu, yang paling menyenangkan adalah belajar dari orang lain karena selain nambah pengetahuan, yang namanya sosialisasi dan bermasyarakat pasti banyak faedahnya.

Ada dua cara untuk memastikan waktu tidak terbuang sia-sia, membaca buku dan talktime dengan orang yang tepat.

Terima kasih


Salam,
Chandra


image by (boleh baca) : http://www.indianfolk.com/worlds-valuable-commodity-knowledge-edited/

Belum Bisa Apa Apa

January 04, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments


Elemen terbesar pada diri kita adalah ketidaktahuan. Kalau kita menyingkirkan ketidaktahuan, kita akan jadi merasa tahu segalanya.

Kita bisa membuat terang menjadi lebih terang, dengan menambahkan cahaya. Tapi kita tidak bisa membuat gelap menjadi lebih gelap. Yang membedakan gelap dan terang hanyalah ada tidaknya cahaya.

Kita bisa membuat panas menjadi lebih panas, dengan memasukkan kalor. Tapi kita tidak bisa mendinginkan 'dingin'. Yang kita lakukan adalah semata-mata memasukkan atau mengeluarkan kalor.

***

Skills & Endorsement LinkedIn, tempatnya seseorang mencantumkan hal-hal yang telah dia kuasai atau telah dididikkan padanya sambil berharap banyak orang mengakuinya (mengendorse). Lebih tepatnya, itu adalah hal-hal yang dia 'rasa' telah ia kuasai.

Terlalu lama dimanjakan dengan sistem sekolah, aku sempat merasa tahu segalanya. Mendapatkan pelajaran C++ sangat dasar di semester satu dan langsung aku masukkan sebagai skill yang aku kuasai. Hanya sedikit menggunakan Unity3D untuk tugas akhir dan merasa sudah bisa membuat apapun dengan itu. Baru mengenal Vortex Editor dan sudah memasukkannya di sana.

Setelah lepas dari dunia sekolah dan belajar di 'alam liar' engineering, aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Masih banyak hal yang aku belum tahu apalagi bisa. Aku masukkan kembali elemen ketidaktahuan dalam cara berpikirku sehingga aku lebih ikhlas untuk belajar hal-hal baru.

Kalau kamu juga begitu, jangan khawatir, kamu tidak sendiri, dan yang kau harus tahu adalah itu tidak salah. Hampir semua orang mengalami bias itu, dalam banyak bidang. Bias yang disebut Dunning-Kruger Effect


Sekarang aku justru bersyukur telah menyadari kealpaan ini. Karena walaupun berada pada titik yang rendah, barangkali itu adalah jalan menuju penguasaan yang sejati, bukan ketidaktahuan yang ditutupi.

Skills, kuputuskan untuk menghapus sebagian besarnya, menyisakan yang memang sudah mendapat apresiasi. Sisanya nanti kutambahkan kalau sudah cukup umur, mau belajar dulu.


Salam,
Chandra

Tahun Baru

December 30, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


Buat saya, tahun baru belum pernah benar-benar Wow!. Kecuali beberapa tahun yang lalu waktu alhamdulillah berkesempatan melewati 00:00 malam tahun baru sambil berdiam di Masjidil Haram. Selebihnya lebih banyak berisi perayaan dengan teman-teman di sekitar rumah. Itupun sebenarnya lebih dalam rangka srawung bersosialisasi, bukan karena tahun barunya.

Bicara soal refleksi, evaluasi, resolusi, target, perubahan menjadi lebih baik, dll sepertinya lebih mudah dilakukan kalau ada interval waktu yang jelas. Intervalnya boleh berupa hari, tapi sepertinya terlalu pendek untuk bisa melakukan sesuatu yang cukup bermakna. Boleh juga bulanan, tapi setiap bulan punya ciri khasnya masing-masing sehingga susah dibandingkan hasilnya. Misalnya ada bulan yang isinya hanya libur tok, ada yang mengandung Ramadhan di dalamnya, dll

Menurut saya evaluasi diri yang paling baik ordenya tahunan. Dalam setahun kita merasakan semua musim, melewati semua cycle mingguan dan bulanan, sudah sinkron antara Masehi dan Hijriyah (walaupun ada beda beberapa hari sih), dan waktu setahun rasanya cukup untuk melihat hasil yang telah diupayakan.

Hitungan tahunan nggak harus dimulai dari 1 Januari dan berakhir 31 Desember memang. Tapi jangan lupa, 1 Januari adalah satu-satunya tanggal dalam kalender Masehi dimana Tahun Baru, Bulan Baru, dan Hari Baru sama-sama terjadi. Kalau dianggap sebuah pekan diawali dengan hari Senin, maka 1 Januari 2017 juga adalah Minggu Baru.

Selain itu, kita hidup dalam society yang banyak sistemnya menggunakan hitungan tahunan 1 Januari-31 Desember, bukan 25 Maret-24 Maret, 1 September - 31 Agustus atau 1 Muharram - 29 Dzulhijah. Akibatnya untuk para pelajar libur semester adalah Juni dan Desember, untuk orang yang bekerja Desember adalah bulan kejar target, dan perhitungan kuartal tahun adalah 1 Jan-31 Mar, 1 Apr-30 Jun, 1 Jul-30 Sept, dan 1 Okt-31 Des.

Dengan kondisi seperti itu maka 1 Januari adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi, merefresh, dan menyiapkan rencana-rencana untuk 1 tahun berikutnya. 1 Januari tidak harus dirayakan, tapi alangkah baiknya jika kita memeriksa diri sendiri atau saling sharing dengan orang lain tentang apa saja yang sudah dicapai setahun terakhir dan siapkah kita untuk menjadi atau melakukan something big tahun depan.

Jadi, apa resolusimu di 2018 ?


*rasanya post ini kurang panjang, jadi ini sekilas soal Millennium Bug buat yang belum tahu

1 Januari 2017 kita 'cuma' memulai tahun, bulan, minggu, dan hari yang baru. Kita tidak memulai abad atau millennium baru seperti tahun 2000 lalu. Sayangnya waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami millenium bug yang terjadi. Padahal ini fenomena menarik.

Pada abad ke-20 (19xx) program-program komputer menuliskan 4 digit angka tahun hanya dengan 2 digit terakhirnya. Misalnya 1955 ditulis sebagai 55, 1978 menjadi 78, 1999 menjadi 99, oleh komputer. Apa yang akan terjadi ketika tanggal berubah menjadi 1 Januari 2000 ? 010100 akan dianggap sebagai 1 Januari 1900 instead of 1 Januari 2000.

Kesalahan penanggalan adalah masalah besar bagi masyarakat yang mulai beralih ke era digital. Data-data perbankan, pembangkit listrik, kependudukan, dan sektor strategis lain terancam waktu itu. Tempat-tempat dengan sistem yang rawan dipantau secara serius bahkan sampai bersiap untuk resiko terburuk misalnya kebakaran.

Itu sekilas soal Y2K atau Millennium Bug. Kalau penasaran sudah banyak kok sumber yang menjelaskan peristiwa ini. Kalau tahun 2000 belum sadar dengan ini, tahun 2038 masih ada kemungkinan bug lain kok, tapi sepertinya dengan perkembangan teknologi komputasi seperti saat ini dunia sudah akan lebih siap untuk menghadapi yang satu itu.


Salam,
Chandra

Film Review : Apakah Kita Truman ?

December 19, 2017 Posted by Chandra Nurohman , , , 2 comments


Judul : The Truman Show
Tahun Rilis : 1998
Pemain : Jim Carrey, Laura Linney, Noah Emmerich, Natascha McElhone, Holland Taylor, Ed Harris
Sutradara : Peter Weir
Durasi : 103 menit
Bahasa : English

[SPOILER ALERT]

Hayoo, udah nonton film ini belum ?
Walaupun sudah lama dirilis, tapi film ini sangat layak tonton dan masih relevan dengan realitas yang ada sekarang. Kalau mau nonton, paling gampang klik disini. Nggak masalah lah ya nonton film gratisan, wong udah nggak tayang di bioskop. Tapi kalau mau nonton film baru ke bioskop saja, hargai para pekerja film :)

Fyi, The Truman Show disebut-sebut sebagai salah satu film dengan premis cerita terbaik. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang Truman Burbank dan drama-drama yang ada di dalamnya. Tapi sayangnya bahkan Truman sendiri tidak punya kuasa atas apa yang terjadi pada dirinya. Dia tidak tahu bahwa dia adalah bagian dari sebuah acara televisi.

Truman : Was nothing real ? | Christof : You were real, that's what make you so good to watch

Hidup Truman diatur sedemikian rupa oleh sang sutradara, Christof. Kehidupan sekitarnya memang tampak normal. Truman berkeluarga, bekerja, bergaul, namun semuanya palsu. Kegiatannya direkam kamera selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dia tidak bisa pergi lebih jauh daripada 'dunia' yang ditempatinya. Atau lebih tepatnya yang dicipatakan untuknya. Bahkan untuk sekedar jatuh cinta bukanlah menjadi kuasanya.

Sekitar setahun yang lalu saya pernah menulis review sebuah film biografi, Ed Snowden. Snowden sempat menggemparkan dunia beberapa tahun yang lalu setelah secara berani membuka rahasia tentang aktivitas spionase yang diduga dilakukan pemerintah AS. Data-data yang dibawanya menunjukkan bahwa banyak penyadapan atau pengumpulan informasi secara ilegal atas warga sipil. Snowden menjadi buah bibir di seluruh dunia, menempatkannya sebagai penghianat sekaligus pahlawan.

Kenapa bawa-bawa Snowden ? Karena ada hubungannya dengan Truman. Fakta-fakta yang dipaparkan Snowden seolah melegitimasi bahwa sosok Truman dalam The Truman Show bisa jadi bukan sekedar tokoh fiksi. Bisa jadi setiap dari kita adalah Truman-Truman yang hidupnya tidak merdeka.

Selama ribuan hari Truman tidak curiga atas kehidupan yang dijalaninya. Setelah terjadi beberapa kejadian-kejadian janggal barulah dia berkata "aku seperti terlibat dalam sesuatu". Lalu bagaimana dengan kita ?

We accept the reality of the world with which we are presented - Christof 

Jika informasi yang disampaikan Snowden benar (dan saya sih cukup yakin dia benar), maka tidak menutup kemungkinan kita pun selama ini diawasi secara sembunyi-sembunyi. Kita tidak pernah tahu kemana chat-chat yang kita kirim itu ter-delivery, apakah hanya ke orang yang kita tuju ? atau juga disimpan di suatu tempat ? Foto-foto, video, tulisan, riwayat pencarian Google, history browser, selama kita terkoneksi internet, tidak ada yang tahu apa saja yang sebenarnya terjadi.

Google, Apple, Microsoft termasuk dalam pihak-pihak yang disebut terlibat melakukan aktivitas spionase. Sekarang lihat handphone dan laptopmu. Tahu kenapa kita bisa pakai google setiap saat secara gratis ? Karena google bisa mengumpulkan data, interest, pola aktivitas, informasi pendidikan, pekerjaan, dll lalu menjualnya.

Coba perhatikan, sekali kita pernah beli tiket atau booking hotel lewat sebuah situs pemesanan online, akan sering muncul pop up promosi situs tersebut bahkan ketika kita membuka hal yang sama sekali tidak berhubungan. Itu karena mereka tahu kita punya potensi untuk bepergian sehingga kita butuh tiket - dan mereka maunya kita beli dari mereka.

Sebenarnya ini tidaklah seluruhnya jahat. Sebelum internet memasyarakat pun forecasting semacam ini sudah dilakukan. Yang tidak etis adalah kalau benar kita 'diintai' sampai urusan yang sifatnya pribadi. Dalam film Snowden ditunjukkan bahwa kamera laptop bisa diaktifkan dari jarak jauh dan gambar kita bisa diambil. Sering tidur ngadep laptop terbuka ? Hayoloh..

Memang masih debatable apakah kita ini sebenarnya 'merdeka' atau tidak. Tapi kalau bicara soal internet agak susah jaman sekarang melepaskan diri dari hal yang satu ini, karena banyak juga manfaatnya. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan kita dalam menggunakannya. Kita harus senantiasa sadar bahwa dalam private chat paling private sekalipun bisa saja ada orang lain yang membaca.

Rasanya kita perlu mencontoh Truman yang heroik mencari kebenaran. Faktanya adalah bahwa serapat apapun kungkungan yang melingkupi kita, pasti ada celahnya. Kalau kita cukup bijaksana, setiap perjalanan bisa jadi hikmah.

You never had a camera in my head - Truman

Pelajaran dari Truman : jangan menyerah dan sepahit apapun kenyataan hadapi dengan tersenyum lebar :)

Well, I'm Truman - Truman Burbank


Salam,

Chandra


Saya Cinta Palestina tapi Tidak Ikut Aksi

December 17, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Hari ini ada Aksi Bela Palestina di Monas. Saya tidak ikut. Ada beberapa alasan sehingga bagi saya rasanya tidak worth it untuk pergi ke Jakarta 'hanya' untuk ikut acara ini.

Bagi orang awam seperti saya, Aksi Bela Palestina ini lebih esensial daripada acara bernuansa sama beberapa hari lalu. Setahun yang lalu ada kasus penistaan agama lalu ditanggapi dengan Aksi Bela Islam dan aksi semacamnya. Bagus, karena pada akhirnya kita sadar bahwa kehormatan agama ini perlu dibela. Tapi perlukah reuni ? hmmm. Jangan-jangan kalau tahu Trump bakal mengeluarkan pidato kontroversial beberapa hari berikutnya reuni itu tidak akan ada.

Seperti kita tahu Trump kemarin mengeluarkan statement yang memicu kehebohan dunia dengan mengatakan bahwa Jarusalem adalah ibukota Israel. Akibatnya konflik di Palestina sana semakin menyala dan berdarah-darah.

Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ikut panas. Muncul gerakan-gerakan dan kampanye untuk membantu saudara-saudara yang berjihad di Palestina. Bagus, kalau kata Ust. Hanan Attaki di jaman sekarang bangsa-bangsa seperti Palestina, Syria, dan Rohingya adalah kaum 'Muhajirin' sedangkan bangsa damai seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei adalah kaum 'Ansor'. Sudah seharusnya bangsa-bangsa damai dan makmur memberikan kepedulian besar atas saudaranya.

Seperti Anda, saya juga cinta Palestina. Tapi...


Kalau tadi saya katakan ada beberapa alasan yang membuat saya tidak begitu simpatik dengan aksi ini adalah ketidaksukaan saya pada beberapa kelompok atau pihak yang terlibat. Walaupun saya bilang aksi ini esensial, nuansa aksi ini tetap relatable dengan aksi-aksi sebelumnya dan saya terlanjur tidak simpatik dengan aksi-aksi itu. Saya sepakat dengan ide yang mendasari aksi-aksi ini. Tapi jujur saya lelah menyaksikan drama-drama di belakangnya dan perselisihan yang terjadi di level akar rumput.

Maaf kalau sangat subyektif, saya sadar bahwa kalau sudah tidak suka dengan sesuatu segalanya jadi tampak tidak baik. Tapi faktanya bahkan saya terpaksa kehilangan respect pada seorang guru yang dulu saya anggap sangat intelek tapi kini sering membagikan informasi-informasi tidak akurat dan dipaksakan untuk menyalahkan pihak lain, bahkan kadang berisi ujaran kebencian.

Saya punya prinsip, untuk mendapatkan gambaran paling murni tentang sesuatu, carilah petunjuk dengan rantai informasi terpendek. Saya orang yang internet-active, tapi sangat menghindari berita yang isinya "katanya-katanya", tanpa sumber yang jelas, bahkan kadang cacat logika. Sayangnya berita seperti ini sangat banyak tersebar di internet, membuat berita salah memang lebih mudah daripada membuat berita benar. Kebiasaan selektif ini memang kadang-kadang membuat saya ketinggalan berita, tapi sisi baiknya adalah saya tidak banyak terpengaruh oleh buzzer-buzzer yang belum tentu kredibel.

Video wawancara atau pidato yang tidak dipotong, berita yang narasumbernya terlibat dalam peristiwa, dan sumber berita non profit yang jauh dari kepentingan adalah alternatif referensi yang menurut saya lumayan baik. Sayangnya yang seperti ini seringnya sulit dicari.

Masyarakat muslim Indonesia terpolarisasi sejak kasus penistaan agama dan pilkada yang heboh itu. Di sisi lain informasi bias tersebar dengan sangat cepat. Perdebatan terjadi dimana-mana dan sebagiannya tidak menghasilkan solusi, malah banyak saya temui di sosial media dimana sesama teman jadi saling menyalahkan.

Saya pun berjudi dengan tulisan ini. Walaupun pembacanya belum banyak-banyak amat, tetapi pasti ada diantara teman-teman yang membaca ini yang tidak sependapat dengan saya. Tolong kalau saya salah diingatkan, tapi jangan buta-buta membeci saya karena tulisan ini. Jangan-jangan nanti banyak keputusan memilih menantu dipengaruhi stance dalam hal-hal ini heuheu...

Kalau saya pada akhirnya berempati atau membantu saudara-saudara di Palestina, itu bukanlah karena terinspirasi dari aksi hari ini. Tetapi itu karena hidayah Allah melalui gambaran-gambaran peristiwa yang terjadi di Palestina yang saya akses dari sumber-sumber referensi yang saya yakini tadi.

Nasehat dekat dengan kata "kebenaran" dan "kesabaran"
Sama seperti Anda, saya juga cinta Palestina
Save Palestine




Salam damai,
Chandra








Junior

December 15, 2017 Posted by Chandra Nurohman , 1 comment


Baru beberapa bulan yang lalu saya adalah 'angkatan tertua' di kampus. Menjadi golongan yang paling berkuasa atas fasilitas kampus, paling dekat dengan dosen, dan dianggap paling tahu seluk beluk kehidupan mahasiswa.

Beberapa bulan berlalu, saat ini, saya adalah golongan paling junior di lingkungan yang baru. Sama seperti dulu waktu baru masuk SMP, SMA, dan kuliah, banyak yang berubah. Kita bisa saja mendengar kuliah itu seperti ini, bekerja itu seperti ini, tapi banyak hal yang harus dijalani sendiri untuk kita bisa mengerti.

Sebenarnyalah saya sudah cukup familiar dengan tempat baru ini. Banyak orang-orang di dalamnya yang sudah saya kenal. Sejak awal tahun saya telah berkali-kali ke sini untuk keperluan tugas akhir. Setidaknya diantara orang-orang baru, saya adalah yang paling terdahulu.

Hari ini adalah hari terakhir masa probation (percobaan) saya di sini. Besok Senin status saya sudah berubah. Malam ini saya memutuskan untuk bermalam di kantor, awalnya karena hujan yang tak kunjung reda mengguyur daerah utara Bandung, tapi akhirnya saya putuskan untuk menginap agar lebih mengenal tempat ini. Selain udara yang sejuk dan air yang dingin, ternyata fasilitas penunjang kehidupan di sini sangat lengkap. Pantesan beberapa orang memutuskan totally tinggal di sini...

Dari seluruh drama-drama perubahan status senior menjadi junior (lagi), ada satu hal yang menurut saya layak dibagikan. Saya belajar banyak soal ini, yaitu ikhlas menerima bahwa kita ini masih junior.

Berpindah ke tempat baru, sepandai apapun kita pada suatu hal, pasti ada yang sama pandainya dengan kita tapi lebih berpengalaman. Kalau dibandingkan, kita ini lebih banyak tidak tahunya daripada tahunya.

Ikhlas menerima bahwa kita masih "muda" artinya membuka diri bagi pengalaman, pelajaran, dan cara berpikir yang baru. Hal ini lebih bijak daripada meyakini kita sudah banyak tahu. Memang pasti akan ada nilai, norma, dan budaya yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini kita yakini, tapi justru disitulah kita diuji seberapa mampu memilih secara obyektif mana yang lebih baik.

Berinteraksi dengan orang-orang baru akan memberikan kita perspektif-perspektif yang juga baru. Ada sebuah ilustrasi yang cukup menarik :
Ada 10 orang mengelilingi seekor gajah. Masing-masing orang mengambil foto gajah itu dengan kameranya. Pertanyaannya, apakah diantara 10 foto itu ada yang sama persis ? Tidak. Tapi apakah semuanya benar gambar seekor gajah ? Ya. Artinya obyek yang sama akan tampak berbeda jika dilihat dari perspektif yang berbeda.
Dialah yang paling banyak melihat gambar orang lain yang bisa mendeskripsikan gajah dengan paling tepat. Dialah yang paling banyak belajar.

Tidak sedikit lulusan dari kampus yang katanya besar merasa sudah menguasai banyak hal sampai-sampai lupa bahwa masih banyak yang perlu dipelajari. Keikhlasan untuk selalu menempatkan diri dalam posisi belajar membuka banyak kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Dimana-mana ada ilmu, tinggal seberapa peka kita menangkapnya.

Sakit hati, dianggap kurang cakap, direndahkan oleh orang yang kita rasa harusnya di bawah kita, adalah konsekuensi dari semua itu. Belajar di sekolah sifatnya hanya menerima dan mencoba memahami (entah ini sistem belajar yang betul atau tidak). Tapi belajar di masyarakat lebih real, menuntut kemampuan beradaptasi, dan terkadang keras.

No pain, no gain. Kalau ikhlas menjalani segala prosesnya, sedikit demi sedikit kita akan dianggap semakin mampu. Kita akan bergerak dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain yang lebih besar. Tapi jangan menolak sebuah tanggung jawab hanya karena kita ragu akan kemampuan sendiri, justru dalam pelaksanaan tanggung jawab itu akan ada pelajaran yang bisa diambil. Lagi-lagi pelajaran. Ini adalah cara naik yang sangat elegan.

Pada akhirnya, berada di tempat baru adalah soal kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan kebaikan yang sebelumnya sudah dimiliki dan sebisa mungkin mengubah kekurangan menjadi kelebihan yang lain, dengan belajar. Bicara soal karier, menurut saya antara belajar dan bekerja tidak bisa begitu saja dipisahkan. Bukan berarti orang yang belajar itu tidak bekerja dan orang yang bekerja tidak belajar. Alhamdulillah saya bersyukur mendapat kesempatan untuk belajar dengan dibayar.


Salam, dari saya yang juga masih belajar.


gambar by Jojo

Ahsan

December 02, 2017 Posted by Chandra Nurohman , 3 comments


Orang bilang jadilah besar karena prestasi, bukan sensasi. Namun tampaknya tahun ini nama Mohammad Ahsan terangkat lebih karena karena sensasi yang dibuatnya. Tapi sensasi tidak selamanya buruk. Ada pelajaran dan nilai-nilai yang patut disebarkan. Seperti yang dicontohkan Mohammad Ahsan.

Siapa tak kenal Mohammad Ahsan ? Semua yang mengikuti berita perbulutangkisan Indonesia pasti tahu. Bersama Hendra Setiawan, Ahsan sempat menjadi ganda putra ranking satu dunia. Sederet prestasi dipersembahkan Ahsan untuk merah putih, mulai dari 2 gelar juara dunia (2013 dan 2015), 9 title turnamen level Superseries, juara Asian Games, Sea Games (3x), belum termasuk posisi runner up dan juara tiga di berbagai kompetisi. Sampai beberapa tahun yang lalu Ahsan - Hendra adalah tumpuan Indonesia untuk meraih gelar, bersama Tontowi Ahmad - Lilyana Natsir tentu saja.

Ahsan-Hendra
Saat ini Ahsan-Hendra sudah dipisah. Hendra Setiawan selanjutnya berpasangan dengan Tan Boon Heong asal Malaysia. Sementara Ahsan bersama partner barunya, Rian Agung Saputro, saat ini sedang menapak naik dan sementara berada di ranking 30 dunia.

Bersama pasangan barunya, capaian tertinggi Ahsan baru mencapai silver medalist World Championship 2017 yang diselenggarakan di Glasgow. Tapi belakangan ini yang banyak disorot warganet justru beberapa tingkah Ahsan - Rian yang tidak lazim dalam sebuah pertandingan bulutangkis profesional.

Ahsan-Rian mulai mencuri perhatian setelah secara santun menolak bersalaman dengan seorang wasit perempuan. Wasit yang bersangkutan juga tidak tersinggung dengan hal ini, nampak dari wajahnya yang ikut tersenyum. Sejak saat itu gerak-gerik mereka, terutama Ahsan, semakin sering disorot kamera.

Menolak bersalaman dengan service judge perempuan

Beberapa tahun yang lalu ada himbauan untuk pemain badminton putri agar mengganti penggunaan celana dengan rok. Tujuannya agar permainan terlihat lebih 'menarik', meniru pertandingan tenis. Ahsan justru mendemonstrasikan antitesisnya. Dalam beberapa turnamen terakhir Ahsan tampak mengenakan semacam legging. Tujuannya ? Untuk menutup aurat, tentu tanpa mengganggu pergerakannya. Apresiasi datang dari banyak pihak untuk Ahsan (dan Rian yang kemudian mengikuti) atas pilihannya ini

Menutup aurat
Pada pertandingan bulutangkis profesional saat ini, setiap poin 11 tiap set-nya ada interval turun minum dan pelatih bisa memberikan arahan. Pada beberapa kesempatan kamera menyorot pasangan Ahsan-Rian saat turun minum. Namun ada hal yang tidak biasa. Mereka menerima instruksi dan minum sambil duduk! Budaya sederhana yang rasanya tidak pernah dipraktekkan sebelumnya di tengah panasnya sebuah pertandingan bulutangkis. Sangat menjunjung tinggi etika.

Minum sambil duduk
Perlahan performa Ahsan-Rian makin kompak dan membaik. Beberapa kali mereka menembus babak QF atau SF bahkan final sebuah turnamen superseries. Alhasil tindakan-tindakan off-field mereka semakin viral. Semoga semakin hari semakin banyak gelar yang mereka raih.

Ini adalah cerita 'hijrah' seorang Mohammad Ahsan. Menolak bersalaman, menutup aurat, minum sambil dudu adalah hal sederhana jika dilakukan oleh orang biasa. Tapi jika hal sederhana ini dilakukan oleh seorang yang powerful efeknya bisa sangat besar. Bagaimanapun Ahsan adalah salah satu pebulutangkis berpengaruh dalam satu dekade terakhir.

Layaknya kereta api yang meskipun berjalan pelan bisa melontarkan apapun yang ada di depannya, karena massanya besar. Begitu juga ini, contoh sederhana dari seorang atlet kelas dunia bisa mengajak banyak orang untuk ikut 'berhijrah'.

Bersujud
Kita tidak berhak menyalahkan seolah perubahan Ahsan ini 'terlambat'. Episode ketika Ahsan masih berpasangan dengan Hendra mungkin bukan saat yang tepat untuk pelajaran ini bisa dengan cepat menyebar. Saat itu adalah masanya Ahsan mendaki karier sebagai pemain bulutangkis hingga menjadi sosok yang besar. Pada akhirnya nama besarnya menjadi jaminan atas apa yang dilakukannya. Tindakannya diapresiasi, didukung, dan diikuti oleh banyak orang.

Sore ini (2/12), bertepatan dengan saya memulai tulisan ini, Ahsan reunian dengan Hendra dalam Kejurnas PBSI 2017 di Bangka Belitung. Sebagai mantan pasangan nomor 1 dunia mereka masih terlalu tangguh untuk pemain kelas nasional. Dengan relatif santai mereka meraih gelar juara nasional. Sorak sorai berkumandang menyambut mereka. Rindu pada pasangan yang telah banyak mengharumkan nama Indonesia. Tapi yang paling penting, Ahsan tetap menjaga nilai-nilainya. Semakin tampak dia yakin dengan yang dilakukannya.


Salam,
Chandra
saya bukan siapa-siapa, isi tulisan ini juga tidak seberapa, tapi semoga ini dihitung sebagai upaya menyebarkan kebaikan, dan semoga apa yang saya tuliskan semakin bermanfaat setiap saat, dari hari ke hari, bukan menjadi semakin sia-sia.