Hari yang Berat? Sama

October 16, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dalam sepakbola ada yang namanya statistik expected goal (xG). Sekarang angka xG inilah yang sering dipakai pengamat untuk menilai apakah suatu tim bola bermain dengan baik. Jumlah asli gol mulai dipinggirkan dalam hal analisis karena kadang-kadang memuat unsur keberuntungan. Statistik xG mengeliminasi faktor-faktor itu sehingga penilaian lebih akurat.

Dalam suatu pertandingan suatu tim bisa saja mencetak gol lebih banyak daripada xG-nya. Misal xG 1,5 tapi berhasil membuat 4 gol. Artinya tim ini antara beruntung, penyerangnya terlalu jago, atau bek lawan yang lawak. Menang sih, tapi dari kacamata pengamat atau data scientist tim hal macam ini kurang disukai, menangnya karena bejo.

Sebaliknya bisa saja jumlah gol tercipta kurang dari xG. Ini bisa terjadi karena tim ini kurang beruntung atau pertahanan lawan terlalu rapat. Dalam jangka panjang, kejadian ini lebih diinginkan. Kalau kalah sesekali nggakpapa, kalau menang berarti karena kualitas.

Sama bola sama pula sekolah. Rangking yang diberikan di kelas-kelas adalah jumlah gol, belum tentu mencerminkan kualitas sebenarnya. Bisa jadi orang ranking teratas tapi karena beruntung, nyontek, atau memang punya bakat jadi bisa juara tanpa usaha. Dalam jangka pendek bagus, tapi pondasinya rapuh.

Orang seperti ini belajar secara sporadis, pokoknya yang penting hasil akhir. Gol dianggap lebih penting karena itu yang dilihat kebanyakan orang. Tanpa sadar jumlah golnya jauh melebihi xG. Pada saatnya ketika xG lebih diperhitungkan, dia tumbang.

Sebaliknya ada orang yang tidak selalu terdepan tapi mampu mempertanggungjawabkan hasil dengan proses yang dilakukan. Tidak tampak spesial di luar, tapi pondasinya kuat. Orang lurus pasti ada saatnya bersinar.

Hmm..namanya juga hidup, kadang-kadang kudu dipithes

Ridwan Kamil

October 12, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments


Saat ramai-ramai aksi menentang pengesahan UU Ciptaker kemarin, sejauh penglihatan saya Ridwan Kamil adalah gubernur yang pertama menemui peserta aksi dan bersuara menyatakan diri berpihak pada pihak pekerja/buruh/mahasiswa. Ada yang mengapresiasi tindakan tersebut, namun tidak sedikit pula yang mengatakan RK hanya cari panggung, colongan kampanye untuk 2024. Good gesture, questionable motives katanya.

Hanya Ridwan Kamil dan orang-orang terdekatnya yang tahu motif sebenarnya. Sama seperti ketika beliau mengajukan diri menjadi volunteer untuk ujicoba vaksin Covid-19. Ada yang nyinyir bahwa itu tipu-tipu dan RK tidak benar-benar divaksin, sampai-sampai harus di-debunk oleh Ridwan Kamil sendiri lewat instagram beliau. Not sure if it is a campaign, but it works. 

Pilpres 2024 masih lama dan banyak plot twist masih bisa terjadi. Tapi andaikata pemilu diadakan tahun ini (dan tidak ada pandemi), saya akan pilih Ridwan Kamil. Bahkan kalau apa yang terjadi beberapa waktu terakhir dinihilkan, saya sudah punya cukup alasan untuk memilih beliau.

Throwback ke tahun 2013. Ridwan Kamil terpilih menjadi Walikota Bandung setelah mengantongi lebih dari 45% suara. Angka yang menakjubkan dan langka mengingat saat itu ada 8 pasangan calon, iya delapan, empat berpartai empat independen. Peringkat kedua dan ketiga hanya mendapat 17 dan 15 persen suara. Edan.

Yah siapa yang nggak silau dengan CV Ridwan Kamil waktu itu. Tergolong angkatan muda, track record bersih, nonpartisan, golongan profesional, dan yang paling penting orang bandung aseli. Angin segar untuk Bandung setelah pemimpin sebelumnya terjerat kasus korupsi.

Tahun 2013 itu pula saya menginjakkan kaki di Bandung untuk kuliah. Waktu daftar ulang ITB di Bulan Mei, spanduk cawalkot ada dimana dimana, Agustusnya ketika masuk kuliah Ridwan Kamil sudah jadi calon walikota terpilih. Saya yang baru datang sekalipun merasakan optimisme yang tumbuh di tengah masyarakat Bandung bahwa kota ini bisa maju. Apalagi di jagad dunia maya, barudak bandung merasa punya walikota yang bisa dipamerkan pada teman-teman dari kota lainnya. 

Agak jarang di jaman itu ada pejabat yang aktif di sosial media, padahal itu cara mudah dan murah untuk dekat dengan rakyat. Ada pimpinan daerah yang trending karena keberhasilannya memajukan wilayahnya. Tapi RK sudah jadi sensasi bahkan sejak hari pertama menjabat, sebelum benar-benar melakukan apapun untuk kotanya.

Saya masih ingat hal-hal yang awal dilakukan ketika mulai menjabat adalah memerintahkan seluruh pejabat Kota Bandung untuk aktif di twitter. Waktu itu twitter adalah sosial media terbesar dan banyak akun-akun macam JogjaUpdate, InfoBandung, dll yang menjadi tempat masyarakat sambat termasuk soal problematika kota. Di Bandung orang yang berwenang disuruh turun gunung memantau keadaan di sosial media. 

Selain itu, mudah ditebak bahwa Ridwan Kamil akan membangun dan mempercantik infrastruktur fisik kota sesuai latar belakang akademiknya, arsitektur dan urban planning. Disebut membangun saja tidak cukup karena faktanya fasilitas yang dibangun selalu memperhatikan estetika. Salah satu karya paling mahsyur ketika itu: Taman Jomblo.

Taman Jomblo | Tribun


Zebra cross Bandung | Merdeka.com


Dalam beberapa bulan muncul taman-taman baru di Bandung. Tanah kosong di tengah kota didandani, kolong jembatan layang dan bantaran sungai disulap jadi tempat bermain. Mural dan seni jalanan difasilitasi untuk menghasilkan karya yang bagus dan rapi. Slogan Bandung Creative City terus didengungkan. Anak-anak muda digerakkan untuk berkreasi, bahkan dibuatkan gedung sendiri yang dinamai Bandung Creative Hub.

Mobilisasi anak muda paling masif tentu ketika peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Ribuan anak muda menjadi volunteer tanpa dibayar. Saya adalah satu diantaranya, rasanya senang sekali mendapat kesempatan berkontribusi untuk Kota Bandung dan bekerja di bawah kendali Ridwan Kamil.

Volunteer gathering Peringatan 60 tahun KAA | Svaradiva.id

Setelah proyek-proyek kreatif, infrastruktur fungsional mulai dikebut seperti perbaikan gorong-gorong, trotoar, jalan, dan jembatan layang. Infrastruktur yang flop tentu juga ada, misalnya Teras Cihampelas yang hangat hangat tai ayam, hanya rame di awal. Tapi jumlah yang gagal ini minor kalau dibandingkan dengan keseluruhan pembangunan. Overall Bandung tetap sebuah kota yang rapi dan nyaman, kota dimana saya bisa mengerjakan soal mekanika fluida di sebuah taman.

Taman Musik, pernah garap tugas disini | Phinemo.com

Ridwan Kamil mengakhiri masa jabatan sebagai Walikota Bandung pada 2018 tanpa meninggalkan record berbau dugaan korupsi atau semacamnya. Kalau dibilang kecolongan mungkin dalam hal pembangunan yang tetap berjalan di kawasan Bandung utara. Tapi ini pun tidak benar-benar dalam kontrolnya karena kawasan itu bukan hanya meliputi wilayah administrasi Kota Bandung saja tapi juga Kabupaten Bandung Barat.

Saat terpilih menjadi gubernur Jawa Barat saya sudah tidak terlalu merasakan influencenya seperti ketika menjadi walikota. Lagipula saya pindah dari Bandung tahun 2019. Tapi melihat keberhasilannya mengalahkan duo Dedi dan pasangan Asyik (bandwagon Prabowo-Sandi dan Anies Baswedan dengan pendukung super militan) rasanya bisa disimpulkan kalau masyarakat tetap percaya pada RK.

Apa yang saya rasakan ketika tinggal di Bandung plus beberapa sentimen lain seperti kesamaan almamater menjadikan saya punya penilaian yang tinggi pada seorang Ridwan Kamil. Andai saya masih sekolah, beliau adalah orang yang saya harapkan hadir menjadi pembina upacara di hari senin pagi.

Kembali ke Jogja?

October 02, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Drama-drama 2020 menggariskan saya untuk test drive merasakan WFH yang benar-benar WFH karena dikerjakan dari rumah bukan kosan. Saya sudah pulang 2x, masing-masing satu bulan dan dua minggu. Pulangnya karena ada keperluan, tapi extend-nya karena belum perlu ke kantor dan rasanya lebih aman tetap disana.

Untuk teman-teman yang memang ada kepentingan atau sudah sangat rindu pulang, pulang saja nggakpapa. Pastikan badan dalam kondisi sehat dan bugar. Seminggu sebelum tanggal perjalanan jaga diri baik-baik dan tingkatkan standar prokes minimal di diri sendiri. Siapkan masker, face shield, hand sanitizer dan jangan lupa dibawa pas jalan. Jangan lupa tes rapid atau swab dan tetap berdoa semoga diberi keselamatan. 

Saya khawatir kalau menunggu pandemi selesai atau vaksin valid bakal sampai tahun depan. (P.S. tanggal 9 Desember masih ada rame-rame pilkada...)

Total 1,5 bulan kerja dari Jogja membuat saya menyimpulkan: kerja di Jogja itu enak banget asal gaji tetap ngikut Jakarta wkwkw

Saya mungkin ada bias sebagai orang Jogja. Masyarakat Jogja adalah masyarakat yang kebanggaan akan daerahnya tinggi. Jadi mohon dimaklumi kalau orang Jogja bias dalam menilai sesuatu tentang kotanya. Kadang disengaja, kebawa romantisme daerah istimewa.

Kembali ke WFH, rumah saya tidak ada WiFI karena pernah mau pasang tapi jaringannya belum sampai. Tethering dari HP jadi andalan ketika kerja dari rumah. Kuota lebih boros tapi nutup karena nggak perlu transport dan jajan. Beranjak sedikit dari laptop di meja makan sudah ada pisang goreng anget.

Kalau butuh internet yang kencang dan bisa diandalkan, sesekali saya ke kota. Pernah saya tuliskan di sini: https://www.chandranurohman.id/2020/08/45-menit-di-jalan.html

Keluar rumah = kulineran. Self reward afterwork jadi sangat menyenangkan karena dimana mana makanan murah dan enak. Makanan mahal dan enak ada juga sih, tapi mahalnya Jogja tetep bukan tandingannya ibukota. Kalau yang mahal dan gak enak jarang. Mie ayam 12 ribu udah sama minumnya dan enaknya gak kira-kira (re: Karman). 

Faktor lain yang membuat betah kerja dari Jogja adalah orang-orangnya. Walaupun sebagian sudah merantau, tapi masih banyak teman dan saudara yang tinggal di Jogja. Nggak tau ya, tapi di Jogja itu sering kalau mau main nggak usah janjian dulu, langsung datang aja ke rumah atau tempat nongkrongnya. Kalau ke rumah dan nggak ketemu, ya ngobrol aja sama bapaknya. Berasa orangnya selo selo gampang dicari, nggak kemrungsung dikejar dunia.

Jujur saya jadi kepikiran untuk kerja dari atau di Jogja. Tapi syarat dan ketentuan berlaku, offer harus cocok dulu. Di sisi lain sekarang banyak bermunculan kantor-kantor teknologi dan startup di Jogja. Bahkan kemarin ketemu seorang teman dan dia mem-forward info lowongan software engineer. 

Jogja punya banyak kampus dengan keilmuan teknik yang bagus, banyak anak muda lokal dan pendatang, biaya sewa tempat dan sumber daya murah, dan akses makin mudah dengan bandara baru dan tol. Kayanya 3-5 tahun yang akan datang bakal makin banyak bermunculan kantor digital di Jogja. Secara ladang ada kemungkinan untuk balik kesana.

Tapi di atas itu semua alasan terkuatnya adalah keluarga. Orang tua di Jogja dan sepertinya memilih untuk tetap disana. Bersama mereka satu bulan lebih menyadarkan saya bahwa ketika kita sibuk mengejar cita-cita kadang kita lupa mereka juga menua. 

Opsi untuk dalam tahun-tahun ke depan berkarir di Jogja kembali saya buka. Filter job vacancy sekarang tidak hanya DKI Jakarta tapi juga D.I.Yogyakarta. Saya belum tahu jalannya akan bagaimana jadi tidak mau mengkhayal di awang-awang. Tapi kalau niatnya untuk menemani orang tua, semoga Allah berikan rute paling mulusnya. Aamiin

Finally, hari ini tanggal 2 Oktober selain hari batik adalah hari ulang tahun ibu saya. Mohon doanya beliau sehat dan bahagia. 

Thanks!


Sponsor Rokok

September 08, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Kalau suatu saat akrab sama orang barat atau malah tinggal di negeri barat, ada pertanyaan yang ingin sekali saya tanyakan ke mereka, kenapa mereka anti tembakau tapi pro alkohol?

Begini begini, hipotesis saya ini sangat mungkin salah karena referensi utama saya adalah balapan Formula 1. Sejak tahun 2006, FIA selaku panitia balapan Formula 1 melarang adanya iklan produk tembakau atau rokok dalam event olahraganya. Larangan ini tidak lepas dari dorongan dari WHO dan negara-negara tempat balapan dihelat. Sementara itu iklan produk-produk alkohol masih diijinkan sampai sekarang.

Saya coba mengesampingkan bias yang mungkin terjadi karena saya orang Indonesia dan muslim yang normalnya menganggap rokok masih mending daripada minumal beralkohol. Tapi meski begitu dalam benak saya tetap logisnya kalau tembakau dilarang seharusnya alkohol juga dilarang, atau sebaliknya dibolehkan dua-duanya saja.

Saya sebagai penonton tidak lantas pengen ngrokok hanya karena lihat iklan rokok. Apalagi di Indonesia iklan rokok ada di mana mana di seluruh sudut kota, sudah kebal. Lagipula sponsor-sponsor rokok di body mobil F1 punya nilai nostalgia dan membuat tampilan tampak lebih maskulin.


Karena larangan iklan rokok ini, Ferrari yang pada era Schumacher sangat identik dengan logo Marlboro-nya mengubahnya menjadi barcode yang katanya kalau dilihat sekilas dalam kecepatan tinggi akan mereplikasi logo Marlboro. 

Sekarang logo barcode berubah lagi menjadi Mission Winnow yang ternyata adalah bagian dari gerakan CSR-nya Phillip Morris International, pemilik merk Marlboro. Hal serupa dilakukan McLaren dengan A Better Tomorrow-nya yang ternyata milik British American Tobacco.


Negara seperti Australia lebih ketat lagi sampai sampai Ferrari dan McLaren harus menghapus logo yang nyrempet-nyrempet rokok itu. Kalau kata kementerian kesehatan Australia :

The laws aim to limit messaging that may persuade people to start or continue using tobacco.

Salut sih dengan keberanian pemerintah Australia melawan kapitalisme rokok. Padahal Phillip Morris sudah membayar Ferrari lebih dari 150 juta dollar untuk memasang logo Misson Winnow. Kebijakan yang nggak bisa 'dibeli', Ferrari tetap muncul di balapan polosan.

Kembali ke pertanyaan awalnya, kalau iklan produk tembakau dilarang kenapa produk alkohol enggak ya? Alfa Romeo masih menyematkan logo Singha, sebuah produk beer. Bahkan Heineken masih bisa menjadi title sponsor untuk Zandvoort Grand Prix 2020 meskipun batal karena pandemi.

Kalau dari sisi kesehatan bukannya tembakau dan alkohol sama sama punya efek negatif ya? Soal terlarang bagi anak-anak juga sama kan. Alasan yang valid mungkin karena efek alkohol dirasakan sendiri sedangkan rokok karena mengeluarkan asap membuat orang di sekitar ikut terdampak. 

Saya ada pikiran yang agak sinis, entah benar atau tidak, bahwa secara kasta sosial rokok itu ada di bawah alkohol. Faktanya rokok kan memang makanannya negara berkembang macam Indonesia. Mungkin mereka menganggap rokok adalah komoditi rakyat jelata jadi dianggap bukan domain mereka dan nggak masalah mengeluarkan kebijakan yang kontra.

Formula 1 masuk kategori olahraga mahal walaupun masih di bawah golf dan tenis. Sindrom orang kaya ogah memakai barangnya orang biasa mungkin ada di seluruh dunia, dan mungkin salah satu barangnya adalah rokok.

Saran saya ke FIA mbok sudah biarin tim-tim F1 bekerja sama dengan sposor rokok. Ikuti saja cara negara kami: yang penting nggak muncul gambar produk rokoknya. Perusahaan rokok adalah satu dari sedikit perusahaan yang mampu menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk aktivitas olahraga. Cocok untuk membantu tim-tim yang kesulitan pendanaan seperti sekarang ini.

Saya bukan perokok tapi mendukung sponsor rokok kembali menempelkan namanya di body mobil F1 karena keren. Formula 1 tidak perlu terlalu kejam pada brand rokok kalau Sugarbook saja masih bisa jadi sponsor.





Kenapa Orang Indonesia Mengemudi di Kiri?

September 04, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Sejarah kenapa kita orang Indonesia mengemudi di kiri dan mengendarai mobil setir kanan berawal dari jaman kekaisaran Romawi. Saat itu Romawi menguasai nyaris seluruh Eropa termasuk sebagian Britania. Mereka membangun jaringan jalan di daratan Eropa dan berkendara di sisi kiri. 

Berkendara di sini tentu bukan mengendarai kendaraan bermotor. Saat itu transportasi utama manusia adalah kuda. Karena sebagian besar orang tidak kidal alias lebih banyak menggunakan tangan kanan, untuk naik ke atas punggung kuda akan lebih mudah dilakukan dari sisi kiri kuda, kebayang maksudnya? Cek gambar di bawah.

Tapi normalnya orang tidak akan naik kuda di tengah jalan seperti itu. Untuk alasan keamanan mereka akan naik dari tepian jalan seperti gambar di bawah. Kebiasaan ini berulang dan memunculkan kebiasaan baru yaitu untuk berkendara di sisi kiri jalan.


Ketika rezim berganti dan Napoleon menguasai Eropa, dia mengubah kebijakan sisi berkendara menjadi di sebelah kanan, alasannya supaya beda aja. Jadilah seluruh Eropa daratan berubah menjadi berkendara di kanan. Negara yang tidak mau tunduk adalah Inggris, mereka tetap di kiri, yakali tunduk sama orang Perancis.

Perancis dan Inggris membawa kebiasaan berkendara ini ke negara-negara jajahannya. Itulah sebabnya negara jajahan Inggris banyak berkendara di kiri dan jajahan Perancis di kanan. Pengecualian yang paling kentara adalah Amerika Serikat. AS adalah jajahan Inggris namun sampai sekarang berkendara di kanan a la Perancis. Kenapa?

Amerika adalah negara dengan daratan yang sangat luas. Seekor kuda tidak cukup untuk ditumpangi atau menarik kereta kuda melintasi negara. Dibutuhkan dua, empat, atau enam ekor untuk menempuh jarak yang akan dilalui. Masalahnya ketika ada lebih dari 1 kuda, sang kusir duduk dimana?


Kecenderungannya dia akan duduk di sisi kiri belakang karena harus mengontrol (memecut) kudanya dengan tangan kanan - which is lebih mudah kalau tidak kidal. Karena ada di kiri, akan lebih aman kalau mereka berkendara di sisi kanan jalan. Ini dilakukan untuk mencegah adu banteng dengan orang yang berpapasan.

Di jaman kuda urusan berkendara di kanan atau kiri ini hanyalah kebiasaan. Tapi lama kelamaan seiring lalu lintas yang semakin padat dan diciptakannya mobil, banyak negara meresmikan dasar hukumnya, Industri mengikuti dengan membuat dua versi kendaraan, setir kiri dan setir kanan, tergantung ke negara mana kendaraan itu akan dijual.

Indonesia sendiri berkendara di sisi kiri karena mengikuti Belanda. Meskipun saat ini Belanda memilih sisi kanan, tapi ketika datang ke Nusantara mereka masih berkendara di kiri. Napoleon hadir dan mengubah sistem di sana baru tahun 1800an, sedangkan Belanda sudah datang jauh sebelum itu. 

Fakta menarik tentang ini misalnya Jepang yang tidak dijajah oleh Inggris maupun Perancis. Mereka berkendara di kiri sebagai warisan nenek moyang seperti jaman Romawi. Kebiasaan ini diubah jadi kebijakan resmi ketika mereka berkawan dengan Inggris (yang juga di kiri) dalam pembangunan sistem rel dan kereta Jepang.

Kedua, negara-negara kecil di sekitar Australia ikut berkendara di kiri walaupun tidak dijajah oleh Inggris. Alasannya karena mereka banyak mengimpor mobil setir kanan dari AUS dan NZ. Ingat rumusnya: setir kanan - jalan di kiri seperti di negara kita, dan sebaliknya. 

Sekian

100.000

August 30, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Wow, lama nggak nulis dan sekalinya ngecek ternyata pageview blog ini sudah menyentuh angka seratus ribu. Yah jangan dibandingkan sama blog yang dikelola profesional dan berisi konten-konten bermanfaat, karena pastilah jauh. Ini blog pribadi yang isinya random dengan tema tergantung suasana hati penulisnya.

Saya dulu lumayan rajin nulis, bisa sepuluh bahkan belasan tulisan per bulan pas tahun 2016. Waktu itu saya masih belum beli domain, namanya masih nurohmanchandraaa.blogspot.com. Iya namanya nggak enak karena susah milih nama yang bagus dan masih available di blogger, bahkan a di belakang harus tiga biar diterima. Alasan lain belum beli domain ya karena waktu itu dompet tipis.

Dulu sering nulis karena layaknya mahasiswa lainnya: ingin jadi sosok inspiratif. Tapi kayanya nggak berhasil jadi seiring berjalannya waktu arahnya jadi makin pribadi dan apa adanya. Sempat juga saya perlakukan blog ini seperti instagram dimana saya sering upload foto. Jangan suruh saya baca tulisan-tulisan lama karena saya nggak mau, malu wkwk

Satu titik saya terpikir untuk me-monetize blog ini dengan mendaftarkan google adsense. Sayangnya ditolak oleh google dengan alasan konten blog terlalu random sehingga tidak jelas akan dipasang iklan apa. Okelah nggakpapa, cuma iseng-iseng berhadiah.

Saya telat masuk blogger yang mana awal 2010an dulu ada tren 'berteman' di blogger dan mencantumkan alamat blog orang lain di blog sendiri. Tapi walau begitu bukan berarti saya tidak punya penpal. Ada masanya tulisan-tulisan di sini adalah bentuk komunikasi saya dengan orang lain (re: kode). Kalau kepo silakan digali sendiri ada beberapa yang mengandung mention hahaha

Ketika sadar bahwa blog bisa juga jadi platform branding, saya akhirnya memutuskan beli domain yang lebih rapi. Kebetulan di dekat kampus dulu ada QWords, sebuah provider layanan web hosting. Saya langganan ke mereka karena dulu cuma itu yang saya tahu. Awalnya saya pakai chandranurohman.com, lalu saya ubah lagi ke chandranurohman.id.

Terlepas dari waktu itu men-challenge diri untuk menulis setiap hari selama 30 hari, saya sekarang sudah lebih jarang menulis. Rasanya kok pertimbangannya macam-macam kalau mau nulis nggak seperti dulu yang kalau terpikir sesuatu langsung buka laptop dan post. Padahal yang baca juga nggak banyak-banyak amat.

Tulisan paling sering dibaca orang sampai saat ini adalah soal perpanjang paspor yang penuh drama dulu dan ATM yang punya pecahan 20 ribu di Bandung. Tips-tips seperti ini selain terindeks secara lebih baik di google juga lebih menarik minat orang untuk membacanya daripada tulisan soal diri saya. Tulisan pribadi biasanya yang baca nggak terlalu banyak, mungkin teman-teman yang kenal saja.

Yah, apapun itu semoga apa yang saya taruh disini bermanfaat. Maaf kalau banyak sambat karena ternyata jadi orang dewasa itu mayan berat. Thanks!

Chandra


45 Menit di Jalan

August 13, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments

Dinamika pandemi yang terjadi di Jakarta membuat saya merasakan bekerja benar-benar dari rumah. Kesempatan langka yang belum tahu kapan lagi akan terjadi. Selagi masih bisa saya mau tetap di rumah. Alhamdulillah

Pekerjaan sehari-hari bisa saya kerjakan tanpa perlu keluar rumah. Tapi kalau ada video conference atau pekerjaan yang membutuhkan koneksi internet cepat biasanya saya memilih nongkrong di internet cafe yang ada di kota Jogja. Saya seperti flashback ke jaman TA dulu. Karena sudah bebas teori jadi saya bisa pulang kampung dalam waktu lumayan lama, agar supaya TA tidak terbengkalai, biasanya saya gegarapan di internet cafe.

Orang Jogja atau yang pernah kuliah di Jogja pasti tahu tempat-tempat macam Luxury, Platinum, Net City, Merapi Online, Expresso, dll. Ketika warnet-warnet konvensional berguguran, mereka masih eksis karena menawarkan sesuatu lebih misalnya tempat yang cozy banget, AC dingin, musik, dan menjual voucher wifi (tanpa bundling syarat beli makanan atau apapun) jadi bisa pakai laptop sendiri, enak kali buat nugas.

Sebagai warga Bantul selatan, butuh waktu sekitar 45 menit untuk motoran sampai Luxury. Akhirnya saya merasakan sensasi jadi commuter Bantul - Jogja, hal yang belum saya rasakan karena setelah lulus SMA langsung pindah ke Bandung. Sedangkan pas SMP SMA walaupun nglaju tapi nggak sejauh itu, 15-20 menit sampai.

Jarak kosan Cisitu dengan kampus plus minus 2 km, jarak kosan Kuningan sama kantor sekitar 1,5 km, sedangkan jarak rumah ke luxury kira-kira 27 kilo wkwk. Tapi ya karena jalanan nggak macet bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, paling mentok 1 jam. 

Waktu 45 menit di jalan ini lho yang seru. Pertama, walaupun sudah masuk jam kerja tapi saya punya alasan yang legit untuk mengabaikan WA atau email kantor, karena lagi di jalan wkwk. Bayangkan di hari senin pagi yang hectic punya waktu 'merdeka' sebanyak itu.

Waktu 45 menit juga cukup untuk merenung kemana-mana, memikirkan hal yang nggak perlu dipikirkan. Setengah dari perjalanan itu dihabiskan masih di area Bantul yang hijau, membuat perenungan jadi lebih paripurna. Benar-benar beda dengan di Jakarta dimana pikiran penuh usaha mencari rute paling nggak macet ke kantor, lalu tahu-tahu sampai.

Hijau kan kanan kiri..

Kenikmatan lain adalah karena di sepanjang jalan yang saya lalui ada beberapa spot tempat makan favorit, termasuk yang saya tulis disini. Trust me fren, makanan-makanan ini bukan cuma kasih nutrisi untuk badan, tapi juga pikiran, mood auto naik habis makan. Fyi, di samping Luxury banget ada Tempo Gelato, kurang nikmat apa coba? 

Selain deretan tempat makan juga ada deratan tempat penuh kenangan haaiyaa...

Kadang sepanjang jalan juga ketemu yang lucu-lucu, misal bapak-bapak bawa gerobak ditarik 2 sapi besar di Jalan Parangtritis. Jangan dibayangkan seperti delman atau dokar, ini gede ukurannya nyaris menghabiskan satu lajur jalan, jadi mobil harus gantian lewat. Kalau disapa bapaknya nyahut.

Man, I spent the whole August till now in Bantul, banyak ide tapi nggak gerak nulis. Sekian dulu barangkali tulisan pertama dari Jogja di Agustus ini. Terima kasih sudah membaca.

Chandra

Butuh 1,5 Tahun

July 25, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Hari ini saya sedang dalam mode hemat energi. Tidak ada kegiatan berarti yang saya lakukan sepanjang hari, hanya beberes, cuci-cuci, makan, ibadah, istirahat, dan ber-media sosial. Topik yang sedang naik di twitter tentang dikotomi agama vs sains menggerakkan jari saya untuk mengutip sebuah quote dari Mas Sabrang.

Orang yang belajar sains setengah-setengah pasti meragukan agama
Orang yang belajar agama setengah-setengah pasti meragukan sains

Saya cari video seminar dimana beliau menasehatkan itu untuk kemudian saya bagikan link-nya di twitter. Pencarian saya ternyata berlanjut pada keadaan dimana saya dengan nyaman membiarkan videonya berjalan. Saya menyimak seminar PK LPDP itu dengan seksama karena memang saya suka dengan tema dan pembicaranya. Ini adalah pertama kalinya dalam 1,5 tahun terakhir saya bisa menerima sesuatu yang berkaitan dengan LPDP secara lapang dada.

Kegagalan saya pada seleksi beasiswa LPDP 2018 sejujurnya bukan sesuatu yang dengan gampang saya cerna. Saya merasa sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya. Semua dokumen lengkap, sertifikat bahasa Inggris saya siapkan dua, IELTS dan TOEIC dengan nilai diatas kriteria. Nilai tes komputer termasuk tinggi di Bandung. Bahkan selama proses seleksi LPDP saya secara paralel mendaftar ke kampus tujuan dan sudah diterima di Imperial College London. Tapi pengumuman beasiswa LPDP di akhir tahun 2018 menyatakan saya belum diterima. Saya sempat tidak percaya sampai butuh waktu untuk shalat dan lain sebagainya sebelum memberi tahu orang tua.

Bulan berikutnya saya sempat mendaftar universitas dan beasiswa lain tapi jiwa saya nggak disana, karena memang dari awal cita-citanya adalah ICL. Pergulatan batin terjadi dan saya berusaha menghindar dari segala bahasan soal beasiswa. Hanya permintaan sharing dimana saya bisa membumbuinya dengan curhat yang saya layani, selain itu biasanya secara naluri ingin menjaga jarak.

Saya dulu orang yang akademisi sekali, bahkan waktu kuliah sempat ada teman memberikan julukan Unstoppable karena selalu beruntung dan mulus kalau soal akademik dan kampus. Sampai sekarang masih sering ada yang bertanya apakah saya sudah S2. Faktanya saya malah belum punya rencana untuk apply lagi sampai saat ini. Sejak awal 2019 belum satupun usaha berkaitan dengan pascasarjana yang saya lakukan.

Pengumuman di akhir Desember (dan beberapa pengumuman sesudahnya) itu membelokkan semua rencana saya. Sampai akhirnya jalan saya terarah ke ibukota pun saya masih belum bisa lega. Masih lebih menyenangkan membicarakan pekerjaan daripada beasiswa.

Saya tahu kalau tidak ada yang bisa disalahkan atas kegagalan ini, ya yang salah saya sendiri. Tapi ternyata ikhlas tidak semudah itu. Atau lebih tepatnya mudah atau tidaknya ikhlas itu ditentukan dari hal-nya apa dulu. Karena meaning yang diletakkan seseorang atas sesuatu bisa berbeda-beda. Sepertinya bidang pendidikan yang bertahun-tahun menjadi zona nyaman bagi saya justru adalah tempat dimana saya paling lemah menghadapi kegagalan. 

Sampai suatu titik saya bertekad untuk berkarir di luar negeri dan menjadi diaspora. Menetap di negara orang sekedar untuk bisa menjawab ketika ditanya alasan tidak kembali ke Indonesia: "Saya pernah mendaftar beasiswa pemerintah yang punya ikatan untuk kembali, tapi ditolak. Jadi sekarang saya tidak punya kewajiban untuk mengabdi". Maaf kalau gumedhe, memang keadaannya lagi emosi waktu itu.

Pelan-pelan porsi dari diri saya yang bisa menerima keadaan kian bertambah. Seiring berjalannya waktu ada jawaban-jawaban yang bikin mbatin "oh mungkin ini alasannya". Menasehati orang untuk menyelesaikan masalahnya lebih mudah karena kita tidak terlibat langsung dan bisa melihat dari jarak dan sudut yang lebih jelas, tapi kalau mengalami sendiri jadi paham bahwa memaafkan dan berdamai dengan keadaan tidak sesederhana itu.

Butuh 1,5 tahun bagi saya untuk bisa kembali bersinggungan dengan hal-hal tadi tanpa menghidar atau menyembunyikan ekspresi. Alhamdulillah saya bahagia dengan apa yang saya jalani sekarang dan tidak berkurang bahagianya ketika tahu ada orang yang berhasil mendapatkan apa yang dulu saya harapkan. Alhamdulillah...

Mungkin orang menyangka, ku tak pernah terluka
Tegar bagaikan karang, tak mencucurkan air mata
- Seurieus

Best regards,
Stoppable

Tentang Medhok

July 17, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Hari-hari ini sedang ramai di twitter bahasan tentang gaya bicara logat jawa alias medhok. Pakai h ya, medhok bukan medok. Gara-garanya ada orang yang membuat status WhatsApp mendiskreditkan orang yang gaya bicaranya medhok. Katanya bagi dia medhok itu bikin malu, nggak mau berteman sama orang medhok, dan cuma akan jadi ceng-cengan di tongkrongan.

Screenshotnya tersebar di twitter dan jadi bahan olok-olokan. Banyak yang terpancing, kalau ketahuan identitasnya pasti sudah habis itu diserbu netizen. Nggak salah sih kalau dikatakan rasis karena logat bahasa ada hubungannya sama suku, dan disana ada unsur perendahan. 

Saya sih bukannya nggak pernah mendapat perlakuan diskriminatif karena logat masih medhok walaupun sudah 7 tahun merantau. Nggak sampai disakiti lah, hanya kadang ada perasaan tidak bisa ngeblend dengan lingkungan sekitar. Kemarin sempat ada yang mengkuantifikasi privilege. Suku Jawa dapat skor paling positif diantara suku lainnya, tapi entah kenapa logat jawa malah dianggap setback.

Tapi alhamdulillah yang nggak enak-nggak enak itu tidak terjadi di lingkungan utama. Di lingkungan tempat tinggal, kuliah, kerja, semua tetap kondusif. Saya dikelilingi orang-orang yang nggak mengernyitkan dahi mendengar logat medhok saya. Di sisi lain saya juga memahami mereka yang geli dengan aku-kamu sehingga sebisa mungkin saya tidak mengucapkan itu.

Karena lidah masih kaku untuk berkata lu-gue jadi ini bukan solusi terbaik. Baru setelah bekerja saya lebih terbiasa. Sebelumnya waktu kuliah sulit sekali karena saya dikelilingi banyak orang Jawa baik di kosan maupun di kampus. ITB adalah tempat yang membuat Anda belajar bahasa Jawa walaupun tidak menginginkannya.

Seiring berjalannya waktu saya bisa mengotak atik kalimat sehingga tidak perlu mengucap aku-kamu maupun lu-gue, dengan maksud yang tetap tersampaikan. Percakapan lisan kan nggak harus semuanya sesuai SPOK untuk bisa dipahami. Kalau konteksnya komunal biasa pakai kita-mereka-kalian yang berterima di kedua belah budaya. Jadi saya juga nggak primordial mentok yang menganggap logat dan kebiasaan bahasa saya yang terbaik. Saya sadar saya berada di tanah orang.

Saya bersyukur tidak punya teman seperti orang yang membuat status WA tadi. Kalaupun ada perasaan berjarak dengan lingkungan tertentu itu terjadi secara mutual understanding. Saya tahu saya nggak nyaman dalam pergaulan yang terlalu ibukota. Di sisi lain orang lain juga berhak merasa tidak nyaman di lingkungan saya. 

Kebahagiaan dalam aktivitas seperti badminton, nonton film, makan, karaoke, atau futsal itu tentu akan maksimal jika dilakukan dengan orang yang satu selera. Semakin tidak ada batasan maka semakin momen itu bisa dinikmati. Semua orang ingin menikmati momen secara penuh sehingga cenderung berkumpul dengan sesamanya. That's totally fine.

Nggak usah terlalu baper dengan kasus "kita ada grup yang nggak ada kamunya lho" karena kecocokan dalam pergaulan orang dewasa tidak bisa dipaksakan. Asalkan kita being left out bukan karena melakukan kesalahan atau jadi orang yang terlalu menyebalkan itu nggak masalah. 

Saya punya geng namanya Batan Community bersama teman-teman sejurusan yang dulu kalau siang suka rebahan menjurus tidur siang di masjid Batan samping kampus. Temanya memang jowo tapi ada teman dari Cirebon dan Bekasi juga yang ikut di dalamnya. Di tempat kerja ada grup Beruang Sopodel bersama teman-teman yang tahu-tahu cocok aja kalau ngobrol. Kebanyakan dari Jawa juga walaupun ada satu orang dari Sulteng.

Dalam pergaulan sehari-hari saya jarang menyebut soal grup itu pada orang yang tidak ada di dalamnya. Tapi beberapa teman dekat sudah tahu dan tidak menanyakan apalagi mempermasalahkannya. Sama halnya saya happy-happy saja kalau teman punya circle lain yang saya tidak ikut di dalamnya. Intinya nggak usah baper.

Apakah saya ingin meninggalkan logat medhok? Saya ingin menguranginya sampai level dimana itu tidak lagi menjadi batasan bagi saya untuk berhubungan dengan siapapun. Tapi saya tidak ingin menghilangkannya babar blas. Selain sebagai penghargaan akan identitas, kadang medhok ada untungnya juga. Misal dalam pekerjaan sebagai engineer, menjadi orang medhok (berarti dari daerah) menguntungkan karena dianggap pekerja keras dan tidak banyak nuntut sehingga lebih disukai, begitu kata senior saya. 

Bagi saya nggak ada gunanya merasa rendah karena medhok. Lihat tu video-video yang menampilkan crazy rich surabaya, banyak yang logat Suroboyonan-nya minta ampun kentalnya dan mereka tidak malu dengan itu. Tapi kita juga jangan me-roasting orang yang pakai lu-gue apalagi kalau memang berasal atau tinggal di ibukota. Faktanya sapaan elo dan gue itu bagian dari budaya Betawi juga.

Mari melihat persoalan logat ini tidak lebih dari kenyamanan pergaulan. Keinginan untuk berada di lingkungan yang nyaman ini sangat wajar. Apapun yang ada di alam cenderung mencari posisi kesetimbangan dimana di tempat itu resistansinya minimal. Jangan sampai masalah ini mengganggu kolaborasi dan silaturahmi. 

Soal oknum yang membuat status WA tadi, saya nggak yakin dia nggak ikut heboh dengan revival Pakde Didi beberapa waktu terakhir ini.


Chandra

Hujan dan Bandung

July 16, 2020 Posted by Chandra Nurohman No comments
Hujan sudah mulai kembali turun. Satu dua bulan ke depan ia mungkin sudah akan hadir tiap hari. Hujan sering disalahkan sebagai sebab munculnya ingatan dan kenangan yang telah lalu. Begitu juga kenangan saya soal Bandung. 

Bukan, bukan karena saya pernah punya seseorang di Bandung. Saya cleansheet ya disana btw. Tapi bagi saya Bandung dan hujan itu perpaduan yang ultimate. Saya suka Bandung dan saya suka hujan. Ketika keduanya hadir bersamaan maka yang muncul adalah kesempurnaan. Ada beberapa alasan kenapa Bandung dan hujan adalah salah satu perpaduan tempat dan waktu yang terbaik. One of the best, if not the best. 

Kota Bandung berada pada ketinggian lebih dari 750 meter di atas permukaan laut. Tempat tinggal dan kampus saya di kawasan bandung utara lebih tinggi lagi, mungkin 850 atau 900 mdpl. Jadilah suhu udara disana rata-rata 5-6 derajat lebih dingin daripada Jogja dan Jakarta. Jam 1 siang disana sama dengan jam 9 pagi di Jakarta.

Suhu udara yang sudah sangat nyaman itu menjadi makin sejuk ketika hujan datang. Banyaknya pepohonan dan tanah terbuka di tengah kota menghadirkan petrichor, alias bau tanah kering yang baru saja terkena hujan, pleasing relaxing. Pohon-pohon menjadi kanopi alami ketika hujan belum terlalu menjadi-jadi. Kalaupun akhirnya deras dan harus berteduh, selepas hujan tetesan air dari dedaunan menghadirkan nuansa yang masih bisa dinikmati.

Ada yang menarik jika hujan dan saya sedang berada di kosan. Kebetulan garasi kosan saya diatapi dengan kanopi dari bahan yang kalau terkena hujan bunyinya nyaring sekali. Alhasil dalam hujan yang tidak terlalu deras pun suaranya sudah berasa lebat. Di dalam kamar, matikan lampu, lalu tarik selimut sambil berharap hujan jangan cepat-cepat reda sebelum saya bisa memejamkan mata.

Kampus adalah tempat kedua dimana saya sering mengalami hujan. Kali ini tidak semua pengalamannya menyenangkan karena hujan membuat lorong-lorong licin karena tampias. Gedung fakultas saya juga tidak terintegrasi dengan jalur teduh yang memanjang dari depan sampai belakang kampus. Menyeberang dari satu gedung ke gedung lain bisa membuat sedikit basah. Tapi tetap saja saya lebih sering tidak punya payung. 

Hujan membuat lapak-lapak penjual makanan depan kampus jadi becek. Begitu pula kalau mau jalan ke masjid Salman terkadang harus agak mengangkat celana dan mengamakan sepatu ketika melewati beberapa genangan. Yang paling parah tentu saja paving block boulevard yang sudah ngangkat-ngangkat dan kalau hujan lalu diinjak airnya suka muncrat. Entah sudah dibenerin apa belum yang ini.

Tapi lagi-lagi bau tanah basah, tetesan air dari daun dan talang gedung, nuansa wet look di taman-taman kampus, dan angin yang menjadi semakin sejuk cukup untuk membayar ketidaknyamanan yang terjadi. Belum termasuk lapangan saraga yang menjadi tidak berdebu selepas hujan. 

Sepanjang pengalaman saya di Bandung selama kurang lebih enam tahun, hujan disana adalah yang paling bisa diprediksi dibanding Jogja dan Jakarta. Di Bandung sangat jarang ada hujan di pagi hari. Biasanya mendung baru mulai datang sekitar jam 11, lalu mulai turun hujan jam 1 atau 2 siang. Pagi yang cerah membuat orang tidak perlu berangkat kerja secara rempong karena harus pakai jas hujan, pakai sandal dengan sepatu ditaruh tas, dan juga anak sekolah tidak perlu meringkuk di dalam ponco dibonceng bapaknya ke sekolah.

Saya sempat menuliskan rute galau terbaik di Bandung adalah naik ke Lembang. Pengalaman ini akan menjadi makin paripurna kalau dilakukan selepas hujan. Warna dedaunan menjadi semakin hujau dan sedap dipandang, angin semakin dingin semilir, dan kabut yang turun menebal menambah nyaman perjalanan. Walaupun harus lebih berhati-hati karena jalan yang naik turun jadi lebih licin.

Kalau dibagi lagi menjadi episode-episode per musim hujan selalu saja ada pengalaman yang berkesan. Ngarak wisuda di tengah hujan deras pernah, kejebak hujan di Ciwidey lalu terpaksa neduh karena jas hujan cuma satu model celana pernah, kehujanan waktu nobar Liverpool di Alpina pernah, dan masih banyak lagi. Sebuah sountrack soal hujan yang jadi teman merenung jaman awal-awal kuliah, lagunya The Cascades - Rhythm of the Rain, hehe

Listen to the rhythm of the falling rain
Telling me just what a fool I've been
I wish that it would go and let me cry in vain
And let me be alone again
Rain please tell me now does that seem fair
For her to steal my heart away when she don't care?
I can't love another when my hearts somewhere far away 

Membandingkan Bandung dengan Jogja selalu ada bias romantisme kampung halaman, tapi soal hujan Bandung miles ahead. Bandung adalah tempat yang dapat dinikmati hujannya. Hujan membuat repot kadang-kadang, tapi suasananya, ketenangannya, sejuk udaranya tetap jadi hal yang dirindukan orang-orang yang pernah mengalami hujan disana.


Chandra, kehujanan di Bandung 2013-2019