Cerita dalam Sesuap Sushi

July 02, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Baru enam bulan ini saya kenal sushi. Dulu saya pikir kalau mau makan ikan ya mending dibakar atau digoreng sekalian. Tapi ternyata makan sushi bukan sekedar bikin perut kenyang. Rugi kalau cuma untuk kenyang, sensasi makannya yang susah didapat dalam makanan lain di dunia.

Sejauh ini sushi terenak yang pernah saya makan adalah yang di Aeon Mall Cakung. Saya belum nyoba yang di Aeon Mall BSD, harusnya sama enaknya. Tempura di Aeon juga enak, salah satu mall dengan kuliner paling sip menurut saya. Tapi kalau yang paling seru makannya adalah di kaitenzushi-nya Sumo Sushi di Lippo Plaza Jogja. Kaitenzuzhi tu itu yang sushi-nya jalan di conveyor belt.

Menurut saya sushi adalah antitesis dari makanan-makanan barat yang konsepnya mencampur aduk berbagai jenis bahan, sebut saja burger dan pizza. Sementara sushi dibuat dengan sangat sederhana. Sushi yang original dan mahal dibuat hanya dengan meletakkan irisan tuna atau ikan lain di atas sekepal nasi, lalu dioles dengan sedikit shoyu.

Ketika setiap koki barat punya resep rahasia, master sushi membuat sushinya tepat di hadapan para pelanggannya. Karena hampir-hampir tidak dimasak, rahasia kenikmatan sushi ada pada bahan. Resep rahasianya ada di naluri pembuatnya itu sendiri, yaitu kejelian untuk memilih ikan terbaik sebagai bahan sushinya.

Jiro Ono adalah salah satu pembuat sushi paling terkenal di Jepang. Dia turun tangan untuk memilih langsung bahan yang akan digunakannya. Pagi hari dia pergi ke Tsukiji market, mencari ikan dan udang terbaik untuk tamu-tamunya hari itu. Tsukiji fish market adalah pasar ikan yang sangat besar di Jepang dan terkenal dengan aktivitas lelang tunanya.
sumber gambar

Tamu Jiro Ono terbatas dan harus reservasi jam dulu jika ingin datang, tidak bisa datang sewaktu-waktu. Satu shift hanya ada kurang lebih 8 tamu dan dilayani langsung olehnya. Ikan segar diiris dan nasi dikepal tepat di depan mata pengunjungnya. Dari tangan Jiro Ono sushi diletakkan di hadapan tamu dan disantap saat itu juga. Sebuah dokumenter berjudul Jiro Dreams of Sushi dibuat untuk mengapresiasinya yang telah menjadikan sushi bukan sekedar makanan namun juga sebuah karya seni.

sumber gambar

Keistimewaan sushi adalah kita dibuat menikmati tiap suapannya. Sungguh sayang melewatkan sensasi meski hanya sebuah suapan saja karena setelah itu langsung habis. Beda dengan sepiring nasi atau seloyang pizza yang bisa dihabiskan dalam belasan suapan. Tak masalah sambil bicara atau memikirkan hal lain karena masih ada suapan berikutnya. Beda dengan sushi, lupakan yang lain dan nikmati saja.

Apalagi sushi tidak bisa dibilang murah. Untuk pasar Indonesia, satu suap sushi dijual dalam varian harga 5 hingga 15 ribu. Di tempat yang lebih mewah mungkin lebih tinggi dari itu. Plus ada resiko keselak kalau berbicara ketika mulut penuh dengan sushi. Ini membuat makin tidak baik mengunyah sushi sambil bicara. Yaa makanan lain juga tidak boleh sebenarnya. Ngobrol di sela-sela makan saja.

Kalau ada yang belum pernah makan sushi, saya sarankan segera mencoba. Kalau bisa yang ikan mentah sekalian biar merasakan bahwa ikan bisa dimakan mentah, kalau ayam sih susah. Entah kenapa menurut saya kedai sushi termasuk tempat yang nyaman untuk nongkrong dan ngobrol. Mungkin karena makannya simpel, tidak banyak perkakas sendok, garpu, piring, panggangan, kompor, dan lain sebagainya yang memenuhi meja, layaknya budaya masak di meja makan yang sedang banyak berkembang.

Sekarang sushi juga semakin beragam, menyesuaikan dengan lidah orang setempat. Tapi citra sederhana dalam sekepal sushi tetap terjaga. Batasan-batasan bahwa tidak banyak cara merekayasa rasa sushi sehingga harus dipilih bahan terbaik serta ekslusifnya sebuah sushi sehingga harus dihayati tiap suapnya menunjukkan bahwa batasan dapat memunculkan keindahan dalam hal lainnya.


@chandranrhmn

Pengabdi Sedan

July 01, 2019 Posted by Chandra Nurohman 1 comment

Rata-rata masyarakat indonesia saat ini menganggap orang itu kaya kalau sudah bisa beli mobil Pajero Sport atau Fortuner terbaru. Tapi di tahun 80-90an, orang disebut kaya ketika bisa membeli sebuah sedan. Secara waktu itu keluarga anaknya banyak, tapi mau mengeluarkan uang untuk kendaraan yang kurang praktis karena hanya bisa muat maksimal lima orang.

Maka kalau mencari mobil tahun 90an di forum dan platform jual beli, gampang menemukan mobil jenis sedan. Ada keluarga corolla (corolla dx, corolla wagon, great corolla), keluarga civic (civic estillo, civic genio, civic ferio), lalu accord (accord maestro, accord cielo), dan mitsubishi lancer dari berbagai generasi. Tidak ketinggalan duo Jerman, BMW (3 series, 5 series, 7 series) dan mercedes (c-class, e-class, s-class).

Accord Maestro
Civic Estilo
Bekas-bekas kejayaan sedan masih terasa sampai sekarang dengan tingginya pajak jenis mobil ini dibandingkan varian MPV (avanza, innova, serena, dll) maupun SUV (rush, ecosport, fortuner, dll) di tingkat harga yang sama. Meski begitu, para pengabdi sedan tetap enggan beralih ke jenis mobil lain.

Persaingan pabrikan mobil dunia di sektor sedan adalah yang paling konsisten sejak tahun 80an hingga sekarang. Meskipun populasi di jalan tidak banyak, tapi masing-masing merk punya produk sedan di berbagai kelas harga. Mulai dari pabrikan Jepang hingga Jerman terus memperbarui generasi-generasi sedannya mengikuti perkembangan teknologi, tuntutan keamanan, dan selera masyarakat.

Great Corolla (Greco)
Civic Ferio
Honda masih meneruskan trah civic-nya hingga sekarang lahir civic turbo. Begitupun Toyota tidak ketinggalan dengan corolla-nya, sekarang ada corolla altis. Untuk pasar lebih mahal, Honda punya Accord dan Toyota punya Camry, keduanya juga terus menelurkan generasi-generasi baru.

Inilah menariknya sedan, head-to-head antar pabrikan sangat nyata. Terutama 4 pabrikan dengan budaya sedan yang panjang di Indonesia. Toyota melawan Honda, BMW melawan Mercedes. Mitsubushi, Chevy, Ford, Kia, dan Nissan juga punya sedan. Tapi line-up mereka tidak selengkap 4 merk sebelumnya.

Untuk kategori Jepang, di level paling murah ada persaingan antara Toyota Vios dan Honda City. Vios adalah versi sedan dari Yaris sedangkan City adalah versi sedan dari Jazz. Kita tahu Yaris dan Jazz juga bersaing ketat di pasar hatchback Indonesia.

Secara dimensi Vios dan City mirip, namun yang lebih plek-plekan adalah kapasitas mesin (1.5 L) dan jenis transmisi yang digunakan (Manual 5 speed dan CVT). Meski begitu, secara tenaga City sedikit lebih unggul, dan lebih mahal sedikit.


Naik ke level sedan menengah, seperti yang sudah ditulis sebelumnya ada duel antara Corolla dan Civic. Nah beda dengan adiknya, Corolla dan Civic ini kelihatan bedanya di versi 2019. Civic berubah agrasif dengan bokong yang tinggi, sementara Corolla normal-normal saja.

Dalaman mesin juga berbeda, Civic punya dua opsi sedangkan Corolla hanya satu.

Mesin Civic 2019

  • 2.0-liter inline four; 158 horsepower, 138 lb-ft of torque; 30 miles per gallon in city driving and 38 mpg on the highway
  • 1.5-liter turbocharged inline four; 174 hp, 167 lb-ft of torque; 32 mpg city/42 mpg hwy

Mesin Corolla 2019

  • 1.8-liter inline four; 132 hp, 128 lb-ft of torque; 28 mpg city/36 mpg hwy

Sama-sama empat silinder, tapi jelas Civic punya tenaga lebih besar. Kalau diperbandingkan di kelas ini, Honda dengan Civic-nya lebih unggul.

Civic 2019
Naik ke kelas lebih mahal, di harga 600 jutaan ada Honda Accord dan Toyota Camry. Camry hadir lebih mendobrak dengan mengeluarkan varian hybrid di generasi terbarunya. Dengan adanya dua mesin (bensin dan listrik), Camry punya tenaga lebih besar. Namun, Camry juga punya versi bensin saja, tenaganya pun masih lebih tinggi dari Accord (Camry: 180hp/239Nm, Accord: 173hp/225Nm).

Namun Accord dijual dengan harga lebih mahal, hal ini dikarenakan Accord punya fitur lebih lengkap. Beberapa fitur Accord yang tidak bisa ditemui di Camry diantaranya: cruise control, keyless entry, traction control, dan sensor parkir.

Camry Hybrid 2019

Bergeser ke Eropa, kita akan menemukan persaingan abadi antara BMW dan Mercedes. Perseturuan ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia. Di sebagian negara, Audi ikut meramaikan permainan. Level BMW dan Mercedes berada di atas Honda dan Toyota baik secara harga maupun fitur sehingga populasinya di Indonesia tidak terlalu banyak.

Secara pola persaingan, Honda-Toyota dan BMW-Mercedes serupa. Honda punya City, Civic, Accord. Toyota punya Vios, Corolla, dan Camry. BMW dan Mercedes juga punya 3 hirarki sedan dengan format penamaan lebih sederhana mengikuti sejarahnya.

BMW punya 3-series, 5-series, dan 7-series. Besok-besok kalau lihat sedan BMW di jalan lihat badge di belakangnya. Jika tertulis 318i, 320i, 325i maka itu 3-series. Kalau 520i, 523i, itu 5-series, begitu pula untuk 7-series. Untuk Mercedes penamaannya serupa namun karakter pertama menggunakan huruf. Mercedes C200, C280 adalah C-class, begitu pula untuk E-class dan S-class kelas yang lebih tinggi. Head to head-nya 3-series dengan C-class, 5-series dengan E-class, dan 7-series dengan S-class.

BMW 3-Series 2019
Mercedes S-class

Sekian sedikit wawasan saya soal dunia persedanan. Kalau saya, sedan yang jadi impian adalah Civic FD2. Mobil ini memang sudah nggak baru, tapi juga belum terlalu tua. Populasinya lumayan banyak di Indonesia, bengkel dan sparepart tidak susah. Yang paling penting adalah desainnya yang sporty dan laki, terutama kalau dipasang spoiler belakang. Woow!!


@chandranrhmn

Bola Sepak Plastik

June 30, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ada dua kebiasaan masa kecil yang masih saya syukuri sampai sekarang. Pertama adalah akrab dengan permainan puzzle. Kalau tidak salah dulu ada yang dibelikan dan ada yang bonus sebuah produk susu. Hasilnya masa kecil saya akrab dengan teka-teki. Saat rumah kami dibangun, mainan puzzle tambah seru. Sisa-sisa kabel kaku dan potongan kayu limbah kusen dan jendela tidak dibuang tapi dikasih ke saya untuk mainan. Jadi seperti lego, referensinya bukan gambar tapi imajinasi sendiri.

Kebiasaan kedua adalah bermain bola hampir tiap sore hari. Saat itu tidak ada gadget diantara anak-anak di kampung kami. Saya pertama kali punya handphone pribadi kelas 6 SD, menjelang masuk SMP. Itu pun hanya untuk telepon dan SMS, belum ada internet. Sepulang sekolah kami bermain di luar rumah. 

Kami bisa bermain bola di mana saja. Mulai dari halaman rumah, sawah, jalan (harus berhenti ketika kendaraan lewat), lapangan voli kampung, sampai yang paling mewah halaman sekolah. Tanpa perlu buat janji, semua sudah tahu kalau sore hari adalah waktunya bermain. Tidak perlu angka-angka jam berapa, yang penting hari sudah tidak terlalu panas kami berangkat. Ketika jumlahnya dirasa cukup, pembagian tim dilakukan dengan pingsut.

Permainan kami sederhana. Gawang dibuat dari tumpukan sandal atau pecahan batu bata. Lebarnya menyesuaikan dimana kami bermain dan berapa orang yang datang. Menjadi masalah ketika bola melewati bagian atas tumpukan gawang, gol atau tidak biasanya diselesaikan dengan kekeluargaan. Khusus di lapangan sekolah agak lebih mewah, ada gawang betulan yang dibuatkan oleh sekolah.

SD saya dulu, entah gawangnya ditaruh mana, gambar dari google street view

Kami bermain tanpa alas kaki. Sayang sepatunya kalau dipakai main bola. Sebenarnya ada sepatu bola, tapi dalam permainan kami satu nyeker semua nyeker. Kasihan kalau ada yang telanjang kaki lalu terinjak sepatu, tentu sakit sekali. Kaki berdarah adalah sebuah keniscayaan. Kami bermain di sembarang tempat. Di sana ada batu, sisa akar pohon, bekas pondasi bangunan, dan lain sebagainya. 

Bola yang dipakai tentu saya bola plastik seharga 3000an. Sebuah barang yang saat itu saya anggap mewah. Dibelinya dengan cara patungan 500 rupiah. Tidak semuanya, yang merasa punya sisa uang jajan saja. Sebenarnya bisa minta orang tua, tapi entah kenapa cara seperti ini yang biasanya terjadi. Ada rasa tidak enak kalau membeli sendiri bola itu, takut teman-teman menganggap kita bos yang ingin berkuasa dalam permainan, ingin selalu dimenangkan, dan menentukan kapan mulai dan berhenti bermain.

Sampai di warung terjadi musyawarah lagi. Ada beberapa jenis bola yang dijual, 2500 warna abu-abu tipis, 3000 bola belang-belang yang seperti permen alpenleibe, atau 4000 untuk bola yang dilapis spon. Mau pilih bola yang mana, anak yang iurannya paling banyak biasanya berhak menentukan. Bola 4000 bagus tapi karena ada sponnya jadi berat ketika kena air masuk sungai. Bola 3000 lebih disukai karena agak tebal jadi ketika sudah bocor masih bisa dipakai.

Bola baru akan bocor dalam 4 atau 5 hari setelah dibeli, paling lama seminggu. Biasanya karena kena tanaman berduri. Tapi selama bola tidak sobek, bola itu akan tetap dipakai sampai sebulan lebih sebelum beli lagi yang baru. Itupun terpaksa beli karena bolanya hilang terbawa sungai, nyangkut di genteng, atau disembunyikan entah oleh siapa.

Saya masih ingat ketika Piala Dunia 2002, demam bola semakin menggila. Tidak ada hari tanpa sepak bola. Saat itu saya naik kelas 2 dan jaman itu masih jarang yang namanya les, kursus, segala macam seperti jaman sekarang. Aktivitas anak-anak hanya tiga: sekolah, tidur, dan bola.

Bola adalah benda paling menyenangkan saat itu. Bahkan ketika gempa melanda Jogja dan sekitarnya, bola adalah hiburan bagi kami. Bola itu hanya seharga 3000 namun cukup untuk menghadirkan kebahagiaan dan kebebasan di benak anak-anak. Dulu membeli sebuah bola bukanlah hal yang sederhana. Ada uang jajan yang harus disisihkan untuk mendapatkannya. Sekarang anak-anak itu sudah beranjak dewasa. Sekarang mereka bisa membeli bola sejumlah yang mereka inginkan. Tapi kegembiraan itu sulit untuk diulang.

Apa yang kita pengen di masa lalu kalau sekarang ada duitnya kita bisa beli barangnya tapi nggak bisa beli kebahagiannya.

Adzan maghrib berkumandang, saatnya untuk pulang.




Wisuda

June 29, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments


Pertengahan tahun begini kampus-kampus mewisuda mahasiswanya. Para mahasiswa yang sudah 4,5,6 tahun berada di bawah tekanan akhirnya menemukan hari dimana mereka berhak bersuka cita. Untuk sebagian mahasiswa mungkin hari itu pertama kalinya mereka bertemu rektor dan bersalaman dengannya. Bagi sebagian orang tua bisa jadi itu kali pertama datang ke kampus anaknya. Intinya banyak cerita dalam sebuah acara wisuda.

Kami wisuda di Sasana Budaya Ganesha alias Sabuga. Di setiap acara wisuda, selalu ada pemandangan sebuah keluarga besar menunggu cucu, ponakan, atau kakak adiknya dengan membentangkan tikar di lapangan samping Sabuga. Sambil makan bekal layaknya mereka menunggu wisudawan keluar dari gedung, kadang-kadang sampai menjelang sore. Karena yang boleh menemani masuk ke dalam hanya dua orang, biasanya bapak ibu wisudawan.

Di sepanjang jalan Tamansari berjejer penjual bunga dan boneka gajah. Semakin mendekat ke Sabuga barisannya semakin rapat. Mereka menunggu teman sesama mahasiswa atau keluarga membeli dagangannya untuk diberikan pada orang yang wisuda. Profesi lain yang tidak ketinggalan ketiban rejeki sibuk adalah penjahit selempang dan mamang balon di Balubur.

Dari pintu Sabuga sampai gerbang depan ITB panitia arak-arakan yang kebanyakan mahasiswa tingkat satu berjejer mengamankan jalan yang akan dilalui massa himpunan. Ya, di kampus kami selesai prosesi tidak langsung pulang, semua (benar-benar semua) himpunan mahasiswa akan mengarak wisudawannya keliling jalan-jalan kampus. Entah dulu inisiatif siapa, tapi sekarang ini jadi agenda resmi kampus.

Untuk agenda yang sama massa masing-masing himpunan bergerombol di berbagai tempat. Begitu wisudawan keluar akan disambut dengan mars atau minimal salam himpunan. Berdasarkan warna jaket para pengaraknya kita bisa tahu itu wisudawan dari jurusan apa. Teman-teman lain dan saudara silakan datangi mereka jika ingin foto bersama.

Sementara anaknya diarak, orang tua kembali ke rumah atau penginapannya. Tapi bagi yang merasa masih bertenaga dipersilakan untuk ikut mengarak. Tentu dengan resiko terkena cipratan air, telinga perih karena pekikan yel-yel, dan kaki pegal berdiri lama. Keluarga besar yang datang biasanya makan-makan karena menunggu itu melelahkan.

Wisuda juga momen bagi wisudawan untuk memamerkan gandengannya, bagi yang punya. Sebagian kecil sudah resmi suami istri, tapi yang lainnya sih datang wisudaan tapi belum tentu sampai pelaminan. Pendamping ini dipastikan ikut mengarak. Sebagai sebuah deklarasi hubungan di depan seluruh warga kampus. Lagian sudah dandan, sayang kalau nggak dipamerkan.

Yang belum punya gandengan atau masih ragu mau mengajaknya ke wisudaan tidak perlu khawatir. Ada adik tingkat yang ditugaskan oleh himpunan untuk membantu segala kebutuhan wisudawan. Mulai dari memandu orang tua, membawakan bunga dan, sampai jadi fotografer dadakan. Kalau wisudawannya peka, biasanya LO begini diajak makan-makan sekalian.

Tidak banyak yang tahu di kampus kami ada tunnel (terowongan). Tunnel ini jadi saksi mbak Nyoman Anjani memimpin yellboys para mahasiswa mesin. Ini di bawah saya kasih linknya silakan dibuka. Dia role model ketika angkatan kami baru masuk ITB. Sekarang dia sudah menikah, berhijab, dan kalau tidak salah akan melanjutkan studi di MIT.

Nyoman Anjadi Pimpin Yellboys

Dibuka ya, menghargai seriusnya anak sini merayakan wisudaan sampai rela mukanya dicoreng-coreng seperti itu. Kadang-kadang ada yang disuruh potong gundul dan mau.

Wisuda meninggalkan kesan yang beraneka warna bagi setiap yang terlibat di dalamnya. Para wisudawan wisudawati memanfaatkan hak berbahagia yang berlaku untuk beberapa hari saja sebelum menyadari tanggung jawab selanjutnya. Para orang tua melangitkan syukur anaknya telah berhasil menyelesaikan studinya. Para penjual bunga, selempang, dan balon berharap segera tiba pekan wisuda berikutnya.

Adik tingkat termotivasi mengikuti jejak kakak-kakaknya untuk segera lulus dari sini. Panitia arak-arakan bersyukur akhirnya bisa istirahat setelah berminggu-minggu persiapan demi pagelaran yang membanggakan. Mayarakat menyaksikan lahirnya sarjana-sarjana baru. Sambil bertanya-tanya apa yang akan dikontribusikan oleh mereka.

Wisuda datang dengan berbagai ceritanya. Wisudawan pergi untuk meneruskan cita-citanya. Selamat wisuda!

Disneyland!

June 28, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Tahun 2016 silam, alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah konferensi mahasiswa di Hong Kong. Keberangkatan dibiayai full oleh fakultas FTMD ITB sebagai sebuah hadiah atas keikutsertaan saya dalam kontes mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas.

Pada periode itu, mapres1 tingkat fakultas berhak mewakili FTMD ke pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat ITB sekaligus diberangkatkan ke Jepang untuk suatu short course. Saya alhamdulillah menjadi mapres 2 diberangkatkan untuk konferensi di Hong Kong University Of Science and Technology (HKUST). Mengenai perjalanan ini saya sudah pernah menulis, silakan klik pada label "hong kong" atau tulis pada kolom pencarian.

Mumpung film Toy Story 4 sedang booming, saya ingin throwback ke November 2016 ketika saya bersama dua orang teman berkesempatan jalan-jalan ke Disneyland. Kami menambah satu hari di HK setelah acara selesai karena ingin pergi ke tempat ini, walaupun harus nambah sedikit uang pribadi untuk sewa hotel.


Memang cocok kalau Disneyland ini disebut sebagai theme park karena wahana permainan yang ada di dalamnya disusun dengan tema kisah atau tokoh karakter Disney. Inilah yang membedakan Disneyland dengan Dufan misalnya. Dufan adalah taman dengan berbagai jenis wahana permainan dari yang lucu-lucu sampai yang bisa bikin muntah. Secara variasi wahana sebenarnya Dufan tidak kalah, tapi secara jumlah wahana Disneyland lebih banyak dan terkonsep.

Masuk ke Disneyland seperti benar-benar masuk dunia fantasi Disney. Banyak kru menggunakan kostum karakter Disney menyambut pengunjung sejak pintu depan. Pengunjung seperti membaca cerita atau menonton film-film Disney ketika berpindah dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.


Di bagian depan ada Park Entrance yang dimulai dengan gapura bertuliskan Disneyland Hong Kong. Gapura berlanjut dengan boulevard serta pohon-pohon di sisi kanan dan kirinya. Penyambutan berujung pada sebuah air mancur yang menampilkan Donald Duck dan Mickey Mouse. Bagian ini tepat berada di depan stasiun MTR sehingga bisa dicapai tanpa harus berjalan jauh setelah turun kereta. Oh ya, ada jalur dan kereta khusus yang menyambungkan jaringan MTR Hong Kong dengan Disneyland.





Setelah melewati gerbang ticketing dan pemeriksaan barang, pengunjung disambut dengan Stasiun Kereta Disneyland. Ya, ada kereta yang keliling taman, jadi jika ingin melihat keseluruhan taman dulu sebelum mencoba wahana bisa menaiki kereta ini.

Masuk sedikit lebih jauh dan kita akan menjumpai toko-toko yang menjual segala macam pernak pernik Disney. Setiap toko punya konsep dan jualan masing-masing. Zona ini disebut Main Street USA. Disebut Main Street karena toko-toko itu berjejer di sepanjang jalan yang menghubungkan gerbang depan dengan kastil Disney sebagai titik pusat Disneyland. Sebuah spot yang sempurna untuk mengambil gambar.



Dari istana ini pengunjung bisa memilih ke zona mana akan menuju. Di sebelah kanan adalah Tomorrowland, surganya anak-anak yang suka berfantasi tentang masa depan. Ada roller coaster di dalam ruangan yang ketika melesat lampu-lampu di atas akan terlihat seperti bintang dan meteor berjatuhan, keren sekali. Ada juga  beberapa wahana lain serta toko-toko cenderamata.

Kalau masuk menembus kastil, pengunjung akan sampai di Fantasy Land. Jika Tomorrowland anak laki-laki banget, Fantasy Land sebaliknya sangat feminim. didominasi warna ungu, pernak pernik, boneka, istana, dan carousel dengan segala dekorasinya. Belok sedikit ke kiri, pengunjung akan sampai di bagian Toy Story.



Daya tarik utama Toy Story adalah tokoh karakter yang ada di film Toy Story, ya iyalah. Tidak banyak wahana bermain di sini. Tapi bagi yang suka berfoto tersedia beberapa spot menarik. Woody ada di sana, puluhan orang ingin berfoto dengannya.



Jika berjalan memutar berlawanan arah jarum jam dan kita sampai di Mystic Point dan Grizzly Gulch. Mystic Point berisi replika bangunan-bangunan fantasy yang ada di Disney, yang nuansanya mistis tentu saja. Tapi tempat ini ramai karena di sini ada tempat makan, termasuk restoran halal. Selanjutnya Grizzly Gulch berisi hal-hal yang berbau beruang dan gua-gua. Ada roller coaster juga di sini namun tidak terlalu besar.


Satu lagi zona menarik adalah Adventure Land. Atraksi utama di sini adalah rumah tarzan dimana pengunjung harus agak memanjat-manjat serta merasakan sensasi keliling sungai dengan perahu. Ada sungai buatan di dalam Disneyland yang di kanan kirinya rimbun seperti hutan dan kadang-kadang ada hewan robot yang tiba-tiba muncul mengagetkan.


Selesai melalui itu semua, pengunjung punya pilihan untuk pulang atau menunggu sampai jam 8 malam. Setiap hari jam 8 malam ada parade dan pesta kembang api di kastil, ya setiap hari. Jadi ada semacam kurikulum bagi pengunjung, atraksi terus menerus berganti dari jam 10 pagi hingga 8 malam, setiap hari. Jadi kalau mau ke Disneyland luangkan waktu sehari biar nggak rugi.

Dengan ini pengalaman jalan-jalan di Disneyland Hong Kong selesai. Age is just a number, usia berapapun bisa menikmati Disneyland. Fasilitas penunjang seperti toilet, food stall, restoran, hingga bangku untuk duduk beristirahat tersedia dimana-mana. Pun tidak ada istilah terlalu dewasa untuk menikmati Disneyland, tempat ini untuk semua usia , bukan hanya anak-anak.

Kalau ada kesempatan lagi ingin kembali ke tempat seperti ini, mungkin di kota yang lain, aamiin


Ora Menang Ora

June 27, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya berharap hari ini 27 Juni 2019 adalah hari terakhir gonjang-ganjing pemilu ini terjadi. Setelah berbulan-bulan penuh dengan saling sindir antara 01 dan 02 akhirnya hari ini MK akan ketok palu perkara perselisihan hasil pemilihan umum 2019. Secara prosedural, ini adalah tahap terakhir pemilihan presiden 2019. Semoga tidak ada kejadian inskonstitusional setelah putusan MK ini.

Saat tulisan ini dibuat, MK tengah bersidang dan belum mengeluarkan putusan. Sehingga saya juga belum tahu apakah MK akan mengabulkan permohonan dari pihak Prabowo-Sandi atau tidak. Sudah empat jam sejak sidang dimulai dan pembacaan putusan oleh hakim-hakim MK belum selesai.

Indonesia adalah negara yang sangat besar. Tidak kurang dari 260 juta penduduk tinggal di wilayah ini dengan kurang lebih 180 juta diantaranya terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2019. Indonesia punya lebih dari 17 ribu pulau membentang dari Sabang sampai Merauke sejauh lebih dari 5000 kilometer dari ujung ke ujung.

Ketika negara sebesar ini berhasil menjalankan pemilihan presiden dan legislatif secara langsung, itu adalah sebuah prestasi. Kondisi fisik Indonesia sebenarnya tidak menguntungkan untuk menjalankan sistem demokrasi dimana setiap orang harus ditanya apa pilihannya. Tapi setiap lima tahun sejak 2004 kita telah melaksanakan pemilihan presiden secara demokratis.

Bahwa pihak yang dinyatakan kalah memperkarakan KPU adalah hal yang normal. Sudah ada aturan dan alur yang disepakati. Yang terpenting tidak ada pertumpahan darah dan kekerasan dalam perpindahan kekuasaan. Bukankah itu alasan dipilihnya demokrasi dan bukan kerajaan?

Sifat yang harus dikesampingkan ketika suatu masyarakat ingin menganut demokrasi adalah sikap ora menang ora. Mungkin banyak yang belum terbiasa dengan frasa ini, ora menang ora artinya tidak menerima jika tidak menang. Ketika seseorang atau kelompok terlanjur memiliki sikap ini, maka ketika punya sesuatu yang dikejar dia akan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Bahkan dengan merugikan orang lain jika diperlukan.

Keputusan pasangan 02 untuk melayangkan gugatan ke MK adalah angin segar setelah beberapa hari sebelumnya ada kejadian tidak diinginkan di depan Bawaslu dan beberapa titik di Jakarta pasca pengumuman rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara. Artinya pihak 02 punya itikad baik untuk tetap menempuh jalur yang konstitusional meskipun dalam kondisi tidak diuntungkan.

Ini juga membuktikan bahwa 02 tidaklah menganut ora menang ora. Mereka menghormati tata aturan dan undang-undang yang berlaku. Yang mana aturan itu disusun salah satunya oleh DPR yang secara matematis adalah perwakilan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk seluruh partai politik (yang mencapai ambang batas parlemen).

Perkara seberapa representatif DPR kita ini, itu pertanyaan lain. Perjalanan pilpres 2019 ini juga menjadi warning pada partai-partai politik untuk tidak membuat aturan asal jadi dan pada akhirnya menyulitkan pihak mereka sendiri. Parpol harus berpikir jangka panjang, bukan hanya kepentingan-kepentingan sesaat. Semoga menjadi pelajaran bagi wakil rakyat yang selama ini mendapat sorotan dari masyarakat.

Apapun keputusan MK nanti, marilah kita memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu mulai dari komisioner KPU pusat dan daerah, PPK, PPS, relawan, pemantau, linmas, hingga hakim MK, panitera, petugas MK, kepolisian, dan lain lain terutama yang meninggal dunia karena kelelahan dalam penyelenggaraan pemilu.

Pihak yang diputuskan menang jangan sombong dan pihak yang diputuskan kalah jangan ora menang ora. InsyaAllah masih ada kesempatan dalam kontes-kontes pemilihan yang akan datang. Baik menang ataupun kalah lebih baik segera melakukan sesuatu yang berguna untuk masyarakat. Bukan hanya berbicara, menyombongkan diri, berontak, mencaci, dan mengutuk yang akan merusak nama baik sendiri.

update setelah putusan MK:
MK telah menolak permohonan kubu Prabowo Sandi. Dengan ini pasangan Jokowi-MA terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024. Selamat untuk Pak Prabowo dan Pak Jokowi yang telah menjalani proses yang sangat panjang dan melelahkan. Semoga kesatuan dan persatuan tetap bisa dijaga.

Aamiin

Zonasi

June 26, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya akan jadi orang yang berbeda andaikata sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru diterapkan sejak sepuluh tahun yang lalu. Jarak rumah ke SMP dan SMA tempat saya belajar lebih dari 10 kilometer. Secara region kecamatan juga jauh dan tidak berbatasan. Mau aturan seperti apapun jika menyangkut jarak maka saya sangat tidak diuntungkan.

Sedikit banyak saya bisa membayangkan patah hatinya orang tua dan calon murid yang gagal masuk ke sekolah impiannya karena sistem zonasi. Jika zonasi ini konsisten dilakukan dan sukses, dalam 5 atau 10 tahun ke depan embel-embel sekolah favorit akan hilang.

Siswa dan orang tua yang melek informasi paham itu. Tapi sebagian masyarakat, simbah, pakde, bude, terlanjur menganggap bahwa yang terbaik itu SMA satu, misalnya. Hanya karena selama puluhan tahun sekolah itu adalah sekolah terbaik di kota dengan banyak alumninya berhasil jadi orang.

Tidak mudah mengubah paradigma masyarakat seluruh Indonesia bahwa atribut sekolah favorit itu fana. Bahkan dalam beberapa tahun awal penerapan zonasi, menurut saya sekolah favorit masih akan lebih unggul karena terlanjur memiliki fasilitas dan budaya lebih baik. Setuju atau tidak pada kebijakan zonasi, harus diakui beberapa angkatan pertama yang mengalami ini seperti ditumbalkan.

Perlu diketahui bahwa sistem zonasi ini bisa berbeda di tiap daerah. Kota Bandung malah sebenarnya sudah punya sistem zonasi sejak tahun-tahun lalu namun peraturannya sedikit berbeda. Saya tidak begitu paham detailnya. Informasi yang saya gali untuk menulis ini lebih banyak bersumber dari daerah asal saya, Kabupaten Bantul.

Pertanyaan yang muncul adalah adilkah kebijakan ini? Dengan pemberian poin lebih bagi pendaftar yang bertempat tinggal di wilayah tertentu tentu sebuah keuntungan bagi keluarga yang sejak dulunya tinggal dekat dengan sekolah negeri favorit. Bahkan menurut kabar harga tanah di dekat SMA saya dulu sampai naik gara-gara kebijakan zonasi ini.

Sebenarnya zonasi tidak menutup kemungkinan untuk bersekolah jauh dari rumah. Hanya saja tidak diuntungkan karena tambahan poin tidak sebanyak yang rumahnya dekat. Di Bantul, orang yang tinggal di grup yang sesuai dengan sekolah tujuan mendapat nilai tambahan 40, sedangkan di luar itu hanya 20.

Konsekuensi dari perbedaan bonus poin ini adalah si calon siswa harus mendapat nilai ujian yang lebih tinggi. Di sisi lain pemberian nilai dari jenjang sebelumnya juga agak rancu. Tidak seperti 10 tahun yang lalu dimana nilai UN itu sakral dan murni tanpa campur tangan pihak sekolah. Namanya aja NEM alias nilai ebtanas murni.

Jalan lain masih ada yaitu melalui jalur prestasi. Namun jalur ini juga terjal sebab mensyaratkan nilai tinggi dan kepemilikan piagam kejuaraan/prestasi. Belum lagi kuota terbilang kecil hanya sekitar 5% dan piagam yang diajukan harus dikurasi di tingkat dinas. Sekolah tidak berhak menentukan bobot nilai masing-masing piagam.

Sebaliknya, pendaftar yang rumahnya berjarak kurang dari 500 meter dari sekolah punya jalur cepat yang namanya jalur lingkungan. Kata teman saya nilainya sejelek apapun harus diterima oleh sekolah. Domisili ditunjukkan oleh KK dan sudah ada daftarnya siapa yang boleh masuk jalur ini. Ubah KK bisa jadi solusi? Jangan salah, syarat pindah KK paling lambat 6 bulan sebelum pendaftaran.

Mengubah kompetisi jadi kolaborasi
Ketika saya masih SMP, yang namanya ujian itu kejam. Hasil ujian akan diranking dari pertama sampai terakhir lalu daftarnya dicopy dan dibagikan ke seluruh siswa. Komplit nilai setiap mata pelajaran, rata-rata, ranking per kelas, dan ranking paralel. Semua siswa dan orang tua bisa lihat siapa yang ranking 1 dan siapa ranking terbawah. Kejam kan? dan ini terjadi setiap semester.

Ketika saya masuk SMA, sekolah lebih berperasaan. Di akhir semester yang dibagikan hanya raport. Daftar ranking hanya guru yang pegang, boleh lihat tapi tidak boleh dibawa pulang. Kalau pandai merayu guru boleh difotocopy tapi tetap tidak boleh disebarkan. Lama kelamaan malah tidak diranking, hanya nilai saja yang diberitahukan.

Entah ini inisiatif guru, kepala sekolah, kepala dinas, atau kebijakan dari menteri, tapi rasanya akhir-akhir ini kecenderungannya perankingan semakin dihilangkan. Penghargaan untuk yang berhasil juara tetap ada, namun tidak ada pengumuman siapa yang ada di bawah. Walaupun kebijakan yang menggunakan klasifikasi masih ada, misalnya kuota SNMPTN.

Setelah pada tataran siswa, tingkat selanjutnya adalah sekolah. Kebijakan zonasi bertujuan salah satunya untuk meratakan mutu sekolah. Sehingga perangkingan antar sekolah menjadi tidak relevan lagi. Selama ini sekolah bersaing menjadi yang terbaik di suatu kota atau provinsi, tapi dengan adanya zonasi sepertinya praktek seperti ini pelan-pelan akan hilang, berganti dengan usaha membentuk siswa siswinya mencapai level tertinggi yang mungkin dicapai. Tanpa harus dibandingkan dengan sekolah lain.

Sekarang sekolah favorit harus mau menerima murid yang tidak favorit. Sedangkan sekolah yang selama ini agak tertinggal berpotensi mendapat bibit unggul. Peta kompetisi antar sekolah akan berubah, bahkan hilang. Jika semua komponen mendukung, termasuk masyarakat, bukan tidak mungkin malah kolaborasi-kolaborasi antar sekolah yang akan terbentuk, entah seperti apa bentuknya.

Sekolah Swasta
Tidak semua keluarga di Indonesia melihat sekolah swasta sebagai solusi menanggapi zonasi. Biaya yang lebih mahal dan terbatasnya sekolah swasta berkualitas (terutama di daerah) adalah alasannya.

Namun keluarga yang mampu membiayai putra putrinya sekolah di swasta mungkin akan mengambil ini daripada masuk sekolah negeri yang kurang diminati. Perlu diingat bahwa urusannya bukan hanya kualitas pendidikan, tapi tekanan dan bisikan kanan kiri juga menjadi pertimbangan orang tua memasukkan anaknya di sekolah mana.

Kalau bicara pembangunan manusia secara keseluruhan, rasanya sekolah swasta tidak banyak berpengaruh jika dibandingkan dengan sekolah negeri. Swasta hanya subur di kota-kota besar saja, sedangkan di daerah tidak banyak sekolah swasta yang dibina dengan baik. Secara jumlah juga kalah dengan sekolah negeri yang tiap kecamatan ada.

Namun pada event-event tertentu, misalnya olimpiade dan kejuaraan serupa, sekolah swasta bersuara lantang. Mulai dari keluarga Pasiad, Penabur, Insan Cendekia, Sutomo, dan lain sebagainya setiap tahun mendominasi perolehan medali Olimpiade Sains Nasional. Hanya ada beberapa sekolah negeri yang bisa menembus sampai jajaran elit ini.

Bisa dibayangkan jika bibit-bibit unggul memilih masuk sekolah-sekolah itu daripada sekolah negeri dekat rumah, maka mereka berpotensi semakin berkuasa. Di sisi lain SMA 8 Jakarta, SMA 3 Semarang, SMA 1 Jogja, SMA 5 Surabaya, SMA 3 Bandung, dan sebagainya terancam kehilangan penerus dinasti emasnya karena masalah zonasi.

Perguruan Tinggi
Satu lagi hal yang perlu dicermati terkait zonasi adalah bagaimana perguruan tinggi melihat kebijakan ini. Di tahun saya masuk bangku perkuliahan, salah satu pertimbangan dalam seleksi SNMPTN adalah indeks sekolah yang mencerminkan kualitas umum sekolah asal. Dengan ada zonasi, faktor ini tentu jadi tidak relevan lagi.

Sekolah yang selama ini indeksnya tinggi belum tentu tetap lebih baik dalam 5 tahun ke depan dibandingkan yang sebelumnya punya indeks lebih kecil. Variasi kemampuan siswa dalam satu sekolah yang melebar dengan adanya zonasi juga membuat indeks ini tidak valid lagi.

Tapi sebagai sebuah kebijakan skala nasional rasanya tidak mungkin perguruan tinggi tidak tahu akan hal ini. Dengan kebijakan yang biasa berubah dari tahun ke tahun semoga adik-adik yang sekarang menjadi generasi kena zonasi bertemu kebijakan yang menguntungkan ketika ingin masuk jenjang pendidikan berikutnya nanti.

Manurut saya kebijakan zonasi yang terlanjur diberlakukan ini harus dijalankan dengan konsisten dalam waktu yang panjang. Sehingga tujuan pemerataan benar-benar bisa tercapai. Jika tidak maka sungguh malang calon siswa dan orang tua serta guru dan kepala sekolah yang sekarang dipusingkan oleh efek samping zonasi.

Jajaran pengambil kebijakan mesti tahu bahwa di bawah, di sekolah-sekolah, banyak orang tua melayangkan protes. Kepala sekolah dan guru adalah yang pertama kena, padahal beliau-beliau hanya menjalankan perintah. Jangan sampai pengorbanan yang telah diambil sia-sia dan hanya untuk coba-coba.

Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani

Tayap

June 25, 2019 Posted by Chandra Nurohman 1 comment
Lebaran kemarin ada teman pulang kampung membawa oleh-oleh cerita yang luar biasa. Hidupnya berubah banyak ketika mendapat pekerjaan di sebuah tempat di Kalimantan Barat. Dia bercerita bagaimana ia 'tertipu' oleh jasa wrap koper di bandara, kekagumannya pada orang-orang yang kuat hidup bertahun-tahun di tempat yang jauh dari mana mana, hingga cerita tentang warga lokal termasuk hal-hal mistisnya.

Begini ceritanya,

Tayap atau Nanga Tayap adalah sebuah kecamatan di Kalimantan Barat dimana holding raksasa Sinarmas menanamkan modalnya dalam bentuk perkebunan sawit di sana. Ukurannya cukup besar sehingga perusahaan perlu mendirikan perkampungan di daerah itu. Saking besarnya, perkampungan harus dilengkapi segala fasilitas umum, bukan hanya pondokan tempat tinggal. Lapangan, tempat ibadah, sekolah, dan lain sebagainya didirikan sehingga pegawai sawit dapat hidup dan menghidupi keluarganya di sana.

Kawan saya ini bekerja sebagai guru di sekolah yang dimiliki perusahaan. Sekolah ini masih muda dan baru meluluskan tidak lebih dari 3 angkatan. Meski demikian sekolah ini punya ranking yang lumayan di wilayah Kalbar. Jumlah siswanya sekitar 150 orang untuk jenjang SMP. Semua siswa bersekolah di sini secara gratis tis.

Sekolah ini dikhususkan untuk anak pegawai perkebunan Sinarmas saja sehingga gratis karena merupakan fasilitas dari perusahaan. Yang bersekolah di sini bervariasi dari anak staf tinggi hingga anak buruh pekerbunan. Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk bersekolah di sekolah lain karena jaraknya terlalu jauh dari pemukiman. Jadi kalau bicara superblok, ini benar-benar superblok yang segala-galanya ada di satu tempat.

Sebagai pegawai, tempat tinggal juga telah disediakan. Sayangnya profesi guru ini abu-abu apakah sebaiknya tinggal di perumahan staf atau di perumahan buruh. Saat ini kawan saya ini masih ditempatkan di perumahan buruh. Namun jika dikastakan, guru adalah profesi paling tinggi di blok yang dia tempati.

Sebagai guru pula dia mendapat fasilitas seperti bis sekolah untuk transportasi hingga beras untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi kebutuhan dasar untuk hidup dipenuhi oleh perusahaan. Bahkan kata teman saya ini kalau masih jomblo akan diusahakan untuk dicarikan calon misalnya dengan menempatkan guru perempuan sebaya di sekolah yang sama. Kalau menemukan jodoh di Tayap diharapkan bisa betah dan lebih lama bekerja di sana.

Tinggal, bekerja, dan beraktivitas di tempat yang sama membuat interaksi antar warga lumayan intensif. Kebanyakan pegawai sawit bukan penduduk lokal tapi datang dari Jawa dan Sumatera. Banyak diantara mereka yang sudah berkeluarga dan tinggal di sana bersama keluarganya. Rasanya saya ingin merasakan tinggal di masyarakat yang agak terisolasi seperti ini. Ingin tahu bagaimana budaya bercampur di dalamnya. Untuk kegiatan sosial atau volunteering jangka pendek saja tapi, bukan bekerja hehe

Satu hal yang paling menjadi masalah di Tayap adalah akses. Bayangkan kita berasal dari Jawa dan ingin ke Tayap. Selain fakta bahwa tiket pesawat domestik sedang mahal, bandara terdekat dari Tayap yaitu Bandara Ketapang masih berjarak 4-5 jika ditempuh dengan mobil, yang artinya biaya lagi. Kalau ingin yang lebih murah dan pilihan penerbangannya lebih banyak bisa melalui Pontianak. Tapi setelah itu masih harus menumpang travel selama 12 jam dengan biaya lebih dari 300 ribu rupiah.

Jangan dibayangkan jalan lintas Kalimantan itu sebaik jalan di Jawa, beda jauh. Banyak bagian jalan masih berpermukaan tanah. Bisa dipastikan medan semakin susah ketika hujan karena berlumpur. Bahkan jalan milik perusahaan kadang lebih baik daripada jalan nasional. Perjalanan dari Tayap ke Jogja atau sebaliknya bisa memakan waktu total hampir 24 jam via udara dan lebih lama lagi jika lewat laut. Sungguh sebuah ujian kesabaran.

Akses ketika sudah di Tayap juga tidak bisa dibilang mudah. Beberapa kampung tidak bisa ditempuh dengan jalur darat saja tetapi harus menyeberang sungai. Namun untuk yang satu ini sepertinya teman saya ini tidak keberatan sama sekali. Jiwa petualangnya keluar ketika harus menempuh rakit menyeberang sungai.

Akhir-akhir ini sepertinya dia semakin bahagia setelah menemukan makanan favoritnya: mie ayam. Walaupun untuk mendapatkannya harus menempuh perjalanan lumayan jauh. Tapi asal nggak sendiri nggak masalah lah ya wkwk

Cukup sekian saja ceritanya, saya sampaikan beberapa kiriman gambar dari Tayap









Anak Asrama

June 24, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments
Selama hampir dua tahun bekerja, mayoritas klien yang saya hadapi berasal dari kalangan militer. Beberapa kali pula saya masuk ke lingkungan pendidikan militer untuk urusan pekerjaan. Saya pernah melihat barak tempat siswa beristirahat, melihat tentara lari untuk menjaga berat badan tetap ideal, dan menyaksikan betapa hirarki pangkat dan jabatan begitu dijunjung tinggi di angkatan.

Saat mengerjakan suatu alat di Pusdikkav Padalarang, setiap pagi saya melihat siswa yang akan masuk kelas berjalan  ke komplek pendidikan dengan berbaris sambil menyanyikan lagu-lagu. Begitu pula sore harinya ketika selesai kelas. Hanya langkah biasa, bukan langkah tegap, tapi lagu-lagu itu membuat mereka tidak bicara satu sama lain dan terpisah pisah di jalan. Sangat berbeda dengan suasana pendidikan sipil.

Saya gagap saat pertama kali berpapasan dengan siswa lalu mereka hormat pada saya. Saya tidak mengira akan mendapat sikap hormat karena waktu itu hanya sendirian. Ternyata itu semacam kode etik mereka untuk hormat kepada tamu sipil siapapun itu. Siswa di lingkungan pendidikan militer hampir tidak punya waktu untuk bersikap suka-suka, bahkan ke masjid pun mereka datang dengan berbaris dan mengenakan pakaian pesiar. Meskipun tidak semua karakter ketentaraan saya suka, tapi menyaksikan kedisiplinan di tingkat siswa berkesan untuk saya.


Lalu saya punya teman yang semasa kuliah dulu tinggal di sebuah pondok pesantren mahasiswa di daerah Tubagus Ismail Bandung. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak di kampus, dia akan pulang sebelum maghrib karena bada salat maghrib ada taklim yang harus diikuti. Kegiatan berlanjut sampai menjelang malam.

Pagi hari dia bangun jam 3 untuk memulai kegiatan pondok. Dia baru punya waktu untuk mempersiapkan kuliah selepas ceramah subuh. Hari-hari tertentu ada piket untuk membersihkan asrama, masjid, dan kamar mandi. Siang hari tidak ada kegiatan karena santri disana sebagian besar mahasiswa dan ada beberapa anak SMA.

Saya beberapa kali datang ke pondok tempat teman saya ini tinggal. Di sana saya juga merasakan suasana yang berbeda dibandingkan lingkungan anak kos pada umumnya. Meskipun tidak mencolok, tapi teman-teman yang tinggal di sana memiliki tingkat disiplin di atas rata-rata. Terutama dalam hal bangun pagi dan prioritas aktivitas.

Militer dan pondok pesantren adalah dua tempat dimana kedisiplinan dipaksakan. Kata dipaksakan mungkin kurang tepat dan kesannya agak negatif. Tapi itu saya gunakan untuk membedakan dengan kebanyakan institusi pendidikan lain dimana kedisiplinan hanya sebatas himbauan.

Dalam sekolah-sekolah umum siswa tertib di dalam kelas. Namun ketika jam istirahat atau bel pulang sekolah dibunyikan mereka bebas melakukan yang ingin dilakukan. Berbeda dengan militer dan pondok dimana di luar jam pelajaran mereka masih berada dalam sistem dan aturan. Hasilnya mereka punya ketahanan lelah lebih panjang terhadap peraturan.

Mereka tidak mudah lelah ketika diminta melakukan sesuatu yang tidak disukai, tidak rewel, dan tidak menuntut kenyamanan. Nilai-nilai lain seperti kejujuran, ketegasan, toleransi, dan lain sebagainya tergantung pada bagaimana masing-masing siswa belajar. Tapi bisa dipastikan kedisiplinan yang dipaksakan tadi tertanam.

Sekarang ini makin banyak institusi yang sadar dengan pentingnya kedisiplinan untuk ditekankan, bukan hanya dikatakan. Beberapa lembaga membangun sekolah berasrama untuk memastikan kehidupan murid-muridnya terpantau 24 jam. Di tempat lain berdiri asrama yang membina siswa atau mahasiswa di luar jam sekolah atau kuliah normal seperti PPM tempat teman saya tinggal tadi.

Tapi institusi pendidikan hanyalah  penyedia layanan. Yang lebih penting  adalah bahwa generasi yang sedang belajar sadar bahwa kedisiplinan itu penting dan kadang harus dipaksakan untuk masuk. No pain, no gain. Default-nya orang tidak suka melakukan apa yang dia tidak suka. Tapi jika orang itu diberi pengertian bahwa kebaikan jangka panjangnya lebih besar daripada kesulitan yang diderita, bisa diharapkan orang itu akan menerima.

Disiplin tidak sesempit taat aturan. Mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan adalah taat aturan. Tapi sadar untuk tidak menggunakan bahu jalan, mengalah pada ambulan, dan tidak melebihi batas kecepatan bahkan ketika terburu-buru itu adalah disiplin. Aturan bisa diajarkan, tapi disiplin harus ditanamkan.

Cangkang

June 23, 2019 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ketika seorang anak pertama kali memasuki sekolah, dia keluar dari cangkang pertamanya. Dia mulai belajar bersosialisasi di dunia yang lebih luas daripada keluarganya. Di dunia yang mungkin tidak mentolerir kesalahannya sebagaimana dilakukan orang tuanya. Ketika di rumah anak kecil ini menjadi raja, di sekolah dia bertemu dengan anak-anak lain yang di rumahnya sama-sama menjadi raja. Dia harus menerima bahwa ada sosok bernama guru yang harus didengarkan selain orang tuanya.

Lalu dia tumbuh dan masuk sekolah dasar, kemudian menengah. Dia mulai mengerti bahwa ilmu tidak bisa dikuasai secara alami tetapi harus dipelajari. Dewasa nanti mungkin dia akan lupa pada detail pelajaran matematika atau bahasa. Tapi dia mendapatkan kesadaran bahwa orang hidup dalam tingkatan-tingkatan. Setiap tingkatan memberikan tanggung jawab dan ujian. Waktu berjalan dan tingkatan-tingkatan ini tidak bisa dihindari, seberat apapun masalahnya harus tetap ikhlas ia jalani. Dia berproses keluar dari cangkangnya yang kedua.

Kemudian ia masuk ke bangku universitas, simulasi menjadi orang dewasa seutuhnya. Dia mungkin akan berada jauh dari orang tua, atau kalaupun tidak ia akan bertemu dengan orang jauh berbeda dengannya. Dia akan mengerti bahwa dunia tidak terbatas pada suku dan budayanya saja dan mulai belajar menerima perbedaan. Proses wisuda menyimbolkan keberhasilannya lepas dari cangkang yang ketiga.

Setelah itu dia akan menghadapi masalah yang lebih nyata. Dia tidak lagi berada dalam simulasi. Belum tentu ada guru, belum tentu ada teman yang mengambil jalan hidup serupa, dan merasa sudah bukan waktunya bergantung pada orang tua. Dia menemukan dirinya bersama masalah dan pilihan-pilihan yang semakin dihindari semakin menjadi-jadi. Tapi pertumbuhan yang dialami sambil memecahkan cangkang-cangkang tadi membantunya untuk keluar dari proses yang satu ini.

Meskipun ini jalan yang ditempuh rata-rata orang, tidak semua orang begitu. Banyak hal yang dapat membelokkan jalan sehingga seseorang menemukan yang tidak ditemukan orang lain. Pun itu hanyalah cangkang-cangkang utama. Jika melihat lebih dalam kita akan tahu bahwa hari ke hari setiap manusia bergelut dengan takdirnya masing-masing.

Ada yang mampu keluar dalam hitungan jam, namun ada pula yang minggu bahkan bulan. Ada fasilitas dan priviledge yang menjadikan memecah cangkang menjadi lebih gampang, atau rintangan yang membuatnya memakan waktu lebih panjang.

Walaupun tidak tepat secara ilmiah, tapi saya susah lupa pada cerita di buku dongeng hadiah susu Dancow jaman saya kecil dulu. Di sana diceritakan seekor siput yang sibuk berjalan mencari rumah baru yang cukup untuk menampung tubuhnya yang terus tumbuh.

Sepertinya kita juga harus begitu, istiqomah naik kelas dari satu batasan ke batasan yang lebih besar. Mungkin kita tidak akan menjadi manusia terbaik di dunia, tapi kita bisa menjadi versi terbaik yang kita bisa.