Nutrisi Untuk Manggung

January 06, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya seneng sama jawaban Jimi Multazam waktu ditanya soal IKJ, dia bilang "ibaratnya nutrisi gue untuk manggung lah, dapetnya di IKJ". Di jawaban itu ada rasa grateful sekaligus pride yang tidak berlebihan. Kampus ibarat media tanam yang menyediakan nutrisi untuk apa yang tumbuh di atasnya. Mahasiswa adalah tumbuhannya, dan apa yang tumbuh bisa macam-macam, makanya disebut universitas. Pun jenis tanah juga bisa beragam jenisnya dan menurut saya itu nggak perlu dibanding-bandingkan. 


Di Twitter kemarin ramai jadi perbincangan bahwa alumni ITB merasa eksklusif dan segala macamnya, sulit kerja sama dengan alumni kampus lain, dan sering bawa-bawa almamater dalam berbagai obrolan. Nah begini, menurut saya kalau ada yang overproud pada ITB seperti itu, either dia masih kuliah atau baru saja lulus. Beberapa tahun setelahnya pasti luruh dan menjadi lebih rasional.

Tapi saya nggak memungkiri bahwa kerja bareng alumni kampus yang sama ada enaknya, saya masih rasakan sampai sekarang. Seperti sudah ada saling pengertian, kaya pemain bola yang tahu kawannya ada dimana jadi tanpa melihat pun tahu kemana harus mengoper bola. Cara bicara, gestur dalam diskusi, keseriusan memandang masalah, logika ketika berargumen, cara memperlakukan deadline, ketidakbercandaan dalam forum, jalan pikiran ketika problem solving, timing kapan harus push kapan harus slow, kapan harus eskalasi kapan harus dibereskan sendiri, dll ada kekhasannya. Misalkan saya nonton sebuah webinar, kadang saya bisa nebak pembicaranya alumni ITB hanya dari slide presentasi dan cara delivery-nya.

Ini bukan berarti saya tidak suka kerja dengan alumni kampus lain ya. Faktanya 70% coworker yang pernah kerja sekantor bukan satu almamater. Kerja bareng lulusan kampus manapun is great. Kerja bareng lulusan ITB is a blessing. Atasan langsung saya UI, MOR saya ITB Teknik Fisika. Dua-duanya good leader dan technically capable, tapi waktu 1-on-1 tetep koneksi-nya beda.

Jadi saya pikir kita nggak perlu meng-undermine media tanam itu sebagai sebuah faktor. Saya ragu Xavi, Iniesta, Busquet, Messi (+ Guardiola) bisa se-tiki-taka dan se-unplayable itu kalau mereka seluruhnya tidak punya DNA La Masia. Vindes belum tentu se-bonding itu kalau Vincent dan Desta tidak kuliah di IKJ dan membentuk Club80s. Grup Warkop dengan sepak terjang di bidang hiburan sekaligus aktivisme lahir dari alumni UI yang tergabung di Prambors, sebelum berubah jadi Warkop DKI ketika personelnya Dono Kasino Indro. 

Batasannya adalah jangan melakukan hal yang nggak perlu dan tahu tempat aja. Di tempat umum ya nggak penting kamu lulusan kampus mana, akhlak tu lebih perlu. Tapi kalau dalam sebuah project atau pekerjaan dimana disana ada amanah dari stakeholder, apalagi kalau stakeholdernya masyarakat luas, anything yang bisa meningkatkan performa dan kualitas output layak diusahakan. Jika kesamaan almamater menghadirkan trust dan menunjang produktivitas, go for it. Personally ketika kerja bareng lulusan ITB, saya punya trust bahwa dia akan memperlakukan kawajibannya dengan level keseriusan yang sama dengan saya, dan itu menyenangkan.

Salam,
Chandra


pic: jalan cisitu indah VI

Waktu untuk Buku

January 04, 2024 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya pikir reward terbesar setelah berhasil menyelesaikan buku-buku ini selama 2023 adalah penemuan bahwa 'oh ternyata aku masih punya waktu buat kebiasaan-kebiasaan baru ya'. Dulu saya kira 24 jam ini kurang, dari bangun sampai tidur lagi berasa sudah penuh. Tapi awal tahun lalu saya buat resolusi untuk rutin baca buku,  membuat review singkat, lalu berusaha mendisiplinkannya. Entah porsi aktivitas apa yang ter-replace, mungkin waktu tidur sedikit berkurang, atau jam-jam nunggu sesuatu yang sebelumnya dihabiskan memandang layar HP jadi diganti dengan buku. Waktu mengikuti kaidah zero sum game, jumlahnya selalu tetap yaitu sehari 24 jam. Jadi kalau ada kebiasaan baru yang masuk, konsekuensinya pasti ada hal lama yang tergusur.

Karena itulah, sekarang terasa basiannya berupa rasa mau cari dan baca buku lagi dan lagi. Tapi yang lebih dahsyat dari itu ada semacam optimisme yang muncul bahwa kalau di tahun lalu bisa garap sesuatu yang baru, tahun ini mestinya bisa juga dong. 

Optimisme tadi itu terasa lebih hangat bahkan daripada buah-buah yang bisa saya petik dari buku yang saya baca. Padahal buah-buah itu juga sudah terasa manis, setiap buku seperti ngasih saya satu atau beberapa senjata baru. Seperti yang dinasehatkan, orang yang senjatanya hanya palu, akan memperlakukan segala hal seperti paku. Nah buku-buku ini ada yang ngasih saya cangkul, sendok, pisau, bantal, kursi, dan lain sebagainya. Feeling more complete, bener kalau dibilang buku adalah suplemen untuk pikiran. Terima kasih untuk para penulis, jasamu abadi.


Kalau kamu lagi bergelut dengan pekerjaan dan merasa lelah coba baca The Good Enough Job, ini terbaik diantara semua yang ada disini menurut saya. Kalau lagi butuh healing baca The Comfort Book. Kalau lagi pengen ketawa receh baca bukunya Agus Magelangan, kalau ketawa yang berbobot bukunya Chris Atkins itu bagus banget juga. Mau emotional exercise dari novel melayu saya rekomendasikan Anak Rantau & Brianna dan Bottomwise. Mau insyaf tipis-tipis, Seni Merayu Tuhan. Mau marah sama pemerintah, Animal Farm. Kamu vet atau punya kenalan vet, saya rekomendasikan bukunya James Herriot, di tumpukan itu yang paling atas. Mau cerita founder-startup-delusional-fake-it-till-you-make-it, baca Bad Blood.

Saya sekarang juga jadi punya rule of thumb, sebuah buku enak dibaca kalau rating Goodreads-nya lebih dari 4.00. Kalau kurang dari itu biasanya agak berat membereskannya, setidaknya buat saya. Lalu untuk buku dari penulis luar, jauuuh lebih baik baca versi English-nya daripada terjemahan. Harga asli memang mahal, solusinya beli aja di Big Bad Wolf di kotamu. Review singkat dari buku-buku di atas ada di highlight instagram saya. Mohon maag jika desain template-nya kurang oke dan nggak konsisten, saya nggak ahli desain.

So 2024, what do we do next?

Salam,
Chandra



Pemilih Anies

December 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Menurut saya ada dua kelompok besar pemilih Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Pertama adalah pemilih rasional, dan kedua adalah pemilih ideologis. 

Pemilih rasional adalah orang-orang yang melihat Anies dari sisi pengalaman memimpin, kompetensi, dan portfolionya. Kelompok ini ada banyak di Jakarta karena mereka pernah merasakan dipimpin Anies sebagai gubernur dan merasakan dampak positif, in one way or another. Ini alasannya polling spontan di medsos banyak dimenangkan oleh Anies karena demografi penggunanya banyak berlokasi di sekitar Jakarta. Diantara program DKI jaman Anies yang banyak diapresiasi adalah Jaklingko, Jaki, dan branding +Jakarta. Tentu ada pemilih rasional lain dengan alasan yang berbeda karena Pak Anies juga pernah menjabat posisi lain, tapi secara jumlah pasti tidak sebanyak pengaruh Gubernur DKI.


Sedikit mengelaborasi, Jaklingko adalah program integrasi transportasi umum di Jakarta yang mencakup Transjakarta, Commuter Line, MRT, dan LRT. Banyak halte dan stasiun yang secara fisik dihubungkan sehingga pengguna dapat berganti sarana dengan mudah. Saya merasakan manfaat langsung dari Jaklingko ini karena sehari-hari berangkat kerja dengan transportasi umum. Integrasi Transjakarta koridor 13 dengan MRT di CSW/Asean mengubah cara commute saya jadi lebih nyaman, murah, dan cepat. Sistem Jaklingko juga memungkinkan satu kartu dipakai untuk pembayaran di semua moda.

Kedua, Jaki (Jakarta Kini) adalah suatu platfrom yang menyediakan akses untuk berbagai keperluan di Jakarta. Saat Covid saya pakai aplikasi ini untuk keperluan mencari informasi vaksin. Saya juga pakai ini untuk cek pajak kendaraan. Fungsi lain yang banyak digunakan masyarakat adalah pelaporan masalah yang ada di lingkungan seperti pohon tumbang, jalan rusak, sumbatan air, dll. Katanya lapor di Jaki proses dan respon dari dinas terkaitnya cepat. Kalau dulu di Jabar RK memberikan nomor kontak dan akun twitternya untuk dihubungi masyarakat, Jaki adalah versi lebih canggih, sistematis, dan elegannya.

On top of that, branding +Jakarta - Kota Kolaborasi pernah membuat Jakarta terasa seperti negara maju. Di sudut-sudut kota tergambar mural +Jakarta ini, warga tampak bangga, dan karena sampai level kecamatan ada templatenya semua jadi merasa diapresiasi.

gambar: +Jakarta

Sayangnya oleh gubernur PLT malah diganti begini, are we living in the 90s or what?

gambar: Presisi.co

Masuk ke kelompok kedua yakni pemilih ideologis. Ini adalah kelompok yang akan memilih Anies karena merasa punya kesamaan ideologi, paham, atau aliran baik dengan Anies, Cak Imin, maupun partai pendukungnya. Di dalamnya termasuk orang-orang yang pernah satu organisasi, satu gerakan, satu almamater, pernah tinggal berdekatan, atau kesamaan-kesamaan lainnya. 

Suara kelompok ideologis ini saya pikir relatif sudah dalam genggaman. Tapi apakah mengandalkan ini saja sudah cukup? Tidak, AMIN masih butuh memastikan pemilih rasional tetap ada di pihak 01, sekaligus memenangkan suara dari swing voters dan orang-orang yang sejauh ini tidak jawab/tidak tahu. Dan sekalipun saya dukung Anies, saya tahu bahwa sebagian pemilih rasional dan swing voters punya deal breaker yang bisa membuatnya beralih dari AMIN ke paslon lain atau malah memilih golput. Rangkaian twit ini bagus untuk mengantarkan ke penjelasan itu

Saya nggak punya deal breaker itu, saya fine dengan siapa yang ada di belakang Anies sekarang maupun dulu jaman nyalon jadi gubernur DKI. Tapi saya mau bilang pada loyalis Anies bahwa ada lho orang yang mau ikut pilih Anies tapi tidak cocok dengan PKS, FPI, 212, Islam Progresif, dan semacamnya karena apa yang terjadi di 2018-2019. Saya memahami dan bisa setuju dengan beberapa hal yang disuarakan saat itu karena kebetulan kenal beberapa orang yang berafiliasi kesana dan saya tahu orangnya baik, tapi tidak semua orang memahami itu.

Saya mengumpamakan ini seperti di sebuah SMA ada Rohis yang tidak disukai karena terlalu agresif sampai menyindir dan mengagitasi siswa non-Rohis yang berpacaran atau membolos misalnya. Setuju pacaran dan bolos itu negatif, tapi tidak semua cara pas di hati semua orang. Dan luka dakwah kalau tidak diobati dengan benar akan sulit lupa. 

Pasti oknum ya, tapi saat itu ada saja yang merasa lebih suci dari yang lain. Ada saja yang menganggap cara beragamanya lebih benar dan paling benar diantara yang lain sampai mengharamkan ini itu. Alhamdulillah sekarang situasi jauh lebih kondusif, dan saya sangat bersyukur pilpres kali ini calonnya ada tiga sehingga tidak ada polarisasi yang sangat melelahkan seperti waktu itu.

Dengan 'Rohis' ini saya tidak bermaksud menunjuk Rohis sekolah saya atau sekolah manapun, hanya istilah untuk golongan yang saat itu merasa eksklusif saja. Maaf agak sulit menjelaskannya, tapi bisa dirasakan maksudnya lah ya. Intinya jika di sebuah SMA ada pemilihan ketua OSIS, meskipun ada calon yang anak Rohis, dia tidak akan menang jika hanya dipilih oleh anggota Rohis. Dia dan timnya juga harus menarik simpati dari anak-anak futsal, teater, paduan suara, siswa yang hobi nongkrong di warung samping sekolah, dan siswa yang sengaja titip tas di fotokopian depan biar bisa bolos tanpa ketahuan.

So please be kind, jangan sampai terlalu banyak orang punya deal breaker ini. Saya juga pemilih Anies, tapi saya belum yakin 01 akan menang  apalagi ada calon yang dibackup incumbent. Di sistem pemilu kita semua orang punya jatah sama satu suara, tidak peduli sifat dan kesehariannya seperti apa. Mau baik mau badung tetap nyoblosnya satu kali. Orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi atau amalan harian lebih baik tidak lantas punya vote lebih kuat. Swing voter masih banyak karena capres lain juga punya red flag-nya masing-masing, maka banyak suara yang masih harus dan bisa diperebutkan. 

Stop menghakimi, mulai menginspirasi.


Salam,
Chandra


Salam,
Chandra

Wake Up Pain

December 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Saya kasih judul Wake Up Pain karena apa yang saya tulis disini berhubungan dengan ketiduran. Saya kemarin mengalami suatu insiden dimana saat nyetir saya ilang 2-3 detik karena ngantuk dan nyundul orang di gerbang keluar tol. Alhamdulillah posisi sudah pelan jadi tidak ada luka atau apapun, kerusakan kendaraan pun nggak parah. Setelah insiden kami minggir dan saya langsung turun untuk minta maaf lalu mengatakan siap ganti rugi, karena memang murni kesalahan di saya. Kami bertukar nomor WA dan besok akan dikabari berapa estimasi biaya perbaikannya. Di sisi saya sendiri ada perbaikan kecil, kemarin saya ke bengkel body di daerah Ciputat dan kurang dari sejam sudah beres lagi.


Pelajarannya jangan memaksakan diri nyetir dalam kondisi mengantuk. Nggak perlu ngejar target harus sampai tujuan dalam sekian jam, kalau capek ya istirahat saja. Yang saya alami ini adalah least possible incident, Allah selamatkan saya dari insiden yang lebih besar. Saya nggak kebayang kalau kejadiannya saat di tengah jalan tol dalam kecepatan tinggi. Harus diakui selama ini saya beberapa kali mengemudi dalam kondisi sedikit mengantuk, tapi Allah masih menghindarkan saya dari musibah. Kali ini mungkin saya lagi disuruh merasakan akibat dari kesombongan saya ini. Tapi haluuus banget caranya, dipilihkan-Nya skenario paling mending. Kalau saya dibiarkan get away with it, di belakang nanti kejadiannya bisa lebih buruk. 

Pernah lihat kartun ilustrasi dimana sebenarnya ada banyak masalah mengarah ke kita, tapi ada tameng berupa doa orang tua yang menghalau masalah-masalah itu. Sampai kita nggak ngerasa atau sadar bahwa kita selamat bukan karena sudah baik, tapi karena doa dan ijin-Nya. Kejadian ini membuat saya mikir begitu. It really could have been worse. Ini dibiarkan ada satu panah kecil masalah yang tembus biar jadi bahan introspeksi diri saya. 

Sekali lagi jangan mengoperasikan kendaraan atau mesin dalam kondisi mengantuk. Hindari begadang jika besoknya mau mengemudi. Utamakan keselamatan bukan kecepatan. Rest area, masjid, pom bensin, dan warung makan ada dimana-mana untuk istirahat. Kendaraan juga butuh istirahat untuk mendinginkan mesin dan rem, apalagi jika medannya naik turun dan belok. Belajar naik motor atau mobil itu cepet, yang lama adalah proses mendewasakan diri untuk jadi pengemudi yang budiman. Satu lagi, sikap mental ketika berkendara harian dalam kota dengan berkendara jarak jauh untuk leisure mesti dibedakan. 

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati di jalan.


Cheers,
Chandra



Somebody Named Mohamed

December 12, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Liverpool fanbase sedang kenceng-kencengnya memuji Salah setelah ia berhasil mencetak goal ke-200-nya untuk Liverpool. Pada list yang mengandung nama Ian Rush, Steven Gerrard, Michael Owen, dan lain sebagainya terselip seorang African bernama Mohamed. No tattoo, no alcohol, no criminal charge, no haters, just pure quality footballer.
Mo Salah bukan lagi di level Luis Suarez, Torres, Morientes, atau Djibril Cisse. Kini namanya disebut satu nafas dengan Kenny Dalglish dan Robbie Fowler. Bayangkan kalau Salah ini bukan orang Mesir tapi bocah asli Merseyside yang sejak kecil sudah join SSB Liverpool lalu bisa tampil sampai lebih dari 600 pertandingan, bukan tidak mungkin Mo Salah jadi all time top scorer.

Glad to have such players like Alisson Becker, Van Dijk, Sadio Mane, Firmino, Henderson, Trent, etc (the whole 2018-2020 squad basically), but Mo Salah is in different level now. Kalau di Nankatsu, Salah ini Tsubasa-nya. Mo Salah is the face of English Premier League, bukan cuma Liverpool.



Utang Rasa

December 10, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Saya banyak yang kurang setuju dengan Mbah Sujiwo Tejo kalau mendengar atau membaca tulisannya, apalagi kalau menangkap yang disampaikannya secara literal. Tapi ada satu konsep yang menurut saya sangat baik dan perlu dilakoni oleh semua orang, yaitu yang sering beliau sebut Utang Rasa.

Beliau mencontohkan ini dengan menceritakan anaknya yang suatu hari pulang naik taksi dan setelah sampai rumah langsung masuk. Mbah Tejo marah karenanya, kenapa kok langsung masuk, karena sudah bayar kata si anak. Lalu beliau bilang, bahwa yang kamu bayar itu cuma waktu dan tenaga si bapak supir taksi, tapi rasa-nya tidak kamu bayar.

Seberapa sering kita tidak ramah atau asal perintah pada pelayan warung makan? Seberapa sering kita setelah beli dari pedagang keliling, langsung masuk padahal si penjual masih ribet merapikan stationnya sebelum jalan lagi? Seberapa sering kita menyepelekan security, cleaning service, dan office boy di tempat kerja? Seharusnya sudah keluar uang bukan berarti kita bisa berhenti memanusiakan manusia.

Bukan berarti kita harus selalu nice dan tidak pernah protes. Kalau hak kita sebagai konsumen tidak terpenuhi kita boleh komplain, apalagi kalau penyedia jasanya company besar. Tapi ingat bahwa mas atau mbak penerima telepon customer service itu juga hanya karyawan, jadi jangan protes berlebihan apalagi sampai memaki. Secara teknis pun mereka bukan yang berkewajiban membereskan keluhan kita, pasti ada timnya sendiri untuk ini.
Nabi Musa bertanya kepada Tuhan, apa ibadah yang paling khusus untukmu, yang paling mulia? Tuhan menjawab, masukkan rasa bahagia ke hati orang lain dengan sedekah. Itu ibadah termulia di sisi Tuhan - Habib Husein Ja'far
Seharusnya tidak susah untuk memulai ini, saya justru menikmati obrolan-obrolan kecil dengan banyak orang. Kadang di sana ada berita menarik atau informasi yang ternyata kita butuhkan. Saya pernah sampai kena tegur istri karena asyik ngobrol sama pedagang bakso malang keliling, katanya bahaya karena posisi istri sering di rumah sendiri, masuk akal sih. So next time naik ojol pastikan tidak membuatnya terlalu lama menunggu dan ucapkan terimakasih saat sampai. Gopay-mu cuma bayar bensin dan jasanya, tapi belum rasa-nya. 

Salam,
Chandra

Generasi Peminum Kopi

December 05, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Ada perbedaan pada cara saya, dan mungkin kita, dalam memakai Instagram antara dulu saat pertama kali buat akun (2014-an) dan sekarang. Dulu jejaring yang terbentuk didominasi orang yang memang sudah kenal. Mungkin 70% dari following adalah kenalan langsung, sisanya baru akun publik (OG will remember infobdg), public figure (ridwankamil, radityadika, dll), dan tim olahraga favorit. Sementara kini kita dengan mudahnya terpapar konten dari orang yang sama sekali tidak kenal, lewat fitur reels misalnya. Dulu enggak karena cuma bisa upload gambar di profile.

Fitur reels ini yang kini mencekoki saya dengan konten tentang kopi. Entah kenapa, padahal saya minum kopi aja enggak. Baunya pun saya nggak tahan, termasuk bau kopiko permen. Sejauh saya ingat, saya baru minum kopi dua kali seumur hidup, pertama karena dipaksa waktu acara 'pelantikan' malam-malam pas SMA, kedua saat suatu hari bertamu disuguh kopi susu. Booming budaya kopi sejak beberapa tahun terakhir tidak membuat saya ingin ikut ngopi, kalaupun ke kedai kopi ya saya beli es teh. Kalau ke warkop pesennya nutrisari. 

Tapi banyaknya video kopi lama-lama membuat saya kepo juga soal biji satu ini. Bukan sebagai minuman tapi sebagai semacam hobi dan pemuasan curiousity. Karena saya mulai browsing soal kopi dan follow beberapa account, makin banyak lah tu konten kopi. Ada yang sering upload video ASMR saat bikin kopi, demonstrasi alat-alat rumit nan overkill di kofisyop, itung-itungan bisnis kopi, dan pendekar yang menyuarakan pendapatnya soal kopi.



Insight yang menarik menurut saya adalah adanya beberapa wave dalam budaya peminum kopi. Saya nggak nemu di komoditas lain ada yang begini. Setiap generasi peminum kopi ini ada ciri khasnya. Kalau sepaham saya, simpelnya generasi pertama adalah yang minum kopi kemasan dan orientasinya untuk memenuhi kebutuhan, mendapatkan asupan kafein misalnya. Generasi kedua adalah yang minum kopi di jaringan kedai kopi seperti St*rb*cks, Kopi Kenangan, Fore, Famima, dll sebagai lifestyle. Generasi ketiga adalah yang ngopi di kedai kopi artisan dimana minuman kopi diperlakukan sebagai seni atau kerajinan. Lalu generasi keempat adalah yang care dengan bagaimana biji kopi itu ditanam, dipanen, diroasting, dan diproses sebelum akhirnya jadi minuman.


Seorang teman dulu ada yang datang langsung ke perkebunan kopi dan menuliskan pengalamannya jadi generasi keempat peminum kopi ini, sayang sekarang saya cari tulisannya sudah nggak ada. Seru padahal, andai saya bisa minum kopi, saya akan melakukan hal yang sama dengan senang hati.

Salam,
Chandra


gambar 1: dokumentasi pribadi
gambar 2: icocoffee.org

Salah Siapa Jadi Karyawan Swasta

November 30, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Karena laman resmi sudah publish, berarti saya juga sudah boleh nulis. Jadi tempat kerja saya, PT Bank Commonwealth (PTBC) sedang dalam proses penjualan dari pemilik sebelumnya yaitu Commonwealth Bank of Australia (CBA) kepada OCBC Indonesia. Kesepakatan tercapai tanggal 16 November kemarin, dan sejak hari itu sampai sekarang banyak yang terjadi di dalam, namun tentu saja tidak semua bisa saya tuliskan disini :)


Apa yang akan terjadi nanti saya juga belum tahu. Kalau lihat dari akuisisi-akuisisi yang terjadi di tempat lain ya kemungkinannya ikut ganti seragam, ambil golden handshake (yang buat saya mungkin tidak spektakuler karena masa kerja belum lama), atau pindah duluan. Selama ini cuma dengar-dengar, ternyata kalau mengalami sendiri tidak sesederhana itu ehehe

Ini hal baru lagi buat saya. Baru 6 tahun tapi jalannya sudah kelok-kelok
2017: lulus kuliah lalu masuk kerja pertama di sebuah perusahaan keluarga jalur orang dalam
2018: perusahaan itu tutup dan semua pegawai dirumahkan, seleksi 2 beasiswa gagal dua-duanya, diajak bantu-bantu riset di kampus
2019: pindah ke jakarta karena dapat kerja, akhirnya kerja di korporat walaupun masih pegawai kontrak
2020: jadi kartap, nikah dan pindah dari kosan di kuningan ke pinggiran, merasakan jadi commuter
2021: resign dan pindah ke company lain, mulai merangkak naik secara karir dan paham apa yang dikerjakan (IT), tapi perusahaannya di bidang leasing jadi agak kurang sit well dengan beberapa kerabat
2022: resign dan pindah ke PTBC, proper workplace, manajemen rapi, ilmu banyak, impact dapat
2023: kerja makin ngegrip, lagi RPM tinggi eh malah company-nya diakuisisi

Memang pilihan sendiri sih dulu memulai karir tanpa mengutamakan stabilitas wkwk Semoga saja landingnya mulus. Aamiin aamiin

Berhenti Berlangganan

November 27, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Hari ini saya meng-cancel subscription Disney+ Hotstar setelah terang bahwa perusahaan ini mendukung zionis. Saya pikir hiburan yang mereka sajikan di platformnya tidak sebanding dengan penderitaan anak-anak di Palestina. Bye Neal Caffrey, Oliver Putnam, Rick Castle, Mike Scofield, etc.


Disney+ sebelumnya adalah tempat saya nonton series crime-drama-comedy seperti Prison Break, White Collar, dan OMITB. Sekarang saya sedang jalan season 2 Castle, tapi saya berhenti hari ini dan tidak memperpanjang subscription saya karena alasan yang sudah jelas. Saat muncul question alasan untuk berhenti berlangganan, saya tulis 'bdnaash campaign'. 

Terus terang lebih gampang ganti merk air mineral daripada berhenti berlangganan streaming digital. Saya terlanjur menemukan genre yang cocok, sesuatu yang selama ini saya nggak tahu sampai akhirnya ketemu Prison Break di Disney+. Let's see apakah saya bisa temukan Castle di platform lain yang tidak termasuk daftar merah.

Di luar dari faktor boikot, ada yang tidak biasa dari Disney+ Indonesia. Entah kenapa biaya langganan jika perpanjang bulan ini naik dari 39 ribu menjadi 107 ribu. Ketika merk kena boikot lain banting harga, mereka malah naik signifikan. Apakah ini last ditch effort sebelum cabut dari Indonesia? (saya sepertinya pernah nemu di twitter soal disney+ berhenti di sini, tapi coba cari lagi gak ketemu, jadi nggak terlalu yakin)

Kenapa nggak pakai bajakan aja? Nggak sreg rasanya pakai barang orang tanpa bayar, kecuali memang dibagi gratis. Sementara saya settle dengan Vidio untuk nonton bola saja.

Blow off Steam

November 25, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Kalau buka Task Manager di laptop, kita bisa lihat berapa persen memori (RAM) dan prosesor yang terpakai. Semakin banyak aplikasi yang berjalan, semakin tinggi angkanya. Masing-masing aplikasi akan minta alokasi memori dan prosesor yang berbeda. Paint cuma kecil, tapi Photoshop gede. Game solitaire ringan, sedangkan game FIFA terbaru pasti berat. Browser seperti Chrome besarannya tergantung banyaknya tab yang dibuka. 

Dalam kondisi tidak ada aplikasi yang dijalankan pun sebenarnya angkanya sudah ada, karena untuk komputer bisa nyala saja sudah ada service yang berjalan di background. Kalau dalam kondisi idle begini, memori dan prosesor sehatnya dalam kisaran 10-15%.

Dalam kondisi dipakai kerja, baiknya memori berada di kisaran 50-60%, sesekali spike sampai 80% nggak masalah. Tapi kalau terus menerus diatas 80% takutnya kalau buka aplikasi baru atau ada job berat yang dijalankan seperti render atau build, aplikasi bisa crash atau bahkan komputer kena blue screen. Perih kalau kerjaan belum disave.

Nah gini, menurut saya ada kesamaan antara komputer dan manusia. Kalau komputer punya persentase RAM, manusia punya bandwidth. Beban yang dipikul seseorang, baik kelihatan atau tidak, berkontribusi pada naiknya pemakaian bandwidth. Orang yang stress-free, pemakaian bandwidth-nya mungkin di bawah 5%. Sebaliknya orang yang bandwidth-nya tinggi berarti sedang menyandang beban berat. Bisa dari manapun, pekerjaan, keluarga, pergaulan, dll. 

Sama seperti komputer yang idle tadi, manusia untuk sekedar menjalani hidup, tanpa ambisi dan target sekalipun, pasti sudah ada bandwidth yang terpakai. Banyak faktornya, dan dalam hal ini saya merasakan hidup di Jakarta ini paling banyak memakan bandwidth daripada kota lain yang pernah saya diami. Makanya di sini banyak orang gampang emosi. Jakarta ini secara fisik panas dan gerah, polusi udara salah satu yang terparah di dunia (untuk nafas saja susah), lalu lintas macet dan semrawut, tata kota di pinggirannya tidak tertata dengan baik (urban sprawl), dan tekanan sosial/kompetisi yang tinggi.

Bandung juga macet, tapi disana iklimnya enak apalagi di musim hujan. Penduduknya juga ramah dan hangat. For the record, untuk komputer pun suhu yang dingin akan membantu performanya, makanya ruang server selalu dijaga dingin dan kering. Sementara Bantul daerah pedesaan nyaris bebas dari masalah-masalah diatas kecuali dalam hal panas, karena dekat pantai. Kalau saya rasa-rasa, di Jakarta ini mungkin 40an persen bandwidth sudah terpakai untuk nggak ngapa-ngapain. Intinya susah untuk hidup enjoy di ibukota yang begini ini. (take with a grain of salt karena nggak bisa secara akurat diangkakan, beban yang dipikul atau dipendam orang beda-beda dan tak ada yang tahu)

Dengan bandwidth yang sudah terpakai banyak, wajar kalau orang Jakarta sering burn out. Ketika beban tambahan cukup besar, bandwidth bisa habis. Kalau sudah begitu mood jadi jelek, pikiran nggak jernih, not functioning properly lah. Ini cukup jamak sampai bisa diamati dari kebiasaan orang-orangnya dalam hal mengatasi penuhnya pikiran ini.

Di Jakarta, menjadi hal yang normal untuk tidak langsung pulang setelah selesai kerja. Ada yang ke parkiran dulu untuk ngrokok sambil ngobrol, ada yang duduk-duduk diam sambil nonton drama di HP, ada yang masuk warmindo untuk ngopi.Ada yang beli batagor atau tahu gejrot, duduk makan santai tanpa ngobrol tanpa apa-apa. Di masjid-masjid yang ada di jalur orang pulang kerja, setelah maghrib banyak yang leyeh-leyeh dulu nggak langsung lanjut jalan. Selain capek fisik karena commute jauh, juga untuk mendinginkan pikiran. 

Semua itu untuk blow off steam. Setelah seharian beraktivitas bandwidth selalu dalam kondisi tinggi. Laptop saja kalau dipaksa kerja keras akan panas dan berisik. Butuh pendinginan supaya nanti sampai di rumah mood sudah lebih baik dan pikiran sudah lebih enteng. Mending sampai rumah 15 menit lebih lambat tapi sudah enak daripada cepat sampai tapi buka pintu sambil cemberut. Kalau ngekos sendiri sih nggak masalah, cooling down bisa dilakukan di kosan. Tapi kalau ada keluarga di rumah, ya itu tadi yang biasa dilakukan.

Jakartans nggak ramah, Jakartans cuek-cuek. Yaa mungkin disitu ada andil tingginya kadar stres orang-orang. Saat pandemi kemarin dipaksa untuk berubah, rutinitas terdisrupsi, akhirnya banyak juga orang yang memikirkan ulang apakah rutinitas seperti ini sehat. Beberapa orang yang saya kenal mencoba mencari arragement baru yang memungkinkan untuk menurunkan pemakaian bandwidth sambil tetap produktif, termasuk dengan meninggalkan Jakarta bahkan.

Big respect untuk semua pejuang keluarga.

Cheers,
Chandra