Blow off Steam

November 25, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Kalau buka Task Manager di laptop, kita bisa lihat berapa persen memori (RAM) dan prosesor yang terpakai. Semakin banyak aplikasi yang berjalan, semakin tinggi angkanya. Masing-masing aplikasi akan minta alokasi memori dan prosesor yang berbeda. Paint cuma kecil, tapi Photoshop gede. Game solitaire ringan, sedangkan game FIFA terbaru pasti berat. Browser seperti Chrome besarannya tergantung banyaknya tab yang dibuka. 

Dalam kondisi tidak ada aplikasi yang dijalankan pun sebenarnya angkanya sudah ada, karena untuk komputer bisa nyala saja sudah ada service yang berjalan di background. Kalau dalam kondisi idle begini, memori dan prosesor sehatnya dalam kisaran 10-15%.

Dalam kondisi dipakai kerja, baiknya memori berada di kisaran 50-60%, sesekali spike sampai 80% nggak masalah. Tapi kalau terus menerus diatas 80% takutnya kalau buka aplikasi baru atau ada job berat yang dijalankan seperti render atau build, aplikasi bisa crash atau bahkan komputer kena blue screen. Perih kalau kerjaan belum disave.

Nah gini, menurut saya ada kesamaan antara komputer dan manusia. Kalau komputer punya persentase RAM, manusia punya bandwidth. Beban yang dipikul seseorang, baik kelihatan atau tidak, berkontribusi pada naiknya pemakaian bandwidth. Orang yang stress-free, pemakaian bandwidth-nya mungkin di bawah 5%. Sebaliknya orang yang bandwidth-nya tinggi berarti sedang menyandang beban berat. Bisa dari manapun, pekerjaan, keluarga, pergaulan, dll. 

Sama seperti komputer yang idle tadi, manusia untuk sekedar menjalani hidup, tanpa ambisi dan target sekalipun, pasti sudah ada bandwidth yang terpakai. Banyak faktornya, dan dalam hal ini saya merasakan hidup di Jakarta ini paling banyak memakan bandwidth daripada kota lain yang pernah saya diami. Makanya di sini banyak orang gampang emosi. Jakarta ini secara fisik panas dan gerah, polusi udara salah satu yang terparah di dunia (untuk nafas saja susah), lalu lintas macet dan semrawut, tata kota di pinggirannya tidak tertata dengan baik (urban sprawl), dan tekanan sosial/kompetisi yang tinggi.

Bandung juga macet, tapi disana iklimnya enak apalagi di musim hujan. Penduduknya juga ramah dan hangat. For the record, untuk komputer pun suhu yang dingin akan membantu performanya, makanya ruang server selalu dijaga dingin dan kering. Sementara Bantul daerah pedesaan nyaris bebas dari masalah-masalah diatas kecuali dalam hal panas, karena dekat pantai. Kalau saya rasa-rasa, di Jakarta ini mungkin 40an persen bandwidth sudah terpakai untuk nggak ngapa-ngapain. Intinya susah untuk hidup enjoy di ibukota yang begini ini. (take with a grain of salt karena nggak bisa secara akurat diangkakan, beban yang dipikul atau dipendam orang beda-beda dan tak ada yang tahu)

Dengan bandwidth yang sudah terpakai banyak, wajar kalau orang Jakarta sering burn out. Ketika beban tambahan cukup besar, bandwidth bisa habis. Kalau sudah begitu mood jadi jelek, pikiran nggak jernih, not functioning properly lah. Ini cukup jamak sampai bisa diamati dari kebiasaan orang-orangnya dalam hal mengatasi penuhnya pikiran ini.

Di Jakarta, menjadi hal yang normal untuk tidak langsung pulang setelah selesai kerja. Ada yang ke parkiran dulu untuk ngrokok sambil ngobrol, ada yang duduk-duduk diam sambil nonton drama di HP, ada yang masuk warmindo untuk ngopi.Ada yang beli batagor atau tahu gejrot, duduk makan santai tanpa ngobrol tanpa apa-apa. Di masjid-masjid yang ada di jalur orang pulang kerja, setelah maghrib banyak yang leyeh-leyeh dulu nggak langsung lanjut jalan. Selain capek fisik karena commute jauh, juga untuk mendinginkan pikiran. 

Semua itu untuk blow off steam. Setelah seharian beraktivitas bandwidth selalu dalam kondisi tinggi. Laptop saja kalau dipaksa kerja keras akan panas dan berisik. Butuh pendinginan supaya nanti sampai di rumah mood sudah lebih baik dan pikiran sudah lebih enteng. Mending sampai rumah 15 menit lebih lambat tapi sudah enak daripada cepat sampai tapi buka pintu sambil cemberut. Kalau ngekos sendiri sih nggak masalah, cooling down bisa dilakukan di kosan. Tapi kalau ada keluarga di rumah, ya itu tadi yang biasa dilakukan.

Jakartans nggak ramah, Jakartans cuek-cuek. Yaa mungkin disitu ada andil tingginya kadar stres orang-orang. Saat pandemi kemarin dipaksa untuk berubah, rutinitas terdisrupsi, akhirnya banyak juga orang yang memikirkan ulang apakah rutinitas seperti ini sehat. Beberapa orang yang saya kenal mencoba mencari arragement baru yang memungkinkan untuk menurunkan pemakaian bandwidth sambil tetap produktif, termasuk dengan meninggalkan Jakarta bahkan.

Big respect untuk semua pejuang keluarga.

Cheers,
Chandra



Maiden Flight

October 28, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Waktu masih menekuni pesawat terbang dulu, kalau kita mau membuat sebuah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau drone, selalu dimulai dengan proses simulasi. Ada software yang namanya Catia, disana kita bisa buat model 3 dimensi dari UAV yang sedang dirancang. Bentang sayapnya berapa, airfoilnya jenis apa, sudut-sudutnya bagaimana, dan lain sebagainya. Sayap, body, ekor, dan bagian lainnya bisa dimodelkan. Kita jadi bisa tahu perkiraan performa aerodinamika dan stability-nya


Kita juga bisa modelkan sampai level materialnya sehingga diperoleh perkiraan berat pesawat. Komponen elektronik juga bisa diatur peletakannya sehingga kita bisa tahu pusat massa ada dimana. Hasil 'ramalan' aerodinamika dan kestabilan ini kemudian dibandingkan dengan referensi, jika ada yang belum sesuai bisa dilakukan iterasi di komputer. Bayangkan kalau barangnya harus dibuat dulu baru dites dan direvisi, akan memakan waktu dan biaya yang buanyak.

Tidak sampai disitu, supaya lebih yakin lagi dengan performanya, model yang telah dibuat tadi diuji dengan CFD (Computational Fluid Dynamics). Dengan CFD kita bisa dapat visualisasi aliran di sekitar pesawat tersebut beserta interaksinya. Kita bisa peroleh data yang cukup akurat tentang perkiraan gaya angkat, gaya hambat, dan gaya/momen lainnya. Dari sana kita bisa turunkan data cruise speed, max speed, endurance, range, maximum take off weight (MTOW), take off speed, dll. Angka-angka ini kemudian dibandingkan dengan referensi dan spesifikasi yang diinginkan. 

Jika hasil simulasi belum sesuai, iterasi diulang dengan mengubah desain. Perlu educated guess disini agar hasil revisinya mengarah ke arah yang benar. Salah satu bantuannya adalah kita bisa mencari pesawat pembanding yang mirip dengan yang mau kita buat, itu bisa dijadikan referensi desain walaupun tentu tidak ditiru 100%. Ketika sudah sesuai, model yang diuji tadi dibuat technical drawingnya untuk kemudian mulai dilakukan manufaktur prototype. Prototype ini tidak langsung diterbangkan, ada pengujian berikutnya dengan wind tunnel.

Wind tunnel atau terowongan angin digunakan untuk menguji aliran udara dan efeknya terhadap prototype yang dibuat. Kalau CFD tadi adalah simulasi komputer, wind tunnel menggunakan benda fisik. Benda uji diletakkan di dalam terowongan angin kemudian dikenai aliran udara dengan kecepatan tertentu. Ada alat ukur yang menunjukkan besaran dan arah gaya yang muncul pada benda saat dialiri udara. Amazed sih waktu dulu pertama kali lihat cara kerjanya. Udara, karena tidak terlihat, sering dianggap powerless, tapi ternyata ketika ada interaksi dengan permukaan benda bisa muncul gaya yang besar. Benda uji tidak disentuh, tapi bisa bergerak. Untuk keperluan visualisasi kadang di wind tunnel dibuat smoke sehingga kita bisa lihat lebih jelas aliran udaranya. Selain wahana terbang, mobil dan motor balap juga lazim menggunakan wind tunnel saat pengembangannya.

Ketika sudah selesai simulasi komputer dan wind tunnel, serta angka yang dihasilkan konsisten, UAV tersebut siap untuk diproduksi versi terbangnya. Setelah jadi, dilakukan penerbangan perdana atau yang biasa disebut maiden flight. Proses yang panjang tadi dilakukan untuk memastikan wahana yang dibuat siap terbang, punya performa yang diinginkan, bisa dikendalikan, dan tidak mudah jatuh.

Itu tadi gambaran proses pengembangan UAV dimana ada privilege untuk melakukan simulasi dan iterasi berulang-ulang. Beda dengan kehidupan ini yang tanpa persiapan tahu-tahu ujian. Setiap keputusan adalah maiden flight. Dalam maiden flight, UAV yang sudah dikaji saja biasa crash, apalagi kita. Jadi kalau keputusan yang  diambil ternyata kurang tepat, wajar. Kalau crash, ambil patahan sayap pesawat kita, simpan dan museumkan, sebagai pengingat bahwa kita pernah di sana. UAV bisa dibangun lagi.


Chandra

Transplantasi Lapangan Tengah

October 27, 2023 Posted by Chandra Nurohman , No comments
Musim ini Liverpool jadi menyenangkan lagi untuk ditonton. Midfield benar-benar baru, Henderson Milner Fabinho Keita Ox semuanya hengkang, diganti Szoboslai MacAllister Gravenberch Endo yang datang. Keempatnya nggak ada yang flop dan dapat kepercayaan penuh dari Klopp. Transplantasi midfield yang sukses.


Yang paling membedakan Liverpool musim ini dan kemarin adalah predictability. Tahun lalu lapangan tengah selalu diisi Hendo dan Fabinho, plus satu lagi pemain siapapun yang lagi nggak cedera. Masalahnya ini di 2022 bukan 2018-2019 dimana dua pemain itu sedang bagus. Sekarang Klopp punya jauh lebih banyak pilihan. Selain Szobo Mac Graven dan Endo tadi, ada Jones dan Elliot yang makin matang, serta Thiago dan Bajcetic juga sebentar lagi sembuh dari cedera. Total 8 first team players siap ngisi 3 posisi.

Di depan pun sama, dari 3 posisi yang ada hanya 1 yang permanently booked yaitu Mo Salah di kanan. Sementara 2 pos lain bisa diisi oleh Gakpo, Jota, Nunez, dan Diaz, masing-masing dengan tipe yang berbeda. Gakpo juga bisa agak turun menjadi CAM, sementara Elliot, Graven, dan Szobo bisa naik jadi false 9 atau winger. Versatility ini yang membuat Liverpool jadi menyenangkan ditonton karena ada unsur kejutan, ditambah sekarang lebih sering menang.


Di lini belakang sih nggak perlu banyak kejutan karena yang diinginkan stabilitas. Mungkin musim depan saatnya regenerasi saja, Virgil semakin tua, Matip dan Gomez sudah lewat masanya, plus cari suksesor Robertson. Dari beberapa youngster yang dicoba, baru Quansah yang kelihatan punya first team material. Tugas lain tentu saja mencari penerus Mohamed Salah, ini yang berat.

Klopp's Liverpool 2.0 is in motion!


Cheers,
Chandra

Reclaiming Life from Work

October 19, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments


Dulu saya pikir cara untuk tetap waras menghadapi tekanan pekerjaan adalah dengan memiliki aktivitas lain di luar itu seperti main game, baca buku, olahraga, atau liburan dalam jumlah yang cukup. Tentu itu bisa membantu, tapi dari buku ini saya menemukan bahwa ada satu hal yang sering terlupa yaitu memiliki hubungan baik dengan pekerjaan itu sendiri. Bukan hanya dengan orang-orangnya, tapi juga dengan waktunya, aktivitasnya, tuntutannya, dan dinamikanya.

Game, olahraga, dan liburan adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran pekerjaan. Menenggelamkan diri padanya bisa sejenak menghilangkan stres dengan cara mengambil alih fokus kita menjauh dari pekerjaan. Tapi ketika sudah kembali bekerja, ya bisa buneg lagi. Kita butuh sesuatu in-house yang bisa jadi penolong. Salah satunya adalah memastikan pekerjaan masih dalam kontrol kita, bukan pekerjaan yang mengontrol kita. Sebelumnya saya sempat menulis tentang orang-orang yang konsisten salat tepat waktu di tengah kesibukan. Salah satu faktornya adalah mereka menguasai apa yang mereka lakukan. 

Baca juga: Prioritas

Banyak hal menarik yang bisa diambil dari buku The Good Enough Job. Saya merasa tidak cukup kalau hanya dituangkan dalam dua halaman review di story instagram. Di sampul buku ini tertulis jelas 'Reclaiming Life from Work'. Terdengar seperti ajakan untuk mengurangi bekerja ya. Faktanya kita sudah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk satu hal saja, yaitu pekerjaan. Sampai lupa bahwa kita punya fungsi lain yaitu sebagai anggota keluarga, saudara, tetangga, anggota komunitas, umat beragama, dll. Jadi sedikit menarik diri dari pekerjaan dan membagi fokus dengan lebih berimbang akan menjadikan kita better human, lalu pada gilirannya better employee.

Ditambah lagi, menggantungkan diri pada satu hal saja bukanlah hal yang bijak. Terlalu fokus pada pekerjaan menjadikan kita adalah pekerjaan tersebut. Takutnya kalau terjadi sesuatu pada satu hal itu kita kehilangan pegangan dan jatuh. Itulah kenapa di beberapa tempat orang yang akan pensiun diberikan pelatihan keterampilan. Harapannya supaya mereka tidak kosong ketika pensiun nanti. Bukan cuma masalah duit atau waktunya, tapi sampai di level kepercayaan diri dan anggapan terhadap identitas dirinya.

'Bekerja' di buku ini bisa diartikan secara luas ya, bukan hanya karyawan/buruh. Presiden juga bekerja. Petani dan pedagang juga bekerja walaupun mereka sendiri juga bosnya jika yang digarap sawah dan toko sendiri. Founder start-up, either dibiayai SoftBank, BlackRock, atau ayah sendiri, juga bekerja. Profesi yang diwawancara oleh penulis ranging dari pemuka agama, jurnalis yang menapaki karir dari majalah kampus hingga media internasional, investmen banker yang menjadi salah satu managing director termuda, juru masak yang kemudian mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi CEO, software engineer google yang tidur makan mandi di kantor, sampai anak agency. Penulis sendiri, Simone Stolzoff adalah ex-design lead di IDEO. 


Seperti yang saya tulis di instagram, para ambis itu pada satu titik kehilangan kenikmatan dari apa yang dikerjakan. Sebagian dari mereka memutuskan resign dan mencari 'kehidupan' yang lain. Ini tidak semudah kelihatannya, karena selama bertahun-tahun mereka telah menempelkan identitasnya pada pekerjaan yang dilakoninya. Yang tadinya koki, setelah resign tidak tahu lagi siapa dirinya. Sebagian lagi membuat batasan baru antara dirinya dan pekerjaannya. Si software engineer tidak mau lagi menyebut dirinya Googler, menggantinya dengan 'orang yang kerja di Google'. Dia juga memutuskan sewa apartemen.

Setiap bab dalam buku ini mempunyai satu sosok sentral yang diceritakan dan menjawab satu mitos dalam hubungan manusia dan pekerjaannya.

Bab 1: For What It's Worth - on the myth that we are what we do
Bab 2: The Religion of Workism - on the myth that your job can be your God
Bab 3: The Love of Labor - on the myth of dream jobs
Bab 4: Lose Yourself - on the myth that your work is your worth
Bab 5: Working Relationship - on the myth that workplace can be family
Bab 6: Off the Clock - on the myth that working more hours always leads to better work
Bab 7: Work Hard, Go Home - on the myth of cushy office perks
Bab 8: The Status Game - on the myth that status equals success
Bab 9: A World with Less Work - on the myth of personal boundaries

Menarik bukan? Selesai baca buku ini rasanya pengen fafifuwasweswos di reply twit hrdbacot wkwk.

Banyak hal baru yang saya tahu dari buku ini, misalnya istilah Integrator dan Segmentor dalam mengkategorikan pekerja. Integrator adalah yang mencampur waktu bekerja dengan kegiatan pribadinya. Pagi buka laptop dulu, lalu ditinggal antar anak sekolah, balik kerja lagi, siangnya benerin kipas angin, sorenya standby sambil nyiramin halaman, malam hari waktu anak istri sudah tidur kalau masih ada kerjaan buka laptop lagi. Sementara segmentor tegas soal batas, bekerja dari jam 9 sampai setenah 6 sore tanpa aktivitas sambilan, tapi di luar itu tidak menyentuh kerjaan lagi. Dua tipe ini perlu cara handling yang berbeda, kamu yang mana?

Banyak insight yang saya dapat dari buku ini yang saya rasa akan berguna dalam pekerjaan saya (atau untuk wawancara kerja berikutnya hehe). Seperti resep kenyamanan dalam bekerja ternyata adalah terlindunginya waktu luang pekerja. Ini bisa diwujudkan dengan andil dari government (regulasi), perusahaan (budaya), dan diri sendiri (keputusan personal). Jika ingin lompat ke pekerjaan baru, ukur apakah waktu luangmu lebih terlindungi atau tidak. Termasuk jika ingin ubah haluan untuk mencoba entrepreneur atau freelancing.

Definitely kandidat buku terbaik tahun ini. Buat yang saat ini sedang lelah lahir batin setiap selesai bekerja, tratapan kalau dengan notif Teams, Slack, atau WA, atau terjebak dalam hustle culture berlebihan cocok untuk baca ini. Buku ini juga meng-acknowledge bahwa lebih cocok untuk dibaca sebagian orang daripada sebagian yang lain. Penulis menjelaskan bahwa latar yang diambil adalah korporat Amerika dengan keyakinan bahwa kondisi yang sama banyak terjadi terutama di kota-kota besar. Jadi untuk budak korporat Jkt, Sby, Smg, Bdg, Jog, dll sih termasuk must read.

Terakhir, buku ini mudah untuk dibaca. Halaman pertama dibuka dengan kisah obrolan nelayan dan businessman yang sudah diceritakan ulang dimana-mana. Baca cerita itu membuat langsung tahu apa sih yang mau disampaikan buku ini, dengan caranya yang ringan.



Thanks,
Chandra









Manusia Manusiawi

September 30, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Manusia Manusiawi adalah salah satu nomor yang dibawakan oleh Kotak pada acara SATFFest yang diselenggarakan Kemenag untuk memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Saya pakai istilah nomor karena ini yang biasa dipakai Cak Nun untuk menyebut lagu atau tembang yang dibawakan Kiai Kanjeng di antara diskusi dan talkshow-nya. 

Kenapa saya samakan SATFFest dengan KK, kalau saya lihat Habib Husein dan timnya mengonsep acara ini berkiblat pada Cak Nun dan komunitas Maiyah. Habib, Bhante Dhira, Yusril, dan Kotak ada di atas panggung secara bersamaan, layaknya panggung maiyah yang selalu penuh. Mereka berganti-gantian tampil antara ceramah, jokes, dan musik. Semua saling berkesinambungan dari awal sampai akhir, tidak seperti bintang tamu yang diundang secara terpisah dan punya slot pentas sendiri-sendiri.

Saya akan kembali ke sana, tapi sebelumnya saya mau mengapresiasi penyelenggaraan acara satu ini. Saya jarang terlibat dalam acara-acara plat merah. Jadi saya tidak tahu seperti apa kebiasaannya sekarang. Tapi menurut saya acara ini dikemas dengan cerdas dengan menggabungkan acara resmi perayaan maulid nabi dan SATFFest (Sidiq Amanah Tabligh Fatanah Festival) yang ceria nan segar. Kalau acara maulid nabi hanya berisi sambutan pejabat dan ceramah saja, jangankan manyarakat umum, tamu yang diundang pun pasti ada yang enggan datang, apalagi di hari libur long weekend. Tapi ini sudah acaranya di Balai Sarbini, menghadirkan public figure yang sedang naik daun, dipromosikan secara proper pula. Kalau saya lihat 70% yang hadir masyarakat umum seperti saya.

Acara resminya tetap khidmat. Setelah menyanyikan Indonesia Raya ada pertunjukan bedug oleh siswa siswi MAN 1 Pandeglang. Disusul pembacaan ayat Al-Quran dari seorang mantan juara MTQ Internasional. Selanjutnya hikmah maulid disampaikan oleh KH Zawawi Imron, yang juga seorang budayawan dan penulis sehingga ceramah yang disampaikan disusun dengan kata-kata yang indah. Beliau menutup dengan sebuah puisi pendek judulnya Telur

Dubur ayam yang mengeluarkan telur
Lebih mulia daripada mulut yang hanya menjanjikan telur.


Terakhir sambutan dari Bapak Menteri Agama. For the record beliau hadir tepat waktu dan ikut sampai acara selesai lebih dari jam 22.00, sebelumnya saya pikir beliau beserta jajaran hanya ikut acara inti saja sampai pukul 20.00.

Setelah selesai sambutan dari Pak Menteri, MC seremoni menutup acara dan undur diri, lalu memberikan panggung pada Yusril yang langsung mengubah acara resmi jadi hahahihi. 


Yusril ini lebih ke opener daripada sekedar pembawa acara. Dia muncul langsung dengan punchline orang Muhamadiyah tidak biasa merayakan maulid. Sejak diambil alih Yusril acara tidak lagi dibroadcast oleh TVRI. Dia juga mengeluarkan himbauan ala pertunjukan komedi tunggal seperti tidak boleh merekam dll, kalau foto masih boleh. Sudah seperti nonton standup, bedanya ini gratis karena dibiayai negara ehehe.

Habib Husein dan Bhante Dhira naik panggung disambut tepuk tangan meriah penonton. Karena off air, tektokan Habib + Bhante + Yusril bisa sampai ke pinggir jurang. Banyak jokes yang tidak akan bisa ditemukan di podcast manapun. Tapi di sisi lain ketika bicara tentang ilmu ya tetap mendalam dan serius. 

Ketika menjawab tentang kenapa Habib mengkonsep acara seperti ini, beliau menjelaskan bahwa ini untuk memberikan pengalaman maulid yang berbeda bagi teman-teman yang biasa bermaulid, sekaligus untuk teman-teman non muslim bisa tahu apa itu maulid. Sangat berbeda memang dengan maulid-maulid biasanya (walaupun saya selama ini cenderung ke golongan Yusril yang jarang merayakan maulid). Berapa banyak sih orang yang bisa kepikiran mendatangkan seorang bhikku untuk peringatan maulid nabi? 

Kotak yang notabene sebuah band pun sampai ikut talkshow, dan bukan hanya Tantri saja tapi seluruh personelnya. Kotak naik dengan membawakan lagu Tuhan dan Tombo Ati, sejak itu Tantri, Cella, dan Chua tidak turun dari panggung. Lagu berikutnya Manusia Manusiawi menandai jeda sebelum QnA. Seketika audience terhenyak ketika terdengar suara Emha Ainun Najib di atas interlude gitar akustik. Fotonya terpampang di depan bersama beberapa baris puisinya. Kotak menyanyikan satu lagu lagi, kemudian di penghujung acara mengiringi salawat yang dikumandangkan semua yang ada di Balai Sarbini.

bisakah kita renungkan sebentar kata-kata 
Cak Nun, setelah segala perjalanan yang kita lalui, apakah kita masih setia menjadi manusia?

Acara selesai lebih dari jam 10 malam, standing applause untuk para pengisi acara. Saya yang belum makan dari siang sampai lupa lapar. Saya keluar Balai Sarbini dengan perasaan yang bercampur antara euforia setelah nonton hiburan dan sejuk setelah selesai pengajian. Pada umumnya datang ke acara agama itu tidak ringan, apalagi untuk anak muda. Tapi kalau acaranya seberkualitas ini, suruh bayar pun orang tetap akan mau. 


Acara seperti ini menyegarkan, tapi ya tidak untuk diadakan tiap pekan. Seperti es jeruk enak tapi kalau kebanyakan bisa kena gula. Ngaji konvensional di masjid-masjid dan majelis-majelis tetap perlu. Event seperti SATFFest ini tidak untuk menggantikan yang begitu. Tapi saya punya keyakinan dunia akan jadi sedikit lebih baik jika semakin banyak orang datang di acara seperti ini.

Manusia manusiawi
Jatuh dan bangkit lagi
Maafkanlah maafkan diri
Kau tak serendah ini


Terimakasih sudah membaca,
Chandra

Champion

September 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Nonton bola jam 3 pagi walaupun nanti paginya sekolah/kerja. Sunyi, gelap, dan minim distraksi pada dini hari.

Match-up yang nggak biasa mempertemukan tim dari dua liga yang berbeda, menghasilkan permainan dan hasil yang kadang random nggak terduga.

Fase knock-out yang menghadirkan tensi serupa Euro dan Piala Dunia. Final yang legendary tentu salah satunya Istanbul 2005.

Tayang di TV lokal tanpa perlu buka aplikasi digital dan memusingkan kualitas sinyal serta kuota. Menghadirkan pengalaman menonton yang nggak berubah sejak masih SD.

Visual yang tidak banyak berubah sejak dulu, simpel dan berkelas.Shot close-up di menit 80+ menunjukkan ekspresi jumawa dari yang unggul dan putus asa dari yang kalah.

Anthem yang ikonik. Die Meister, Die Besten, Les grandes equipes, The Champions.

Champion, satu dari sedikit hal yang tidak berubah sejak dulu hingga sekarang.

Thanks,
Chandra
*ditulis sambil nonton emyu kena humbling dan pemain bayern throwing shots at Onana seperti Bale ke Karius dulu, kiper dianggap nggak ada wkwk

Prioritas

September 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Never underestimate orang yang terbiasa meninggalkan kesibukannya untuk menjalankan ibadah. Setidaknya dalam pandangan saya, kalau menyaksikan ada orang yang begini biasanya hidupnya baik, entah sudah atau nanti. Saya pakai 'baik' supaya spektrumnya luas karena pengalaman orang beda-beda. Ya walaupun wang-sinawang, tapi orang yang begini kelihatan banyak beruntungnya. 

Bisa dirasionalisasi juga sih, orang yang bisa meninggalkan kesibukannya untuk salat tepat waktu berarti dia punya kuasa atas apa yang dia kerjakan. Karena kalau masih tergopoh-gopoh dalam urusannya akan cenderung waswas meninggalkan pekerjaan dan mencari pembenaran 'daripada nanti pas salat nggak fokus'. Tentu ini dengan acknowledge bahwa beberapa pekerjaan memang tidak bisa ditinggalkan, misal sopir bis yang mendengar adzan di tengah kemacetan.

Disiplin melakukan itu juga menjadi tanda seseorang punya otot mental yang kuat dalam menentukan prioritas. Kemampuan ini sadar nggak sadar akan terpakai di waktu waktu yang lain. Sehingga keputusan-keputusan yang diambil banyak yang akurat. Dalam sekian waktu, keputusan yang baik membukit menjadi nasib yang baik. Ketiga, orang yang konsisten ibadah tepat waktu bisa jadi juga konsisten bangun lebih pagi dari yang lain. Jadi simply punya waktu 'hidup' dan berkarya lebih banyak. Dia juga terbiasa 'make time' untuk sesuatu yang positif, membuat virtually waktunya lebih banyak lagi. Melipat waktu kalau kata dr. Hasto, 24 jam-nya sama tapi isinya lebih padat.

Waktu kerja di Lembang dulu, kalau mau ke masjid harus naik bukit karena lokasi kantor turun kalau dari jalan raya. Lumayan tinggi dan curam, sampai kantor menyediakan parkiran di atas pinggir jalan bagi yang nggak berani bawa kendaraan turun (ah susah dijelaskan, lebih gampang kalau saya ajak tur kesana). Naik turun jalan kaki capek, tapi ada 4-5 orang yang konsisten setiap salat dzuhur dan ashar selalu jalan naik. Salut sekali sama mereka, sementara saya dan banyak lainnya hanya mendaki seminggu sekali saat salat jumat. Setelah pindah kerja jadi jarang ketemu mereka. Tapi selama kerja bareng ya mereka rekan yang menyenangkan, positif, ulate padhang.

Ada juga teman saat kuliah yang tinggal di pondok. Dia sering ada kegiatan pondok setiap ba'da subuh serta dari setelah maghrib sampai malam. Kalau pakai kalkulasi dunia saja, ini disadvantage. Karena waktu untuk aktivitas yang berhubungan dengan kuliah berkurang cukup banyak. Beberapa kali memang tugas tidak terhandle sebaik mahasiswa lain. Tapi in the end kuliahnya lancar, lulus dengan mulus, dan punya 'nasib' yang baik. Jadi bukannya ada mukjizat kalau hari ini ibadah baik otomatis besok pagi nilai jadi tinggi, tapi ada prosesnya.

Ada beberapa contoh lain orang yang saya temui seperti ini. Walaupun kerjaan sedang banyak dan project lagi kenceng tapi 10 menit sebelum adzan sudah meninggalkan mejanya. Bisa jadi ada chat yang diabaikan atau tiket kerjaan yang tertunda, tapi pada akhirnya yang dikerjakan selesai juga. Dunno ya, kepercayaan vertikal ini urusan masing-masing pribadi. Tapi kalau buat saya hikmahnya adalah bahwa kalkulasi untung rugi tidak sesederhana itu.


Thanks,
Chandra

Membedakan Oli Asli vs Palsu

September 20, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Oli buat mesin kendaraan itu seperti darah buat manusia. Dia bersirkulasi untuk memungkinkan proses yang terjadi dalam mesin berlangsung mulus. Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan agar oli dapat menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu:

1. Menggunakan oli yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan, terutama terkait standar keenceran dan API
2. Mengganti oli secara rutin, untuk motor disarankan tiap 3000 km, dan untuk mobil 5000 km, atau sesuai saran pabrikan
3. Menggunakan oli asli

Untuk yang ke-3 ini krusial. Karena kalau kena oli palsu mesin bisa amsyong. Ada beberapa tips untuk menghindari ini, seperti beli di official store atau ganti oli di bengkel resmi/besar. Tapi sebenarnya pabrikan oli sudah membuat fitur pengaman dari pemalsuan pada produk olinya itu sendiri. Fitur yang saya agak tahu adalah dari Shell. Saya coba sedikit jelaskan, tapi karena susah kalau via tulisan, saya buat dalam bentuk video dan saya taruh di youtube.

Check this out: ke YouTube

Waktu

September 09, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya dapat insight menarik dari buku yang kemarin saya baca. Begini, mudah bagi kita untuk menangkap bahwa sebuah benda akan mewujud jika punya panjang, lebar, dan tinggi, atau dengan kata lain tiga dimensi. Lemari, gedung, galon air mineral, handphone, itu semuanya punya panjang, lebar, tinggi. Papan tulis dan kertas itu juga ada karena punya tebal, walaupun kecil jika dibandingkan panjang dan lebarnya. Unsur satu dimensi (garis) dan dua dimensi (bangun datar) itu imajiner, tidak ada bendanya di dunia nyata.

Tapi apakah panjang, lebar, tinggi (atau tebal) ini benar cukup untuk membuat sesuatu itu ada? Bagaimana dengan benda yang instantaneous, yaitu benda yang hanya sekejap banget adanya. Sangat sekejap hingga t (waktu) mendekati nol. Ya nggak jadi juga itu benda. Jadi untuk sesuatu benar-benar ada dia tidak hanya butuh panjang, lebar, dan tinggi, dia juga harus punya durasi. Durasi adalah bentuk terbatas dari keabadian, punya awal dan akhir.

Itulah mengapa waktu sering disebut sebagai dimensi ke-4. Dengan menganggap waktu adalah salah satu dimensi seperti halnya panjang, maka mengatakan ada kemacetan dari kilometer 68 sampai 70 sama saja dengan bilang adik sekolah dari jam 7 sampai jam 10. Bergerak 1 meter ke depan satu nafas dengan menua 1 jam. Bedanya waktu tidak bisa mundur, posisi bisa. Semua akan indah pada waktunya setara dengan udaranya pasti sejuk kalau kita sudah sampai di gunung sana. Datang di waktu yang tepat terdengar puitis, tapi sebenarnya sama saja dengan tiba di tempat yang dituju.

Hdyt?


Chandra

Sate Semoga Berkah

September 01, 2023 Posted by Chandra Nurohman No comments
Ada satu warung sate yang stands-out di Jakarta. Yaa oke lokasi sebenarnya di Ciputat, tepatnya ada di depan RS Hermina. Menurut saya ini sate paling enak yang pernah saya makan, pun dibandingkan dengan yang di Jogja dan Bandung. Namanya Sate Bang Acong, asli Madura.

Saya tahu tempat ini dari salah satu video YouTube-nya Habib Husein Ja'far. Infonya beliau langganan warung Bang Acong sejak jaman kuliah, lokasinya memang dekat dengan UIN Jakarta. Warungnya tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja kursi di dalamnya. Di dinding terpampang beberapa foto Kyai, sepertinya Bang Acong ini sangat menjunjung tinggi para ulama dan habib. Gerobaknya penuh dan bakarannya tidak pernah nganggur, ketahuan banyak pelanggannya.


Meskipun rame dan enak, harganya masih standar. Satu porsi sate ayam plus satu porsi sate kambing dihargai 60 ribu sudah termasuk lontongnya. Itu juga masih bonus kuah sop yang hangat. Saya baru saja beli dan tidak bisa tidak sangat ingin menulis ini sebagai penghargaan. Kalau google review bisa kasih bintang lebih dari 5 akan saya kasih lebih. Sate Bang Acong masuk tier teratas kuliner saya bersama Mieayam Om Karman dan fire chicken Richeese Factory.

Pastikan nonton ini:

Thanks,
Chandra