Mulai Dari Masjid

June 16, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

 

Bismillah..

Maybe some of you know, saya pindah domisili beberapa kali. Sebagai orang yang tidak terlalu pandai bergaul dan cenderung pemalu sebenarnya ini salah satu ketakutan saya waktu kecil dulu. Saya kurang nyaman masuk ke lingkungan baru yang belum dikenal. Kalau mau begitu harus ada teman orang dalam atau kenalan yang menyambungkan.

Tapi setidakmau-tidakmaunya saya tetap saja suatu hari harus mengalami. Yang paling serius tentu saja waktu saya pindah dalam posisi sudah menikah. Kali ini tanggung jawab sosial masyarakatnya beneran dan wajib, bukan opsional lagi. Waktu ngekos sebagai mahasiswa dulu, karena saya hanya satu diantara banyak yang lain, plus masih ada bapak/ibu kos sebagai interface dengan dunia luar, bergaul dengan tetangga rumah terasa nggak wajib-wajib amat.

Meski begitu, pengalaman ngekos itu membawa pelajaran yang ternyata berguna untuk sekarang. Bahwa kalau dasarnya kita tidak pandai bergaul, cara paling mudah untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan adalah lewat masjid. Kebetulan kos saya di Bandung sebelahan dengan mesjid dan ada 2-3 teman yang rajin mengingatkan untuk salat jamaah.

Masjid adalah tempat paling strategis dimana kita bisa hadir menampakkan diri tanpa wajib bercengkrama dengan orang lain, diem tok wes gak masalah. Datang, salat, duduk sebentar setelah salat, lalu pulang, sudah cukup dan nggak akan jadi perhatian (teks ini untuk orang yang tidak nyaman jadi pusat perhatian). Beda dengan kerja bakti ahad pagi misalnya, nggak bisa diem aja, harus ngobrol, ya kalau nyambung, kalau enggak?

Melakukan hal diatas setiap hari membuat lama-lama muka kita dikenal, setidaknya orang tahu kita sebagai orang baru yang tinggal di daerah itu. Untuk mempercepat proses bisa ditambah mengajak salaman orang-orang, ini juga hanya butuh senyum tidak perlu skill basa-basi. Datang lebih awal lalu pulang lebih akhir juga membuat lebih gampang dihafal minimal sama marbot masjid.

Next stepnya ketika jalan pulang dari masjid barengi jamaah yang lain. Ini memberikan beberapa keuntungan. Pertama, lebih gampang membuka obrolan privat daripada di forum yang ramai, saya lebih suka begitu. Kedua, kalau tidak nyambung pun kita cuma perlu bertahan paling lama 5 menit sampai salah satu sampai di rumah, exit plan jelas wkwk. Dengan melakukan ini kita juga jadi tahu rumah beliau dimana dan mungkin tahu hobi atau kebiasaannya.

Kalau sudah kenal dengan sejumlah warga, jauh lebih mudah untuk bergaul di aktivitas-aktivitas yang lebih variatif. Undangan-undangan semakin tidak menjadi beban, bahkan cenderung menyenangkan. Kerja bakti pun outputnya jadi seru karena masuk obrolan dan guyonannya, walaupun hanya bantu-bantu bebersih ranting atau nyapu jalan karena tidak terampil pakai alat-alat.

Buat orang yang supel dan pede jadi pusat perhatian mah nggak perlu repot-repot seperti ini, langsung aja nimbrung. Tapi baby step ini perlu untuk orang seperti saya karena menurut saya bergaul di masyarakat ini ada seninya sendiri, beda dengan di tempat kerja atau sekolah. Klasifikasi hal-hal yang bisa dan tidak bisa dibicarakan berbeda karena luasnya variasi latar belakang dan interes di masyarakat.

Saya nggak tahu ini urusan berkahnya masjid atau apa ya. Tapi ya begitulah, masjid bukan cuma urusan vertikal, efek horizontalnya pun besar. Masjid adalah pintu masuk ke sebuah tempat.

Peace

May 26, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments
"A happy person isn’t someone who’s happy all the time. It’s someone who effortlessly interprets events in such a way that they don’t lose their innate peace." - Naval Ravikant

Quote terbaik yang saya temukan minggu ini, di twitter. Happy time, sad time, happens all the time. Kalau tidak bisa selalu happy, minimal kita coba untuk damai. Nrimo kalau kata orang jawa.

Dalam bahasa lainnya, ada perbedaan antara menderita dan mengalami penderitaan. Orang bisa saja mengalami penderitaan tanpa merasa menderita. Orang yang kehujanan naik motor malam malam tapi masih bisa bernyanyi atau becanda, mereka tidak sedang menderita.

Kadang yang tidak enak justru ketika dikasihani. Kita merasa tidak apa-apa, tapi orang yang melihat menganggap kita perlu dibantu. Ini yang membuat rikuh dan rasanya ingin menyembunyikan apa apa yang bisa jadi sumber rasa kasihan. Enaknya kalau sebagian besar waktu kita jalani di lingkungan yang tidak membuat kita perlu macak seolah kita menikmati segalanya hanya agar tidak dikasihani. 

Balik ke innate peace, saya percaya it somehow resonates. Ada orang yang diamnya saja menyenangkan, wajahnya terang, bahasa tubuhnya tenang. Semakin besar damai yang dibawa, semakin banyak masalah yang dapat ditampungnya. Apa yang kita kira berat, baginya mungkin bukan apa-apa. Kesalahan manusia nomor sekian, cenderung menilai sesuatu menurut timbangannya sendiri.

So, have a peace ya!


*ditulis dari hp sambil mampir di indomaret point



Syawalan

May 06, 2022 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Alhamdulillah sejak saya masih bocah hingga sekarang lebaran biasanya menyenangkan. Tapi kalau boleh menyebut satu hal yang jadi beban waktu kecil dulu adalah syawalan (halal bihalal) trah (keluarga besar). Saya merasa acara syawalan diciptakan untuk simbah-simbah dan bapak-bapak, bukan untuk anak-anak. 

Pasalnya tahun-tahun sebelumnya acara syawalan di tempat kami skalanya masih level mbah buyut, 4 generasi di atas saya. Jadi yang rawuh mulai dari kakak-adiknya simbah saya, lalu bapak/ibu dan sepupu-sepupunya, lalu baru kami generasi berikutnya yang tidak kenal dengan 70-80% yang hadir disana. Rumit ya? ya intinya saudara yang separasinya sudah jauh. 

Acaranya pun dikemas dengan cara lama. Biasanya konsepnya 'pesta duduk' dengan.susunan acara yang sistematis (re: kaku), dibuka dengan berbagai sambutan, dan harus duduk dari awal sampai akhir. Bahasa pengantarnya Jawa halus yang saya hanya bisa memahami tapi tidak bisa ngomongnya. Makanan dan snacknya disuguhkan per orang dan banyak yang tidak habis dan jadi mubazir karena memang tidak cocok (bukan tidak enak ya).

Saya paham bahwa acara seperti ini perlu apalagi untuk orang Jawa. Saya pun biasanya hadir, karena meskipun malas tapi dari dulu selalu mikir kayanya acara begini banyak baiknya walaupun saya nggak/belum tahu dalilnya, lagipula cuma sekali dalam setahun. 

Dari tahun ke tahun sebenarnya acaranya pun semakin sepi. Kakak-adiknya simbah hanya tinggal sepasang dan sudah sepuh. Kami-kami lebih memilih sowan langsung ke rumahnya daripada menyelenggarakan acara rame-rame yang mungkin melelahkan. Ada faktor pandemi juga disini yang membuat kebiasaan ini stop sejak 2020.

Jadilah di tahun 2022 ini syawalan tidak lagi bersama saudara se-mbah-buyut seperti sebelumnya. Kini turun 1 generasi ke level simbah sehingga yang datang pakdhe/budhe/om/tante yang memang kenal dekat dan sepupu-sepupu akrab (plus pasangan dan anaknya) yang dulu kalau libur sekolah sering main dan nginep rame-rame di rumah simbah. Kebanyakan sudah terpapar budaya populer sehingga tidak terlalu memusingkan kebiasaan dan aturan. Jadilah acara syawalan yang inklusif, menyenangkan, seru, tapi tetap ada intinya.

Tetap ada acara ikrar syawalan, maaf-maafan, pembacaan yasin, doa, dan tahlil. Tapi di luar itu bebas mau ngobrol apa saja sama siapa saja. Karena jumlahnya tidak banyak semua bisa masuk di 'aula' rumah pakdhe yang memang lumayan luas, tidak perlu panas-panasan buka tenda di halaman. Yang bawa bayi bisa di dalam kamar ber-AC, yang mau cari angin bisa di teras dan taman depan.

Makanan dan minuman prasmanan free flow sehingga bisa ambil sesuai selera dan secukupnya. Ada teh panas dan air putih tetep, tapi ada juga es krim dan jajanan bocah biar anak-anak betah. Bajunya tidak harus rapi kemeja berpeci, mau pakai kaos dan sarungan pun boleh. Acaranya cair, penuh obrolan dan becandaan yang tentu saja organik bukan karena disuruh kenalan sama sebelahnya.

Kapan acara selesai tidak jelas karena ngobrolnya nggak putus-putus, kalau tidak karena ada acara berikutnya mungkin bisa pada lebih lama disana. Anak-anak tidak ada yang merengek minta pulang. Indikasi acaranya nyaman buat mereka.

Setiap keluarga punya caranya sendiri untuk merayakan hari raya. Saya tentu sangat menghormati itu. Disini saya hanya sharing tentang salah satu acara halal bihalal paling nyaman yang pernah saya ikuti. Ada rencana untuk membuat acara yang sama tahun depan. Semoga kita semua dikaruniai kesempatan sehingga bisa ketemu dengan ramadhan dan lebaran berikutnya. aamiin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H. Taqabalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan batin.






 


Mungkin Tidak Terjadi Lagi

April 23, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments


Pandemi benar-benar sudah berakhir ya? Bukan karena pemerintah mengubahnya menjadi endemi (saya skeptis dengan istilah-istilah buatan pemerintah), tapi tampaknya kekhawatiran atas covid sudah kalah dengan urgensi aktivitas sehari-hari, bahkan yang sifatnya tersier. Pakai masker terlanjur jadi kebiasaan, which is good, tapi berapa orang sih yang masih takut keluar rumah?

Ada beberapa pola perilaku yang erat ikatannya dengan waktu. Misal karena banyaknya commuter, jalan menuju pusat kota padat tiap pagi, lalu berbalik sore harinya ketika orang-orang menuju pulang. Menit-menit sebelum berbuka, jalan di daerah pemukiman dipadati orang jual beli jajanan. Sebaliknya siang harinya lengang karena orang menghemat energi dengan tidak keluar siang-siang.

Pola-pola seperti itu akan terulang lagi nanti sore, besok, tahun depan, dan seterusnya. Kita boleh suka boleh tidak, tapi ya kemungkinan besar akan kejadian lagi. Kita bisa berinisiatif menggalakkan WFH sehingga tidak perlu commute ke tempat kerja tiap hari. Tapi pada level globalnya ya kemacetan itu tetap akan ada, apalagi di Jakarta ya.

Lebaran ditunggu-tunggu karena jadi kesempatan berkumpul dengan keluarga, dapat libur agak lama, dan mungkin THR. Tapi konsekuensinya tiket mudik kadang harus rebutan, semakin dekata hari raya semakin susah dapatnya. Kalau pakai kendaraan sendiri ada resiko macet di Bekasi. 

But we accept the fact, and be ready bcs we expect it to be happening again and again, like it or not. Embrace the happiness, resist the inconvenient. 

Lalu bicara soal pandemi dan segala perubahan yang diakibatkannya, semua itu mungkin tak akan terjadi lagi. Jalanan yang lengang, minimum interaksi, banyak tempat ditutup, beberapa aktivitas tidak bisa dilakukan, di dalam rumah sepanjang hari, dll are becoming things of past probably. Saya nyaman dengan lengangnya jalan, bebas macet dan rendah polusi. Tapi sesenang-senangnya saya, saya tidak expect itu akan terjadi lagi. Untungnya kita juga nggak perlu tiap bulan tes covid lagi.

Cukuplah pandemi disimpan dalam ingatan saja dan dijadikan cerita, semoga tidak terjadi lagi, terlalu mahal harganya. Move on.

Mall

April 15, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saking banyaknya mall di Jakarta, dulu saya pikir landmark-nya Jakarta selain monas ya mall-mall ini. Jadi saya memang tertarik untuk tahu kaya apa mall di sini. Saya coba untuk buat list di sini mall yang sudah saya kunjungi berurutan dari yang paling favorit buat saya sampai yang no-go. 

Banyak yang jadi pertimbangan saya dalam menilai mall: kenyamanan (not necessarily kemewahan ya), kemudahan akses dan seberapa effortless untuk dijangkau termasuk seberapa strategis lokasinya, tenant yang tersedia terutama makanan, dan general impression.

Sebagian mall yang ada disini sudah saya kunjungi beberapa kali dengan niat, tapi ada juga yang hanya mampir sebentar misal untuk COD sesuatu atau vaksin. Ada yang saya datangi waktu masih SMP, ada yang baru minggu lalu. Ada yang sangat mewah, tapi sekelas PGC juga saya masukkan. Meskipun saya bilang Jakarta tapi saya masukkan juga yang di BoDeTaBek. 

Let's go most favorite to least favorite:

  1. AEON Mall BSD, super good impression
  2. Central Park, David Gadgetin kalau ngetes kamera suka disini
  3. Blok M Plaza, ringkas, kecil, banyak tempat makan, nyambung MRT langsung, masjid bagus
  4. AEON Mall Tanjung Barat
  5. Bintaro Xchange
  6. IKEA Alam Sutera, yaa saya anggap mall
  7. Kota Kasablanka
  8. AEON Mall Jakarta Garden City, I'm a fan of AEON mall
  9. Pondok Indah Mall 3
  10. Pondok Indah Mall 2
  11. Pondok Indah Mall 1
  12. Setiabudi One, masuk, nonton, keluar
  13. Lotte Shopping Avenue
  14. Ashta District 8
  15. Grand Indonesia
  16. Pacific Place, kesini terakhir 2008 sih, masih SMP...
  17. Mall Ambasador
  18. ITC Kuningan, destinasi cari kaos murah
  19. Mall Taman Anggrek, kesini karena giant LED-nya
  20. FX Sudirman
  21. Senayan City, branded
  22. Transpark Mall Bintaro
  23. Lotte Mall Bintaro
  24. Ciledug Plaza
  25. Epicentrum, kesini buat vaksin
  26. Plaza Kalibata, bukan yang Kalcit ya ini, yang Kalcit di bawah
  27. Living Plaza Alam Sutera
  28. Gandaria City
  29. Kuningan City
  30. Pejaten Village
  31. Mall of Indonesia
  32. Blok M Square, ada kabah di rooftopnya
  33. Atrium Senen
  34. Ratu Plaza, beli monitor komputer
  35. Plaza Festival
  36. City Plaza Jatinegara
  37. ITC Fatmawati, toko HP
  38. Summarecon Mall Serpong
  39. Cilandak Town Square, tempat makan
  40. Tangerang City Mall
  41. Bintaro Plaza
  42. Plaza Slipi Jaya, 1x kesini nonton Conan
  43. Lippo Mall Karawaci
  44. Lippo Mall Puri
  45. Lippo Plaza Ekalokasari
  46. BTM Bogor
  47. Mall Kelapa Gading
  48. Summarecon Mall Bekasi
  49. Arion Mall, parkir karena mau nyobain naik LRT
  50. Kalibata City Square, bener kata orang segala ada di Kalcit
  51. Mangga Dua Square
  52. Bellagio Boutique Mall, masuk cuma mau ke JNE-nya
  53. ITC Roxy Mas
  54. LTC Glodok, kukira tempat makan/belanja ternyata jualan alat pertukangan
  55. Pusat Grosir Cililitan (PGC), pusatnya Jaktim Cyber kalo kata @apossssss
  56. CBD Ciledug
  57. ITC Cempaka Mas
  58. D-Mall Depok, mending ke UI
  59. Gajah Mada Plaza
  60. Poins Square
  61. ITC Permata Hijau
  62. Roxy Square
  63. Season City, simply No-Go
  64. Mall @ Alam Sutera, simply No-Go
Mall-mall yang ada di deretan atas itu biasanya sudah saya kunjungi beberapa kali. AEON group jadi favorit saya karena kuliner jejepangannya. Central Park dan IKEA saya taruh sana karena experiencenya. Blok M Plaza dan Kokas jadi andalan kalau buat janjian. PIM, you know lah. Setiabudi One bukan mall beneran sih, tapi saya pernah kerja dekat sana jadi lumayan jadi destinasi after office.

Mall yang di bagian tengah lebih ke nice to know lah. Mallnya oke, tapi mungkin saya tidak terlalu tertarik kesana berulang kali karena aksesnya susah dari tempat aktivitas saya. Ada yang memang saya datangi karena penasaran isinya seperti apa dan ternyata biasa aja/tidak lebih baik dari mall lain.

Harus diakui penetrasi marketplace online mengikis pangsa pasar pusat perbelanjaan. Inilah yang terjadi pada beberapa mall yang ada di ujung bawah daftar. Mall yang sepi dengan tenant banyak yang tutup tidak asyik dikunjungi, biasanya karena revenue manajemen berkurang perawatan fasilitas juga tidak maksimal.

Low Hanging Fruit

March 25, 2022 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Sebagai orang yang tidak belajar software engineering secara akademis, saya sadar bahwa untuk berkarir di dunia IT modal saya tidak sebaik teman-teman yang memang belajar itu selama bertahun-tahun. Saya lulusan teknik penerbangan. Kalau ditanya spontan di jalan, saya lebih lancar menjelaskan tentang aerodinamika daripada perbedaan list, map, dan set di Java. Ibaratnya buah matang di pohon sama dikarbit tetep beda manisnya.

Saya itu career switch antara sengaja dan nggak sengaja. Saya mendapat pekerjaan pertama di bidang IT lebih karena koneksi daripada seleksi. Dari sana saya jadi masuk semakin jauh sampai saat ini aktivitas hari-hari saya sama sekali tidak berhubungan dengan aerospace. Pesawat terbang saya simpan sebagai hobi saja.

Baru di tahun ke-4 bekerja saya memiliki sedikit bayangan industri ini seperti apa. Sebelumnya saya bekerja dari hari ke hari saja, menyelesaikan pekerjaan yang diminta dengan apa yang saya bisa. Saya belum ngegrip sampai sempat juga berpikir untuk insyaf kembali berkarir di bidang penerbangan. (Yes, mindset saya sejauh ini memang untuk bekerja profesional, saya belum terpikir menjadi entrepreneur atau aktivitas produktif lainnya)

Saya katakan saya relate dengan tweet di atas karena mungkin selama ini itu yang saya rasakan dan alami tapi tidak bisa saya katakan. Kenapa tidak bisa? karena saya belum bisa mendefinisikan secara mantap dimana saya berada sekarang dan mau mengarah kemana.

Catching low hanging fruit. That's exactly what I've been doing for the last couple of years. Saya ambil kesempatan bekerja di posisi yang tidak mengharuskan punya keterampilan bahasa pemrograman level native. Fortunately, ternyata low hanging fruit ada yang lumayan matang dan manis.

Tapi ini masih jauh dari selesai. Kalau mau memetik buah yang lebih tinggi tentu ada harga yang harus dibayar: work on skills at nights. Inspiration gets you started, discipline takes you there. Apalagi kalau there-nya adalah winter olympics.


Chandra

Medium

March 21, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments


Selain pajak STNK, domain blog ini juga minta diperpanjang tiap Februari. Saya merasa perlu karena buat saya domain (dot)id ini jauh lebih bagus daripada domain blogspot versi free-nya yaitu nurohmanchandraaa.blogspot.com. Sangat tidak catchy bukan? Tapi itu yang tersedia dulu. Maka tidak apa lah saya bayar ke providernya tiap tahun. 

Karena sudah bayar, saya berniat menjadikan blog ini salah satu wajah digital saya. Oleh karenanya saya berusaha untuk meng-update secara rutin konten yang ada disini. Kontennya pun harus pantas untuk konsumsi publik namun tetap merepresentasikan saya, nggak terlalu macak jadi orang lain. 

Sebagai orang yang sering mendapat pelajaran berharga dari membaca tulisan orang, saya pun berharap blog ini bisa berguna buat orang lain. Kalaupun bukan berupa inspirasi yang life-changing atau renungan yang menyadarkan, minimal ada satu dua info yang didapat dari sini lah. 

Image yang ingin saya tampilkan disini saat ini tentu berbeda dengan waktu masih mahasiswa dulu. Hobi dan perhatian saya pada pengetahuan juga berubah seiring berjalannya waktu. Influence yang saya terima dari sekitar juga berganti-ganti. Oleh karenanya isi dan ambience blog ini dinamis.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Saya coba lakukan itu dengan menulis 'ilmu' disini, baik dulu seputar penerbangan sampai sekarang lebih banyak tentang IT. Harapannya selain manfaat buat saya, tulisan itu bisa juga dibaca orang lain dan terindeks di google sehingga bisa dibaca teman-teman yang sudah terkoneksi maupun total stranger.

Tapi setelah saya observasi, blog seperti ini bukanlah platform yang tepat. Navigasinya sulit apalagi kalau tulisan itu sudah tenggelam, tag "Belajar IT" tidak terlalu membantu. Demand atas user experience yang effortless tidak align dengan usaha menuliskan itu di sini. Saya belum bisa merombak format blog secara drastis untuk mengakomodir itu, jadi saya putuskan untuk menuliskan di tempat lain saja.

Belajar dari beberapa teman, saya putuskan untuk menggunakan Medium. Medium memungkinkan pengguna untuk menulis sekaligus berjejaring. Di sana mudah untuk mencari informasi dan profil sesuai topic yang diinginkan. Bagi saya environment disana menarik baik dari segi platform maupun orang-orang yang sudah ada disana sebelumnya.

Sejak sebulan lalu saya memutuskan untuk mulai menulis di Medium. Pelan-pelan saya tambah postingannya di sela-sela waktu. Semoga konsisten ya hehe. Sementara baru ada 3 tulisan, kindly visit medium.com/@chandranurohman semoga bermanfaat.

Thank you!!

 

Job Interview

March 19, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Beberapa waktu yang lalu saya meng-interview seorang kandidat, freshgrad lulusan teknik informatika sebuah kampus swasta. Selama kuliah kelihatan banget dia going the extra miles, melakukan lebih banyak daripada yang diminta. Ada beberapa project sampingan yang meaningful, bahkan satu diantaranya sudah monetized. Skillsetnya komplit, portofolionya rapi, dan bisa nulis. Dia bisa dan mau. No brainer dia diterima dan sekarang sudah sign.

Lain waktu ada dua kandidat yang diajukan untuk posisi yang lain. Tidak se-bright yang satu tadi memang, tapi dua-duanya capable dan memenuhi kualifikasi. Sayangnya slot yang tersedia hanya satu, mau tidak mau satu diantaranya harus digugurkan. Sayang memang, andai dia apply di waktu yang lain dia bisa diterima. Karena ada kejadian saat tim sedang sangat butuh orang malah yang apply minim, terpaksa menerima kandidat seadanya.

Sejak diamanahi untuk berhak menginterview, saya justru belajar lebih banyak tentang interview itu sendiri. Saya bisa melihat dari point of view user. Tapi di luar itu saya jadi tahu bahwa kapan kita apply sebuah posisi juga menentukan chance kita mendapatkan posisi itu. Urgensi dan kompetitor adalah fungsi waktu, kondisinya berubah terus dan kita sebagai orang luar biasanya tidak tahu. Hardskill, teknik interview, strategi nego gaji, dan technical/psikotest bisa dipersiapkan, tapi masalah momentum ini di luar kendali kita. Faktor doa dan rejeki pengaruhnya besar banget disini.

Anyway, bicara soal job opportunity, ada titipan dari teman yang kerja di Astro Indonesia (astronaut.id) untuk beberapa posisi: Front-End Engineer, Back-End Engineer, DevOps Engineer, dan Android/iOS Engineer. Levelnya yang dicari untuk Senior (exp. 2 years) dan Lead (exp. 5 years). Untuk Tech Team mekanisme kerja hybrid wfh-wfo. Kantornya ada di daerah Tomang dekat Taman Anggrek. 

Detailnya bisa cek disini: Tech Team Open Position

Saya share disini barangkali pembaca ada yang minat atau punya teman yang sedang mencari opportunity di bidang ini. Kelihatannya lumayan urgen ya jadi semoga peluang dipanggil cukup besar. Jika berminat bisa hubungi saya, nanti saya hubungkan dengan teman saya yang bisa kasih referral. Catatan: tulisan ini bakal lama online tapi tentu lowongannya bisa closed kapan saja ya. Thank you!





Best to Worst Desain Mobil F1 2022

March 02, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Maret ini Formula 1 musim 2022 akan dimulai. Bukan cuma musim baru, tapi ini adalah era baru F1 dimana dilakukan perombakan regulasi yang otomatis membuat mobil-mobil F1 tampak berubah jauh dari tahun kemarin. Secara teknis diharapkan desain mobil yang baru membuat balapan lebih seru karena lebih mudah salip-menyalip. Di samping itu secara tampilan mobil dibuat lebih futuristik untuk menarik audience yang lebih luas.

Bulan Februari kemarin 10 tim yang berlaga di ajang Formula 1 telah bergiliran merilis mobilnya ke publik. Momen ini adalah salah satu momen pre season yang ditunggu penggemar karena untuk pertama kalinya mereka bisa berdebat tentang mana mobil paling bagus dan menjanjikan serta mana yang penampilannya mengecewakan.

Berikut adalah urutan best to worst menurut saya dalam tema Formula 1 2022. (klik untuk resolusi lebih baik)

1. Ferrari [10/10]



2. Aston Martin [9.5/10]

 

3. Alpha Tauri [9/10]

 

4. Red Bull [8/10]

 

5. Williams [7.5/10]

 

6. Alfa Romeo [7.5/10]

 

7. Mercedes [7.5/10]


 

8. Haas [7/10]


 

9. McLaren [6.5/10]

 

10. Alpine [5/10]



What do you think, guys?





Wordle

March 01, 2022 Posted by Chandra Nurohman No comments

Wordle punya satu kata jawaban setiap harinya yang diperbarui pukul 00:00 waktu setempat masing-masing pengguna. Di tempat dan zona waktu yang berbeda waktu pengerjaan pun berbeda. Tapi nyaris tidak ada yang membocorkan jawabannya sebelum ganti hari berikutnya.

Wordle fokus pada menyelesaikan, bukan mengalahkan. Targetnya adalah menemukan kata jawaban dalam maksimal enam tebakan, bukan cepat-cepatan. Tidak ada leaderboard antar pengguna atau analisis persentil kita di posisi berapa. Yang ada hanya statistik pribadi jawaban kita sebelumnya.

Tidak peduli berapa kotak hitam, kuning, dan hijau yang terbuka sebelumnya selama jawaban yang benar didapatkan. Setiap pilihan kata akan mempengaruhi pilihan kata berikutnya. Mencontek sama sekali tidak ada gunanya, bahkan menarik pun tidak. Menemukan jalan menuju jawaban adalah letak kesenangannya.

Wordle sangat sederhana, bahkan bisa direplikasi semua fungsinya di Microsoft Excel. Tapi diskusi dan forumnya sangat hidup dan berisi. Ada yang serius membuat kajian secara matematis kata apa yang terbaik untuk memulai. Ada yang melihat dari sisi budaya ketika orang Irlandia diduga paling tidak masalah dengan 'TACIT'. Ada yang mengutuk karena gagal menjawab 'KNOLL' atau 'VIVID'.

Wordle punya sedikit aturan, namun sangat lugas. Ia seperti jaringan jalan di perkotaan yang didesain dengan sangat baik dan efisien sehingga tidak perlu banyak rambu-rambu untuk membuat orang patuh.

Wordle sangat berpengaruh, konsepnya diadopsi untuk permainan serupa dengan basis atau bahasa yang berbeda. Di Indonesia ada Katla dan Kotla yang banyak dimainkan. Mungkin pada dasarnya manusia perlu permainan seperti ini: adventurous secara sederhana, memberi ruang untuk pendapat yang berbeda, inklusif bagi siap saja dan mengakomodir banyak selera, serta memberikan sense of accomplishment ketika menyelesaikannya lalu membagikannya dengan beberapa klik saja.