Menjaga Rencana

July 19, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Masuk ke dunia kerja, mau tidak mau menjadikan saya banyak bergaul dengan orang yang lebih dewasa (atau tua). Sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan sudah ngomah di Bandung. Mereka punya atau ngontrak rumah di sini, anak-anaknya juga sekolah di kota ini. Live happily and settled lah pokoknya.

Lupakan soal adaptasi bahasa sunda, dinginnya udara lembang, dan pola kerja. Sembilan bulan di sini cukup lah untuk menyesuaikan diri. Tapi ada satu hal yang memang agak susah untuk disamakan.

Seperti yang saya bilang tadi, sebagian besar pegawai di sini sudah berkeluarga. Umur juga banyak yang sudah kepala tiga. Apalagi ada bapak-bapak eks IPTN yang sudah relatif sepuh. Artinya apa ? Memang bagi banyak pegawai pilihan terbaiknya adalah bekerja di sini sampai datang masa pensiun. 

Umur membatasi seseorang untuk pindah kerja karena rasanya tidak banyak lowongan yang terbuka kalau sudah berumur 35 tahun ke atas. Ada memang, tapi biasanya posisi berlabel 'senior' yang mensyaratkan pengalaman kerja dan referensi yang excelence. Jadi intinya kurang ideal untuk lompat dari satu kantor ke kantor lain kalau sudah berumur.

Belum lagi beliau-beliau yang senior biasanya sudah berkeluarga. Berkeluarga artinya income yang stabil itu penting. Agak beresiko untuk melepas pekerjaan jika sudah ada tanggungan

Di sisi lain, saya pribadi sejak awal sudah menyampaikan pada atasan bahwa saya nggak akan disini dalam jangka panjang. Alasannya karena punya keinginan untuk sekolah lagi. Saya nggak sendiri, tapi bagaimanapun hanya sedikit rekan disini yang punya pikiran seperti itu. 

Dulu di kampus punya cita-cita jadi Master hunter adalah hal yang biasa, mayoritas kawan di ITB gitu. Tapi sekarang saya berada pada kondisi dimana kebanyakan orang di sekitar sudah pada masa ingin hidup yang stabil, nggak ingin coba-coba. Seolah saya gedabikan sendiri di tengah orang-orang yang anteng.

Saya nggak bilang anteng itu jelek. Kalau sudah seumur para senior itu juga saya nggak akan sehiperaktif ini. Soal waktu dan kondisi saja.

Orang kalau kumpul dengan kelompok yang cita-citanya serupa, majunya cepet. Tapi kalau kebetulan berada di lingkungan yang orientasi umumnya berbeda butuh beberapa adjusment supaya tetap bisa bergaul sekaligus rencana terjaga.

Sebagai contoh, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya untuk tidak langsung pulang selepas kerja. Bahkan menginap pun ada tempatnya. Tapi ketika beberapa rekan bersantai di kantor sampai malam saya nggak bisa karena harus pulang ada yang perlu dikerjakan di rumah, yaa nggak jauh dari urusan menyiapkan studi lanjut. 

Hal yang sederhana memang, tapi ketika pilihan dan godaan semacam itu hadir hampir setiap hari butuh energi yang besar juga untuk tetap istiqomah. Lebaran kemarin ketemu dan ngobrol dengan beberapa teman jaman sekolah dan kuliah, dari sana saya menyimpulkan bahwa cukup banyak yang mengalami hal serupa. Bukannya nggak bahagia, tapi karena lebih banyak hal yang meminta fokus dan waktu, jadi lebih exhausting aja kita. 



***

Dua minggu yang lalu saya ketemu sama seorang bapak asal Semarang waktu nonton Indonesia Open di Senayan. Beliau datang sendirian jadi akhirnya ikut rombongan saya dan teman-teman. Waktu ngobrol-ngobrol sambil nunggu antrian masuk Istora, beliau kasih nasehat :

Kuncinya salat subuh dan sunah 2 rakaat sebelumnya. Dah pokoke mau apa aja modal itu bisa tercapai

Jangan merasa susah, banyak orang hidupnya lebih berat.


Chandra

gambar : Pixabay

Fans dari Sebuah Cara

July 04, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , No comments


Semua pasti setuju kalau saya bilang bulan Syawal ini banyak banget yang nikah. Weekend ini aja saya menerima beberapa undangan tapi nggak bisa datang dan cuma nitip amplop karena terlanjur punya acara.

Itu baru yang mengundang, lebih banyak lagi kalau digabung dengan yang tidak. Kakak tingkat yang agak jauh, kenalan jaman sekolah, dan teman yang nggak begitu dekat biasanya saya tahu kabar pernikahannya dari media sosial saja.

Dari semua yang menikah, kalau dicermati setiap pasangan punya cara dan ceritanya masing-masing hingga sampai ke jenjang pelaminan. Ada yang sudah bisa diduga karena sudah pacaran sejak lama dan selalu update di sosial media. Ada yang ujug-ujug nyebar undangan di grup yang mana calon mempelai putra dan putrinya berasal dari grup itu juga (seangkatan). Ada teman sekelas jaman SMA yang sudah dekat sejak dulu tapi saya baru tahu. Ada adik tingkat yang baru sidang kemarin langsung nyebar undangan. Ada cerita pasangan yang persiapan nikahnya kilat, sebulan tok. Ada yang lama nggak ada kabar tahu-tahu menutup beberapa medsosnya, ternyata mau nikah juga. Macem-macem lah kisahnya.

Kesimpulan dari itu semua adalah tidak ada cara pasti bagaimana kita akan bertemu jodoh. Bahkan jika pun kita fokuskan pada golongan anti pacaran saja. Anti pacaran seolah sudah sebuah pendirian keras, tapi ternyata di dalamnya masih banyak variasi cerita. Seperti yang dicontohkan tadi, ada pasangan yang adalah teman seangkatan dan sudah kenal selama 4 tahun (tapi tidak ada apa-apa), ada juga yang memang baru kenal sebulan dua bulan sebelumnya.

Pemahaman dan pilihan soal mana cara yang kita pilih pasti berubah seiring berjalannya waktu. Manusia dibekali dengan kemampuan belajar sekaligus ingatan. Semakin mendewasa semakin banyak pula insight yang diterima. Di sisi lain ingatan yang terbatas membuat kita lupa dengan yang sudah lama. Ingatan lama yang sudah nggak relevan diganti dengan pemahaman baru. Banyak hal dari masa lalu yang menjadi tidak menarik lagi.

Contoh paling gampang barangkali malah pada remaja putri seusia saya. Jaman usia awal-awal SMP mungkin mereka membaca teenlit dan impressed dengan kisah percintaan remaja yang ada di dalamnya. Tapi bayangkan kalau mereka membacanya sekarang, pasti dianggap kekanak-kanakan. Mereka sudah hijrah dalam arahnya masing-masing. Mereka tidak akan kagum lagi.

Bertanya pada orang soal cara mana yang dia sukai sebenarnya antara bisa dan tidak bisa. Kenapa ? Karena pemahaman tentang itu bisa berubah dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Jadi daripada merisaukan bagaimana pilihan orang lain, lebih baik perbarui terus referensi kita.

Karena logikanya, dengan ini otomatis jodoh terseleksi,

kenapa ?

Karena pernikahan selalu berpasangan, sedangkan dua orang bisa jadi berpasangan jika dan hanya jika mereka bersepakat menjadi pengikut dari cara yang sama.

yang baik untuk yang baik, penjagaan diri itu penting

-chandra-

gambar : YouTube : Awakening Record

Bronchitis

June 27, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments
Masa libur lebaran kemarin saya manfaatkan salah satunya untuk cek kesehatan. Untuk suatu keperluan saya butuh surat keterangan sehat, bebas TBC, dan bebas narkoba. Bicara rumah sakit pemerintah urusannya lebih gampang di Bantul daripada RSHS jadi sekalian periksa mumpung di rumah.

Atas bantuan budhe yang seorang dokter di RSUD Bantul, surat-surat itu alhamdulillah bisa didapat sebelum layanan tutup libur lebaran...

Surat keterangan sehat cleared, udah sering lah ya tes ini

Bebas narkoba cleared, tes urin aman, pertama kali masuk poli jiwa lancar

Bebas TBC, suratnya dapat karena memang tes rontgen dan dahak menyatakan bebas TBC. Tapi ada catatan.



Saya memang bebas TBC alhamdulillah. Tapi dari hasil foto x-ray malah baru tahu kalau ternyata punya bronkitis. Selama ini nggak pernah ada keluhan berkaitan dengan pernapasan jadi walaupun kondisinya masih ringan tetep agak kaget. Apalagi saya bukan perokok. Tapi dokter juga nggak terlalu khawatir sebenarnya.

Saya tidak merokok, tapi memang lumayan sering terpapar asap rokok di kantor. Selain itu sering meremehkan asap kendaraan di jalan. Kalau cuma dekat biasanya malas pakai masker.

Menurut alodokter.com,
Bronkitis adalah infeksi pada saluran pernapasan utama dari paru-paru atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran tersebut. Bronkitis akut biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, jadi terkadang tidak diperlukan pengobatan untuk bronkitis. Selagi menunggu penyakit ini berlalu, Anda disarankan minum banyak cairan dan juga banyak istirahat. Pada beberapa kasus, gejala bronkitis bisa bertahan lebih lama.

Jadi ternyata bukan cuma perokok yang beresiko punya masalah paru-paru. Orang yang terpapar asap rokok dan asap kendaraan bisa menghadapi ancaman yang sama berbahayanya, atau bahkan lebih besar. Sekarang saya berusaha jauh-jauh dari perokok dan selalu pakai masker kalau di jalan.

Tubuh bukan barang sewaan yang bisa dikembalikan kalau rusak, jadi mari kita jaga baik-baik

Memiliki Kehilangan

June 23, 2018 Posted by Chandra Nurohman , No comments

Salah satu penyebab saya jarang ngepost kalau lagi liburan di Bantul adalah terbatasnya koneksi internet. Bisa sih bikin draft offline di laptop, tapi tetep kurang marem kalau nggak langsung di editor Blogger. Faktor kebiasaan sih. Tapi juga kalau offline jadi susah kalau mau cari-cari bahan atau gambar di internet.

Rumah kami agak jauh dari kota jadi wajar kalau koneksi internet kurang sip. Bapak Ibuk yang pakai internet sekedar untuk chat WA, baca berita, baca blog anaknya, dan kadang-kadang YouTube nggak masalah dengan ini. Mereka sudah terbiasa. Tapi saya yang terlanjut terbiasa internet-active suka geregetan.

Kondisinya memang berbeda dengan ketika saya di Bandung sehari-harinya. Karena kebetulan di kota jadi internet provider apapun 4G banter. Ketika pagi masuk kantor atau ketika sore pulang ke kosan juga semua gadget langsung terhubung wifi.

Entah kenapa ketika pulang ke Bantul saya seperti kehilangan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang biasanya ada dalam genggaman jadi tidak ada, atau lebih tepatnya kadang ada kadang tidak. Ya sesimpel koneksi internet. Saya kecanduan internet ? mungkin, tapi kayaknya banyak yang begitu hehe. Lain waktu bahas soal kecanduan internet deh, InsyaAllah.

Saya pikir-pikir, kenapa ya sampai merasa begitu ? Di sisi lain petani-petani di kampung yang hp-nya belum tentu bisa buat internetan baik-baik saja. Dulu orang tua kita juga tumbuh dewasa tanpa internet dan bisa menjadi seperti sekarang. Berarti masalahnya bukan pada tidak adanya internet, tapi pada perubahan dari ada menjadi tidak ada.

Saya mengalami shock  ketika pindah dari tempat yang internet-rich ke tempat yang internet-rare. Yang membuat saya merasa kehilangan adalah karena sebelumnya terlanjur terbiasa dengan internet tahu-tahu perlu strugle untuk dapat sinyal 4G banter. Coba kalau di Bandung saya jarang pakai internet, pasti nggak ada masalah berarti. Atau andai saya lebih lama libur di Bantul-nya, pasti lama-lama terbiasa dan menjadi baik-baik saja.

Perubahan dari punya menjadi tidak punya lebih menyesakkan daripada tidak punya itu sendiri.

Mari kita bicara hikmah mumpung masih Syawal. Kita perlu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah pada kita. Tapi saya jadi mikir, apa-apa yang kita pengen dan belum kesampaian untuk memilikinya, jangan-jangan itu karena Allah tahu kita belum siap andaikan nanti kehilangannya ? Manusia itu tahu sedikit tentang yang sekarang, gampang lupa dengan yang lalu-lalu, dan totally nggak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kedua, kehilangan sesuatu akan meninggalkan ruang kosong. Bisa ruang fisik, misal kehilangan kendaraan atau perabot rumah. Bisa 'ruang' waktu ketika seseorang kehilangan pekerjaannya. Bisa ruang batin kita seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya, kucing kesayangan mati misalnya. Susah untuk nggak bersedih, tapi jangan lupa bahwa ruang yang kosong itu bisa diisi hal yang baru. Kalau kamu sedang pada posisi itu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih gampang kita menemukan syukur atasnya. Aamiin.

Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya - Letto

Sekian. Saya baik-baik saja kok alhamdulillah tidak sedang kehilangan sesuatu. Cuma sebagai pengingat saja bahwa ada dua cara sesuatu hilang. Pertama, memang diambil dari kita. Kedua, kita yang memutuskan untuk meninggalkannya. 


Chandra

Boros Tak Selalu Buruk

June 21, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments



Kenapa Idul Fitri di Indonesia rame ? Selain jumlah umat muslim Indonesia yang segunung, juga karena lebaran adalah saat dimana uang sedang beredar banyak-banyak di masyarakat. Vendor pengisi ATM siaga penuh. Nafsu belanja lagi tinggi-tingginya. Nikmat orang yang berpuasa selain waktu berbuka adalah datangnya lebaran.

Beberapa hari terakhir ramadhan sekaligus beberapa hari menjelang lebaran, orang berbondong-bondong berbelanja mulai dari kue kering untuk suguhan, bahan masak opor, pakaian untuk tampil, gadget, emas/perhiasan, sampai kendaraan. Terpantau populasi kendaraan ‘plat putih’ meningkat menjelang lebaran.

Mulai dari kios sembako di pojok Pasar Ngangkruk sampai outlet produk branded di Hartono Mall meriah menjelang dan sesudah lebaran. Mungkin hanya 1 syawal aja yang agak sepi karena orang-orang masih sibuk berbahagia dengan keluarga, sisanya adalah primetime buat golongan orang yang suka belanja dan pengusaha yang ingin memanfaatkannya.

Lebaran boros. Apa-apa ingin dibeli. Belum lagi ponakan yang jumlahnya berlipat dan tuntutan angpaonya nambah terus. THR nggak nutup katanya. Banyak yang jebol katanya.

Tapi apa benar hobi belanja dan jajan (makan) itu jelek ? menurut saya nggak selalu.

Waktu 10 tahun yang lalu ada krisis ekonomi, para ahli bilang bahwa yang menyelamatkan perekonomian Indonesia adalah kegiatan ekonomi akar rumput. Kenapa ? karena mereka membeli dari sesamanya, nglarisi dulur

Aktivitas ekonomi di pedesaan berpusat di pasar tradisional dimana pembeli dan penjualnya adalah orang sekitar pasar itu. Kalau mau lebih lengkap paling swalayan yang pemiliknya juga orang setempat, bukan jaringan mart-mart itu. Butuh daging ayam ? beli di pasar. Telur asin ? kampung sebelah ada yang bikin. Servis motor ? keluar pinggir jalan raya ada bengkel. Es kepal milo ? deket rumah ada tetangga jualan.

Seorang anak yang baru dapat angpao ke konter pulsa beli paket data untuk main mobile legend. Pemilik konter bisa ke pasar beli sepeda untuk anaknya. Penjual sepeda beli bakso. Pegawai warung bakso gajian, bisa beli alat tulis dan sepatu untuk tahun ajaran baru. Pegawai yang lain bisa renovasi rumah biar cakep pas banyak tamu waktu lebaran, dia minta tolong tetangganya untuk ngecat. Tetangganya bisa beli . . beli apa ya . . bisa beli khong guan buat suguhan misalnya. Yagitu, muter terus, itulah kenapa namanya “memutar roda perekonomian”.

Ada sebuah daerah di Amerika yang dulu memiliki budaya yang ketat mengatur kalau beli apa-apa dari tetangga atau saudaranya. Efeknya, ketahanan terhadap gejolak ekonominya luar biasa. Yang deket ada juga, salah satu komunitas dalam Islam di Indonesia mempraktekkan hal serupa.

Semua orang punya andil dalam perputaran ekonomi ini dengan perannya masing-masing. Posisi dan besarnya juga sendiri-sendiri.

Yang jadi masalah adalah ketika kita memaksakan untuk mendayung dengan dayung yang terlalu berat sampai kita sendiri tidak mempu mengangkatnya. Kalau mesin kita 110cc ya nggak usah memaksakan menggerakkan Harley. Kita sering nggak sadar sampai spending ini jadi nggak sehat. Boros ini yang buruk. Ini yang bikin jebol. Betapa penting yang namanya proporsional.

Ketika old money liat brosur Juke dan dua hari kemudian sudah ready di garasi, apakah itu buruk ? Enggak jika dilihat nilainya karena itu kecil bagi dia. Tapi perlu dicek juga apakah ada unsur kesia-siaan ? Kalau sia-sia ya nggak bagus juga.

Ada beberapa komponen penunjang pertumbuhan ekonomi. Tahu nggak apa yang signifikan untuk Indonesia ? Yang membantu Indonesia jumawa punya angka selalu lebih tinggi dari Jerman. Itu adalah konsumsi. Siapa yang paling berperan dalam konsumsi ? Kelas menengah. Kita-kita ini.

Kita ini yang ribut ingin ini itu. Ingin nonton bioskop, makan donut JCO, es kepal milo, paket internet, baju lebaran, kosmetik, sepatu, setrika, TV, Iphone buat selfie-depan-cermin, hingga beli motor sampai jumlah motor lebih banyak daripada jumlah orang di rumah. Duitnya muter muter muter muter terus. Sehat negara ini. Merdeka!

Nggak usah sok bicara revolusi, demo, ganti presiden, tetap jokowi, ngancam golput, dll. Just shup up and go spend your money di warung tetangga.


Chandra







Allah Kalau Kasih Hujan . .

June 19, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Allah kalau kasih hujan nggak peduli pohon itu tinggi atau pendek, semua basah. Jadi tidak usah dibanding-bandingkan, kalau pohon kelapa lebih tinggi dari yang lain itu karena pohon kelapa ya begitu itu, pohon yang lain ya begitu itu. Sama, kalau Allah kasih hidayah tidak memandang umurnya, apakah dia tua atau muda, umurnya berapa, semua dapat.

Kira-kira begitu kata-kata Cak Nun dalam salah satu forum Kenduri Cinta.

***

Pasalnya saya baru terkesima nemu blog milik seorang adik*. Usianya beda kira-kira 3 tahun lebih muda dari saya. Dia sudah menulis sejak 2010 (dan gak gonta-ganti blog), waktu itu mungkin baru lulus SD. Awkward sendiri kalau ingat dulu waktu usia segitu ngapain sehari-harinya.

Kalau saya baca tulisan tahun 2018 berarti itu karyanya pada usia sekitar 20 tahun, sama dengan saya waktu tahun 2015. Tahun 2017 dia ekuivalen dengan 2014 saya, 2016 dia dengan 2013 saya, 2015 dia dengan 2012 saya, dst sampai 2010 dengan 2007. . .

Saya jadi berada diantara malu dan kagum. Malu karena blog ini belum seberapa umurnya tapi udah banyak omong. Kagum karena orang yang hanya baca tulisannya tanpa kenal dengan orang dibaliknya pasti salah menebak usia penulis. Pemikiran, ide, dan cita-citanya sama sekali bukan seperti anak kelahiran 1998. Sangat dewasa.

Tulisannya memang nggak banyak, tapi bobotnya jangan ditanya. Banyak inspirasinya. Dia menuliskan dalam catatan blognya :
"Apa-apa yang ditulis diharapkan menjadi media pengingat juga bahan renungan bagi penulis pribadi sebenarnya"
Percayalah dik, kamu bisa menginsipirasi banyak orang melalui tulisanmu. Proud of it.



*adik sepupu, baru ketemu lebaran ini setelah sekian lama

***

Selamat Idul Fitri 1439H
Taqabbalallahu minna waminkum
Mohon maaf lahir dan batin

Ramadhan Writing : The Salah's Effect

May 27, 2018 Posted by Chandra Nurohman , , , No comments


Some people now think there are six salahs : Fajr, Dhuhr, Ashr, Maghrib, Isya, and Mohamed (Salah) - Mufti Menk
Saya agak kaget ketika beberapa teman yang selama ini nggak ngikutin kabar sepakbola dunia tahu-tahu bicara soal Liverpool. Usut punya usut ternyata mereka membaca soal Mohamed Salah

Ketika sepakbola dunia 10 tahun terakhir adalah soal Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tiba-tiba muncul pemain bola asal Mesir, bermain di Liverpool, yang menjadi pemain terbaik dan top scorer Liga Inggris plus memecahkan rekor gol terbanyak dalam satu musim, membawa Mesir ke Piala Dunia 2018, dan mengantar Liverpool ke Final Liga Champions.

Kalau Salah berasal dari Jerman atau Spanyol, atau bermain di klub kelas satu dunia (Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen) mungkin efeknya tidak sebesar ini. Tapi Salah berasal dari Mesir, negara yang tidak tiap empat tahun masuk World Cup. Lalu dia bermain di Liverpool, tim yang walaupun terakhir juara liga sudah 26 tahun yang lalu tapi saya tetep suka.



Salah memulai karir di Eropa bersama FC Basel di Swiss, lalu pindah ke Liga Inggris setelah dibeli Chelsea. Sayangnya dia gagal bersinar di Chelsea. Jarang dimainkan dan hanya mencetak sedikit gol, 2 kalau gak salah. Dua musim gagal di Chelsea dia dipinjamkan ke Fiorentina (Italia) lalu hijrah ke AS Roma. Di Roma Salah mulai bersinar, di musim terakhirnya Salah bermain 31 kali dan mencetak 15 gol. Jurgen Klopp (manajer Liverpool) merekrutnya. and BOOM!!

Salah langsung jadi bintang di musim pertamanya di Liverpool. Total 44 gol dalam semusim menyamai rekor Ian Rush dan mengalahkan Roger Hunt, Robbie Fowler, dan Fernando Torres. Di liga saja, catatan 32 gol adalah yang terbaik dalam sejarah liga 38 pertandingan. Rekor sebelumnya dipegang Alan Shearer, Cristiano Ronaldo, dan Luis Suarez dengan 31 gol. Edan.

Fans Liverpool sampai membuat chants untuk mengapresiasi Mohamed Salah


Tadi malam saya nggak tidur sampai Subuh. Nunggu pertandingan final Liga Champions 2018 antara Liverpool melawan Real Madrid. David vs Goliath. Madrid juara 3 kali dalam 4 tahun terakhir. Sementara Liverpool tidak punya satu pemain pun yang pernah bermain di final Liga Champions hingga tadi malam.

Sayang malang tak dapat ditolak. MoSalah sebagai silver bullet-nya Liverpool menangis terduduk di menit 30 akibat cedera bahu setelah insiden dengan Sergio Ramos. Salah keluar dan rencana yang sudah disusun kacau. Ditambah dua blunder dari kiper Karius (plis musim depan beli kiper yang proper), pertandingan selesai dan Liverpool kalah 3-1. Heartbreaking. Ini pengalaman nonton bola paling menguras emosi seumur-umur.

Walau gagal menutup musim dengan trofi Liga Champions, tapi Salah telah melakukan hal yang luar biasa musim ini. Tidak banyak yang bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan. Demam Salah menjalar ke seluruh dunia.

Lebih dari sejuta pemilih Mesir 'nyontreng' Salah, lebih dari salah satu calon...

Bicara soal Salah sebagai seorang muslim, komunitas dan tokoh-tokoh muslim menjadikannya kebanggaan. Seorang muslim yang taat bermain di Eropa, di tempat yang selama ini cukup dekat dengan Islamophobia. Dia menjadi pusat perhatian. Media-media memberitakan karena itulah berita yang laku dijual. Nama 'Mohamed' menyebar ke seluruh dunia.

Kehidupan Salah juga mulai disorot. Istrinya yang berhijab jauh dari rata-rata WAGs (wife and girlfriends) pemain bola yang biasanya adalah artis atau model seksi. Selebrasi andalannya dengan sujud mulai menjadi trend. Salah benar-benar tampak berbeda dari figur-figur yang ada saat ini.

Di Indonesia, beberapa ustadz memasukkan nama Mohamed Salah sebagai salah satu teladan bahwa di era modern dakwah harus dilakukan dengan cara yang disukai orang banyak dan menjadi magnet bagi media untuk menyiarkan. Untuk saat ini Salah adalah sosok paling fenomenal dan sesuai untuk penggambaran itu. Beberapa yang saya lihat videonya adalah Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Bachtiar Nasir, juga Mufti Menk dengan quote di atas.

What if Sujud celebration becomes trend in Europe ? in frame : Salah and Mane (Senegal)

Sampai-sampai ada fans yang bilang, "kalau Salah bikin gol lagi saya akan jadi muslim", "Salah turns me into moslem".

Saya sendiri, sebagai muslim sekaligus fans Liverpool sejak pertama ngerti bola, sedang berada pada masa bangga-bangganya jadi fans. Liverpool is getting better and bigger in all aspecs. Waiting for amazing plays next season onwards.

Mo Salah Mo Salah Mo Salah
Running down the wing
Salah lah lah lah lah
Egyptian King

Don't stop running, Mo!

Chandra

Film : Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

May 20, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Judul : Minggu Pagi di Victoria Park
Tahun : 2010
Sutradara : Lola Amaria
Produser : Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dan Dewi Umaya Rahman
Durasi : 97 menit


Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri menyumbang lebih dari 6,5 milyar USD pada 2009. Tapi nyatanya kehidupan mereka tidak sehebat sebutan yang disematkan, pahlawan devisa. Hidup jauh dari Indonesia, menjadi warga negara kelas dua, dan kurangnya pengetahuan soal legal dan finansial memaksa negara untuk lebih hadir mendampingi mereka. Barangkali itu pesan yang ingin disampaikan film ini.

Sebagian orang yang mengadu nasib menjadi pekerja kasar di luar negeri berhasil. Mereka rutin mengirim uang untuk keluarganya di kampung, membelikan sawah orang tuanya, lalu setelah beberapa tahun pulang membawa tabungan untuk modal usaha. Tapi tidak begitu yang dialami oleh Sekar, seorang TKW yang 'hilang' hingga sang kakak, Mayang terpaksa berangkat ke Hong Kong untuk bekerja sambil mencari adiknya.

Film ini menyajikan drama tentang dua orang kakak beradik ini. Semua orang berusaha membantu. Tapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara Mayang dan Sekar di masa lalu.

"Semua orang punya masalah, bukan cuma kamu", bentak Sari, seorang TKW lainnya, kepada Mayang. Ya, film ini bukan cuma menjual cerita kakak beradik itu. Tapi juga sebuah dokumenter kehidupan wanita-wanita Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Film ini mempresentasikan bahwa ada sebagian dari mereka yang teraniaya, fisik maupun psikis. Ada penderitaan di balik kemajuan dan gedung-gedung megah Hong Kong.

Baca juga : Pengalaman di HK, nemu masjid dan ibu-ibu Indonesia jualan rendang dan gorengan

Hampir semua bagian film ini gambarnya diambil di Hong Kong, tidak artificial sama sekali, seperti kehidupan TKW yang sebenarnya. Selain itu para pemeran TKW menjalankan tugasnya dengan baik mulai dari cara ngomong yang medok, cara berpakaian, dan guyonannya yang Indonesia/Jawa banget. Tokoh-tokoh utamanya pasti dilatih untuk berbicara ala orang Jawa, sementara sebagian pemeran pembantu hingga cameo mungkin asli TKW.

Alasan saya baru nonton film ini adalah karena baru tahu ini produsernya Sabrang MDP, orang yang menurut saya pemikirannya menarik. Film ini sendiri, saya menduga idenya datang dari bapaknya, Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang sering berkunjung ke Hong Kong dan beberapa negara lain untuk menemui orang-orang Indonesia di sana, terutama golongan pekerja dan mahasiswa.

Saya baru nonton dan langsung menulis ini, biar nggak kelewat momennya, Minggu pagi. Semoga tulisan ini bermanfaat, minimal menjadikan yang membaca kalau belum nonton jadi ingin nonton. Semoga semakin banyak film sejenis ini, potret realitas sekaligus drama berkelas bukan cinta-cintaan yang gampang ditebak.


Chandra.

Collatz Conjecture

May 17, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Collatz conjecture adalah sebuah thought experiment matematika yang lumayan terkenal. Sederhana aja kok, sebuah deret bilangan. Aturannya kita pilih angka pertama berupa bilangan bulat positif berapapun. Lalu angka kedua, ketiga, keempat, dst dihitung dengan aturan ini :

- jika bilangan sebelumnya genap, bilangan yang baru adalah bilangan sebelumnya dibagi 2
- jika bilangan sebelumnya ganjil, bilangan yang baru adalah bilangan sebelumnya kali 3 tambah 1

Uniknya, berapapun angka yang diambil di awal, endingnya selalu angka 1. Kita lanjut ke contoh aja biar gak pusing. Misal kita ambil bilangan awal 6
6 genap, bagi 2 jadi 3
3 ganjil, kali 3 tambah 1 jadi 10
10 genap, bagi 2 jadi 5
5 ganjil, kali 3 tambah 1 jadi 16
16 genap, bagi 2 jadi 8
8 genap, bagi 2 jadi 4
4 genap, bagi 2 jadi 2
2 genap, bagi 2 jadi 1 (satu)

Jadi deret untuk 6 adalah : 6,3,10,5,16,8,4,2,1

Dengan cara yang sama, untuk 9 : 9, 28,14,7,22,11,34,17,52,26,13,40,20,10,5,16,8,4,2,1

Menggunakan simulasi komputer, pola ini sudah dites hingga orde 7 triliyun dan masih cocok, semua kembali ke 1. Sampai saat ini matematikawan masih belum menemukan penjelasan untuk fenomena ini, belum ada persamaan matematisnya. Tapi di sisi lain belum juga ditemukan titik salahnya karena untuk semua bilangan bulat positif pola ini terpenuhi. Amazing.

Collatz conjecture masih menjadi salah satu kasus matematika paling rumit di dunia saat ini.

So what ? Nothing, ambil hikmahnya aja..
Siapapun kita, dimanapun kita memulai, berproseslah terus, asalkan tidak berhenti berusaha, ujung-ujungnya adalah Allah, Yang Maha Esa. Maka selayaknyalah apapun yang kita lakukan mengandung unsur lillah.

Mungkin saja jalannya berliku, memutar, atau malah tampak menjauh dari tujuan. Tapi Collatz conjecture bahkan menakdirkan bahwa 27 harus melalui 9232 sebelum sampai ke 1. Semua akan ketemu pada waktunya.

Ramadhan Mubarak!

Chandra


pict : mathematica.stackexchange.com

Sulitnya Mengukur Kalori Untuk Orang Awam

May 12, 2018 Posted by Chandra Nurohman No comments


Lima tahun yang lalu saya pindah dari Jogja ke Bandung. As you know, untuk kuliah. Waktu itu berat badan saya 55 kg dengan tinggi 174 cm. So skinny, right ?

Empat tahun kemudian, ketika lulus kuliah berat saya 70 kg dengan tinggi tetap. Dalam empat tahun berat badan naik 15 kg. Body mass index (BMI = BB/TB^2) naik dari 18.16 menjadi 23.12. Untuk ilustrasinya, lihat foto berikut

2012, waktu SMA

2017, lulus kuliah

Kenalan-kenalan di Bandung yang mengikuti perkembangan saya dari hari ke hari sih biasa saja. Tapi orang lama yang jarang saya temui sejak 5 tahun yang lalu impresi pertama yang dikatakan pasti bahwa saya tambah lemu.

Kenaikan berat badan paling drastis adalah waktu tingkat 2 dan 3. Waktu itu tugas-tugas kuliah di ITB memaksa kami sebagai mahasiswa untuk sering begadang. Saya telat tahu kalau begadang berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan, tahu-tahu sudah nambah. Waktu yang tersita juga mengurangi kesempatan melakukan aktivitas fisik, walaupun untuk ini saya akui ada unsur malas hehe

Faktor ketiga adalah makanan. Saya yang sebelumnya tidak pernah punya masalah dengan kelebihan berat badan tidak terbiasa memerhatikan asupan makanan. Apa yang bisa dimakan, makan aja.

Tahun 2017 adalah pertama kalinya saya concern terhadap berat badan. Jangan naik lagi di atas 70 kg. Tahun 2018 untuk pertama kalinya juga saya concern terhadap makanan. Tapi ada sedikit masalah.

Ahli gizi, atau minimal mahasiswa gizi mungkin tahu kandungan zat-zat gizi dalam berbagai jenis makanan. Tahu kalau makanan A kalorinya sekian, B sekian, C sekian. Bisa ngukur kandungan gula pada makanan dan tahu berapa yang dibutuhkan seseorang. Tapi bagaimana dengan orang awam ?

Untuk orang biasa, aware sama kandungan gula pada kemasan minuman aja sudah syukur. Itupun kayaknya belum banyak yang melakukan. Informasi nilai gizi masih lebih banyak hanya sebagai hiasan. Hayo ada yang tahu sebotol teh pucuk berapa gram gulanya ?

Mungkin setidaknya kita paham lah bahwa junk food itu nggak baik, menyebabkan obesitas. Kita juga tahu bahwa dalam sehari harus ada asupan sayur/buah, protein dari ikan atau daging yang kalau bisa rendah lemak. Nasi ? kalau bisa jangan banyak-banyak.

Orang yang serius mengatur makanan (karena alasan kesehatan misalnya, atas perintah dokter) mungkin lebih dalam menghitung kalori, gula, dan zat lain yang masuk ke tubuh. Tapi untuk yang (alhamdulillah) masih normal, mengatur makanan untuk menunjang aktivitas dan biar nggak gampang ambruk kayaknya terlalu melelahkan kalau harus sampai itung-itungan angka...

Maaf ya, mungkin sayanya saja yang malah pusing kalau lihat ada orang itung-itungan gizi wkwk

Katanya pernah diteliti bahwa junk food punya efek lebih buruk pada orang yang sedang stres daripada orang happy. Artinya kondisi psikologis juga penting, bukan hanya soal apa yang dimakan. Jadi jangan sampai malah stres karena pengaturan makan. Nggak boleh makan inilah, itulah. Menurutku pengetahuan kualitatif tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan cukup lah. Jangan memaksa diri. Nafsu makan itu juga nikmat, tanya sama orang tua yang anaknya susah makan.

Fokus saya saat ini adalah mempertahankan berat badan di angka 70 tanpa medication atau diet ekstrem. Gradually menambah aktivitas fisik dengan beberapa olahraga, makan tidak lebih dari 3 kali sehari, fast food dikurangi karena banyak yang lebih sehat tapi sama enak dan lebih murah tapi sekali kali boleh lah.

Sebentar lagi kita masuk Ramadhan. Tujuannya ibadah tapi kalau dijalani dengan benar semoga menyehatkan terutama dalam urusan pengaturan BB. Pengurangan makan tanpa merasa tersiksa :)

Sebagai penutup, ada sebuah cerita. Saya ada teman yang bekerja di pertambangan batu bara di Bontang. Karena termpatnya terisolir, makanan sudah diberikan 3 kali sehari tanpa perlu jajan. Sebenarnya makanannya enak, sehat juga. Selalu ada nasi, lauk (daging/ayam/ikan), sayur, buah, dan minuman. Tapi lama-lama dia bosan. Karena sudah disediakan, dia tidak punya kuasa untuk memilih mau makan apa. Tersiksa juga lho lama-lama. Kemerdekaan memilih makanan itu juga penting. Merdeka!

Kalau ada yang punya tips mengatur makanan yang lebih benar, tolong ajaris saya...