What Makes SpaceX DIfferent ?

September 11, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


Ketika roket-roket di dunia dibuang setelah operasinya, SpaceX telah berhasil membangun roket yang fully reusable
Namanya adalah Elon Musk, pria asal Afrika Selatan yang menuntut ilmu di Kanada dan Amerika Serikat. Dia punya mimpi untuk mengkolonisasi Planet Mars, edan. SpaceX  adalah jalan yang dia pilih untuk mewujudkan mimpinya itu. Semakin sedikit orang yang meragukan mimpinya itu setelah satu demi satu misi dituntaskan oleh Falcon 9, produk 'awal' SpaceX.

Falcon 9 dan rencana pengembangannya


Falcon 9 vs Soyuz

Soyuz (Rusia) adalah launch vehicle yang paling sering digunakan di dunia saat ini. Tahun lalu, peluncuran BRISAT (satelit Bank BRI) juga melibatkan salah satu anggota keluarga Soyuz. Kapasitas Soyuz tidak bisa dianggap remeh karena sudah dikembangkan sejak 1966 (bahkan saat itu Elon Musk belum lahir). Soyuz masih beroperasi sampai saat ini diwakili oleh Soyuz-2.

Peluncuran Soyuz

Namun, walaupun baru lahir tahun 2000an, Falcon 9 langsung mempecundangi Soyuz secara spesifikasi. Keduanya mampu membawa payload (muatan) hingga orbit geostasioner[1] atau 35.786 km di atas permukaan laut. Tetapi Falcon 9 mampu membawa muatan sebesar 8300 kg sampai GTO sedangkan Soyuz hanya mampu membawa 3250 kg muatan. Akibarnya, pada orbit yang lebih rendah pun (misal Low Earth Orbit atau LEO) Falcon 9 mampu membawa lebih banyak payload. Hubungannya sederhana, lebih banyak yang bisa dibawa, lebih banyak revenue yang didapat, lebih murah biaya peluncuran per kilogram.

Masih banyak lagi kelebihan Falcon 9-nya SpaceX dibandingkan Soyuz. Misalnya dari segi cost per launch, 62 juta USD untuk Falcon 9 dan 80 juta USD untuk Soyuz. Lalu dari segi site peluncuran, Falcon 9 diluncurkan di Amerika (Kennedy Space Center, Cape Canaveral, dan Vandenberg). Sementara Soyuz 'harus' menyewa tempat di Kazakhtan dan Kourou, di French Guiana, sebelah Suriname di Benua Amerika yang dekat dengan garis katulistiwa. Tujuannya adalah untuk melakukan peluncuran inclinasi rendah yang hanya dapat dilakukan di dekat ekuator [2]. Inclinasi rendah menguntungkan untuk menempatkan satelit pada orbit favorit karena tidak dibutuhkan 'manuver ganti inclinasi' yang memakan biaya lumayan akibat bahan bakar yang dibutuhkan.

Tapi lebih dari itu semua, ada perbedaan yang tidak terbantahkan yaitu Soyuz tidak bisa landing. Soyuz lahir pada jaman di mana filosofi reusable rocket belum populer. Secanggih-canggihnya Soyuz, dia tidak didesain untuk bisa kembali bumi dan mendarat utuh. Setelah stage demi stage pelepasan sukses dilakukan dan misi selesai, Soyuz dibuang dan menjadi space debris [3] maupun rongsokan yang begitu saja jatuh ke bumi.

Salah satu pendaratan Falcon 9, tampak landing leg-nya terbuka

Sementara itu, Falcon 9 telah sukses melakukan 16 pendaratan di bumi (dari 21 percobaan). Setelah melalui proses repair dan maintenance, sebagian part-nya bisa digunakan untuk misi selanjutnya. Itulah yang membuat launch cost Falcon 9 bisa murah.

Tampak betapa SpaceX mampu menekan biaya peluncuran


Falcon 9 vs Space Shuttle

Ide mengenai reusable launch vehicle sebenarnya sudah ada sejak lama, terutama di Amerika Serikat. Pada pertengahan dekade 70-an, US berhasil melakukan first flight Space Shuttle yang diberi nama Enterprise. Namun Enterprise tidak menjalankan misi secara penuh, dia hanya melakukan tes untuk proses approach dan landing. Misi orbital dilakukan oleh penerusnya, Columbia, Challenger [4], Discovery, dan Atlantis. Sayang, dalam riwayatnya Space Shuttle mengalami 2 insiden yang membunuh total 14 astronot : Challenger 1986 dan Columbia 2003.

Space Shuttle take off


Challenger mendarat setelah menjalankan misi

Membandingkan Falcon 9 dan Space Shuttle sebenarnya kurang tepat. Bagaimanapun filosofi Space Shuttle adalah pesawat terbang fixed wing yang didesain sedemikian rupa sehingga mampu melakukan misi orbital dan kembali ke bumi. Ini jelas berbeda dengan Falcon 9 yang nature-nya memang roket.

Implikasinya misalnya fleksibilitas muatan yang bisa di bawa. Dari segi berat muatan maksimal Space Shuttle telah kalah (hampir sama dengan Soyuz), lebih dari itu dimensi dan bentuk payload relatif terbatas karena harus menyesuaikan dengan bentuk wahana. Di sisi lain, selain dapat membawa payload lebih banyak, Falcon 9 dapat menyesuaikan diri dengan payload yang dibawa.

Falcon 9 memiliki 2 opsi penyimpanan payload. Pertama, menggunakan Dragon Spacecraft. Dragon Spacecraft memiliki kabin bertekanan untuk membawa astronot ditambah Trunk untuk membawa kargo. Opsi kedua berguna jika Falcon 9 digunakan untuk membawa satelit berukuran besar, Dragon bisa digantikan dengan Composite Fairing yang berkapasitas besar.

Akibat lain dari perbedaan konsep kedua wahana ini adalah caranya mendarat. Space Shuttle mendarat persis seperti pesawat terbang konvensional. Kadang untuk membantu pengereman Space Shuttle dilengkapi parasut di bagian belakang.

Sementara itu, Falcon 9 - ini yang sangat saya kagumi dari Falcon 9 - mendarat secara vertikal!
Somehow Falcon 9 mampu mencapai koordinat pendaratan dan memposisikan dirinya pada posisi vertikal. Falcon masih menyalakan mesin propulsinya untuk menahan berat badannya sambil sedikit demi sedikit turun. Ketika hampir mencapai ground, 4 kaki pendaratannya di-deploy. Falcon menyentuh pad-nya lalu mematikan mesin. Pinpoint accuracy!

Peluncuran Soyuz, Space Shuttle, dan Falcon 9 sama kerennya. Tapi saya masih terkagum-kagum melihat video pendaratan Falcon 9. Betapa canggihnya teknologi yang dimiliki SpaceX. Wajar kalau SpaceX menjadi satu-satunya perusahaan swasta yang sudah mampu 'mampir' di International Space Station (ISS).

Pendaratan Falcon 9

Beberapa ratus tahun yang lalu, persaingan antar bangsa terjadi di perairan. Aktivitas ekonomi dan militer berpusat di laut. Dari jaman ini lahir penjelajah-penjelajah hebat seperti Ibnu Batutah, Christopher Colombus, Marcopolo, dsb. Penemuan mereka berupa pulau atau bahkan benua baru. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki armada laut tangguh plus sumber daya alam melimpah.

Beberapa dekade yang lalu persaingan berpindah ke udara. Teknologi penerbangan dan persenjataan berkembang pesat akibat tuntutan dan kebutuhan perang dunia. Siapa lebih cepat mengembangkan teknologi militernya dia yang menang dan ditakuti. Era ini agaknya sudah mulai berakhir, sekarang dimana kita melihat sesama pesawat tembak-tembakan ? [5]. Yang ada, negara pengecut mengirim pesawatnya untuk mengebom negara lain yang nyaris tak bersenjata.

Saat ini perang mulai bergeser ke luar angkasa, star wars. Perang bukan lagi melalui tembakan meriam atau missil, star wars lebih halus. Contoh operasinya adalah spionase, menempatkan satelit mata-mata di atas wilayah negara lain. Bagaimanapun, Rusia dan Amerika Serikat masih menjadi superpower dalam era ini.

Elon Musk

RKA (Rusia) dan NASA (Amerika) punya segala sumber daya untuk menjadi kontestan perang bintang ini. Tapi yang menakjubkan adalah bagaimana seorang pria, Elon Musk, mampu masuk ke industri ini. Space technology adalah salah satu bidang teknologi paling mutakhir saat ini dan dia tampil menjadi seorang yang sangat diperhitungkan. Melalui SpaceX, Elon melakukan sesuatu yang luar biasa.



Chandra
11 September 2017







[1] Pada orbit geostasioner (GTO), benda apapun (misal satelit) akan bergerak di atas ekuator pada kecepatan yang sama dengan gerak rotasi bumi. Akibatnya satelit itu akan berada di atas titik yang sama di atas bumi sepanjang waktu. Satelit telekomunikasi biasanya ada di orbit ini agar dapat mengcover suatu wilayah (misal negara) setiap waktu.

[2] Indonesia sebenarnya punya keuntungan sebagai negara ekuatorial. Launch site, jika didirikan di Indonesia, bisa punya efisiensi yang tinggi dari segi sudut inclinasi awal peluncuran.

[3] Space debris adalah sampah antariksa berupa bekas-bekas roket, satelit yang sudah mati, dan obyek buatan manusia lain. Mengingat ukurannya yang mikro relatif terhadap ukuran ruang antariksa, space debris selama ini dibiarkan saja mengorbit. Namun, gagasan untuk membersihkan debris ini mulai muncul di kalangan engineer dan ilmuan antariksa.

[4] Kalau kamu menonton film Rudy Habibie, di sana ada tokoh bernama Liem Keng Kie (diperankan Ernest), beliau adalah salah satu engineer di Challenger yang juga merupakan tokoh dan dosen Teknik Penerbangan ITB.

[5] Selain faktor hubungan internasional dimana banyak negara sudah membuat perjanjian damai, pertempuran udara (dodge fight) memang sudah tidak relevan lagi. Pemenang perang bahkan sudah bisa diramalkan secara akurat sebelum perang terjadi berdasarkan alutsista yang dimiliki. Buat apa mengorbankan pesawat dan pilot ?


sumber gambar :
Founderfund
Spacenews
LAtimes
NASA
Russian Space Web
Wikipedia

Bumi Langit (Lagi!)

September 06, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Setelah akhir tahun lalu sempat berkunjung ke Bumi Langit, libur idul adha kemarin alhamdulillah saya berkesempatan berkunjung lagi ke sana. Kali ini bersama Ega dan Ifa, seperti pada post sebelumnya,Tradisi Rewang (edited).

Dalam perjalanan menuju Bumi Langit - saya jadi sopir lagi - saya mereka-reka mau menulis apa soal perjalanan kali ini. Begitu sampai di Bumi Langit, saya coba menghubungi pelayan untuk bertanya apakah ada guide yang available untuk menemani kami berjalan-jalan keliling kebun. Jawabannya agak mengecewakan, tidak ada guide untuk hari-hari ini dan kebun sedang dirombak.

Ahh..sayang sekali, padahal sudah terbayang akan jalan-jalan keliling kebun, melihat lebih banyak hal dari sebelumnya, mengobrol dengan Pak Iskandar Woworuntu, dan menikmati suasana Bumi Langit sampai Dzuhur lalu pulang. Tapi karena nanggung sudah terlanjur sampai sana, diam-diam kami jalan-jalan sendiri.

Saya yang sudah pernah kesana sebelumnya berperan sebagai guide. Kami jalan mengikuti rute yang dulu saya lalui. Rute agak berubah karena memang ada beberapa bagian kebun yang dirombak. Dugaan saya porsi untuk lahan pertanian organik akan ditambah. Saya melihat beberapa bagian dibersihkan dan sepertinya akan digunakan untuk menanam sesuatu.

Sampai di bagian kandang sapi kami melihat beberapa orang sedang menata batu-batu untuk menjadi jalan. Salah satu di antara mereka adalah anak Pak Iskandar, saya masih ingat wajahnya dan penampilannya yang khas, tidak kaosan. Karena tidak dipandu guide, akhirnya saya mencoba beberapa jalur lain dan malah menemukan sesuatu yang baru.

Akhirnya beberapa pertanyaan saya soal Bumi Langit terjawab. Pertama, untuk wilayah seluas itu dan aktivitas sepadat itu terutama di Warung Bumi, tidak mungkin sumber listrik hanya dari tenaga matahari yang terpasang di dekat kandang sapi. Mereka memang tidak memakai listrik PLN tapi ternyata ada generator yang bekerja di sana. Bahan bakarnya tentu dibeli dari pom bensin.

Kedua, soal memasak. Sepertinya Bumi Langit makin serius dengan sayap bisnisnya Warung Bumi. Aktivitas di restoran ini semakin ramai. Mungkin memang kebanyakan orang lebih senang menyantap makanan khas Bumi Langit di Pendopo sambil melihat pemandangan di bawah daripada nyeblok-nyeblok ke kebun. Apalagi kalau beruntung bisa ngobrol langsung dengan Pak Iskandar-nya. Sayang kemarin beliau sedang sibuk kedatangan rombongan entah dari mana, platnya sih Z, Ciamis mungkin. Nah soal memasak ini, walaupun menyertakan biogas, tapi sumber gas utamanya tetap dari LPG. Kemarin saya lihat pick up yang mengantar beberapa tabung gas 12 kg. Maklum, banyak sekali kompor yang digunakan di restorannya, restoran semakin laris mungkin setelah dikunjungi Obama kemarin.



Ketiga, untuk operasional Bumi Langit pasti butuh kendaraan. Benar saja, di dalam saya lihat ada garasi lengkap dengan beberapa mobil. Ada Pajero seingat saya, ada juga sejenis MPV yang saya lupa merk apa, mungkin pick up yang mengantar gas juga punya Bumi Langit sendiri.

Tidak ada yang salah dengan itu semua, namanya juga kegiatan produksi. Hanya saja yang perlu diingat adalah seidealis Bumi Langit pun masih perlu bekerja sama dengan pihak lain, termasuk yang terkesan 'modern'. Sesuatu yang dulunya saya kira 'tabu' untuk Bumi Langit.

Memang kita tidak bisa menghukumi sesuatu sebagai halal atau haram. Pisau bermanfaat kalau digunakan memotong daging kurban, tapi jadi berbahaya kalau dipegang orang yang mampu melukai. Bumi Langit lokasinya di perbukitan daerah Imogiri, yakali transportasinya harus pakai dokar.

Gagasan Bumi Langit untuk menerapkan dan memasyarakatkan permaculture memang baik. Niat untuk menjaga keseimbangan dan hubungan baik manusia - alam juga mulia. Tapi bukan berarti segala hal harus organik, asli, alami, anti-modern.

Dari kunjungan pertama saya ke Bumi Langit saya belajar bahwa "ada lho ternyata orang yang idealis menjauh dari kehidupan kota dan modernitas lalu kembali ke alam sebagai pengayom sambil mencari keberkahan". Dari kunjungan kedua saya, saya belajar bahwa "segala hal tetap harus ditranslasikan karena adanya perkembangan teknologi, budaya, cara berinteraksi, dan lain lain".

Saya juga jadi tertampar. Jangan terlalu banyak pencitraan. Cepat tenar, cepat cemar, kalau omong tok tanpa memperbaiki diri !


Chandra

Tradisi Rewang

September 06, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments



Rewang adalah salah satu tradisi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai salah satu cara membantu keluarga atau tetangga yang sedang mengadakan kenduri, pesta, maupun perhelatan pesta adat di mana membutuhkan tenaga bantuan untuk mengurus konsumsi dan kesibukan rumah tangga lain. - Kompasiana

Saya baru sampai di Bandung setelah seminggu terakhir mudik ke Bantul. Selain Idul Adha, di rumah juga ada acara peringatan 2 tahun meninggalnya Mbah Upi (nama aslinya Supiah, nenek saya). Karena rumah saya di desa, ada adat untuk memeringati 40 hari-an, 100 hari-an, setahun-an, 2 tahun (peling), dan 1000 hari-an. Kalau kamu tinggal di desa pasti paham bahwa ngumumi itu penting, walaupun di keluarga kami konten acaranya dimodifikasi. Kebetulan rumah saya ini rumah tabon[1] jadi sering menjadi tempat acara keluarga, bahkan sengaja dibangun pendopo yang berfungsi seperti aula dan dapur yang mendukung.

Acara mengundang tetangga-tetangga, bapak dan ibu, totalnya sekitar 150 orang dan diisi pengajian dengan menghadirkan pembicara, plus ada pembacaan surat Yasin. Kebiasaan-kebiasaan macam ketan kolak apem, sanggan, atau simbol-simbol lain diputuskan untuk dihilangkan. Bahkan pemilihan tanggal sengaja dipilih tanggal 2 kemarin ngepasin libur idul adha biar saudara-saudara bisa mudik, tidak tepat 2 tahun. Karena ini termasuk tindakan yang kurang ngumumi untuk ukuran masyarakat desa, wajar kalau mengundang komentar. Tapi mungkin memang sifat 'bodo amat' saya menurun dari ibuk. Diniati sedekah saja.

Pak Ustadz yang memang disukai warga di sekitar rumah, sering ceramah di masjid-masjid sekitar


Untuk alasan simplicity, besek diganti dengan tas

Tapi di luar itu semua, ada budaya yang saya sangat suka dari penyelenggaraan acara semacam ini, yaitu tradisi rewang. Konsep rewang hampir sama dengan jasa katering. Kalau katering kita bayar dan tahu beres, tradisi rewang menganut paham bahwa tuan rumah tidak perlu ikut masuk dapur, ra ilok. Hanya saja jasa katering dibayar uang, sedangkan ibu-ibu yang rewang biasanya imbalannya berupa bingkisan, bukan uang (umumnya ya, walaupun ada juga yang menyertakan amplop). Memang yang lebih repot kalau ada hajatan begini kaum perempuan. Yang laki-laki paling hanya menyiapkan tempat acara atau menjadi sopir ngalor-ngidul seperti saya.

lemper, jepretan Bayu Sustiwi

Memasak gulai


Suasana dapur belakang


Militansi armada rewang ini luar bisa. Kemarin waktu membuat lemper[2] ibu-ibu itu begadang entah sampai jam berapa, menjelang pagi mungkin. Menjelang malam mulai dikerjakan, paginya sudah matang dan saya diminta mengantar ke rumah beberapa saudara. Belum lagi harus memasak gulai sapi memanfaatkan daging kurban kemarin, itu juga memakan waktu cukup lama, tapi hasilnya luar biasa enak, sepertinya saya nambah berat beberapa kilo selama libur kemarin.

Susah lho jaman sekarang mencari orang yang mau bekerja keras berbekal niat gotong royong, tak berbayar. Tapi sebenarnya tak sesederhana itu, rewang adalah investasi. Karena nantinya jika diantara yang rewang ini ada yang punya hajatan maka dia akan gantian dibantu oleh yang lain. Dari segi biaya penyelenggaraan acara, konsep ini menghemat anggaran dalam jumlah yang lumayan.

Kemarin saya juga kedatangan Ega dan Ifa yang ikut membantu rewang. Ifa memang masih terhitung tetangga, rumahnya tidak terlalu jauh dan memang sudah kenal lama. Sedangkan Ega adalah teman di kampus yang libur idul adha kemarin dolan ke Jogja dan nginep di rumah Ifa. Ega orang Padang, sengaja diajak oleh Ifa biar tahu rewang ala Jawa katanya.

"Rewang"   |    ig : megalianiputri

Rewang selesai ketika semua kebutuhan konsumsi siap. Saat itu lah giliran pemuda-pemuda yang membantu laden[3]. Hampir sama dengan konsep rewang tadi, tuan rumah tidak boleh ikut laden menyajikan makanan dan minuman. Dulu saya juga aktif ikut laden kalau ada tetangga yang punya acara. Tapi sejak pindah ke Bandung sudah tidak pernah lagi, lagipula sekarang giliran angkatan yang lebih muda. Laden dimulai dengan menyajikan minuman dan snack. Lalu menunggu komando untuk menyajikan makanan utama. Setelah acara selesai mereka bertugas mengambil kembali piring bekas makan tamu.








Acara selesai dan satu per satu tamu pulang. Keluarga tuan rumah biasanya masih mengobrol sambil membereskan tempat. Lalu saudara-saudara satu per satu juga pulang ke rumah masing-masing. Rumah yang beberapa hari terakhir riuh oleh aktivitas rewang menjadi kembali lengang.


Chandra


[1] serumah dengan orang tua, tujuannya menemani
[2] makanan dibuat dari ketan berisi daging, dibungkus daun pisang
[3] penyaji makanan dalam sebuah acara

Mens Sana in Corpore Sano

August 24, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


Badan gampang capek, ngantukan, kaku, perut mengembang karena lemak menumpuk. Itu keluhan-keluhan saya beberapa semester yang lalu. Awalnya seneng dibilang gendut karena sejak TK selalu dipuji kurus. Waktu lulus SMP dulu BMI saya cuma 17 koma. Sekarang lumayan, plus minus di angka 22, idealnya 18 sampai 24 kan ya, masih oke. Kalau membandingkan foto kartu pelajar SMA sama KTM sekarang orang-orang selalu ngakak. Pangling.

Tapi lama-lama jengah juga karena gendutnya karena lemak. Parahnya dulu sering begadang nglembur tugas jadi lupa pola hidup sehat. Everything is getting worse. Ketika kesadaran tentang kesehatan muncul dan ada anekdot diantara teman-teman : #wisudabadanbagus, saya coba hijrah.

Masalahnya saya bingung mau mulai dari mana. Sampai akhirnya ada ajakan untuk ikut latihan futsal lagi, persiapan Olimpiade KM ITB kalau nggak salah waktu itu. Bangga aku, pernah dilatih sama pemain timnas futsal, Eko Sutrisno wkwk nuhun coach. Latihan bersama Futsal KMPN mulai keliatan efeknya. Badan jadi enteng, segar, daya tahan meningkat juga karena sering happy-happy main futsal. Latihan berlanjut untuk persiapan Kampoeng Bola. Lumayan minimal seminggu latihan 2 x 2++ jam. Belum lagi ada fun futsal kadang-kadang.

Akhirnya motivasi untuk lebih sehat lewat olahraga meningkat. Untuk urusan meningkatkan muscle mass saya pakai panduan aplikasi, supaya ada unsur gamifikasinya. Karena objective-nya sekedar untuk sehat, bukan jadi binaragawan, nggak perlu lah pakai suplemen aneh-aneh atau diet ketat.

Olahraga makin gencar setelah masuk virus badminton. Sekarang kami punya agenda rutin badminton tiap kamis malam. Kami daftar member di salah satu GOR di dekat Itenas Bandung. Saya juga beli raket yang lumayan oke lah untuk pemain amatir, selain untuk gizi makan, jargon 'jangan kurang-kurang' juga berlaku untuk olahraga lah.

Selanjutnya panahan. Gegara sering bergaul di TES, saya jadi tertular virus jemparingan. Karena masih ragu awalnya saya mulai dengan panah kayu 300rb-an yang saya beli di Tokopedia. Tapi cuma sebulan dipakai udah patah. Karena mulai suka saya ganti yang lebih serius. Atas rekomendasi teman yang ikut Pasopati ITB (UKM Panahan di ITB), saya coba datang ke Vieneth di dekat Stasiun Bandung. Ternyata rekomendasinya jitu, di sana semua kebutuhan olahraga panahan lengkap pooll. Terakhir kemarin saya akhirnya membuat archery range di kosan biar bisa main kapanpun, lumayan ada ruang kosong 6 meter.

Sekarang tambah lagi, futsal rutin setiap rabu sore sama teman-teman kampus. Jadi sekarang tiap minggu ada jadwal futsal rabu sore, futsal minggu pagi, badminton kamis malem, plus badminton lagi yang jadwalnya ganti-ganti, ada juga panahan di kosan dan setiap sore di TES plus kadang sabtu pagi di Tahura. hahaha alhamdulillah. Dulu ini sebatas doa.

Jer basuki mawa bea. Saya percaya bahwa investment di aktivitas olahraga itu sangat baik, apalagi untuk laki-laki. Yang pertama jelas bahwa olahraga itu penting untuk kesehatan. Badan ini bukan barang sewaan yang bisa ditukar kalau terlanjut rusak. Jadi mumpung masih muda being active itu penting. Kedua, tipikal laki-laki membutuhkan hobi untuk penyaluran kebutuhan emosinya. Belum lagi kalau sudah punya duit lanang, makanya saya maklum kalau ada bapak-bapak yang spend uang dalam jumlah besar untuk beli alat pancing atau sepeda.

Memang butuh energi aktivasi yang lumayan besar untuk memulai berolahraga. Tapi karena (katanya) olahraga merangsang produksi hormon kebahagian yang sifatnya candu, pasti lama-lama nagih. Faktanya setiap rabu dan kamis saya jadi semangat ngapa-ngapain karena tahu sore dan malemnya hepi hepi. Daripada menghabiskan waktu untuk yang tidak tidak, mending olahraga yok.

Yasudah begitu dulu, aku tak badminton sek ya teman-teman :)


Chandra.

Di Penghujung #4 : Amanah Baru

August 20, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


Software Engineer

Waktu itu Bulan Juni, saya mempresentasikan progress report TA di perusahaan, terakhir sebelum mudik lebaran. Saat itu saya agak terkejut ketika secara langsung ditanya, "kamu setelah ini mau ngapain ? kalau mau gabung di sini bisa". Saat itu saya belum menyusun CV dengan proper, belum punya ijazah atau SKL, tidak ada sertifikat bahasa inggris, bahkan tugas akhir belum ditulis (ini beneran, cerita tentang TA bisa dilihat di sini dan di sini)

Sedikit flashback, dulu di tingkat 1 ada kuliah Tata Tulis Karya Ilmiah (TTKI), semua mahasiswa ITB mendapat kuliah ini. Isi dari kuliah ini adalah latihan membuat karya tulis ilmiah. Tugas besarnya yaitu menulis sebuah KTI yang berhubungan dengan bidang studi masing-masing, berkelompok 3 orang. Waktu itu kelompok saya berencana menulis tentang pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di daerah Dago Pakar, Bandung. Kami sempat kesana tapi ternyata untuk wawancara atau meminta data harus disertai surat pengantar dan lain sebagainya. Kami memilih mencari topik lain yang lebih mudah dicari datanya.

Saya ingat punya saudara yang bekerja di sebuah perusahaan simulator di Bandung. Saya coba hubungi dan menjelaskan tugas yang sedang kami kerjakan. Ternyata kami di ajak langsung ke kantor melakukan wawancara dan jalan-jalan melihat workshop mereka. Workshop yang lokasinya di daerah Mekarwangi, Dago atas itu berisi perangkat-perangkat simulator pesawat, helikopter, dan tank.

Di tingkat tiga saya mengajukan kerja praktek (KP) di sana selama kurang lebih 2 bulan. Alasan awalnya hanya 'birokrasinya gampang' karena sudah punya koneksi. Cerita tentang kerja praktek ada di sini. Selesai kerja praktek saya malah ditawari beberapa topik tugas akhir untuk dikerjakan di sana. Jadi sekarang pembimbing TA saya ada 2, satu dosen dari kampus, dan satu dari perusahaan itu.

Ternyata tidak selesai sampai di situ. Banyaknya proyek yang dikerjakan memaksa mereka untuk mencari SDM baru, terutama di bagian software engineering. Jadilah saya ditawari untuk bergabung, seperti yang saya ceritakan di atas. Mengingat biasanya momok bagi mahasiswa yang baru lulus adalah masa menganggur, tawaran ini sangat saya syukuri. Alhamdulillah sekali, saya bersyukur masih Juni sudah mendapat tawaran pekerjaan.

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan ?

Bersyukur

Alhamdulillah tugas akhir saya selesai lebih cepat daripada rencana. Itu bukan karena saya over-rajin, tapi memang pekerjaannya dikurangi. Dosen pembimbing memutuskan bahwa saya tidak perlu sampai melakukan implementasi hardware, which is itu mungkin sekitar 30% dari pekerjaan.

And you know kenapa saya malah dapat 'keringanan' ?

Pak dosen memang nggak menyampaikan langsung secara jelas, tapi sepertinya beliau berencana memperbantukan saya pada proyek yang sedang dikerjakan dosen-dosen. Saya tahu rencana itu dari senior di penerbangan yang sekarang menjadi asisten akademik FTMD yang juga sekosan sama saya.

Pihak perusahaan tempat saya bernaung juga begitu. Daripada mengerjakan proyek simulator aerobatik yang sifatnya sekunder ini, mending saya ikut di proyek yang lebih serius dan sudah dekat deadline. Sampai akhirnya terjadi diskusi asik di BTC sore-sore itu.

Dosen : "Chandra, anda ada motor ?"

Me : "Ada Pak, bagaimana ?

Dosen : "Ketemunya di Dunkin donut BTC saja bisa ? daripada saya bolak-balik"

Me : "Oh siap Pak, tapi saya agak telat 15 menit"

Dosen : "Oke nggak papa saya tunggu"

Kebetulan saat itu saya ada janji juga dengan saudara saya yang di perusahaan itu. Rencana ketemu bada maghrib tapi ternyata urusannya selesai lebih cepat.

Me : "Mas, aku sore posisi di dunkin BTC, ketemu di sana aja yo"

Dia : "Oke aku jam 5an dah beres"

Bimbingan pun dimulai, ditemani donat dan segelas  lemon tea karena dipaksa Pak Dosen untuk pesen, ditraktir. Ternyata saudara saya ini cocok ngobrol dengan pak dosen karena backgroundnya sama-sama industri di bidang software dan simulator. Mereka punya pengalaman yang sama dalam dunia simulator tempur. Jadilah lebih banyak ngobrol ngalor-ngidulnya daripada bahas TA. Saya lebih banyak menyimak karena memang belum paham betul soal ini. Tapi obrolannya sangat berbobot, so interesting.

Jam 6 lebih obrolan berakhir karena kami belum salat maghtib. Di akhir seperti terjadi kesepahaman antara kami bertiga. Kesepahaman bahwa dari Agustus (sidang) - Oktober (wisuda) saya masih digondeli untuk tetap di kampus mengerjakan proyek. Lalu setelah Oktober saya ditarik full time ke perusahaan. Selain itu, di periode Agustus-Oktober itu jika memungkinkan saya diminta sudah mulai part-time di perusahaan dan selepas Oktober kalau bisa masih bantu-bantu di kampus.

"Halah kerjanya jam berapa sampai jam berapa to, sabtu minggu kosong juga to", kata dosen. Bagaimana saya nggak tersanjung ? atau malah terbebani...

Dibilang beban ya memang beban. Kadang saya merasa masih belum cukup belajar selama 4 tahun di kampus. Tapi saya nggak boleh kejam pada diri sendiri. Kalau memang dipercaya ya laksanakan sebaik mungkin. Kesempatan tidak selalu ada. Amanah tidak memilih pundak yang salah. Di sisi lain mungkin ini jawaban dari doa saya untuk 'mandiri semuda mungkin'.

Alhamdulillah. Doakan ya, semoga lancar :)

Tapi...revisian dulu


Saya memulai studi hanya bermodal seneng dengan pesawat terbang, tak jelas apa yang akan saya lakukan nanti dengan ilmu yang didapat di sini. Tapi ada hal-hal yang bekerja dengan modal iman. Sesimpel minum obat, saya tidak tahu bagaimana obat bekerja, tapi percaya bahwa itu berguna. Begitu juga dengan belajar, jangan mendustakan ilmu.


Chandra

Sarahah

August 17, 2017 Posted by Chandra Nurohman , No comments


Ada sebuah 'sosial media' yang mulai happening, namanya Sarahah. Zain al-Abidin Tawfiq adalah programmer asal Arab Saudi yang menciptakan sosial media ini. Idenya sederhana, untuk memudahkan orang memberikan feedback secara jujur kepada orang lain. Dulunya ini diciptakan untuk menjadi penghubung antara atasan dan bawahan tapi kini Sarahah diprogram ulang untuk dapat digunakan setiap orang.

Untuk memulai menggunakan Sarahah kamu bisa download apps-nya di Playstore atau Appstore. Tapi kalau merasa lebih simpel pakai versi web kamu bisa buka www.sarahah.com. Dari sana silakan bikin akun baru, caranya mudah, seperti sosmed-sosmed yang lain. Nantinya kamu akan punya page pribadi dimana orang bisa menuliskan 'constructive message'-nya.

Ini page saya : chandranrhmn.sarahah.com, yok diisi hehehe. Untuk meninggalkan pesan kamu nggak perlu login, dan pesannya bersifat anonim, tenang aja :)

Selain itu, pesan tidak akan ditampilkan ke publik (seperti answer ask.fm). Jadi komunikasi bersifat privat.





Berkat Sarahah, kita bisa memberikan feedback kepada orang lain mulai dari pujian, apresiasi, saran, kritik, atau sekedar menyapa. Tapi jangan dipake buat bullying ya...

Sekarang di header blog ini saya kasih link ke page Sarahah saya. Di sisi lain saya coba menutup akun tumblr tapi lupa password -_-

Ditunggu feedbacknya ya, thank you

link :
https://chandranrhmn.sarahah.com/
https://chandranrhmn.sarahah.com/
https://chandranrhmn.sarahah.com/


Chandra


Cemilanku Lebih Mewah Daripada Makan Siangnya

August 16, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Ada saatnya dimana perasaanku terlalu tumpul untuk merasakan empati. Mungkin pikiran sedang terbagi atau terlalu banyak distraksi. Tapi ada pula saatnya aku menjadi sangat peka. Mungkin ketika kita sedang merasa butuh dekat dengan-Nya.

Ketika sedang peka kadang aku melihat kanan kiri dengan lebih dalam. Bukan dalam dimensi fisik tapi dimensi rasa. Bukan melihat apa yang dikerjakan tangan tapi melihat apa yang dilukiskan wajah.

Sesederhana makan siang. Jangan dulu bicara soal gizi seimbang, rendah kolesterol, atau empat sehat lima sempurna karena cukup saja belum tentu. Mulai dari pedagang kaki lima Jalan Ganeca, adik-adik yang dipaksa jualan tisu entah oleh siapa, hingga teman sesama mahasiswa. Di satu sisi merasa kasihan, di sisi lain tidak tahu bagaimana cara membantu.

Kadang merasa bersalah dalam menetapkan standar. Nasehat sejak dulu "kalau untuk makan jangan ngirit-ngirit", saya taat. Tapi rasanya makin kesini nafsu jadi semakin mendominasi. Walaupun tahu itu tidak baik.

Sedih ketika bahkan cemilan di meja kerja lebih mewah daripada makan siang sebagian orang. Padahal yang satu hanya untuk mengganjal perut atau bahkan hanya sekedar penepis sepi. Sedangkan satu lagi untuk bertahan hidup.

Kucoba untuk masuk ke semua pergaulan. Tidak asal mengajak makan jika tidak tahu siapa mereka. Kadang lebih baik mereka yang menentukan. Menikmati makanan jalanan, ada resource jika sesekali makan ala-ala.


Chandra Nurohman





sumber gambar : pixabay

Di Penghujung #3 : Akhirnya Sidang Juga

August 16, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments


Tahun 2013 hari raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 8 Agustus. Masih saya ingat waktu itu hari ke-3 lebaran saya sudah harus berangkat ke Bandung untuk memulai petualangan di kehidupan kampus. Waktu itu saya berangkat sendirian, belum punya kos, berbekal resource yang serba terbatas, dll, konyol kalau diingat-ingat.

***

Nearly 4 tahun kemudian, 15 Agustus 2017, bermodal rasa syukur dan optimisme saya melangkah masuk ke ruang sidang untuk mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan tugas akhir saya yang telah saya kerjakan kurang lebih 6 bulan terakhir.

Setelah kemarin sempat ada sedikit problem dengan urusan administrasi, ternyata yang saya khawatirkan tidak terjadi. Memang begitu, bahkan untuk berharap sama Allah kita (saya terutama) masih butuh belajar. Padahal kita sadar bahwa punya banyak keterbatasan, tidak seperti Dia yang Tak Terbatas. Itulah mengapa perlu yang namanya iman.

Setelah menjalani berbagai proses dan mengurus beberapa persyaratan, alhamdulillah hari Senin minggu lalu saya bisa maju seminar, sebuah syarat untuk sidang. Draft tugas akhir saya kumpulkan ke TU FTMD awal Agustus kemarin. Selanjutnya saya menyusun presentasi dan melakukan rehearsal.

Presentasi jadi sangat vital buat saya. Pertama, karena jelas ini menjadi komponen penilaian. Kejelasan penyampaian dan penguasaan materi jelas penting. Tapi ada requirement lain yaitu harus dipenuhi : waktu. Jatah waktu presentasi ketika sidang adalah 30 menit. Selanjutnya 1,5 jam digunakan untuk tanya jawab dll. Berkali-kali saya melakukan rehearsal untuk memastikan dapat menyampaikan semua point penting dalam waktu 30 menit. Hasilnya lumayan, waktu presentasi saya saat seminar 29 menit 47 detik dan saat sidang 29 menit 30 detik. Thank you Keynote..

Alasan kedua kenapa presentasi penting : Words disguise thought. Saya mengerjakan TA selama kurang lebih 6 bulan, cukup banyak yang dikerjakan. Jadi sejujutnya saya sudah agak lupa detail-detail pekerjaan yang saya lakukan bulan Maret atau April lalu. Jadilah saya usahakan untuk melakukan presentasi seelegan mungkin, mengedepankan yang saya kuasai dan menghindarkan sisi lemah dari tugas akhir saya ini. Ternyata saya selamat hahaha

Total presentasi + tanya jawab memakan waktu 1 jam 48 menit. Selanjutnya saya diminta untuk mematikan layar dan keluar ruangan sebentar, penguji rapat dulu. Ketika saya diminta untuk masuk kembali ke ruangan saya diminta berdiri di depan.

"Berdasarkan penilaian yang telah dilakukan, Anda dinyatakan lulus dengan nilai total 85.3, atau setara indeks A"

Alhamdulillaah. Walaupun ada beberapa pertanyaan penguji yang tidak dapat saya jawab sempurna tapi overall saya bersyukur telah menyelesaikannya dengan baik. Sekitar 70% revisi justru revisi penulisan. Memang saya berinisiatif menulis TA berbahasa Inggris haha. Saya belum punya banyak pengalaman menulis naskah ilmiah, apalagi in English, berpuluh-puluh halaman. Jadinya masih banyak terbawa kalimat blogging, pendek-pendek dan tidak memenuhi standar, masih ada juga vocab-vocab yang tidak cocok untuk naskah akademik <-- seperti kalimat ini. Saya diberi waktu 2 minggu untuk merevisi dan mengumpulkan dokumen akhir. Shaap!!

Momen yang berkesan waktu sidang justru ketika saya dipanggil kembali masuk ke ruangan untuk menerima hasil. Saya sudah sangat bersyukur mendapat pengumuman lulus, tapi ternyata lebih dari itu. Setelah pengumuman nilai, setiap dosen (1 pimpinan sidang + 4 penguji) memberikan wejangan dan closing statement. Apa yang disampaikan bapak-bapak itu justru membuat saya speechless.

Setelah sesi pembantaian hampir 2 jam (jangan ragukan killing instinct dosen ITB kalau nyidang ya hahaha), beliau-beliau menyampaikan apresiasinya atas apa yang telah saya lakukan baik dalam tugas akhir ini maupun selama kuliah di Penerbangan (sekarang namanya Teknik Dirgantara), akademik dan non-akademik. Alhamdulillah. Dosen is friend..

Saya memulai tugas akhir saya tanpa tahu apa itu hinge moment, control force, belum pernah bermain X-Plane, dan belum pernah lihat pesawat Extra-300. Tapi selama proses ini saya belajar banyak sekali ilmu-ilmu baru. Ini deskripsi singkat tugas akhir saya :

Ketika pesawat terbang, gaya aerodinamika tidak hanya muncul pada sayap atau ekor, tapi juga pada bidang kendali. Gaya aerodinamika ini menghasilkan moment pada hinge line (engsel bidang kendali) yang disebut hinge moment. Hinge moment ini diteruskan melalui mekanisme kendali sampai ke stick pilot di cockpit. Saya mengembangkan tool yang dapat digunakan untuk memprediksi hinge moment coefficient dari pesawat terbang subsonic. Obyek penelitian saya adalah pesawat aerobatic Extra-300. Saya memprediksi hinge moment coefficient lalu menghitung dan menganalisis control force pesawat ini pada beberapa manuver penerbangan.

Keyword : hinge moment, prediction tool, control force, X-Plane, aerobatic

Jika ada yang mau sharing atau butuh dokumennya (atau tool perhitungan hinge moment yang saya buat), bisa kontak saya di chandranrhmn@gmail.com

Ketika saya upload di instagram, beberapa komentar yang muncul adalah "akhirnya sidang juga ya Chan!".


Salam,
Chandra






Kamtis Family

August 02, 2017 Posted by Chandra Nurohman No comments

Salam Indonesia
Untuk semua
Pemuda pemudi
Indonesia tercinta

Bait di atas adalah cuplikan lagu Salam Indonesia dari album ke-8 Endank Soekamti. Single Salam Indonesia ini sudah dirilis eksklusif hanya di radio sejak tanggal 1 Agustus kemarin. Soekamti ingin mensupport radio agar tetap hidup di tengah maraknya bisnis musik digital. Kalau mau dengar di platform Spotify, Joox, YouTube, dan channel lain baru bisa tanggal 17 Agustus, bareng launching album ini dan tentu peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke 72.


Endank Soekamti

Endank Soekamti adalah band asal Jogjakarta. Soekamti berdiri sejak 2001 dan saat ini beranggotakan Erix (Bass/Vocal), Dori (Guitar/Vocal), Toni (Drum/Percussion). Kalau mau ketemu mereka basecamp-nya ada di Jalan Cempaka, Baciro Baru, Yogyakarta. Kulon Mandala Krida ngalor sitik mlebu ngulon.

Endank Soekamti jarang masuk TV nasional. Sepertinya memang nggak cocok dengan industri penyiaran TV. Nama brand-nya kurang menjual sebagai sebuah band, terdengar nggak keren : Endank Soekamti. Bahkan pernah dalam sebuah acara TV ada yang menyebut 'E' pada 'Endank' seperti 'E' pada 'sepatu', padahal harusnya seperti 'E' pada 'repot'. Akhir-akhir ini malah Erix sendirian yang sering diundang ke acara Talkshow atau dokumenter TV. Bukan sebagai musisi tapi sebagai sociopreneur, founder DOES University. Apa itu DOES University ? Cek link di bawah ini.

Lentera Indonesia : https://www.youtube.com/watch?v=uIzruunKlv0
Big Bang Show : https://www.youtube.com/watch?v=rhpFQZ-Hjb0
Sapa Indonesia Pagi : https://www.youtube.com/watch?v=LiOeK84JU50
Tonight Show : https://www.youtube.com/watch?v=0gat4Fsuq2Y&t=21s


Album ke-7 (Soekamtiday)

Tentang diskusi halal-haram musik saat ini saya berpendirian bahwa musik/lagu yang isinya ujaran kebaikan, membangkitkan semangat dan motivasi, cinta tanah air, semangat perjuangan, persaudaraan, dll boleh-boleh saja. Tentu dalam menikmatinya juga jangan berlebihan.

Sebenarnya masih ada yang menanyakan selera saya kok bisa-bisanya suka musik Soekamti hehehe. Dulu saya juga nggak suka. Jaman-jaman MTV masih mengudara saya juga sudah dengar musiknya, tapi sama sekali nggak tertarik. Musiknya keras nggak nyaman didengar. Liriknya juga banyak yang kasar dan railok.

Tapi sepertinya Soekamti ingin mencakup segmen pasar yang lebih besar. Mulai album ke 7 yang diberi nama Soekamtiday lagu-lagu Soekamti terdengar lebih friendly dan bermanfaat. Sebut saja lagu Sampai Jumpa, Fatherhood, MDBMDB (Mandiri Dalam Bekerja, Merdeka Dalam Berkarya), Unstoppable  Terima kasih, Liburan, Punya Indonesia, dll.

Ada juga lagu Rayuan Pulau Kelapa yang diaransemen ulang oleh Endank Soekamti atau single Kuda Besi.



Sampai Jumpa



Rayuan Pulau Kelapa



belialbumfisik.com

Ada masanya orang mendengarkan musik lewat tape, CD player, discman, dan walkman. Saat itu CD dan kaset laris manis. Walaupun efek sampingnya penjual CD bajakan tumbuh subur dimana-mana.

Tapi sekarang mungkin bahkan pembajak CD udah nggak profit. Orang-orang lebih memilih mendengarkan musik sebagai konten digital. Perkembangan smartphone yang bisa berperan sebagai player dan internet yang sangat mendukung penyebaran konten digital benar-benar merubah industri musik.

Sebagai band yang nggak laku di TV Endank Soekamti harus putar otak. Langkah pertama adalah mereka mendirikan label sendiri, Euforia Record. Euforia kemudian berkembang menjamah bidang bisnis lain terutama di bidang audio visual. Mereka melayani pembuatan video klip, video profil, iklan, dll. Mereka juga membuat komik Soekamtiday dan serial Kamtis Babies The Series.

Selain itu, Endank Soekamti juga punya portal www.belialbumfisik.com. Di sana mereka menjual merch dan album fisik mereka. Instead of menjual CD musik, mereka menjual box set yang berisi : CD musik, DVD behind the scene, kaos, gelang, sertifikat, dan komik. Lengkap pooll.

Nih saya juga punya boxset Soekamtiday :





Mari support para pekarya :)



SALAM INDONESIA

Seperti yang saya ceritakan di atas, album ke-8 Endank Soekamti rencananya dirilis 17 Agustus 2017 besok. Tapi lewat video DOES-nya, Erix sudah memberi bocoran terutama 2 lagu Salam Indonesia dan Waktu.

Can't wait !!



Jadi, sudah layak disebut Kamtis ? hehehe
Mandiri dalam bekerja, merdeka dalam berkarya!