Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Modern

November 20, 2016 Posted by Chandra Nurohman No comments

Manusia dilahirkan ke dunia dalam kondisi suci tanpa dose. Di sisi lain, selain tidak memiliki dosa bayi yang baru lahir juga belum mengetahui apapun. Seiring berjalannya waktu manusia mendewasa dan belajar banyak hal melalui orang tua, keluarga, sekolah, dan lingkungannya. Manusia belajar dimulai dari mengenal diri dan keluarganya, cara berhubungan dengan orang lain, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manusia ditakdirkan memiliki ilmu yang terbatas. Setinggi apapun pendidikannya, masih ada banyak hal yang tidak bisa dijangkau akal manusia. Allah SWT telah menurunkan Al-Quran sebagai kitab yang benar untuk menjadi pedoman bagi umat Islam. Al-Quran tidak hanya memberikan tuntunan agama saja namun juga berisi ilmu-ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan manusia.

Banyak hal yang diberitahukan Allah SWT secara langsung kepada manusia melalui Al-Quran sehingga manusia dapat menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi. Firman Allah SWT dan ciptaannya di bumi menginspirasi manusia untuk memperdalam ilmu dan mengembangkannya untuk kemaslahatan umat. Belakangan sains modern telah membuktikan banyaknya kecocokan antara ayat-ayat Al-Quran dengan fenomena alam fisik. Hal ini menjadi alasan bahwa perkembangan peradaban manusia dan karakternya dapat diawali dengan informasi yang diberikan Allah SWT melalui firman dan ciptaannya.


Perintah Mempelajari Alam
AL-Quran diturunkan oleh Allah untuk menjadi panduan dan tuntunan bagi manusia. Kandungan Al-Quran dijamin kebenaran dan kesuciannya. Oleh karena itu segala hal yang bersumber dari Al-Quran dan ditafsirkan secara benar wajib untuk diterapkan dalam kehidupan.

Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dan surat yang pertama kali diturunkan adalah QS AL-Alaq ayat 1-5 yang artinya :

1.     Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta.
2.     Menciptakan manusia dari segumpal darah
3.     Bacalah! Dan Tuhan Engkau adalah Yang Maha Mulia
4.     Dia yang mengajarkan dengan qalam
5.     Mengajari Manusia yang apa-apa tidak tahu

Dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa manusia ditakdirkan untuk tidak mengetahui apa-apa. Segala ilmu bersumber dari Allah SWT yang dijelaskan-Nya melalui firman dan ciptaannya. Ketidaktahuan manusia tidak bisa dibiarkan begitu saja karena manusia digariskan untuk menjadi khalifah di bumi. Oleh karena itu, Allah SWT pada awal firmannya meminta manusia untuk membaca (Iqra).

Dalam hal ini perintah bacalah (Iqra) memiliki arti yang luas. Perintah ini bukan hanya perintah untuk membaca Al-Quran. Secara luas Allah SWT memerintahkan manusia untuk mempelajari segala hal yang ada di dunia.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: “Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagianya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”

Dari 5 ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia ini, dapat diambil hikmah bahwa banyak sekali hal yang perlu dipelajari oleh manusia. Allah SWT telah menurunkan firmannya berupa Al-Quran dan menghamparkan alam semesta sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi manusia.


Hubungan Sains Modern dan Al-Quran
Sains modern telah membuktikan kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Al-Quran diturunkan berabad-abad yang lalu dan beberapa kandungan di dalamnya berhasil dibuktikan oleh manusia jauh setelah itu. Beberapa kesesuaian antara ayat Al-Quran adalah sebagai berikut :
1.     Garis edar tata surya
Beberapa ayat Al-Quran menjelaskan tentang system edar tata surya, diantaranya adalah

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yaa Siin: 38)

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al Anbiya:33)

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.” (QS Yaa Siin: 39)

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS Yaa Siin: 40)

Sains modern membuktikan bahwa planet, satelit, dan benda langit lain beredar menurut garis edarnya masing-masing. Peredaran ini mengakibatkan adanya siang dan malam serta menjadi acuan penentuan durasi waktu hari, bulan, dan tahun. Saat ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang, tentu sangat sulit untuk memahami sistem edar tata surya ini. Namun Al-Quran sudah menuliskannya sehingga tidak mungkin ini merupakan karangan manusia.

2.     Fakta tentang relativitas waktu
Ilmuwan Albert Einstein mengemukaan teori relativitas dan terjadinya dilatasi waktu (pemampatan waktu). Kondisi perbedaan dalam dimensi waktu ini telah tercantum dalam Al-Quran

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Al Hajj: 47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajdah:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij:4)


3.     Sidik jari manusia
Menurut biro sensus Amerika Serikat, pada tahun 26 Februari 2006 jumlah penduduk dunia mencapai 6,5 milyar jiwa. Dari jumlah ini terdapat ciri khusus yang membedakan setiap orang yaitu sidik jari. Tidak ada 2 orang di dunia yang memiliki sidik jari yang sama. Oleh karena itu, sidik jari kerap dijadikan sarana identifikasi individu yang akurat.

Al-Quran telah memuat tentang kesempurnaan ini pada QS Al Qiyamah ayat 3-4:
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”
“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”


4.     Penciptaan manusia
Tahapan-tahapan penciptaan manusia telah tercantum di Al-Quran pada QS Al-Mu’minun ayat 12-14.
“Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain ….” (QS Almu’minun: 12-14).

Kebenaran ayat ini terbukti setelah ilmu biologi berkembang. Fakta menunjukkan bahwa tahapan perkembangan embrio hingga terlahir seorang bayi sesuai dengan yang dituliskan pada ayat tersebut. Ayat itu bahkan menjelaskan prosesnya dengan rinci dan runtut.


5.     Pesawat Terbang dan Kapal Selam
Pesawat terbang dan Kapal Selam adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kedua teknologi tersebut sangat membantu kehidupan manusia saat ini. Pesawat terbang memenuhi kebutuhan manusia di bidang transportasi, militer, dan pemantauan. Kapal selam juga berperan sebagai perangkat alutsista.

Pesawat terbang memiliki sejarah yang panjang dalam penemuan dan pengembangannya. Inspirasi untuk terbang didapatkan manusia dari burung. Burung memiliki massa jenis yang lebih besar dari udara namun dapat terangkat. Konsep-konsep terbang burung diambil dan diterapkan pada teknologi pesawat terbang. Kapal selam juga terinspirasi dari ciptaan Allah SWT. Konsep yang digunakan pada kapal selam menyerupai cara ikan berenang. Teknologi-teknologi tersebut merupakan karya cipta manusia yang terinspirasi dari ciptaan Allah.


Pemisahan Urusan Dunia dan Agama
Faktanya, ada pandangan di masyarakat bahwa urusan dunia dan akhirat adalah dua hal yang tidak berhubungan. Pemikiran seperti ini mengakibatkan seseorang menganggap bahwa untuk mencapai sesuatu di dunia maka yang perlu dilakukan hanya memperbaiki urusan dunianya. Padahal telah terbukti bahwa kandungan Al-Quran meliputi segala perkara dunia dan akhirat.

Segala masalah yang ada di dunia pasti ada yurisprudensinya dengan ajaran Al-Quran dan Hadits. Dalam Al-Quran juga dikisahkan kehidupan para nabi dan rasul. Kisah-kisah tersebut dapat ditarik ke masa sekarang dan dijadikan dasar dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Al-Quran memberikan solusi bagi segala permasalahan kehidupan.



Kesimpulan

AL-Quran adalah kitab yang dijamin kebenaran dan kesuciannya. Di dalamnya Allah memerintahkan manusia untuk mempelajari alam. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan kebenaran-kebenaran ayat Al-Quran. Firman dan ciptaan Allah adalah panduan yang shahih untuk menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan umat manusia.

Kesadaran bahwa kehidupan dunia dan akhirat tidak bisa dipisahkan dan Al-Quran adalah pedoman yang kuat akan menjadikan seseorang memiliki pedoman yang kuat dalam mengembangkan dirinya. Secara kolektif hal ini akan mendorong majunya peradaban manusia yang baldatun thayyibatun warabbunghoffur.




*pernah diikutkan lomba esai agama, tapi belum berhasil

Bukan Tulisan Saya : Sebuah Kisah Cinta

November 16, 2016 Posted by Chandra Nurohman , , No comments

Sebelumnya saya peringatkan, ini bukan tulisan saya. Ada seorang teman yang mengirim ini lewat LINE kemarin pagi. Saya pikir sangat bagus untuk dibaca.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


SEBUAH KISAH CINTA
Telah meriwayatkan kepada kami Ustadz @Cahyadi_Takariawan dan lafazh ini adalah dari keterbatasan ingatan @salimafillah:
Ketika itu Mbak Siti Syamsiah sudah seorang pengajar di Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada. Seorang dosen cemerlang yang menyelesaikan pendidikan lanjutnya di Swedia. Adapun suaminya, Mas Rahman Sudiyo, adalah mahasiswa yang diajarnya.
Usia mereka terpaut 10 tahun. Semangat berislam dan semangat berdakwah yang mempertemukan mereka. Allah yang menganugrahi mereka cinta.
Dan Profesor yang membimbing Siti Syamsiah tak habis pikir, bagaimana wanita cerdas yang sudah bergelar Ph.D itu rela kembali lagi ke Swedia hanya untuk mendampingi suaminya belajar di jenjang S-2 dan S-3. Allah mengaruniakan pesona pada tiap manusia, dan pesona pasangan suami istri ini adalah kecintaan pada ilmu dan totalitas pengabdian yang tanpa pamrih.
Ketika mereka berdua pulang, Sang Profesor mengaku. “Baru kali ini aku bertemu muslim cerdas dan berdedikasi tinggi seperti kalian.”
Ya, karena di Swedia, citra tentang para muslim pencari suaka adalah mereka yang suka menggantungkan diri pada jaminan negara, tak merasa perlu bekerja, dan keterlibatan dalam berbagai persoalan sosial yang terasa membebani masyarakat pembayar pajak.
“Kalau Anda ingin bertemu orang-orang muslim yang jauh lebih hebat dari kami”, demikian keduanya tersenyum, “Datanglah ke Indonesia.”
Dan Sang Profesor menerima tantangan itu. Melihat para dosen dan mahasiswa yang rajin ke mushalla, menyaksikan para mahasiswi berjilbab yang begitu tekun di dalam laboratorium, dia tertegun. Universitas Gadjah Mada meruntuhkan gengsi yang selama ini membuatnya mengunci dalam-dalam keimanannya. Untuk kali kedua, dia merasa dilahirkan kembali sebagai muslim dengan kesadaran baru. Airmata di pipi menjadi saksi syahadat ulang dan komitmennya untuk mengamalkan Islam.
Mas Rahman Sudiyo dan Mbak Siti Syamsiah juga punya cita tinggi tentang pendidikan putra-putranya dan seluruh anak-anak muslim sedunia. Dengan penuh pengorbanan, mereka turut membidani berdirinya SDIT Lukman Hakim Internasional di Yogyakarta. Sang Profesor mengerahkan jejaringnya, dan decak takjub tular-menular di Eropa hingga Australia melihat guru-guru dan murid-murid sekolah islami begitu fasih berkomunikasi antar-bangsa, percaya diri, dan yakin mempresentasikan konsep-konsep pendidikan yang luar biasa.
Orang baik begitu dicintai Allah. Mas Rahman Sudiyo meninggalkan kita satu setengah tahun lalu dalam usia sekira 43 tahun. Kanker hati dari semula hepatitis menjadi jalannya menghadap Allah setelah bertahun-tahun tak diperlihatkan pada siapapun dengan kerja keras memforsir diri yang membuat iri.
Dan kemarin, Mbak Siti Syamsiah, yang juga mengidap lupus namun tak pernah mengeluh dan tak suka mengurangi segala dedikasinya untuk ilmu dan ummat meski sering hanya untuk memakai pakaian pun beliau sudah harus jeda beristirahat berulangkali, menyusul kekasih tercintanya.
Ini adalah duka kami semua, duka sedalam cinta. Ghafarallahu lahuma wa rahimahuma rahmatan wasi'ah.😭
(Ust. Salim A Fillah)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Innalillahi wainnailaihi rajiun
Mungkin kalau saya masih berdomisili di Jogja atau kuliah di UGM saya akan banyak mendengar kisah-kisah inspiratif dari beliau-beliau. Sayangnya tidak, baru kemarin saya mendapat cerita itu.
Judulnya saja "Sebuah Surat Cinta", maka bisa dipastikan salah satu point dari tulisan ini adalah kisah cinta antara Bapak Rahman Sudiyo dan Ibu Siti Syamsiah. Keduanya berselisih 10 tahun, dengan Pak Rahman lebih muda.  Bu Siti dengan setia menemani sang suami belajar di Swedia padahal sendirinya sudah selesai menjalani studi lanjut. Pasangan yang inspiratif dan pantas diteladani. Belum lagi, keduanya memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembangan manusia terutama melalui pendidikan. 
Beliau berdua itu sendiri-sendiri saja sudah baik, apalagi menjadi pasangan suami istri. Walaupun saya belum mengalami, tapi dalam bayangan saya menikah dan hidup berumah tangga bisa membuka kebaikan-kebaikan yang sebelumnya belum muncul. Jika masing-masing memiliki kualitas bernilai 9 dan 9. Maka jika digabungkan dalam pernikahan nilainya akan lebih dari 18.
Ndherek bela sungkawa, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Salam,
Chandra


Krisis Toleransi Beragama : Apa Cuma Saya Di Sini yang Tidak Nyaman ?

November 14, 2016 Posted by Chandra Nurohman No comments

Saya suntuk dengan ketidakharmonisan ini. Marilah menjadi agen perdamaian. 

Dua minggu terakhir media massa dipenuhi berita mengenai Ahok, demo 411, agama, Al-Maidah 51, pilkada DKI, SBY, Loyalitas TNI, dll. Sungguh aliran informasi yang memuakkan bagi saya. 

Newsjacking bisa membuat sebuah tulisan viral. Bisa saja saya memanfaatkan momen ramainya kasus-kasus ini untuk membuat tulisan populer. Tapi meskipun banyak referensi dan ada kesempatan menulis itu tidak saya lakukan. Even, saya belum satu kali pun menulis di social media mengenai peristiwa ini.

Saya takut kehilangan teman. Isu agama sangat sensitif. Beberapa teman membatalkan agenda ke jakarta untuk acara Indo Defence dan EHEF 2016 karena khawatir ketemu demo. Salah satu WA group saya chaos karena ada yang memosting link tentang aksi 411, beberapa anggota left dan sang pemosting harus susah payah minta maaf.

Demo 411 usai tidak berarti atmosfer mendingin. Internet masih dipenuhi dengan dugaan adanya provokator penyusup, dugaan campur tangan politikus bahkan termasuk SBY, dan presiden yang 'terpaksa' turun menemui ulama dan aparatnya. 

Kebencian makin menyebar. Netizen bersuara menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Banyak orang tanpa pikir panjang membagikan tulisan, berita, dan provokasi. Sialnya, kebayakan share dilakukan sambil membenarkan keyakinannya dan/atau mengutuk keyakinan lain. Menyedihkan sekali.

Peristiwa bom molotov di Samarinda akhirnya menjadikan saya gatal untuk ikut berkomentar. Gemas sekali dengan drama-drama dan pemutarbalikan logika yang terjadi. Prasangka buruk menyebar merusak hubungan antar personal di level akar rumput.

Saya menghormati proses hukum yang berjalan baik untuk kasus Pak Ahok maupun bom molotov. Namun dari pengamatan saya ada beberapa poin yang dapat ditarik :

1. Pak BTP alias Ahok berpidato di Kepulauan Seribu dan kepleset menyebut-nyebut Surat Al-Maidah 51 disertai embel-embel 'dibohongi'. Menurut saya memang ini kurang bijak untuk orang biasa sekalipun. Kalau bicara di depan umum lebih baik bawa ayat dari kitabnya sendiri. Bawa-bawa ayat orang di depan umum sangat beresiko.

2. Lepas dari kesalahan pengutipan atau apapun, ada/banyak umat Islam yang secara ikhlas ikut serta dalam aksi 4 November. Mereka pergi dari rumah masing-masing dengan kerelaan, tanpa mengharap bayaran atau semacamnya. Saya cukup yakin karena mendapat penuturan dari orang terpercaya. Sumber saya tidak menerima bayaran apapun, hanya dapat roti dan minuman yang dibagi-bagikan.

3. Masih banyak pertanyaan yang sangat mengganggu tapi belum jelas jawabannya.
Apakah benar ada yang menunggangi aksi damai 411 ? Kalau ada, siapa saja ?
Apakah benar presiden dari kalangan sipil kurang kuat ? Apakah ada ketidaksepahaman di kalangan atas sana ? 
Mengapa BIN disebut-sebut ?
Bom molotov Samarinda, seorang ekstrimis ingin mengganggu agama lain atau ingin merusak nama Islam ?
dan lain lain.

4. Posisi Gubernur DKI Jakarta berbeda dengan gubernur daerah lain. Gubernur DKI memiliki kekuasaan lebih besar karena walikota di bawahnya bukan dipilih tapi ditunjuk dan tidak ada DPRD di tingkat kota. Gubernur DKI setingkat menteri. Posisi gubernur ibukota sangat strategis dan pilkada sudah dekat. Oleh karenanya, sangat mungkin peristiwa akhir-akhir ini berkaitan dengan pilgub DKI. 

5. Di kalangan akar rumput, agama menjadi isu sangat sensitif. Karena sensitifnya menjadi sulit untuk membuka forum-forum diskusi dengan kepala dingin.

6. Contoh kebingungan yang ada di pikiran saya : pihak Cikeas dituding mengail di air keruh pada kesempatan ini karena AHY mencalonkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Ada 2 kemungkinan output. AHY leading karena pesaingnya tercoreng atau AHY malah turun popularitasnya karena dianggap main kotor. Lebih lanjut, jika kemungkinan 2 yang terjadi, AHY bisa play victim. Di sisi lain, calon lain bisa naik karena masyarakat simpatik dan menganggap mereka terdzalimi. Pengetahuan saya sangat dangkal di bidang ini, tapi di level atas sana pasti sudah menyiapkan banyak plan.

Saya menulis pendapat saya di blog supaya tidak mengotori timeline siapa pun. Saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang meluangkan waktu mengklik blog saya dan membaca tulisan ini. 

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (Al-Mumtahanah 8).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya-lah berserah diri.” (Qs. Al-Ankabut [29]:46)

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami hiasi bagi setiap umat pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am [6]:108)

Daripada kita menjadi api yang memanaskan suasana dan membakar tali silaturahmi, lebih baik kita menjadi angin perdamaian. Bila Anda muslim maka tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Sampaikanlah ilmu dengan cara-cara yang baik lagi santun.

Jadilah seperti Mohammad Ali yang jika bertanding perang berhenti karena para tentara sama-sama ingin menonton. Sungguh-sungguh terjadi pertandingan Ali pernah diselenggarakan di Afrika karena di sana sedang perang.

Marilah mencari persamaan, bukan perbedaan.


Salam,
Chandra Nurohman, saya sadar tulisan ini pun tendensius sebenarnya
*Mending nostalgia dengerin lagu ini. Kalau Anda tahu, Anda sudah berumur :)



Wayang - Damai

Indo Defence dan European Higher Edu Fair

November 08, 2016 Posted by Chandra Nurohman 6 comments

Saya pulang dengan kondisi badan lelah, kaki kram, dan cita-cita yang mengangkasa.

Hari Sabtu kemarin saya merasa beruntung berkesempatan mengunjungi 2 buah event besar sekaligus di Jakarta. Yang pertama pemeran IndoDefence 2016 di JIE Kemayoran dan yang kedua adalah pameran pendidikan European Higher Education Fair (EHEF) 2016 di Balai Kartini.

EHEF 2016 adalah pameran pendidikan tinggi Eropa yang tahun ini diselenggarakan di 3 kota yaitu Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya. Informasi mengenai acara ini saya dapat dari media sosial. Saya sudah berniat, jika pada penyelenggaraan di Jogja ada yang bilang acara ini bagus maka akan saya sempatkan ke Jakarta.

Sementara itu, Indo Defence Expo and Forum adalah sebuah event 2 tahunan dimana perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan, dirgantara, maritim, dan IT dari seluruh dunia berkumpul di Jakarta. Tahun 2014 fakultas saya memfasilitasi keberangkatan mahasiswa untuk datang ke acara ini. Namun saat itu saya berhalangan ikut karena ada keperluan lain. Oleh karena itu saya putuskan untuk datang di tahun ini. 

Guide Indo Defence, event kelas dunia memang

Seminggu sebelum acara fakultas saya, FTMD mengkonfirmasi bahwa akan memberikan fasilitas keberangkatan. Fakultas menyediakan bis dan biaya tiket masuk ke arena Indo Defence. Salah satu dosen Teknik Penerbangan adalah ketua Pustekhan (Pusat Teknologi Pertahanan) ITB sehingga mendorong mahasiswanya untuk datang ke acara ini.

Sejak lama saya berniat datang ke acara-acara tersebut. Tak disangka ternyata saya bisa mengunjunginya di hari yang sama, Sabtu 5 November 2016. Saya jadi hemat waktu dan biaya karena akomodasi disponsori oleh fakultas.

Singkat cerita, Sabtu pagi kami berkumpul di gerbang depan ITB. Total mahasiswa yang berangkat adalah 27 orang. Seharusnya lebih dari ini namun menjelang keberangkatan beberapa orang membatalkan karena kabar-kabar demo 4 November di Jakarta. Nyatanya sepanjang perjalanan aman-aman saja. 

Alhamdulillah perjalanan lancar dan kami sampai di JIE jam 9 pagi, 1 jam lebih awal dari jam buka pameran, terpaksa kami menunggu di bis panas-panasan. Jam 10 tepat kami masuk arena pameran. Di dalam tidak begitu ramai. Sepertinya acara seperti ini tidak begitu diminati masyarakat umum.

Di dalam rombongan dibebaskan untuk menikmati pameran. Kami sepakat untuk kembali ke bis jam 14.00. Saya bersama 2 orang teman menyisir dari Hall B, Hall F, arena outdoor, Hall D, lalu Hall A.

Hall B diisi oleh beberapa institusi pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi. Institusi pemerintah yang turut serta antara lain Kemhub, KKP, Basarnas, Kemenristek, Kemendikbud, dll. Perusahaan swasta di Hall B antara lain Xirca, Kanwa, dll. Selain itu, ada pula Ukraine Pavilion, China Pavilion, dan Czech Pavilion.

Mas Budi Setiawan, kakak kelas SMA, kuliah di Teknik Mesin UGM tapi passionnya di dunia penerbangan

Berlanjut ke Hall F, disana ada AirNav, Pelindo, Kadomas, NTP, MII, dll. Tidak lama di Hall F kami melanjutkan langkah ke area outdoor. Di bagian outdoor ada display alutsista dari TNI AD, AL, dan AU. Selain itu, kami sempat mampir di stand tim Kontes Robot Terbang Indonesia. Kasihan kawan-kawan yang jaga stand panas-panasan.

Hall D dan A adalah yang paling luar biasa tontonannya. Di sana ada perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Boeing, Airbus Group, Sukhoi, Honeywell, Korean Aerospace Industry, Lockheed Martin, dll. Perusahaan-perusahaan itu memamerkan produk-produk unggulannya. Hebatnya, mereka masih melayani dengan sangat baik walaupun kami hanya mahasiswa - yang belum punya kapasitas untuk membeli produknya.

Stand Airbus Group
Foto bersama pilot Eurofighter (Airbus Group)
Stand Boeing

Berniat keluar dari arena pameran, kami malah bertemu Bang Adin, salah satu senior kami. Dia adalah alumni Teknik Penerbangan 2007. Berkat link-nya, kami sempat mengobrol dengan dirut PTDI, bahkan berfoto. 
Direksi PTDI

Lewat tengah hari, saya pamit untuk memisahkan diri dari rombongan. Saya ada janji dengan kawan untuk bertemu di EHEF sekitar jam 1. Setelah ishoma saya cari angkutan umum yang bisa mengantar ke Balai Kartini. Awalnya saya ingin mencoba naik bajaj, belum pernah sebelumnya. Tapi karena terlalu mahal saya putuskan pakai GoJek.

Berbeda dengan Indo Defence, EHEF sangat ramai oleh mahasiswa dan alumni yang ingin mencari informasi studi lanjut di Eropa. Beberapa kampus bahkan hampir tidak pernah kosong stand-nya seperti Manchester Univ, KTH (Swedia), Polytechnic Milan, Amsterdam, stand LPDP, dan banyak lagi.

Dalam EHEF, negara-negara Eropa berkumpul memamerkan perguruan tingginya. Ada UK, Jerman, Belanda, Swedia, Hungaria, Perancis, Italia, Spanyol, Indonesia, Belgia, dan EU (Erasmus+). Kampus-kampus yang tampil di sana adalah kampus papan atas di negaranya masing-masing. Nama-nama kampus itu juga sudah familiar di telinga banyak mahasiswa Indonesia.

Tidak lupa foto lah yaa

Setiap stand rata-rata dijaga 2 orang, 1 orang native dan 1 orang pribumi. Lumayan saya mendapat pengalaman ngobrol English dengan orang-orang dari berbagai negara. Terasa beda English-nya orang UK, Jerman, dan Perancis. 
Area United Kingdom
stand ISAE SUPAERO

Saya sudah punya list kampus yang ingin saya explore. Kriterianya tentu saja yang berhubungan dengan aerospace engineering. Saya sempatkan bertanya-tanya di stand RWTH Aachen, Cranfield University, ISAE SupAero, KTH Royal, dan Polytechnico de Milano. Sayangnya saya tidak menemukan stand TU Delft dan TU Munich.

Stand Cranfield University

Saya sudah punya list kampus yang ingin saya explore. Kriterianya tentu saja yang berhubungan dengan aerospace engineering. Saya sempatkan bertanya-tanya di stand RWTH Aachen, Cranfield University, ISAE SupAero, KTH Royal, dan Polytechnico de Milano. Sayangnya saya tidak menemukan stand TU Delft dan TU Munich.

Karena ada titipan teman, saya juga mengambil brosur beberapa kampus seperti Wageningen, Utrech, Bristol, dll. Tidak lupa saya berkunjung ke stand beasiswa LPDP, Erasmus+, dan beasiswa pemerintah Swedia. 

Sebagian brosur titipan

Saya baru keluar dari hall EHEF jam 18.00, jam tutupnya acara hari itu. Saya dan teman menuju masjid dinas pendidikan yang letaknya di sebelah Balai Kartini. Setelah salat kami makan di pinggir jalan lalu pesan Gojek untuk menuju Stasiun Gambir. Tepat 20.00 Argo Parahyangan meluncur menuju Bandung.

Setengah 12 malam saya sampai di stasiun Bandung. Saking capeknya saya tidak terpikir lagi bahwa di Bandung sedang musim begal. Enjoy saja saya pakai Gojek. Alhamdulillah tiba di kos hampir tengah malam dengan selamat.

Alhamdulillah...saya bersyukur sekali dengan hari yang padat Sabtu kemarin. Saya sudah mengambil banyak footage video untuk diedit dan InsyaAllah nanti akan saya upload di channel youtube saya : Chandra Nurohman

Sekian. Ini cerita saya, mana ceritamu ?


Salam,
Chandra





Metode Dakwah di Era Modern

November 07, 2016 Posted by Chandra Nurohman No comments


"Chan tak daftarke mentoring yo, ben ra kosong-kosong amat", begitulah kata teman saya seorang aktivis Salman. Akhirnya saya dimasukkan dalam sebuah grup mentoring dan masih terus berjalan sampai sekarang. Tidak main-main, mentor saya adalah Kang Tizar Bijaksana, Presiden KM ITB periode 2011-2012. Beliau juga meraih banyak sekali prestasi selama mahasiswa bahkan sampai sekarang.

Kami mentoring setiap hari minggu sore rutin. Namun hari ini agendanya agak berbeda. Kami tetap berkumpul di Masjid Salman namun bukan duduk melingkar sharing-sharing dengan Kang Tizar. Kami bergabung dengan jamaah lain mendengarkan ceramah dari Ustadz Habiburrahman El Shirazy dan Ustadz Muhammad Elvandi.

Sore hari minggu kemarin ada acara dari komunitas MUDA (Muslim Berdaya Community). Saya sempat membuat resume singkat dari materi yang disampaikan beliau-beliau itu. Sayangnya, kertas itu hilang di McD malam harinya ketika saya menemui teman dari Jogja yang sedang lomba di ITB. Jadi, seingat saya saja yaa yang saya bagi di sini :

Di era modern, metode dakwah harus disesuaikan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan serta keinginan masyarakat. Ada 3 elemen yang harus dipenuhi agar dakwah menjadi efektif dan berbobot. Elemen tersebut adalah :


1. Nilai-nilai yang didakwahkan

Sebuah teko harus berisi air dulu untuk bisa mengisi cangkir. Seorang pendakwah harus memiliki ilmu yang cukup dulu jika ingin menyampaikannya kepada masyarakat. Sungguh berbeda antara orang yang memiliki ilmu yang dalam dengan orang yang hanya ingin sekedar show off.

Kebijaksanaan, ilmu, dan kebiasaan harus dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Kapasitas seseorang dalam beragama memang kadang tidak terlihat tapi dapat dirasakan ketika kita berinteraksi. Maka lebih baik membangun kebaikan diri dulu sebelum berbagi kepada orang lain.


2. Media

Pengajian di masjid-masjid, asrama, kampung-kampung harus tetap berjalan. Tapi di era saat ini pendakwah harus mampu memanfaatkan media mainstream seperti TV, internet, YouTube, majalah, dll. Media-media seperti ini memiliki share yang tinggi sehingga ilmu dapat disampaikan ke lebih banyak orang.

Pemanfaatan media menjadi hal yang sangat penting saat ini. Media menjadi sia-sia bahkan destruktif jika diisi dengan konten yang tidak bermanfaat. Namun jika dimanfaatkan dengan baik maka nilai-nilai kebaikan akan tersebar dengan cepat dan luas. Kemampuan media untuk menjadikan sesuatu viral sangat strategis untuk dijadikan sarana berbagi ilmu.


3. Ilmu, kekuasaan, kekayaan dunia

Hal-hal ini adalah elemen yang perlu dimiliki agar seorang pendakwah mendapat kepercayaan dari masyarakat sehingga suaranya didengarkan. Konten yang sama jika disampaikan oleh orang yang berbeda bisa memiliki tingkat keberterimaan yang berbeda di masyarakat. Petuah seorang walikota misalnya lebih didengar daripada seorang pedagang pasar, walaupun yang disampaikan sama baiknya.

Termasuk dalam bagian ini adalah yang biasa disebut 'dakwah profesi'. Guru, dokter, ahli hukum, psikolog banyak berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang membutuhkan jasanya cenderung mudah menerima apa yang disampaikan oleh beliau-beliau. Selain itu, kontribusi melalui profesinya juga menunjang kemajuan umat.


Lalu bagaimana jika ada elemen yang tidak dipenuhi ?

Jika ilmu, kekuasaan, atau kekayaan dunia tidak dimiliki maka suara kita tidak dipercaya sekalipun yang disampaikan baik dan melalui media yang viral. Hal ini pernah terjadi ketika acara Wisata Hati ANTV yang sebelumnya diasuh oleh Ust. Yusuf Mansur digantikan oleh seorang jebolan ajang pencarian bakat. Akibatnya banyak penilaian negatif dari masyarakat sekalipun topik yang dibawakan tetap pada koridor yang benar.

Jika tidak memanfaatkan media maka masyarakat yang dapat disentuh sangat terbatas. Nilai-nilai hanya akan sampai pada sebagian orang saja, misalnya yang berada di satu tempat. Tidak adanya media mengakibatkan informasi tidak bisa menjadi viral sehingga dibutuhkan usaha yang lebih besar jika ingin menyentuh masyarakat secara luas.

Jika tidak cukup berilmu maka materi yang disampaikan - walaupun viral - tidak berefek signifikan terhadap pendengar. Wawasan yang luas dibutuhkan untuk bisa berbagi ilmu yang berguna sekaligus menyelesaikan masalah di masyarakat.


Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa untuk memajukan peradaban (Islam khususnya) dibutuhkan orang-orang yang paham agama di semua sektor kehidupan. Harus ada ahli agama yang menjadi dokter, guru, jurnalis, animator, musisi, hakim, psikolog, insinyur, anggota DPR, bankir, pengusaha, kepala daerah, menteri, presiden, atlet, kontraktor, aktivis HAM, fotografer, penulis buku, kartunis, komedian, dll.

Dunia membutuhkan Mohammad Ali yang pertandingan tinjunya bisa mengalihkan perhatian para tentara sehingga perang berhenti, atau Ummu Kultsum (penyanyi Mesir) yang juga mampu menghentikan perang dengan konsernya, atau Kareem Abdul Jabbar yang sampai saat ini masih menjadi pencetak poin terbanyak NBA Amerika Serikat.


Salam,
Chandra - sedang belajar dan menyiapkan ketiga hal di atas. Bismillah



Fenomena Six Degrees of Separation : "Loh kalian saling kenal ?"

November 04, 2016 Posted by Chandra Nurohman , No comments


Pagi ini buka hp dan ada chat :

Kenal ***** ?

Pertanyaan itu membuat saya ingin membuka draft dalam kepala ini tentang six degrees of separation.

Six degrees of separation adalah kenyataan bahwa kita bisa terhubung dengan semua orang di dunia melalui 6 langkah atau kurang. Langkah-langkah itu adalah hubungan saling kenal orang per orang. Gagasan mengenai konsep ini sudah lahir sejak tahun 1930. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan hilangnya masalah jarak dalam hubungan personal suatu saat kondisinya mungkin akan berubah menjadi hanya 5 langkah.

Kita sering mendengar :
"Kata temannya temanku . . . "
"Anaknya temannya orang tuaku . . . "
"Oh ternyata kalian saling kenal! "
"Dunia sempit ya "

Ungkapan-ungkapan di atas muncul karena adanya fenomena six degrees of separation dimana semua orang sebenarnya terhubung - hanya kadang belum disadari. Orang dalam satu negara, satu pulau, satu provinsi akan memiliki langkah yang secara rata-rata lebih kecil. Penetrasi internet, tata kota, dan lalu lintas juga memengaruhi jumlah langkah ini.

Saya beri contoh mengenai six degree of separation :

Saya mempunyai teman yang jadi panitia suatu acara, di jadi LO-nya Mas Sabrang a.k.a Noe Letto. Maka saya terhubung dengan Noe Letto dalam 2 langkah. Saya pernah menulis tentang beliau di sini : Sabrang Mowo Damar Panuluh

Saya dan Pak B.J. Habibie terpisah 2 langkah melalui dosen-dosen saya, semoga segara mengecil menjadi 1 langkah.

Semua mahasiswa AE 2013 berjarak 3 langkah dari Chelsea Islan karena ada di antara kamu yang temannya berteman dengan dia. What an example...

Saat ini kebetulan kapolres Bantul dijabat oleh om saya. Artinya saya hanya butuh 2 langkah untuk sampai ke pejabat Bantul (Bupati, Dandim, dll).

Dengan adanya penerimaan terhadap fenomena six degrees of separation maka seharusnya pertanyaan "kenal (sebut nama) ?" menjadi kurang relevan. Pertanyaan itu menjadi tidak perlu ditanyakan karena dalam era saat ini sangat mudah untuk mencari benang merah antara 2 orang.

Tapi tidak masalah karena pertanyaan tersebut akan diikuti dengan "kok bisa kenal ?" atau "kenal dari mana ?". Nah kalau ini pertanyaan bagus karena sama saja menanyakan jalur separation yang digunakan yang mana.

Untuk saya, jalur-jalur itu mungkin saja karena sama-sama suka dunia aerospace, fans Liverpool, aktivis robotika dan pernah bertemu di KRI, teman SD SMP SMA, ketemu pas lomba, kenalan dari salah satu anggota keluarga, dll.

Konsep six degrees of separation digunakan oleh sosial media seperti Linked In dan Research Gate. Kedua sosmed tersebut meminta usernya untuk memasukkan interest atau expertisenya. Dengan mengetahui hal tersebut maka mesin akan menghubungkan kita dengan "People You May Know". 

Teman-teman yang menekuni bidang sosial humaniora jelas akan lebih paham daripada saya dalam hal ini. Tapi dari yang saya pahami, saya simpulkan bahwa six degrees of separation artinya kita bisa terhubung 'kenal' atau friend chains dengan seluruh individu melalui 6 langkah atau kurang.

Sekian


Salam, selamat hari Jumat
Chandra